Rabu, 26 September 2018

Kongres XIII, Workshop dan Temilnas HIMPSI, 6-9 September 2018, Bandung






Himpunan Psikologi Indonesia mengadakan Kongres XIII pada tanggal 6 – 9 September 2018 di Bandung. Tepatnya di Hotel Grand Prama Preanger. Kongres tersebut dilangsungkan dengan sejumlah agenda, seperti Temu Ilmiah nasional, Workshop terkait Psikologi, Pojok Psikologi, dan 100 Psikolog mengabdi pada Negeri, di alun alun kota Bandung.

Workshop dan Sidang Organisasi Himpunan Psikologi Indonesia diselenggarakan pada hari Kamis, tanggal 6 September 2018. Kongres diselenggarakan pada Hari Jum’at dan Sabtu, tanggal 7 dan 8 September 2018. Dan Minggu. Tanggal 9 September diselenggarakan kegiatan sosial 100 psikolog bersama di Balai Kota Bandung.






Ada beberapa klasifikasi Workshop yang diselenggarakan, mencakup Competencies Based Interview oleh Rani Rachmiati, Psikolog dan tim ACI, Teknik Wawancara Psikologi Forensik untuk Korban Anak dan Dewasa yang alami Retardasi Mental Ringan oleh Dra. Reni Kusumowardhani, Psikolog, Dukungan Psikologi dalam Siklus Operasi Militer oleh Dr. Arief Budiman, DESS & Dr. Eri R. Hidayat, MBA, MHRMC., Pemanfaatan Observasi dan Interview dalam Tes Informal pada Penanganan Kasus Anak, oleh Prof. Dr. Juke R. Siregar, M.Pd., Psikolog. Neuropsychological Assesment oleh Prof. Simon F. Crowe, Ph.D (APAC). Metode MBSP (Mindfullnes Based Strengths Practice): Pendekatan Psikologi Positif oleh Dr. Nurlaila Effendy, M.Si. (AP21). Penguatan Dasar Membaca untuk Mengembangkan Generasi Muda Indonesia yang Melek Literasi, oleh Nurmala S., M.Psi., Psikolog (APSI). Talent Management : Designing & Development, oleh Dr. Anissa Lestari, M.Psi., & Dr. Ayu Dwi Nindyati, M.Si., Psikolog.







Temu Ilmiah Nasional Himpunan Psikologi Indonesia melibatkan sejumlah pembicara kunci (Keynote Speaker) seperti Jenderal TNI Dr. Moeldoko, S.Ip., Anna Leybina, Abdul Malik Gismar, Ph.D., Najelaa Shihab, M.Psi., Para Pembicara saat Plennary Session : Diana Setyawati, M.HSc.Psy., Ph.D., Dr. Rakhman Ardi, M.Psych., Laras Sekarasih, Ph.D., Dr. Mirra Noor Milla, M.Si., Dr. Rizka Halida, Dr. Monty P. Setiadarma, Psi..






Temu Ilmiah Nasional yang dibuka oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil ini terbagi menjadi sesi Oral Presentation dan Poster Presentation. Terdapat pembicara pada Oral Presentation yang terbagi hari Jum’at – Sabtu, 7 – 8 September 2018. Pada hari Jum’at, 7 September 2018. Pada ruang Ramayana, 10 pembicara. Terrace Preanger, 6 pembicara. Lembang, 16 pembicara. Mahabrata, 10 pembicara. Rancabali, 3 pembicara. Naripan Lounge, 16 pembicara. Punakawan, 9 pembicara. dan Maribaya, 16 pembicara.
Hari Sabtu, 8 September 2018, Pada ruang Ramayana, 21 pembicara. Lembang, 11 pembicara. Mahabrata, 21 pembicara. Rancabali, 14 pembicara. Naripan Lounge, 7 pembicara. Punakawan, 17 pembicara. dan Maribaya, 19 pembicara.






Total terdapat 26 peserta Poster Presentation dan 200 peserta Oral Presentation pada kegiatan Temu Ilmiah Nasional Himpunan Psikologi kali ini. 

Aku mendapat giliran sebagai pembicara pada hari Jum’at, 7 September 2018, pukul 15.45, di Ruang Ramayana. Topik bahasan ku adalah Psychological Service in Terms of Hospitality Industry. Sungguh, suatu kehormatan bisa menjadi pembicara pada kegiatan ini. Meski sudah bertahun sebagai tenaga pengajar dan juga berkali menjadi presenter pada berbagai seminar, namun sudah tentu harus mempersiapkan diri dengan sebaiknya untuk berbagai kegiatan. Tamatan Psikologi Universitas Gadjah Mada tahun 1993, Puluhan tahun mengabdi sebagai dosen di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, tidak jaminan aku bisa tampil sempurna sebagai pembicara menyampaikan pengalaman dan menyajikan hasil penelitianku. Namun ku akan senantiasa berusaha di sepanjang kehidupan, belajar sepanjang waktuku. Terimakasih, seluruh manajemen dimana aku bekerja. Terima kasih seluruh rekan psikolog. Terimakasih seluruh anggota keluarga terkasih, juga berbagai pihak yang senantiasa memberikan kesempatan bagiku untuk mengembangkan kepak kepak sayapku………

















Rabu, 12 September 2018

Pontianak, Rindu dan Cinta yang takkan pernah sirna di sepanjang masa





Ada rindu yang bergulir mengalir di hati.
Tidak akan berhenti menepis kasih yang hadir senantiasa.
Bagi kedua orangtuaku terkasih......

