Sabtu, 10 Juli 2010 pukul delapan pagi. Pesawat Lion Air, JT 011 dari Bali mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Aku turun dengan ransel di pundak dan satu tas kecil tersampir di leher. Kupilih satu bus jurusan Rawamangun. Tujuan kali ini adalah menemui kakak dan adik kandungku beserta keluarga. Tidak ada kepentingan khusus lain. Berkas usulan kepangkatan belum selesai dikoreksi oleh Prof. Anggan Suhandana, sehingga tidak mungkin mengunjungi kantor pusat, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, hanya berbekal tangan kosong belaka.
Sabtu 10 Juli 2010 ini sebenarnya adalah hari pertama bagi putra sulungku, Adi, mengikuti Masa Orientasi di SMAN I Denpasar, dan hari Senin 12 Juli 2010 adalah hari pertama putra bungsuku, Yudha, bersekolah. Namun walau ini adalah periode awal mereka bersekolah, niatku sudah mantap. Mereka harus mandiri mempersiapkan diri, juga pembelajaran bagi suamiku, jalani fase heboh bersama anak-anak. Saatnya Sang Emak berlibur, mengunjungi keluarga, menyelesaikan urusan keluarga, menyerahkan surat-surat dari keluarga di Kerambitan Tabanan, yang berkaitan dengan berbagai iuran adat, silsilah kawitan, dan lain-lain. Aku egois? Hmmm, kupikir tidak. Hanya suatu bentuk kecil melepaskan diri dari segala kemelekatan. Mereka harus belajar, bagaimana me manage diri bila aku tiada....
Lagipula, aku berhak dapatkan liburan, menikmati waktuku. Ehm.... Maafkan daku, suami dan anak-anakku.Suatu saat, kalian akan mengerti, bahwa tiap orang adalah pribadi yang unik dengan segala kepribadian dan kemampuan yang dimilikinya. Dan, aku buktikan, pernikahan, pekerjaan, persaudaraan, persahabatan, bisa se iring sejalan bersama, walau kadang dengan segala riak dan gejolak yang ada....
Selasa, 13 Juli 2010
Selasa, 06 Juli 2010
Terbangun pk. 3 dini hari dengan lolongan anjing...

Setelah aktivitas seharian yg melelahkan, ditambah dengan nikmat menulis di balik malam, tentu indah pula jika dapat merebahkan tubuh di peraduan sebelum pagi menjemput dengan se gudang rencana. Maka, pk. 00.30 kumatikan laptop tua milikku, dan berbaring di tengah, di antara para suami dan anakku, eeiiitttsss, maksudnya, para anak dan suamiku....
Pk. 3, ke lima ekor anjing milikku menggonggong keras, melolong, dan sangat jelas terasa, karena dinding tembok kamar tidur kami berisi jendela, dimana tepat di bawah jendela itu mereka mondar-mandir. Plus, para anjing para tetangga. Hmm, terjadilah, kehebohan luar biasa. Ini, pk. 3 pagi, dimana orang sedang terlelap dalam mimpi mereka. Suamiku terjaga, dan mengintip dari balik layar jendela. Tidak ada yg terlihat. Kuintip pula, tidak ada gerakan apapun. Kami keluar ke tengah halaman, mengintip sekeliling, tidak terlihat apapun, namun, se onggok kotoran hitam di tengah jalan perumahan meyakinkanku, bahwa seekor sapi baru saja buang hajat di situ.
Sapi??!! di tengah perumahan elit ini??!
Hmm, impossible banget dah.
Pertama, perumahan ini bukan perumahan elit. Kedua, sapi berkeliaran di tengah perumahan? wah wah... seumur-umur belum pernah terjadi. Maka, kuberanikan diri membuka gerbang pagar, berjalan menyusuri jalan perumahan sendiri di pagi buta. Kulihat di ujung jalan, dua ekor anak sapi menatapku balik. Kuhampiri perlahan, kuelus dahinya, aaahhhh, ini nyata, mereka ada di sini. Kuusir perlahan ke arah jalan masuk perumahan. Dingin angin malam membelai wajah dan tubuh. Satu blok kulewati, masih ada tiga blok lagi sebelum tiba di jalan masuk menuju perumahan. Tidak ada satupun tetangga yang keluar atau menghidupkan lampu mereka. Berarti, mereka lelap dalam tidur masing-masing. Tiba di jalan masuk menuju perumahan, kupikir, sudah cukup menggiring anak-anak sapi ini, dan kutinggalkan mereka di sana. Semoga pemiliknya menyadari dan berhasil menemukan anak-anak sapi ini. Dan, aku berbalik kembali, menuju rumah. Saat kemudian ku berbalik untuk memastikan mereka meneruskan perjalanan, tak kulihat satupun anak sapi itu. Mereka menghilang tepat di depan pandanganku.
