Paulo Saukko pun katakan, kita gak bisa hidup sendiri, sayangku.....
(Doing Research in Cultural Studies, 2003)
Wacana, pengalaman hidup, teks, dan konteks sosial dengan menggunakan analisis yang luas mengenai interaksi antara ‘yang hidup’, yang dimediasi, keberyakinan (agama), etnik, tergenderkan, serta adanya dimensi ekonomi dan politik dalam dunia jaman sekarang (modern/kapitalis).
Bagi Saukko, hal yang paling fundamental dalam “kajian budaya”, pertama, ketertarikan dalam budaya yang secara radikal berbeda dari budaya yang ada (high culture to low culture/popular), kedua, analisis dengan kritis budaya yang menjadi bagian integral dari pertarungan dan budaya (teks dan konteks sosial). Hal yang harus dipenuhi dalam memandang konteks sosial adalah sensitifitas pada konteks sosial dan kepedulian pada kesejarahan.
Maka, pahami dirimu, pahami orang lain, dan hiduplah bersama-sama dengan segala keunikan yang ada pada diri kita....
Senin, 3 Januari 2011, pukul 12.30 siang. Dek Tut, nama lengkapnya Ketut Adi, masih duduk di kelas 4 SD, bermain bersama Komang Larasati, dipanggil Mang Raras, masih kelas 4 SD. Mereka mendorong motor ibu Mang Raras ke depan rumah. Mang Raras lalu minta Dek Tut duduk di atas motor yang sudah dihidupkannya, dan disuruhnya temannya mengendarai motor tersebut.
Aahhh, Bahkan, Dek Tut, kakinya pun belum sampai untuk dijejakkan di tanah tatkala duduk di atas motor. Hmmm, anak2 tersebut. Akhirnya, bener dah, kejadian. Mobil pak Rudi yang sedang parkir di depan rumah, ditabrak oleh dek Tut di bagian belakangnya, dia sendiri mental ke got, ditimpa motor ibunya Mang Raras.
Dek Tut masih sempat berlari pulang dan sembunyi di dalam kamar, darah berceceran di jalan dan di dalam rumahnya. Sedang bu Rudi mencari rumah DekTut, menemui ibu Ketut Sumerta, mencari rumah Mang Raras, menemui ibunya, ibu Jero. Ahh, anak-anak dan segala ulah mereka.
Akhirnya, pukul 3 Dek Tut bersama ibu dan kakaknya, Agus, pergi ke RS Kasih Ibu. Disana mereka berjumpa dengan bapaknya. Dokter memutuskan harus mengamputasi jari kaki kanan bagian kelingking, karena seluruh dagingnya sudah hilang, termasuk kukunya. Bu Jero harus mengeluarkan uang ratusan ribu untuk perbaiki motornya. Bu Rudi mengeluarkan uang hampir 2 juta buat perbaikan mobilnya, yang belum diketahui, akan diganti oleh siapa.
Hmm, suatu pembelajaran yang sungguh berharga, mereka harus tahu peraturan dan tata tertib. Keluarga dan orangtua juga harus mengawasi perkembangan anak2 mereka sendiri, mengarahkan anak2 nya untuk lebih berhati dan bertanggungjawab
Conspiracy Theory... Adakah yang bisa menambahkan informasi ini?The Secret Society.... Kumpulan orang2 / klg besar yang bergerak di belakang layar, namun berpengaruh terhadap perkembangan perekonomian dunia, situasi dan kondisi di berbagai belahan dunia, bahkan, hingga ke ruang paling privacy sebuah keluarga. Hmmm, Conspiracy Theory... Adakah yang bisa menambahkan informasi ini?
Search di google, 2 - 5 th lalu, The Secret Society ini begitu detil... Namun kini sudah masuk ke ranah fiksi, disamarkan.
AEFH nimbrung.... Apakah ada yg tahu bahwa orang penting di Indonesia yg namanya sama sekali tdk pernah muncul di me...dia massa..tapi memegang peranan penting dalam roda perekonomian dan politik kita? Bahkan utk pemilukada saja..banyak orang2 informal ini memegang peranan penting atas dipilih atau tdknya..
