Minggu, 31 Januari 2010

Bersama Kita Bisa

Pagi pukul setengan tujuh, hari Senin tanggal 1 Februari 2010.
Hmm, masih cukup waktu di kala "Morning Crazy" ini, mempersiapkan keberangkatan putra sulungku ke sekolahnya, SMP I Kuta Utara. Dia kini telah kelas 3 SMP, dan harus belajar lebih keras untuk menghadapi Ujian Nasional bulan Maret nanti. Putra bungsuku sedang mandi, dia juga harus bersiap untuk berangkat ke SD 3 Padang Sambian Kelod. Kini dia telah kelas 2. Hujan deras yang jatuh sejak kemarin malam masih enggan reda, masih tersisa genangannya di halaman rumah kami. Kupersiapkan jas hujan bagi anakku, diriku sendiri, juga ayah mereka yang akan berangkat ke kantor.

Telepon rumahku berdering. "Bu Santi, tahu salah satu nomer telepon murid MKP smt 4? Saya harus memberi tahu mereka, hari ini tidak bisa mengajar karena anak saya sakit gejala DB. Pengempu masuk RS krn DB". Ah, sahabatku sedang panik menyelaraskan tugas kantor dan tugas rumahtangganya. Naluri persahabatan dan naluri keibuanku gemerincingkan alunan suara. Baru minggu lalu, kualami kepanikan yang sama. Anak bungsuku demam tinggi hingga mengigau di kala malam hari, namun tugas negara memanggil, sehingga harus kutinggal dia ke Nusa Dua. Mengajar agar kelas tidak kosong, rapat, selesaikan laporan penelitian. Jadi, bisa kurasakan kesedihan yg sama pula. Andai ada yg bisa kulakukan untuk membantu, ya tentu sangat baguslah bagiku, bagi sahabatku ini, juga bagi para murid.

Kutanya, apa yang bisa kubantu untuknya. Kami adalah satu tim dalam mengajar beberapa mata kuliah. STPNDB menggulirkan kebijakan mengelola mata kuliah dalam sebuah tim, sehingga tatkala terjadi, seorang dosen tidak bisa mengajar, dosen lain bisa segera membantu mengisi kekurangan ini. Kusepakati handle dua kelas ibu Humas yang cantik ini, satu MSM di semester empat, dan satu PSP di semester dua. Hmmm, para brondong dan brownis dengan segenap gejolak remaja mereka bakal kuhadapi.

Setelah perbincangan kami selesai, segera kukebut urusan RT, menjemur satu ember baju yang kucuci. Simbok masih menyelesaikan urusan dapur kala kuantar putra bungsu ke sekolahnya. Hujan masih sirami bumi dengan liukan tanpa hentinya. Ku kenakan jas hujan, menggantung tas bermerek Quicksilver berisi laptop bermerek Vaio dan materi pembelajaran, menambah satu gantungan lagi di bahu bagi tas berisi buku alamat, buku agenda, buku diary, kotak pensil dan pulpen, dompet berisi Sim dan STNK, flashdisk tercinta, dan, seperangkat alat kecantikanku berupa bedak dan lipstik murahan bermerek viva. Nusa Duaaa.... I'm coming.

Sabtu, 23 Januari 2010

That Is What Friends Are For...

Menyedihkan, jika kita terpuruk terjatuh dan tidak ada yang bisa membantu,
bahkan, tak seorang pun sudi melirik dan sampaikan ucapan simpati.
Menyedihkan, jika kita terdiam sendiri, hanyut dalam lamunan ilusi dan impian tak bertepi. Asa bagai jauh dari pelupuk mata. Tetes keringat dan darah mengucur bahkan tak sanggup mengusir perih hati teriris. Luka bagai sembilu yang juga tiada enggan berlalu.

Maka, kujemput Endang dari rumahnya, tinggalkan kepompong yang membuatnya nyaman dan enggan pergi. Mengukur jalanan sepanjang kerja yang dia hirup ber puluh tahun dalam derai hiruk pikuk Nusa Dua - Imam Bonjol. Pekik tawa histeris dalam berbagai lomba di antara sahabat. Meninjau ikan menari dalam liuk bara api yang mendengus, sesakkan nafas kami di Kedonganan.

Hidup takkan pergi hanya karena usia tua dan sakit yang gerogoti.
Hidup takkan runtuh hanya karena pensiun dan terpinggir.
Hidup takkan berlalu hanya karena hilangnya jabatan, harta dan benda.