Hmmm. Takut? Tidak juga. Cuma, aneh saja. Aarrgghhh, entah lah, apa pun itu.... niatku baik, ingin menghantar mereka kembali pada arah tujuannya semula. Kupanjatkan doa pada Ida Sang Hyang Widhi, Bethare Wisnu, Siwa dan Brahma, semoga anak-anak sapi itu baik-baik saja dan berhasil temukan jalan pulang. Aku segera berjalan pulang. Anak dan suami menunggu dengan penuh tanya di dalam halaman rumah.
Rafting di Sungai Ayung bersama Bali Fantasia Rafting 4 Juli 2010

Keluargaku, adalah segalanya dalam hidupku. Ehm, masih ada lagi yg lainnya... Para keluarga besarku, sahabatku, tetanggaku, dan semua yg lainnya dah... Kucintai mereka semua yang ada dan mewarnai kehidupanku. Semua, segalanya, baik susah dan senang, baik dan buruk, lebih maupun kurang, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, jauh maupun dekat. Tiap hari adalah istimewa bagiku, sama istimewanya seperti saat kuanggap tiap hari adalah biasa saja...
Tak kuperlakukan anak2ku istimewa, baik saat mereka berhasil meraih sebuah prestasi, maupun saat mereka terpuruk dan lakukan kegagalan berkali dan berkali....
Namun, Sabtu 3 Juli 2010, kuterima telpon dari Wayan Sudaarsana. Adik dari suami kakakku yang bekerja di Bandara ini menghubungi via telepon genggam dan mengatakan dia masih memiliki voucher Rafting dua buah. "Ah ha...". Kutawarkan pada anak-anak dan suami. Namun suami enggan ikut. Sementara anak-anak sangat antusias dalam menghadapi sesuatu hal yang baru dan menantang. Ya, mereka dapatkan jiwa ranger, petualang, dari garis keluargaku, dan kuajarkan mereka sejak dini untuk tidak takut memulai hal baru. Suamiku, adalah tipe pria rumahan, kutu buku, merawat seisi kebun dengan baik.
Minggu, 4 Juli 2010, pukul 6 pagi kami sudah bergegas. Kupersiapkan 10 nasi ber bungkus daun pisang seharga 3000 rupiah ke dalam tas. Juga berbagai jenis jajan pasar yang kubeli untuk bekal perjalanan kami. Kumasukkan 3 stel pakaian ganti kedalam tas ransel yang akan kami bawa serta. Selesai bersembahyang sejenak di penunggun karang, kukeluarkan Yamaha MZ, dan kami meluncur segera menembus udara dingin pagi hari. Kali ini menuju Gang Medori, Banjar Sasih, di Desa Batubulan.
Tiba disana, ada Krisna dan Yoga, anak Wayan Suda, juga istrinya yang cantik. Kami masih menunggu kehadiran Eko, Ketut Ayu, Surya, dan tunangannya, Wiwin yang anak Fak.Hukum Unud, serta satu lagi ponakan Wayan Suda, yang sedang praktek Kebidanan di RS Sanglah. Pukul 9.30, rombongan kami bergerak menuju Petang. Menurut rencana, kami akan melakukan travelling menyusuri sungai Ayung yang terletak di perbatasan Desa Petang dan Payangan, bersama Travel Agent Bali Fantasia Rafting.
Tiba di perempatan pasar Petang, rombongan kami yang berada di dalam kendaraan APV berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan pedesaan beraspal, kami tiba di sebuah rumah kantor, Bali Fantasia Rafting dimiliki oleh investor berasal dari Korea. Ada kira-kira 20 an guide yang terdiri dari orang lokal, bahkan, ada yang telah bergabung semenjak 8 tahun lalu. Para guide nya di bayar hanya Rp 150.000 per bulan, plus 30.000 uang makan, plus 30.000 lagi uang transport. Tanpa askes. Jika mereka menolak, mereka bisa diberhentikan, karena perusahaan juga hanya mampu bayar se demikian. Lalu, dari mana mereka mendapatkan uang lebih? Tentu dari para pengunjung dan pengguna jasa mereka. Kebanyakan adalah wisatawan asing, termasuk khususnya wisatawan Korea, Amerika, Australia, Eropa, dan lain lain.... Dalam satu hari, mereka terkadang sanggup melakukan 2 kali trip / perjalanan dalam menghandle wisatawan yang gunakan jasa mereka.