Ibu kini tinggal sendiri, setelah bapak meninggal dan tuntas diaben sepuluh tahun lalu.
Dan, sudah sembilan tahun berlalu, aku tidak pernah mengunjungi kota Pontianak, kota dimana aku dilahirkan, tahun 1969 lalu. Setelah melaksanakan Outbond STP Nusa Dua Bali, pada tanggal 20 - 22 Agustus 2018, aku bergerak menuju kota Pontianak. Hari Rabu, tanggal 22 Agustus 2018, dengan pesawat Xpress Air, pukul 10.10 pagi, dari kota Yogyakarta menuju Pontianak.





Ibuku bahkan belum mengetahui kedatanganku hari ini. Biarlah menjadi kejutan indah yang menyenangkan dan membahagiakan beliau dengan kehadiranku, meski hanya untuk tiga hari berada di Pontianak. Ya, hanya tiga hari berada di Pontianak, Kalimantan Barat, sebelum aku kembali berangkat ke Jakarta dan melanjutkan perjalanan menuju kota Medan, untuk melaksanakan tugas orientasi di sana, pada beberapa hotel dan lembaga pendidikan yang ditugaskan oleh kampusku.





Tiba pukul 12.30 pagi, aku dijemput oleh adikku tercinta, Dewa Komang Diwya Artha Kesuma. Tidak ada hubungan darah persaudaraan yang bisa terputus. Demikian pula tali kerinduan kami. Betapa, meski telah berkeluarga, terpisah jarak, ruang dan waktu, kami saling mengasihi, dengan segala keunikan dan apa adanya yang dimiliki.......


Kutemui ibu sedang duduk sendiri di ruang depan. Hari ini adalah hari libur, terkait Hari Suci Idul Adha bagi umat muslim. Namun ibu memilih tetap bekerja, membuka apotik kecil yang kami miliki, dan dikelola semenjak bapak masih ada dahulu. Kupeluk dan kuciumi wajah ibuku dengan penuh kerinduan. Demikian pula ibuku, memeluk tubuhku erat. Kami tidak menangis. Namun melepas rindu yang tertahan sekian lama. Padahal, baru tahun lalu, ibu berlibur di pulau Bali. Hanya satu minggu. Namun rindu tidak pernah berhenti hadir bagi ibuku terkasih......





Kulihat pula, vespa tercinta yang pertama dahulu kupakai belajar mengendarai motor. Masih awet bersama ibuku terkasih. Ah, motor vespa ini pula yang kami pakai menjelajahi seantero Kalimantan Barat, menyusuri pegunungan, daratan, pesisir, bahkan termasuk, naik ke atas sampan, menyeberangi sungai Kapuas dahulu.......



Sempat kukunjungi Pemerintahan






Kami sempat berkumpul bersama keluarga yang mengunjungi rumah ibu di malam hari. Namun karena suara serak akibat radang tenggorokan dan demam yang kuderita, tidak bisa kulanjutkan dengan berbincang bincang lancar bersama mereka semua.


Tidak ada yang menyenangkan saat bisa menikmati berbagai hidangan yang bisa menggugah kenangan di masa lalu. Ku nikmati berbagai hidangan, mulai dari kwee tiaw, air tahu, es kacang hijau, chay kwee, nasi ayam hainan.....



Aku juga sempat mengunjungi beberapa toko yang menjual pernak pernik dan asesoris. Kucoba seperangkat pakaian dayak, dan mencoba merasakan sensasi sebagai gadis dayak.....



Aku bahkan sempat bersilaturahmi dengan para tetangga yang sedang merayakan hari suci Idul Adha. Sebelum kemudian melanjutkan bersembahyang bersama umat Hindu di Pura Dalem yang ada di kota ini.



Malam hari, sempat kunikmati durian khas Kalimantan bersama adik dan iparku. Kami duduk berjejer, dan pedagang membuka berbagai jenis durian, kemudian membelahnya, dan meletakkan di depan kami. Sungguh, suatu pengalaman luar biasa, berkumpul bersama anggota keluarga, dan masih bisa bercengkerama bersama, menikmati hidangan yang ada......


Tiga hari. Ya, hanya tiga hari. Dari tanggal 22 hingga 24 Agustus 2018. Namun sungguh mampu mengobati rasa rindu pada keluarga ku. Pada ibu dan adikku, pada sanak saudara. Kulanjutkan langkah kaki, berjalan dalam kehidupan. Terima kasih, Tuhan, atas kesempatan yang masih Engkau berikan padaku......