Karena, sahabat akan warnai kita...
Ubah senang jadi bahagia bersama, antara derai tawa dan tangis bersama
bahkan, saling ejek dan benci yang juga pernah ada di antara kita.
Karena disana....
Akan selalu ada sahabat sejati,
bagi duka yang menyayat dan menganga,
bagi tawa bahagia yang didamba

Rabu, 20 Januari 2010

Kedamaian

Kedamaian selalu memiliki hubungan dengan berbagai aspek lainnya. Baik penalaran / logika kita, baik keyakinan yang kita miliki, maupun link dengan ego, nafsu, hati nurani, segaka rasa, baik susah, senang, sedih, puas, hampa dan nelangsa...

Bagaimana mungkin, seseorang dapat mengatakan bahwa dia memperoleh kedamaian tanpa mengetahui batasan, ambang batas toleransi dirinya, baik basal maupun ceiling, dari akal budi, keyakinan, hati nurani dan rasa yang ada dalam dirinya?

Jadi, jika saya dapat mengetahui, bahwa saya adalah seorang wanita yang tomboi, dan memiliki pikiran-pikiran liar, juga fantasi serta mimpi dan asa tentang segala yang saya mau, namun, saya mampu menyesuaikannya dengan kemampuan saya menerima situasi dan kondisi yang saya miliki, membuatnya link and match dengan konteks kekinian dimana saya berada dan hidup kini,
Kasarnya... dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung, sesuaikan dengan pola Tri Hita Karana, Desa, Kala, Patra, plus, rujukan dari ajaran agama, serta arahan dari pemuka agama dan adat istiadat yang ada... Saat inilah, saya akan dapat memperoleh kedamaian dalam diri saya...
Karena saya tahu batasan diri saya, yang miskin, yang jelek, yang tidak harus hidup dalam ilusi, dan bersikap munafik... namun dengan menerima semua apa adanya, dan berusaha hidup dengan semakin baik lagi, lebih baik lagi...

Intinya, kedamaian adalah, bagaimana kita membuat link and match, antara Das Sein dan Das Sollen (muridku tambahkan... das mekeplug)..... antara Ich, Ego dan Superego..... antara Cipta, Rasa dan Karsa....... antara Afektif, Kognitif dan Konatif....... antara Bakat dan Minat....... antara Angan / Asa / Harapan / Cita-cita, dan Mimpi / Fantasi, dengan Kenyataan / Fakta / apa yang terpapar di hadapan kita secara gamblang / jelas...

Antara Angan, Mimpi dan Nyata.....

Dulu,
Saya pernah punya mimpi seorang gadis...
Punya pacar lalu kemudian bersuamikan seorang pria ghuanteng, setia, pintar, macho, kaya dan ramah.
Punya karir baik, sebagai ibu rumahtangga, wanita karir, dan jadi wanita terpandang, terhormat.
memiliki keluarga yang selalu shanti, jauh dari segala konflik, anak yang lucu dan sehat, cerdas...

Hmm,
Ternyata, mimpi dan kenyataan sering tak seiring...
Fakta yang berjalan di depan mata tak kunjung puaskan segala fantasi dan asa ini.

Aku ingin punya mobil, kuingin rumah bertingkat dan kamar lapang sehingga tidak waswas hadapi kebanjiran, anak yang hebat.
Namun... Hari demi hari berlari dan terlampaui, mata dan hati nurani bergulir kian kemari.
Begitu banyak karunia Hyang Widhi yang seharusnya kusyukuri, namun jarang kusadari.

Melihat tetangga menangis sedih karena balitanya terkapar di kamar mandi dengan kepala bocor, suaminya entah dimana berada... Menyaksikan BuGek Puspawati terpuruk di RS Prima Medika karena DB mewabah seantero Bali dengan seluruh kamar di RS manapun habis sehingga terpaksa bayar demi kamar VVIP, sejuta semalam... Melirik muridku yang basah kuyup karena kehujanan dan tergelincir di jalan dengan lutut dan lengan robek terluka... Mengetahui anak asuhku bahkan tidak lagi dihiraukan oleh kedua ortunya yang kaya... Membayangkan perihnya luka robek dilutut sahabat lain sepanjang dua puluh senti sehingga tidak bisa duduk metimpuh lagi... Mengetahui yang lainnya lagi menyaksikan perselingkuhan kekasih hatinya... Mendengar mereka yang bahkan tidak sanggup membeli beras untuk makan hari ini... Kehilangan rumah dan segala isinya, tidak mampu beli bensin untuk mobil, ditinggal meninggal oleh kedua ortu...

