Minggu, 06 Juni 2010

Aku Ibu Yang Kejam?

Pernah ada yang bilang, aku ibu yang perlakukan anak dengan tidak seharusnya. Mengajak mereka bepergian jauh dengan kendarai motor. Ke Buleleng, ke Tanah Lot, ke Negara, ke Batukaru, ke Batur, ke Besakih, Ke Goa Lawah.

Ah, kami bukanlah keluarga kaya. Hanya motor yang kupunya. Aku mungkin bukanlah ibu yang sempurna, bukan wanita sempurna, namun bukankah sempurna atau tidak kadang hanya se batas lembaran kertas bedanya? Dan... aku hanya ingin melewatkan banyak waktu berharga bersama mereka, sebelum waktu itu semakin terbatas, sebelum mereka miliki sendiri group nya, peers / kelompoknya, temukan pasangan hidup dan jalan hidup mereka. Mungkin, lebih tepatnya, waktu kebersamaan yg berkualitas. lagi pula, kupersiapkan diri mereka sebaik mungkin sebelum adakan perjalanan, karena, bukankah, tiap dari kita adalah juga pejuang dalam berbagai perjalanan hidup?

Maka, aku mungkin bukan ibu yang baik, tapi, tiap ibu bisa jadi macan pula, jika menyangkut urusan anak. Eh hehehe. lagipula, masih jauh lebih banyak anak yg tidak seberuntung mereka ini. Semoga Tuhan bimbing tiap anak temukan cahaya yang akan menerangi tiap jalan hidup mereka.....

Kedonganan Sabtu Sore 5 Juni 2010

Hari ini, setelah jalankan kegiatan Posyandu, berangkat bersama anak menuju Lap. Puputan Renon, namun kegiatan Donor Darah gagal kuikuti, karena panitia sudah membongkar tenda dan bubar pukul setengah sebelas. Padahal, di salah satu milist dari bbrp yg kuikuti, tertulis acara akan berlangsung hingga pukul dua belas. Hmm, yadnya bisa dilakukan dalam banyak bentuk lain. Namun, baru tahu dari komentar di status dinding, bahwa Avril (bukan yg Lavigne) dan teman-temannya ikut hadir kelola acara ini, dan hanya dapatkan kurang dari 30 pendonor.

Dari lap. Puputan Renon, langsung berangkat menuju rumah ipar, dan dari sana kuajak keponakan yang super sehat ini bergabung denganku dan si kecil dalam wisata kuliner. Tujuan kami adalah Pasar Ikan Kedonganan, di Jimbaran. Pukul dua sore berangkat, perlu waktu 40 menit dari jalan Antasura untuk tiba di pasar ikan ini. Berjalan menyusuri lorong yang becek, bau ikan menusuk hidup. Dari jejeran udang, kepiting, kerang, berbagai jenis ikan, menarik menggugah selera untuk segera diolah. Kupilih ikan kerapu dan ikan ekor kuning dua kilo, seharga sembilan belas ribu rupiah perkilonya. Ibu pedagang ikan segera mengibaskan sepotong kayu yang sudah di beri beberapa paku dibagian ujung, menggaruk sisik agar terlepas dari kulit ikan, membelahnya menjadi dua. Sekilo terdiri dari 5 ekor ikan. Sengaja kupilih yang tidak berukuran besar, agar daging ikan matang sempurna karena tidak tebal. Beralih ke bagian dimana cumi berada. Kupilih sekilo cumi seharga tiga puluh ribu yang kemudian dikuliti oleh ibu pedagang ikan. Lalu kami bawa kantung plastik berisi ikan dan cumi ke salah satu warung yang menyediakan jasa memanggang berbagai ikan yang telah dibeli dari pasar. Hmm, sungguh sebuah peluang jeli dalam menangkap pangsa pasar yang ada di depan mata. Sekilo ikan bakar lengkap dengan sambel matah dan sambel tomat dihargai senilai delapan ribu rupiah. Apalagi jika ingin menikmati hasil panggangan di tempat, tersedia nasi putih anget, juga plecing kangkung ditabur kacang kedelai goreng. Hmm, tawaran penggugah selera.

Ikan dan cumi pun segera berpindah ke atas pemanggangan ikan. Kami menunggu sesaat sambil meluangkan waktu mengobati narsis dengan berfoto ria di tepi pantai. Berpuluh jukung nelayan yang sedang terkapar, entah diperbaiki oleh nelayan, istirahat karena musim angin laut keras, bahan bakar solar yang kian mahal, menggelar hasil tangkapan di dalam pasar. Berpuluh lagi jukung yang terlihat melego jangkar di laut. Ah… sungguh pemandangan indah yang tak habis ingin kujumput.

