Minggu, 20 September 2009

Perjalanan Kembali, 6 September 2009

Setelah tiba dari menonton Gempita Karmany Smansa di Garuda Wisnu Kencana bersama kedua anakku, menumpang mobil tetangga, berdelapan dalam Sedan Toyota Vios, dan tiba pukul 4 pagi, baru tidur menjelang pk 5, pk 9 hari minggu geliat pagiku mengawali hari baru...


Terbangun setelah pagi beringsut membuka panas siang hari, dering telpon ponakan di Pangkung Singsing, Desa Asah Badung, menggugah kemalasanku. “Pulanglah bersama suami dan anak-anak, panen pisang dan gedang kali ini”, demikian ujarnya. Ah, tergetar hati karena hampir dua bulan tak kian kukunjungi para ipar dan ponakan di sana.

Kulihat simbok sedang menyetrika, mantan pacar menghadiri undangan Pak Cika, Purek Unud, di Nusa Dua bersama teman temannya, dan anak-anak bermain bersama. Setelah usai menjemur pakaian dua ember yang kucuci, kugerakkan motor menuju Buleleng. Pukul 11.00 Kuawali perjuangan kali ini. Melewati Dalung, Kapal, Bypass Tabanan, menyusuri jalan kulihat sepanjang jalan, motor dan mobil melaju kencang di jalan raya Denpasar – Gilimanuk. Pk 12.10 tiba di hutan Dusun Bading Kayu, Kec. Pengeragoan, menyusuri jalan pintas menuju Desa Dapdap Putih, menghemat satu jam perjalanan daripada jika harus melalui Pupuan. Pk 12.30, kusadari, jalan menuju Desa Asah badung tidaklah mudah. Kerusakan yang terjadi kian parah dari hari ke hari. Jalan curam mendaki dan menurun daerah perbukitan ini diperparah dengan terkelupasnya aspal jalanan, lobang dalam yang mengancam pengendara yg lengah, kerikil, dan konsentrasi yang terpecah karena lelah bakal membuat pengendara dan penumpang terlontar keras. Duh Tuhan..... kemana saja sih perhatian pemerintah disini? Rakyat butuh sarana dan prasarana transportasi yang memadai, mereka sedang panen kopi dan cengkeh, bagaimana jika ada rakyat yang harus segera ke kota? sedang sakit, perlu temui wakilnya di atas sana, ingin berangkat sekolah, bekerja, bawa hasil bumi, kebutuhan hidup sehari hari, aaaahhhh.


Pk 13.15 tiba di Pangkung Singsing, rumah tua. Kutemui Nyoman, ponakan yang tinggal sendirian. Setelah berbincang dengan gunakan bahasa isyarat, karena dia gagu, aku beranjak menuju ke atas bukit. Hmmm, tak pernah bosan mencium atmosfer desa dan angin semilir yang menyentuh seluruh tubuh ini... Menyusuri jalan berkelok, melewati perkebunan cengkeh, kopi, vanili, dan beberapa rumah penduduk lainnya, setengah jam kemudian aku tiba di rumah ipar. Berbincang dengan Mbok selalu menyenangkan, menggugah setiap detail pengalaman yang dia peroleh dari balik kehidupan menantang jiwaku untuk memiliki spirit sama dengannya. Memilih tetap memasak dengan gunakan kayu api, minum air dari sumber mata air, gunakan boreh di dahi dan kaki untuk menjaga kehangatan tubuh.


Setelah puas menyapa iparku ini, lalu kembali kukayuh langkah menjejak bumi, selusuri perbukitan, kali ini bergerak menuju Utara. Satu jam kemudian tibaku di Rumah Kaja, ipar lainnya lagi. Disini kuperoleh gula bali sebesar panci sebagai oleh oleh untuk kubawa kembali ke Denpasar. Ah, mereka berikan hasil produksi mereka yang terbaik, walau telah kutolak, mereka memaksa dan kukuh bersikeras....


Pukul setengah enam sore saat ku pacu motor bergerak dari rumah tua, menuju ke desa. Dari Asah Badung, menyusuri jalan yang hancur total. Membayangkan, andai, mereka yg sering kebut - kebut an di jalan raya, berhasil melewati medan se sukar ini, baru angkat topi bagi mereka. Kulihat... Truk-truk berlarian bersama kendaraan lain dengan berbagai pelat. EA, BE, S, P, K, AG, DR, L, N, B. Ah, sebegitu kerasnya kah usaha mereka untuk segera ke tujuan, mengejar setoran, demi kepuasan yang memacu adrenalin, sebuah perjalanan wisata, perjalanan teramat jauh meninggalkan rumah demi alasan ekonomi, atau, hanya untuk memenuhi ambisi belaka kah?