Ah...
Terima kasih Tuhan...
Keluargaku mungkin bukan keluarga yg sempurna, terbaik dan terhebat... Setiap orang memiliki permasalahan sendiri, tiap keluarga hadapi perjuangan dan konfliknya masing-masing...
Prestasi kita tidaklah ditentukan oleh seberapa tinggi Angan dan Mimpi, serta Kenyataan yang mampu kita raih... Namun, bagaimana cara / proses, usaha, serta jalan yang kita lakukan dalam mewujudkan angan / mimpi. Belajar semakin bijak, semakin dewasa, smakin mampu mengendalikan emosi dan hawa nafsu. Tidak hidup dengan segala ilusi dan menjadi munafik...

Senin, 11 Januari 2010

Anak Anjing Ini Jadi Milik Kami

Hari ini aku mendapatkan suntikan ke dua untuk vaksin anti rabies, karena gigitan anjing liar yang kudapatkan tanggal 4 Januari 2010 lalu. Setelah selesai dengan urusan di RS Sanglah, aku beranjak kerja seperti biasa.

Sore hari, setelah pulang kerja, dan sempat temui Mangku Danu yang berangkat dengan pesawat Sriwijaya Air pukul 17.00 di bandara Ngurah Rai, lalu ke rumah Ben Marlon di Gg Vanili dekat pantai Berawa untuk mengambil angket penelitian Nyoman Marpha. Akhirnya, pk 18.00 tiba di rumah.

Kulihat, anak-anak perum berkumpul di dekat aula. "Anjing yang menggigit ibu telah dipukul dan diusir keluar dari perumahan ini" demikian komentar singkat mereka. Ah, induk anjing ini sedang memiliki anak anjing yang berusia satu minggu. Ia telah dengan suksesnya menggigit beberapa anak, aku sendiri, bu Ayu, bu Sudar, pedagang koran yang berkeliling, dan, terakhir, Dek Tut. Hm... miris rasanya membayangkan induk anjing ini dipukul hingga berdarah, baik mulutnya, telinganya, dan sekujur badannya. Walau aku sendiri termasuk korban yang digigitnya, dan harus berkali mengalami suntik VAR, tapi, timbul perasaan iba mendalam. Bagaimana nasib ke lima anak anjingnya yang baru berusia satu minggu itu ya?

Perlahan kuhampiri pintu gerbang aula, dimana selama ini induk anjing itu berdiam bersama anak-anaknya. Oooww, kelima anak anjing itu, bahkan, matanya belum lagi terbuka. Mereka bergerak dengan lembut, saling menggeser badan. Sesekali mendongakkan kepala, mencoba mendengus siapa yg berada di sekitarnya. Tiga anak anjing betina, dan dua anak anjing jantan. Dua di antaranya berwarna hitam legam, dan tiga berwarna coklat tua. Ku angkat perlahan satu anak anjing yang berwarna coklat. Bulunya merdesir gemerisik di genggaman tanganku. Kubawa pulang. Dan... satu satu anak anjing itu berpindah ke rumah masing-masing anak. Hmm, entah dimana induknya yang kini terluka parah itu berada.

Di rumahku sendiri, sudah ada empat ekor anjing. Namun, demi menyelamatkan anak anjing ini, aku harus membantunya, setidaknya, hingga dia cukup kuat untuk berdiri sendiri. Hweleh... aku tersenyum membayangkan istilah ini... Dan, tak lama kemudian, putra bungsuku muncul di depan pagar rumah kami. Di genggaman tangannya ada sebuah kotak berisi anak anjing betina. "Ma", bisiknya ragu merayu... "Bolehkah kita tambah satu ekor lagi anak anjing? Della tidak jadi mengambil anak anjing ini".

Ah, Tuhan. Aku bahkan tidak yakin, akan dapat memelihara seluruh anjing ini. Biaya yang lumayan tinggi bagi makanan mereka, vaksin yang harus mereka dapatkan, rumah yang sempit... Tapi, sungguh anugerah mulia jika mereka Kau berikan pada kami untuk dipelihara. Mereka mungkin saja berasal dari berbagai bentuk lain dalam kehidupan mereka terdahulu... Induknya mungkin kejam karena telah menggigitku. Namun, jika dapat membantu nya dengan lakukan ini, membuatnya menjadi manusia dan pada akhirnya dikemudian hari untuk mencapai moksah atau mukti yang yang manunggal dengan tuhan di shatya loka menikmati kebahagiaan abadi jagaditha disebut “mukti’’jadi agama hindu menuntun kita agar mencapai ‘’bukthi’’ dan ‘’mukti’’ atau jagaditha dan moksa itulah makanya setiap kita memuja Dewa Surya maka mantranya menggandung permohonan “…bhukti mukti warpradam…”.

