Minggu, 03 April 2016

Aplikasi Manajemen Prodi D IV ADH 2016





Aplikasi Manajemen Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali

Program Studi D IV Administrasi Perhotelan STPNB, semester 8, baik kelas A, B dan C, memiliki salah satu program terkait proses belajar dan mengajar, yakni Aplikasi Manajemen. Di awal semester, mereka ditugaskan menemu kenali, menggali informasi, dan menjalin interaksi dengan pihak hotel yang telah mereka pilih sebagai tempat mengaplikasikan rangkaian ilmu pengetahuan, ketrampilan, sikap yang mereka miliki selama ini.

Sudah tentu, terkadang, itikad baik untuk menggali data dan informasi, kemudian dibarengi dengan proses melakukan analisis sampai pada memberikan saran bagi pihak manajemen hotel, bukan merupakan hal yang bisa diterima. Maka para mahasiswa dan mahasiswi berupaya menjalin komunikasi intens dengan pihak manajemen hotel, demi tercipta hubungan baik, dan mampu mencapai pemahaman yang baik pula secara bersama-sama.

Program Studi D IV Administrasi Perhotelan STPNB, semester 8, kelas A, memilih hotel Champlung Sari Resort yang terletak di Monkey Forest, Ubud. Program Studi D IV Administrasi Perhotelan STPNB, semester 8, kelas B, memilih hotel Nirmala yang terletak di Gianyar. Program Studi D IV Administrasi Perhotelan STPNB, semester 8, kelas C, memilih hotel Dewi Sinta yang terletak di Tanah Lot.
Aplikasi Manajemen kelas A berada di bawah komando Lisa sebagai GM, kelas B dengan IB Bathya sebagai GM, dan kelas C di bawah komando Rai. Mereka berupaya memberikan yang terbaik bagi kelas, bagi Lembaga STPNB, bagi pihak hotel yang mereka eksplorasi, dan bagi masyarakat di mana pun mereka berada.
Seminar Hasil Aplikasi Manajemen tersebut dilaksanakan setelah seluruh rangkaian eksplorasi, analisis data terhadap hasil temuan mereka, perumusan hasil penelitian, dan perangkaian saran tuntas dilakukan bersama, dengan bimbingan para dosen pendamping program Aplikasi Manajemen.
Kelas A smt 8 Prodi ADH STPNB, para dosen pembimbing APM adalah Wayan Jata, M.Phil., Ni Nyoman Sukerti, SE., M.Si., Dra. NDM Santi Diwyarthi, M.Si., Putu Diah Sastri Pitanatri, S.St., Par., Dewa Gede Hendri, dengan ketua pelaksana kegiatan tersebut adalah
Kelas B smt 8 Prodi ADH STPNB, para dosen pembimbing APM adalah Drs. Dewa Ketut Sujatha, M.Si., Dr. Luh Micke Anggraini, S.St. Par., Dra. NLKS Sulistyawati, M.Par., dengan ketua pelaksana kegiatan tersebut adalah Dra. NDM Santi Diwyarthi, M.Si.
Kelas C smt 8 Prodi ADH STPNB, para dosen pembimbing APM adalah I Gusti Putu Ngurah Budiasa, MA., Ir. I Nyoman Sukana Sabudi, MP., Luh Gde Sri Sadjuni, SE., M.Par., Ni Made Suastini, SE., MM., Dra. IGA Mirah Darmayanty, M.Si, dengan ketua pelaksana kegiatan tersebut adalah
Seminar hasil APM Prodi ADH STPNB 2016, bagi kelas A, telah dilaksanakan pada hari Jum’at, 1 April 2016, bertempat di hotel Champlung Sari Resort & Spa, dengan narasumber GM Santika Hotel, dan ibu Dani, HR Coordinator Le Meridien Hotel.
Seminar hasil APM Prodi ADH STPNB 2016, bagi kelas B, telah dilaksanakan pada hari Kamis, 31 Maret 2016, bertempat di Aston Hotel, Jl. Gatot Soebroto, Denpasar, dengan narasumber.
Seminar hasil APM Prodi ADH STPNB 2016, bagi kelas C, dilaksanakan pada hari Rabu, 6 April 2016, bertempat di Dewi Sinta Hotel, Tanah Lot, dengan narasumber.