Terkadang mereka juga melakukan lelaku spiritualitas yg rutin, ada yg bermodal besar. Hmmm, semacam usaha menggapai Balance of Life? Withdrawal /semacam pelarian diri? atau krn didorong rasa bersalah... di satu sisi melakukan kejahatan, maka merasa perlu melakukan kebaikan pula ....
Hari Selasa pagi, 4 Januari. Sambil minum kopi di pagi hari, sebelum memulai aktivitas sepanjang hari, bahkan dengan niat untuk ke Pura Batukaru bersama simbok dan si kecil, suami akan berangkat untuk menjenguk sahabat yang anaknya alami kecelakaan.
Hmmmm.... Masih ada waktu satu jam untuk merawat diri. Maka kuambil Moisturising Cucumber mask dari produk Oriflame. Sebotol tube kecil ini terdiri dari 50 ml, harganya sekitar 40 ribuan. Dan, aku adalah salah satu beauty consultant dari produk Oriflame. Ah ha.... ga pernah dandan, cukup tampil se adanya, dengan modal satu kotak kecil bedak dan lipstik dari produk Viva, itu sudah cukup untuk aktivitas seharianku, baik ke kantor untuk mengajar, kuliah, dan jalan-jalan...
Dan kini, kupencet tube Moisturising Cucumber Mask, dan kutuang di tangan kiri, kuolesi di wajah suami. Dari dahi, turun ke hidung, lalu kedua belah pipinya, di bagian atas bibir, dan dagu. Namun memang karena kami bukan tipe orang yang senang berdandan, atau didandani, maka dia juga sibuk protes dg macam2. Yang ini lah, yang itu lah. Hweleh....
Hehe... boleh juga nih... merawat suami sendiri dengan mengolesi produk kecantikan. Lalu kucoba juga, mengolesi produk tersebut ke wajahku. Setengah jam kemudian, suami membersihkan wajahnya, dan bersiap berangkat untuk berkumpul bersama teman kuliah, membesuk sahabatnya. Sedang aku masih menunda keberangkatan, karena hujan mulai turun deras...
Sabtu, 01 Januari 2011
Laskar Pelangiku cuma istilah. Sebutan yang kuberikan bagi anak-anak yang ada di Perumku, Pondok Galeria. mulai dari bayi yang baru lahir, hingga para remaja yang telah duduk di bangku perguruan tinggi. Kami bermain bersama, berkumpul bersama, bekerja sama, tanpa memandang asal usul usil, dan berbagai perbedaan latar belakang tetek bengek lainnya.
Kutitipkan masa depan negeri ini pada mereka. Kami akan pergi dan mati, namun semangat kebersamaan dalam berkarya positif dan doa akan menghantar mereka wujudkan tiap cita-cita....
Setelah latihan nari bersama yang hanya dalam waktu dua minggu, akhirnya mereka menari juga. Di sela sela kesibukan ku dalam mengikuti kuliah Program S3, Program Studi Kajian Budayadi kampus Pasca Sarjana UNUD, menguji Ujian Akhir Semester di kampus STPNDB, pulang ke Kerambitan, mengurus rumah tangga, dan persiapan anak-anakku sendiri mengikuti Ujian Akhir Semester mereka di SMAN I Denpasar dan SDN 3 Padang Sambian Kelod.
