Jumat, 20 Mei 2011

Dani Muridku Saat Bedah Buku: 9 Summers 10 Autumns


Hidup sungguh keras, Dani....

Dan kau buktikan itu dalam sebagian perjalanan berjuang selesaikan pendidikan.

Terjerembab terjatuh menncium aspal hingga hasilkan 8 jahitan,

mencium aroma RS dalam kelam malam sesali apa yang terjadi,

namun tidak biarkan asa dalam jiwamu berlalu pergi,


Bangkit dan kembali benahi diri,

bersatu bersama teman tuntaskan tugas yang kau emban,

menjalin kerjasama dalam acara Bedah Buku : 9 Summers 10 Autumns.....


Kau buktikan,

hidup tidak selalu mudah dan indah bagi kita semua,

namun hidup pula adalah sebuah pilihan

yang akan mengarahkan kita menjadi semakin bijak dan dewasa.


Teruslah tumbuh.....

kepakkan sayap-sayapmu meraih masa depan yang kau mau dan mampu.

Tumbuhlah anakku, tumbuh dan berkembang selalu,

Bagai Pak Iwan Setiawan katakan :

Life always change, and we are the agents of the changing world.....

Kamis, 19 Mei 2011

Chiko, Anjing Kami Sekeluarga.


Kami bukan termasuk keluarga penyayang binatang yang ekstrem, namun, lumayan sayang deh. Dahulu kami pernah punya anjing ras yang ramah pada siapa saja. Suami membawanya dengan penuh waspada dari Jogja. Dia hilang karena senang jalan2 dan dicuri orang. Kami juga pernah punya beberapa ekor burung, namun karena bukan jodoh, maka ada yang mati atau terbang jauh. Pernah pula memiliki 35 ekor ayam, namun semua pergi pula. Padahal, sudah senang tatkala pak Wirtha teman kantorku menyatakan bakal membayar 350.000 untuk 7 ekor ayam jago yang kumiliki. Karena suami tidak mengijinkan ayamnya dijual, jadi deh ayam tetap di kandang, dan mati karena sakit. Hweleh hweleh.....

Dan kini, dengan 5 ekor anjing peliharaan, se ekor monyet, rumah sudah cukup ramai. Ada Chiko, Benny, Pretty, Lucky, dan Betty, serta si Puyu sang monyet. Dari ke lima ekor anjing tersebut, yang paling tua bernama Chiko. Semenjak Adi, putra sulungku berumur 5 tahun, Chiko sudah bersama kami sekeluarga. Dahulu dia begitu sayang pada anak2. Siapa pun yang datang berkunjung ke rumah, selalu disambut dengan ramah, senang bermain dengan siapa saja. Namun semenjak anak-anak tetangga sering menembakkan pistol mainan dengan peluru kecil padanya, melemparkan batu melalui pagar, dia jadi membenci orang lain.

Pernah seorang anak tetangga yang sering mengganggunya dengan melempar batu, menakut2i, masuk ke pekarangan rumah kami, dikejar dan digigit di bagian pantat. Maka, pagar rumah selalu tertutup rapat. Tidak ada yang berani masuk. Ehm....

Dahulu kami juga pernah punya anjing yang begitu setia. Bahkan, saking setianya, selalu ikut setiap anak sulungku berangkat sekolah. Dia ikut masuk ke dalam kelas, dan duduk di bawah bangku. Kami kewalahan mengikat dan mengurungnya di halaman, karena dia selalu punya cara untuk kabur dan kembali menguntit anakku hingga ke sekolah.

Dan kini, Chiko telah mati. Dia sakit terserang virus parvo. Dokter hewan mengatakan bahwa parvo adalah penyakit yang paling mematikan, karena hanya dalam hitungan jam seekor anjing bisa mati. Padahal, anjing2 kami selalu disuntik, baik suntikan vaksin dari berbagai jenis penyakit, juga waksin anti rabies. Hmmm, mungkin juga karena dia sudah cukup tua. Entahlah, kami harus mengikhlaskan kepergiannya. Anak2 dan suami berduka, karena kami sudah cukup lama bersama dengannya. Namun.... bukankah, hidup dan mati kita tidak bisa mengatur ini semua?

