"Sudah ada berita, diterima di S3 Kajian Budaya. Ada nama Santi di sana"
Demikian short message service yg kuterima dari suami siang hari Sabtu, 10 April 2010. Aku hanya tersenym simpul. "Terimakasih". demikian kujawab pesannya. Kami memang bukan tipe pasangan yang terlalu ekstrim memperlihatkan perasaan dalam berbagai cara dan gaya. Ini hanya salah satu bentuk untuk tidak terlalu berlebihan dalam menyikapi berbagai hal, entah itu senang maupun susah, baik atau buruk, benar atau salah, menang atau kalah.
Ah....
terbayang sudah, hari-hari yang akan datang yang bakal kualami. Aku baru menamatkan pendidikan S2 ku akhir tahun 2008 lalu di Universitas Udayana, Program Studi Kajian Budaya. Dan kini, aku akan kembali melanjutkan pendidikan. Aku akan sekolah lagi. Program pendidikan akan dimulai bulan September 2010. Berarti kembali jarak Nusa Dua - Denpasar bakal sering kutempuh berkali dalam sehari, karena ada kebijakan dari lembaga pendidikan dimana aku bekerja, tetap harus melaksanakan tugas mendidik dan mengajar. Hmmm. It's oke.
Tuhan, semoga aku bisa lalui ini dengan baik.
Sekolah lagi, bekerja, dan urusan keluarga yang bakal menuntut perhatian prima. Semoga semua bisa terlaksana baik. Walau mungkin aku akan alami hal yang tidak menyenangkan, gagal dan salah, tapi janjiku, aku bakal berusaha sebaik mungkin, menjadi semakin dewasa, semakin bijak, dan semakin baik, dari hari ke hari...
Minggu, 11 April 2010
Kencanku dengan D'Massiv di Malam Hari
D'Massiv membelai telingaku menghentak kalbu, katanya : Jangan Menyerah...
Tak ada manusia yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali segala yang telah terjadi
Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini tak ada artinya lagi
Syukuri apa yang ada hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar dan tak kenal putus asa
Ah...
Betapa sering ku berkeluh kesah, karena impian, cita dan angan yang tak tercapai. Terpuruk dan tersinggung karena tingkah polah orang lain, sanak saudara dan sahabat. Iri pada orang lain dan terhina pada ketidakmampuan / ketidakberdayaansendiri. Merasa diri paling benar dan hebat. Berbangga dan besar kepala. Atau bersedih merasa seluruh dunia mengucilkan dan membenciku. Lalu tumbuh dalan kebencian dan tidak menerima kenyataan yang ada.
Melihat Bilqis dan wajah kanak sendu itu, hati teriris... perjuangan orangtuanya yang tiada kenal lelah meyakinkan diri sendiri, berusaha kemanapun tempuh segala cara demi segala kebaikan anaknya. Apakah aku akan berlaku sama bagi anak-anakku pula? Apakah aku akan menekan egoku demi kebahagiaan orang lain pula? Mengutamakan kepentingan yg lebih besar, demi masyarakat luas? Apakah cobaanku jauh lebih berat dari cobaan orang lain? Sebegitu mudahkah ku berserah dan pasrah terhadap segala rintangan? Betapa sering kusesali jalan hidupku jika tak berhasil kugenggam dan kuraih mimpiku?
D'Massiv hadir mengetuk pintu hati... Perlahan air mata haru mengalir. Rasa rindu hadir mengisi relung hati. Jika sempurna bukan pilihan bijak untuk dituju, setidaknya bijak bisa jadi pilihan sempurna untuk diraih....
Tak ada manusia yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali segala yang telah terjadi
Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini tak ada artinya lagi
Syukuri apa yang ada hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar dan tak kenal putus asa
Ah...
Betapa sering ku berkeluh kesah, karena impian, cita dan angan yang tak tercapai. Terpuruk dan tersinggung karena tingkah polah orang lain, sanak saudara dan sahabat. Iri pada orang lain dan terhina pada ketidakmampuan / ketidakberdayaansendiri. Merasa diri paling benar dan hebat. Berbangga dan besar kepala. Atau bersedih merasa seluruh dunia mengucilkan dan membenciku. Lalu tumbuh dalan kebencian dan tidak menerima kenyataan yang ada.
Melihat Bilqis dan wajah kanak sendu itu, hati teriris... perjuangan orangtuanya yang tiada kenal lelah meyakinkan diri sendiri, berusaha kemanapun tempuh segala cara demi segala kebaikan anaknya. Apakah aku akan berlaku sama bagi anak-anakku pula? Apakah aku akan menekan egoku demi kebahagiaan orang lain pula? Mengutamakan kepentingan yg lebih besar, demi masyarakat luas? Apakah cobaanku jauh lebih berat dari cobaan orang lain? Sebegitu mudahkah ku berserah dan pasrah terhadap segala rintangan? Betapa sering kusesali jalan hidupku jika tak berhasil kugenggam dan kuraih mimpiku?
