Kamis, 11 November 2010

Me, My Self


I am a woman, a worker, a wife, and a mother.

When you do something in life, have complete faith that you will definitely succeed. Never do anything half-minded. If you are taking up a new venture, don't fear that you may not succeed. That internal fear will reduce your chances to half.

It applies not only to your career matters, but also to your personal matters.

If you love someone, don't fear that the other person may not accept your love. Have complete faith that you will succeed. Believe in your love. Face whatever obstacles come across your way. Sometimes it may seem to be lost. But have the same faith. The other person will surely realize your love. May be, it may take sometime. Finally, your faith will definitely give you all that you want. If not, it will at least give you the mental strength to face any obstacles in life or it will give you the courage to overcome your failure.

Not only love, even in friendship, same thing applies. If your friend doesn't understand you, don't turn panic. Don't blame them for being a wrong friend to you. Sometimes, mistakes do happen between friends. If you can't wait patiently, you will lose them completely. Probably, you may never be able to get them back. So, never blame them, whatever they do. Keep the same faith in your friendship. The other person may take sometime to realize how much you care for them, how much you love them. But finally, your faith will get them back to you.

If you don't try anything with complete faith, you will surely lose it. And after some time in life, you may have to regret that you lost it only because you haven't tried hard. Don't let such situation come to you. If you try with all your faith, strength and will, you will succeed. Incase you don't get success, you need not regret. Because you tried your best and the result is beyond your reach. But there is no fault of yours.

FAITH is a great foundation to build your life...

Treat everyone with Politeness, Even they are Rude to You .
Not because They are Not Nice, But because you are Nice.


I'm a simple person just like everybody else... I have my mistakes, weaknesses and fears... I'm not perfect but who is?... The joy, failures, pains made me the person who I am today... I'm a WOMAN, a WORKER, a WIFE, a MOM and I'm PROUD of it....I know myself and I don't care what others say about me...I've had my toll of love and heartaches (a hell lot of heartaches), it just reminds that I'm only a human. I TRUST TOO MUCH!!! I LOVE TOO MUCH!!! I think I'm stupid when I'm in love when I despise about myself, it only means that I'm not perfect...hahaha! I have my alter ego, my better half to be (in God's time) I'm not expecting to be perfect but I know and wish all the best from Heaven. I love my family and my kids so much... I do love my job. I'm not a common man. I choose to be UNCOMMON. I'm a big dreamer but I don't just dream I work on my goals. I don't want to rely on other people. This is me! No clones no copies I'm me!!!

Many times in our lives we are dropped and crumpled into the dirt by the decisions we make and the circumstances that come our way. We feel as though we are worthless. But no matter what happened or what will happen, you will never lose your value. Dirty or clean, crumpled or finely creased, you're still priceless to those who love you. The worth of our lives comes not in what we do or who we know, but by..........WHO WE ARE!!!!

**Some expect me to be "PERFECT" but i'm not, for nobody is.... I have my MISTAKES, WEAKNESSES and FEARS but I am CONTENTED for whatever life I have NOW... And it does'nt matter where I came from, my title or my family name... Its always my DIGNITY as a person that counts... Others may see me as STONE not a gem and I don't give a damn... I know WHO I AM... How I care for people I love... what I think and what I feel... Me... Myself... and I... not perfect but just the way I WANT IT and WHO I AM...**

Selasa, 09 November 2010

Anakku dan Ikan Asin


Pulang dari Pontianak, tempat dimana emakku tinggal, kubawa oleh-oleh se kilo ikan asin peda bagi keluarga dan sahabat di Denpasar. Kami menyebutnya di Pontianak sana, ikan kembung asin. Aku sungguh suka ikan ini. Semenjak kecil, emak terkadang membelinya, dan kami nikmati bersama sekeluarga, baik untuk sarapan sebelum berangkat sekolah, se pulang dari sekolah, dan saat makan malam bersama. Bapak juga sungguh suka sekali. Aku bisa makan dengan lahap, bahkan hingga nambah nasi hingga dua piring.

Dan malam ini, kugoreng kembali tiga ekor ikan kembung asin untuk makan malam bersama anak-anakku. Sang suami berangkat ke Jakarta tadi siang. Dia sedang mengadakan penelitian di Arsip Nasional Republik Indonesia untuk penyusuan disertasinya. Simbok sedang mengikuti sekolah paket kejar C di salah satu SD di jalan Imam Bonjol.