Bahkan, hari Kamis, 30 Desember 2010, dari enam anak perempuan, hanya tertinggal dua orang anak yang menari Bali, Kadek Susi dan Gung Gek Sri. Enam anak perempuan yang tadinya berpindah memilih tarian yang akan dipentaskan, dari tari Bali Pendet, ke tari Bali Tenun, kemudian ke tari Bali Cenderawasih, akhirnya Legong Keraton. Hhhhmmrrrgghhhhhh….. sungguh harus bersabar dan uji nyali, jika berhubungan dengan anak-anak. Namun, jangan bilang ibu Santi, jika tidak berhasil merayu anak-anak. Hehehe…
Pukul 4 sore, hari Jum’at, 31 Desember 2010, sepulang dari acara Ramah Tamah di kampusku, STPNDB, dan berbelanja beberapa bahan, aku bersiap menghandle acara Tahun Baruan di perumku. Namun aku masih harus merayu dan sedikit memaksa mereka, anak2 perempuan ini, untuk menari Bali terlebih dahulu, sebelum menarikan 3 tari modern dengan musik dan lagu dari Agnes Monica dan Cinta Laura. Akhirnya toh berhasil kukumpulkan, tidak hanya enam, namun tujuh anak yang siap menari Bali, hingga terpaksa ada anak yang mengenakan uniform berbeda dengan enam penari lainnya. Bahkan, tetap harus tabah, saat setelah mereka usai didandani dengan sangat cantiknya, mereka masih berkeliaran se putar perum, menggendong sahabatnya, minum es, naik sepeda gayung. Hwaladalahhh.Tiga tari Bali berhasil dipentaskan dengan lemah gemulai dengan segala gaya kanak-kanak mereka. Dan….. Tari Condong dan tari Legong Keraton pun ditarikan anak-anak ini tetap dengan pakaian tari Pendet. Hahaha…. Yang penting : The Show must go on…
Niatku hanyalah, tetap harus ada kegiatan yang memberikan hiburan bagi mereka sendiri. Dari mereka, untuk mereka, dan oleh mereka. Beberapa lomba sederhana kuadakan, dari lomba lari kelereng anak-anak, lomba makan kue, lomba lari mengatur tumpukan batu. Cukup kubedakan kelompok usia dan jenis kelamin mereka. Kali ini tidak ada lomba makan kerupuk, lomba menggambar, dan pertandingan bulutangkis. Tidak sempat ku handle itu, dan para remaja yang biasa membantu juga sedang menempuh ulangan akhir semester mereka. Bahkan hari Jum’at mereka masih mengikuti sekolah seperti biasa. Yudha anakku masih pulang pukul 17.30 seperti biasa. Adi, kakaknya, juga tiba di rumah pukul 16 sore.
Aku tidak ingin mereka berkeliaran di jalan dalam merayakan Tahun Baru. Mereka tetaplah anak-anak dan remaja yang kukasihi. Kami bukan orang mampu atau kaya, kami berasal dari berbagai latar belakang sosial budaya, Islam, Hindu, Katholik. Dengan berkumpul bersama, bisa meningkatkan kebersamaan dan kerja sama di antara mereka. Toh mereka yang akan berkumpul bersama di masa depan, menjadi sahabat se perjuangan dalam mengarungi bahtera kehidupan mereka dengan berbagai nuansa dan problema romantika peristiwa.
Berbagai diskusi dan proses pendekatan yang kulakukan, termasuk dengan melibatkan para remaja.Biarkan mereka tumbuh dan berkembang, atasi masalah mereka, belajar manajemen secara langsung, dari operasional yang mereka kelola sendiri. Membuat proposal dan menyusun rencana kerja untuk acara tahun baruan. Merencanakan ada acara bakar ikan, pesta kembang api, main musik, dan modern dance. Ku libatkan pula para orangtua di Perum ini. Kuketuk pintu rumah mereka, mengetuk pintu hati mereka, meminta sumbangan nasi, sayur, dan buah, juga cocktail bagi anak-anak. Hingga akhirnya terkumpul, 50 bungkus nasi dari bapak dan ibu Mangku Made Sedana Putera, 3 kotak minuman bagi anak-anak dari ibu Agung Mas, sayur kacang kalasan dari ibu Putu Arka, nasi dalam magic jar dari ibu Putu Artayasa, ibu Putri Dharma Metta, ibu Ketut Sumertha, buah dari ibu Kadek Suartika, dandanan para penari berkat bantuan polesan dari ibu Ida Ayu Puspaadi, dan sumbangan dana dari pak Nyoman Runteg sebesar Rp 500.000, serta sekitar 70 KK para warga perum Pondok Galeria lainnya sebesar Rp 300.000 ribuan..
Setelah selesai seluruh rangkaian acara dipentaskan di Aulapada pukul 9.30 malam, acara dilanjutkan dengan bakar ikan. Ikan yang kubeli, sudah dibersihkan dan dibelah, juga dibumbui, hingga para remaja bersama adik-adik mereka ini tinggal membakarnya saja. Mereka melanjutkan acara hingga pukul satu pagi, dengan diselingi acara pesta kembang api dan mercon, lalu kemudian membubarkan diri masing-masing menuju ke rumahnya. Sedangkan aku, mandi dan terkapar tewas karena lelah, namun bahagia, satu hari lagi telah kulalui dengan kenangan yang bakal abadi dalam ingatan ……
Sudah hampir 17 tahun bekerja di STPNDB. Ku berharap mendapatkan teve sebagai salah satu jenis hadiah yang disediakan lembaga dalam acara Ramah Tamah di setiap akhir tahun. Hmmm, ingin menguji keberuntungan ku. Berangkat di pagi hari, Jum’at, 31 Desember 2010 menuju Nusa Dua, kemudian berkumpul bersama seluruh rekan kerja, sesama dosen, para pejabat dan pejibit, pegawai, anggota Dharma Wanita, beserta anak yang mereka ajak serta.