D'Massiv hadir mengetuk pintu hati... Perlahan air mata haru mengalir. Rasa rindu hadir mengisi relung hati. Jika sempurna bukan pilihan bijak untuk dituju, setidaknya bijak bisa jadi pilihan sempurna untuk diraih....
Ibu yang Heboh
Hari Sabtu, tanggal 10 April 2010
Seperti ibu rumah tangga biasa pada umumnya, terjaga pukul lima pagi, segera mandi sambil mencuci baju dua ember. Jika ada orang bertanya, "Lalu... tugas simbok disana ngapain saja?" Ah.. dengan terbiasa mencuci sendiri, aku tidak menganggap simbok pemalas. Suamiku bahkan terkadang masih mencuci dan menyetrika bajunya sendiri. Dia beranggapan hasil kerjanya sendiri lebih memuaskan dan lebih baik dibanding hasil kerjaku atau simbok. Saling pengertian dan terbiasa mengerjakan sendiri apa yg dirasa masih bisa dilakukan membuat hidup lebih indah. Apalagi, sangat susah di saat kini untuk menemukan simbok yang jujur, baik, dan betah bekerja hingga 5 tahun pada sebuah keluarga.
Selesai menjemur baju, aku beranjak ke dapur. Kubuatkan nasi goreng bagi anggota keluarga. Pagi ini, putra sulungku akan berjuang mengikuti Tes Potensi Akademik di SMAN I Denpasar. Dia sudah harus tiba disana pukul tujuh pagi karena tes akan dimulai pukul 07.30 pagi. Namun kami masih harus membeli perangkat alat tulis berupa garisan yang berisi bolong untuk mempermudahnya mengisi bulatan di lembar komputer bagi jawaban yang dia buat. Ah, dimana harus kucari toko yang buka se pagi ini? Sebenarnya, Adi sudah mempersiapkan ini sejak dua hari lalu. Namun berhubung kutukar tasnya, peralatan tersebut tercecer entah dimana.
Kukeluarkan dua motor, satu Yamaha Jupiter MX yang akan dikendarainya menuju lokasi TPA diselenggarakan, dan satu Astrea 800 tercinta yang akan kugunakan mengantar putra bungsu ke SDN 3 Padang Sambian Klod. Walau hanya berjarak 100 meter dari rumah, namun terkadang kuantar dia berangkat ke sekolahnya sebelum beranjak ke tempat kerjaku di Nusa Dua.
Kami beriringan menuju minimarket Yonico yang terletak di depan Perumku, di Jalan Gunung Soputan. Ah. ternyata belum buka. Lalu bergerak kembali menuju minimarket Kembar Artha. Hmm, toko ini juga belum buka, namun kulihat puluhan karangan bunga berjejer berisi ucapan turut berduka cita atas meninggalnya nenek dari pemilik toko ini. Kuminta anakku menunggu di tempat parkiran, lalu kuberanikan diri menghampiri orangtua dari pemilik minimarket yang terlihat sedang duduk disebuah kursi di depan rumahnya. Kusampaikan ucapan turut berduka cita, dan kulanjutkan dengan menyampaikan permohonan maaf beribu maaf untuk membeli perlengkapan seperangkat alat tulis yang kuinginkan. Beliau langsung meminta karyawannya untuk mengambilkan alat tulis yang kumaksud, kuberikan uang senilai harga barang tersebut, tak lupa mengucapkan banyak terima kasih pada mereka, dan segera berlari ke arah anak-anakku. Segera putra Adi, putra sulungku, berangkat menuju SMAN I yang terletak di Jalan Kamboja. Aku bergegas menghantar Yudha ke SDN 3.
Dan,
Kini, urusan dengan Ngurah Arik.
Dia adalah putra Pak Ngurah Sartana dan Ibu Komang Marhaeni, tetanggaku. Demi sebuah layangan yang terjatuh di halaman belakang rumahku, dia melompati tembok tinggi dan masuk ke dalam halaman. Lalu digigit oleh anjingku, Chiko. Kami memiliki empat ekor anjing peliharaan. Semua sebenarnya hanyalah anjing kampung biasa, namun secara rutin divaksin dengan mendatangkan dokter hewan ke rumah. Namun aku bersikeras menghantar Ngurah Arik ke RSU Wangaya untuk mendapatkan suntikan anti rabies. Dan kali ini adalah suntikan yang keduanya. Berboncengan berdua, kami bergerak menuju RS tersebut. Kutunjukkan pada dokter jaga yang sedang bertugas surat pengantar / rujukan yang kudapatkan dari RS Sanglah, pak dokter ganteng ini menuliskan resep pengambilan vaksin di apotik yang terletak disebelah Instalasi Rawat Darurat. Vaksin kudapat, dan Ngurah Arik segera ditangani oleh perawat yang sedang bertugas. Setelah suntik vaksin anti rabies selesai dilakukan, kembali kuhantar dia pulang ke rumahnya.