Hmmm,
sungguh kunikmati waktu bersama anak-anak. Mereka baru saja selesai bersembahyang bersama. menghaturkan canang, mencakupkan tangan, berdoa kepada Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dan kini, kusuapi mereka. Aneh? Tidak bagiku... Putra sulungku sudah duduk di bangku klas 1 SMAN I Denpasar, dan si bungsu sudah di kelas 3 SDN 3 Padang Sambian Klod. Namun, malam ini kududuk dengan nasi se piring besar, dan kusuapi mereka dengan ikan kembung asin. Dua piring besar nasi pun ludes tandas.

Ah ha, lumayan... saling mendekatkan diri dengan makan bersama. Kapan lagi bisa sering-sering begini... sebentar lagi mungkin mereka sudah akan sibuk dengan kelompoknya, para sahabatnya, dan saling bersuapan dengan para pacarnya, dan, kita sebagai orang tua hanya bisa menyaksikan, dan ditinggal sendirian, eh hehe.

Jumat, 05 November 2010

Adikku Peternak Lele

Namanya Dewa Nyoman Diwya Artha Kesuma, Dia adik kandungku. Kami berempat bersaudara. Kakakku telah menikah dengan miliki dua anak, Padma dan Wulan. Lalu sebagai anak ke dua, kumiliki anak dua pula, Wayan Adi Pratama dan Made Yudhawijaya. Adikku ini, miliki seorang anak perempuan, Desak Putu Tantri. Lalu masih ada si bungsu adikku, Dewa Ketut Karma Susatia, yang miliki tiga anak. Dewa Putu Aditya,Desak Made Putri Saraswati, dan Dewa Nyoman Graha Danartha.

Adikku, si Dewa Nyoman, pernah mengecap bangku pendidikan di Universitas Trisakti. walau sejak awal dia telah menyatakan keberatannya untuk melanjutkan pendidikan ke bangku universitas, namun orangtua tidak ingin kami merasa dianaktirikan. Dan, pada tahun kedua masa pendidikannya, dia mengundurkan diri. Kini dia menjadi peternak lele.

Pada saat kami berkesempatan berkumpul bersama lagi di awal minggu November 2010 ini, di kota Pontianak, Kalimantan Barat, kusempatkan berkunjung ke kolam lele yang dimilikinya. Hujan gerimis yang luruh satu-satu tidak menghalangi niat kami, ibuku, kakak kandungku, dan aku, untuk mengendarai mobil menuju rumahnya yang terpisah sekitar 15 km dari rumah ibu. Bapak telah meninggal dua tahun lalu. Ibu masih mengelola usaha yang ditinggalkan bapak. Maklum... orangtua jika disuruh diam saja tidak bakal bisa betah.

Ada 5 petak kolam lele yang terbuat dari adukan batako dan semen, berukuran 2 X 4 meter, sebanyak 5 buah, yang dimilikinya. Setiap kali membeli bibit lele, adikku ini bisa membeli sejumlah 10.000 s/d 25.000, dengan harga sekitar 500 rupiah per ekornya. Pakan lele yang masih berusia di bawah satu bulan seberat 10 kg, seharga Rp. 115.000. Lalu, untuk lele yang telah berusia satu hingga dua bulan, pakan ternak yang diberikan adalah 781 - 2, dengan harga 230 per 10 kg nya, diberikan pagi dan sore hari. Untuk lele yang telah berusia di atas dua bulan, dia mengusahakan ayam tiren, ayam mati kemaren, yang didapat dengan harga Rp 1.000 per ekor. Dia mencarinya hingga ke berbagai pelosok tempat pemeliharaan ayam, termasuk ke Jungkat, berpuluh km dari kota Pontianak. Ayam2 ini lalu dibersihkan bulu-bulunya, dan kemudian direbus, lalu dipotong sebelum diberikan pada ikan lele yang telah berusia di atas 2 bulan.

Ikan lele yang telah berusia 3 bulan dan pantas panen, akan diangkut oleh para pengepul ikan lele. Biasanya, sekali panen, adikku ini bisa panen sekaligus 100 hingga 300 kg, dengan harga Rp. 19.000 per kilonya. Dia bisa panen se tiap bulan.

