Jumat, 06 April 2012

My Lovely Amazing Handsome Bodyguard, Made Yudhawijaya























Kami nyaris kehilangan dia karena ketuban pecah dan rahim mengering.

Caesar dan tanpa tangisan kala dilahirkan, doa kami terkabulkan.


Si Bontot kini bagai magma

dengan energi mengalir tiada henti di tiap sendi yg dimilikinya.




15 Mei 2003.

Tumbuhlah smakin dewasa dan bijak, anakku sayang.


Jadilah pria tangguh dalam mengarungi perjuangan hidup di dunia ini.

Jangan terhenti mengayun jejak langkah,

meski rintangan sepanjang kehidupan menanti.

Kamis, 05 April 2012

Arya si Tude LeonHeart

Mantan mahasiswa ini tiba siang hari ini, Kamis, 29 Maret 2012. Dia telah dua kali berangkat bergabung dengan sebuah manajemen yang mengelola perjalanan wisata Kapal Pesiar.

Kami mengira dia akan mendaftar untuk mengikuti prosesi wisuda yang belum diikutinya dua tahun lalu. Namun ternyata dia mengajukan permohonan referensi untuk melanjutkan pendidikan di Program Pascasarjana Program Studi Kajian Pariwisata.

Hmmm, ternyata, semangat untuk belajar selalu sepanjang kehidupan, dari berbagai sisi yang ada di dunia ini, adalah sebuah semangat yang mengalir deras juga dalam dirinya.

Kisahnya mengalir deras, sederas semangat untuk selalu berkembang menjadi semakin bijak dan dewasa dari hari ke hari.

Kini dia membuka usaha sendiri, dengan bendera BANANA GROOVY, di depan Cxxxxfour di Kampung Tinggi, Singaraja kota. Young enterpreneur, dengan segudang pengalaman, kemampuan, minat dan motivasi tinggi, semangat untuk mengembangkan kampung halaman dan memajukan masyarakat sekeliling.

Terbanglah tinggi, anakku, kepakkan sayapmu menggapai masa depan gemilang yang terbentang luas di hadapan.

Duh Gusti Maha Guru (Olih I Made Suarsa)

Baose ngapak saha ngopak,

sat sardulapati nedeng galak,

mangde titiang sregep matindak.

Polahe baud sada nyadcadin,

kadi wrekodara ngenyek nyandain,

mangda titiang tan lenga ngenehin.

Jengah ambeke matimpi geni,

upami amlapati ring waduk gumi,

mangda titiang tinga magarapan sami.

(pakeling swarsa mantuk

Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus, 16 Oktober 2004)

Pande Wayan Suteja Neka dan Ulang Tahunku

13336155641835913892

Kami duduk se meja…

Namun aku hanya berani melirik Beliau se sekali, menatap kagum,

dan mendengar ceriteranya.

Perlahan Beliau berdiri….

Kami mengira Beliau akan pamit,

Namun ternyata kembali dengan beberapa majalah di tangan yang baru diambil dari mobilnya,

berjudul Neka Art Museum : From Painting to Keris, writing & editing by Bembi Dwi Indrio M.

Aku bersyukur menerima satu,

Kusalami dan merunduk menghormati.

Sebagian tamu, termasuk beliau, pamit pada sang empunya acara pawiwahan,

di Banjar Anggarakasih, Desa Medahan, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar,

Wraspati Wage Medangkungan, Kamis 5 April 2012 ini.

1333616400118573706

Beliau membuka mobilnya, mengambil buku berjudul setebal halaman edisi luks tersebut,

berjudul Neka Art Museum : The Heart of Art in Bali, by Suteja Neka & Garrett Kam.

Menanyakan nama suamiku, nama ku, dan alamat kantorku,

Lalu membubuhkan tandatangan di bagian dalam buku yang cuma satu untuk diberikan padaku……

Disana tertera: Kenangan untuk Wayan Tagel Eddy & Ibu Santi, STP Nusa Dua Bali.

“Ini saya berikan untuk orang yang menghargai sejarah, dan memahami sastra”,

ujarnya sebelum masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi.

Duh, Ratu Bhetare…..

Aku gemetar dengan lutut bergetar,

Mimpi apa aku semalam?