Selasa, 17 Mei 2011

Simbok, mereka ikut mengatur dunia kita.....


Pagi ini simbok pulang. Dia masih terhitung cucu jauh suamiku. Ibunya melahirkan seorang bayi 3 bulan lalu, dan dua hari lagi akan berlangsung upacara nelu bulanin. Hmmm, saat dia berusia 20 tahun, dia mendapat seorang adik baru.

Well.... kuantar dia hingga ke terminal Ubung dengan mengendarai motor bersama anakku, Yudha. Lalu dia melanjutkan perjalanan dengan bis Manis menuju Pupuan. Bersamanya, kutitipkan kado gelang kaki dan tangan bagi bayi, juga beberapa potong pakaian bagi adiknya. Kutitipkan pula, pakaian bayi bagi Wayan Dana yang baru punya cucu, dan anaknya Wayan Sarimi. Wayan Sarimi dulu adalah pengasuh putra sulungku. Bersyukur sekali.... anak-anakku mendapatkan pengasuhan yang cukup baik dari para simboknya. Jaman kini sungguh susah mencari pengasuh anak yang sungguh-sungguh sesuai dengan harapan dan kemampuan. Maka, aku berusaha menjaga toleransi dan komunikasi dengan para simbok. Hehehe....

Contohnya saja, tiap pagi atau tatkala mandi di sore hari, berusaha menyelesaikan cucian baju yang bertumpuk di ember, menyediakan makanan di kulkas untuk selalu siap di masak, hingga tidak perlu repot untuk mondar-mandir ke pasar atau warung. Mereka juga manusia, jika marah atau sedih, wah wah wah... gaswat en berabe dah urusan rumah tangga. Termasuk, sesekali mengajaknya bepergian keluyuran, bahkan, untuk tempat-tempat yang rada jauh sekalipun, yeah, dengan naik motor, karena keluarga kami tidak punya mobil. Misalnya, saat pulang kampung, karena kampung kami berdekatan, ke Pura Batukaru, bersembahyang bersama, ke Pura Tanah Lot, Pura Goa Lawah, bahkan Pura Andakasa.

Jika dahulu para simbok bertahan dalam rentang waktu dua hingga 3 tahun, maka simbok yang terakhir ini, Putu Widi Arini, panggilannya Ayu, sudah bertahan 5 tahun. Hmmmm, lumayan lama. Ia ku sekolahkan di level SMA, pada sekolah Paket Kejar. Pernah ku ikutkan kursus kecantikan dan merias pengantin, hingga belajar memasak kue.

Dan..... kini dia pulkam. Saat orang selesai dengan libur akhir pekan dan libur Waisak, dia pulang kampung untuk melangsungkan upacara nelu bulanin adiknya. Ahhh. Padahal, 2 minggu lalu aku sudah 4 hari ijin dari kampusku karena tidak mengikuti perkuliahan S3 di Program Studi Kajian Budaya UNUD dan tidak mengajar di kampus STPNDB, dengan alasan ponakanku menikah.

Namun, hidup harus penuh dengan toleransi, bukan?? Kita tidak bisa egois dan menempatkan diri kita di atas segalanya. Di atas langit masih ada langit. Dan, aku hidup tidak sendiri, harus siap bersosialisasi, baik itu dengan keluargaku sendiri, dengan keluarga besar, dengan para sahabat, bahkan, dengan orang yang tak ku kenal sekalipun. Maka, ini adalah sebuah pilihan yang kuambil, dan, bukankah kita semua bertanggungjawab pula terhadap pilihan hidup yang kita ambil??

