Minggu, 16 Desember 2012

Peter Cetera : Glory of Love



Tonight it's very clear as we're both lyin' here
There's so many things I wanna say
I will always love you, I would never leave you alone
(Malam ini kianlah jelas, ada banyak hal yg ingin kusampaikan,
aku mencintaimu dan takkan pernah meninggalkanmu sendirian)

Sometimes I just forget, say things I might regret
It breaks my heart to see you cryin'
I don't wanna lose you, I could never make it alone
(Terkadang aku terlupa, mengatakan bahwa kumenyesali ini semua,
hancur hatiku melihatmu menangis,
aku tak ingin kehilanganmu, takkan dapat kuhidup sendirian)

I am a man who will fight for your honor
I'll be the hero you're dreamin' of
We'll live forever, knowin' together
That we did it all for the glory of love
(Akulah sosok pria yang akan selalu berjuang demi kehormatanmu,
menjadi hero yang dikau impikan,
kita 'kan hidup bersama, saling mengenal satu sama lain,
bahwa, kita melakukannya demi keabadian kisah kasih di antara kita)

You keep me standing tall, you help me through it all
I'm always strong when you're beside me
I have always needed you, I could never make it alone
(Kau yang membuatku tegak berdiri, membantuku melewati hari demi hari,
aku 'kan slalu tegar bila kau di sisiku,
aku selalu membutuhkan hadirmu, aku takkan dapat hidup sendirian)

I am a man who will fight for your honor
I'll be the hero you been dreamin' of
We'll live forever, knowin' together
That we did it all for the glory of love
(Akulah sosok pria yang akan selalu berjuang demi kehormatanmu,
menjadi hero yang dikau impikan,
kita 'kan hidup bersama, saling mengenal satu sama lain,
bahwa, kita melakukannya demi keabadian kisah kasih di antara kita)

Like a knight in shining armor from a long time ago
Just in time I will save the day
Take you to my castle far away
(Bagai ksatria baja hitam dari masa silam,
dalam hitungan waktu aku 'kan jadi penyelamat hari,
yang membawamu ke kastilku nun jauh disana)

lt instrumental interlude

I am a man who will fight for your honor
I'll be the hero that you're dreamin' of
Gonna live forever, knowin' together
That we did it all for the glory of love
(Akulah sosok yang 'kan berjuang demi kehormatanmu,
aku kan menjadi pahlawan yang kau impikan,
hidup bersama, saling memahami, dan menjalani ini demi keabadian kasih di antara kita)

lt instrumental interlude

We'll live forever (we'll live forever), knowin' together (knowin' together)
That we did it all for the glory of love

We did it all for love
We did it all for love
We did it all for love

Jumat, 14 Desember 2012

Horreee, hujan dan air, dan kami asyik bermain air



Jum’at, 14 Desember 2012. Hujan deras yang turun semenjak pagi dini hari, pukul 00.30, bagai tercurah dari langit. Petir menggelegar membahana, gemuruh terus menerus, membuatku was-was tiada henti. Ya, rumah kami berada di daerah rawan banjir. Namun mau bilang apa lagi? Menangis takkan menghentikan permasalahan dalam kehidupan. Usaha dan perjuangan tiada henti untuk menjadi semakin tegar dan lebih baik lagi, itu akan membantu kita menikmati apa yang ada, yang menjadi bagian dari sisi untuk jadi pribadi tangguh nan bijak.
Dahulu, perumahan kami ada di daerah yg tinggi. Aku masih ingat, saat mencari rumah masa depan tempatku bermimpi dan berharap melewati hari-hari tuaku. Kala itu aku belum menikah, seorang perempuan muda nan idealis tanpa sepeser pun di kantong baju atau dompetku. Memilih rumah tipe paling sederhana, tipe 21 non finishing, dengan halaman bermain bagi anak-anakku kelak, yang bahkan, untuk naik ke teras rumah, aku harus bersusah payah menaikkan kaki karena tingginya.

