Senin, 07 Desember 2015

Kupang, I'm coming. 2-4 Desember 2015





Begitu mendapat mandat untuk berangkat ke Kupang, aku segera mempersiapkan diri. Menjadi narasumber bagi para pengelola Desa Wisata yang ada di Kupang, menghantarkan materi Revolusi Mental. Seumur hidup belum pernah menginjakkan kaki di bumi Kupang, namun, bila panggilan hati nurani dan Negara memanggil, maka, aku akan berusaha memberikan yang terbaik yang ku bisa.

Hari ini hari raya Pagerwesi, aku telah bersembahyang bersama anggota keluarga di pagi hari. Si sulung berangkat kerja, si bungsu sedang bermain bersama sahabatnya, suami sedang paruman bersama warga perum. Setelah berpamitan, aku berangkat dengan mengendarai motor si putih nyonya tua, meluncur menuju Bandara Ngurah Rai. Parkir di gedung parkir berlantai dua, lalu bergerak ke terminal keberangkatan dengan pesawat GA 438 pukul , tiba di bandara El Tari Kupang pada pukul 12.10. Tanpa membuang waktu, kuminta supir yang menjemputku untuk bergerak menuju Pura Oebananta, untuk bersembahyang disana.


Pura Oebananta terletak di daerah Oeba, di tepi Pantai Pasir Panjang.Untuk tiba di Pura Oebananta, kita harus melalui Pasar Oeba. Pasar Oeba terkenal sebagai pasar ikan yang terbesar di Kupang. Di pasar ini tidak hanya menjual ikan hasil tangkapan nelayan Kupang, namun juga sayur mayor, buah-buah an, bahan pangan lain, serta pakaian yang diperdagangkan disini.



Di Kupang terdapat banyak pantai yang menarik. Jika Pasar Oeba terkenal sebagai pasar ikan terbesar yang terletak di Pantai Pasir Panjang, maka Pasar Nunsui dikenal sebagai pasar ikan di tengah laut, dimana para pedagang mencegat para nelayan yang baru kembali dari menangkap ikan di tengah laut. Pasar Nunsui serupa dengan pasar terapung yang berada di Kalimantan Selatan. Pasar Nunsui terletak di dekat pantai Nunsui, sekitar 12 km dari pusat kota Kupang.


Data BPS NTT memperlihatkan, 190 ribu dari 4,6 juta penduduk Kupang berprofesi sebagai nelayan. Dengan jumlah tersebut, rata-rata hasil tangkapan ikan nelayan Kupang bisa mencapai 388.000 ton/ tahun. Tak heran jika berkunjung ke Kupang, para wisatawan selalu disajikan berbagai kuliner khas pesisir, salah satunya berpusat di pasar Solor yang terkenal dengan sajian ikan bakarnya.


Cukup 1 jam berada di Pura, kuajak supir yang bersamaku menikmati Se’I di Resto Aroma. Kami mencoba Se’I Babi dengan sayur daun ubi lembut yang disiram kuah santan. 

 

Daging se’I merupakan daging asap sebagai makanan khas yang berasal dari propinsi Nusa Tenggara Timur. Daging asap diolah dengan menggunakan kayu bakar yang berjarak jauh dari makanan, sehingga yang mematangkan olahan makanan tersebut bukan api, melainkan asap panas dari kayu bakar. Se’I bisa berupa daging sapi, daging babi, juga daging ikan. Se’I bisa dimakan langsung dengan mengiris tipis. Namun bila sudah disimpan selama beberapa hari, maka harus digoreng kembali, atau dimasak dalam tumisan sayur mayur.