Adikku ini memilih jadi pengusaha dan peternak lele, dengan alasan lebih bisa bekerja sendiri dan memanage dirinya sendiri. Berkali dia mencoba bekerja sama dengan orang lain, berkali pula gagal. Dan, dalam menjalankan bisnis ini, sering pula gagal, karena tingkat kadar keasaman air yang tinggi, udara yang terkandung dalam air berkurang, kebanyakan pakan hingga lumpur tinggi di dasar kolam, dan bibit yang terlalu banyak dalam kolam.

Hmmm....
Dia sungguh ulet dalam menjalankan usahanya. Aku tidak malu memiliki adik seorang peternak lele. Apapun usaha yang kita tekuni, jika bersungguh, akan menentukan kualitas kepribadian seseorang. Bukan tujuan yang tentukan tingkat keberhasilan, namun bagaimana rangkaian proses kita dalam mencapai tujuan yang telah kita tetapkan dalam kehidupan ini. Dan dia adalah adikku......

Puja Trisandhya bareng Emak, dengan Simbol dan Sarana Memuja Tuhan


Ekaaksaram param brahman

Praanaayaamah param tapah.

Saavitryastu param nasti

Maunaat satyam visisyate.

(Manawa Dharmasastra II.83)

Maksudnya: Aksara suci Omkara simbol tersuci mencapai Brahman, pranayama cara tapa yang utama, Savitri adalah Mantra tertinggi dan mona (diam rohani) yang utama.

Hari terakhirku di kota yang penuh dengan sejuta kenangan. Pukul 11 pesawatku akan menghantarku menuju Jakarta. Pontianak adalah kota kelahiranku, mengawali hidup di dunia. Ada emak dan keluarga besar, juga para sahabat, tetangga, dan ingatan masa lalu. Sedih? Ya. Entah kapan akan tiba kembali, menguntai jejak langkah disini. Telah kumiliki keluarga ku sendiri, pekerjaanku, jalan kehidupanku, di pulau Bali. Namun, dengan Tuhan dalam hati, yakinku bahwa, hari terakhir disini, last day in paradise, not means last day I believe always in God, give another chance. Maka, dengan setangkup doa di pagi dini hari, se keluarga melantunkan Puja Trisandhya bersama. Didahului dengan penyucian diri dan pengucapan mantra Om Kara. Hmmm, emak melantunkan dengan fasih, perlahan, kuiringi satu demi satu.....


http://okanila.brinkster.net/DataCetak.asp?ID=508 menjelaskan bahwa

SIMBOL Tuhan itu memang bukan Tuhan. Simbol tersebut adalah sarana. Dengan sarana yang berupa simbol Omkara itulah Tuhan dirasakan lebih mudah dipuja terutama bagi umat Hindu yang awam pada umumnya. Tetapi dengan sarana simbol Tuhan tersebut manusia merasa lebih dekat dengan Tuhan. Sarana tersebut adalah alat. 


Swami Dayananda Saraswati menyatakan bahwa aksara Omkara itu adalah sarana tertua dari sebutan untuk Tuhan dalam tradisi Veda. Dalam Bhagawad Gita VII.8 dinyatakan: pranava sarvavedasu. Artinya Tuhan itu (disimbolkan) dengan aksara suci Omkara di dalam semua Veda.

Bahkan, dalam Manawa Dharmasastra II.74 dinyatakan bahwa hendaknya mengucapkan Omkara Mantra setiap permulaan pengucapan dalam mempelajari Mantra Veda. Karena kalau tidak didahului dengan Omkara pelajaran Veda akan tergelincir menyasar. Demikian juga kalau tidak ditutup dengan pengucapan Omkara kesucian Veda akan menghilang. Bahkan, pengucapan Omkara sebagai sebutan Tuhan harus didahului dengan penyucian Pranayama dan Tirtha Pawitra. Ini mengajarkan kita umat Hindu untuk tidak sembarangan menggunakan simbol Omkara tersebut. Dalam sloka berikutnya dinyatakan bahwa Omkara tersebut diperah oleh Tuhan (Prajapati) dari tiga Veda suara A, U dan M serta dari Wyaahrti Bhur, Bhur Swah. Jadi keberadaan aksara Omkara atau juga disebut Bija Mantra atau Pranawa Mantra sangat disucikan menurut ketentuan kitab suci agama Hindu. Oleh karena itu, penggunaan aksara suci Omkara itu tidak boleh sembarangan. Aksara suci Omkara itu bukanlah sekadar hiasan yang menarik dan hanya bernilai seni. Omkara itu simbol sakral keagamaan Hindu.

