Minggu, 24 November 2019

UGM, Kagama dan Munas (2)



Universitas Gadjah Mada, Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama), dan Musyawarah Nasional (Munas). Ini merupakan bagian dari Trilogi tulisan tentang UGM, 1. UGM dan Sejarah Berdirinya, 2. UGM Kagama, dan 3. UGM dan Munas Kagama XIII.

Gagasan membentuk organisasi persatuan para alumnus UGM timbul tahun 1956. Pada tahun ini mulai terselenggara berbagai pertemuan yang dilakukan alumni dari berbagai fakultas. Dalam peringatan Dies Natalis UGM tahun 1958 Ir. Suwarno (alm.) didesak Panitia Dies Natalis Dewan Mahasiswa UGM untuk mengambil inisiatif pertama menyelenggarakan musyawarah para alumnus UGM pertama dari berbagai kota tanggal 18 Desember 1958 di Yogyakarta. Dari musyawarah ini lahirlah organisasi “Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada” disingkat KAGAMA.

UGM merupakan induk semang, ibu pertiwi, yang melahirkan Kagama beserta beragam kreativitas dan aktivitas sivitas cerdas yang saling berkaitan satu sama lain. Munas merupakan suatu bentuk hasil dari kreativitas tersebut, sebagai sarana mempertemukan keluarga besar ini, melakukan konsolidasi internal dan eksternal, menjadi ajang saling bertukar informasi, teknologi, dan memperluas jejaring komunikasi dan juga kerjasama di antara berbagai organisasi, tidak hanya nusantara, namun pula global, tingkat dunia. 

Munas I Kagama terlaksana pada tanggal 18 Desember 1958 di Yogyakarta. Prof. Ir. Herman Johannes ditunjuk sebagai Ketua dengan Sekretaris Ir. Suwarno. Ciri-ciri KAGAMA juga berhasil dicetuskan dalam musyawarah itu, yaitu:
  1. KAGAMA adalah organisasi kekeluargaan bukan organisasi politik.
  2. KAGAMA berdiri di luar UGM, tetapi menjalin hubungan yang erat dengan UGM.
  3. Keanggotaan KAGAMA diperoleh secara pasif, yaitu seorang alumnus UGM otomatis menjadi anggota KAGAMA.
  4. Yang dimaksud UGM dalam hubungannya dengan KAGAMA, bukan saja UGM yang diresmikan pemerintah RI tanggal 19 Desember 1949 tetapi juga perguruan-perguruan tinggi yang lebih dulu ada sebagai embrio-embrionya yaitu:
    • Sekolah Teknik Tinggi berdiri tanggal 12 Februari 1946.
    • Perguruan Tinggi Klaten, berdiri tanggal 5 Maret dan 27 September 1946, meliputi sekolah Sekolah Tinggi Kedokteran, Farmasi dan Pertanian. Pendirian Fakultas-fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, Farmasi, Pertanian dan Kedokteran Hewan berdiri tanggal 1 Nopember 1949.
    • Pendirian Fakultas-fakultas Teknik Akademi Ilmu Politik oleh Yayasan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada.
    • Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada (swasta) berdiri tanggal 3 Maret 1946, dengan Fakultas Hukum dan Kesusastraan.
  1. Yang disebut sebagai alumnus UGM (anggota KAGAMA) adalah seseorang yang memiliki ijasah dari UGM, mulai dari propaedeuse sampai yang tertinggi, yaitu gelar Doktor dan Doktor Honoris Causa.
Munas II Kagama pada tanggal 19 Desember 1961 di Yogyakarta menetapkan Prof. Drs. Soempono Djojowadono sebagai Ketua Umum, sekaligus merencanakan pembuatan Anggaran Dasar Kagama yang berhasil ditetapkan pada tanggal 5 April 1962.

Rencana Munas III Kagama pada tahun 1966 di Jakarta tertunda karena pemberontakan G30S/PKI. Praktis selama 10 tahun tidak ada kegiatan berarti pada Kagama. Selama itu pula kepengurusan Kagama dipegang oleh Ir. Soewarno, hingga tahun 1973, Prof. Ir. Herman Johannes kembali menjadi Ketua Kagama. Pada tanggal 18 Desember 1975 di Yogyakarta diadakan pertemuan pendahuluan Musyawarah III Kagama yang memutuskan penyelenggaraan Munas III Kagama di Jakarta bulan Juli 1976. Namun karena kesibukan para tokoh Kagama jelang Pemilu, Pengurus Pusat Kagama memutuskan mengalihkan penyelenggaraan ke Surabaya.