Menurut I Gusti Ngurah Agung Arta Wijaya dalam ajunkdoank.wordpress.com.
Kata moksa berasal dari kata moha dan kyasa moha artinya kebingungan kita sudah berakhir kapan kebingungan kita sudah berakhir pada saat itu kita memulai perjalanan rohani menuju moksa. Orang yang masih moha/kebingungan tentu tidak bisa mencapai tujuan. Umpama ditengah perjalanan kita kebingungan tidak tahu lagi arah mata angin dalam keadaan seperti itu perjalanan kita akan mondar-mandir kesana kemari dan tidak bisa menemukan tempat yang dicari. Kebanyakan dari kita masih kebingungan bingung terhadap diri sendiri Kebanyakan dari kita beranggapan bahwa tubuh inilah diri kita yang sejati yaitu Atma karena tubuh ini dianggap diri menyebabkan prilaku kita mengutamakan kepentingan tubuh dan amat terkait dengan duniawi lalu mengabaikan kepentingan atma. Padahal dunia ini sebenarnya adalah penjara besar yang penuh dengan penderitaan, karena dunia ini di penuhi dengan berbagai kenikmatan untuk memenuhi nafsu badan, itulah makanya kita terbuai dan terbius menjadi Moha/kebingingan. Orang yang mencari hiburan di tempat-tempat mabuk, di perjudian, komplek wts, pesta sabu-sabu adalah orang yang Moha. Dunia ini diumpamakan sebagai mangkuk, yang penuh berisi madu dan manusia diumpamakan sebagai lebah. Lebah yang serakah dan bodoh akan berenang ditengah manguk minum madu sehingga terperangkap dan akhirnya mati tenggelam di lem oleh madu yang lengket. Tetapi lebah yang lebih cerdik minum madu di pinggir mangkuk setelah kenyang dia bisa terbang bebas kembali ke sarangnya. Artinya kita bisa menikmati isi dunia tetapi seperlunya saja dan hindarilah tepat –tempat yang dilarang oleh agama. Agama mengajarkan kita agar meniru lebah yang cerdik, jangan rakus , ambil seperlunya saja dan berhati-hati. Dunia ini adalah ladang karma untuk berbuat kebaikan sebanyak mungkin agar hutang piutang karma kita yang dulu bisa lunas.

Andai saja... kita yang manusia ini, mampu gunakan tiap kesempatan dengan baik... se baik-baiknya... mungkin saja pada tahap berikutnya moksa bakal dapat kita raaih, sehingga akan dapat bersatu dengan Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dalam satyaloka, swargaloka...

Minggu, 10 Januari 2010

Agni Hotra

Sabtu, 9 Januari 2010.

Setelah selesai pelaksanaan Posyandu di Perumahan kami bersama ibu Dayu, kucoba lanjutkan aktivitas dengan mengedarkan angket bagi penelitian Nyoman Marpha, suami dari kakakku yang sedang melanjutkan S3 nya. Kukunjungi Ibu Agung, pemilik Sonar UD, dan coba berbasa basi sebelum memulai bahas pengisian angket.

Tiba-tiba HP ku berdering. Di ujung, suara Pinandita Shri Sudharma, yang lebih kerap disapa Jero Mangku Danu. "Saya kini sudah di Bali lagi, akan adakan upacara Agni Hotra di rumah Jero Mangku, di Jalan Gunung Sari IV, Gang Bonsai". Ah... selalu tergetar hati ini jika tersentuh berita tentang aktivitas spiritual. Terima kasih Tuhan, doaku dan permintaanku untuk mengiringi perjalanan orang-orang besar dalam bidang spiritual telah Engkau kabulkan dengan berita dari Sang Mangku. Bergegas kulanjutkan diskusi, dan beranjak meninggalkan Bu Agung, lalu mengunjungi beberapa pihak pemilik dan pengelola berbagai perusahaan kecil yang gunakan manajemen kekeluargaan.

Pukul delapan malam, kukunjungi rumah keluarga Nyoman, pihak terakhir untuk hari ini berkenaan dengan penyebaran angket penelitian ini, lalu beranjak ke Banjar Buana Kubu. Namun, usaha temukan alamat yang diberikan Jero Mangku Danu tidaklah gampang. Aku tersasar hingga ke jalan Gunung Lempuyang, mondar mandir di beberapa jalan lain yang lebih becek karena hujan... bahkan, setelah temui jalan Gunung Sari IV gang Bonsai, masih bisa kesasar dengan masuk ke rumah Jero Mangku Sukarsa yang biasa mengendarai Vespa dengan nomer rumahnya, 31. Hujan lebat mendera, aku harus berdiam di sana dahulu, membuka perbincangan seputar topik perjalanan Jero mangku yang juga mengelola Ashram Gundaram ini.