Berhubung aku sudah terbiasa dan bisa atasi urusan rumah tangga, juga kantor, maka yang perlu kulakukan hanya beberapa fleksibilitas. Besok Rabu, Adi dan Yudha bakal masuk sekolah di pagi hari. Baju seragam mereka telah kugantung di depan lemari agar mudah diambil. Bangun pagi bakal kupersiapkan bekal bagi mereka untuk dibawa ke sekolah. Sarapan cukup dengan segelas susu dan setangkup roti. Suami bakal menyelesaikan proyek perpustakaan mininya bersama ipar. Wlo hanya di belakang rumah, namun tentu menguras waktu dan tenaga mereka. Sudah kupersiapkan semur ayam bercampur kentang. Besok pagi tinggal menghangatkan dan menyediakan nasi bagi mereka. Baju telah kucuci bersih dan rapi di jemuran.

Rabu dam Kamis, adalah hari dimana aku memiliki kelas hingga malam, karena mengajar di kelas sore STPNDB. Jum'at, ada Bedah Buku di kampus ku, sekaligus seminar tentang Bunga, Inflorisity 2011, yang merupakan aplikasi manajemen mahasiswa DIV ADH smt 8. Sabtu disertai dengan lomba merangkai bunga, yang diikuti oleh para pekerja di dunia perhotelan. Minggu? aku ingin ikut program pelatihan bagi para terapis SPA. Ehm......

Anak-anakku, kelak engkau akan sadari, bahwa, setiap dari manusia memiliki harapan dan keperluan masing-masing. Dalam menjalin komunikasi dan berinteraksi, terkadang tidak dapat dihindari terjadinya konflik dan berbagai benturan lain. Namun, C'est la Vie, anak-anakku sayang. Inilah dunia. Mau tidak mau, kita semua berada di dalamnya, dan terlibat dengannya. Maka, harus ada keputusan yang kita ambil, baik dalam hal berpikir, berkata dan bertindak. Hidup adalah sebuah pilihan, dan kita bertanggungjawab berhadap pilihan kita tersebut, duka atau tidak..... Termasuk dalam hal per simbok an. Hehehe.....

Menjadi tua? Kita semua bisa tumbuh menjadi manusia tua dan mati kelak.... Namun, menjadi semakin bijak dan dewasa dari hari ke hari, hanya diri kita sendiri yang bisa tentukan jalan kita. Dengan berbagai problema yang kita hadapi.

Tidak emak janjikan, bahwa hidup ini bakal indah dan selalu mudah bagi kalian semua, namun jangan pernah padamkan asa dalam diri kalian, sekecil apa pun cahaya lilin yang tersedia untuk menerangi gelap malam jalan itu. Ingatlah selalu, betapa kasih ku akan menyertai kalian semua....

Senin, 16 Mei 2011

Bila Cinta Berkali Menyapa

Bila cinta bisa datang berkali
Aku ingin cinta menyapa sepanjang hari
Tiada henti, buat ku bernyanyi dan menari
Di antara rinnai hujan yang Kau kirim padaku
Basahi hati dan bumi

Bila cinta enggan hampiri
Jangan buat Dia berdiri terlau jauh dariku
Karena dentang dawai di tiap lagu
akan selalu se penuh rindu menunggu

Bila ada nuansa bianglala di atas sana
Biar Dia turun sejenak
Menyentuh relung hatiku
Tiada hendak ku berlalu hanya karena beku membisu
Kutitip resah ku di sepanjang waktu....

Anak-anak



























Anak-anak ku terkasih, Wayan Adi Pratama. Lahir tahun 1996, 1 Juli, pada hari Bhayangkara, dia menjadi Sang Pangeran Sulung. Made Yudhawijaya, Sang Pangeran Bungsu, karena dia lahir tahun 2003, 15 Mei.

