Jumat, 13 Mei 2011

9 Summers 10 Autumns


Phyta Widyasari mengurai indah: "I can imagine if there is nothing in my pocket, but I can not imagine if there is no knowledge in my mind and religion in my heart. They are my other suns in my life" . Sebuah quotes yang diambil dari novel "9 Summers 10 Autumns" karya Iwan Setyawan.

Hal ini menjelaskan pada kita semua, pentingnya pendidikan dan pengembangan nilai2 religi, dalam setiap detak jantung yang hidup bersama di seluruh penjuru dunia. Karena hanya dengan semangat kebersamaan yang harmonis dari berbagai perbedaan yang kita miliki, maka kita akan berhasil melayari kehidupan ini dengan sedikit konflik dan permasalahan. Tidak mungkin kita terlepas dan bebas dari berbagai cobaan, namun dengan saling berdiskusi kita dapat memberi motivasi bagi orang lain, bahkan juga diri kita sendiri.

Iwan Setiawan, seorang tokoh dengan pengalaman hidup yang 'AMAZING' dalam mengarungi kehidupan, berlayar menggapai setiap cita dan cinta, dijadikan sebagai 'referensi' kita dalam mengarungi hidup. Maka, mereka membuat even ini.

Tiket seharga idr20k* include snack, sertificate, SKP (buat mahasiswa/i STP ND, Bali), doorprize, ilmu and motivation.

note: untuk mahasiswa/i STP idr15k, tiket limited, tiket box @ gramedia denpasar atau bisa langsung berhubungan dengan panitia, +628563767974 (Rizki Aulia Akbar - MTB.A/6), +87858700012 (Puspita Widyasari - ADH.B/2).

"Berlayar. Terus berlayar. Jangan hanya tunggu keajaiban akan datang" begitu kata Iwan setyawan.

Memperbaharui Ikatan Janji Untuk Selalu Setia





Sepasang anak manusia, terikat janji bahtera keluarga
Menapaki jejak anak tangga itu....
Mereka tertatih berjalan ragu.
Ku gamit untuk segera bersatu.

Hmmm,
Kuasa atas segala anak bangsa....
Masihkah lelah terasa jika hanya Tuhan pemilik semesta ?
Buang sauh ego mu, dan biar cinta terlahir apa adanya


Hidup tidak selalu indah dan mudah....
Kalian dalam segala ujian dan tantangan
Namun, jangan buang asa itu
Sekecil apa pun cahaya di depan sana...
Bersatulah, rengkuh jemari riang menari-nari
jangan pernah berhenti, jangan mati lagi

Berjanjilah untuk selalu setia....

Senin, 09 Mei 2011

Trsna Papa Buddhi


Nghing si trsna tikang manuwuhaken kalobhan,

tatan hana bhedanikang kalobhan lawan wuhaya,

ri kapwan krura anglemaken ring sangsara,

tumuwuh pwa ng kalobhan,

metu ta ng buddhi papa, ikang buddhipapa,

ya tekamangun adharma,

ikang adharma, ya ta phaladuhka,

niwandaning amukti lara prihati ika ta.

(Sarasamuccaya 458)

Cinta Tanpa Kecerdasan, hanya cinta nafsu dan emosi belaka...

Cinta itulah yang menumbuhkan keserakahan, tiada bedanya keserakahan itu dengan buaya, karena keduanya sama kejamnya menenggelamkan orang dalam kesengsaraan; munculnya keserakahan tentu melahirkan pikiran jahat, dari pikiran jahat memunculkan adharma, adharma menghasilkan duka kesedihan, inilah yang menyebabkan papa sengsara.

Siapapun di dunia ini, baik pria atau wanita memiliki resiko tinggi untuk 'tenggelam' dalam cinta yang sesat.

Trsna Papa Buddhi dalam pengertian ini tidak hanya menunjuk perasaan sepasang kekasih saja namun ia juga menunjuk perasaan yang melebihi kasih sayang yang dialami setiap manusia dengan manusia yang lain, tak terkecuali perasaan orang tua terhadap anaknya ataupun sebaliknya.