Ini hari ulang tahunku, dan bukan pula tegak otonku,

Namun tak pernah kuharapkan apa pun, tidak ada yg istimewa…

Semua berjalan biasa sebagaimana adanya.

Sungguh, sebuah anugerah indah,

dapat kesempatan mengeduk kedalaman samudera, dan menggapai ketinggian akasa,

menggali wawasan informasi dan berdiskusi dengan banyak guru kehidupan.

Astungkara…. Hyang Perama Kawi.

133361578115863063

Suteja Neka, adalah pakar budaya yg kukagumi. Semenjak tahun 1970 Beliau pemilik Museum Seni Neka di Sanggingan, Ubud. Pande Wayan Neka (1917 - 1980), ayah beliau, seorang seniman terkenal dengan karya patung yang unik dan berkualitas, antara lain, patung burung garuda setinggi 3 meter, untuk New York World Fair, di Amerika pada tahun 1964.

13336158671411734013

Keluarga Neka merupakan pewaris pembuat peralatan perang dari leluhur seorang Mpu Keris, Pande Pan Nedeng, dari kerajaan Peliatan, Ubud, Ida Dewa Agung Djelantik, pada era 1823 - 1845.

13336159711685555106

Perjuangan Suteja Neka dalam mengumpulkan berbagai benda seni, terutama berbagai keris, hingga berjumlah ratusan, adalah memperkenalkan dan menanamkan nilai luhur nan agung dari keris itu sendiri bagi generasi penerus.

13336161351406950977

Keris merupakan karya yang memperlihatkan Genius Local Wisdom, keluhuran nan adi luhung yang diwariskan leluhur, sebagai senjata tradisional, benda berwasiat, dan sarana upacara keagamaan yang membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Hindu di Bali. Dan kini diakui keberadaannya di dunia dengan pengakuan yang diberikan UNESCO semenjak 25 November 2005, mengukuhkan keris Indonesia sebagai karya agung warisan kemanusiaan milik seluruh bangsa di dunia..

1333616212371403038

Pande Wayan Suteja Neka dan Ulang Tahunku

13336155641835913892

Kami duduk se meja…

Namun aku hanya berani melirik Beliau se sekali, menatap kagum,

dan mendengar ceriteranya.

Perlahan Beliau berdiri….

Kami mengira Beliau akan pamit,

Namun ternyata kembali dengan beberapa majalah di tangan yang baru diambil dari mobilnya,

berjudul Neka Art Museum : From Painting to Keris, writing & editing by Bembi Dwi Indrio M.

Aku bersyukur menerima satu,

Kusalami dan merunduk menghormati.

Sebagian tamu, termasuk beliau, pamit pada sang empunya acara pawiwahan,

di Banjar Anggarakasih, Desa Medahan, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar,

Wraspati Wage Medangkungan, Kamis 5 April 2012 ini.

1333616400118573706

Beliau membuka mobilnya, mengambil buku berjudul setebal halaman edisi luks tersebut,

berjudul Neka Art Museum : The Heart of Art in Bali, by Suteja Neka & Garrett Kam.

Menanyakan nama suamiku, nama ku, dan alamat kantorku,

Lalu membubuhkan tandatangan di bagian dalam buku yang cuma satu untuk diberikan padaku……

Disana tertera: Kenangan untuk Wayan Tagel Eddy & Ibu Santi, STP Nusa Dua Bali.

“Ini saya berikan untuk orang yang menghargai sejarah, dan memahami sastra”,

ujarnya sebelum masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi.

Duh, Ratu Bhetare…..

Aku gemetar dengan lutut bergetar,

Mimpi apa aku semalam?

Ini hari ulang tahunku, dan bukan pula tegak otonku,

Namun tak pernah kuharapkan apa pun, tidak ada yg istimewa…

Semua berjalan biasa sebagaimana adanya.

Sungguh, sebuah anugerah indah,

dapat kesempatan mengeduk kedalaman samudera, dan menggapai ketinggian akasa,

menggali wawasan informasi dan berdiskusi dengan banyak guru kehidupan.

Astungkara…. Hyang Perama Kawi.

