Rabu, 03 April 2013

Buda Kliwon Dunggulan, Galungan diselimuti Bulan Purnama bulat indah, 27 Maret 2013

Galungan tiba. Hari raya sebagai simbol kemenangan dharma atas segala tantangan dan rintangan. Penjorku menjulang angkasa, dihiasi lampu kerlap kerlip oleh kedua anakku.
 
Setelah tuntas bersembahyang di rumah, kami sekeluarga bersiap bersembahyang ke Pura Tanah Kilap. Mengendarai dua motor, aku bersama putra sulung, Adi Pratama. Sedang suami membonceng si bungsu, Yudhawijaya. Pura yang terletak dekat simpang siur ini bernama Pura Tanah Kilap.














Tujuan berikut, adalah Pura Narmada. Kami kembali bergerak menyusuri jalan raya, berputar haluan di seberang Pura Tanah Kilap. Doa kami disini berawal dari Pura Ratu Gede.




Berikutnya kami berbelok memanuski pelataran Griya Kongco.






















































Dan akhirnya Pura Narmada. 
Rame pemedek yang juga nangkil di malam hari ini, tidak mengusik ketenangan untuk bersembahyang secara terkonsentrasi penuh.
















Purnama, Anggara Wage Dunggulan, Selasa 26 Maret 2013. Kami bersembahyang bersama di Padmasana Perum

Keluarga...... sungguh sebuah anugerah terindah. Meski terkadang jarang waktu bisa bersama. Meski terkadang romantisme tiada, kan kuseret sang romansa untuk hadir di tengah kami bersama..... Kumanfaatkan setiap detik selagi bisa.



Bulan bulat indah, Purnama, Anggara Wage Dunggulan, Selasa 26 Maret 2013. Hari ini juga dikenal sebagai hari Penyajan Galungan, sehari menjelang perayaan Galungan keesokan hari. Setelah tuntas bersembahyang bersama di rumah, kami sekeluarga bergerak ke Pura yang ada di lingkungan perumahan kami. Kubawa serta canang. Banyak warga perumahan, yang merupakan umat Hindu, pulang kampung untuk melaksanakan hari raya Galungan. Hanya keluargaku yang ada di sini. 



Suami dan kedua anakku menghaturkan canang, rangkaian bunga di atas rangkaian janur muda, di bawah Padmasana Pura. Kami lalu duduk bersama, melantunkan puja bagi Ida Sang Hyang Widhi Wasa.....


Om bhùr bhvah svah (Tuhan yang berada di alam bumi, langit, dan sorga)
tat savitur varenyam (Tuhan yang teramat mulia)
bhargo devasya dhimahi (Hamba pusatkan perhatian pada sinar-Mu yang cemerlang)
dhiyo yo nah pracodayàt (Semoga Ia berikan semangat pikiran kita)

Om nàràyana evedam sarvam (Tuhan, Narayana adalah semua ini,

yad bhùtam yac ca bhavyam (apa yang telah ada dan apa yang akan ada)
niskalanko nirañjano nirvikalpo (bebas dari noda, bebas dari kotoran)
niràkhyàtah suddo deva eko (Tuhan yang Esa, suci, dan tak tergambarkan)
Nàràyano na dvitìyo'sti kascit (Tuhan tiada yang kedua atau yang lain)

 Om tvam sivah tvam mahàdevah (Engkaulah Siwa yang Pengasih, Mahadewa yang Agung)
ìsvarah paramesvarah (Iswara penguasa yang tertinggi)
brahmà visnusca rudrasca (Brahma pencipta, Wisnu pemelihara, Rudra pralina)
purusah parikìrtitah (Sebagai jiwa alam semesta)

Om pàpo’ham pàpakarmàham (Tuhan, hamba ini papa, perbuatan hamba papa)
pàpàtmà pàpasambhavah (diri hamba ini papa, kelahiran hamba papa)
tràhi màm pundarikàksa (lindungilah hamba Hyang Widhi)
sabàhyàbhyàntarah suci (sucikanlah jiwa dan raga hamba)

Om ksamasva màm mahàdeva (Tuhan, ampunilah hamba)
sarvapràni hitankara (yang memberikan keselamatan kepada semua makhluk)
màm moca sarva pàpebyah (bebaskanlah hamba dari segala dosa)
pàlayasva sadà siva (lindungilah hamba oh Hyang Widhi)

Om ksàntavyah kàyiko dosah (Tuhan, ampunilah dosa perbuatan hamba)
ksàntavyo vàciko mama (ampunilah dosa perkataan hamba)
ksàntavyo mànaso dosah (ampunilah dosa pikiran hamba)
tat pramàdàt ksamasva màm (Segala kelalaian hamba, ampunilah)

Om.. Shantih, Shantih, Shantih.. Om...
(Tuhan, Semoga Damai di hati setiap mahluk, damai di alam samesta dan damai selalu)


Lalu kami menghaturkan kramaning Panca Sembah

Pertama, 
Om Atma tat twatma suda mam swaha (Tuhan, sucikanlah batin hamba)

Kedua,
Om Aditya sya param jyotir Tuhan, bagai sinar surya nan hebat)
rakta teja namo stute (Yang bersinar merah)
sweta pangkaja madiasta (yang berada di tengah teratai putih)
baskara ya namo stute (Hamba menyembah Mu)

 Ketiga,
Om Nama dewa adistanaya (Tuhan yang bersemayam di tempat yang tinggi)
Sarwa wyapi wai siwa ya (Engkau adalah Siwa yang berada di mana-mana
Padmasana eka pratistaya (Yang bersemayan di atas bunga teratai)
Ardanareswariyai namo namah (Engkau juga Ardanareswari, hamba menyembah-Mu)