Trsna dalam bahasa Jawa Kuna dan tresna dalam bahasa Bali ataupun cinta (sesat) dalam bahasa Indonesia adalah sebuah perasaan yang berbahaya, yang menggiring manusia untuk jatuh dalam kebodohan atau pun pembodohan.

cinta tanpa hati nurani adalah bibit utama dan yang terkuat membelenggu manusia dalam kebodohan. Cinta seperti ini juga merangsang manusia untuk tenggelam dalam keserakahan dan memunculkan rasa memiliki atapun keakuan tanpa kompromi, ia pulalah yang menyebabkan manusia menyianyiakan hidupnya, cinta pulalah yang menyebabkan orang menyengsarakan yang lainnya.

http://rare-angon.blogspot.com/

Betapa..... Kuingin cintaku padamu adalah cinta abadi nan murni.... Universal Love.

Minggu, 08 Mei 2011

Being A Mother (Jadi Seorang Ibu)


Somebody said it takes about six weeks to get back to normal after you've had a baby.

That somebody doesn't know that once you're a mother, "normal" is history.

Your life is amazing and fascinating.....


Jika ada yg bilang, bahwa seorang ibu perlu waktu sekitar 6 minggu untuk kembali hidup normal sejak dia pertama kali punya bayi, maka org tsb gak pernah tahu, bahwa sekali kita jadi seorang ibu, "normal" cuma sejarah. Hidup kita bakal menakjubkan dan sungguh mempesona.


Somebody said the hardest part of being a mother is labor and delivery.

That somebody never watched her "baby" get on the bus for the first day of kindergarden.


Jika orang berkata.... bagian paling berat dari jadi seorang ibu adalah saat hamil dan melahirkan, orang itu ga pernah alami saat2 mengawasi bayinya di jalan ato di hari pertama di Taman Kanak-Kanak.


Somebody said your mother knows you love her, so you don't need to tell her.

That somebody isn't a mother. Or on a plane headed for military "boot camp".


Jika ada yg bilang, emakmu tahu bahwa dikau mencintainya, dan ga perlu lagi ngomongin betapa besar cintamu pada dia... Orang ini bukanlah seorang ibu. Atau bukan sedang dalam perjalanan ke camp militer.


Somebody said a mother can stop worrying after her child gets married.

That somebody doesn't know that marriage adds a new sons

or daughter in law to a mother heartstrings.


Jika orang2 bilang... seorang ibu bakal berhenti khawatir saat anaknya menikah. Orang ini ga pernah tahu bahwa pernikahan adalah berarti menambahkan sebuah ikatan emosional lain lagi ke dalam jiwa Sang Bunda......

Jumat, 06 Mei 2011

Tumpek Landep, Local Genius Wisdom.....

Saniscara Kajeng Kliwon Uwudan wuku Tumpek Landep, 7 Mei 2011 adalah hari Tumpek Landep. Tumpek Landep merupakan hari dimana umat Hindu memberikan perhatian khusus berupa upacara dalam rangka memaknai betapa berharganya berbagai benda dan peralatan yang telah membantu mempermudah manusia dalam melaksanakan pekerjaannya, seperti mesin, kompor, sapu, motor, senjata, dan lain sebagainya.

Hmmm, sungguh merupakan sebuah bentuk Local Genius Wisdom, Kearifan Lokal yang sungguh Adi Luhung. Kita sebagai manusia selalu diingatkan untuk tidak jumawa, tidak sombong dan lupa diri, bahwa hidup kita menjadi berarti atau bermakna karena adanya orang lain, karena adanya lingkungan sekitar kita yang mendukung, membantu kita dalam mempermudah mencapai tujuan kehidupan.