Namun seiring waktu berjalan, semakin banyak perumahan lain dibangun di daerah utara, dan di sekitar perumahan kami, membuat kami berada di daerah yang rendah. Sudah berbilang tahun kami lewati dengan banjir dan banjir, selalu was-was setiap kali hujan deras turun berhari, terlebih, di bulan berakhiran ber ber ber, yakni musim hujan.
Anak pertamaku masih berusia 3 tahun, tatkala banjir pertama kami alami. Tahun 1999, bulan Desember. Air deras masuk dengan cepat ke dalam rumah, hingga 30 cm. Kami tidak sempat menyelamatkan barang, ratusan buku koleksi bersama ku dan sang suami, baju dan beragam barang lain terendam dalam air. Dam di daerah utara jebol. Padahal, dam itu yang menghalangi air sungai masuk ke daerah kami.
Anakku trauma bertahun. Setiap kali hujan turun, dia menangis dan berkata lirih, “Ma, kita akan kebanjiran lagi kah? Kemana kita akan mengungsi?”. Duuhh, kutenangkan hatinya, kuyakinkan, bahwa kita akan melalui setiap ujian kehidupan bersama-sama, meski kita menderita, namun ada banyak orang lain yang jauh lebih menderita, dan, aku akan selalu membimbing dia dalam beragam situasi.