133361578115863063

Suteja Neka, adalah pakar budaya yg kukagumi. Semenjak tahun 1970 Beliau pemilik Museum Seni Neka di Sanggingan, Ubud. Pande Wayan Neka (1917 - 1980), ayah beliau, seorang seniman terkenal dengan karya patung yang unik dan berkualitas, antara lain, patung burung garuda setinggi 3 meter, untuk New York World Fair, di Amerika pada tahun 1964.

13336158671411734013

Keluarga Neka merupakan pewaris pembuat peralatan perang dari leluhur seorang Mpu Keris, Pande Pan Nedeng, dari kerajaan Peliatan, Ubud, Ida Dewa Agung Djelantik, pada era 1823 - 1845.

13336159711685555106

Perjuangan Suteja Neka dalam mengumpulkan berbagai benda seni, terutama berbagai keris, hingga berjumlah ratusan, adalah memperkenalkan dan menanamkan nilai luhur nan agung dari keris itu sendiri bagi generasi penerus.

13336161351406950977

Keris merupakan karya yang memperlihatkan Genius Local Wisdom, keluhuran nan adi luhung yang diwariskan leluhur, sebagai senjata tradisional, benda berwasiat, dan sarana upacara keagamaan yang membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Hindu di Bali. Dan kini diakui keberadaannya di dunia dengan pengakuan yang diberikan UNESCO semenjak 25 November 2005, mengukuhkan keris Indonesia sebagai karya agung warisan kemanusiaan milik seluruh bangsa di dunia..

1333616212371403038

Banten Nyepi Persembahanku bagiMu.

……… Karena setiap orang butuh simbol untuk sebuah keyakinan yang dimilikinya…….. (Santi, 21 Maret 2012)

Persiapan menyambut Tawur Nyepi. Nyepi adalah sebuah simbol penyucian dunia mikro, Buana Alit, diri sendiri, baik dari pikiran dan perkataan juga perbuatan negatif, sekaligus penyucian dunia makro, Buana Agung, alam semesta, se isi bumi, hubungan dengan sesama dan berbagai umat yang bervariasi di dunia ini.

Kupersiapkan se rangkaian banten berkaitan dengan hari raya Nyepi, yang akan kuhaturkan di hari Kamis, 22 Maret 2012. Dan…. inilah banten sebagai salah satu bentuk yadnyaku, bagi Tuhan yang Maha Kuasa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Untuk Tingkat Rumah Tangga:
1. Ring Pamrajan / Sanggah / tempat bersembahyang keluarga ; Menghaturkan Banten Pejati, yaitu Pras, Ajuman. Daksina, Ketipat kelanan, canang lengawangi buratwangi.

1332345775549741714

Canang Lengawangi, buratwangi

1332346217189317435

13323482301327139477
2. Di Natar Mrajan / Sanggah ; Menghaturkan segehan / nasi putih kuning atanding.

Di Jaba / Lebuh / bagian luar sebelum masuk ke halaman rumah :
Mendirikan/nanceb sanggah cucuk di sebelah kanan kori / pemedalan, di sanggah cucuk munggah banten Daksina, Pras, Ajuman, Dandanan, ketipat kelanan, Sesayut penyeneng, janganan kajang panjang, pada sanggah cucuk digantung ketipat kelanan, sujang/cambeng berisi tuak, arak, brem dan air tawar.

Daksina

13323486731290637820
Dibawah sanggah cucuk menghaturkan segehan Manca Warna (segehan dengan 9 warna, sesuai arah pangider-ideran sebanyak 9 tanding). Lauknya olahan ayam Brumbun atanding, disertai dengan tabuhan arak, Brem, Tuwak serta air tawar, di haturkan kehadapan Sang Bhuta Raja dan Sang Kala Raja.

1332346507448766635
Segehan nasi cacahan 108 tanding dengan ulam jajron matah serta dilengkapi dengan segehan agung asoroh, serta tetabuhan arak, tuak, brem, Air tawar, dihaturkan kehadapan Sang Bhuta Bala dan Sang Kala Bala, semua sarana diatas dihaturkan di bawah, pada waktu sandhi kala.

13323469861647381789

Semua anggota keluarga (kecuali yang belum tanggal gigi / makupak) menyucikan diri dengan natab banten Bayakala, dan Banten Prayascitta serta natab banten Sesayut pamyak kala, di halaman / natah rumah masing-masing.