Kami semua kemudian mengenakan pelampung dan helm pengaman, memegang dayung, dan menuruni jalan setapak. Hmm, bukan hal sulit bagi ke dua anakku yang sudah terbiasa berjalan jauh di kampung, menyusuri anak tangga berbatu berjumlah lebih dari 300 an ini. Lalu akhirnya kami harus menuruni anak tangga melingkar dari besi untuk tiba pada sebuah air terjun besar nan indah. Gemericik airnya terasa menyentuh, membelai wajah, dingin dalam dekapan udara.
Kami memasuki ke tiga perahu rafting berbahan karet. Masing-masing tiga penumpang dengan seorang guidenya. Dan, aku bersama kedua anakku mendapatkan Pak Agung, bagi guide kami. Bapak dari tiga orang anak yang masih kecil ini memberikan arahan mengenai hal yang harus kami patuhi selama perjalanan. selalu berpegang pada tali, mengayuh sesuai aba-aba guide, tidak berpegang pada dinding tebing dengan gunakan tangan, dan lain sebagainya. Hmmm, anakku sangat antusias mengikuti perjalanan ini. Adi mengayuh dengan sekuat tenaga, bergerak dari tepi kiri lalu ke kanan, menggerakkan tongkat kayuhnya se irama. Yudha berpegang erat pada tali baju pelampung kakaknya, ikut se sekali mengeluarkan teriakan senang, melihat pemandangan indah di sekeliling kami.
Sungguh, sebuah pemandangan menakjubkan atas segala yang masih boleh kami nikmati, tebing tinggi menjulang, berisi tanaman ribuan rupa, dari berpuluh jenis bambu, pakis raksasa, sengon, hingga kumpulan kelelawar yang membuat sarang di beberapa lokasi di pinggir tebing menjulang tinggi. Belum lagi, beberapa air terjun yang kami lewati, berkali berhenti untuk mengambil foto dan istirahat sejenak, hingga anggota rombongan asyik bermain sliding / seluncuran dari bebatuan yang menonjol di atas air sungai. Berkali tergelincir hingga hasilkan lebam di siku tangan dan kaki tidak terasa karena kenikmatan yang kami peroleh. Entah kapan lagi akan dapat lakukan hal ini bersama, meluangkan waktu bersama anak-anakku yang beranjak remaja....
Akhirnya, kami tiba di penghujung perjalanan.... seluruh anggota rombongan keluar dari perahu, menaiki anak tangga bebatuan kembali, berjumlah ratusan pula, hingga tiba di sebuah rumah terbuka, tempat kami bisa mandi dan mengganti pakaian pada se deretan kamar mandi, lalu menikmati makan siang dengan ikan teri berbumbu asam manis, nasi goreng, mie goreng, dan ayam saus tomat.
Pukul tiga sore, kami akhiri petualangan hari ini....... Dan, selamat datang petualangan-petualangan lain lagi. Adrenalin, enthusiasm, motivation, potentiallity, personallity, semua campur baur jadi satu.
Rafting di Sungai Ayung bersama Bali Fantasia Rafting 4 Juli 2010
Keluargaku, adalah segalanya dalam hidupku. Ehm, masih ada lagi yg lainnya... Para keluarga besarku, sahabatku, tetanggaku, dan semua yg lainnya dah... Kucintai mereka semua yang ada dan mewarnai kehidupanku. Semua, segalanya, baik susah dan senang, baik dan buruk, lebih maupun kurang, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, jauh maupun dekat. Tiap hari adalah istimewa bagiku, sama istimewanya seperti saat kuanggap tiap hari adalah biasa saja...
Tak kuperlakukan anak2ku istimewa, baik saat mereka berhasil meraih sebuah prestasi, maupun saat mereka terpuruk dan lakukan kegagalan berkali dan berkali....
