Rabu, 25 Maret 2015

Nyanyian dan Tarian untuk STPNB





Semenjak info mengenai diadakannya lomba karaoke bagi dosen dan pegawai STPNB terkait DIES ke 37 disebar melalui mailing list group kami, aku langsung melakukan konfirmasi keikutsertaan tanpa berpikir panjang lagi.

Kusampaikan, bahwa demi STPNB, aku akan menyumbangkan suara dan ikut berpartisipasi sebagai peserta lomba yang akan direncanakan terlaksana pada hari Rabu, 25 Maret 2015. Brani Tampil Malu !!






Dies Natalis XXXVII STP Nusa Dua Bali

Ketentuan Umum:
1.      Peserta lomba karaoke dosen dan karyawan meliputi seluruh dosen dan karyawan STPNB.
2.      Setiap peserta wajib menyanyikan sebuah lagu yang tersedia di daftar lagu pilihan.

Waktu Pelaksanaan
Hari, Tanggal : Rabu, 25 Maret 2015
Waktu               : 09.00 wita
Tempat            : Gedung Genitri
Kriteria Penilaian
·         Suara
·         Performance
·         Artikulasi

Daftar lagu Pilihan
1.      I want to hold your hand – The Beatles
2.      Yesterday – The Beatles
3.      Kopi Dangdut
4.      Radio – Koes Plus
5.      Kisah sedih di hari minggu – Koes Plus
6.      Layu sebelum berkembang – Teti Kadi
7.      Teluk bayur – Erni Johan
8.      Kupu-kupu malam – Chrisye
9.      Jangan ada dusta di antara kita – Dewi Yull
10.  Melati dari Jayagiri – Bimbo
11.  Rindu yang terlarang
12.  Duri dan cinta – Broery feat. Dewi Yull
13.  Gelas-gelas Kaca-Nia Daniati
14.  Kaulah Segalanya-Nia Daniati
15.  Goyang Dumang – Cita Citata
16.  Sakitnya tuh Disini – Cita Citata
17.    Sepanjang Jalan Kenangan Rafika Duri
18.    Kemesraan-Broery feat. Dewi Yull
19.    Kolam susu – Koes Plus
20.    Widuri-Bob Tutupoli

*Seluruh dosen dan karyawan diharapkan dapat berpartisipasi dan mendaftarkan diri dalam memeriahkan lomba ini.
** formulir pendaftaran dikumpulkan ke PJ Karaoke dosen dan karyawan (JessyccaYulianty, DPW/  








Baru kemudian aku mengamati list lagu yang harus kami pilih. Dengan mantap kupilih lagu Kemesraan. Memutarnya berulang kali, dan yakin ini lagu tepat. 

Sampai tiba pada hari Selasa pagi, 24 Maret 2015. Pikiranku berubah akan bernyanyi dan bergoyang. Dan lagu yang tepat adalah Sakitnya Tuh Disini, yang dinyanyikan oleh Cita Citata. Ah ha !! Latihan cukup sekali di saat sore hari, sambil mengoreksi tumpukan Usulan Proposal Tugas Akhir para mahasiswa, dan meminta saran dari  Ketua Program Studi, ibu Sri Sadjuni, yang juga masih lembur kerja.

Hohoho.... hanya 2 kali latihan. dan kami bubar pulang kerja. Menuju rumah? Belum lagi, aku masih bezoek bu Dewa Ayu Lily Dianasari, yang terserang cacar air, dan dirawat di RS Kasih Ibu. Hingga pukul 8 malam disana. Baru kemudian pulang, masih disibukkan urusan keluarga, dan langsung tepar tertidur pulas.




Tibalah hari ini, Rabu 25 Maret 2015. Pagi hari sehabis masak dan mencuci pakaian keluarga. Kuminta bantuan suami tercinta untuk mencukur rambutku yang gondrong. Aku ingin tampil sempurna. Ya, suami ku juga pintar mencukur rambutku, sama seperti, terkadang, aku yang mencukur rambutnya. Sambil, kunyanyikan lagu Sakitnya Tuh Disini, agar suami bisa mendengar dan memberikan komentar sebelum istrinya tampil menggetarkan panggung pentas, hingga cetaarrrr membahana, dengan suara cempreng dan goyangan heboh..........