Champlung Sari Hotel ”A forest Haven in The heart of Ubud”…. Demikian tulisan yang menyapa hangat tatkala memasuki area hotel ini. Wajah hangat bapak Dewa beserta seluruh staf hotel, membuat hangat pula suasana hospitaliti yang mengalir akrab di seluruh hotel selama mahasiswa dan mahasiswi melaksanakan aktivitas terkait APM, baik pada bidang Human Relationship, Sales & Marketing, Food & Beverages Services, Food Product, Front Office & Spa, dan Housekeeping.
Terima kasih, pak Dewa, terima kasih, pak Edi, terima kasih, ibu dan bapak seluruh staf beserta jajaran manajemen Champlung Sari Hotel, yang telah berkenan membuka hotel bagi kami untuk melengkapi proses pembelajaran kami. Semoga kita bisa selalu menjalin interaksi yang menyenangkan ini, demi kemajuan dan perkembangan bersama.
Nirmala Guest House would be a lovely “Home away from home”, when you’re in Bali….. Demikian kalimat yang tertulis dan ditawarkan hotel ini bagi wisatawan yang mengecek situs mereka. Dengan komando bapak Jovis, panggilan akrab bagi General Manager hotel ini di mata para karyawan, mereka selalu berupaya belajar meningkatkan kualitas pelayanan bagi para wisatawan yang datang berkunjung dan menginap di hotel tersebut.
Terkait dengan program APM di hotel Nirmala tersebut, para mahasiswa dan mahasiswi Prodi ADH B angkatan 2012 berupaya memberikan yang terbaik demi pihak hotel. Mengungkap dan melakukan analisis dari berbagai departemen yang ada di Hotel Nirmala, seperti Front Office, Terima kasih, bapak Jovis, terima kasih, para staf, seluruh jajaran manajemen, beserta pemilik hotel, yang telah member kesempatan para mahasiswa dan mahasiswi kami untuk melakukan eksplorasi data hotel, dan mengaplikasikan  kemampuan mereka, di hotel yang bapak dan ibu kelola. Semoga hubungan baik ini terus terbina dan berjalan dengan baik pula adanya…..

Pengabdian Masyarakat Prodi ADH STPNB, Sabtu 2 April 2016






Program studi DIV Administrasi Perhotelan (ADH) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat yang pertama untuk tahun 2016 ini, di Kabupaten Gianyar, pada hari Sabtu, tanggal 2 April 2016. Tema yang dipilih adalah Pelatihan tentang Pengelolaan Hotel, Restoran dan Pondok Wisata dalam Meningkatkan Kapasitas Masyarakat di Kabupaten Gianyar.

Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini dihadiri masyarakat, pegawai pemerintah, dan pengelola pondok wisata yang ada di Kabupaten Gianyar, juga Kadisparda Kabupaten Gianyar, Ketua STPNB, Pembantu ketua STPNB, beserta Kapuslittabmas STPNB.

Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini merupakan salah satu wujud dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dilaksanakan para dosen di lingkungan STP Nusa Dua Bali. Beberapa hal yang melatar belakangi pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah sebagai berikut:
  • Pemerintah selalu berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di berbagai penjuru Indonesia. Pemerintahan provinsi Bali pada tahun 2016 ini kembali mengembangkan 11 desa wisata di Bali yang tersebar di delapan kabupaten, demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Untuk tahun ini 11 desa wisata yang akan difasilitasi Pemprov Bali yakni Desa Pemuteran (Kabupaten Buleleng), Desa Batuagung (Kabupaten Jembrana), Desa Tua dan Sudimara (Kabupaten Tabanan), Desa Pangsan (Kabupaten Badung), Desa Singapadu Tengah (Kabupaten Gianyar), Desa Bakas (Kabupaten Klungkung), Desa Trunyan dan Suter (Kabupaten Bangli) serta Desa Antiga dan Muntigunung (Kabupaten Karangasem).