Terjaga di pagi hari, Jum'at 6 Mei 2011 setelah kemarin malam baru tiba dari Singaraja, rasa lelah masih melanda. Namun harus bangun pagi hari dan ke pasar. Yudha harus mengumpulkan prakarya membuat bingkai dari berbagai jenis kacang2an, maka, sang emak harus maju mempersiapkan segala sesuatunya agar dia tidak ngambek dan mau belajar juga bekerja. Tiba dari pasar, masih harus membantu nya menyelesaikan pe er sekolah, mempersiapkan bekal Adi untuk di bawa sekolah, baru mandi dan bersiap berangkat ke kantor. Hmmm.....

Hari ini ada dua rapat sekaligus.... Persiapan program pelatihan bagi peserta dari Timor Leste, dan juga bahasan mengenai tawaran program dari pihak manajemen Conrad. Rapat baru akan dimulai pukul 10. Namun akan jauh lebih baik jika bisa sambil mengecek bahan lainnya lagi di ruang Administrasi Perhotelah, ruang kantorku di STPNDB. Wahyuni, mahasiswa bimbingan skripsiku sudah menanti untuk diskusikan kelanjutan skripsinya. Esa, si dosen baru, sudah menanti pula untuk menjadi asistanku di ruang kelas nanti. Kami harus diskusi namun tugas menanti. Lumayan banyak aktivitas sepanjang hari ini.

Pukul 12, kusempatkan makan nasi rame-rame bersama para sahabat satu ruang. Dua bungkus nasi goreng yang kami beli, dibagi berempat, ditambah dengan tahu dan tempe goreng. Ah... sungguh menyenangkan makan bersama, megibung..... Sebuah Local Genius Wisdom lain lagi. Tanpa memandang kasta dan pangkat, juga agama.... kami duduk dan makan bersama pada satu meja dan dari piring sama pula.... IGA Mir, Nym Suk, Irn, Ngh Sudarma. Hmmm....
Pukul 2 siang, kutinggalkan kantor dan pulang.

Pukul 7 malam aku harusnya mengajar kelas di Paket Kejar C. Mata pelajaran Sosiologi dan Geografi. Mereka yang berasal dari berbagai macam latar belakang asal, suku, agama, tingkat usia dan karakter ini begitu bersemangat menuntaskan pendidikan di level SMA, walaupun pada Program Paket Kejar. Namun Aku harus ngayah di Pura Padmasana. Tumpek Landep adalah odalan bagi Pura Padma di Perumku. Maka setelah kuhubungi seluruh murid dan bu Agung, koordinator program kami, kujelaskan bahwa aku tidak bisa mengajar kali ini.

Kemudian aku berangkat ke Pura. Cuaca mulai gelap, cahaya lampu sudah dinyalakan. Para bapak dan ibu mulai hadir di Pura. Pak Ngurah, Pak Made, Pak Kadek, Pak Gus Jhon, Pak Putu Arka, Pak Wayan, Bu Lilik, Bu Marhaeni, Bu Dayu Puspaadi, Bu Indra, Bu Arka, Bu Gek. Kami mulai nanding banten yang sudah selama dua hari ini di rakit jejahitannya oleh para ibu. Para bapak mendirikan tenda, ada yang mulai dengan kidungnya, ada yang jadi peneges. Anak wanita membawa air minuman dan pisang goreng yang dihidangkan bagi seluruh umat yang hadir di sana kala itu. Hmmm, sungguh sebuah bentuk Local Genius Wisdom, Kearifan Lokal yang Adi Luhung. Tidak bakal goyahkan budaya yang sungguh harmonis ini dalam jajaran batas ruang dan waktu, menjalin semangat kebersamaan di antara kami untuk meningkatkan kebijakan dan kedewasaan diri.