Kamis, 04 November 2010

My Love


Love & magic have a great deal in common.

They enrich the soul,

delight the heart,

and they both take the practice....

Rabu, 03 November 2010

Dunia Ini Begitu Kecil.....

Mengawali perjalanan dari Bali, ternyata tidak sendiri. Di bandara Ngurah Rai, kutemui banyak orang yang kukenal, juga akan bepergian. Ada sang pakar seks, Doktor Wimpie Pangkahila, ada Prof. Ramantha, dekan FE Unud. Dengan beragam tujuan dan cara, kita semua berusaha terlibat dalam berbagai proses kehidupan, susah dan senang, baik dan buruk, kaya dan miskin, tua dan muda. Hmmm, kan kubuktikan, bahwa tiap orang punya hak untuk berkembang sesuai dengan standar norma yang berlaku, walau mungkin daku dengan tertatih tatih.


Di Bandara Soekarno Hatta, sambil lesehan di lantai ruang terminal keberangkatan A3 ini, menanti keberangkatan pesawat yang delay ber jam, kukenal Ibu Cicilia dari Jogja, dia bakal melanjutkan penerbangan ke Jambi. Dia merupakan praktisi dalam dunia pendidikan, terlibat langsung dalam penanganan perkembangan pendidikan di kalangan para pengungsi di Muntilan, akibat bergeloranya Merapi. Ah, kenanganku tentang Jogja, semasa lima tahun tinggal dan menggeluti kota tersebut, berharap semoga penghuninya baik-baik saja. Segala harapan bagi mereka yang sedang menderita dengan segala perasaan was was yang melanda, baik di lokasi pengungsian, dan di tiap rumah masing-masing. Ingin sekali terlibat langsung dalam proses penanganan ini. Jiwa dan semangat sosial memanggil. Namun, bukankah tiap orang punya skala prioritas pula?


Hmmm...

Baru Selasa kemarin, 2 November 2010, kami, warga STPNDB, mengadakan kegiatan Galang Dana STPNDB Peduli bencana, dan Senat Mahasiswa sedang merencanakan penggunaan dana tersebut dengan sebaik mungkin. Mungkin, tidak lah banyak jumlah yang berhasil kami kumpulkan, Namun, ini sungguh berarti, karena sumbangan yang diberikan dengan tulus ikhlas tersebut menunjukkan kepedulian dan nilai kemanusiaan yang sesungguhnya ada dalam diri tiap umat manusia di dunia.... Hanya perlu sedikit letupan untuk memotivasi mereka. Dan, sudah kubuktikan, berkali, bahwa mereka mampu, mereka mau.


Dan kini...

Dunia ini terasa begitu kecilnya. Harus mengakui kuasa Tuhan, Sangkan Paraning Dumadi, Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pesawatku delay ber jam. Perjalanan menemui si emak tertunda. Termasuk ke Jambi. Dan, Makasar. Cuaca buruk jadi tertuduh kali ini. Ah ha.... Kami pun, dari beragam profesi, berbagai latar belakang kepentingan dan tujuan, antri makanan disini, saling berdiskusi, lalu melanjutkan dengan gaya masing2. Ada yang bekerja, ada yang tertidur, ada yang tiada henti berceloteh. Ehm, dunia ini begitu kecil....

Senin, 01 November 2010

STPNDB Peduli Bencana


Tuhan, restui niat tulus ini.

Kuawali untuk mengetuk sisi hati tiap insani yang berkaitan dengan STPNDB.

Karena kami bukan kumpulan orang manja yang tidak peduli sesama,

karena kami datang dari berbagai penjuru dunia,

karena segala beda: agama dan suku bangsa, miskin dan kaya,

guru dan murid, tua dan muda, tidak jadi perintang untuk mengabdi bagi negeri ini....