Munas III Kagama berhasil diselenggarakan pada tanggal 5-8 Januari 1977 di Surabaya dan menetapkan Prof. Ir. Herman Johannes sebagai Ketua Umum, Prof. dr. Ismangoen sebagai ketua Yayasan Kagama Pusat. Dalam Munas III Kagama ini berhasil dirumuskan beberapa hal penting seperti :
1.  Perubahan Anggaran Dasar dan penyusunan Anggaran Rumah Tangga Kagama yang diserahkan kepada Pengurus Pusat Harian 
2.  Pembentukan Pengurus Pusat Kagama yang terdiri dari: Pengurus Pusat Lengkap, dan Pengurus Pusat Harian. 
3. Pembentukan Yayasan Kagama Pusat, yang pelaksanaannya diserahkan kepada Pengurus Pusat Harian. 
4.  Penyusunan Program Kerja Kagama periode 1977 – 1981 
5.  Pendirian Wisma Kagama di Yogyakarta sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan Kagama, guna mendorong pengembangan almamater.
 
Sejak tahun ini, kegiatan Kagama lebih tampak nyata dalam berbagai ruang dan bidang kehidupan di tengah masyarakat, baik di Pusat maupun di Daerah. Setiap Dies Natalis UGM, diselenggarakan rapat dan berbagai seminar juga pertemuan ilmiah yang hasilnya disumbangkan kepada masyarakat, pemerintah, juga almamater.

Pada Dies Natalis UGM 19 Desember 1979, sebagian dari gedung Wisma KAGAMA diresmikan oleh Prof.Ir. Herman Johannes, Bangunan ini terdiri dari 5 unit 7 m x 7 m di atas tanah 57 meter x 110 meter terletak di kawasan Bulaksumur, di Utara RS Pantirapih. Berbarengan pula setelah unit kecil Wisma KAGAMA Pusat ini, KAGAMA Surabaya membangun wisma di Surabaya.

Munas IV Kagama tanggal 19 – 21 Februari 1981 diselenggarakan di Jakarta, menetapkan Prof. Dr. Sukadji Ranuwiharjo, MA., sebagai Ketua Umum. Menetapkan pula Prof. Ir. Herman Johannes sebagai sesepuh Kagama. Munas IV Kagama dengan hasil penyempurnaan AD dan ART yang menyangkut Organisasi, Pengurus Pusat dan Daerah, serta Yayasan Kagama. Hal yang istimewa pula adalah Sumbangsih Ide dan Konsep Pemikiran Kagama untuk GBHN 1983.

Selama periode 1981 – 1985, kegiatan di daerah dan pusat cukup menonjol. Di daerah banyak berdiri cabang-cabang baru, terlebih lagi di Jawa Barat yang tahun 1985 ini menjadi pusat perhatian karena Munas V diselenggarakan di Bandung. Namun salah satu yang sudah lama diidam-idamkan seluruh warga KAGAMA adalah Wisma KAGAMA di Yogyakarta belum juga terwujud. Sampai sekarang masih terdiri dari 5 unit yang pernah diresmikan 19 Desember 1979.

Munas V Kagama berlangsung tanggal 18 – 20 Februari 1985 di Bandung menetapkan Ketua Umum Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, SH., ML., Drs. Hadori Yunus sebagai Sekr. Umum. Program kerja Pengurus Pusat Harian meliputi pembinaan organisasi, pembinaan komunikasi alumni, pembinaan hubungan dengan almamater UGM, pembinaan sarana fisik pengurus pusat, dan peningkatan kemampuan ilmiah anggota Kagama.

Hasil pelaksanaan program kerja adalah penyempurnaan AD dan ART ter tanggal 18 Desember 1986, konsolidasi Pengurus Cabang dan Pengurus Daerah Kagama, dan berhasil diselesaikan pembangunan Wisma Kagama dengan biaya 600 juta rupiah.