Minggu, 15 Mei 2011, pagi hari Yudha sudah mengeluarkan sepedanya untuk bersepeda ria bersama teman2 di perumahan kami. Mereka menuju Renon. Aku dan simbok pergi berbelanja ke pasar untuk kebutuhan rutin bagi sebuah rumah tangga seperti sebagaimana umumnya. Bapaknya anak-anak masih asyik dengan urusan kebun. Selesai dengan urusan rumah tangga, kulanjutkan dengan ngecek email. Well, selalu mengasyikkan duduk di depan komputer, membuka2 berbagai situs seperti yahoo messenger, chat dengan kakak dan adik2, bahkan emak nun jauh di pulau yang berbeda dengan ku, hingga dengan para sahabat. Aku bersyukur punya akses komputer dan internet tiada terbatas hingga bisa dipergunakan bersama, baik oleh anak2 dan suami, juga demi kepentingan ku. Aku juga bisa dan terbiasa bekerja sekaligus pada Blogspot, twitter, plurk, tagged, wayn, facebook, zorpia, koprol, netlog, yahoomail, browse data, dll.

Pukul 10 pagi, gantian Adi yang pergi ke sekolahnya. Kelompok SCC sekolahnya, SMANSA N Denpasar, merencanakan kegiatan Lomba. Mereka berkumpul untuk menyusun rencana penyampaian informasi kepada berbagai pihak yang berkepentingan, pembuatan brosur dan leaflet, pembagian tugas pemasaran. Rencananya, pukul 1 siang Adi akan pulang ke rumah membawa kue tart yang akan dia beli bagi adiknya. Setelah itu baru kami sekeluarga akan berkumpul bersama di rumah ipar di jalan Antasura. Mertua lelakiku ada disana, dan iparku akan melangsungkan upacara odalan hari ini.

Pukul 11.30 Yudha tiba, setelah mandi dan makan siang, dia tertidur dengan tenangnya bersama sang bapak. Hmmm, harus banyak bersabar menanti mereka.

Waktu menunjukkan pukul 13.30 tatkala akhirnya Yudha terjaga dari tidurnya. Sedang Adi masih di sekolah. Kuputuskan aku berangkat terlebih dahulu bersama Yudha ke jalan Antasura. Suami akan menanti hingga Adi tiba, dan berangkat bersama menyusul kami.

Ternyata... sungguh, kita sebagai manusia hanya bisa merencanakan segala sesuatu dengan seksama, namun hanya Sang Hyang Widhi yang punya kuasa.... Pukul 14.30 tiba di Antasura, ipar sudah selesai dengan odalannya. Suami tiba belakangan, selanjutnya, Adi anakku. Hmmm. C'est la Vie. Enjoy saja atas segala yang terjadi. Aktivitas berlanjut dengan bermain bersama, berkumpul dan bercerita, sebagaimana hebohnya keluarga besar yang berkumpul bersama. Mereka bermain di kolam lele milik iparku, membiarkan kakinya tersentuh air kolam, dan ikan lele berrenang di seputar kaki.

Ulang tahun Yudha tetap dilaksanakan. Adi keluar membeli roti cokelat dua bungkus. Diletakkannya kedua roti tersebut berjajar diatas sebuah talam. Lalu diambilnya sebuah roti bolu lungsuran banten odalan ipar, diremas di atas kedua roti cokelat hingga menjadi serpihan kecil. Dia dibantu oleh saudara sepupunya, Putu Diah, ponakanku. Diah mengupas sebuah apel dan pir lungsuran banten, mengirisnya dan meletakkan irisan apel tersebut di pinggir talam / baki. Adi lalu mengambil sebotol sirup strawberry merek marjan di dapur. Dia menuangkannya di atas hasil karya. 8 lilin kecil menghiasi bagian atas kue. Ah..... sungguh indah jadinya. Selesai sudah, kue ulang tahun hasil karya anak sulungku, bagi adiknya.

Anak-anak, tetaplah anak-anak. Takkan kupaksa anak-anakku tumbuh dan berkembang sesuai mauku. Namun sebagaimana emak-emak pada umumnya, tentu mengharapkan mereka jadi anak yang berbakti, berguna bagi diri sendiri dan orang lain, juga terberkati selalu....