Hujan yang turun perlahan, semakin lama semakin deras, membuat kami harus berlindung berhimpitan di bawah tenda. Namun semangat untuk menuntaskan banten membuat kami berusaha melakukan yang terbaik. Toh akhirnya, di tengah rengekan anak-anak yang hadir mengiringi orangtuanya, tetesan air hujan yang jatuh menimpa tubuh, dan banyak segala tetek bengek lainnya, akhirnya kami tuntas pula dengan aktivitas di Pura Padma ini. Pukul sepuluh kami pulang ke rumah masing-masing.

Besok, Saniscara Kajeng Kliwon Uwudan wuku Tumpek Landep, 7 Mei 2011, pukul 7 malam, kami akan berkumpul bersama, melaksanakan persembahyangan dalam rangka piodalan, dipuput oleh bapak Dane Jero Mangku Made Sedana Putra. Kemudian kami akan menikmati makan malam bersama hasil olahan bersama pula. Astungkara, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, kami masih diperbolehkan memuja kebesaran nama Mu.....

http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=956&Itemid=120
memuat bahasan dari Jero mangku Sudiada yang mengatakan bahwa :
Bersyukur kepada Hyang Maha Pencipta dalam manifestasinya sebagai Hyang Pasupati atas ciptaanya, sehingga atas analisys dari manusia menggunakan ketajaman Jnananya sehingga berhasilah mengolah logam logam yang dipergunakan untuk melancarkan usahanya dalam menunjang kehidupan sehari-hari, sehingga lazimnya pada tumpek ini sepertinya di katagorykan sebagai sarwa sanjata-senjatanyapun yang dari Logam, pada hal yang utama bagaimana ketajaman dari Jnanam kita yang di anugrahi oleh sang maha pencipta.

http://www.antaranews.com/view/?i=1195822534&c=ART&s=
menguraikan apa yang dijelaskan oleh Dr. Ketut Sumadi M, Par, bahwa
"Tumpek Landep merupakan hari peringatan untuk memohon keselamatan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Senjata atau peralatan dari bahan besi, logam, perak dan emas. Tumpek Landep juga sebagai "pujawali" Betara Siwa yang berfungsi melebur dan "memralina" (memusnahkan) agar kembali ke asalnya. Melalui perayaan "Tumpek Landep" umat manusia diharapkan dapat lebih menajamkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) untuk kegiatan yang bermanfaat bagi kesejahteraan dan kemajuan bangsa dan negara Indonesia.

"Tumpek Landep" salah satu hari yang cukup diistimewakan umat Hindu jatuh setiap 210 hari sekali. Kala itu masyarakat Bali menggelar kegiatan ritual yang khusus dipersembahkan untuk benda-benda dan teknologi, berkat jasanya yang telah mampu memberikan kemudahan dalam mencapai tujuan hidup. Persembahan korban suci juga ditujukan untuk alat-alat pertanian seperti cangkul, sabit dan alat-alat pertanian lainnya bagi seseorang yang bekerja sebagai petani.

Demikian pula mobil, sepeda motor, sepeda angin, mesin-mesin, komputer, televisi, radio, pisau, keris, tombak dan berbagai jenis senjata, juga mendapat persembahan banten, rangkaian khusus kombinasi janur, bunga, buah dan aneka jajan dan diberi persembahan sesajen dan hiasan khusus dari janur yang disebut "ceniga", "sampian gantung", dan "tamiang". Semua itu merupakan wujud puji syukur orang Bali ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan pengetahuan dan kemampuan merancang teknologi canggih, hingga tercipta benda-benda yang dapat mempermudah kehidupan manusia di dunia ini.

Menurut Sumadi, teknologi canggih harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat positif, sesuai dengan konsep hidup orang Bali, "Tri Hita Karana", hubungan yang harmonis dan serasi sesama umat manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa. Oleh sebab itu, seluruh peralatan yang dipakai umat manusia untuk mengolah isi alam, khususnya peralatan yang mengandung unsur besi, baja, emas, atau perak, harus tetap dijaga kesuciannya. Dengan demikian selamanya diharapkan dapat digunakan dengan baik tanpa merusak alam. Orang yang bekerja sebagai petani misalnya, akan merawat dan menjaga alat-alat pertaniannya dengan baik, seperti bajak, cangkul, dan sabit. Sementara masyarakat yang bekerja sebagai pembuat berbagai peralatan dari bahan baku besi, baja, emas, perak (perajin) pun akan memelihara dan menjaga peralatannya.