Munas VI Kagama pada tanggal 1989 berlangsung di Bali. Hal menarik dari Munas VI Kagama adalah realisasi dari rencana kerja rapi yang telah berjalan semenjak Munas V Kagama, beserta seluruh perkembangan, baik mencakup konsolidasi organisasi, dan kerjasama dengan berbagai pihak sebagai kebijakan eksternal. Konsolidasi organisasi berupa pembentukan Kagama Cabang, baik di dalam maupun di luar negeri. Hingga tahun 1992, Laporan Kagama menjelaskan sudah terbentuk 52 Pengurus Cabang Kagama yang tercatat, baik di dalam maupun di luar negeri. Kerjasama eksternal misalnya dengan Bank Duta terkait penerbitan kartu kredit Visa KAGAMA-BANK DUTA. Dengan Koperasi Asuransi Indonesia (KAI). Yayasan KAGAMA Pusat diorientasikan pada pemantapan organisasi dan pendukung dana bagi kegiatan KAGAMA, khususnya kegiatan PPH KAGAMA. Kegiatan di bawah Yayasan KAGAMA Pusat antara lain PT. COLIN dan PT Gada Mas yang berkedudukan di Jakarta. PT. Purna Gama yang meliputi koordinasi semua kegiatan Yayasan KAGAMA di Yogyakarta. Kegiatan di Yogyakarta antara lain pengelolaan Wisma KAGAMA, Percetakan, PT. Retracindo. Yang terakhir, Yayasan KAGAMA menanam saham 50 persen yang pada tanggal 15 Juni 1992 disahkan di Notaris.

KAGAMA kian berkembang, tidak hanya pada berbagai bidang kegiatan, namun juga dalam jumlah anggotanya. Tiap wisudawan kini mendapatkan kartu anggota. Dalam wisuda 19 Mei 1993, Rektor UGM Prof. Dr. Ir. Mochamad Adnan menyebutkan lulusan UGM tercatat 61.048 orang lulusan, 53.645 diantaranya lulusan program sarjana (S1) dan 212 doktor. Artinya, anggota KAGAMA, meski belum semua terregistrasi adalah sebanyak lebih dari 61 ribu orang.

Munas VII Kagama tanggal 1 – 3 Agustus 1993 di Banjarmasin menetapkan Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, SH., sebagai Ketua Umum. Munas VII Kagama bertemakan “Peningkatan Sumber Daya Manusia sebagai Faktor Strategis Pembangunan Nasional”, yang meliputi bidang Kepribadian, Profesi, dan Kelembagaan. Pada Munas VII Kagama ini disahkan usulan pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata di luar Jawa, atas permintaan Pemerintah Daerah dan Kagama Daerah Kalimantan Selatan, dengan menyelenggarakan kegiatan bakti sosial.

Hal unik dan menarik dari Munas VII Kagama adalah upaya konkret Kagama untuk meningkatkan partisipasi yang lebih nyata secara aktif, baik sebagai individu di dalam wadah Kagama, dalam pembangunan nasional. Program nyata tersebut mencakup program internal maupun program eksternal Kagama. Program Internal meliputi Konsolidasi Organisasi, yang bertujuan untuk pemantapan organisasi Kagama, meliputi Pembinaan Komunikasi dengan alumni UGM, Sistem Distribusi dan pendanaan Berita Kagama, Pembinaan hubungan dengan Almamater, Pembinaan sarana fisik, Peningkatan kesejahteraan alumni, Penjaringan Bibit Unggul Daerah, Pembinaan generasi penerus Kagama, Pengerahan dana, Dana pemeliharaan fakultas, Pembangunan permukiman Kagama berwawasan lingkungan di Yogyakarta, dan Peningkatan kemampuan ilmiah anggota Kagama. Eksternal mencakup Program Eksternal meliputi peningkatan pengabdian Kagama kepada masyarakat, bangsa, Negara dan kemanusiaan; dimulai dari Peningkatan Hubungan Kerjasama Kagama dengan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan Lembaga Swasta, serta Peningkatan Hubungan dengan alumni perguruan tinggi lain.

Munas VIII Kagama tanggal 23 – 26 Juli 1997 di Palembang menetapkan Prof. Dr. Koento Wibisono sebagai Ketua Umum. Seminar terkait Munas dengan topik “Pengabdian dan Profesionalisme pada Abad XXI” dalam bidang Profesionalisme, Cinta tanah air, serta Iman dan Taqwa, dalam menghadapi globalisasi.

Munas IX Kagama bulan Juli 2001 di Balikpapan menetapkan Prof. Dr. Ichlasul Amal, MA, sebagai Ketua Umum, Prof. Dr. Ir. Budi Wignyosukarto sebagai Sekr. Umum, dan Prof. Dr. Ir. Kapti Rahayu sebagai Bendahara Umum. Perkembangan menarik terjadi pada Munas IX Kagama saat ini, yakni terkait AD dan ART, struktur organisasi yang lebih simple dan praktis seiring perubahan status UGM menjadi Badan Hukum Milik Negara terhitung 2001.