Pk 7.10 malam, tiba di Desa Batuaji, Kec. Kerambitan. Kuputuskan mampir untuk melihat bibi, dan beberapa anggota keluarga lainnya. Dua buah pepaya matang dari Buleleng kukeluarkan untuk sang bibi. "Ibunya Aris di RSU Tabanan. Dia terkena diabetes, jari kakinya dipotong dua" Demikian celoteh Biyang Nyoman. Ah, teriris hatiku. Selalu ada permasalahan bagi setiap manusia. Ujian lain lagi dari Sang Hyang Perama Kawi... Bergegas pamit, kuhampiri RSU Tabanan, membesarkan hati mereka yang sedang tertimpa musibah. Kulihat Aris sedang tertunduk meratapi nasib. PHK yang baru dialaminya di Surabaya, dengan tanggungan seorang istri dan tiga orang anak, serta seorang ibu yang sedang terbaring sakit di RS, Tuhan, entahlah, apakah aku akan sanggup menanggung jika hal ini terjadi pada diriku dan keluargaku.... Ah, beri kami tiap kekuatan itu, karena kami sungguh perlu akannya...

Selesai dari RSU Tabanan, aku berbelok arah, memasuki jalan menuju ke Pura Dalem Purwa Kidungingguh, Tabanan, lalu kemudian berbelok ke kiri, memasuki Jl. Mataram, begitu masuk Jl. Sriwijaya, langsung terlihat Gg XII, Jl. Singosari, Jl. Padjajaran. Aku berhenti di depan balai Banjar Malkangin, Hem. Jam digitalku menunjukkan baru pk 8 malam, namun kehidupan di sekitar nya sudah sangat sepi, padahal, tak jauh dari situ, sangat rame kehidupan malam dengan berbagai aktivitas. Selesai mengamati daerah tersebut, baru kemudian kembali bergerak menuju Padang Sambian Kelod.


Home sweet home.... Mama pulang, sambutlah aku....

Lelah, terkapar, esok harus berangkat kerja pagi. Tapi diri ini diselimuti rasa kagum atas kebesaran Tuhan....

Gempita Karmany Smansa, Sabtu 5 September 2009

Gempita Karmany Smansa, Sabtu 5 September 2009

Pk 16.15 Sabtu, 5 September 2009, kami sekeluarga selesai dengan urusan membersihkan halaman dari berbagai pilahan hasil pohon kelapa yang ditebang. Anak - anak berangkat ke tempat les mereka. Mengobrol sejenak dengan suami tercinta sambil menikmati pisang goreng bikinan sendiri. Rada gosong, tapi lumayan lah....

Pk 19.00, kembali berkumpul menikmati makan malam sederhana. Dan dering telepon Ibu Astuti di HP ku meminta agar kuijinkan si sulung, Adi, untuk bergabung dengan anak - anaknya ke Garuda Wisnu Kencana. "Ada Nidji pentas" sahutnya. Putra bungsu ku mulai merajuk, menangis, dan bergulung di lantai karena mengetahui tidak diijinkan turut serta. Dengan menahan nafas, kembali kutelpon sahabatku, ibu Astuti. "Ijinkan saya dan Yudha ikut serta, ibu. Akan saya bayar tiket kami" pintaku. Lalu setengah berlari, kucuci tangan hasil makan malam yg tidak tuntas, mengenakan baju jaket pada kedua anakku, topi dan sandal mereka, dan menyambar dompet, lalu berlari ke halaman, karena mobil Vios temanku telah tiba di ujung jalan. Akh, kulihat Pak Made Mangku, demikian kami biasa memanggil suami ibu Astuti, duduk di belakang kemudi, Prima dan Ngurah Ari duduk di samping kursi supir, di belakang, masih ada Bagus dan Ibu Astuti sendiri. Lalu putra sulungku, Adi, dan aku duduk memangku Yudha, yang kelas dua SD. Duh, Tuhan, demi kebahagiaan anak anak, bersesak berdelapan dalam sedan...