Hanya dengan kurang dari tujuh puluh lima ribu rupiah, bisa ku berbagi nikmati ikan panggang bersama keluarga besar lebih dari sepuluh orang, bahkan, para tetangga juga kebagian hantaran seekor ikan panggang, walau kecil, eh hehehe. Semoga, kemesraan ini tiada kan pernah berhenti, walau terkadang masalah datang bertubi….

Jumat, 04 Juni 2010

Bungan Sandat (AA Chakra, alm)

Ku suka banget lagu ini....
Disaat jaya dan sedang berkembang,
lakukan kesalahan,
dan, banyak orang bakal benci dirimu

Sesal kemudian selalu kurang berguna
Butuh waktu untuk bangkit dan berjuang kembali.....




Yen gumanti bajang
tan binaye pucuk nedeng kembang
disuba ye layu
tan ade ngerunguang ngemasin makutang
becik malaksana
de gumanti dadi kembang bintang
mantik di rurunge
makejang mangempok raris ka entungang

refff :
To ibungan sandat selayu-layune miik
too.. ye nyandang tulad seuripe melak sana becik
pare truna truni mangde saling asah asih asuh
ma nyama beraya to kukuhin rahayu kapanggih

Heboh Lain Lagi

Hari ini....
Setelah selesaikan urusan rumah tangga, mengantar anak bungsuku ke sekolah, suami dan putra sulung masih di rumah. Tiba di kantor, sudah harus selesaikan beberapa surat dalam rangka Wisuda XVI STPNDB. Dipanggil ke ruang Kabag ADAK selesaikan urusan para tamu VVIP yang akan hadir pula. Gilaa... banyak banget tambahan undangan, perubahan susunan acara, urusan lain lagi menanti. Bu Juli tetap tenang dengan se abrek perubahan yg menuntut kerja keras untuk tangani ini. Hmm, wanita arif nan pintar yang bisa beri keteduhan hati. Tiada munafik dan bisa diajak kerja sama dalam berbagai hal. Banyak rekan lain yang selalu sibuk berkeluh kesah dan menyesali jalan hidupnya, menuduh yg bukan-bukan, tanpa introspeksi diri. Ah,.. Semoga semua tugas ini bisa berjalan lancar dengan kekompakan kami semua...

Setelah itu harus bergegas temui 30 an anggota Senat Mahasiswa yang sudah menanti bersama PakJata di ruang Serba Guna dalam rangka penggalangan tenaga mereka saat Wisuda nanti, 11 Juni di BICC Westin Hotel. Lanjut ngecek data mutakhir jumlah calon wisudawan. Dan... bersiap menuju Westin untuk mengecek hotel.

Ternyata... rombongan telah meninggalkan kami, Ibu Juli, Ibu Mirah dan aku sendiri, bengong melamun di lobby Gedung Rektorat. Supir entah dimana. Sementara 10 teman lain telah tiba di lobby hotel Westin. Hmmm, tidak mengapa lah. Toh sudah cukup banyak orang di hotel. Kusampaikan Kartu Undangan Wisuda dan juga surat pemberitahuan pelaksanaan wisuda pada bapak polisi yang kebetulan hadir di ruang satpam, untuk disampaikan pada Kapolsek Kuta Selatan.

Sekarang bisa melanjutkan tugas, ngecek kartu undangan bagi 343 calon wisudawan, memindahkan 343 toga lengkap dengan medalinya, ke ruang bawah perpustakaan yang kami pinjang dari pak Tikel, staf AVA kami. Lumayan melelahkan, walau dengan dibantu 3 staf wanita koperasi. Namun, ini tugas, merengek dan menyalahkan orang lain, mencaci, tidak akan selesaikan masalah ini. Mengharap bantuan jatuh dari langit? Hmm, bahkan, Tuhan tidak suka orang manja yang cuma berdiam diri...

Setelah penataan in selesai, kukunci pintu dan kukantongi. Lalu... berangkat lagi bersama ibu Mirah ke PT BTDC, menyampaikan surat ijin penggunaan lahan parkir selama acara wisuda berlangsung nanti.

Setelah semua urusan selesai, tiba waktunya untuk pulang. Kuantar ibu Mirah ke rumahnya di Jalan Hayam Wuruk, Gg. Kecubung. Dan beli 5 bungkus es teler jalan kecubung yang terkenal enak, bagi suami dan anak2ku. Ah... Now, me time dengan rehat sejenak...

Anakku Permata Hatiku

Anak anakku
permata hatiku
terkadang tenang bagai laut biru di tengah laut
kadang terengah kendalikan mereka

Kahlil Gibran benar....
Kau bisa curahkan kasih sayangmu
pada anakmu hingga nyawa terlepas dari badanmu
Namun anak-anakmu bawa buah pikiran mereka sendiri...

Selasa, 01 Juni 2010

Sabar Nich, Sabar Ya, Sabar Donk.....