Lomba karaoke dimulai pukul 10. Bersama ibu IGA Mirah Darmayanty, pukul 8 pagi, aku sudah menyesuaikan dengan layar tancap, dan juga lagu yang kami pilih, di ruang Genitri. Lalu kami beranjak menuju Gedung MICE, bersiap mengikuti Seminar Sinkronisasi Pengabdian Masyarakat STPNDB dengan Kebutuhan Masyarakat yang akan dihadiri oleh para pejabat Disparda dari masing-masing Kabupaten, Kodya dan Propinsi Bali.

Pukul 9, ibu Juli Rastitiati memintaku menjadi juri Lomba Mading yang diikuti oleh 8 kelas dari 65 kelas yang ada di STPNB. ADH kelas A smt 2, ADH kelas B smt 2, ADH kelas C smt 2, DPW smt 2, DPW  smt 4, MKP smt 2, MBP smt 2, MAH smt 2. Ah ha !! Siap bu !!

Well...... Demi pelayanan yang terbaik pada para mahasiswa, demi STPNB, dan demi semua pihak, maka, jadilah sepanjang hari ini, hari Rabu, 25 Maret 2015, aku menjadi juri yang menilai (Lomba Mading di Wantilan), jadi peserta yang dinilai oleh juri (Lomba Karaoke di Genitri), dan juga, jadi peserta seminar STPNB & Disparda di MICE), berkaitan dengan Dies Natalis ke 37 STPNB.

Bukankah, dewasa ini, kita dituntut untuk serba bisa dan biasa, melakukan WOW 4.0 ?? Maka..... Let's rock the world, babe.....


Senin, 02 Maret 2015

Dies Natalis ke 37, STPNB, 27 Maret 2015 (1)






Tulisan ini merupakan bagian I dari Trilogi Tulisan  yang dibuat dalam rangka Dies Natalis ke 37 Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, tanggal 27 Maret 2015.

“The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn”. Alvin Toffler, Sang Futuristik menyampaikan pemikirannya. Hal ini memberi gambaran pada kita semua, bahwa setiap orang akan selalu bergerak dinamis mengikuti perubahan dan perkembangan dalam kehidupan ini, untuk selalu belajar, belajar dan belajar. Tidak menyerah kalah oleh beragam situasi dan kondisi yang ada.

Lembaga pendidikan yang beralamat di jalan raya Dharmawangsa Kampial ini, pada awalnya berada di dalam area  BTDC dengan nama Pusat Pendidikan Perhotelan dan Pariwisata Bali. Berdiri semenjak tahun 1978, kini bernama Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali.

Sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi yang berada di bawah naungan Kementerian Pariwisata, Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali memiliki tenaga pengajar berstatus dosen sebanyak 79 dosen pria, 66 dosen wanita, dengan total jumlah dosen 145. Dari jumlah tersebut, 128 orang merupakan dosen tetap, 17 orang dosen honorer, dan 64 orang sudah tersertifikasi sebagai dosen. Bersama kekuatan 242 pegawai yang mendukung kelancaran operasional lembaga ini sehari-harinya.

Kepemimpinan yang telah bergulir semenjak tahun 1978, dengan nama Pusat Pendidikan Perhotelan dan Pariwisata Bali (P4B), kemudian berganti nama menjadi Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata Bali (BPLP). Sesuai Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 102 Tahun 1993 berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua. Semenjak ketua pertama, Drs. I Gde Ardika (1978 – 1985), Drs. Nyoman Bagiarta (1985 – 1992), I Gde Wijana (1992 – 1998), Prof. Dr. Dra. N.K. Mardani, M.S. (1998 – 2000), Drs. Sumekto Djayanegara (Januari – Agustus 2000), Drs. I Gusti Putu Laksaguna, CHA., M.Sc.(Agustus 2000 – April 2002), I Made Sudjana, SE, MM, CHT. (April 2002 – Juni 2010). Dr. I Nyoman Madiun, M.Sc.(23 Juni 2010 – 28 Januari 2013). Semenjak 28 Januari 2013, Drs. Dewa Gede Ngurah Byomantara, M.Ed. menjadi Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, hingga saat ini.