Setelah mampir di McD Resto Jimbaran, dan berbelanja ala Drive Thru, kami akhirnya tiba di GWK amphitheater pk 20.15. Antrian panjang terlihat pada pintu masuk. Sebagian besar terdiri dari remaja. Pakaian mereka menunjukkan gaya remaja, dari ala harajuku, yang tidak gunakan salah satu pakem. Keceriaan terpampang di wajah mereka. Kucoba menggiring rombongan maju bergegas tanpa terpisah. Di depan pintu gerbang, leher kami dicium dua kali. Pertama, oleh stempel bertinta merah dari panitia sebagai pertanda mampu memperlihatkan tiket masuk, lalu kami ditanyai, apakah tiket tersebut VVIP atau tidak. Dengan segera kujawab, "Ya, kami dari sponsor, BMA". Bukankah ibu Astuti adalah orangtua kak Agus Satria, pengurus OSIS SMA I, yang selenggarakan HUT SMA I ini di Garuda Wisnu Kencana ini? Dan BMA Tours & Travel yang handle penanganan tiket pp bagi Nidji, Rocket Rocker, hotel mereka, dll.


Dentuman mini marching band semakin keras menghentak terdengar hingga pintu tempat kami masih berdiri. Segera setelah leher kiri dan kanan ditandai alat stempel tersebut, kami berlari menaiki anak tangga menuju ke amphitheater, memasuki area VVIP di bagian depan, tepat dibawah panggung siswa Smansa yang sedang menjadi model dan berjalan hilir mudik di atasnya. Sungguh suatu tampilan yang unik dan menarik. Siswa SMA bisa menggelar sebuah tampilan spektakuler, di Garuda Wisnu Kencana, dengan biaya mencapai 650 juta, mengundang beberapa group band terkenal, dari Harum Manis Kembang Gula Band, Rocket Rocker dari Bandung, dan Nidji dengan Gilang yang ku idolakan.


Dari mini marching band, smansa models dengan para siswa yang tampil sangat seksi, Capoera, dengan gerak dinamis para pemainnya. Salute bagi penampilan Sekeha Gong Genta Ambara Kencana. Ehm, jadi ingat hal yang sama yang pernah ditampilkan ISI Denpasar saat Simposium Internasional 27-28 Agustus 2009. Fusion music ini gambarkan dinamika budaya Bali dan gaya modern yang hasilkan suatu bentuk kontemporer khas dunia musik remaja. Ah, ini semua bantu lupakan sejenak, kisruh yang melanda negeri, konflik dan permasalahan yang bagai tiada henti, perekonomian yang anjlok, isu sosial politik yang tiada beri kedamaian, dan masih berjuta probleman lainnya.


Pk 1 pagi, pesta kembang api dimulai, selama 30 menit penonton dihibur oleh berbagi jenis kembang api hasil bikinan Departemen Elektro Smansa Denpasar. Dari bentuk yang meliuk liuk ke atas sebelum memuncratkan semburat putih dilanjut sejuta warna indah bagai jamur di malam yang lalu bermandi cahaya... hingga puluhan kembang api kecil lain yang sambung menyambung tiada henti, hingga akhirnya langit bagai mandi ribuan pendar cahaya yang ubah gulita jadi siang hari. Lalu tercipta polusi udara. Awan hitam akibat sisa sisa pembakaran kembang api menyelimuti kami, dalam radius hingga lima ratus meter, akibat puluhan, hingga ratusan kembang api selama hampir satu jam tersebut.


Saat Nidji sedang menyanyikan lagu ke enam, terjadilah.... Hujan mulai turun. Awalnya hanya gerimis, namun makin lama makin deras. kukhawatirkan kondisi anak anak ini, namun mereka masih bertahan. Kunaikkan kerah baju anak bungsuku, kurapatkan topinya, dan berharap cuaca sedikit lebih ramah pada kami. Bahkan, Nidji bertahan untuk tidak mengecewakan penonton yang setia dibawah cucuran hujan ini, mereka tetap bermain dengan drumband dipayungi terpal plastik, termasuk pemainnya, demikian pula keyboardnya. Ah, pihak manajemen GWK sudah bersiap terhadap situasi pada amphitheater saat curah hujan terjadi...


Tapi tak bisa kusangkal....

Kudapatkan kebahagiaan saat melihat anak anakku berbahagia. Bahagia walau terkantuk tanpa tidur siang mereka, dan terjaga hingga pk 3 dini hari. Bahagia mereka karena bisa berkumpul bersama teman teman, bahagia karena bisa pergi mengunjungi Garuda Wisnu Kencana, bahagia karena bisa menonton pentas band, dan, begitu banyak bahagia lainnya.


Tuhan, terima kasih untuk kebahagiaan yang kudapat hari ini.

Semoga Engkau beri aku dan keluarga, juga sahabat, kebahagiaan yang tiada putus, walau terkadang kami tidak ketahui kebahagiaan sejati yang sesungguhnya Engkau sediakan bagi kami....