Setelah itu dilanjutkan dengan pangrupukkan (mabuu-buu) mengelilingi rumah / pekarangan dengan sarana api (obor/prapak) serta membunyikan bunyi-bunyian seperti kulkul bamboo atau yang lainnya, menyemburkan bawang merah, jangu dan masui (disebut trikotuka) mengelilingi pekarangan rumah.

Banten Prayascita

13323475611905857755

Banten Biukaon / Bayakala

13323492681932603763

Tuhan Yang Maha Kuasa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa……

Inilah yadnya yang kubisa, dalam memuja dan memuji kebesaran nama Mu. Bantu kami selalu, menghadapi setiap ujian, cobaan dan godaan hidup, menjalani berbagai proses dalam kehidupan, untuk menjadi semakin bijak dan dewasa dari hari ke hari…….

Rabu, 21/3/2012, dari ged.Pascasarjana demi disertasi, STPNDB dan kerja, hingga Banten Nyepi...

….. karena bahkan, setiap orang butuh eksistensi bagi dirinya sendiri……. (Santi, 21 Maret 2012)

13323418621613125615

Pagi hari, hujan yang turun membasahi bumi, tidak menyurutkan semangat kami yang sedang menempuh pendidikan untuk tetap melaksanakan kegiatan. Bersama Ibu Lasmini, rekan kerja ku di STPNDB, yang sedang menempuh pendidikan di Program Pascasarjana S2 Program Studi Kajian Budaya Universitas Udayana, juga ada ibu Suci, rekanku sesama mahasiswa angkatan tahun 2010 di Program Pascasarjana S3 Program Studi Kajian Budaya Universitas Udayana. Kami bertiga duduk di areal parkiran kampus di Jalan Nias, Sanglah tersebut.

Bu Lasmini mengupas mengenai Hipersemiotika dari Yasraf Amir Piliang, Epistemologi dari Listyono, dan Dunia yang Berlari, juga dari Piliang. Bu Suci membahas mengenai keberadaan Bu Profesor Maria, salah satu dosen kami, yang kini sudah harus menggunakan terapi insulin bagi penyakit diabetes yang diidapnya.

Kian lama hujan turun dengan deras, kami bergeser, bringsut, menaiki lantai dua Gedung Prof. Ngurah Bagus, menyapa para petugas yang ada di sana, menyelesaikan beberapa urusan, dan kemudian bubar. Bu Suci lanjut ke tempat kerjanya, bu Lasmini lanjut ke ruang Perpustakaan di lantai tiga, sedang aku, menyusuri sepanjang jalan menuju Nusa Dua, kampus STPNDB.

1332342788160797574

Tiba di Nusa Dua, beberapa rekan yang kucari tidak berjumpa. Mahasiswa masih melaksanakan beberapa kegiatan berkaitan dengan perayaan Dies Natalis kampus tercinta ini. Ada berbagai pertandingan dan beberapa lomba. Aku mengikuti pertemuan yang diselenggarakan bagi para dosen yang sudah tersertifikasi di ruang Genitri lantai 1. Tuntas disini, lanjut dengan megibung bareng di ruang Administrasi Perhotelan. Megibung adalah istilah bahasa Bali, makan bersama. Ada 3 porsi nasi bungkus dengan aneka lauk yang kami bagi bersama dengan para dosen di ruang tersebut. Bukankah….. sungguh indah bentuk, fungsi dan makna yang ada di balik megibung, atau makan bersama tersebut….

1332343250824070221

Kembali ke Denpasar pukul 2 siang, aku mampir ke rumah seorang sahabat. Sesama rekan yang sedang menempuh program Pascasarjana S3, di Panjer, Jl. Kerta Winangun. Aku harus meminjam beberapa buku bagi sumber pustaka Disertasiku. Pak Mugi Raharja menyambutku bersama istrinya. Buku ku dapat, dan kembali aku bergerak membeli beberapa perlengkapan bagi persiapan untuk banten Nyepiku. Dari Banten Prayascita, Banten Mebiukaon, Banten Pejati, Banten Daksina, dan lain2nya…

Hmmm, bakal jadi hari yang melelahkan….. Namun, bukankah…. sesuatu yang kita jalani dengan sepenuh semangat dan suka cita, akan membantu kita menjalaninya dengan ikhlas pula…. Swaha.