Mengemban Visi : Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Nusa Dua Bali is The Centre of Excellence in The Tourism Education

Juga Misi berikut :
  • Conducting Professional and/or Academic Education and Training to Support The National Tourism Development
  • Conducting Tourism Researches and Studies to Optimize the Tourism Development
  • Conducting Community Service to Develop Sustainable Tourism, Community Empowering and Environmental Maintenance

Sebanyak 103 dosen telah memiliki sertifikat workplace asesor. Sembilan orang dosen telah menamatkan pendidikan S3, 104 dosen telah menamatkan pendidikan S2, dan S1 sebanyak 23 orang, DIV sebanyak 9 orang.

Jumlah keseluruhan 2794 mahasiswa yang tersebar pada berbagai semester di berbagai Jurusan dan Program Studi, meliputi S1 Bisnis Hospitaliti sebanyak 235, DIV Administrasi Perhotelan berjumlah 450, DIV Manajemen Akunting Hospitaliti sebanyak 140 mahasiswa, DIII Manajemen Divisi Kamar berjumlah 264 mahasiswa, DIII Manajemen Tata Hidangan sebanyak 395 mahasiswa, DIII Manajemen Tata Boga sebanyak 416 mahasiswa, DIV Destinasi Pariwisata berjumlah 116 mahasiswa, DIV Manajemen Kepariwisataan berjumlah 159, DIV Manajemen Bisnis Perjalanan berjumlah 119 mahasiswa, DIV Manajemen Konvensi dan Perhelatan sebanyak 134 mahasiswa, DIII Manajemen Perhotelan berjumlah 159 mahasiswa, DII Kantor Depan berjumlah 35 mahasiswa, DII Tata Hidangan berjumlah 57 mahasiswa, DII Tata Boga sebanyak 54 orang, DII Tata Graha 49 mahasiswa, DII Spa berjumlah 4 mahasiswa, dan DIII Manajemen Spa berjumlah 8 mahasiswa.

Beragam gelar dan penghargaan yang telah diperoleh selama berpuluh tahun berkembang, memperlihatkan betapa penerapan konsep disiplin, dedikasi, determinasi, differensiasi, dan devotion membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, baik internal maupun eksternal lembaga ini.

STPNDB meraih THK 3 kali berturut2, 2009, 2010, 2011 medali emas, maka berhak atas emerald, yang diserahterimakan Gubernur Bali Made Mangku Pastika pada ketua STPNB Dr. I NYoman Madiun, M.Sc., pada tanggal 26 November 2011 di Taman Safari Bali, Gianyar. Yayasan Tri Hita Karana merupakan sebuah yayasan independen yang menilai pelaksanaan konsep Tri Hita Karana di berbagai lembaga, termasuk lembaga pendidikan, berdasar segi parahyangan, palemahan, pawongan.

STP Nusa Dua juga mendapat pengakuan Tourism Education Quality dari WTO dan ini adalah predikat pertama tingkat Asean sedangkan tingkat Asia, STP Nusa Dua adalah perguruan tinggi ke-4 yang meraih pengakuan tersebut.

29 Mei 2013 menerima sertifikat Tourism Education Quality (Tedqual) dari UN-WTO ini, dunia telah mengakui pendidikan tinggi  pariwisata di Indonesia sudah berkelas dunia,” kata Menbudpar Jero Wacik  ketika menerima penghargaan Hildiktipari (Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata Indonesia) dan sertifikat Tedqual (Tourism Education Quality ) dari UN-WTO di balairung Gedung Sapta Pesona Jakarta, Rabu (16/9/2013)
Toffler dalam bukunya Syok Future berpendapat bahwa perubahan teknologi sejak abad kedelapan belas telah terjadi sehingga cepat sehingga banyak orang yang mengalami stres berlebihan dan kebingungan karena ketidakmampuan mereka untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan strategis. 

