Senin, 20 Januari 2014
Selasa, 14 Januari 2014
Suksma Hyang Widhi...... Pizza Cokelat ala Yudha, Purnama, dan.. Bunga Wijayakesuma kami mekar indah di malam hari....
Kusyukuri anugerahMu yang terlahir dalam setiap detik kehidupanku, Tuhan...... Kusyukuri semua. Suka dan duka, lara pati, sedikit dan banyak.... Kusyukuri semua.
Minggu, 12 Januari 2014
Cinta yang menghantarku datang padaMu, hadir lakukan ini di jalanMu......
Toleransi dan harmonisasi di antara umat manusia yang membuat kehidupan menjadi indah. Bila toleransi dan harmonisasi tercipta di bumi, juga di dalam hati, maka, sudah tentu, kebahagiaan akan terjaga, sehingga kualitas kehidupan manusia juga akan berkembang semakin baik.
Dalam rangka menjaga harmonisasi antara fisik dan psikis, pikiran dan perasaan, keinginan dan kebutuhan, jasmani dan rohani, spiritual, maka, aku mengadakan perjalanan ini....... dan, inilah yang kutemukan sebagai harta karun negeri ini, dalam hal toleransi dan harmonisasi antar umat manusia.
Di Brahmavihara Arama, 11 Januari 2014, kujumpai para gadis cantik ini, Astri dan Heni, yang juga bersembahyang bersama. "Kami dari Yeh Biu, sudah berkali kemari untuk bermeditasi" Ujar mereka.
Termasuk, hadirnya para sahabat dan rekan kerja dari berbagai daerah dengan berbagai gaya dan penampilan, ini menunjukkan, betapa, segala upaya dalam semangat kebersamaan dan kerja sama, akan mampu membuat
Entah dimana pun, dengan siapa pun, kapa pun..... aku berusaha untuk bisa menjalin kebersamaan, meski tidak selalu bisa bersama-sama. Kuanggap sebagai sahabatku, keluargaku sendiri, keluarga besar, dan, berusaha untuk kukunjungi juga memberi restu, agar kehidupan menjadi semakin baik selalu......
Termasuk dengan seorang pensiunan PNS, mantan supir STPNDB, Pak Kupug. Saat berjumpa kembali, di tengah pesta pernikahan putra bapak Wayan Dana. Kusapa hangat pak Kupug, bertukar cerita, dan ber foto bersama.....
Tuhan....... Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Aku hanya seorang perempuan biasa, seorang pekerja dan ibu rumah tangga biasa, seorang ibu dan umat Mu yang berusaha menjalani hari demi hari..... meski terkadang, hidup ini tidak seindah harapan dan impian yang kita inginkan. Terjatuh dan tersungkur kembali, aku akan bangkit kembali berkali dan berkali lagi........
Anak-anakku terkasih, Adi dan Yudha.
Ada pepatah yang berkata..... Bimbinglah anak-anakmu dengan baik, dan biarkan mereka berkembang masing-masing, sesuai dengan hati nuraninya.
Well......
Aku mungkin bukan perempuan sempurna, bukan istri dan ibu rumahtangga yang baik, bukan ibu yang senantiasa bisa hadir di sisi mereka, bila anak-anakku membutuhkan bimbinganku. Namun, aku berusaha memberi kesempatan pada mereka, juga pada diriku sendiri, untuk menjadi apa adanya, dan berharap, masa depan akan menjadi lebih baik lagi, dari hari ke hari.....
Setelah lelah bepergian seharian, dari Banjar Cemenggaon, Sukawati Gianyar, kemudian Baturiti Tabanan, lanjut ke Munduk, Buleleng, Dan Banjar Tegehe, Banjar, Buleleng, aku tiba di rumah pukul 6.30 sore. Kuminta Adi dan Yudha membersihkan motor-motor kami. Selanjutnya Adi membuat menu baru, telur goreng, di atasnya ditaburi abon halus. Kami makan malam bersama, dengan si bapak dan juga simbok.
Ah.... anak-anakku kreatif dengan semangat kreativitas mereka dalam kebersamaan dan kerjasama yang baik. Suksma, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, suksma atas segala anugerah yang ada, dan masih boleh kunikmati.
Brahmavihara Arama, Saniscara Kliwon Uye, Tumpek Kandang, di Banjar Tegehe, Desa Banjar, 11 Januari 2014
"Always chase your dreams instead of running of your fears" - Anonymous
Seringkali
kita sibuk memikirkan hal-hal yang tidak kita miliki yang terkadang
membuat kita takut untuk melangkah. Quote di atas yang berarti "Lebih
baik berlari mengejar mimpi daripada berlari dari rasa takutmu," seolah
mengingatkan kita untuk fokus terhadap tujuan dan tidak membiarkan
hal-hal sepele menghancurkannya.