Minggu, 30 Agustus 2009

Dari International Symposium `bout Cultural Studies, 27-28 Agst `09

Cultural Studies adalah suatu ilmu yang awal mulanya berkembang di dunia Barat, lalu kemudian mempengaruhi berbagai bidang pengetahuan sosial dan pemahaman berbagai aspek kemanusiaan. Banyak pihak yang beranggapan bahwa Cultural Studies telah menjadi suatu institusi utama tempat berkembangnya berbagai interdisiplin ilmu, antara lain mengawali dan menggawangi postmodernisme. Kajian multikultural interdisiplin ini lah yang semakin tepat untuk dipilih dan diterapkan dalam dunia globalisasi masa kini, dimana dunia itu sendiri telah menjadi sebuah dunia tanpa batas sekat ruang dan waktu lagi (Borderless world).

Globalisasi yang melibatkan cakupan tentang pergerakan manusia (ethnoscape), uang (finanscape), teknologi (technoscape), media (mediascape) dan ideologi (ideoscape) menurut Appadurai (1993) memperlihatkan wujud nyatanya, terutama di Bali, melalui pintu pariwisata. Konsekuensi ini menghasilkan dampak masuknya pengaruh berbagai aspek budaya global yang pula mempengaruhi berbagai praktek kehidupan masyarakatnya, termasuk di dalamnya, entitas sosial yang bernama remaja.

Dr. Dyah Pradnyaparamita Duarsa, dalam makalah yang disampaikan pada simposium ini memaparkan, betapa remaja kota Denpasar sebagai bagian remaja Bali, juga mendapat pengaruh dari globalisasi, pada aspek persepsi dan perilaku yang berkaitan dengan seksualitas pranikah.
Gaya hidup (lifestyle) remaja kota Denpasar ini terrefleksi dalam perkembangan praktek-praktek hubungan seksual pra nikah, yang banyak ditandai dengan munculnya kasus kehamilan tak diinginkan, infeksi menular seksual, termasuk di dalamnya HIV dan AIDS. Survey Kesehatan Remaja Indonesia 2002-2003 yg dilakukan oleh BPS menemukan, laki-laki berusia 20-24 yg belum menikah yg memiliki teman pernah melakukan hubungan seksual adalah 57,5 %, yg berusia 15-19 th sebanyak 43,8 %. Perempuan berusia 20-24 th yg miliki teman pernah melakukan hubungan seksual adalah 63 %, dan perempuan berusia 15-19 th sebanyak 42,3 %.

Walau data ini adalah data tahun 2002-2003, dan hanya berkisar pada remaja di kota Denpasar, tapi ini telah memberi gambaran tentang remaja Indonesia, dan bahkan dunia. Persepsi dan perilaku yang tumbuh dan berkembang di antara mereka, khususnya mengenai hubungan seksual pranikah. Mereka benar benar membutuhkan pendampingan dan suri teladan dalam mengembangkan wawasan, pengalaman dan ketrampilan, menapaki kedewasaan, sebelum memasuki dunia kehidupan berumah tangga.

Hal senada yang dikemukakan oleh Hardiman adalah bahwa wanita merupakan sesuatu yg kodrati dan selalu dipasangkan dengan oposisi binernya, lelaki, dengan segala atribut keberadaan mereka yang secara esensial dianggap inheren. Pria, dg segala fenomena dan cirinya, demikian pula wanita. Intinya, pria dan wanita memiliki batas yg mutlak, tubuh mereka, fisik mereka. Hal ini sering memperjelas bahwa hegemoni yang terjadi di kalangan mereka telah membentuk suatu situasi dan kondisi pengklasifikasian, kuat - lemah, tinggi - rendah, pintar - bodoh, dimana pada akhirnya kelas dominan dan berkuasa menjadi pengatur, penentu. Mereka mengarahkan masyarakat melalui pemaksaan kepemimpinan moral dan intelektual, mereka yg tentukan tingkat konsensus dan ukuran stabilitas sosial yang besar, dimana kelas bawah yg termarginalkan akan dengan aktif menerima dan mendukung nilai-nilai, ide, tujuan dan makna budaya yg mengikat. Bahwa, ada benar dan salah, bahwa ada populer dan tidak, bahwa ada terpinggirkan dan pada episentrum, bahwa ada yg tersingkir dan terkenal.

Ah, inikah yg disebut Anthonio Gramsci sebagai "intelektual organik" ? Profesi yang dimiliki seseorang, yang mampu menghadirkan buah pikiran, perkataan dan perbuatan dengan berbagai cara dan dalam berbagai sistematika, telah memperlihatkan keberpihakan pada pihak tertentu, menghegemoni orang lain, pihak lain, dimana sesungguhnya mereka juga telah dibentuk oleh lingkungan dunia yang mengitari mereka...