  • "Dengan dibentuk menjadi desa wisata, setidaknya dapat menggulirkan perekonomian di desa sehingga memperkecil arus urbanisasi dan juga membantu mengentaskan kemiskinan," kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Anak Agung Gede Yuniartha Putra, di Denpasar, Selasa (16 Februari 2016). "Semua desa wisata yang akan difasilitasi tahun ini, termasuk jenis wisata alam, berbeda halnya dengan tahun-tahun sebelumnya. Saat itu selain dikembangkan desa dengan keunggulan wisata alamnya, juga wisata budaya, wisata agro, dan ekowisata,"

·         Pengembangan desa merupakan suatu program pemerintah yang berupaya memberdayakan masyarakat pada suatu desa, karena masyarakat desa tersebut yang paling mengenal potensi desa mereka demi kebertahanan dan keberlangsungan desa mereka sendiri, terutama dalam era Masyarakat Ekonomi Asia yang menuntut kualitas sumber daya manusia. Dan Kabupaten Gianyar sebagai daerah wisata yang terkenal di seluruh dunia memberikan peluang maksimal bagi masyarakat di kabupaten tersebut untuk mengembangkan dan meraih kesempatan dari berbagai peluang pariwisata bagi kemajuan masyarakat pada masing-masing desa. Salah satunya adalah dengan menjalin kerjasama berupa Pengabdian Masyarakat dari berbagai Perguruan Tinggi untuk membantu masyarakat menemukenali dan mengembangkan potensi desa.

·         Pengabdian masyarakat Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali merupakan salah satu bentuk program penguatan  dan pendampingan yang bisa dilakukan bagi desa wisata. Meskipun pada awalnya pengembangan desa wisata mengalami kendali, namun kepedulian dan kesiapan masyarakat Bali yang sangat peduli terhadap pariwisata, beserta kerjasama dengan pihak agen perjalanan wisata membantu mengembangkan wawasan masyarakat terhadap peranan penting media dan sarana promosi pariwisata.

·         Pemerintah Provinsi Bali menargetkan hingga 2018 dapat dikembangkan setidaknya 100 desa wisata. Semenjak tahun 2013 hingga 2015 sudah terdapat 42 desa yang difasilitasi untuk menjadi desa wisata. Desa wisata yang telah dikembangkan tidak hanya mendapatkan bantuan anggaran, juga mendapatkan pembinaan terkait dengan program Sapta Pesona maupun potensi yang cocok untuk dikembangkan sesuai dengan keunggulan yang dimiliki. Misalnya desa dengan potensi persawahan, dibarengi dengan kegiatan masyarakat bercocok tanam, maupun kegiatan ritual terkait. Pengelolaan dan kerja sama yang baik dengan berbagai pihak mengenai desa wisata akan mampu membuat desa wisata tersebut berkembang secara maksimal sesuai dengan potensi dan keunikan masing-masing secara berkelanjutan, agar bisa menjadi alternatif pilihan bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut.


Adapun Pengabdian Masyarakat Program Studi Administrasi Perhotelan STPNB 2016 tahap I di Kabupaten Gianyar ini meliputi :
    • Identifikasi Potensi wisata di berbagai desa wisata dan pondok wisata di Kabupaten Gianyar, Bali.
    • Pemasaran dan media promosi hotel, restoran, desa wisata juga pondok wisata di Kabupaten Gianyar, Bali.
    • Pemberdayaan Masyarakat, keterlibatan pemerintah, para pengusaha dan berbagai stake holder dalam Pengembangan Desa Wisata di Kabupaten Gianyar, Bali.