Dia menciptakan istilah " future shock" didasarkan pada konsep 'budaya shock' untuk menggambarkan kondisi ini . Siap tidak siap, mau tidak mau, setiap orang dituntut ontuk berhadapan dengan situasi dan kondisi yang akan selalu berubah dan berkembang. Perubahan terkadang mencakup pula situasi dan kondisi strategis dan mengeksplorasi sosial, ekonomi, dan implikasi politik perkembangan teknologi di masyarakat

Budi Sepang bilang, “Kita hidup di jaman aneh : orang2 bekerja membanting tulang siang dan malam, agar banyak uang. Karena kerja keras itu kemudian mereka stress, lalu membayar mahal untuk hiburan. Karena uang banyak itu kemudian mereka makan apa saja yang disuka, lalu menghabiskan banyak uang untuk berobat karena kolesterol dan untuk menguruskan badan. Dan kita bangga menyebut absurditas itu sebagai modernitas. Membayangkan itu semua terkadang membuat saya merasa sedih”.

Namun, kesedihan dan bermuram durja, berpangku tangan, mencaci, takkan menuntaskan problema kita. Hidup akan selalu bergulir, datang silih berganti dengan beragam situasi, tuntutan, halangan dan rintangan. Terkadang, kita tidak bisa memprediksikan atau mengendalikan situasi yang ada.

Hal ini memberi gambaran bahwa seluruh jajaran dan jejeran manajemen, Dosen dan Pegawai, Mahasiswa dan juga stake holder terkait Sekolah Tinggi Pariwisata untuk selalu siap dengan segala yang dinamis, berubah dan berkembang, namun tetap berpijak erat pada akar logika, norma dan juga etika yang berlaku, dimanapun, kapan pun, bagaimana pun caranya…..

Selamat Dies Natalis, Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali. Semoga selalu jaya.

Kamis, 19 Februari 2015

Dan..... Dia menangis tersedu di pelukan ku....

Seorang remaja putri berjalan perlahan....
Dia menangis tersedu-sedu.

Aku sedang berada di depan Pura Jagatnatha Denpasar,
Bersiap untuk bersembahyang bersama para sahabat,
Melakukan puja dan samadhi ku bagi Nya

Kuhampiri si anak perempuan ini.....
Dia berkacamata minus, dan mengenakan seragam OR

"Namaku Dian"..... ujarnya terbata, sambil menangis tersedu.
Kupeluk dia, dan coba kembali kutanya apa yang baru dialaminya.
"Tidak ada yang mau meminjamkan HP pada saya"

Kupeluk dia, yang kemudian bertutur, diantar kakaknya, Devi,
untuk bertemu temannya di alun2 itu, untuk menjual HPnya,
yang kemudian dibanting karena emosi, dan HP hilang entah kemana.
Dia tidak berani pulang karena takut dipukul ibu tentang HP hilang....

Dian, kelas 3 SMP terkenal di kota ini.
Dia kuminta menghubungi telpon rumahnya,
menghubungi orangtuanya,
agar menjemput dia .....

Dian, yang kemudian dijemput bapak dan bibinya,
ternyata, habis bertengkar dengan ibunya
yang tidak mengijinkannya keluar di malam hari
menemui sahabatnya....

Dian, yang tidak bisa bertutur jelas....
kami curigai mengenal sahabatnya via media sosial internet,
dan juga, korban hipnotis...

Ah.....
Remaja, dengan segudang dinamika.
Remaja, dengan Dian - Dian lain di bumi ini.
Semoga kalian kenali dan pahami,
tentang banyak hal dalam kehidupan ini,
yang membutuhkan kebijakan serta kedewasaan dalam bertindak....

Dian.....
Dan, dia kembali menangis tersedu-sedu di pelukanku.

Minggu, 25 Januari 2015

Dahulu aku mencintaimu......




Dahulu aku mencintaimu....
karena kupikir engkau lah pria sempurna bagi hidupku

Seiring berjalannya waktu.....
seiring gerak kehidupan,
seringkali dalam banyak suka dan duka hidup
yang kita temui,
kusadari.....
Engkau bukanlah pria sempurna.