Minggu, 15 Mei 2011

what's right isn't always popular... and what's popular isn't always right


My friend, Dr. Ehab wrote this to me.... "Let's take a pause to think what kind of decision"

A group of children were playing near two railway tracks, one still in use while the other disused. Only one child played on the disused track, the rest on the operational track.

The train is coming, and you are just beside the track interchange. You can make the train change its course to the disused track and save most of the kids. However, that would also mean the lone child playing by the disused track would be sacrificed. Or would you rather let the train go its way?

Let's take a pause to think what kind of decision we could make................

Most people might choose to divert the course of the train, and sacrifice only one child. You might think the same way, I guess. Exactly, I thought the same way initially because to save most of the children at the expense of only one child was rational decision most people would make, morally and emotionally. But, have you ever thought that the child choosing to play on the disused track had in fact made the right decision to play at a safe place?

Nevertheless, he had to be sacrificed because of his ignorant friends who chose to play where the danger was. This kind of dilemma happens around us everyday. In the office, community, in politics and especially in a democratic society, the minority is often sacrificed for the interest of the majority, no matter how foolish or ignorant the majority are, and how farsighted and knowledgeable the minority are. The child who chose not to play with the rest on the operational track was sidelined. And in the case he was sacrificed, no one would shed a tear for him.

The great critic Leo Velski Julian who told the story said he would not try to change the course of the train because he believed that the kids playing on the operational track should have known very well that track was still in use, and that they should have run away if they heard the train's sirens. If the train was diverted, that lone child would definitely die because he never thought the train could come over to that track! Moreover, that track was not in use probably because it was not safe. If the train was diverted to the track, we could put the lives of all passengers on board at stake! And in your attempt to save a few kids by sacrificing one child, you might end up sacrificing hundreds of people to save these few kids.

While we are all aware that life is full of tough decisions that need to be made, we may not realize that hasty decisions may not always be the right one.

"Remember that what's right isn't always popular... and what's popular isn't always right."

Everybody makes mistakes; that's why they put erasers on pencils.


Terjemahan bebasnya:

Temanku, Dr. Ehab, berkata. "Mari renungkan apa makna sebuah keputusan itu sesungguhnya"

Sekelompok anak-anak yang sedang bermain di dekat dua jalur kereta api, satu masih digunakan, sementara yang lain tidak terpakai. Hanya satu anak bermain di jalur bekas, sisanya pada jalur operasional.

Kereta akan datang, dan Anda berada di samping persimpangan jalur rel. Anda dapat mengubah jalur jalan kereta menuju ke lajur yang telah tidak dipergunakan lagi, namun ini berarti seorang anak yang sedang bermain di trek bekas akan dikorbankan. Atau Anda lebih suka membiarkan kereta api pergi ke arah jalan yang sebenarnya?

Kebanyakan orang mungkin memilih untuk mengalihkan perjalanan kereta api, dan korban hanya satu anak. Anda mungkin berpikir dengan cara yang sama, saya kira. Tepat, saya pikir cara yang sama awalnya karena untuk menyelamatkan sebagian besar anak-anak dengan mengorbankan hanya satu anak adalah keputusan yang rasional kebanyakan orang akan membuat, secara moral dan emosional. Tapi, apakah Anda pernah berpikir bahwa anak yang memilih untuk bermain di trek bekas sebenarnya sudah membuat keputusan yang tepat untuk bermain di tempat yang aman?

Namun demikian, dia harus dikorbankan karena kesalahan teman-temannya yang memilih untuk bermain di mana bahaya itu. Dilema semacam ini terjadi di sekitar kita sehari-hari. Dalam komunitas, kantor, dalam politik dan terutama dalam masyarakat demokratis, minoritas sering dikorbankan untuk kepentingan mayoritas, tidak peduli seberapa bodoh atau bodoh mayoritas, dan bagaimana rabun dekat dan berpengetahuan adalah minoritas. Anak yang memilih untuk tidak bermain dengan yang lain pada jalur operasional dikesampingkan. Dan dalam kasus dia dikorbankan, tidak ada yang meneteskan air mata untuknya.