Selasa, 2 November 2010. Pukul 8 pagi di Ruang Administrasi Perhotelan. Ben dan Wiras Dipa sudah hadir dengan senyum manisnya. Kuangsurkan kotak kosong bekas kertas A4 kuarto. Kami merencanakan untuk mengawali hari dengan Spontanitas Galang Dana STPNDB Peduli Bencana. Dan... karena hidup tidak bisa berjalan sendiri, maka kubutuhkan bantuan dan keterlibatan mahasiswa ini.Mereka akan berusaha mengetuk pintu hati para mahasiswa yang sedang praktek di dapur untuk turut memberi sumbangan dengan ikhlas.

Bersama Ibu Tri Ariani yang kutemui di tempat postingan kehadiran, finger print, kami menghadap ketua STPNDB, Dr. Madiun. Tidak perlu segala proposal, segala urusan formal, yang kukhawatirkan akan memperpanjang perjalanan kami. Beliau memberikan ijin dan restu untuk kegiatan penggalangan dana tersebut. Maka, Kami bergerak membawa kotak bekas. Tujuan kami pertama adalah Gedung Padma. Blok gedung yang terjauh ini menjadi sasaran kami. Menaiki anak tangga, menuju lantai dua, Gedung Padma Blok A, ruang PA 201, DIV ADH A smt 3 dengan 30 an mahasiswa menanti. Kotak beredar dengan cepat, mereka mengeluarkan jatah uang jajan mereka, dan disesuaikan dengan kemampuan dan keinginan. Kemudian kami beralih ke ruang sebelah, PA 202, dengan DIV ADH B smt 3, lalu PA 203, DIV ADH C smt 3. Dan... kudaulat 3 siswanya untuk membantu kami melanjutkan perjuangan penggalangan dana. Kami dapatkan Dayu, Rah Kartika, dan Galih.

Lalu kemudian beralih lantai 3, dengan mahasiswa DIV ADH smt 5 A, B, dan C. lantai 1, lalu berpindah ke gedung Padma B, lantai 1, ke lantai dua, dan lantai tiganya. Kemudian berpindah ke gedung lain, kali ini, Rebab A dan Rebab B. Bergeser kembali ke gedung Lontar A dan B. Akhirnya, lengkap semua mahasiswa yang sedang berada di kampus STPNDB di sasar. Lumayan melelahkan, dengan.. belum sempat sarapan, turun naik lantai gedung, keluar masuk satu ruang ke ruang kelas lainnya. Dan... tak lupa ber foto narsisss. Ehm.

DIV ADH smt 5 (A,B,C), DIV ADH smt 3 (A,B,C), DIV ADH smt 1 (A,B,C), DIV MAH smt 5, BHP smt 1, DIV MKH smt 1, DIV MKH smt 3, DIV MKP smt 1, 3, MBP smt 1, 3, DIII MTH smt 1 (A,B), DIII MTH smt 5 (A,B), MDK smt 5, DIII MTB smt 1 B, DIII MTB smt 3 B, DIII MTB smt 5 (A,B), DIV DPW smt 1, BAP (Jerman, Perancis, Jepang).

Kami kembali bergerak ke gedung Rektorat, tempat berkumpul para dosen dan pegawai, untuk rehat sejenak, sebelum melanjutkan berbagai aktivitas lainnya. Mengedarkan kotak sumbangan dengan harapan ada kerelaan menambah jumlah yang ada di sana. Dan... akhirnya, selesai sudah seluruh rangkaian perjuangan ini. Kotak sumbangan akan mereka hitung bersama, akan mereka tentukan langkah pembagian alokasi besaran dana, bagi berbagai lokasi yang akan mereka sasar mendapat bantuan. Ehm, mereka adalah para pemimpin muda yang sudah cukup cakap, cukup mumpuni, dalam me manajemen i urusan sumbang menyumbang ini. Beri mereka kepercayaan penuh. Trims Senat Mahasiswa, Trims, orang-orang yang sudah sangat peduli pada sesama. Usaha ini adalah dari kalian, untuk kalian pula.

Trims Ibu Tri. Trims Teko, Dayu, Galih. Trims Ben Marlon, Wiras Dipa. Trims semua, bersama kita pasti bisa.... Sorry Ekstensi, gak ikut tertarik, krn keterbatasan waktu. Maaf seluruh teman dan murid yang ga ikut jumpa. Bukan maksud hati meremehkan. Apa daya, hanya segini kemampuan kami. Doa tulus kalian sungguh berarti....