Rabu, 08 September 2010
Being Present to Someone
But that does not make us lonely.
It is not a matter of being present with someone.
Idul Fitri 1431 Hijriah
Selasa, 07 September 2010
Morning Crazy Again and Again....
Setelah minggu lalu mempersiapkan segala perlengkapan seluruh anak-anak, peralatan sekolahku, tugas2 bagi para mahasiswa D IV MKH, D IV ADH, maka aku yakin bahwa semua akan siap sempurna....Pagi ini, Senin 6 September 2010, adalah jadwal kuliah bagi para Karyasiswa S3 Program Pasca Sarjana Program Studi Kajian Budaya yang akan diberikan oleh Prof. Dr. I Nengah Bawa Atmaja, MA, salah satu pengajar favoritku. Dia pintar, ramah, lugas dalam menyampaikan materi mengenai Cultural Studies. Dan... aku tidak ingin tertinggal dalam mengikuti topik yang disampaikannya.
Terbangun pk. 5 pagi, aku memulai ritual di pagi hari. Bersyukur pada Sang Hyang Widhi, mempersiapkan sarapan bagi anggota keluarga, dan mandi sambil mencuci dua ember pakaian. Simbok melanjutkan memasak untuk makan siang keluarga. Si sulung berangkat sekolah, sementara si bungsu akan berangkat siang hari nanti. Suami sejak pagi menghadapi masalah dengan printernya, dimintai bantuan oleh sahabatnya untuk menyelesaikan urusan kepangkatan dan berbagai kelengkapan administrasi lainnya.
Dan... si bungsu mulai merayu untuk minta diantar ke tempat lesnya di rumah ibu guru SD 3 Padang Sambian Kelod. Hmmm. Lanjut pula, iparku yang cantik dan tidak bisa mengendarai motor, minta bantuan untuk diantar ke bank, sebelum dia berangkat kerja di sebuah restoran di jalan Pattimura. Oooohhhh. Sungguh sebuah cobaan di pagi hari.
Maka, kuangkut anak dan sang ipar. Mengantar anak les, lalu mengantar ipar ke bank, dan ke tempat kerjanya... Dan, memunculkan diri di hadapan pengajarku, 30 menit terlambat hadir dan memasang wajah memelas.... "Maaf Prof., saya terlambat, masih boleh gabung mengikuti perkuliahan? Ada trouble sedikit, tadi".
Ah hahahaha..... sungguh sebuah perjuangan hidup. Morning crazy, crazy at the morning time. Belajar sepanjang kehidupan... Kita akan selalu belajar, entah dari berbagai sumber. Dalam bangku pendidikan di jalur formal, informal, dari orang lain, bahkan yang tidak kita kenal sekalipun, dari media massa, dari internet, dari lingkungan sekitar kita, dari alam. Cobaan dan rintangan, tidak akan pernah hentikan jalan kehidupan, seleksi akan selalu terjadi dari berbagai sisi. Mungkin saja terjatuh dan terjatuh kembali. Namun, inilah hidup, suka atau tidak, kita semua ada dalam sebuah sistem yang menjadi bagian dari aspek kehidupan itu sendiri.
Astungkara, Sang Hyang Widhi.... atas segala yang masih boleh kumiliki dan kualami hingga kini, jadi bagian dari bukti kebesaran Mu.....
Bu Tri....

Selasa siang pukul 11.00, 7 September 2010, setelah mengikuti kuliah Metodologi Penelitian oleh Prof Aron Meko Mbete, lanjut dengan kuliah Etnisitas, Pluralisme dan Multikulturalisme oleh Prof. Dr. I Gde Semadi Astra, seorang sahabat kantorku mengirim short messaging service. "Saya tidak bisa se tegar ibu saat ini, saya gagal dalam ujian serdos....". Dan, ibu cantik ini mulai menangis....
Hmmm....