Waktu sudah menunjukkan pukul 15.15 sore ketika aku tiba di Hotel On The Rock, di pinggir pantai Oesappa. Hotel yang berada di bawah manajemen Prasanthi ini merupakan hotel bintang  3 dan memiliki 84 kamar. Aku mendapatkan kamar 229, berhadapan dengan jalan Timor Raya, dimana banyak angkot berseliweran yang memudahkan mobilitas murah ke berbagai tempat tujuan di Kupang. Selesai meletakkan ransel berisi laptop dan berkas materi, aku bergerak menuju ruang Jasphire, tempat diklat sedang berlangsung. Kulihat Pak Cecep, dari Kementerian Pariwisata, sedang menyampaikan materi mengenai hygiene dan sanitasi peralatan yang dipergunakan dalam dunia pariwisata. Ada tiga narasumber dalam diklat Pembekalan bagi Para Pengelola Desa Wisata di Kupang, yakni Pak Djinaldi Gosana, Pak Cecep Tomi, dan aku sendiri. Diklat diadakan dari tanggal 1 – 3 Desember 2015. Aku baru akan menyampaikan materi pada hari terakhir, yakni Kamis, 3 Desember 2015. 



Pada Diklat ini terdapat 40 orang peserta, yang berasal dari 5 Desa Wisata yang ada di Kupang, meliputi Batunona, Goakristal, Aercina, Lasiana, Kolbano, Tablolong.




Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Kupang adalah seorang perempuan, yakni Dra Ester Muhu. Beliau menjelaskan di Kupang, Jumat (20/11/2015), kota Kupang memiliki empat desa wisata, yakni Lasiana, Penfui, Mantasi dan Manutapen. Muhu menambahkan  pengembangan desa wisata ini disesuaikan dengan kondisi desa masing-masing, misalnya di Lasiana ada sanggar tari dan warga sudah dilatih untuk membuat cenderamata, di Kelurahan Manutapen ada sentra tenun ikat dan ada kuburan Taebenu, dan di Penfui ada Tugu Jepang.


Gubernur Nusa Tenggara Timur, Frans Lebu Raya, tanggal 2 Mei 2015 menjelaskan target 2018 akan terdapat 273 desa wisata di NTT sebagai realisasi komitmen pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat NTT, khususnya yang ada di pedesaan (http://www.beritasatu.com/nasional/270583-ntt-targetkan-capai-273-desa-wisata-sampai-tahun-2018.html)


Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Timur, Marius Ardu Jelamu, di Kupang mengatakan, hingga 2014 lalu NTT baru mempunyai 73 desa wisata. "Penambahan jumlah desa wisata merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat NTT, khususnya yang ada di pedesaan. Karena itu pemerintah berkeyakinan bahwa desa wisata akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Secara otomatis, langkah ini akan menjadi lokomotif untuk menggerakkan sektor lainnya," lanjutnya.


Desa-desa wisata saat ini antara lain desa wisata Wae Sano, Cunca Lolos, dan Liang Dara di Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai. Kemudian desa wisata Labuan Bajo, Komodo, Pasir Panjang, Desa Batu Cermin di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Selanjutnya Desa Satarlenda, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai dan Desa Nangalabang, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, serta desa wisata perkampungan tradisional Bena di Kabupaten Ngada dan perkampungan tradisional Boti di Kabupaten Timor Tengah Selatan.


Berikut Desa Oebelo dengan obyek wisata pembuatan alat musik tradisional Sasando dan Oelnasi dengan obyek wisata agro dan pemancingan serta Desa Manusak dengan obyek wisata agro dan wisata alam di Kabupaten Kupang. Selanjutnya desa Lede Unu dengan obyek wisata perkampungan adat dan Desa Kujiratu dengan obyek wisata situs Kujiratu di Kabupaten Sabu Raijua, Desa Maritaing dengan wisata alam dan bahari serta Desa Marisa dengan obyek wisata bahari di Kabupaten Alor.


Pada Kabupaten Lembata terdapat empat desa wisata yang juga mendapat dukungan program desa wisata yakni, Desa Atawai di Kecamatan Nagawutung dengan obyek wisata air terjun Lodowawo, Desa Atakore dengan dapur alam budaya, Desa Lamalera dengan obyek wisata penangkapan ikan paus secara tradisional dan Desa Laranwutun dengan wisata bahari.