Ini memperjelas, bahwa mereka yg sering kali dianggap sebagai kelompok terpinggirkan, sebenarnya juga adalah kelompok yg terkadang memainkan peranan sebagai penguasa. Mereka yang sakit, mereka yang pintar, mereka yang miskin, dan banyak mereka lainnya pula...













Senin, 24 Agustus 2009

Malaysia dan Pendet

Ribut-ribut soal tari Pendet dalam iklan promosi Malaysia


Sekian ribu rakyat Indonesia yang mengais rejeki di negeri Jiran, ada yang sudah beranak pinak di sana, mereka yang membawa adat istiadat dan kebudayaan Indonesia. Mereka memelihara dan menumbuhkembangkannya di sana. Dengan berbagai alasan, membunuh rasa kangen pada kampung halaman yang tidak lagi ramah dalam mengais rejeki, jika Indonesia bisa beri kami makan tentu kami memilih untuk tidak dipermalukan disini begini...

Mungkin sama seperti masyarakat kita yang tinggal dan hidup di berbagai belahan dunia lain, di Eropa, di AS, di Aussie, bikin Sekehe Gong, bikin Pura, dan berbagai perangkat adat istiadat disertai dengan tatanan norma yang juga diterapkan di sana. Bukan tidak mungkin, mereka ini pula bisa klaim bahwa kebudayaan tersebut tumbuh dan berkembang di sana, lalu memasang iklan pada berbagai media massa dengan gunakan gambar yang sebenarnya berakar dari kebudayaan Indonesia pula. Bahkan, kini kita harus belajar dari Belanda, karena banyak lontar dan benda masa lalu yang berpindah ke sana?

Saya pribadi, protes dan tidak terima saat batik, reog, pendet diikutkan dalam iklan promosi pariwisata mereka. Tapi kita harus arif dalam menyikapi ini semua. Apakah perlu saya ke Jakarta dan ikut demo, atau cukup teriak teriak di jalan Sudirman seputran kampus Unud, atau paksa semua saudara turun ke jalan, atau datang ke Malaysia, push Depbudpar untuk bertindak keras pula, panggil Diplomat Malaysia untuk jelaskan ini semua dan paksa mereka minta maaf.

Keponakan saya bilang, perlakuan mereka disana benar-benar tidak bisa diterima, tapi kami butuh kerja, butuh uang untuk makan, jadi, kami pilih bertahan dan kumpulkan uang.

Ada ribuan orang Malaysia yang berada di Indonesia. Mereka bekerja atau sekolah. Ada banyak mahasiswa Fak. Kedokteran Udayana yang berasal dari Malaysia, terutama keturunan India. Jumlahnya lebih dari 100 yang tersebar di berbagai angkatan. Beberapa di antara mereka katakan, jauh lebih menyenangkan situasi dan kondisi di Indonesia, sehingga kami pilih belajar disini. Namun, tidak etis bahas berbagai bentuk perlakuan yang bahkan mereka anggap tidak adil, yang mereka dapatkan di Malaysia, negara asal mereka sendiri, dimana mereka lahir di sana... Bukan tidak mungkin, asumsi seorang sahabat yang katakan, lima tahun ke depan, dalam setiap keluarga india yang berasal dari Malaysia, terdapat seorang dokter, akan dapat tercipta. Sedangkan kita? Masih berkutat pada tataran berbicara belaka. Mereka ini pula, bocoran info lain katakan, untuk tahun 2005 saja, dihasilkan 3,7 milyar sumbangan dari mahasiswa baru fakultas kedokteran. Tahun 2007 dan 2008 turun dibawah 3 milyar karena situasi krisis. Dana ini digunakan untuk membangun gedung fakultas kedokteran UNUD yang berdiri megah beserta berbagai fasilitasnya.

So, Indonesia dan Malaysia adalah bangsa yang se rumpun. Dengan segala yang kita anggap kejelekan dan kelicikan mereka, mereka punya kelebihan untuk manfaatkan itu semua, perpecahan di antar kita, ketidaksiapan kita untuk patenkan, sikap tenggangrasa tinggi terhadap orang dan bangsa lain, kurangnya program-program berkelanjutan untuk jangka panjang terhadap perkembangan kebudayaan kita, pengemasan produk yang menarik sehingga bisa melestarikan adat istiadat dan budaya kita sendiri dan juga diterima wisatawan, penerapan standar perlakuan (dengan standar baku, reliable, valid, sanksi, norma) sehingga bisa dihargai bangsa sendiri dan bangsa lainnya.