Suamiku berulangkali mengatakan, kita harus pindah. Namun, setiap permasalahan tidak bisa tuntas semudah membalik telapak tangan, bukan? Hidup terkadang tidak seindah harapan dan impian, tidak semudah apa yang kita bayangkan. Apa seninya bila selalu berjalan lurus dan mulus saja? Dimana letak indahnya, bila adrenalin tidak diuji dengan segala tantangan dan rintangan dalam kehidupan? Hanya duduk bermalasan dan menanti durian jatuh dari langit? Lagipula, aku yakin, seleksi alam akan membuktikan tingkat kedewasaan dan kebijakan dalam diri seseorang. Melakukan yang bisa kita lakukan, meski sekecil apapun nilainya di mata orang lain.
Bersyukur, semenjak setahun lalu kami sudah memiliki pompa untuk memompa air dari dalam rumah dan pekarangan rumah ke luar, ke got yang terletak di samping rumah. Sudah semenjak 10 tahun lalu, kubuat beton di depan rumah, setinggi 50 cm, di depan rumah, yang menghalangi laju air ke dalam rumah, dan hanya menyisakan jalan bagi motor dan sepeda anak-anak untuk keluar dan masuk pekarangan. Namun tetap saja, air bisa merembes masuk dari dalam tanah, dan muncul dengan sukses, bak air mancur, dari sela-sela ubin / keramik di dalam rumahku, di halaman rumah.
Lalu, apa yang kami lakukan terhadap hujan kali ini? Adi dan Yudha memilih tidak masuk sekolah. Aku mencoba melihat situasi, bila banjir surut, mungkin siang nanti ke kantor sejenak, melihat persiapan buat ujian akhir semester para mahasiswaku yang akan dilaksanakan minggu depan.
Kami bergotong royong bersama, Pompa dipersiapkan, dan sesekali dipergunakan untuk memompa air di halaman yang sudah penuh, ke luar halaman rumah, dibuang ke got di samping rumah kami. Air setinggi 5 cm di dalam rumah terus menerus di sapu ke luar rumah, agar tidak ada lumpur tersisa. Bila ada lumpur sisa banjir yang sudah terlanjur kering, akan jauh lebih sukar untuk membersihkannya. Semua lubang pembuangan air ditutup, agar air dari luar tidak kembali masuk ke dalam rumah dan pekarangan kami. Air di jalanan depan rumah sudah jauh lebih tinggi dari halaman kami.
Suamiku menyapu air yang memenuhi halaman rumah kami agar mendekati pompa air, sehingga gampang disedot dan dibuang keluar pekarangan. Simbok menyapu air yang di dalam rumah, agar keluar. Adi dan Yudha mencoba membantu dengan menyapu air dan mengepel hingga bersih.
Tetangga di depan rumah sudah dijemput oleh saudaranya dengan mobil, mereka pindah sementara karena di dalam rumah sudah terendam air setinggi 30 cm. Ibu rumah tangga ini tinggal bersama ke empat anaknya, memiliki toko di daerah Kuta, dan mengurus sekolah anak-anaknya. Suami yang seorang mangku tinggal di Kintamani, mengurus perkebunan mereka dan bertanggungjawab terhadap beragam upacara di Pura Desa di kampungnya. Kasihan pada mereka, namun mau bagaimana lagi, kami hanya bisa saling memotivasi untuk tetap tegar menjalani segala yang ada.
Bersama Yudha, aku berkeliling sejenak mengamati situasi banjir di sekeliling rumah. Bagi anak-anak, terkadang hujan melahirkan anugerah, bagi semangat bermain mereka, bersepeda di jalanan dalam genangan air,  berlarian dan saling menyimburkan air. Berpayungan dan saling menyapa para sahabat. Hmmm, sungguh, anak-anak dan dunia bermain mereka. Lagipula, bukankah, dalam diri kita selalu terdapat jiwa kekanakan yang selalu suka bermain pula?
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 saat air surut, tinggal gerimis membasahi bumi. Kusiapkan sepiring penuh nasi, ikan asin, sayur tahu, segelas besar teh panas, dan…. Kami saling bersuapan setelah lelah terkuras tenaga demi atasi banjir ini. Kusuapi anak2ku, Yudha dan Adi. Dan, 3 porsi besar nasi tandas dengan cepat. Hehehe, kapan lagi sempat menyuapi mereka ya… sudah besar, menikah, punya keluarga dan anak sendiri, masih mungkinkah saling bersuap-suapan??
Pukul 12 siang, kami terkapar lelah. Adi tertidur lelap di ruang tamu, Yudha tertidur dalam pelukanku di kamar. Si bapak tertidur di perpustakaannya. Satu ujian lagi kami lewati. Satu tahapan membuktikan kebersamaan adalah di atas segalanya. Bukan piagam atau piala yang membuktikan level prestasi kita, bukan pula materi berupa harta dan jabatan yang menjadi pertanda tingkat kesuksesan kita, namun proses dalam menjalani beragam tantangan juga rintangan. Seberapa jauh kita mau berusaha, berjuang, meski kecil, namun tidak pernah lelah dan berputus asa…….
Pukul 4 sore, Yudha berpamitan untuk berkumpul bersama teman-teman dan bersepeda bersama di area perumahan kami. Adi sudah terjaga dan kembali bekerja, memunculkan ide-ide kreatif nya. Dia akan berjualan kue cup cake. Dia membuka laptop dan merancang brosur. “Hari Ibu akan jadi target Adi kali ini” ujarnya bersemangat. Ada teman sekolahnya, sesama murid SMANSA, yang senang membuat kue, dan, mereka mencoba berkolaborasi dalam beragam kreasi.
Dheeeuuuh. Kutanamkan semangat untuk selalu berjuang dan berusaha, memiliki jiwa entrepreneurship / wirausaha sedari dini, tanpa merasa malu dan ragu berjuang di bidang apa pun, se kecil apapun…. Kuberi saran, untuk menangkap peluang pula, Hari Ibu, Hari Natal, Tahun Baru, Cup Cake disertai dengan bunga gratis, beragam quotes menarik di pembungkus kemasannya.
Well…. Banjir kali ini, selalu ada hikmah dibalik tiap bencana yang hadir….. Mempererat kebersamaan kami, menjalani hari demi hari, bersyukur atas segala yang hadir, suka duka, lara pati. Keluargaku, mungkin, bukan keluarga terbaik. Keluargaku, mungkin, bukan keluarga bergelimang materi. Keluargaku, mungkin, bukan keluarga idaman. Namun setidaknya, kami sudah berusaha memberi arti, meski kecil dan tiada nilai bagi dunia, tapi, inilah keluargaku….. Kupanggil mereka semua, My Lovely Handsome Amazing Bodyguards…. Dewa Penjagaku, yang menginspirasiku, para pejuang tanpa kenal lelah, tak mudah berputus asa, anak-anakku terkasih….

Kamis, 13 Desember 2012

.... karena aku paham, betapa pentingnya data....

Suamiku pernah marah besar bulan lalu karena data2 penelitiannya hilang tanpa bekas karena kesalahanku.