Sabtu, 11 Januari 2014, Saniscara Kliwon Uye, Tumpek Kandang. Tanpa rencana sebelumnya, aku tiba di depan wihara ini. Sudah berkali lewat disini, namun belum sempat sekalipun mampir. Dan..... kupikir, kinilah saat yang tepat.
Setelah berangkat pukul 8 pagi dari rumah, menuju Banjar Cemenggaon, Sukawati, Gianyar, pernikahan Ayu. Kemudian Kerobokan, Baturiti, pernikahan Uttari. Terakhir, pernikahan Putu Liong, di Munduk, Buleleng. Dan, mengunjungi anak asuhku, Maisiah, di Banjar Tegehe, Banjar, Buleleng. Pukul 16.00 akhirnya aku tiba di depan wihara ini. Brahmavihara Arama. Beberapa mobil wisatawan asing terlihat sedang parkir di bagian depan wihara. Rombongan turis Perancis terlihat berjalan masuk ke lobby wihara.
Brahmavihara-Arama adalah sebuah vihara yang indah
dan merupakan tempat ibadah umat Buddha terbesar di Bali. Tempat ini
lebih dikenal dengan nama Vihara Buddha Banjar karena letaknya yang ada
di desa Banjar, Buleleng. Vihara ini tepatnyat terletak di daerah
perbukitan di Dusun Tegeha, Kecamatan Banjar, 22 kilometer sebelah barat
Singaraja dan 11 kilometer dari kawasan wisata Lovina. Sedangkan, dari
kota Denpasar, vihara ini bejarak sekitar 100 kilometer yang dapat
ditempuh dalam waktu kurang lebih 2,5 – 3 jam melalui jalur
Denpasar-Bedugul-Singaraja.
Selain tempat beribadah umat Buddha, vihara ini juga merupakan tempat untuk bermeditasi. Brahmavihara-Arama terletak di kawasan perbukitan. Di bagian Utara terlihat indahnya pemandangan laut Bali Utara serta areal perkebunan dan persawahan dari
ketinggian. Suasananya yang sepi dan tenang serta pemandangan langsung
ke pantai Lovina menyebabkan vihara Buddha ini sebagai tempat meditasi
yang sempurna. Bangunannya yang artistik dan unik juga menjadi daya
tarik tersendiri bagi wisatawan
Brahmavihara-Arama didirikan tahun 1969 di atas
lahan seluas kurang lebih 4 hektar dan diselesaikan satu tahun
setelahnya. Pada tahun 1973 bangunan suci ini baru diresmikan sebagai
vihara Buddha utama. Sebelumnya memang sudah berdiri vihara yang
berlokasi di Pemandian Air Panas Banjar, namun pada saat itu pengikutnya
(upcaka) masih sangat terbatas sehingga Brahmavihara-Arama dipandang
sebagai tempat yang lebih layak.
Brahmavihara-Arama terdiri dari tiga kata yaitu: Brahma, Vihara dan
Arama. Brahma berarti terpuji/mulia. Vihara berarti cara hidup, dan
Arama berarti tempat. Dari gabungan kata tersebut, dapat disimpulkan
bahwa makna dari Brahmavihara-Arama adalah suatu tempat untuk melatih
diri, menempa perilaku luhur/terpuji yang dalam ajaran Buddha meliputi
Metta, Karuna, Mudita dan Upekkha
Wihara ini terdiri atas lima kompleks utama (http://balitour.net/id/view/brahmavihara-arama-buleleng-tempat-wisata-yang-damai-penuh-spiritualitas)
1. Uposatha Gara, berlokasi di puncak sebelah Barat. Tempat ini
berupa sebuah ruangan yang dihiasi dengan relief-relief kelahiran Sang
Buddha, dan di tengah-tengahnya terdapat patung Buddha dalam keadaan
mencapai Nirwana. Ruangan ini berfungsi sebagai tempat penobatan para
calon bhiku.
2. Dharmasala, terletak di bagian timur. Tempat ini berupa ruang kuliah dimana para bhikku membahas serta mempelajari ajaran suci. Tempat ini juga dimanfaatkan sebagai tempat untuk melakukan kebaktian dan segala aktivitas spiritual.
3. Stupa, terletak di sudut barat laut Vihara. Bangunan yang berbentuk lonceng raksasa bersepuh cat keemasan.
4. Pohon Bodi, terdapat di sudut barat daya Vihara. Di sekitar pohon ini terdapat relief-relief indah yang melambangkan kemenangan Sang Buddha saat mencapai kesempurnaan yang abadi.
5. Kuti, adalah tempat tinggal para bhiku dan siswa yang sedang menuntut ilmu. Selain itu juga dipergunakan sebagai tempat latihan para bhiku.