Selesai urusan bersama Ngurah Arik, kini giliran mengumpulkan info mengenai SMA bagi masa depan anakku. Kukunjungi SMA Dwijendra dan SMA Saraswati, juga kusinggahi SMAN 7 yang sama terletak di Jalan Kamboja, daerah Kereneng. Lalu memasuki halaman SMAN I. Hmm, sekumpulan orangtua kulihat duduk di areal parkiran, sekumpulan lainnya di halaman tengah sekolah. "Pukul 10.00 mereka akan istirahat sejenak sebelum melanjutkan ujian hingga pukul 13.00 nanti" Demikian sahut bapak satpam sekolah dengan ramahnya.
Aku melihat papan pengumuman yang terletak di tengah halaman sekolah tersebut. Nama anakku tertera sebagai peserta di ruang 16. Masih 10 menit lagi mereka tiba pada waktu istirahat. Kulangkahkan kaki mengelilingi areal SMAN I ini, kantin terletak di sebelah Timur, sekelompok pelajar sedang memainkan kendang sejenis tifa, yang lainnya sedang berlatih olahtubuh di tengah halaman. Kumasuki kantin sekolah, mengamati berbagai jenis makanan yang terhidang, lalu mengambil dua bungkus nasi kuning. Semoga anakku mau memakannya sebagai pengganjal perut sebelum lanjut pada ujian tahap berikutnya. Aku lalu bergabung dengan para ibu dan bapak yang juga sama sedang menanti dan memberi dorongan motivasi bagi anak-anak mereka. Tuhan, semoga anak-anak kami berhasil dalam ujian tes Potensi Akademik ini, dan diterima di SMA yang katanya terbaik di seantero Bali ini pula.
Suamiku mungkin bukan orang yang terlibat terlalu intens terhadap hal-hal begini. Ia lebih senang menyerahkan pada anak-anaknya untuk menentukan arah tujuan dan bertanggungjawab terhadap perilaku masing-masing. Tapi aku inginkan anak-anak berhasil dengan baik pada setiap langkahnya, memastikan mereka tidak salah pilih, ingin melihat dan terlibat sebanyak mungkin dengan mereka. Ehm.. mungkin juga, sebagian karena tidak rela terpisah jauh dan memiliki hubungan yang renggang dengan mereka...
Ah, sungguh pagi hari yang heboh.. sama seperti pagi, siang dan sore dalam hari-hari lainnya, dalam hidupku...
Seperti ibu rumah tangga biasa pada umumnya, terjaga pukul lima pagi, segera mandi sambil mencuci baju dua ember. Jika ada orang bertanya, "Lalu... tugas simbok disana ngapain saja?" Ah.. dengan terbiasa mencuci sendiri, aku tidak menganggap simbok pemalas. Suamiku bahkan terkadang masih mencuci dan menyetrika bajunya sendiri. Dia beranggapan hasil kerjanya sendiri lebih memuaskan dan lebih baik dibanding hasil kerjaku atau simbok. Saling pengertian dan terbiasa mengerjakan sendiri apa yg dirasa masih bisa dilakukan membuat hidup lebih indah. Apalagi, sangat susah di saat kini untuk menemukan simbok yang jujur, baik, dan betah bekerja hingga 5 tahun pada sebuah keluarga.
Selesai menjemur baju, aku beranjak ke dapur. Kubuatkan nasi goreng bagi anggota keluarga. Pagi ini, putra sulungku akan berjuang mengikuti Tes Potensi Akademik di SMAN I Denpasar. Dia sudah harus tiba disana pukul tujuh pagi karena tes akan dimulai pukul 07.30 pagi. Namun kami masih harus membeli perangkat alat tulis berupa garisan yang berisi bolong untuk mempermudahnya mengisi bulatan di lembar komputer bagi jawaban yang dia buat. Ah, dimana harus kucari toko yang buka se pagi ini? Sebenarnya, Adi sudah mempersiapkan ini sejak dua hari lalu. Namun berhubung kutukar tasnya, peralatan tersebut tercecer entah dimana.