Akhirnya hujan reda setelah 15 menit. Aku bisa berpamitan dengan Jero Mangku Sukarsa, dan melanjutkan pencaharian rumah nomer 19 B tersebut. Dan, temui Jero Mangku Danu disana. Ah, rasanya baru kemarin berjumpa dengan Mangku Danu, namun kami telah bertemu kembali kini disini. Ini adalah rumah kakak Mangku Danu, yang juga seorang mangku. Hm... keluarga besar yang memiliki garis keturunan Mangku. Kali ini Mangku Danu mengadakan upacara Agni Hotra disini.

Kulihat biji-bijian dicampur menjadi satu. Kacang kedelai merah, kacang hijau, jagung, beras (seharusnya menurut mereka bulir padi, namun karena tidak ada, jadilah diganti dengan beras). lalu ada empat mangkuk yang masing-masing berisi yoghurt, air kelapa muda, gula aren, dan susu. Kami duduk melingkari serpihan kayu yang dinyalakan dengan menggunakan kapas yang telah di beri minyak kelapa. Semakin lama, nyala api semakin membesar. Mangku Danu memulai melafalkan mantramnya, sesekali kami menyela dengan menyebutkan "Swaha" sambil menjatuhkan butir kacang-kacangan ke dalam bara api. Minyak kelapa dituangkan berkali dengan menggunakan sendok, demikian pula, yoghurt, susu, gula aren dan air kelapa muda. Hmmm, kulirik wajah-wajah orang yang terlibat disana, menirukan dan melantunkan mantram yang Mangku Danu katakan, fokus hanya kepada Hyang Widhi Wasa. Indah sekali menatap wajah Sang Mangku, terlihat damai dan tenang, kudengarkan syair mantram Beliau senandungkan dengan irama tertentu ditingkahi alunan denting genta. Ah... sungguh suatu kedamaian tercipta. Tanpa terasa perlahan air mata jatuh bergulir. Tak ingin tenang dan bahagia ini segera berlalu. Aku bangga bisa memuja dan memuji Tuhan dalam rangkaian upacara Agni Hotra ini. Bahkan, inilah kali pertama kuikuti dalam hidupku. Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 12 lewat, hmm, tengah malam sudah berlalu, saat aku pamit dari keberadaanku di tengah keluarga ini. Hujan masih jatuh satu-satu, namun yakinku, semangatku takkan jatuh, karena kudapatkan damai di hati. Mati gaya dalam Agni Hotra, with My Lord.

Apa sih sesungguhnya Agni Hotra?
Putu Aris, 15 May 2008 menjelaskan Agni Hotra yang disampaikan oleh: Drs. I Wayan Catra Yasa, 07 November 2006. Agni Hotra adalah doa dan puja yang dilakukan untuk memuliakan Tuhan secara berulang-ulang ketika sering mengikuti upacara Agni Hotra dalam berbagai manifestasi Tuhan atau Ista Dewata. Vibrasi spiritual yang dirasakan akan begitu besar saat mendengar lantunan nada mantram yang bersumber pada Weda itu.

Dalam perjalanannya yang cukup panjang, terdapat banyak perguruan (sampradaya, chanda, bahan material yang digunakan, beserta susunan Agni Hotra. Banyak orang telah mendapatkan manfaat setelah melakukan dan mengikuti yadnya Agni Hotra. Beberapa
manfaat seperti kesembuhan dari sakit, keharmonisan keluarga, perjalanan spiritual semakin meningkat, serta permohonan lain yang menapak ke hal yang positif. Namun semestinya tidak dilupakan bahwa Agni Hotra tidak dilaksanakan semata-mata untuk mendatangkan manfaat-manfaat tersebut. Ada tujuan yang lebih mulia dari hanya sekedar mendapat mukjizat.

Sejak jaman dahulu pada waktu para Maha Rsi yang agung telah melaksanakan Agni Hotra, maka yadnya Agni Hotra sejak itu secara implisit mengandung hal-hal itu. Tetapi para Maha Rsi ini sangat menghindari pelaksanaan Agni Hotra yang bersifat Rajasika (nafsu, keinginan) karena hal itu dapat mengurangi nilai luhur yang terkandung dalam mantra-mantra yang diucapkan.