Anak-anakku Tersayang....

Anak-anak..... adalah anugerah terindah dalam hidupku.
Mereka yang warnai tiap detak jantung
dan jejak langkah ke arah mana pun ku melangkah.....
Maka, hati terkadang merekah tak rela jika harus berpisah,
walau cuma sekejap, walau demi kedewasaan mereka pula.
Tapi harus ku kuat tegakkan kepala dan bertindak tegas,
agar mereka jadi pria yang bukan anak manja.

Ah, anak-anakku....
tumbuhlah terus untuk menggambarkan jalan hidup
mengepakkan sayap-sayap kemanapun angin membawa
tegak kukuh dalam spirit Dharma di dada
menjadi tiang kokoh bagi keluarga dan seisi dunia

Hidup tidak hanya keindahan dan kemudahan
Maka berjuang untuk menjalani tiap proses kehidupan,
bukan untuk menjadi yang terbaik dan membawa segala medali
namun mengarungi tiap uji dan tantangan yang hadir di depan sana

Kita mungkin bukan keluarga kaya dan terpandang...
Namun kita berusaha tegakkan kepala dan menatap riang
masa depan, masa lalu, dan masa kini...
memelihara semangat persaudaraan dan persahabatan
Jalanlah, anakku.... arungi bahtera hidupmu...

Kamis, 05 Mei 2011

Nganten, Euiy......

Ponakanku nikah..... Berhubung suamiku sudah jadi penglingsir, orang yang dituakan, maka tentu kehadirannya sangat diharapkan dan diwajibkan. Maka, setelah berbagai pertimbangan yang rumit dan terkadang disertai tetek bengek lain pula, kami putuskan pulang kampung hari Senin, 2 Mei 2011, setelah kuselesaikan presentasi paperku di hadapan Prof. Dr. Ir. Sulistyawati, M.Si.

Hmmm, sungguh sebuah perjuangan, menjalani hari-hari harus kuliah, kerja, dan sekaligus menyame beraye. Namun bukankah hidup juga adalah sebuah proses bersosialisasi antara keluarga dan lingkungan dimanapun kita berada.... tetangga, sahabat, atasan, bawahan, dan orang lain yang tidak kita kenal sekalipun.

Pukul 11 wita, bersama suami dan Yudha, kami berangkat menyusuri jalan menuju ke Sepang dengan Yamaha Jupiter MX. Cuaca cerah sehabis hujan menemani 2 jam dan 30 menit perjalanan. Akhirnya kami tiba pukul 14 wita di Pangkung Singsing, Dusun Asah Badung, Desa Sepang Kelod, Kabupaten Buleleng. Ponakan suami, Nyoman Westra, menikah dengan Kadek Trimayani. Mereka sudah melakukan kawin lari 14 hari lalu, dan secara adat sudah pula diselesaikan dengan diskusi bersama pihak keluarga si Kadek. Hari Rabu, 3 Mei 2011, kami akan mengunjungi rumah pihak mempelai wanita untuk menyelesaikan dan menuntaskan seluruh rangkaian upacara, termasuk mepamitnya si Kadek dari sanggah keluarganya untuk pindah ke sanggah sang suaminya.