Kukeluarkan dua motor, satu Yamaha Jupiter MX yang akan dikendarainya menuju lokasi TPA diselenggarakan, dan satu Astrea 800 tercinta yang akan kugunakan mengantar putra bungsu ke SDN 3 Padang Sambian Klod. Walau hanya berjarak 100 meter dari rumah, namun terkadang kuantar dia berangkat ke sekolahnya sebelum beranjak ke tempat kerjaku di Nusa Dua.
Kami beriringan menuju minimarket Yonico yang terletak di depan Perumku, di Jalan Gunung Soputan. Ah. ternyata belum buka. Lalu bergerak kembali menuju minimarket Kembar Artha. Hmm, toko ini juga belum buka, namun kulihat puluhan karangan bunga berjejer berisi ucapan turut berduka cita atas meninggalnya nenek dari pemilik toko ini. Kuminta anakku menunggu di tempat parkiran, lalu kuberanikan diri menghampiri orangtua dari pemilik minimarket yang terlihat sedang duduk disebuah kursi di depan rumahnya. Kusampaikan ucapan turut berduka cita, dan kulanjutkan dengan menyampaikan permohonan maaf beribu maaf untuk membeli perlengkapan seperangkat alat tulis yang kuinginkan. Beliau langsung meminta karyawannya untuk mengambilkan alat tulis yang kumaksud, kuberikan uang senilai harga barang tersebut, tak lupa mengucapkan banyak terima kasih pada mereka, dan segera berlari ke arah anak-anakku. Segera putra Adi, putra sulungku, berangkat menuju SMAN I yang terletak di Jalan Kamboja. Aku bergegas menghantar Yudha ke SDN 3.
Dan,
Kini, urusan dengan Ngurah Arik.
Dia adalah putra Pak Ngurah Sartana dan Ibu Komang Marhaeni, tetanggaku. Demi sebuah layangan yang terjatuh di halaman belakang rumahku, dia melompati tembok tinggi dan masuk ke dalam halaman. Lalu digigit oleh anjingku, Chiko. Kami memiliki empat ekor anjing peliharaan. Semua sebenarnya hanyalah anjing kampung biasa, namun secara rutin divaksin dengan mendatangkan dokter hewan ke rumah. Namun aku bersikeras menghantar Ngurah Arik ke RSU Wangaya untuk mendapatkan suntikan anti rabies. Dan kali ini adalah suntikan yang keduanya. Berboncengan berdua, kami bergerak menuju RS tersebut. Kutunjukkan pada dokter jaga yang sedang bertugas surat pengantar / rujukan yang kudapatkan dari RS Sanglah, pak dokter ganteng ini menuliskan resep pengambilan vaksin di apotik yang terletak disebelah Instalasi Rawat Darurat. Vaksin kudapat, dan Ngurah Arik segera ditangani oleh perawat yang sedang bertugas. Setelah suntik vaksin anti rabies selesai dilakukan, kembali kuhantar dia pulang ke rumahnya.
Selesai urusan bersama Ngurah Arik, kini giliran mengumpulkan info mengenai SMA bagi masa depan anakku. Kukunjungi SMA Dwijendra dan SMA Saraswati, juga kusinggahi SMAN 7 yang sama terletak di Jalan Kamboja, daerah Kereneng. Lalu memasuki halaman SMAN I. Hmm, sekumpulan orangtua kulihat duduk di areal parkiran, sekumpulan lainnya di halaman tengah sekolah. "Pukul 10.00 mereka akan istirahat sejenak sebelum melanjutkan ujian hingga pukul 13.00 nanti" Demikian sahut bapak satpam sekolah dengan ramahnya.
Aku melihat papan pengumuman yang terletak di tengah halaman sekolah tersebut. Nama anakku tertera sebagai peserta di ruang 16. Masih 10 menit lagi mereka tiba pada waktu istirahat. Kulangkahkan kaki mengelilingi areal SMAN I ini, kantin terletak di sebelah Timur, sekelompok pelajar sedang memainkan kendang sejenis tifa, yang lainnya sedang berlatih olahtubuh di tengah halaman. Kumasuki kantin sekolah, mengamati berbagai jenis makanan yang terhidang, lalu mengambil dua bungkus nasi kuning. Semoga anakku mau memakannya sebagai pengganjal perut sebelum lanjut pada ujian tahap berikutnya. Aku lalu bergabung dengan para ibu dan bapak yang juga sama sedang menanti dan memberi dorongan motivasi bagi anak-anak mereka. Tuhan, semoga anak-anak kami berhasil dalam ujian tes Potensi Akademik ini, dan diterima di SMA yang katanya terbaik di seantero Bali ini pula.