Berkali tak mau kau kabulkan permintaanku
Berulang kau buatku kecewa dan murka
Berbilang waktu kau buat airmata mengalir sia-sia
Bahkan, untuk bermanja sepenuh romansa

Namun yang kutahu, yang kusadari....
Aku semakin mencintaimu dari hari ke hari
Engkau bukanlah pria sempurna
Engkau tidaklah sempurna
Engkau pria yang tampil apa adanya
Dan aku semakin mencintaimu, sangat mencintaimu......

Kekasih hatiku,
Suamiku,
Bapak dari kedua putraku
Kakak dan teman curcolku
Musuh di setiap debatku,
Selimut tidurku,
Tempat kusandarkan segala beban hidupku.....

Minggu, 18 Januari 2015

Siwa Ratri


Coma Pon Pahang, Senin, 19 Januari 2015. Hari Raya Siwaratri bagi umat Hindu. Hari yang dikenal sebagai pengendalian diri dari sikap egois dan emosi.

Umat Hindu berupaya mengendalikan diri dari beragam sifat dan sikap negatif. Sikap ini terwujud dalam rangkaian hari-hari yang mereka miliki, baik itu . mengapa, karena sikap ini akan senantiasa meningatkan kita semua, bahwa dengan pengendalian diri, akan terhindar konflik batin dan konflik antar umat. Dengan pengendalian diri, akan terjaga toleransi dan terjalin kebijakan di setiap tindakan. Dengan pengendalian diri, setiap orang menjadi dewasa dalam mencapai tujuan hidupnya.
 
Pada dasarnya dalam diri manusia ada dua kecenderungan, yakni kecenderungan berbuat baik dan kecendrungan berbuat jahat. Dua kecenderungan tersebut,  yaitu :
  1. Daiwi Sampad, yaitu sifat kedewaan.
  2. Asuri Sampad, yaitu sifat keraksasaan.
Daiwi Sampad bermaksud  menuntun perasaan manusia ke arah keselarasan antara sesama manusia.
Sifat – sifat ini perlu dibina. Perkembangan kecendrungan sifat – sifat Daiwi Sampad dan Asuri Sampad pada manusia ada yang timbul karena faktor luar dan ada pula faktor dari dalam diri sendiri, serta ada pula dari kedua faktor tersebut.

Manusia didalam bertingkah laku sangat di pengaruhi oleh tiga sifat yang disebut Tri Guna, Tri Guna adalah tiga macam sifat manusia yang mempengaruhi kehidupan manusia. Tri Guna terdiri dari :
  1. Satwam atau sattwa adalah sifat tenang.
  2. Rajas atau rajah adalah sifat dinamis.
  3. Tamas atau tamah adalah sifat lamban.
Tri Guna terdapat didalam diri setiap manusia hanya saja ukurannya berbeda – beda. Tri Guna merupakan tiga macam elemen atau nilai – nilai yang ada hubungannya dengan karakter dari makhluk hidup khususnya manusia

I Wayan Sudira (2012) menjelaskan bahwa sudah seharusnya seseorang yang mendalami dan memahami ajaran agama, mengaplikasikan ajaran tersebut pula di dalam kehidupannya. Seharusnya lah, ajaran agama mampu membuat seseorang menjadi semakin bijak, dari perilaku yang tidak baik (seperti: . Dari belengu Asuri Sampad menjadi Daivi Sampad. Dari pengaruh Danawa (sifat-sifat destruktif raksasa) menjadi perilaku Madhawa (Dewa / kemuliaan). Dari Wisya (racun, bencana, ketidak beruntungan) menjadi matemahan Amerta (penghidupan, karunia, kemuliaan)

Terkadang, orang bisa terjerat kesombongan, iri hati dan keinginan berkuasa. Dengan semangat Siwaratri, berpuasa dan pengendalian diri berkali-kali, beragam energi negatif dan destruktif / merusak ini di somya, dilebur, dikikis dan dikendalikan menjadi kearifan, kecerdasan, dalam menyikapi beragam situasi kehidupan.