Se pagi ini, aku sudah berbasah kuyup karena hujan, hingga mengikuti perkuliahan dengan baju basah, kepala pusing, perut lapar karena belum makan dari kemarin, dan, waktu rehat masih lama... Masih harus ke bank untuk mengurus rekening ipar, dan lanjut ke Nusa Dua untuk mengajar kelas Ekstensi di sore hari, dan... pukul 7 malam kerja sosial dengan jadi guru Paket Kejar C.
Aaahhhh. Bu Tri, sahabatku. Kegagalan dalam jalani hidup dan kehidupan, alami rintangan bertubi-tubi hingga stres dan frustrasi melanda, hingga luruh dalam tangisan, jerit histeris, muntah darah sekalipun, tidak akan sanggup mengubah jalan kehidupan dan jejak langkah kita. Kebahagiaan, kesuksesan dan kepuasan tidak datang dengan sendirinya. Merenungi nasib takkan mampu mengubah diri kita hanya dalam sekejap. Diam dan berpangku tangan takkan mampu selesaikan problem kita, ibu cantik!!!
Semangat.... maju lah terus, buktikan semangat yang hadir dan mengalir dalam diri kita....
Sabtu, 04 September 2010
Laughing....
Jumat, 03 September 2010
Deutsch, oowwwhhh, Deutsch....

Setelah jum'at lalu tidak bisa ikut kursus Bahasa Jerman gratis yang diadakan di STPNDB karena aktivitas yang kuikuti, baik Gerakan Bersih Pantai di awal pagi hari, dilanjutkan dengan Ujian Sidang bagi mahasiswa semester akhir, maka kuputuskan untuk bergabung kali ini.
Kursus diselenggarakan setiap hari Jum'at, pukul 10.00 hingga selesai, di ruang Rebab blok B, nomer ruang 101. Hmm, bersiap berangkat. Masih sempat kuselesaikan mengecek sekali lagi skripsi Anggita, dan menandatanganinya agar siap diujikan bulan September ini juga.
Ada beberapa sahabat yang sudah duduk dengan rapi di dalam ruang kelas tersebut. Pak Ketut Nada, dari bagian Maintenance, memang orang yang paling aktif untuk belajar dalam berbagai hal. Bapak yg terkenal serba bisa dan selalu ingin mencoba berusaha. Ada ibu SEK, bu IRN, bu Lily, dll
Hmm, semangat kami untuk selalu belajar, mengisi diri. Gak akan berhenti hingga disini. Walau terkadang, Herr Werner Gulba harus ekstra sabar, mengajar kami yg datang dari berbagai latar belakang. Ah hahaha..... Danke, Danke...
Kamis, 02 September 2010
I Saw God at Him (Kulihat Kasih Tuhan Ada Padanya)
Kamis, 2 Sept 2010. Setelah seharian aktivitas melelahkan, dari kampus Pasca UNUD, mengambil jadwal kuliah, melacak dosen Pembimbing Akademik, lalu bergerak ke Nusa Dua. Pergi ke Gudang kantor, menyelesaikan pesanan dan menggotong barang pesanan Puket IV, dan Bos cantikku, di PPM, mengetik laporan data, dan ke kelas, mengajar Psychology of Service. Pukul 5 sore aku pulang. Berbarengan dengan ibu Sekarti yang juga mengendarai motor....Di dekat Simpang Siur, kulihat seorang bapak mengendarai sepeda gayungnya, sambil mendekap anaknya yang tertidur lelap dalam gendongan kain tersampir di bahu. Dia meliukkan sepeda gayung, menghindari mobil dan motor yang berlalu lalang... Hmm, berkali berusaha ku kejar... akhirnya, sampai juga menjelang dia berbelok ke arah gang sempit menuju Kuta. "Saya mengajak anak saya, yang tidak mau ditinggal bersama ibunya di rumah". Demikian ujarnya...
Ah...
kasih sayang seorang ayah... mencari nafkah demi keluarga, sekaligus sambil mengasuh anaknya. Hmm, mengingatkan pada kedua orangtuaku.... Hu hu hu.... Kangen Bapak dan Emakku....
Langganan:
Postingan (Atom)