Namun, Sabtu 3 Juli 2010, kuterima telpon dari Wayan Sudaarsana. Adik dari suami kakakku yang bekerja di Bandara ini menghubungi via telepon genggam dan mengatakan dia masih memiliki voucher Rafting dua buah. "Ah ha...". Kutawarkan pada anak-anak dan suami. Namun suami enggan ikut. Sementara anak-anak sangat antusias dalam menghadapi sesuatu hal yang baru dan menantang. Ya, mereka dapatkan jiwa ranger, petualang, dari garis keluargaku, dan kuajarkan mereka sejak dini untuk tidak takut memulai hal baru. Suamiku, adalah tipe pria rumahan, kutu buku, merawat seisi kebun dengan baik.
Minggu, 4 Juli 2010, pukul 6 pagi kami sudah bergegas. Kupersiapkan 10 nasi ber bungkus daun pisang seharga 3000 rupiah ke dalam tas. Juga berbagai jenis jajan pasar yang kubeli untuk bekal perjalanan kami. Kumasukkan 3 stel pakaian ganti kedalam tas ransel yang akan kami bawa serta. Selesai bersembahyang sejenak di penunggun karang, kukeluarkan Yamaha MZ, dan kami meluncur segera menembus udara dingin pagi hari. Kali ini menuju Gang Medori, Banjar Sasih, di Desa Batubulan.
Tiba disana, ada Krisna dan Yoga, anak Wayan Suda, juga istrinya yang cantik. Kami masih menunggu kehadiran Eko, Ketut Ayu, Surya, dan tunangannya, Wiwin yang anak Fak.Hukum Unud, serta satu lagi ponakan Wayan Suda, yang sedang praktek Kebidanan di RS Sanglah. Pukul 9.30, rombongan kami bergerak menuju Petang. Menurut rencana, kami akan melakukan travelling menyusuri sungai Ayung yang terletak di perbatasan Desa Petang dan Payangan, bersama Travel Agent Bali Fantasia Rafting.
Tiba di perempatan pasar Petang, rombongan kami yang berada di dalam kendaraan APV berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan pedesaan beraspal, kami tiba di sebuah rumah kantor, Bali Fantasia Rafting dimiliki oleh investor berasal dari Korea. Ada kira-kira 20 an guide yang terdiri dari orang lokal, bahkan, ada yang telah bergabung semenjak 8 tahun lalu. Para guide nya di bayar hanya Rp 150.000 per bulan, plus 30.000 uang makan, plus 30.000 lagi uang transport. Tanpa askes. Jika mereka menolak, mereka bisa diberhentikan, karena perusahaan juga hanya mampu bayar se demikian. Lalu, dari mana mereka mendapatkan uang lebih? Tentu dari para pengunjung dan pengguna jasa mereka. Kebanyakan adalah wisatawan asing, termasuk khususnya wisatawan Korea, Amerika, Australia, Eropa, dan lain lain.... Dalam satu hari, mereka terkadang sanggup melakukan 2 kali trip / perjalanan dalam menghandle wisatawan yang gunakan jasa mereka.
Kami semua kemudian mengenakan pelampung dan helm pengaman, memegang dayung, dan menuruni jalan setapak. Hmm, bukan hal sulit bagi ke dua anakku yang sudah terbiasa berjalan jauh di kampung, menyusuri anak tangga berbatu berjumlah lebih dari 300 an ini. Lalu akhirnya kami harus menuruni anak tangga melingkar dari besi untuk tiba pada sebuah air terjun besar nan indah. Gemericik airnya terasa menyentuh, membelai wajah, dingin dalam dekapan udara.
Kami memasuki ke tiga perahu rafting berbahan karet. Masing-masing tiga penumpang dengan seorang guidenya. Dan, aku bersama kedua anakku mendapatkan Pak Agung, bagi guide kami. Bapak dari tiga orang anak yang masih kecil ini memberikan arahan mengenai hal yang harus kami patuhi selama perjalanan. selalu berpegang pada tali, mengayuh sesuai aba-aba guide, tidak berpegang pada dinding tebing dengan gunakan tangan, dan lain sebagainya. Hmmm, anakku sangat antusias mengikuti perjalanan ini. Adi mengayuh dengan sekuat tenaga, bergerak dari tepi kiri lalu ke kanan, menggerakkan tongkat kayuhnya se irama. Yudha berpegang erat pada tali baju pelampung kakaknya, ikut se sekali mengeluarkan teriakan senang, melihat pemandangan indah di sekeliling kami.