Desa-desa wisata tersebut terdapat pada 46 kecamatan yang ada di 22 kabupaten/kota di NTT, dimana persoalan infrastruktur menuju desa-desa wisata juga menjadi program lintas satuan kerja perangkat daerah (SKPD).


Hal ini memperlihatkan gambaran bahwa pembangunan dan pengembangan desa wisata tidak bisa berjalan sendiri atau terpisah. Ini semua membutuhkan kemampuan berkomunikasi dan menjalin kerjasama antar lintas sektoral, lintas departemen, Pembangunan jalan dan jembatan ataupun infrastruktur lainnya seperti air bersih pada obyek-obyek wisata bukan domain Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Pembangunan infrastruktur merupakan tugas dan tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum, baik di provinsi maupun kabupaten/kota. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, dalam APBD tahun anggaran 2014 mengalokasikan dana hibah sebesar Rp 2,5 miliar untuk mendukung program desa wisata di provinsi kepulauan itu. Dana tersebut disalurkan kepada 50 desa wisata, masing-masing desa mendapat alokasi dana sebesar Rp 50 juta, yang dimanfaatkan untuk mengairahkan usaha-usaha ekonomi masyarakat yang bermukim di desa-desa wisata. Dana tersebut juga dimanfaatkan untuk membantu kelompok masyarakat pada desa-desa wisata untuk pemberdayaan ekonomi, yang berhubungan langsung dengan sektor kepariwisataan.




Well, sudah tentu kebijakan pemerintah yang bersifat positif bagi pembangunan dan pengembangan masyarakat secara luas ini harus didukung dan dilaksanakan setiap jajaran dan jejeran dari atas hingga ke bawah. Maka, implementasi ini membutuhkan kemauan dan kemampuan kita semua untuk bergerak. Revolusi mental bukanlah basa-basi, dengan revolusi mental yang kita mulai dari diri sendiri, secara bersama-sama, demi kemajuan Desa dan masyarakatnya, khususnya di Desa-Desa Wisata, maka seluruh sumber daya alam dan sumber daya manusia akan mampu bereksplorasi secara maksimal.


Materi ini yang kubawakan pada mereka, para peserta diklat Pembekalan bagi Para Pengelola Desa Wisata di Kupang, yang diadakan dari tanggal 1 – 3 Desember 2015


Pukul 14.15 siang, Kamis tanggal 3 Desember 2015, kuakhiri materi yang kusampaikan. Dan kami berfoto bersama. Sebagian peserta meminta kesediaanku untuk mengunjungi Desa Wisata dimana mereka berada. Maka, setelah kuletakkan ransel berisi barang-barang kerja di kamar, berganti mengenakan celana panjang, topi, dan ransel mbolang, aku keluar dari lobby hotel, berjalan menuju jalan raya, naik angkot menuju ke Pantai Lasiana.



Aiihhh, naik angkot di daerah yang belum pernah kukunjungi?? Hmmm, knapa mesti takut sejauh kita yakin dan berani bertanya agar tidak tersesat di jalan. Membayar Rp 4.000,- aku turun di jalan masuk menuju Pantai Lasiana. Mobil tidak bisa lewat karena sedang ada pengurukan jalan. Aku sempat narsis dengan menaiki backhoe yang sedang bekerja. “Saya pak Martin dari Kefamenanu” Ujarnya saat menjelaskan pekerjaannya tersebut.


Di pantai Lasiana kujumpai ibu Mariana, Ibu Hendrik, dan ibu Pasoleh yang juga menjadi peserta diklat kami. Tak lama kemudian, bergabung bersama kami, ibu Diah Kartika bersama teman-teman dari Kementerian Pariwisata, juga dari Dinas Pariwisata Kota Kupang. Kami menikmati kelapa muda, pisang gepe bakar disiram gula enau, madu dan kacang tabur buatan ibu Mariana. Berjalan menyusuri tepi pantai, dan saling bercanda bersama.