Agni Hotra telah lama dijalankan oleh para Maha Rsi kita di Bali seperti yang disebutkan dalam beberapa naskah lontar misalnya : Agastya Parwa, Lontar Bali Pulina, Lontar Widhi Sastra, Lontar Wrespati Tattwa, Lontar Peranda Sakti Wawu Rauh, dan Lontar Purba Sesana. Seluruh lontar tersebut menyebutkan bahwa Agni Hotra adalah upacara Sattwika yang memberikan manfaat yang luar biasa.

Dalam Lontar Wrespati Tattwa dinyatakan:
"Dharma ngaranya: sila ngaraning mangaraksa acara Rahayu, yajnya ngaraning manghanaken homa, tapa ngaranya umati indriyanya, tan wineh ring wisanya, dana ngaranya weweh, pravrjaya ngaraning wiku andaka, bhiksu ngaraning diksita, yoga ngaraning magawe Samadhi, nahan prtayekaning dharma ngaranya" (25)

Artinya:
Pelajaran dharma meliputi : Sila melaksanakan tingkah laku yang baik,
yadnya berarti melaksanakan upacara homa ( Agni Hotra ). Tapa berarti
mengendalikan indria, tidak terikat pada obyeknya. Dana berarti memberi
( pemberian sesuatu kepada yang memerlukan ). Pravrja berarti pandita
yang melakukan puasa ( pertapaan ), Bhiksu berarti melaksanakan upacara
dwijati, menjadi pandita. Yoga berarti melaksanakan meditasi.
Demikianlah bentuk realisasi pengamalan dharma.

Ditegaskan kembali dalam Chanakya Nitisastra, VIII.10 :
"Agni Hotra bina veda na ca danam bina kriyah, na bhavena bina siddhis
tasmad bhavo hi karanam"

Artinya:
Pelajaran Veda tanpa pengorbanan suci Agni Hotra adalah sia-sia. Korban
suci tanpa disertai dana punia tidaklah sempurna. Tanpa disertai rasa
bhakti semua itu tidak akan berhasil. Oleh karena itu, hal yang paling
penting adalah bhakti yaitu penyebab dari segala keberhasilan.

Dari pemaparan yang sangat singkat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
kita telah dituntun untuk melaksanakan yadnya suci Agni hotra sebagai
yadnya yang utama dengan berdasarkan kitab suci Weda. Mulai sekarang
janganlah ragu-ragu untuk melaksanakannya. Kembali ke Veda berarti kita
memberikan kesempatan kepada jiwa kita untuk lebih intim pada jalur
dharma sehingga sang jiwa bisa berevolusi ke arah yang positif dan
peningkatan kehidupan yang lebih utama.
http://www.hindubatam.com/dwacana36.html

Sumber lain dengan topik Filsafat, Menuju Damai Sejati, Senin, 31 Desember 2007 menjelaskan tentang Agni Hotra.

Upacara agni-hotra merupakan suatu bentuk persembahan khusus kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hampir semua upacara samskara (rangkaian upacara yang harus dijalani seseorang sebagai upaya peningkatan kualitas rohani)yang digariskan dalam Veda mulai dari yang terkait kehamilan (bayi di dalam kandungan), kelahiran, pemberian nama kepada bayi, pemberian biji pertama kepada bayi, dan seterusnya sampai upacara saat seseorang
meninggal dunia, diiringi dengan adanya korban suci api atau agni-hotra ini.

Memang, di dalam Kitab Suci dianjurkan bahwa segala kegiatan yang kita lakukan mestinya ditujukan untuk memuaskan Tuhan Yang Mahakuasa, sebagai suatu bentuk persembahan. Inilah yang akan mengantarkan kedamaian sejati di dunia ini. Seperti Sri Krishna bersabda di dalam Bhagavad-gita, "Orang yang sadar akan diri-Ku sepenuhnya, karena ia mengenal Aku sebagai Penerima utama segala korban suci dan pertapaan, Tuhan Yang Maha Esa penguasa semua planet dan dewa, dan penolong yang mengharapkan kesejahteraan semua mahkluk hidup, akan mencapai kedamaian dari
penderitaan kesengsaraan material."

Tidak terkecuali jika kita berkeinginan untuk merayakan hari-hari yang kita anggap istimewa dan memiliki arti khusus dalam hidup kita seperti misalnya hari ulang tahun kita. Kita dapat menggunakan kesempatan tersebut untuk melakukan persembahan khusus kepada Tuhan, dalam suatu bentuk upacara agni-hotra seperti ini, dan kemudian membagikan sisa persembahan tersebut kepada sanak keluarga, teman atau relasi. Maka ini akan memberi manfaat yang sangat besar kepada semuanya.