Sungguh, sebuah pemandangan menakjubkan atas segala yang masih boleh kami nikmati, tebing tinggi menjulang, berisi tanaman ribuan rupa, dari berpuluh jenis bambu, pakis raksasa, sengon, hingga kumpulan kelelawar yang membuat sarang di beberapa lokasi di pinggir tebing menjulang tinggi. Belum lagi, beberapa air terjun yang kami lewati, berkali berhenti untuk mengambil foto dan istirahat sejenak, hingga anggota rombongan asyik bermain sliding / seluncuran dari bebatuan yang menonjol di atas air sungai. Berkali tergelincir hingga hasilkan lebam di siku tangan dan kaki tidak terasa karena kenikmatan yang kami peroleh. Entah kapan lagi akan dapat lakukan hal ini bersama, meluangkan waktu bersama anak-anakku yang beranjak remaja....
Akhirnya, kami tiba di penghujung perjalanan.... seluruh anggota rombongan keluar dari perahu, menaiki anak tangga bebatuan kembali, berjumlah ratusan pula, hingga tiba di sebuah rumah terbuka, tempat kami bisa mandi dan mengganti pakaian pada se deretan kamar mandi, lalu menikmati makan siang dengan ikan teri berbumbu asam manis, nasi goreng, mie goreng, dan ayam saus tomat.
Pukul tiga sore, kami akhiri petualangan hari ini....... Dan, selamat datang petualangan-petualangan lain lagi. Adrenalin, enthusiasm, motivation, potentiallity, personallity, semua campur baur jadi satu.
Tak kuperlakukan anak2ku istimewa, baik saat mereka berhasil meraih sebuah prestasi, maupun saat mereka terpuruk dan lakukan kegagalan berkali dan berkali....
Namun, Sabtu 3 Juli 2010, kuterima telpon dari Wayan Sudaarsana. Adik dari suami kakakku yang bekerja di Bandara ini menghubungi via telepon genggam dan mengatakan dia masih memiliki voucher Rafting dua buah. "Ah ha...". Kutawarkan pada anak-anak dan suami. Namun suami enggan ikut. Sementara anak-anak sangat antusias dalam menghadapi sesuatu hal yang baru dan menantang. Ya, mereka dapatkan jiwa ranger, petualang, dari garis keluargaku, dan kuajarkan mereka sejak dini untuk tidak takut memulai hal baru. Suamiku, adalah tipe pria rumahan, kutu buku, merawat seisi kebun dengan baik.
Minggu, 4 Juli 2010, pukul 6 pagi kami sudah bergegas. Kupersiapkan 10 nasi ber bungkus daun pisang seharga 3000 rupiah ke dalam tas. Juga berbagai jenis jajan pasar yang kubeli untuk bekal perjalanan kami. Kumasukkan 3 stel pakaian ganti kedalam tas ransel yang akan kami bawa serta. Selesai bersembahyang sejenak di penunggun karang, kukeluarkan Yamaha MZ, dan kami meluncur segera menembus udara dingin pagi hari. Kali ini menuju Gang Medori, Banjar Sasih, di Desa Batubulan.
Tiba disana, ada Krisna dan Yoga, anak Wayan Suda, juga istrinya yang cantik. Kami masih menunggu kehadiran Eko, Ketut Ayu, Surya, dan tunangannya, Wiwin yang anak Fak.Hukum Unud, serta satu lagi ponakan Wayan Suda, yang sedang praktek Kebidanan di RS Sanglah. Pukul 9.30, rombongan kami bergerak menuju Petang. Menurut rencana, kami akan melakukan travelling menyusuri sungai Ayung yang terletak di perbatasan Desa Petang dan Payangan, bersama Travel Agent Bali Fantasia Rafting.
Tiba di perempatan pasar Petang, rombongan kami yang berada di dalam kendaraan APV berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan pedesaan beraspal, kami tiba di sebuah rumah kantor, Bali Fantasia Rafting dimiliki oleh investor berasal dari Korea. Ada kira-kira 20 an guide yang terdiri dari orang lokal, bahkan, ada yang telah bergabung semenjak 8 tahun lalu. Para guide nya di bayar hanya Rp 150.000 per bulan, plus 30.000 uang makan, plus 30.000 lagi uang transport. Tanpa askes. Jika mereka menolak, mereka bisa diberhentikan, karena perusahaan juga hanya mampu bayar se demikian. Lalu, dari mana mereka mendapatkan uang lebih? Tentu dari para pengunjung dan pengguna jasa mereka. Kebanyakan adalah wisatawan asing, termasuk khususnya wisatawan Korea, Amerika, Australia, Eropa, dan lain lain.... Dalam satu hari, mereka terkadang sanggup melakukan 2 kali trip / perjalanan dalam menghandle wisatawan yang gunakan jasa mereka.