Munas X Kagama, bulan Juli 2005 di Jakarta menetapkan Dr. Ir. Djoko Kirmanto, Dipl., HE., sebagai Ketua Umum, Wakin Ketum, Ir. Airlangga Hartarto, MT., Sekr. Umum, Ir. A. Hamid Dipopramono, Bendahara Umum, Ir. A. Sutjipto. 

Program ini cukup lengkap, mulai program Intern hingga program Ekstern. Program intern meliputi Konsolidasi Organisasi, program intern bertujuan untuk pemantapan organisasi KAGAMA yang meliputi Pembinaan komunikasi dengan alumni UGM, Sistem distribusi dan pendanaan Berita Kagama, Pembinaan hubungan dengan Almamater, Pembinaan sarana fisik, Peningkatan kesejahteraan alumni, Penjaringan Bibit Unggul Daerah, Pembinaan generasi penerus KAGAMA, Pengerahan dana, Dana pemeliharaan fakultas, Pembangunan Permukiman KAGAMA berwawasan Iingkungan di Yogyakarta dan Peningkatan kemampuan ilmiah anggota KAGAMA.

Program ekstern adalah dalam rangka meningkatkan pengabdian KAGAMA kepada masyarakat, bangsa, negara dan kemanusiaan; dimulai dengan Peningkatan hubungan kerjasama KAGAMA dengan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan Lembaga Swasta, serta Peningkatan hubungan dengan alumni perguruan tinggi lain.

Kesimpulan dalam seminar antara lain bahwa sukses pembangunan belum seluruhnya diikuti oleh pengembangan mutu sumber daya manusia. Masih perlu dikembangkan kepribadian pelaksanaan pembangunan yang memihak kepada upaya pengentasan sumber daya manusia dari kemiskinan.

Munas XI Kagama 24-25 Juli 2009 di Graha Sabha Pramana, Yogyakarta menetapkan Sri Sultan HB X sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Kagama periode 2009 – 2014. Sekjen Kagama adalah Prof. Dr. Ir. Budi, WS.  
Terkait dengan Munas XI, digelar Dialog Kebangsaan yang dihadiri oleh empat orang menteri yang juga merupakan alumni UGM, yakni Dr. Ir. Djoko Kirmanto, Dipl., HE., Ketua Umum PP Kagama sekaligus Menteri PU,  Menteri Kesehatan, Dr. dr. Siti Fadillah Supari, Mendiknas, Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA., Menpan, Drs. Taufik Effendi, MBA., termasuk calon wakil presiden, Boediono, yang juga merupakan alumni UGM.

Munas menghasilkan rekomendasi bagi pihak UGM yang diharapkan mampu meningkatkan keberadaan UGM sebagai universitas bertaraf internasional dan universitas riset berkelas dunia, dengan begitu banyak hasil karya dan pemikiran yang berkelas dunia. Mengingat bahwa semenjak tahun 1956 hingga 2009, Kagama sudah memiliki jumlah anggota lebih dari 200.000 orang, sebagai sebuah organisasi kekeluargaan yang bukan politik, namun tetap menjalin hubungan erat dengan UGM, dan keanggotaannya bersifat pasif.

Munas XII Kagama berlangsung tanggal 6-9 November 2014 di Makasar, Sulawesi Selatan, menetapkan Ganjar Pranowo sebagai Ketua Umum Kagama periode 2014-2019. Topik Munas XII Kagama bertemakan Revitalisasi Negara Maritim yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian. Munas XII Kagama dihadiri oleh Presiden RI, Joko Widodo, yang merupakan alumnus Fak. Kehutanan angkatan 1980, Ketua Umum Pengurus Pusat Kagama, Sri Sultan HB X. Ketua Panitia Munas XII Kagama, Prof. Dr. Ir. Sunjoto, Dipl. HE., DEA.