Pada kegiatan Pengabdian Masyarakat Prodi ADH STPNB 2016 tahap pertama ini, dihadirkan Narasumber : Djinaldi Gosana (Director PT Mitra Industri Pariwisata), I Ketut Kanten (Managing Director Bali Villa Properties & Alpha Hotel Management), dan I Made Suama (Executive Chef The Royal Pitamaha Resort & Spa), beserta I Gusti Putu Ngurah Budiasa, MA., dan Luh Gde Sri Sadjuni, SE., M.Par., untuk dapat memberikan berbagai penguatan dan pengalaman dalam mengelola Desa Wisata, terkait Pemasaran Produk dan Pelayanan Pariwisata, Pemanfaatan beserta standarisasi berbagai media promosi hotel dan pondok wisata, Food Product, dan juga materi terkait Front Office dan Housekeeping.
     
Berbagai pertanyaan yang diajukan oleh masyarakat terkait pengelolaan desa wisata beserta permasalahan di lapangan yang dihadapi saat melayani wisatawan diungkapkan seperti misalnya; peningkatan ketrampilan pengelola pondok wisata dalam hal penerimaan tamu, promosi desa wisata, mengolah makanan, menghidangkan makanan, dan cara penyusunan paket wisata yang akan dikembangkan. Pengabdian Masyarakat ini diselenggarakan  di Ruang Sidang Kantor Bupati Gianyar, pada hari Sabtu, 2 April 2016.

Minggu, 27 Maret 2016

PKL ADH smt 8 ke Lombok, 24 - 26 Maret 2016 : Exploring Indonesia’s Uniqueness....



Praktek Kerja Lapangan merupakan bagian dari serangkaian proses yang membantu mahasiswa juga dosen mengembangkan beragam potensi di dalam dirinya. Praktek Kerja Lapangan juga bagian dari rangkaian kegiatan belajar mengajar, yang tidak hanya melakukan aktivitas di dalam kampus, namun juga terlaksana dan berkembang di luar kampus, menjain interaksi dengan berbagai situasi dan kondisi yang ada pada suatu daerah.
 
 
 
Praktek Kerja Lapangan Program Studi Administrasi Perhotelan kali ini dilaksanakan bagi mahasiswa dan mahasiswi angkatan 2012, semester 8, kelas A, B, dan C. Sesuai dengan rencana kegiatan pada mata anggaran tahun 2016, PKL kali ini dilaksanakan dengan tujuan Lombok.
 
 
 
Setelah menghadiri pelaksanaan Dies Natalis ke 38 STPNB yang berpusat di Gedung Aula, aku bergerak menuju bandara Ngurah Rai. Bergabung dengan para rekan kerja lain, juga para mahasiswa yang berkumpul di depan terminal keberangkatan.
 
 
 
Pesawat GA 0450 yang membawa kami pukul 11.30 menit, bersama dengan 24 mahasiswa kelas A, 24 mahasiswa kelas B, 25 mahasiswa kelas C, dan 7 orang dosen serta 3 pegawai pendamping PKL, tiba di bandara Praya, Lombok, pada pukul 12.20 menit. Kami bergerak meninggalkan bandara, dengan kendaraan 3 bis, dan tiba di Warung Makan Balap Puyung, di depan Bandara Praya, untuk menikmati makan siang kami.
 
 
 
Dari area Bandara Praya, kami langsung bergerak kembali, menuju Desa Mas-Mas. Hujan deras disertai angin kencang menemani kami sepanjang perjalanan menuju desa wisata ini. Air hujan menerobos lancar, masuk dari pintu darurat bis 2. Rembesan air juga menetesi beberapa bangku muridku. Bahkan, banjir menggenangi beberapa ruas jalan yang dilalui bis kami. Pukul 15.45 kami tiba di rumah yang merangkap kantor bagi kegiatan yang terkait Desa Wisata Mas-mas. 
 