Rumah keluarga besar ini sudah berhias dengan segala perlengkapan, layaknya sebuah pesta pernikahan. Sekeha Santi, kelompok keluarga yang terdiri dari suami dan istri, hadir bersama untuk melakukan berbagai kegiatan terkait upacara. Para wanita ada yang mejejaitan, mengurus konsumsi, mempersiapkan berbagai keperluan yang akan dibawa keesokan harinya ke rumah sang wanita. Para pria mempersiapkan keperluan yang berkaitan dengan perlengkapan upacara, seperti pemangku, rompok untuk berkumpulnya para saksi pernikahan, tempat mengolah daging, sate, lauk pauk bagi sekeha santi dan para tamu yang bakal datang menyaksikan upacara. Pukul lima sore, seluruh anggota kelompok santi sudah pulang. Tinggal kami yang membersihkan dan mempersiapkan segala sesuatu bagi acara keesokan harinya. Kugelar karpet di teras rumah, kuambil beberapa bantal dari dalam kamar, dan kami mulai merebahkan diri bersiap untuk tidur. Ya, tidur di teras rumah, sambil memandang indahnya cahaya bintang di kejauhan, suara jangkrik di kebun kopi depan rumah, angin segar hawa pegunungan, gemericik air kali mengalir di bebatuan. Hmmm, sungguh suasana alam nan indah. Tanpa teve, radio dan berbagai alat elektronik lain yang biasa menjejali panca indra, inilah anugerah Sang Hyang Widhi yang patut selalu disyukuri.

Rabu, 4 Mei 2011. Pukul 1 dini hari, terjaga dan bersiap untuk pergi ke salon ayu di dapdap putih. Ah, hawa dingin menusuk tulang, hujan gerimis yang turun kemarin tentu melumat jalan setapak sepanjang 50 meter menuju rumah keluarga ini. Hmmm, kukenakan jaket dan menaikkan kerahnya menutupi leher. Mengendarai motor bersama Ketut, ponakan wanita yang telah memiliki 2 putra, sedang Nyoman membonceng istrinya. Tiba di gerbang desa, kami memarkir motor dan meloncat naik ke dalam mobil kijang putih yang telah siap menanti untuk membawa kami ke Dapdap Putih. Komang Awan mengendarai mobil perlahan, melintas lobang demi lobang yang menganga sepanjang 10 km. Entah apakah aku akan sanggup melewati jalan ini dengan mengendarai motor kembali. Hmmm. Sungguh berat perjuangan penduduk desa dan orang2 yang harus melintasinya. Entah apa saja sih yg dilakukan pemerintah dan para pengambil kebijaksanaan di atas sana....

Pukul 3.30. pengantin selesai didandani, dan telah menjadi pasangan raja dan ratu yang tampak sungguh sempurna dengan pakaian kebesarannya, Payas agung secara adat Bali. Kami kembali menyusuri jalan yang hancur lebur untuk menuju rumah di Pangkung Singsing. Aku dan ponakan, si Ketut, turun di gerbang desa, mengambil motor Jupiter MX kami, sedang sang pengantin diantar oleh Komang Awan hingga jalan tanjakan di pangkung bawak. Kami lalu melanjutkan perjalanan menapaki jalan berlumpur, meninting ujung kain agar tidak terciprat lumpur, tanpa ada cahaya penerangan memadai, hanya senter kecil bagi kami berempat.

Hehehe..... sungguh sebuah pengalaman unik, tinggal dan hidup di desa, beraktivitas dengan segala kegiatan yang ada, mencoba menerapkan berbagai aspek kehidupan yang kumampu, sungguh membutuhkan kemampuan dan kemauan yang teruji.

Ini lah yang disebut dengan Tri Hita Karana, sebuah bentuk Local Genius Wisdom.... Kearifan Lokal yang sungguh bersifat Adi Luhung, usaha manusia untuk berasimilasi dan beradaptasi dengan banyak aspek yang ada dalam kehidupannya. Melestarikan dan menyelaraskan hubungan dengan Tuhan, dengan segala bentuk dan cara memuja dan memuji Beliau. Menyelaraskan hubungan dengan sesama manusia, menjaga keharmonisan hubungan dengan para ponakan, para ipar, kerabat, tetangga sekitar. Menyelaraskan hubungan dengan alam dunia, semesta dan seisinya, menjaga agar tidak terjadi ketimpangan.