Kami semua kemudian mengenakan pelampung dan helm pengaman, memegang dayung, dan menuruni jalan setapak. Hmm, bukan hal sulit bagi ke dua anakku yang sudah terbiasa berjalan jauh di kampung, menyusuri anak tangga berbatu berjumlah lebih dari 300 an ini. Lalu akhirnya kami harus menuruni anak tangga melingkar dari besi untuk tiba pada sebuah air terjun besar nan indah. Gemericik airnya terasa menyentuh, membelai wajah, dingin dalam dekapan udara.
Kami memasuki ke tiga perahu rafting berbahan karet. Masing-masing tiga penumpang dengan seorang guidenya. Dan, aku bersama kedua anakku mendapatkan Pak Agung, bagi guide kami. Bapak dari tiga orang anak yang masih kecil ini memberikan arahan mengenai hal yang harus kami patuhi selama perjalanan. selalu berpegang pada tali, mengayuh sesuai aba-aba guide, tidak berpegang pada dinding tebing dengan gunakan tangan, dan lain sebagainya. Hmmm, anakku sangat antusias mengikuti perjalanan ini. Adi mengayuh dengan sekuat tenaga, bergerak dari tepi kiri lalu ke kanan, menggerakkan tongkat kayuhnya se irama. Yudha berpegang erat pada tali baju pelampung kakaknya, ikut se sekali mengeluarkan teriakan senang, melihat pemandangan indah di sekeliling kami.
Sungguh, sebuah pemandangan menakjubkan atas segala yang masih boleh kami nikmati, tebing tinggi menjulang, berisi tanaman ribuan rupa, dari berpuluh jenis bambu, pakis raksasa, sengon, hingga kumpulan kelelawar yang membuat sarang di beberapa lokasi di pinggir tebing menjulang tinggi. Belum lagi, beberapa air terjun yang kami lewati, berkali berhenti untuk mengambil foto dan istirahat sejenak, hingga anggota rombongan asyik bermain sliding / seluncuran dari bebatuan yang menonjol di atas air sungai. Berkali tergelincir hingga hasilkan lebam di siku tangan dan kaki tidak terasa karena kenikmatan yang kami peroleh. Entah kapan lagi akan dapat lakukan hal ini bersama, meluangkan waktu bersama anak-anakku yang beranjak remaja....
Akhirnya, kami tiba di penghujung perjalanan.... seluruh anggota rombongan keluar dari perahu, menaiki anak tangga bebatuan kembali, berjumlah ratusan pula, hingga tiba di sebuah rumah terbuka, tempat kami bisa mandi dan mengganti pakaian pada se deretan kamar mandi, lalu menikmati makan siang dengan ikan teri berbumbu asam manis, nasi goreng, mie goreng, dan ayam saus tomat.
Pukul tiga sore, kami akhiri petualangan hari ini....... Dan, selamat datang petualangan-petualangan lain lagi. Adrenalin, enthusiasm, motivation, potentiallity, personallity, semua campur baur jadi satu.
Senin, 05 Juli 2010
The Man Rules, by Arshad Sani My Friends....
At last a guy has taken the time to write this all down.
Finally, the guys' side of the story (I must admit, it's pretty good).
We always hear 'the rules' from the female side ..
Now here are the rules from the male side.
These are our rules!
Please note.. these are all numbered "1" ON PURPOSE!
1. Men are NOT mind readers.
1. Learn to work the toilet seat.
You're a big girl. If it's up, put it down.
We need it up, you need it down.
You don't hear us complaining about you leaving it down.
1. Sunday is for Sports!
It's like the full moon or the changing of the tides. Let it be.
1. Crying is blackmail.
1. Ask for what you want.
Let us be clear on this one:
Subtle hints do not work!
Strong hints do not work!
Obvious hints do not work!
Just say it!
1. Yes and No are perfectly acceptable answers to almost every question.
1. Come to us with a problem only if you want help solving it. That's what we do.
Sympathy is what your girlfriends are for.
1. Anything we said 6 months ago is inadmissible in an argument.
In fact, all comments become Null and Void after 7 Days.
1. If you think you're fat, you probably are.
Don't ask us.