 
 
Desa ini merupakan sebuah Desa Wisata yang baru berkembang. Terletak di Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah. Dengan kepala desa bernama Azharudin. Pukul 17.40 kami meninggalkan desa ini dengan pemahaman betapa sulit memulai sebuah usaha yang kurang mendapat dukungan dari masyarakat, mengawali dengan menyampaikan informasi, mengajak bergerak bersama, demi kebaikan dan kemajuan desa tersebut, namun pada akhirnya manfaat yang terlihat akan bisa membanggakan desa itu sendiri, dan membuka wawasan interaksi dengan dunia luas, bahwa dengan bekerja sama, kita semua pasti bisa memajukan daerah sesuai dengan potensi yang ada di desa tersebut.
 
 
 
Hari pertama kami berada di Lombok kami akhiri dengan makan malam bersama, mengunjungi Lombok Exotic, pusat belanja oleh-oleh khas Lombok, dan beristirahat di Hotel Bidari. Kami baru tidur di atas pukul 12 malam juga, karena ibu Sulis dan ibu Asti masih membahas beberapa pekerjaan, dan langsung mencatatnya di laptop yang beliau bawa. Hmmm, tidak pernah lelah para ibu ini bekerja. Kagum aku pada semangat mereka dalam menuntaskan rangkaian tugas secara bersungguh-sungguh.
 
 
 
Hari kedua, kami bergerak dari penginapan kami pada pukul 8 pagi, menuju penyeberangan yang terletak di Senggigi, bergerak ke Gili Trawangan. Pukul 9.30 kami menyeberang ke Gili Teakan 3 perahu dan 1 speed boat. Pukul 10.15 seluruh rombongan sudah berkumpul bersama di pinggir pantai. Kuputuskan menyewa sepeda untuk mengelilingi pulau tersebut. Bersama 10 mahasiswi, kami bergerak berlawanan dengan arah jarum jam. Sepeda dengan harga sewa Rp 25.000 per hari, kami kayuh perlahan, menyusuri deretan warung, cafe, losmen, dan, 5 km dari lokasi awal kami memulai perjalanan, Hotel Aston Sunset Beach Resort Gili Trawangan. Di sini kutemui salah satu alumni STPNB, Luh Putu Kartini, yang kini menjabat sebagai Sales Admin. Beliau bertutur mengenai aktivitas di Gili Trawangan, betapa, hanya dua hari setelah wisuda di STPNB pada tahun 2015, kemudian berangkat dan memulai pekerjaannya di sini. Ah, terima kasih, ibu Kartini. Terima kasih atas minuman yang begitu menyegarkan di siang hari terik mentari, dan tas mungil indah warna warni yang kami terima sebagai hadiah dari ibu. Semoga ibu senantiasa bersemangat dalam melaksanakan tugas di pulau indah ini.
 
 
 
30 menit berada bersama ibu Kartini, kami kembali mengayuh sepeda menyusuri jalan di pulau Gili Trawangan, melihat ayunan di pinggir laut yang langsung bersentuhan dengan air laut, berfoto bersama di ponjok batu, dan menikmati pemandangan pinggir pantai. Di akhir perjalanan, kusempatkan berenang di pantai Gili Trawangan. 
 
Pukul 14.15, rombongan kami kembali menyeberangi selat, menuju Senggigi, untuk kembali melanjutkan perjalanan. Aku mengawasi satu demi satu perahu yang bersandar. namun, setelah 30 menit berlalu, tak jua muncul perahu terakhir yang seharusnya membawa rombongan mahasiswa ku, ADH C semester 8. Kutanya para pengemudi speed boat dan penumpang perahu, bertanya mengenai posisi terakhir mereka melihat para muridku ini. Sinyal lemah menghambat komunikasiku untuk mencoba menghubungi mereka. Akhirnya aku berhasil menghubungi mereka...... “Perahu kami mati mesin, bu. Kami berganti perahu di tengah laut, dan sekarang sudah menuju Senggigi”. Ah, syukurlah...... 
 