Dia bertugas berkali bulan lalu dengan kelompoknya ke Bima, mengupas mengenai aktivitas kehidupan suku-suku di kepulauan Sumbawa Kecil. Berangkat berkali dengan perjalanan jauh, berkali pesawat delay, perjalanan panjang dengan bis menembus jalan yang tak ramah, daerah tandus dan iklim panas. Berbekal kamera Panasonic sederhana milikku, menghasilkan ratusan gambar.

Mantan pacarku ini, bapak dari kedua anak-anakku, musuh dari setiap debatku, teman selimut tidurku, kakak sekaligus sahabat terbaik, dan juga anak manja...... Hmm, dia bukanlah tipe orang yang senang elektronik, tergila IT, ato tipe narsis. Dia tipe orang rumahan, kutu buku, menikmati kebun mini kami.

Aku punya beberapa kartu memori bagi kamera. Namun saat itu, sedang ada kunjungan kerja tim Kemenparekraf, dan beberapa seminar sekaligus di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali. Kartu memori yang kubawa telah penuh dengan ribuan foto. Perlu space  untuk pengambilan foto, dan.... Tanpa sengaja, ku klik tombol delete all files di kamera. Dan..... terhapuslah dengan sukses, seluruh hasil penelitian sang bapak, juga ribuan hasil foto-foto narsisku di beragam daerah di Bali ini. Hmmmm, apes nian. Tapi mau bilang apa? Sisi manusiawi tho. Wajar bila terjadi kesalahan.

Kucoba menelusuri informasi orang-orang yang mungkin dapat membantuku menyelamatkan data ini. Namun gatot, alias, gagal total. Si bapak ngambek. Hehehe. Emank Gue Pikirin ???!!! Namun ternyata, justru anakku sendiri, sang calon profesor nan super jenius, pakar IT dan seorang desain grafis.... hohoho, emak yg ge er dan super duper yumer narsis abizzz. Wayan Adi Pratama, masih duduk di bangku kelas 3 SMAN I Denpasar, yang lebih dikenal dengan SMANSA, dengan semboyan, Karmany Eva Dhikaraste Mapalescu Kadacana. Dia donlut beberapa program dari internet, dan... perlahan tapi pasti, satu demi satu, foto-foto yang telah terhapus berhasil dikumpulkannya kembali.

Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, begitu pepatah yang kuingat..... Setelh berhasil mengumpulkan sebagian besar data ygn hilang terhapus, laptopku yang dipergunakannya kehabisan daya dan tenaga, chargernya sedang kubawa tanpa sengaja di dalam tas ranselku. Hweleh-hweleh. Mau bilang apa lagi..... sisi manusiawi tho. Aku lupa meninggalkan charger laptop, sehingga anakku hanya bisa bekerja dengan daya dan tenaga sisa yang ada saja. Mengulangi dari awal prosesnya? Hmmm, itu butuh seharian lagi.

Tak mengapalah.... toh sudah ribuan foto berhasil terselamatkan. Suami tersenyum, aku terkikik, anak terkapar lelah, dan.... Happy ending, bukan?

Karena aku paham.... seberapa penting sebuah data bagi seseorang, bagi banyak orang, bagi ribuan orang. Mungkin, hanya sebuah foto, namun bisa berceritera, dan berbicara tentang ribuan makna dan nilai-nilai yang ada.

Demikian pula hal nya dengan data yang ada pada hard disk komputer. Ribun data tersimpan di sana. Sedang hard disk tak bisa dibuka, tak bisa terbaca, gak ter detect..... Sudah kucoba untuk membawanya ke Rimo, Electronical Market & Shopping Center di jalan Diponegoro, Denpasar. Para sahabat tempat kuberlangganan juga tidak mampu menuntaskan ini. Namun kudapatkan info dari mereka, Farez Computer mampu membantu memberikan solusi dari permasalahanku.