Pantai Lasiana memiliki bentang panjang 5 km dengan pasir putih yang landai. Pantai Lasiana lebih sempit dengan batu karang. Sedangkan Pantai Oesappa lebih lebar dengan adanya jalan lebar yang telah ditata pemerintah tepat di pinggir pantai. Di Pantai Lasiana juga terdapat banyak deretan tanaman enau, atau sabuak, buahnya dikenal dengan nama buah siwalan. Torehan ujung tunas bunga enau yang dipotong akan menghasilkan air tuak dan ditampung dalam jerigen. Air tuak merupakan minuman khas NTT dengan kadar alkohol tinggi yang memabukkan. Air tuak yang diolah lagi disebut dengan Sofi. Sofi memiliki nilai jual tinggi yang lebih mahal dari tuak.  





Selesai dengan aktivitas bersantai di pantai Lasiana, kami mampir ke pusat oleh-oleh bu Soekiran, sebelum kembali ke Hotel On The Rock. Menikmati makan malam di bawah naungan awan gelap pinggir pantai Oesappa dari resto hotel, dengan cahaya kilat saling menyambar, dan kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Sempat pula berkenalan dengan ibu Lenny Subroto, yang sedang menikmati makan malam bersama keluarga. Ibu cantik ini penggemar kain dari berbagai penjuru nusantara. Kami sempat berdiskusi tentang ragam budaya, mulai dari kain songket, makanan khas berbagai daerah, nasi goring porsi raksasa yang kupesan, dan bahkan bernyanyi lagu bali, Bungan Sandat, bersama-sama.






Aku juga sempat berkenalan dengan mBak Yulita, dari tim Trans 7 yang sedang mengeksplorasi Sasando dan Tilangga dari desa Oebelo, dan bu Indri dari Kementerian Perhubungan yang juga bepergian sendirian dalam rangka tugas ke Kupang, selama 3 hari.

Perempuan, adalah pilar utama keberhasilan negeri ini. Karena perempuan membawa garis kebijakan dan kedamaian di setiap jejak langkah yang dia lakukan. Aku percaya, perempuan bisa membawa angin segar di setiap aktivitas yang dilakukannya……



Hari Jum’at, 4 Desember 2015, pukul 7 pagi, kami berangkat bersama menuju bandara El Tari Kupang. Ibu Diah Kartika bersama teman-teman bergerak menuju Jakarta dengan pesawat Batik Air pukul 8.30. Aku bersama pesawat GA 443 D menuju Denpasar. 



Kupang….. sebuah cerita cinta tentang pengabdian, dengan semangat melayani diri sendiri, melayani orang lain, melayani banyak orang….. Aku akan kembali lagi, suatu saat nanti.

Minggu, 06 Desember 2015

Pengabdian Masyarakat Prodi ADH di Desa Bongkasa Pertiwi, Kec. Abiansemal, Kab. Badung, Minggu 15 November 2015



 
 

Program studi DIV Administrasi Perhotelan (ADH) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat yang ke dua untuk tahun 2015 ini, di desa Bongkasa Pertiwi, setelah sebelumnya yang pertama diadakan di Desa Belimbing, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, pada tanggal 24 Oktober 2015. Tema yang dipilih adalah Pembinaan dan Pendampingan Sumber Daya Manusia Pengelola Pondok Wisata di Desa Wisata Bongkasa Pertiwi, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, pada hari Minggu, 15 November 2015.
 
Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini dihadiri para tokoh masyarakat di Desa Bongkasa Pertiwi  yang terdiri dari: Perbekel, Kelian Desa Pekraman, Kelian Dinas Wilayah Desa Pekraman, LPM, anggota Pokdarwis, Ibu-ibu PKK, dan masyarakat Desa Bongkasa Pertiwi, Kecamatan Abian Semal, Kabupaten Badung.

Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini merupakan salah satu wujud dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dilaksanakan para dosen di lingkungan STP Nusa Dua Bali. Beberapa hal yang melatar belakangi pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah sebagai berikut:
  • Desa Wisata Bongkasa Pertiwi yang terletak di Kecamatan Abian Semal merupakan salah satu desa wisata yang baru berkembang menawarkan pesona alam yang asri. Dengan potensi yang dimiliki, diantaranya terasering yang unik, rafting, paint ball, dan kerajinan perak, dan kunjungan wisatawan yang mencapai 500 orang per harinya.

  • Meski Pokdarwis Desa Wisata Bongkasa masih relatif baru, namun sudah dikunjungi oleh wisatawan semenjak tahun 1997, yang diawali dengan kegiatan Bali Adventure Rafting. Ketuanya kini, bapak I Wayan Martana, menjelaskan bahwa Desa Bongkasa Pertiwi terdiri dari tiga Banjar, Yakni Banjar Karangdalem I, Banjar Karangdalem II, dan Banjar Tegal Kuning. Pokdarwis desa Bongkasa Pertiwi juga telah menjalin kerjasama dengan beberapa pelaku pariwisata untuk promosi kepada masyarakat luas dan bertujuan menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Tujuan dibentuknya Pokdarwis adalah untuk memberi pemahaman dan pengetahuan akan pentingnya pariwisata. Dengan pahamnya masyarakat desa diharapkan terjadinya minat masyarakat desa akan potensi wisata desa dan mampu menambah pemasukan desa.
  • Kabupaten Badung saat ini telah memiliki 11 desa wisata, termasuk Desa Bongkasa Pertiwi, dan masih perlu pengembangan secara berkelanjutan, agar bisa menjadi alternatif pilihan bagi wisatawan yang berkunjung ke kabupaten Badung.



Adapun Pengabdian Masyarakat Program Studi Administrasi Perhotelan tahap II di Desa Bongkasa Pertiwi ini meliputi :
    • Identifikasi Potensi wisata di Desa Bongkasa Pertiwi Kecamatan Abian Semal, Kabupaten Badung, Bali.
    • Pemasaran wisata Desa Bongkasa Pertiwi Kecamatan Abian Semal, Kabupaten Badung, Bali.
    • Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengembangan Desa Wisata di Desa Bongkasa Pertiwi Kecamatan Abian Semal, Kabupaten Badung, Bali.
 





 
Pada kegiatan Pengabdian Masyarakat tahap ke 2 ini, dihadirkan Narasumber : I Gusti Putu Ngurah Budiasa, MA., dan Luh Gde Sri Sadjuni, SE., M.Par., juga I Made Angga Adiguna, GM Tony’s Villa Bali, beserta Ida Bagus Garlika, Ecommerce Manager Tony’s Bali Villa, untuk dapat memberikan berbagai penguatan dan pengalaman dalam mengelola Desa Wisata, terkait Pemasaran Produk dan Pelayanan Pariwisata, Food Product, dan juga materi terkait Front Office dan Housekeeping.    
Berbagai pertanyaan yang diajukan oleh masyarakat terkait pengelolaan desa wisata beserta permasalahan di lapangan yang dihadapi saat melayani wisatawan diungkapkan seperti misalnya; peningkatan ketrampilan pengelola pondok wisata dalam hal penerimaan tamu, promosi desa wisata, mengolah makanan, menghidangkan makanan, dan cara penyusunan paket wisata yang akan dikembangkan. Pengabdian Masyarakat ini diselenggarakan  di Ruang Pertemuan Kantor Desa Bongkasa Pertiwi, Kecamatan Abian Semal, Kabupaten Badung, pada hari Minggu, 15 November 2015.