Selasa, 11 September 2018

Pembinaan Mental dan Disiplin Pegawai (L'Esprit du Corps) 20 - 25 Agustus 2018



Setiap organisasi maupun lembaga mengharapkan sumber daya manusia yang ada di dalamnya memiliki motivasi, disiplin kerja dan kinerja maksimal dalam mencapai visi dan misi yang ada. 



Dan hal ini yang mendorong diadakannya pembinaan mental serta disiplin pegawai secara konsisten. Diharapkan pembinaan mental ini mampu meningkatkan semangat kerja serta kebersamaan di antara pegawai, yang kelak dapat mengembangkan kompetensi dalam mewujudkan kinerja maksimal pula. 



Motivasi menurut Morgan dalam Marwansyah (2002: 151) merupakan kekuatan yang mengendalikan atau menggerakkan seseorang, faktor pendorong atau  alasan dari perbuatan yang dilakukan pegawai. Disiplin menurut Siswanto (2001) merupakan sikap menghargai, patuh, dan taat terhadap peraturan yang berlaku, baik tertulis maupun tidak, sanggup melaksanakan tugas, dan tidak mengelak terhadap sanksi jika melakukan pelanggaran. Kinerja menurut Mangkuprawira dan Hubeis (2001: 160)  merupakan hasil dari proses kerja yang terencana, baik dalam hal kualitas maupun kuantitas yang dicapai seorang pegawai. Menurut UU No. 43 Tahun 1999, terdapat delapan tolok ukur kinerja Pegawai, mencakup tanggungjawab, kesetiaan, ketaatan, kejujuran, tanggungjawab, prakarsa, kerjasama,  hingga kepemimpinan.



Pembinaan Mental dan Disiplin Korps Pegawai Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali pada tahun 2018 dilaksanakan pada dua periode. Periode pertama dilaksanakan pada tanggal 20 s/d 22 Agustus. Periode kedua dilaksanakan pada tanggal 23 s/d 25 Agustus. Bertempat di Jogjakarta.



Ada beberapa alternatif tujuan sebelumnya. Namun keputusan terakhir adalah Jogja. Setelah beberapa kali mengalami penyesuaian lokasi, agenda kegiatan, daftar peserta, kami berangkat dalam dua rombongan, karena tidak mungkin memberangkatkan sekaligus sekian banyak pegawai, pada periode pertama ini.



Tidak hanya sekedar menjadi peserta yang duduk manis mengikuti setiap rangkaian kegiatan, kami diminta bermain peran, melibatkan diri, menjadi pemimpin, menjadi peserta, menjadi bawahan, secara aktif pada setiap rangkaian kegiatan. Tidak cuma sekedar bermain, ber hura hura, kami juga dituntut waspada, diminta berbasah-basah, ikhlas dikerjai teman lain, mengerjai teman lain, benar benar tanpa jarak, lepas dari rutinitas pekerjaan yang biasa dilakukan. Bahkan, merencanakan bepergian bersama disaat ada waktu luang yang memang disediakan panitia untuk menikmati suasana kota Jogjakarta.



Kami menikmati jajanan khas kota Jogja, menyaksikan pagelaran wayang orang dengan penataan event ala Jogja, khas dengan pesindennya, anak anak yang ikut serta dalam sendratari wayang orang tersebut, bahkan berfoto bersama para pemerannya. Kami juga mengunjungi Museum Ulen Sentalu yang menggambarkan perkembangan jaman kerajaan Majapahit yang terjadi di masa lalu di Jogja, belajar membatik di Desa Wisata Penting, menikmati suasana alam pedesaan dan makanan yang digelar ala Jogja, mulai dari lele goreng, lalapan sayur segar, wedang teh jahe, tempe mendoan dan jaje ketan, tempe bacem, bandrek, gudeg, dan, berbagai macam hidangan lain. Namun satu hal yang kuyakini, hidangan Jogja, pada umumnya memang terasa lebih manis dibanding hidangan Bali.



Aku bahkan sangat menikmati musik jalanan yang dimainkan oleh sekelompok anak muda di kota Jogja di saat malam hari, sambil menari bersama mereka, sebelum kemudian lanjut menyusuri jalanan kota ini, dan mencoba keberuntungan dengan menyusup di antara dua buah beringin raksasa di alun alun Selatan kota Jogja, namun gagal.



Well….. Tiga hari Pembinaan Mental dan Disiplin Korps Pegawai Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, mungkin belum cukup sebagai modal dalam mengembangkan kinerja agar bisa efektif dan efisien dalam bertugas mewujudkan visi dan misi lembaga kami, perlu usaha yang tegas, komitmen bersama, dan konsisten, berlangsung terus menerus. Tapi kami akan selalu bergerak bersama, bersama dalam berbagai situasi, di setiap langkah untuk mewujudkan ini semua. Karena kami semua adalah sahabat dan saudara, dan saudara adalah pilar terbaik bagi suatu organisasi dalam mencapai tujuannya……. ‘Coz we are family, and family is pillars of state.