Suamiku mungkin bukan orang yang terlibat terlalu intens terhadap hal-hal begini. Ia lebih senang menyerahkan pada anak-anaknya untuk menentukan arah tujuan dan bertanggungjawab terhadap perilaku masing-masing. Tapi aku inginkan anak-anak berhasil dengan baik pada setiap langkahnya, memastikan mereka tidak salah pilih, ingin melihat dan terlibat sebanyak mungkin dengan mereka. Ehm.. mungkin juga, sebagian karena tidak rela terpisah jauh dan memiliki hubungan yang renggang dengan mereka...
Ah, sungguh pagi hari yang heboh.. sama seperti pagi, siang dan sore dalam hari-hari lainnya, dalam hidupku...
Minggu, 04 April 2010
Jika Boleh Kuaju Pinta PadaMu...
Tuhan...
Jika boleh kuajukan satu pinta
kuingin malam ini bapakku hadir disini
walau hanya dalam mimpi....
Belum sempat kuucap,
betapa aku mengasihinya
betapa aku mengaguminya
sepanjang hidupku
Belum sempat kubalas budi baiknya
Kau ambil dia agar jadi bintang
terangi tiap jejak langkah
kemanapun kumelangkah
Jadi teladanku dalam jaga bahtera keluarga
contoh dalam ketegaran dan kedamaian
tegakkan dharma dan lakukan yadnya
se keras apapun kuhadapi hidup ini..
Jika boleh kuajukan satu pinta
kuingin malam ini bapakku hadir disini
walau hanya dalam mimpi....
Belum sempat kuucap,
betapa aku mengasihinya
betapa aku mengaguminya
sepanjang hidupku
Belum sempat kubalas budi baiknya
Kau ambil dia agar jadi bintang
terangi tiap jejak langkah
kemanapun kumelangkah
Jadi teladanku dalam jaga bahtera keluarga
contoh dalam ketegaran dan kedamaian
tegakkan dharma dan lakukan yadnya
se keras apapun kuhadapi hidup ini..
Jumat, 02 April 2010
My Lord.....
Dewi Cantik, sohibku di laman persahabatan (Face Book) bilang :
Om Sri Sai Kalikalmashanaashine Namah Salutations to Sri Sai, the One who destroys impurities of Kali age....
Artinya :
Saya membuat keputusan setiap kali diperlukan.
Saya membuat hal yang saya inginkan terjadi dalam hidup saya,
dan saya bertanggung jawab sepenuhnya.
Saya tidak mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan masalah saya.
Walaupun saya tetap memerlukan bantuan orang lain,
tetapi sayalah yang tetap mengambil keputusan
untuk membuat mimpi saya menjadi kenyataan.
Ah,
seberapa banyak kita berani menerima tanggungjawab, berani jujur bertanggungjawab atas segala perbuatan kita? Sebaliknya, seberapa sering kita mempersalahkan orang lain, mencari-cari kambing hitam, dan, berlaku... "Buruk muka cermin dibelah"
Tugas yang tidak selesai, menghancurkan barang, membuang waktu dan tenaga secara sia-sia, mengomeli anak dan sahabat yg dianggap mengganggu, menuduh wanita lain merebut suami / pacar, menyiksa diri dan mencaci maki, mencuri kertas kerja teman agar terlihat hebat di mata guru, hanya berdiam diri, mengejek tetangga dan teman kerja, bahkan, melarikan diri dari kenyataan, memilih menghindari....
Hmm,
Tuhanku...
Tapi, aku khan hanya seorang manusia biasa, bukan dewa atau dewi, bukan pula malaikat.
Aku khan manusia yang masih bawa sisi manusiawi.... Eh hehe.. jadi semacam alasan untuk mencari pembenaran atas sikap egois.
Semoga...
Semoga dengan bimbinganMu, di dalam jalanMu, teguranMu...
kami akan tumbuh dan berkembang menjadi manusia-manusia dewasa yang bijak dalam menghadapi tiap riak gelombang kehidupan....
Om Sri Sai Kalikalmashanaashine Namah Salutations to Sri Sai, the One who destroys impurities of Kali age....
Artinya :
Saya membuat keputusan setiap kali diperlukan.
Saya membuat hal yang saya inginkan terjadi dalam hidup saya,
dan saya bertanggung jawab sepenuhnya.
Saya tidak mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan masalah saya.
Walaupun saya tetap memerlukan bantuan orang lain,
tetapi sayalah yang tetap mengambil keputusan
untuk membuat mimpi saya menjadi kenyataan.