Keempat,
Om anugraha manohara (Engkau yang memberi anugrah pada kami)
Dewa data nugrahaka (Augrah Tuhan)
Arcanam sarwa pujanam (Segala pujian bagi Mu)
Namah sarwa nugrahaka (Hamba menyembah Mu yg memberi anugrah)

Dewa dewi mahasidi (Tuhan yang maha siddhi, maha kuasa)
Yajnanga nirmalatmaka (Yang ber yadnya dan maha suci)
Laksmi sidisca dirgayu (Pemberi kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur)
Nirwidna suka werdisca (Pemberi kebebasan, kegembiraan dan kemajuan)

Om dewa suksma paramacintya ya namah swaha
(Tuhan yang maha tinggi tiada terkira)

 Berikutnya, suami terkasih dan kedua anakku mengambil sapu dan sekop, menyapu dedaunan yang berserakan, mengumpulkannya pada satu lokasi, dan membakar sampah. Kami menunggui hingga semua sisa pembakaran habis, sebelum kembali ke rumah.


























Purnama, Anggara Wage Dunggulan, Selasa 26 Maret 2013. Kami bersembahyang bersama di Padmasana Perum...... Hidup sederhana itu indah.

















Kamis, 21 Maret 2013

KasihMu yang memanggilku untuk kembali, dan kembali lagi berkali-kali... Ke Besakih, Senin 18 Maret 2013




Donor Darah di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, Senin 18 Maret 2013, dalam rangkaian kegiatan Dies Natalis ke 35 STPNDB.










Setelah selesai kegiatan Donor Darah di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, Senin 18 Maret 2013. Aku sebenarnya ragu untuk bepergian jauh, apalagi barusan ikut mendonorkan darah, dan mengendarai sepeda motorku. Namun, pesan ibuku via sms di hape, juga mengenang masa silam, maka kuputuskan untuk berangkat. Bapak Putu Dupa Bandem menikahkan anak beliau. Beliau dahulu yang menikahkan aku bersama suami di Pontianak. Dan kini beliau bergelar Ida Rsi Shri Bhagawanta. Suami sedang sakit, namun dorongan itu begitu kental untuk menemui beliau sekeluarga. Kugerakkan motor perlahan, menuju banjar Kelod Kangin, desa Tegak, Klungkung, ke arah jalan raya Besakih.

Dua jam setengah, waktu yang kuperlukan untuk menembus rimba jalanan sepanjang Nusa Dua, menuju desa Tegak ini. Sungguh..... nostalgia yang terjalin panjang, mengenang kedua orangtuaku, mengenang kota Pontianak, mengenang perjalanan dalam kehidupan. Ahhh.....












Tuntas nangkil ke Griya, waktu menunjukkan pukul 3 sore. Masih cukup sore untuk langsung bergerak. Kali ini tujuan ku adalah Pura Luhur Besakih. Maka kuarahkan laju motor ke Besakih. Mampir sejenak membeli bensin di stasiun pemberhentian bensin umum di jalan raya Besakih, kusempatkan melepas lelah sejenak.



Kabut tipis yang menyambutku setibanya di penataran pura. Perlahan jejak kaki melangkah menuju pedharman. Ida Shri Kresna Kepakisan. Aku terduduk terdiam menghaturkan puja di pura pedharman yang sedang diperbaiki ini.


















Menyapa ramah para pemangku yang sedang bertugas menghaturkan bhakti beliau, kucakupkan puja di penataran agung pura luhur Besakih. Hmmm, sungguh, pesona yang tak kan pernah pupus sepanjang masa, akan kebesaran dan keagungan Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa.







Berkali berpapasan dengan para pemedek yang akan bersembahyang, para wisatawan yang akan berkunjung ke pura, kusempatkan berfoto bersama dengan mereka pula.

















Serombongan turis asal Rusia yang mengenakan kain dan selendang, juga Mr. Illyas yang ramah dan tampan.






Kujumpai pula ibu Kadek yang penjaja payung pinjaman. Dia berkisah tentang anaknya yang mengalami lumpuh layu semenjak lahir. Juga suaminya yang hanya seorang buruh serabutan. Duuhh.... semoga Tuhan menjaga kalian sekeluarga dalam bimbingan Nya.


Perjalananku ke Pura Luhur Besakih..... mengajariku tentang rindu, tentang kasih yang takkan pupus direntang waktu, tentang birahi yang bukan semata liar dan nakal, namun birahi untuk selalu kembali dan kembali, mengulangi perjalanan yang tak kan kapok kuulang berkali, dan berkali......

My Lovely Amazing Handsome Bodyguards

Anakku.....

Made Yudhawijaya, terlahir tahun 2003, bulan Mei tertanggal 15. Baru bisa mengendarai motor. Rajin bekerja membersihkan se isi rumah. Sayang keluarga dan juga para sahabatnya, Dan...... inilah aksinya dalam urusan bersih-bersih motor sehabis dikendarainya.

















Bersama si Ayu, cucuku, dari pihak suami. Nama aslinya Putu Widhi Asih. Namun dia terbiasa dipanggil Ayu semenjak kecil. Kami bersama menyiapkan jejahitan untuk dipergunakan saat persembahyangan bersama.






Tatkala kami menunggu mobil jemputan untuk bersama mengunjungi sahabat yang punya acara mesangih bagi anaknya. Bu Merry, staf keuangan, di rumahnya di Desa Sesandan, Tabanan.


Bersama Ibu Desak Nyoman Wati, staf di Manajemen Divisi Kamar.


Dan.... beragam ulah anakku, bersama sahabatnya se kelas, yang juga tetangga di dekat rumah.... Komang Mahesa.