Tari Pendet hanya nama, tapi ini adalah sebuah tarian Bali, ada penciptanya, ada fungsinya, ada maknanya. Ini mencerminkan harkat dan martabat sebuah bangsa, jati diri bangsa Indonesia. Bukan hanya perjuangan segelintir orang. Perlu trik untuk dihargai, untuk bertahan lama. Bukan hanya saling caci atau ber keluh kesah, dan saling serang. Bukankah, sistematika dan aplikasi sempurna akan lebih menungkinkan bertahan lama?

Sabtu, 22 Agustus 2009

Musketeers

Musketeers adalah sahabat - sahabatku
Mungkin cuma sekedar istilah....
Namun mereka selalu ada dalam hati, tumbuh dan berkembang setiap hari...

Berbagai ingatan dan kenangan di masa lalu yang hadirkan jiwa - jiwa mereka untuk saling dipertautkan di masa kini, memiliki bentuknya, mengembangkan fungsinya, dan menyeimbangkan makna nya.

Udin, adalah orang yang memperkenalkanku pada mereka yg lain. Udin bagai awan yg berjalan perlahan, di kejauhan. Terlihat, tapi jauh. Jauh, tapi terlihat. Sekian lama, beriringan, berarak, jadi tempat bertanya dan konfirmasi. Ah, Udin, terima kasih telah warnai hidup ini dengan pahit dan getir, dengan kelegaan dan ceria. Apa pun yang kau lakukan kini, berapa pun jumlah anakmu kini, kakang mbok Dyah Gembili selalu berdoa yang terbaik akan jadi milikmu sekeluarga.....

Yudi...
Hidup itu tidak lah mudah. Bahkan tidak semudah ikuti hembus angin semilir di pagi hari... Ingatlah bahwa hanya sang istri perhiasan yang pantas dimiliki, bukan segala atribut lain yang terlihat indah namun semu. Seberapa pun langkah kaki terjejak, keluarga adalah sahabat terdekat yang tancapkan kerinduan begitu mendalam di hati. Namun, jangan lupakan sahabat... mereka juga yang penuhi hatimu dalam ruang dan waktu. Konflik akan selalu ada, dan, sepanjang hidup, konflik keluarga akan semakin menyesak kehidupan....

Nyoman, sang jiwa yang gundah....
Berlari kian kemari takkan sanggup pupuskan segala mimpi dan takutmu.
Maaf jika resah tak jua sirna, lelah tak lagi cukup terhapus rehatmu di sgala waktu.
Kenapa kau bawa beban dipundakmu tanpa pernah biarkan mereka 'tuk bantu?
Malu kah kau? Tersipu dan tak mau mengganggu?

Wayan, The Last but Not The Least.....
Aku banyak berharap padamu, terlalu banyak malah. Samurai itu sebenarnya bukan milikmu... Hanya dititipkan. Saat mereka tahu efeknya begitu dahsyat, begitu banyak orang terlibat, begitu memakan korban, bahkan mereka pun tercengang... namun tak melakukan apa apa. Saat hadirku berusaha membuka jalan, kau pergi dan berlalu. Hmmm, setiap orang berkata tidak sesuai dengan harapmu, chakra yang tertutup, terbalik, dan coba kau ungkap dengan segala teori, analisis, dan fakta... kau hindari tanpa menoleh lagi? Terima kasih.... terima kasih untuk ini semua. Kau, bukanlah orang itu... Tapi kau bisa jadi The Winner, dan.... The Winner always takes it all. Dan kau hindari label itu.

Musketeers...
Bukan cuma sekedar obsesi. Mereka hadir di hati. Jauh di jarak, ruang dan waktu, bertemu se sekali. Cinta kalian pada Nya... tetaplah tumbuh, temui Beliau dalam berbagai bentuk, dalam berbagai cara...

Jumat, 21 Agustus 2009

Wirausaha Muda Mandiri

Selasa, 19 Agustus 2009,
Pukul 7.45 pagi, kujemput Ibu IGA Mirah ke KayuMas Kaja, lalu kami berdua melaju di atas motor astrea 800 ku menuju kampus Udayana di Bukit. Tiba di parkir samping kiri Auditorium Widya Sabha, kulihat tenda putih raksasa berjejer. Segera kutemui 21 mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali yang telah tiba dan menanti kami disana. Hem, ada Desak Putri dari Jurusan BHP, Ada Krisna Arya yg Bagus Bali tahun 2007, ada Winda, Erwin angk.tua. Ah, mereka terlihat gagah dan cantik dalam balutan uniform kampus berjas.