Ah,
seberapa banyak kita berani menerima tanggungjawab, berani jujur bertanggungjawab atas segala perbuatan kita? Sebaliknya, seberapa sering kita mempersalahkan orang lain, mencari-cari kambing hitam, dan, berlaku... "Buruk muka cermin dibelah"
Tugas yang tidak selesai, menghancurkan barang, membuang waktu dan tenaga secara sia-sia, mengomeli anak dan sahabat yg dianggap mengganggu, menuduh wanita lain merebut suami / pacar, menyiksa diri dan mencaci maki, mencuri kertas kerja teman agar terlihat hebat di mata guru, hanya berdiam diri, mengejek tetangga dan teman kerja, bahkan, melarikan diri dari kenyataan, memilih menghindari....
Hmm,
Tuhanku...
Tapi, aku khan hanya seorang manusia biasa, bukan dewa atau dewi, bukan pula malaikat.
Aku khan manusia yang masih bawa sisi manusiawi.... Eh hehe.. jadi semacam alasan untuk mencari pembenaran atas sikap egois.
Semoga...
Semoga dengan bimbinganMu, di dalam jalanMu, teguranMu...
kami akan tumbuh dan berkembang menjadi manusia-manusia dewasa yang bijak dalam menghadapi tiap riak gelombang kehidupan....
Hari Persahabatan Se Dunia, 2 April....
Sahabat adalah dia yang hampiri kita
tatkala seluruh dunia menjauh,
bukan hampiri hanya jika sedang butuh.
Karena persahabatan bagai tangan dan mata.
Tatkala tangan terluka, mata menangis.
Tatkala mata menangis,
maka tangan menghapus bulir air mata yg jatuh luruh.
Kirim pesan ini ke seluruh dunia, dan ke seluruh sahabatmu.
Sebarkan jiwa damai dan bersahabat ke muka bumi,
bukan kibarkan peperangan dan pelihara sakit hati...
jangan biarkan dendam dan permusuhan kuasai hati.
Jangan harap balasan dan bukti nyata sebagai imbalannya
tatkala seluruh dunia menjauh,
bukan hampiri hanya jika sedang butuh.
Karena persahabatan bagai tangan dan mata.
Tatkala tangan terluka, mata menangis.
Tatkala mata menangis,
maka tangan menghapus bulir air mata yg jatuh luruh.
Kirim pesan ini ke seluruh dunia, dan ke seluruh sahabatmu.
Sebarkan jiwa damai dan bersahabat ke muka bumi,
bukan kibarkan peperangan dan pelihara sakit hati...
jangan biarkan dendam dan permusuhan kuasai hati.
Jangan harap balasan dan bukti nyata sebagai imbalannya
Kamis, 01 April 2010
Lady......
Sudah banyak info yg membahas mengenai wanita, menganalis, meninjau, melirik, menggugat, mengecam, mengajarkan kita tentang wanita. Pembahasan mengenai info tentang kedudukan wanita di tengah masyarakat juga berdasar tinjauan / ajaran agama, sosial, ekonomi, politik.
Wanita dapat menjadikan dirinya sundih, lentera jiwa bagi orang di sekelilingnya, mengembangkan kepribadian dengan meraih prestasi positif jadi teladan orang lain, menuntun keluarganya lalui cobaan dan tantangan yang sering membuat semakin terpuruk seolah tiada hentinya. Jika dia bertanya dalam diri, pada dirinya sendiri "Apa yg bisa kulakukan?, aku hanya gadis kecil, miskin, si buruk rupa, tiada daya dan tanpa jabatan apa pun..." Bukankah, kita adalah pejuang di jalan kita masing-masing? Tangis, jerit histeris, keluh kesah, caci maki, ancaman, resah gelisah, gundah gulana, takkan mampu mengubah semua menjadi semakin indah sekejab mata sesuai mimpi dan angan.
Seperti sebagaimana manusia pada umumnya, wanita juga miliki kebebasan sepenuhnya atas diri mereka sendiri, disamping tanggung jawab. Berkewajiban pada dirinya, pada keluarga, pada masyarakat dan pada Tuhan. Berhak dan berkewajiban atas jalannya kehidupan rumah tangga dan dan karyanya. Bagai dua bilah sisi yin dan yang, rwa bhinneda, baik dan buruk, benar dan salah, susah dan senang, akan selalu ada lingkupi sang wanita. Pepatah usang yang masih selalu tepat pada konteks kekinian bagi wanita, dan tiap orang dimuka bumi adalah : tiga hal yang takkan pernah dapat mereka beli atau dirampas dari mereka sendiri adalah Mind, Soul, and Love.....