 
 
Aku kagum pada semangat mereka..... satu jam terombang-ambing di tengah laut, dengan rasa mual dan beberapa dari mereka muntah, tidak bisa berenang, panik dan ketakutan, ditinggal untuk berjuang, dan galau karena merasa sendirian, namun bisa mengatasi emosi dengan baik..... Aku sendiri mungkin belum tentu bisa mengatasi ini dengan baik. Aku bukanlah pemimpin yang baik. Yes.... I am the boss, but i am not the leader of the team...... and, the world will remember this forever and ever......Hiks......
 
 
 
Pukul 16.10 seluruh rombongan telah berangkat dari pelabuhan Senggigi. Rombongan kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju Malimbu, atau Malaka, untuk berfoto sejenak dan menikmati pemandangan dari ketiga pulau kecil, Gili Trawangan, Gili Menu, dan Gili Air. 30 menit di sini, kami kembali bergerak.
 
Berikutnya, Pasar Seni Senggigi.... Kubeli satu porsi tipat sate dengan sayur meurap seharga Rp 20.000 per porsi. Kita bisa memilih untuk menikmati sate ayam, sate bekicot, sate sapi, atau sate usus. Mereka menyebut tipat sate dengan sayur tersebut sebagai bulayak. Hmmm, di Bali sana, di daerah buleleng, dikenal sebagai tipat blayag. dan di Tabanan, khususnya Desa Belimbing, Kecamatan Pupuan, dikenal dengan istilah entil. 
 
Dari sini, kami bergerak untuk bersiap bersembahyang sekaligus menikmati sunset. Namun, hujan deras membatalkan rencana kami berkunjung serta bersembahyang ke Pura Batu Bolong, dan menikmati sunset di sini. Kembali, air hujan menerobos masuk ke dalam bis melalui pintu darurat, membasahi para muridku. 
 
Rombongan lanjut bergerak ke Lombok Sasaku, pusat oleh-oleh. Aku menikmati segelas capuccino sambil berpose bersama dua patung sapi yang seolah sedang mengendarai sepeda. Terakhir, rombongan kami menikmati ayam dan ikan bakar di Resto Taliwang, sebelum mendarat kan tubuh ini di tempat tidur hotel Bidari kembali.
 
Hari ketiga, setelah menikmati sarapan pagi di penginapan, pukul 8 pagi kami bergerak menuju BKD yang terletak di Jalan Pemuda. Karena bukan hari kerja, maka yang kami temui hanya petugas yang berjaga di sana, bapak Shobri. Kunjungan singkat selama 30 menit untuk mengenali lingkungan tersebut sebagai cikal bakal lahirnya Poltekpar Mataram nantinya.
 
Kemudian rombongan kami kembali bergerak menuju Desa Sukarara. Desa Wisata ini terkenal dengan aktivitas menenunnya. Pagi hari masyarakat melakukan aktivitas terkait pertanian, dan kemudian kembali ke rumah, lalu memulai menenun. Masyarakat hidup dalam budaya yang mengajarkan bahwa seorang remaja puteri harus bisa menenun sebelum lanjut ke jenjang pernikahan. Hal ini karena keyakinan mereka bahwa dengan ketrampilan menenun tersebut kelak bisa melestarikan budaya leluhur juga bisa untuk menopang perekonomian keluarga.
 
Pukul 11.05. Rombongan kami kembali bergerak. Mahasiswa dalam 3 bis kendaraan bergerak ke Pantai Kuta, sedangkan para dosen bergerak ke arah kota, meluangkan waktu berjumpa Kepala Desa Kuta, Bapak Lalu Badarudin, membahas rencana pelaksanaan kegiatan Program Studi ADH tahun depan. 
 
Setelah pertemuan kami berakhir, rombongan para dosen kembali bergabung dengan para mahasiswa di Pantai Kuta, menikmati makan siang bersama, juga keindahan pantai yang terkenal dengan pasir merica ini, karena butiran pasirnya yang bagaikan biji merica putih. Berikutnya, kami menuju Mandalika, sebagai sebuah enclave, kawasan, yang bakal menjadi kawasan pariwisata dengan pengelolaan baik bertaraf internasional. 
 