Bukan bu Santi namanya jika tidak terkadang iseng….
Hari Jum'at 28 Mei 2010 jumpa Sabar di pelabuhan PadangBai, dalam perjalanan menuju ke Nusa Penida mengikuti Tirta Yatra. Dia bersama rombongannya, ku jua dengan rombongan para sahabat berjumlah hampir 150 orang. Di atas kapal, sebelum merapat di pelabuhan di Nusa Penida, dia menawarkan diri membawa sebagian barang bawaanku. Maka, dua tas plastik berwarna merah besar yang berat kusodorkan padanya. Jadilah dia asistenku, ajudanku.
Ehm, cukup? Belum.

“Bawa barang saya ini ke dalam mobil kalian, dan bawa deh terus sampai di Pura Dalem Peed, nanti kita ketemu lagi disana. Jaga selalu dengan penuh perhatian” Demikian kukatakan padanya. Maka, Sabar pun membawanya dan menjaganya dengan penuh semangat secara berhati-hati sambil berjalan naik ke mobil yang mereka sewa. Sempat dia berteriak dan berkata dari jauh, "Gimana jika kita nanti terpencar, ibu?" Maka sahutku "Itu tugasmu, bawa dengan hati-hati!!" Ah hehehe...

Lima menit kemudian sebelum mobil bergerak, kuhampiri dengan senyum simpul dan meminta kembali barang bawaanku.

Ah... Sabar Nich, Sabar Ya, Sabar Donk..

Suami / Istri Satu Paket....

"Istriku sudah marah krn menunggu lama di Ramayana bersama anak2. Habis, mau bagaimana lagi…” Komentar sahabatku ini saat dia jalankan tugas tangani APM dari mahasiswa Prog.Berjenjang ini hingga larut malam Sabtu malam, 29 Mei 2010, di saat harusnya nikmati waktu bersama keluarga.

Ah, bukankah, saat kita menikah dengan seseorang, itu juga berarti siap menerima dan menghargai segala yang melekat padanya? Jabatan, gelar, susah dan senang, sibuk dan santai, baik dan buruk, benar dan salah… Kita tidak bisa menikah dan berharap suami atau istri tidak lagi memiliki sifat jelek yang tidak kita inginkan. Hal ini juga berlaku bagi hubungan persaudaraan, pertalian kekerabatan, dan persahabatan. Kubilang ini dengan.. “Suami satu paket”. Artinya, menikah dengan seseorang, berarti juga menikahi semua sifat jeleknya, kekurangannya, dan.. perlahan kita bersama satukan banyak sisi unik ini secara bersama, saling melengkapi, namun, perbedaan akan selalu tetap ada. Bersatunya dua orang tidak berarti hilangnya satu orang yang bahkan miliki ribuan perbedaan, namun bagaimana hidup dengan segala perbedaan tersebut untuk menjadi pribadi-pribadi yang makin dewas dan shanti.

Kita bisa saja meng kerangkeng suami atau istri, memaksakan kehendak dengan hukuman, atau memberlakukan pemaksaan lainnya. Kita bisa saja “menyinebkan” gelar atau jabatan. “Menyinebkan” diri, berlaku berpura, bersikap munafik, bertindak masa bodoh terhadap suami atau orang lain, memaksakan kehendak sendiri, menipu masyarakat banyak, hidup dengan menulikan dan membutakan diri dari lingkungan sosial. Namun kita tidak akan pernah bisa menipu diri sendiri dan berdusta di mata Tuhan. Maka… jadilah suami “satu paket”, sahabat “satu paket”, saudara “satu paket”.

Kalian berdua, sepasang suami dan istri, yang keduanya adalah sahabatku… Suamimu seorang pejabat, say…. Dan itu membuat dia harus selalu siap pada situasi dan kondisi yang menyangkut tugasnya pula. Laksanakan tugas hingga larut malam handle acara ini, yang juga kuhadiri bersama anakku dan simbok, dan banyak sahabat lain. Kalau kulihat dan kutahu dia berselingkuh disini, bisa kucekik dia demi kau, sahabatku.

Hari Sabtu 29 Mei 2010 pukul 17.00, Aku baru tiba dari perjalanan dua hari ke Nusa Penida yang lumayan melelahkan, hanya sempat mandi, lalu berangkat lagi bersama simbok dan anakku ke Charity Care yang diadakan muridku di Hotel Inna Bali jalan Veteran ini, hingga lumayan larut, karena simbok juga adalah “satu paket”. Dia tetap manusia yang butuh jalan dan hiburan, walau jabatannya juga adalah seorang “pembantu”. Maka kuangkut keluargaku untuk tetap bisa nikmati kebersamaan secara berkualitas. Aku mungkin bukan ibu yang baik, tapi aku adalah ibu “satu paket”, dengan segala kelemahan dan kelebihanku.....