Seperti yg tergambar pada http://vedasastra.wordpress.com :
Potensi seorang wanita dalam menghayati dan melaksanakan ritual keagamaan, membantu suami menjalankan bahtera kehidupan rumahtangga mereka. Wanita juga berhak mengembangkan potensi diri dan kedudukan yang seluasnya di tengah masyarakat.
Sang Ibunda Semesta bersabda kepada Indra, raja para deva, “Seorang pria hanyalah bisa dikatakan punyam (memiliki kebajikan rohani) apabila dia bebas dari segala kegiatan berdosa, secara teguh berpegang pada ajaran-ajaran Pustaka Suci, melaksanakan perbuatan yang tidak dikutuk oleh kaum wanita dan yang dapat menyenangkan hati mereka. Seorang yogi tidak boleh berbuat kesalahan kepada perempuan, baik dalam pikiran, melalui ucapan, maupun perbuatannya. Di manapun Aku berada, segala kesejatian (tattva) ada di sana. Di manapun Aku hadir, maka semua deva juga bersemayam di sana. Di manapun ada Aku, segala kebajikan ada di sana. Di manapun Aku bersemayam maka Krishna juga akan bertahta di tempat itu. Akulah prinsip kewanitaan yang meresapi segala-galanya di alam semesta ini dan yang bersemayam dalam diri setiap perempuan.
Dia yang bersalah pada kaum wanita, bersalah kepada-Ku, Lakshmi Sendiri, dan siapapun yang berdosa di hadapan Lakshmi, telah berdosa kepada seluruh alam semesta. Dia yang memiliki maksud-maksud jahat dan tidak terpuji kepada perempuan, sudah bersikap menghina dan merendahkan Aku Sendiri. Maka siapapun yang bermaksud jahat kepada-Ku, dia juga sudah berbuat kejahatan kepada seluruh alam semesta. Mereka yang Kukasihi adalah yang hatinya bergembira ketika melihat kaum wanita bagaikan kegembiraan melihat indahnya cahaya rembulan, yang tidak pernah pula memendam maupun mengembangkan pemikiran-pemikiran atau prasangka jahat terhadap mereka. Sebagaimana tidaklah ada noda dosa pada Narayana maupun pada Diri-Ku, wahai engkau Indra, tidak pula pada seekor sapi, seorang brahmana dan seorang yang terpelajar dalam Vedanta. Maka tidaklah ada kekotoran atau kesialan yang ada pada kaum perempuan. Inilah yang hendaknya engkau ketahui wahai Indra! Bagaikan Ganga, Sarasvati, dan juga Aruna, bebas dari segala ketidaksucian dan kejahatan, maka demikianlah halnya semua wanita harus dimuliakan sebagai yang tak ternoda.
Ketahuilah bahwa sejatinya Aku, Sang Ibunda bagi ketiga dunia, adalah dasar dari sifat kewanitaan, dan telah membuat kekuatan-Ku terwujud dalam diri kaum perempuan. Dengan demikian seorang wanita juga adalah ibu bagi ketiga alam, seorang dewi yang dipenuhi segala kelimpahan. Setelah memahami wanita adalah perwujudan-Ku secara langsung, bagaimana mungkin seorang yogi dapat menghindari penghormatan kepada mereka? Seseorang tidak boleh menyakiti wanita, bahkan tidak boleh berpikir sekalipun untuk menyakiti wanita. Seorang yogi yang sungguh-sungguh ingin mencapai kesempurnaan yoga, harus selalu berusaha bertindak di jalan yang direstui kaum perempuan. Dia harus memandang semua wanita sebagai ibunya, sebagai sang dewi, sebagai Diri-Ku Sendiri!”
Intinya : Dimuliakanlah wanita dan mereka yang memuliakan wanita (apalagi memuliakan seorang ibu), dan mereka juga harus memuliakan diri mereka dengan memuliakan Tuhan, hidup di jalan Tuhan ...
Wanita dapat menjadikan dirinya sundih, lentera jiwa bagi orang di sekelilingnya, mengembangkan kepribadian dengan meraih prestasi positif jadi teladan orang lain, menuntun keluarganya lalui cobaan dan tantangan yang sering membuat semakin terpuruk seolah tiada hentinya. Jika dia bertanya dalam diri, pada dirinya sendiri "Apa yg bisa kulakukan?, aku hanya gadis kecil, miskin, si buruk rupa, tiada daya dan tanpa jabatan apa pun..." Bukankah, kita adalah pejuang di jalan kita masing-masing? Tangis, jerit histeris, keluh kesah, caci maki, ancaman, resah gelisah, gundah gulana, takkan mampu mengubah semua menjadi semakin indah sekejab mata sesuai mimpi dan angan.