1. If something we said can be interpreted two ways
and one of the ways makes you sad or angry,
we meant the other one
1. You can either ask us to do something OR tell us how you want it done.
Not both. If you already know best how to do it, just do it yourself.
1. Whenever possible, PLEASE say whatever you have to say during commercials.
1. Christopher Columbus did NOT need directions and neither do we.
1. ALL men see in only 16 colors, like Windows default settings.
Peach, for example, is a fruit, not A color.
Pumpkin is also a fruit.
We have no idea what mauve is.
1. If it itches, it will be scratched..
We do that.
1. If we ask what is wrong and you say "nothing", we will act like nothing's wrong.
We know you are lying, but it is just not worth the hassle.
1. If you ask a question you don't want an answer to, expect an answer you don't want to hear.
1. When we have to go somewhere, absolutely anything you wear is fine... REALLY!
1. Don't ask us what we're thinking about unless you are prepared to discuss such topics as baseball or motor sports.
1. You have enough clothes.
1. You have too many shoes.
1. I am in shape. Round IS a shape!
Thank you for reading this.
Yes, I know, I have to sleep on the couch tonight;
But did you know men really don't mind that? It's like camping.
Pass this to as many men as you can - to give them a laugh!
Pass this to as many women as you can - to give them an even bigger laugh.
what do you think of this? AGREED OR DISAGREE?
I thought this was friggen hilarious.......how about you
Jumat, 02 Juli 2010
True Love will live forever and ever....
Kamis, 01 Juli 2010
Adi Anakku Sayang...

Kamis, 1 Juli 2010. Anakku berulang tahun ke 14. Ia lahir tepat di hari Bhayangkara. Dan kini dia telah duduk di bangku SMAN I Denpasar kelas satu. Kini dia bersama adiknya yang masih duduk di bangku SD klas 3 masih dalam suasana berlibur sebelum disibukkan oleh berbagai aktivitas sekolah. Terkadang bermain ke rumah pamannya atau pulang ke kampung bersama suamiku. Terkadang pula, kedua anakku ini menyusun rencana aktivitas mereka seharian secara bersama berdua saja, mulai dari bermain futsal, berenang bersama, belajar, berantem, bersembahyang, bermain sepakbola dihalaman hingga semua tanaman porak poranda.
Dan, apa yang dilakukannya di hari ulangtahunnya? Dia berjalan dari satu pintu ke pintu lain rumah temannya, dia menawarkan baju hasil rancangannya. Yeah... Dia senang merancang desain. Desain grafis. Dan, sudah cukup banyak rancangan gambar yang dihasilkannya. Kini, dia mencoba memulai mengembangkan sebuah usaha. Ehm...
Dengan bangganya dia menyusun tumpukan uang ribuan secara perlahan, dihitung berkali dan berkali, ditimpali goda adik dan bapaknya hingga dia salah menghitung berkali dan berkali. "Laku dua puluh, ma" katanya bangga. Jadi ingat masa dia duduk di bangku SD, berjualan gelang dan kalung dari manik-manik. Dengan modal 50.000, dia mampu berjualan hingga memperoleh uang 10.000. Sisa gelang dan kalung kusuruh bagi habis pada teman-teman yang juga anak tetangga. Intinya, bukan terletak pada untung rugi, namun, aplikasi ilmu manajemen pada anak sejak dini, sekaligus, mengajarkan rasa tidak malu untuk berjuang dan jalankan usaha apapun dengan bekerja keras...
Kami bukan keluarga yang terbiasa merayakan atau memperingati sebuah hari. Bagiku sendiri, tiap hari adalah istimewa, sama istimewanya dengan hari lain. Demian pula, tiap hari adalah sama biasanya. Masih banyak hal yang masih membutuhkan konsentrasi dan perjuangan untuk menjadi semakin baik dan baik lagi.
Bagi keluargaku, kedua anakku, dan, khusus bagi Adi. Selamat ulang tahun, nak. Tumbuhlah terus.... kejarlah impian dan harapan di masa depan, kembangkan kepak sayapmu membentang menjulang membelah angkasa. Jangan takut dan ragu walau gundah dan jatuh berkali dan berkali.... Tidak kujanjikan bahwa hidup indah dan bakal mudah bagimu, namun, jadilah pria dewasa dan bijak, bertanggungjawab atas pilihan jalan hidupmu kelak....
Langganan:
Postingan (Atom)