Makna Siwaratri
Siwaratri memiliki arti Malam Siwa. Kata Siwa (Sanskerta) bermakna baik hati, suka memaafkan, memberi harapan dan membahagiakan. Siwa merupakan gelar atau nama kehormatan bagi Tuhan, yang diberi nama atau gelar kehormatan Dewa Siwa, dalam fungsi beliau sebagai pemerelina untuk mencapai kesucian atau kesadaran diri yang memberikan harapan untuk kebahagian. Sedangkan kata Ratri artinya malam, malam disini juga dimaksud kegelapan. Jadi Siwaratri berarti malam untuk melebur atau memralina (melenyapkan) kegelapan hati menuju jalan yang terang.

Kekawin Siwaratri karya Mpu Tanakung di kalangan masyarakat Hindu di Bali lebih dikenal dengan nama Kekawin Lubdaka. Kekawin ini biasanya dibaca pada hari raya Siwaratri, yaitu pada hari Caturdasi Krsnapaksa artinya panglong ping 14 Sasih Kepitu atau sehari sebelum bulan mati pada bulan magha (ke-7) yaitu malam yang paling gelap di dalam satu tahun.

Ajaran Siwarati bersumber pada : Siwapurana, Padmapurana, Garudapurana, dan Kekawin Siwaratri Kalpa. Mpu Tanakung telah berasil menggubah karya sastra yang bermutu yaitu Kekawin Siwaratri Kalpa atau Lubdaka pada jaman Majapahit (Abad ke-15). Beliau mengambil sumber Padmapurana yang memuat percakapan antara Dilipa dengan Wasistha. Bagian Uttara Kanda dari Padmapurana sangat dekat dengan kekawin Siwaratri Kalpa. Bagian-bagian tertentu dalam kekawin Siwaratri Kalpa merupakan terjemahan dari sumber tersebut. Dengan menggubah kekawin Siwaratri Kalpa, Mpu Tanakung bermaksud menyebarluaskan cerita itu lewat media seni sastra.

Siwaratri dan Brata
Hari Raya Siwaratri di Bali dilaksanakan oleh masyarakat dengan melakukan Brata. Berbagai macam Brata atau ajaran tentang latihan pengekangan diri oleh Tuhan Yang Maha Esa bertujuan untuk kembalinya diri manusia kepada kesadarannya yang sejati, yakni atma yang berstana pada diri pribadi seseorang. Kegelapan oleh berbagai fator terutama oleh keterikatan terhadap keduniawian menghambat usaha manusia untuk meningkatkan kwalitas dalam hakekat kehidupan. Kata Brata dalam bahasa Sanskerta berarti Janji, Sumpah, atau kewajiban, laku utama atau keteguhan hati, penyucian diri. Dengan demikian Brata Siwaratri berarti kewajiban sebagai laku utama, atau janji untuk teguh hati, untuk melaksanakan ajaran Siwaratri.

Salah satu ajaran tentang brata adalah Brata Swaratri yang mengandung ajaran yang sangat luhur, guna meningkatkan sradha dan bhakti kita kepada Tuha Yang Maha Esa. Dan melalui brata ini pula seseorang akan dapat meningkatkan keluhuran budhi pekertinya sehingga perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama dapat dicegah, diredam dan dihindari termasuk pula emosi yang dapat meletup dalam kerusuhan sosial yang dapat mengorbankan jiwa dan harta benda.

Brata bertujuan untuk memperoleh kesadaran diri dengan  melenyapkan papa. Kata papa dalam bahasa sanskerta artinya sengsara, neraka, buruk, jahat dan hina.

Brata Siwaratri terdiri dari tiga tingkatan, yaitu :
1. Tingkat Utama yang terdiri dari Monobrata, Upawasa, dan Jagra yang dilaksanakan sekaligus.
2. Brata Tingkat Madya terdiri dari upawasa dan jagra dilaksanakan sekaligus.
3. Brata Tingkat Nista hanya dengan melaksanakan jagra.

Monabrata artinya pantangan bicara atau berdiam diri tanpa bicara
dari pukul 06.00 pada panglong ping 14 sampai pukul 18.00
Tileming sasih Kepitu selama 36 jam.