Kamis, 13 Desember 2012, sepulang dari kantor, kusempatkan menelusuri jalan Jayagiri di daerah Renon. Setelah berputar-putar dan bertanya berkali, akhirnya kutemukan alamat Farez Computer, Sang Penyelamat Data. Jalan Jayagiri XIX B, nomer 2. Well, diskusi panjang dengan si bapak pemilik usaha ini, meyakinkan bahwa dia bisa membantu, namun tidak berjanji, bila situasinya parah sekali, termasuk bila ada bad sector, dan beragam kemungkinan lain. Sungguh, sebuah harga yang relatif mahal demi sebuah usaha penyelamatan data...... namun, karena aku paham makna dan nilai sebuah upaya, dan makna juga nilai dari data-data yang ada.... maka, "Lanjut !!! " kataku padanya, "Selamatkan data yang ada dan bisa bapak lakukan, lakukan yang terbaik demi saya".

Dia juga mengajariku untuk membantu mem back up upaya penyelamatan data dengan menyimpan data di beberapa sarana, seperti flash disk, cd, external hard disk, beberapa laptop dan CPU sekaligus, dan juga, Googledrive.com. Hmmm, mungkin, yg lebih akan membantu, jika bapak mau jadi asisten pribadi saya, pak. Hohoho. Kagak kuat bayar di ongkos, ateuh.... Resiko emank, bila berkaitan dengan data, bukannya date-date. Hehehe, istilah bagi, macam-macam, dalam bahasa Bali.

Kini? yang bisa dilakukan hanya menanti hasil kerjanya. semoga dia berhasil. Semoga Tuhan membantu usaha kami, dan juga niat tulus ini.

Rabu, 12 Desember 2012

Buda Kliwon Ugu, Rabu, 12/12/12










Tuntas dengan urusan kerja di Nusa Dua, Rabu, 12/12/12/ Hari ini adalah hari keramat bagi sebagian orang. Dunia bakal kiamat, kata mereka. Hari cantik, kata yg lainnya lagi. Hmmm, entahlah, namun bagiku, hari yg sama istimewa dengan hari lainnya, atau, sama biasa dengan hari lain pula....

Yang jelas, hari ini adalah pertengahan minggu, dimana murid2ku, para mahasiswa dan mahasiswi Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, sedang menempuh ujian Praktek di berbagai program studi dan jurusan.





Menyempatkan menyapa rekan-rekan kerja yang kutemui, menikmati diskusi singkat dengan mereka, sebelum berlalu melanjutkan pergerakan ke ruang lainnya.



Teratai di kolam kami sedang bermekaran dengan indahnya. Terpantul cahaya kemilau mentari, dihiasi air mancur di bagian tengah. Hmmm, kupanjatkan doa, seluruh murid yang sedang menempuh ujian praktek dan teori akan dapat melalui hari dengan sukses.  

Hari ini, piodalan ring Batuaji. Setelah berkali menerima sms via ibuku tercinta, dan juga para keluarga besar dari Tabanan, kuputuskan untuk pulang sejenak di akhir rangkaian aktivitas hari ini. Lelahkah??? Tidak. Cinta akan membawa setiap jejak langkah terhantar bagai air mengalir ke setiap relung sisi hati. 



"Pulanglah, ada bapak di sana". 
Kata ibuku yang telah dengan suksesnya membuat air mata ku bergulir perlahan......
Duuuhhh, ibu terkasih, emakku. Meski bapak telah tiada 5 tahun lalu, kasih di antara mereka menguatkan hatiku, seharusnya... seperti ini lah cinta. Saling mengasihi satu sama lain, tanpa pernah saling memanfaatkan dan menyia-nyiakan doa pasangan.

Aku pun beranjak pulang, meski langit menjelang kelam



 Kulihat para keluarga besar berkumpul setelah bersembahyang, mereka sedang membuat bahan2 untuk jaje suci. Kaum pria mengupas kelapa, kaum wanita mecik jaje. Kangen kebersamaan ini senantiasa...




Perlahan aku bergerak menuju Merajan Alit, merajan bagi keluarga kami, menghaturkan sembah dengan sepenuh sujud yang ku mampu, pasrah dalam segala doa dan harapku.



Rinduku dalam secarik langgam,
takkan terhapus dalam semalam, 
berkah Tuhan bagi cinta dalam beragam, 
meski jauh terpisah jarak dan masa yang ter rentang, 
bapak dan ibu, aku kangen ingin bersulang. 
Malam, enggan ku berlalu dalam mimpi 
yang terkadang hadir meski pilu, 
mencoba jadi diri yg tegak kukuh...