Kritikus besar Leo Velski Julian bercerita, ia tidak akan mencoba untuk mengubah arah kereta karena dia percaya bahwa anak-anak yang sedang bermain di jalur operasional harus tahu betul bahwa lajur ini masih digunakan, dan bahwa mereka harus memiliki melarikan diri jika mereka mendengar sirine kereta. Jika kereta api dialihkan, satu anak pasti akan mati karena dia tidak pernah berpikir kereta api bisa datang ke trek itu! Selain itu, lajur yang tidak digunakan mungkin karena tidak aman. Jika arah kereta api dialihkan, kita bisa mengancam kehidupan semua penumpang, banyak nyawa dipertaruhkan! Dan dalam upaya Anda untuk menyelamatkan beberapa anak dengan mengorbankan satu anak, Anda mungkin akhirnya mengorbankan ratusan orang.

Meskipun kita semua sadar bahwa hidup penuh dengan keputusan-keputusan sulit yang perlu dibuat, kita tidak mungkin menyadari bahwa keputusan yang tergesa-gesa mungkin tidak selalu menjadi orang benar.

"Ingatlah bahwa apa yang benar tidak selalu populer ... dan apa yang populer tidak selalu benar."

Semua orang membuat kesalahan, itulah sebabnya mereka menaruh penghapus pada pensil.


Sabtu, 14 Mei 2011

Campur sari di HUT anakku, Yudha.....


Minggu, 15 Mei 2011. Anakku Yudha, berulang tahun yang ke 8. Tapi hidup berjalan biasa saja. Dia tidak boleh menganggap diri diperlakukan istimewa lalu tidak menghargai orang lain dan sekelilingnya.

Pagi pukul 7 dia sudah keluar bersama sepeda pixienya. Prima dan beberapa sahabatnya mengajak ber sepeda ria ke Renon. Dengan berbekal uang sekadarnya, mereka berangkat memulai aktivitas di pagi hari.

Aku dan simbok lalu berangkat ke pasar. Hari ini bisa dinikmati dengan berbelanja se karung beras, daging, ikan pindang, sayur mayur, telur, dan berbagai bekal kebutuhan keluarga selama seminggu. Adi masih tergeletak sakit. Ahh, anakku terserang flu, namun dia bersikeras akan berangkat juga ke sekolahnya sebentar siang. "Akan menyebar pamflet untuk Science Competition, lalu beli kue untuk adik Yudha yang ulang tahun" pintanya pada kami.

Hmmm, rencana berangkat pagi hari ke Antasura, ke rumah ipar yang hari ini bakal ngodalin sanggahnya, jadi tertunda. Kami ingin mengunjungi mertua yang sedang sakit, usianya sudah sangat sepuh, tidak bisa berjalan dengan lancar lagi. Yudha setelah datang dari ber sepeda ria, mandi dan makan, malah jatuh tertidur dengan lelapnya. Adi masih belum tiba dari acara bersama teman2. Bersabar, masih harus bersabar..... Hidup penuh dengan toleransi dan ketegasan dalam berbagai hal.

Well....
Hidup terkadang tidaklah indah dan mudah bagi kita semua, anak-anakku. Tak kan selalu kami ada, selaku orang tua, yang bisa mendampingi kalian dalam menjalani berbagai aktivitas yang terkadang menyedihkan...... Namun, jangan pernah buang asa dalam diri kalian, sekecil apa pun cahaya harapan yang terdapat di dalamnya. Percayalah, bahwa Ida Sang Hyang Widhi Wasa akan selalu menjadi tiang bagi kita semua, bahwa doa kami selalu, bagi kalian, anak-anakku......