Waktu menunjukkan pukul 1 siang saat rombongan kami bergerak menuju Desa Wisata Sade. Menghabiskan sekitar 1 jam di sini, berdiskusi dengan beberapa tokoh masyarakat sini, bapak Wana, dan juga tour guide dari suku Sade, bapak Manaf, aku sempat menikmati segelas kopi hitam kental khas suku Sade yang mereka hidangkan.
 
Dan, pukul 2.15, kami langsung bergerak menuju bandara Praya, mengakhiri kunjungan dalam rangkaian kegiatan PKL selama 3 hari, dari hari Kamis hingga hari Sabtu, 24 s/d 26 Maret 2016. Pesawat kami, GA 0437, tinggal landas pada pukul 17.30. dan mendarat di bandara Ngurah Rai pukul 18.15.
 
Pukul 19.00, rombongan kami bubar kembali ke rumah dan kos masing-masing. Aku masih berbagi terasi di luar pintu kedatangan bandara, bersama ibu Sukerti dan ibu Sulis..... Hehehe, bau nya, menyengat, menyenangkan, menggoda seantero tempat kami berada berbagi terasi lombok tersebut.

Selasa, 01 Maret 2016

City & Guilds Quality Assurance Group, February 29th - March 2th 2016





The City and Guilds of London Institute (City & Guilds) is a vocational education organisation in the United Kingdom. City & Guilds offers more than 500 qualifications over the whole range of industry sectors through 8500 colleges and training providers in 81 countries worldwide. Two million people every year start City & Guilds qualifications, which span all levels from basic skills to the highest standards of professional achievement (Honours, Master and Post Doctorate levels equivalent).
Founded on November 11, 1878 by the City of London and 16 livery companies, the traditional guardians of work-based training, to develop a national system of technical education, City & Guilds has been operating under Royal Charter (RC117), granted by Queen Victoria, since 1900. The Prince of Wales later King Edward VII was then appointed the first President of the Institute.
City & Guilds is a registered charity (no. 312832). The Institute's president is now HRH The Princess Royal who accepted this role in June 2011 (following her father HRH The Duke of Edinburgh who held the position for nearly 60 years), and the current Chairman of Council is Sir John Armitt, took office in November 2012.
Vocational qualifications
City & Guilds continues as an examination board offering a large number of qualifications mapped onto the British National Qualifications Framework (NQF). The most common are the vocational qualifications, from Entry-level to Level 3.
  • Entry-level qualifications are the real basics, for absolute beginners.
  • Level 1 qualifications are introductory awards, covering basic tasks and knowledge.
  • Level 2 is slightly more advanced, needing some knowledge of the subject area.
  • Level 3 qualifications cover more complex tasks and also start the development of supervisory skills. In many professions, level 3 is the benchmark to be considered competent.
These qualifications are mapped onto Qualifications and Credit Framework (QCF). QCF has been replaced by the RQF (Regulated Qualification Framework). Change from QCF to RQF.
Ofqual have requested that all awarding organisations must remove references to QCF from their websites, qualification titles and documents. This must be completed by the 31 December 2017. Part of the new RQF is the requirement for all qualifications, that will be open to registrations post 31 December 2017, to have TQT (Total Qualification Time) allocated to them. The deadline for this is also the 31 December 2017.
TQT is comprised of the following two elements:
  • the number of hours which an awarding organisation has assigned to a qualification for Guided Learning, and
  • an estimate of the number of hours a Learner will reasonably be likely to spend in preparation, study or any other form of participation in education or training, including assessment, which takes place as directed by – but, unlike Guided Learning, not under the Immediate Guidance or Supervision of – a lecturer, supervisor, tutor or other appropriate provider of education or training.
68% of young people plan on university, but only 30% of jobs require a degree. And, to reach the qualityfor the student and the lecturer, Bali Tourism Institute invite City & Guilds management to hold Quality Assurance Group, and Business Discussion, Monday to Wednesday, February 29th, to Maret 1th.