Uniknya, ketika memasuki Brahmavihara-Arama, rasanya seperti memasuki sebuah pura. Memang unsur budaya Bali terasa kental di Vihara ini karena dibangun dengan arsitektur Bali tanpa kehilangan ciri khasnya sebagai tempat ibadah agama Buddha. Hal ini memperlihatkan modifikasi budaya pada beragam bentuk dan simbol yang hadir di wihara Brahmavihara Arama.
2. Dharmasala, terletak di bagian timur. Tempat ini berupa ruang kuliah dimana para bhikku membahas serta mempelajari ajaran suci. Tempat ini juga dimanfaatkan sebagai tempat untuk melakukan kebaktian dan segala aktivitas spiritual.
3. Stupa, terletak di sudut barat laut Vihara. Bangunan yang berbentuk lonceng raksasa bersepuh cat keemasan.
4. Pohon Bodi, terdapat di sudut barat daya Vihara. Di sekitar pohon ini terdapat relief-relief indah yang melambangkan kemenangan Sang Buddha saat mencapai kesempurnaan yang abadi.
5. Kuti, adalah tempat tinggal para bhiku dan siswa yang sedang menuntut ilmu. Selain itu juga dipergunakan sebagai tempat latihan para bhiku.
Uniknya, ketika memasuki Brahmavihara-Arama, rasanya seperti memasuki sebuah pura. Memang unsur budaya Bali terasa kental di Vihara ini karena dibangun dengan arsitektur Bali tanpa kehilangan ciri khasnya sebagai tempat ibadah agama Buddha. Hal ini memperlihatkan modifikasi budaya pada beragam bentuk dan simbol yang hadir di wihara Brahmavihara Arama.
Setiap halaman yang ada
dihubungkan dengan beberapa anak tangga yang masing-masing berisi
prinsip-prinsip ajaran Buddha. Misalnya yang terdapat pada anak tangga menuju Dharmasala, tulisan yang terdapat pada setiap anak tangga.
Jaya Maranam : Hari tua dan kematian - Penderitaan sampai diakhiri dengan kematian
Jati Paccaya Jaya Maranam : Kelahiran - Hari tua dan kematian (Penderitaan - Terikat)
Bhava Paccaya Jati : Proses penjelmaan - Kelahiran
Upadanam Paccaya Bhavo : Kemelekatan - Proses - Penjelmaan.
Tanha Paccaya Upadanam : Keinginan - Rendah - Kemelekatan.
Vedana Paccaya Tanha : Perasaan - Keinginan - Rendah hati.
Pada bagian tertinggi dari areal vihara ini, terdapat lapangan luas dengan halaman indah dihiasi rerumputan dan pohon, dan di ujungnya terdapat sebuah bangunan stupa berupa miniatur candi Borobudur. Di bagian dalam stupa tersebut terdapat sebuah ruangan yang berisi 4 patung Buddha berwarna emas menghadap ke 4 penjuru mata angin. Tempat ini adalah tempat untuk melaksanakan meditasi. Biasanya, pada perayaan hari besar agama Buddha ratusan orang akan memenuhi lapangan tersebut untuk melakukan persembahyangan. Wihara ini juga sering mendapatkan kunjungan-kunjungan dari kelompok-kelompok pecinta meditasi baik dari Indonesia maupun mancanegara
Wihara ini juga menjadi tempat tujuan untuk bersembahyang, bersamadhi, bagi umat lain. Termasuk mereka, Astri dan Heni, remaja muslim yang mengenakan jilbab. "Kami dari Yeh Biu, sudah berkali kemari untuk bersembahyang", demikian ujar mereka. Hmmm..... indahnya, bila toleransi dan harmoni tercipta di seantero negeri. Yang ada hanya damai, kebersamaan dan persahabatan.....
Hmmm, sungguh, damai terasa. Aku bersyukur, masih bisa menikmati hari-hari dalam kehidupanku, mengunjungi beragam tempat dengan nilai spiritual yang mampu membuat hati terasa damai, memberikan motivasi bagi diri ini, untuk menjadi semakin shantih......
"In this world, some people will always throw stones. It depends on what you make from them, a wall or a bridge" - anonymous
"Dalam
hidup ini, orang akan selalu melempar batu di jalan kita. Semuanya
tergantung pada Anda, apakah membuat batu itu menjadi tembok atau
jembatan." Kita tahu bahwa orang akan berusaha menghalangi kita untuk
sukses, tapi jika kita bisa memanfaatkannya dengan baik, justru hal
tersebut bisa menjadi penyemangat untuk berjuang lebih keras lagi. Bangkitlah..... kumpulkan semangat dan inspirasi, wujudkan mimpi dengan kerjasama juga karya nyata dan segera meraih cita-cita
Langganan:
Postingan (Atom)