Seperti sebagaimana manusia pada umumnya, wanita juga miliki kebebasan sepenuhnya atas diri mereka sendiri, disamping tanggung jawab. Berkewajiban pada dirinya, pada keluarga, pada masyarakat dan pada Tuhan. Berhak dan berkewajiban atas jalannya kehidupan rumah tangga dan dan karyanya. Bagai dua bilah sisi yin dan yang, rwa bhinneda, baik dan buruk, benar dan salah, susah dan senang, akan selalu ada lingkupi sang wanita. Pepatah usang yang masih selalu tepat pada konteks kekinian bagi wanita, dan tiap orang dimuka bumi adalah : tiga hal yang takkan pernah dapat mereka beli atau dirampas dari mereka sendiri adalah Mind, Soul, and Love.....
Seperti yg tergambar pada http://vedasastra.wordpress.com :
Potensi seorang wanita dalam menghayati dan melaksanakan ritual keagamaan, membantu suami menjalankan bahtera kehidupan rumahtangga mereka. Wanita juga berhak mengembangkan potensi diri dan kedudukan yang seluasnya di tengah masyarakat.
Sang Ibunda Semesta bersabda kepada Indra, raja para deva, “Seorang pria hanyalah bisa dikatakan punyam (memiliki kebajikan rohani) apabila dia bebas dari segala kegiatan berdosa, secara teguh berpegang pada ajaran-ajaran Pustaka Suci, melaksanakan perbuatan yang tidak dikutuk oleh kaum wanita dan yang dapat menyenangkan hati mereka. Seorang yogi tidak boleh berbuat kesalahan kepada perempuan, baik dalam pikiran, melalui ucapan, maupun perbuatannya. Di manapun Aku berada, segala kesejatian (tattva) ada di sana. Di manapun Aku hadir, maka semua deva juga bersemayam di sana. Di manapun ada Aku, segala kebajikan ada di sana. Di manapun Aku bersemayam maka Krishna juga akan bertahta di tempat itu. Akulah prinsip kewanitaan yang meresapi segala-galanya di alam semesta ini dan yang bersemayam dalam diri setiap perempuan.
Dia yang bersalah pada kaum wanita, bersalah kepada-Ku, Lakshmi Sendiri, dan siapapun yang berdosa di hadapan Lakshmi, telah berdosa kepada seluruh alam semesta. Dia yang memiliki maksud-maksud jahat dan tidak terpuji kepada perempuan, sudah bersikap menghina dan merendahkan Aku Sendiri. Maka siapapun yang bermaksud jahat kepada-Ku, dia juga sudah berbuat kejahatan kepada seluruh alam semesta. Mereka yang Kukasihi adalah yang hatinya bergembira ketika melihat kaum wanita bagaikan kegembiraan melihat indahnya cahaya rembulan, yang tidak pernah pula memendam maupun mengembangkan pemikiran-pemikiran atau prasangka jahat terhadap mereka. Sebagaimana tidaklah ada noda dosa pada Narayana maupun pada Diri-Ku, wahai engkau Indra, tidak pula pada seekor sapi, seorang brahmana dan seorang yang terpelajar dalam Vedanta. Maka tidaklah ada kekotoran atau kesialan yang ada pada kaum perempuan. Inilah yang hendaknya engkau ketahui wahai Indra! Bagaikan Ganga, Sarasvati, dan juga Aruna, bebas dari segala ketidaksucian dan kejahatan, maka demikianlah halnya semua wanita harus dimuliakan sebagai yang tak ternoda.
Ketahuilah bahwa sejatinya Aku, Sang Ibunda bagi ketiga dunia, adalah dasar dari sifat kewanitaan, dan telah membuat kekuatan-Ku terwujud dalam diri kaum perempuan. Dengan demikian seorang wanita juga adalah ibu bagi ketiga alam, seorang dewi yang dipenuhi segala kelimpahan. Setelah memahami wanita adalah perwujudan-Ku secara langsung, bagaimana mungkin seorang yogi dapat menghindari penghormatan kepada mereka? Seseorang tidak boleh menyakiti wanita, bahkan tidak boleh berpikir sekalipun untuk menyakiti wanita. Seorang yogi yang sungguh-sungguh ingin mencapai kesempurnaan yoga, harus selalu berusaha bertindak di jalan yang direstui kaum perempuan. Dia harus memandang semua wanita sebagai ibunya, sebagai sang dewi, sebagai Diri-Ku Sendiri!”
Intinya : Dimuliakanlah wanita dan mereka yang memuliakan wanita (apalagi memuliakan seorang ibu), dan mereka juga harus memuliakan diri mereka dengan memuliakan Tuhan, hidup di jalan Tuhan ...
Langganan:
Postingan (Atom)