Upawasa artinya berpuasa tidak makan dan minum lamanya sama dengan monabrata.

Jagra artinya berjaga, bangkit, maksunya tidak tidur selama 36 jam.


Pelaksanaan Brata Siwaratri di India dan di Indonesia
Pelaksanaan Brata Siwaratri di India pada paro petang ke-14 bulan phalguna (februari-maret) hyampir sama dengan di Indonesia yang dilakukan pada paro petang ke-14 bulan magma (januari-februari), yakni mereka tidak tidur selama 36 jam, sembahyang Kepura-Pura Sanghyang Siwa dengan mengucapkan japa pancaksara OM NAMAH SIWAYA. Sejak pagi hingga keesokan harinya menjelang mata hari terbenam.

Berbagai perayaan dan pelaksanaan Brata tidak akan banyak memberikan manfaat bila umat tidak mampu menangkap makna dibalik perayaan atau Brata tersebut, untuk itu hal yang penting adalah merenungkan semua makna keutamaan Brata itu kemudian mengejewantahkannya, menerapkan dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan sosial.

Brata Siwaratri adalah hari untuk meningkatkan kesadaran kita untuk senantiasa memuja keagungan Sanghyang Widi dalam hal ini salah satu abhiseka atau manifestasi utama-Nya adalah sebagai Sanghyang Siwa. Tujuan utama dari Brata Siwaratri adalah melenyapkan sifat-sifat buruk atau jahat dan hina.

Pemujaan terhadap Dewa Siwa dalam upacara Siwaratri karena manusia dalam menghadapi segala hambatan baik yang berasal dari dalam maupun dari luar diri, memerlukan tuntunan dan waranugraha Dewa Siwa sebagai pemeralina segala sesuatu yang menghalangi tujuan suci. Dewa Siwa sebagai penuntun dan pelindung manusia dalam perjuangannya melenyapkan kegelapan batin, menuju kehidupan yang penuh kesadaran, karena hidup yang penuh kesadaran dapat melenyapkan kepapaan dan kesengsaraan.

Orang yang mencapai pencerahan / Enlightment, orang yang telah berhasil berjuang melenyapkan kepapaan adalah orang yang penuh dengan pengendalian diri dalam bidang makan dan minum yang disimboliskan dalam upawasa (puasa). Orang yang penuh pengendalian diri dalam kata-katanya disimboliskan dengan monabrata, dan orang yang selalu waspada dan sadar dalam segala tingkah lakunya sehingga selalu dapat berbuat dharma disimboliskan dengan jagra. Orang yang demikian selalu mendapat perlindungan dan waranugraha dari Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam manifestasi beliau sebagai Dewa Siwa, baik selama hidupnya di dunia maupun di akhirat.




Sumber :
Gorris, R. 1984. Sekte-sekte di Bali. Jakarta: Bhatara Karya Sastra

Mantra, Ida Bagus. 1970. Bhagavad Gita. Denpasar: Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali.

Pendit, Nyoman S, 1994,  Bhagavad Gita, Jakarta, P.T. Hanuman Sakti, Jakarta.

Putra, I. Gst. Ag, 2003, Panca Yadnya, Pemerintah Propinsi Bali, Kegiatan Peningkatan Sarana dan Prasarana Kehidupan Beragama, Denpasar.

Sudharta, Tjok. Rai dan I.B. Oka Punyatmaja. 2001. Upadesa. Surabaya: Paramita.

Sudharta, Tjok. Rai. 1993. Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan. Denpasar: Upada Sastra.
—————–. 1996. Manawa Dharmasastra. Jakarta: Hanuman Sakti.

Sura, I Gde,dkk.2000. Siwatattwa. Denpasar: Proyek Peningkatan Sarana dan Prasarana Kehidupan Keagamaan.
_____________. 2003. Kamus Istilah Agama Hindu. Denpasar: Proyek Peningkatan Sarana dan Prasarana Kehidupan Keagamaan

I Wayan Sudira

Ida Made Pidada Manuaba, S.Ag., M.Si.