Buda Kliwon Ugu, Rabu, 12/12/12,
kala malam mendekap,
dalam sapa malam semilir angin mendekap.....
setangkup doa bagi Yang Maha Kuasa,
Hyang Widhi Wasa, para leluhur dan juga Bethara....
Pasrahku bersimpuh,
aku luluh, luruh, kuharap rinduku terbasuh.


Kamis, 06 Desember 2012

Pohon Kapuk Randu



Menjadi randu,
yang tegak kokoh menjulang,
menimang meminang di setiap mimpi
berbilang hari dalam kukuh diam......

Menjadi randu,
yang kian terlupa karena hanya kapuk,
tersisih karena sang busa spon bantal dan kasur....

Menjadi randu,
karena kembali ke awal dan asal,
dia yang terlupa ternyata sungguh tegar,

Dikaukah randu yang kutunggu dan kurindu
dalam jelajah waktuku ??
Sang pohon kapuk randu....
tidaklah berjalan dalam sepi sendirian



Rabu, 05 Desember 2012

Berpikir positif itu memang penting





Setelah seharian lelah dengan urusan kantor, aku pulang dan tiba di rumah pukul 3 sore. Kedua anakku tertidur lelap di pembaringan. Hmmm, terkadang mereka akur, adakalanya lain kali begitu ingin kujewer karena jadi biang beragam keributan di rumah mungilku ini. Sudah lama kami tidak bepergian bersama. Kesibukan kerja dan kuliahku, kesibukan mereka dalam beragam kursus dan sekolah, dan, minggu ini mereka sedang menghadapi ulangan umum. Sungguh, kami perlu lebih sering berkumpul dan pergi bersama.....

Waktu menunjukkan pukul 4 sore hari, tatkala kami berboncengan di atas motor hitam astrea grand milikku keluaran tahun 1993. Aku dengan berat tubuh "hanya" 75 kg, putra sulungku yang kini kelas III SMAN I Denpasar, dengan berat tubuh pula yang "hanya" 75 kg, dan putra bungsuku yang kini kelas V SDN 3 Padang Sambian Kelod, dengan berat tubuh "hanya" 40 kg.

Tujuan pertama kami adalah toko mobile phone di Imbo, istilah bagi jalan Imam Bonjol. Putra sulungku memiliki uang tabungan dari hasil kerjanya selama ini, dan dia berencana membeli Ipod sebagai modal kerjanya. Yup, dia sudah terbiasa melakukan beberapa pekerjaan dan menerima bayaran, mulai dari menjual hasil rancangan gambarnya, perbaiki handphone dan komputer, sablon dan jual baju kaos, menanggap beberapa proyek fotografi bersama teman-teman sekolah demi beberapa event kecil. Well, kedua anakku terbiasa dengan ide-ide kreatif yang mereka lakukan. Si bungsu, misalnya, dia pernah berjualan asesoris bagi teman-temannya, menggalang penjualan es jus di perumahan kami.

Dan, setelah mendapatkan Ipod yang diinginkannya seharga 5,2 juta, meski bekas, namun masih dalam kondisi prima tersebut, kami segera berlalu dari toko tersebut.

Tujuan kami berikutnya adalah Rimo electronic trading center. Printerku sudah tidak bisa diandalkan lagi. Sudah dua tahun mengabdi bagi kami. Dengan aku sedang menempuh pendidikan S3 di Program Pascasarjana Universitas Udayana, Program Studi Kajian Budaya, demikian pula halnya suamiku yang kakak kelasku di sana, kedua anakku yang aktif mencetak beragam pekerjaan mereka, kami butuh mesin printer baru. Mungkin, hanya akan kubeli yang biasa saja, sesuai dengan isi kantungku yang tak seberapa.

Satu jam berkeliling dan memantapkan pilihan kami, kami dapatkan printer HP yang lumayan tangguh ini menurut penjualnya. Hehehe, dimana-mana memang kecap selalu nomer satu, numero uno, gak ada duanya. Tuntas perjalanan hari ini, kami bersiap untuk pulang.