Atmosfer yang tercipta dari pelaksanaan korban suci api seperti ini sangatlah bertuah untuk kemajuan rohani. Bahan-bahan yang dipersembahkan ke dalam api menciptakan aroma khusus yang menyucikan suasana dan pikiran orang yang menghadirinya. Dengan pikiran yang tersucikan, akan lebih mudah bagi kita untuk menerima pengetahuan rohani. Jadi, bukan hanya maksud upacara tersebut yang terpenuhi, namun yang menghadirinya pun mendapatkan manfaat yang sangat besar. Disebutkan pula bahwa tiap biji yang ikut dipersembahkan ke dalam api suci dalam upacara agni-hotra seperti ini melambangkan jumlah berkurangnya dosa orang yang
mempersembahkannya.

Bentuk yajnya atau persembahan kepada Tuhan yang dianjurkan untuk zaman Kali adalah sankirtana yajnya atau korban suci berupa kegiatan mengucapkan nama suci Tuhan. Dan memang inilah juga yang melengkapi pelaksanaan agni-hotra. Segala kekurangan atau kesalahan yang terjadi selama jalannya upacara ini disempurnakan oleh yajnya yang memang dianjurkan untuk zaman saat ini yakni pengucapan nama suci Tuhan, yang
berupa bhajan atau kirtana. Tanpa adanya pengucapan nama suci Tuhan, upacara seperti ini dianggap belum lengkap dan sempurna. Oleh karena itulah kidung nama suci Tuhan harus terus dilantunkan mengiringi upacara agni-hotra seperti ini.

http://krishna-bali.com/modules.php?name=News&file=print&sid=45

Selasa, 05 Januari 2010

127.500

Saat berita wabah penyakit anjing gila mulai naik daun, menyebar di Pulau Bali, sekitar tiga bulan lalu, aku sudah mulai sangat cemas...
Keluargaku memiliki empat ekor anjing. Semua cuma tipe anjing kampung ato campuran peranakan. Ada si Chiko yg gembrong hitam dan sering dijuluki si grandong karena sangat menyeramkan. Ada si Benny yang susah sekali dipegang. Ada si Pretty yang genit manja dan selalu nempel jika kami sedang duduk bersantai. Ada si Bunny yg terbaru, berusia se bulan. Jika si Bunny kutemukan di jalan sedang berlarian tatkala kami bersepeda ria rayakan libur Natal dengan kunjungi Bu Endang, si Pretty anjing betina yang ditinggal begitu saja oleh iparku yang orang Flores, si Benny anjing hasil pemberian sahabat suamiku yang orang Solo, si Chiko anjing campuran dengan spaniel milik tetangga.

Chiko adalah anjing paling tua yang kini pernah bersama kami sekeluarga, usianya kini sudah sekitar 10 tahun. Dia pernah menggigit pantat (pembantu) asistenku yang berasal dari Flores dahulu, dia pernah menggigit anak-anak tetangga yang selalu mengganggu dan melemparinya dg batu dan menembaknya dengan panah-panahan, dia pernah menggigit kuping kanan asistenku yang berasal dari GunungSari, dia pernah menggigit kuping kiri anakku sendiri. Hmm, dia hampir dibunuh, bahkan oleh kami sendiri... Tapi, akhirnya toh masih hidup juga hingga kini.

Senin, 4 jan 2010.. setelah selesai mempersiapkan keberangkatan anak-anakku ke sekolah, aku mengendarai motor ke Yonico Supermarket di depan Perum untuk membeli air minum galon isi ulang. Setiap bulannya kami sekeluarga menghabiskan 15 air minum berukuran galon ini. Kembali dari Yonico, di depan rumah ibu Pratiwi, seekor anjing hitam menghampiri. Anjing betina ini biasa duduk diam dengan manisnya di depan rumah Ibu Elo. Hanya melirik tatkala ada orang yang melintas di depannya. Namun kini dia dengan beringas menghampiri kaki kananku, dan... dengan mantapnya menancapkan ke empat taringnya disana. Celana anjang yg kukenakan tidak sanggup membendung gigitannya. kedua kali, dia berhasil menarik celana panjang ini, dan, gigitan yang ketiga, berhasil kuhindari. Ibu Ardi membantu dengan melempar batu pada anjing hitam tersebut. Pak Elo juga membantu menolong dengan melemparkan sebuah bata merah. Sang anjing berlari bersembunyi di bawah selokan, meninggalkan diriku yang meringis menahan sakit. Kulihat bekas gigitannya, hmmm, tak ada lubang disana, juga bercak darah. Aman dari luka, itu yang kupikir pertama.