Senyum cerah ceria terpampang di wajah setiap dari mereka. Kami saling menyapa dan bersalam-salaman, mengucapkan permohonan maaf atas segala salah yang mungkin tercipta, dan harap agar situasi dan kondisi semakin baik dari hari ke hari, dengan meningkatkan kualitas berdasar segala potensi yang dimiliki, terutama dari dalam diri sendiri.
Kami bergerak mendekati Gedung Genitri untuk berkumpul bersama, semenjak pukul 07.30 pagi. Kulihat ada para panita acara Ramah Tamah, sedang menggunting sebagian ujung lembar undangan sebagai tanda peserta untuk diundi. Kue dibagikan dalam kantong plastik. Kudapatkan sepotong kue bolu, risoles, lemper, dan jaje bikang, juga sebotol teh manis.
Namun ternyata, tak kudapatkan teve layer datar. Yang kudapatkan adalah panci Teflon beserta tutupnya. Hmmmm, ternyata Tuhan hadir dan bekerja dengan cara yang sungguh tidak kita duga. Bersyukur banget dapat hadiah akhir tahun ini. Aku perlu panci baru untuk masak, menyediakan makanan bagi anggota keluarga. Jauh lebih penting panci daripada teve. Toh keluargaku masih memiliki satu teve untuk dipakai nonton bersama sambil berpelukan, dari pada dua teve, atau tiga teve, ato teve di masing-masing kamar, dan akibatnya ga bisa nonton bareng keluarga lagi. Hmmm…. Bukankah, berkumpul bersama, selalu merupakan keindahan ? Bisa saling bertukar informasi dan membahas berbagai peristiwa dan persoalan bersama-sama….
Acara diawali dengan doa bersama atas segala yang telah boleh kami lalui selama tahun2 berlalu, dan harapan bagi tahun-tahun yang akan datang. Lalu, ketua STPNDB mengawali dengan memperlihatkan kepiawaian beliau bermain organ. Hmmm, siapa bilang, kesibukan harus membunuh hobi dan kemahiran? Beliau seorang doktor tamatan Program Studi Kajian Budaya Universitas Udayana 2008. Di sela berbagai kesibukan menjalani hari-hari dengan menjadi ketua STPNDB, memberikan kuliah bagi para mahasiswa, membimbing dan menguji, masih meluangkan waktu memberikan hiburan bagi seluruh dosen dan pegawai, menghibur diri menyalurkan hobi, dan memperlihatkan kebisaan beliau, sungguh memacu semangat untuk mengikuti jejak langkah beliau. Hmmm, akhirnya, ibu ketua Dharma Wanita, yang juga istri ketua STPNDB, ikut menyumbangkan suara, dengan menyanyi bersama korps Dharma Wanita. Juga Pak Mattius Oka Wirawan, Bapak Dewa Gede Putera, Pak M. Nur Afrilliandi Nasution, dan Ibu Sekarti.
Dan…. Bagaimana dengan diriku sendiri? Eh hehe…. Sebenarnya, ingin seeeeh, menyumbangkan satu ato dua lagu.. Tapi kasihan teman-teman lain, yang bakal minder jika mendengar suaraku yg begitu merdunya, hingga mungkin saja merasa malu. Hahaha….
Kami kemudian menikmati makan bersama dengan nasi bungkus tanpa sendok atau garpu. Semangat kebersamaan tercipta dengan duduk bersama, makan dengan menggunakan jari jemari tangan, baik di dalam ruang pertemuan di gedung Genitri tersebut. Ada pula yang duduk di anak tangga, lesehan di teras. Pukul 12.00 seluruh rangkaian acara Ramah Tamah berakhir.