Setelah menyelesaikan pendaftaran, kami segera beranjak menikmati kudapan yang telah disediakan panitia. Kupilih jagung rebus manis bertabur parutan kelapa, disiram gula aren, secangkir kopi panas. Lalu melangkah perlahan menikmati booth yg disediakan bagi para pemenang lomba Wirausaha Muda Mandiri tahun lalu.

Program ini diselenggarakan oleh Bank Mandiri sebagai suatu bentuk Corporate Social Responsibility, yang sudah diselenggarakan semenjak th. 2007, dengan rangkaian road show ke berbagai kota. Kali ini Denpasar mendapat kehormatan dislenggarakannya di kota ini. Bank Mandiri mengundang para Wirausaha dan calon wirausaha yang ada pada berbagai perguruan tinggi di Bali, seperti Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, Universitas Warmadewa, Universitas Dwijendra, Universitas Ngurah Rai, Universitas Mahendradatta, ISI Denpasar, Undiksha, dengan jumlah mahasiswa hampir seribu orang yang memenuhi ruang auditorium Widya Sabha kampus Unud Bukit ini.

Tepat pk 9 pagi, kami bergegas beranjak ke dalam auditorium. Ah, segera muridku ini bersorak, karena pembawa acaranya adalah Agni Pratistha, Puteri Indonesia tahun 2007. Hem... cantiknya dia dalam balutan baju batik kembang berwarna biru..

Pembicara pertama tampil. Bapak Mohamad Najikh, pemilik dan Chief Executive Officer dari Kelola Hasil Mina. Beliau menceritakan awal mula berdirinya usaha miliknya, jatuh bangun, diversifikasi usaha, hingga peningkatan pengolahan yang tersebar hingga ke seluruh Indonesia.
Pembicara kedua, ibu Carmanita. Ah, perancang ini yang gaun dan desainnya ku senangi, walau takkan pernah mampu kubeli... Dia wanita energik, walau sudah tua tapi terlihat sangat cantik dan modis dalam balutan syal dan celana gaulnya.

Hingga disini, pk 12.30 peserta diajak rehat dan menikmati hidangan. Kembali kami memasuki tenda raksasa berwarna putih ini, untuk mengambil berbagai hidangan yang disajikan ala buffet. Tak lupa pula seluruh peserta mendapatkan dessert berupa buah, puding dan es krim. Pk 13.00 kembali kami berbondong bondong masuk auditorium untuk mengikuti kelanjutan workshop.

Pembicara ketiga, bapak Made Artana, seorang pemilik usaha Bali Medianet, Bali Suket, dan pengelola Era Titan. Banyak memaparkan kiat kiat sukses untuk tidak pernah lelah dan merasa malu dalam mencoba berbagai jenis usaha.
Pembicara ketiga, Bapak Rhenald Khasali. Tokoh yg aku kagumi. Ketua Program Studi MM UI, dan penulis 14 buah buku terkenal.

Pukul 17 seluruh rangkaian workshop berakhir.
Terima kasih, Mandiri, segera kutuntaskan laporan hasil mengikuti workshop ini. Semoga kubisa memotivasi muridku, rekan kerja, keluarga, tetangga, untuk menjadi wirausaha-wirausaha tangguh dan sukses di masa yang kan datang....

Rabu, 19 Agustus 2009

PDSP STPNDB 3

Pembinaan Dasar Sikap & Profesi

Setelah kunjungi RS Surya Husada, RS Sanglah, dan penunjuk waktu di HP menunjukkan pukul 11. Aku bersama Ibu Mirah berangkat menuju Suci, menunggu rombongan yang berangkat bersama kijang Innova dari STP Nusa Dua. Kuparkir motor di depan jejeran toko mas. Kami masih sempat menikmati semangkuk mie ayam, disiram saos tomat dan sambal. Hmm, tanpa sungkan dua orang dosen duduk di bawah pohon, di samping pura kecil yang terletak di Suci, menikmati mie panas dan pedas.

Lima belas menit kemudian, Kijang kampus tiba, kami naik dan duduk di deret tengah, di bagian belakang ada Pak Suadi dan Ibu Sulistyawati, di depan ada Pak Sukana Sabudi, dan supir, Pak Sunari. Topik pembicaraan bergerak dari kondisi mahasiswa yang baru kami kunjungi di RS Sanglah, arisan yang kini berakhir dan Pak Sabudi berhak dapatkan 1.500.000 rupiah yang jadi haknya, jadwal perkuliahan yang belum tuntas diprogram bagian akademik, hingga perjalanan kami menuju Taman Mumbul, Sangeh.