Di rumah, kuobati lukaku dengan minyak dari akar tanaman yang berasal dari Kalimantan. Lalu kemudian beranjak mengendarai motor ke Nusa Dua. Kubawa laptop Vaio yang bakal ku set ulang di Ghrya Indosat, menyampirkan tas kantor di bahu. Setibanya di kantor, banyak teman yang menyarankan segera memeriksakan luka di kaki ke RS Sanglah, karena sudah banyak kasus mengenai rabies yang sudah terlalu terlambat untuk ditangani. Ah... ternyata kau belum siap untuk mati, setidaknya... bukan cara mati seperti ini yang kuinginkan. Segera kuselesaikan tugas kantor, menyetor SK pangkat dan jabatan terakhir ke bagian akademik, lalu mengemas barang dan segera berlalu.

Mampir sejenak di Ghrya Indosat yang terletak di dekat patung Ngurah Rai, di sebelah Rama Tours & Travel. ku ketahui kesalahan pihak BNI Card Center yang tidak mendebet pembayaran tagihan bulanan IM2 Classic Unlimited. Ooow, ini tho ternyata, penyebab aku tidak bisa gunakan modem IM2 Indosat selama se mingguan ini.

Selesai disini, segera kukebut laju kendaraan Honda Astrea 800 ku ke Rumah Sakit Sanglah. Di halaman parkir kendaraan, aku tertegun menatap wajah sedih seorang ayah dan gadis yang baru saja kehilangan salah satu anggota keluarga yang meninggal. Ah.. rumah sakit selalu mengandung banyak ceritera yang tiada terputus jika digali dari berbagai situasi dan kondisi disana. Setengah berlari ku menuju ke bagian informasi, melengkapi identitas untuk memperoleh kartu berobat, lalu masuk ke dalam ruang IRD.

Berada di dalam ruang IRD, kulihat beberapa orang tergeletak di atas brankar. Ada yang kaki kirinya terbalut perban, namun darah segar masih menetes perlahan dari ujung jemarinya yang menyembul keluar perban. Ada yang tergolek lemah dengan perban menutupi sebagian wajah. Ada pula yang terlihat botol infus tergantung di atas kepalanya. Kuhampiri seorang dokter jaga, dokter Ngakan, kuserahkan berkas dataku, dia meletakkannya di atas sederetan berkas lain di atas meja tinggi di hadapannya, lalu mengambil buku resep, menuliskan esuatu diatasnya, menyerahkannya padaku. "Ambil di loket apotik di depan", demikian katanya. Dengan malu kukatakan jujur kepadanya, uangku hanya Rp 100.000, apakah cukup untuk biaya obat yang bakal kuterima nanti. Hmm, bukannya menenangkan hatiku, dia malah minta bertanya di bagian informasi.

Resep dokter kuserahkan di apotik RS Sanglah, tak sampai satu menit kemudian, dua kotak obat berisi vial Vaksin Anti Rabies sudah ditangan. Kulirik harga yang tertera disana, ah... Rp 127.500, dua kotak, berarti total Rp 245.000 harganya. Aku harus berlari ke ATM terdekat nih, pikirku. "Gratis" hanya itu komentar pemuda ganteng yang kulihat di balik layar kaca apotik RS Sanglah. Mamamia, serasa bongkah batu yang menyesak di dada telah terlepas, tergusur pergi entah kemana. Kembali kuberlari ke dalam ruang IRD, menuntaskan urusan ini. Sekumpulan perawat membersihkan luka di kaki, menyuntikkan ke dua vaksin anti rabies di lengan atas kiri dan kananku, dan... bereslah sudah. Tidak lupa dokter Ngakan mengingatkanku untuk kembali minggu depan melanjutkan suntikan anti rabies berikutnya.

Ah...
Hidupku terlihat cerah kembali. Kini saatnya pulang kembali, menikmati makan siang, berkumpul bersama keluarga, sebelum melanjutkan perjalananku ke Kerambitan, Tabanan. Aku berjanji pada Dewa Biyang, bibi tercinta, untuk mengambil nangka yang sudah masak hasil panen di tegalannya. Hmm, kini aku bisa kembali bernyanyi sepanjang jalan, satu problema lagi sudah berlalu dari hidupku, masih ada problema-problema lain lagi yang menanti untuk dicarikan solusinya.