Bertiga berboncengan di atas motor tuaku, dengan aku yg mengendarai setang motor, laju kendali motor smakin berkurang, dan.... ternyata ban motor pecah. Hmmm, sungguh, berat beban yang harus ditanggungnya, 200 kg berat beban kami bertiga, belum lagi ditambah dengan ransel beratku, mesin printer....... Hehehe, maafkan kami, sang motor tercinta.



Perlahan kami berbalik arah, mencari tukang tambal ban pada pukul 8 malam memang sungguh tidaklah mudah. Astungkara...... seorang penambal ban dengan mengendarai motor sedang bersantai di depan Rimo Electronic Trading Center. Andi namanya. Bapak muda dari seorang putri, berasal dari Banyuwangi, dia mengambil posisi jabatan yang sering tak dianggap oleh orang banyak ini, penambal ban. Namun dia bisa memperoleh hingga Rp 150.000 per malam, dengan bekerja dari pukul 5 sore hingga larut malam.



Dan yang lainnya lagi..... aku bersama kedua anakku bisa menikmati kebersamaan kami dengan sungguh-sungguh terasa, dari berbelanja bersama, bepergian bersama, mejeng dengan duduk di pinggir jalan bersama, sambil memandangi kendaraan yang berseliweran di jalan raya Diponegoro ini, menanti sang motor di tambal bannya.



Astungkara....... Berpikir positif dan mampu memahami makna indah yang hadir di balik setiap peristiwa.......

Tukang tambal ban bermotor itu bernama pak Dani




Jumat sore, 30 November 2012, aku pulang dan tiba di rumah pukul 3 sore. Waktu menunjukkan pukul 4 sore hari, tatkala bersama kedua anakku keluar bersama. Kami berboncengan di atas motor hitam astrea grand milikku keluaran tahun 1993. Aku dengan berat tubuh "hanya" 75 kg, putra sulungku yang kini kelas III SMAN I Denpasar, dengan berat tubuh pula yang "hanya" 75 kg, dan putra bungsuku yang kini kelas V SDN 3 Padang Sambian Kelod, dengan berat tubuh "hanya" 40 kg.

Kami pergi ke Rimo electronic trading center di Dipo, istilah bagi jalan Diponegoro. Satu jam berkeliling dan memantapkan pilihan kami, kami dapatkan printer HP yang lumayan tangguh ini menurut penjualnya. Hehehe, dimana-mana memang kecap selalu nomer satu, numero uno, gak ada duanya. Tuntas perjalanan hari ini, kami bersiap untuk pulang.

Bertiga berboncengan di atas motor tuaku, dengan aku yg mengendarai setang motor, laju kendali motor smakin berkurang, dan.... ternyata ban motor pecah. Hmmm, sungguh, berat beban yang harus ditanggungnya, 200 kg berat beban kami bertiga, belum lagi ditambah dengan ransel beratku, mesin printer....... Hehehe, maafkan kami, sang motor tercinta.

Perlahan kami berbalik arah, mencari tukang tambal ban pada pukul 8 malam memang sungguh tidaklah mudah. Astungkara...... seorang penambal ban dengan mengendarai motor sedang bersantai di depan Rimo Electronic Trading Center. Andi namanya. Bapak muda dari seorang putri, berasal dari Banyuwangi, dia mengambil posisi jabatan yang sering tak dianggap oleh orang banyak ini, penambal ban. Namun dia bisa memperoleh hingga Rp 150.000 per malam, dengan bekerja dari pukul 5 sore hingga larut malam.

"Istri saya orang Sumba, anak saya satu orang, dan pagi hari saya bekerja sebagai tukang anter jemput anak sekolah". Demikian uraiannya sambil kami duduk bersama di pinggir jalan tersebut.

Ah, sungguh ku kagum pada orang-orang seperti mereka. Sepenuh perjuangan jalani hari demi hari, demi sesuap nasi, abaikan minder dan ego di hati. Salutku bagi pak Dani, dan juga jutaan orang di berbagai belahan negeri ini....... Hidup terkadang tidak mudah bagi kita, tidak seindah harapan dan impian yang kita bayangkan. Terjatuh berkali, bangkitlah berkali dan berkali lagi. Jangan gampang berputus asa.....