Tiba di Taman Mumbul, terlihat rombongan mahasiswa baru dalam kelompok tertentu, mencoba melintasi sungai dengan gunakan dua utas tali yang terbentang. Kualihkan pandangan ke arah kelompok lain yang sedang berusaha menyelesaikan games mengisi batangan pipa pralon sepenuh mungkin dengan air. Ah, ini bagian dari pembentukan mental mereka, agar tidak manja, menjalin kekompakan mengembangkan toleransi diantara sesamanya, dan meningkatkan stamina, karena kelak mereka harus hadapi dunia industri pariwisata yang sesungguhnya...

Tergerak hati ini bersembahyang di tempat penglukatan di bagian ujung Taman Mumbul ini... Kuajak Bu Mirah, disertai Pak Sabudi, kami bersembahyang disana, lalu, kubasuh wajah dan rambut pada ke tiga tabung bambu yang mengalirkan air keluar dari balik bebatuan di bawah pohon beringin besar ini, berharap Hyang Widhi hadir memberi seuntai kasih dan berkah bagi jiwa yang lelah dan selalu mencari hadir Nya ini....

Lalu, perlahan ku titi pematang sawah yang dilewati mahasiswa dengan uniform penuh berlumpur mereka akibat lewati rintangan, kuhampiri sungai yang juga harus mereka sebrangi. Terjatuh ke dalam sungai jika titian tali tidak kuat mereka arungi, dan akibatkan basah sekujur tubuh. Kuyakinkan diri ini... Jika mereka bisa, kenapa aku juga tidak mencoba untuk sebrangi dengan gunakan dua utas tali ini. Lalu kugeser kaki perlahan di atas tali, menggenggam erat utas tali yang terletak di bagian atas... selangkah, berhasil. Kuseret lagi kaki kanan bergerak menjauh, gerakan tangan pun mengikuti, hingga akhirnya, berada di tengah. Ah, keyakinanku bertambah. Majulah, langkah tegapku, jangan mudah menyerah. Genggaman erat jemari tangan pada utas tali di atas semakin menguatkan keyakinanku, andai, aku terjatuh pun, ransel telah kuletakkan di pinggir sungai, saku celanaku tak berisi benda apapun yang perlu khukhawatirkan jika terjatuh dan basah. Andai, aku terjatuhpun, tidak mungkin akan terluka, karena sang air siap menangkapku... Mahasiswa yang menjerit-jerit menggoda dari pinggir, dari bawah, karena mereka berendam dalam air, dan rekan rekan dosen yang mengawasi dari pinggir, ikut memberi semangat... Akhirnya... Terima kasih Tuhan, kau buktikan diri ini mampu meliwati lagi satu tantangan.

Pukul 3, rombongan terakhir dari kelompok mahasiswa baru peserta PDSP yang membawa bendera kuning tiba di Taman Mumbul. Kami kembali bergerak ke Lapangan Parkir Sangeh.
Pk. 4, rombongan terakhir tiba di post terakhir. Latihan upacara penutupan segera digelar. Cek sound system, aliran listrik, selang untuk mengaliri air pam, tempayan dari tanah liat untuk menyirami mahasiswa dan taburan kembang dipersiapkan. Pk. 4.15 sore, upacara penutupan PDSP digelar. Pataka kembali diserahkan pihak Brimob yang selama ini bina mereka, diterima oleh Pak Sabudi, dan diambil alih oleh mahasiswa. Pengguyuran air kembang pun dimulai. Hm, 711 mahasiswa peserta PDSP yang terdiri dari 671 mahasiswa baru, 40 mahasiswa yang sebelumnya tidak lulus PDSP, dikurangi jumlah siswa yang tidak mengikuti PDSP ini, jumlah mereka yang sekarang diguyur air kembang oleh deretan pejabat, Ketua Program Studi dan Ketua Jurusan Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, dosen hingga pegawai yang hadir di sini.

Ah, akhirnya tuntas lah sudah rangkaian PDSP. mereka kembali menaiki 14 truk yang memuat ratusan mahasiswa kami untuk kembali menuju kampus tercinta di Nusa Dua, pulang dan beristirahat. Kembali keesokan harinya untuk menikmati hiburan di panggung aula STP. Kemudian persiapan untuk rangkaian perkuliahan yang akan mengejar mereka minggu minggu berikutnya... Terbanglah, anakku, terbanglah ke angkasa, kepakkan sayap sayap kalian... gapailah angkasa nun jauh tinggi di atas sana...