Momen penting dari kepengurusan periode ini adalah ditandatanganinya Nota Kesepahaman Bersama di antara pihak UGM, Kagama, Himbara (BTN, BNI, Bank Mandiri, BRI), dan BSM, beserta peluncuran kartu Gama Co – Brand pada hari Sabtu tanggal 12 Agustus 2017 di Balai Senat UGM Jogjakarta, meliputi Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., Ketua Umum PP Kagama Ganjar Pranowo, Dirut BTN, Maryono, Dirut BNI, Achmad Baiquni, Wadirut Bank Mandiri, Sulaiman Arianto, Dirut BRI, Suprajarto, Dirut Bank Syariah Mandiri (BSM), Kusman Yandi. 

Munas XIII Kagama pada tanggal 14-17 November 2019 berlangsung di Bali, di Grand Inna Bali Beach. Ketua Umum Panitia Munas XIII Kagama sekaligus Sekjen PP Kagama adalah AAGN Ari Dwipayana, Ketua Panitia Harian Munas XIII Kagama, IGNA Dyatmika. Seminar dihadiri oleh 1.000 peserta dari berbagai kalangan, baik peserta Munas, kalangan cendekiawan, tokoh masyarakat, budayawan, ekonom, dan wakil dari berbagai SPD pemerintahan di Bali. Munas XIII Kagama dihadiri oleh 621 peserta Munas pemegang mandat dari berbagai Pengurus Daerah dan Pengurus Cabang Kagama di seluruh Nusantara. Pelaksanaan Munas XIII Kagama juga didukung penuh Ketua Pengda Kagama Bali, AAG Oka Wishnumurti.

Santi Diwyarthi, Alumni Fak. Psikologi UGM 1993
Politeknik Pariwisata Bali (dahulu Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua)

Referensi: dari Hasil riset studi literatur dan berbagai sumber lain.

Sabtu, 23 November 2019

UGM dan Sejarah Berdirinya (1)



Ini merupakan bagian dari Trilogi tulisan tentang UGM, 1. UGM dan Sejarah Berdirinya, 2. UGM dan Kagama, dan 3. UGM dan Munas Kagama XIII. Universitas Gadjah Mada sebagai kampus yang “Nguwongke”, memanusiakan manusia, sebagai Kampus Rakyat, dan kuat berakar pada budaya serta keberagaman nusantara, mengakar ke bawah, membumi namun menjunjung tinggi yang di atas, Yang Maha Kuasa. Universitas Gadjah Mada lahir pada tanggal 19 Desember 1949, berdasar Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1949 ter tanggal 16 Desember 1949, mengenai Peraturan Penggabungan Perguruan Tinggi menjadi Universitas. 


Pada awal mula berdirinya, tanggal 19 Desember 1949, Universitas Gadjah Mada hanya memiliki enam fakultas. Menurut Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1949, keenam fakultas tersebut adalah:
  1. Fakultas Teknik (termasuk di dalamnya, Akademi Ilmu Ukur dan Akademi Pendidikan Guru Bagian Ilmu Alam dan Ilmu Pasti)
  2. Fakultas Kedokteran termasuk di dalamnya, bagian Farmasi, bagian Kedokteran Gigi dan Akademi Pendidikan Guru bagian Kimia dan Ilmu Hayat)
  3. Fakultas Pertanian (termasuk di dalamya, Akademi Pertanian dan Kehutanan)
  4. Fakultas Kedokteran Hewan
  5. Fakultas Hukum (termasuk di dalamnya, Akademi Keahlian Hukum, Keahlian Ekonomi dan Notariat, Akademi Ilmu Politik dan Akademi Pendidikan Guru Bagian Tatanegara, Ekonomi dan Sosiologi)
  6. Fakultas Sastra dan Filsafat (termasuk di dalamnya, Akademi Pendidikan Guru bagian Sastra).

Kegiatan civitas academica Universitas Gadjah Mada dituangkan dalam bentuk Tri Dharma Perguruan Tinggi yang terdiri atas Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat. Pada tahun 2019, UGM kini memiliki 18 Fakultas dan dua sekolah, yaitu Sekolah Vokasi dan Sekolah Pasca Sarjana, beserta lebih dari 100 Program Studi, termasuk S2, S3, dan Program Spesialis. Disamping itu, UGM juga memiliki 28 Pusat Studi yang memiliki tugas utama melakukan kegiatan penelitian untuk mendukung kegiatan pendidikan dan pengabdian masyarakat. Rektor pertama adalah Prof. Dr. M. Sardjito. Rektor UGM kini, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng. Berdasar data per tahun 2012, UGM memiliki 37.611 alumni sarjana, 7.854 magister, 871 doktor. Data per tahun 2018 memperlihatkan jumlah 47.081 mahasiswa dan 4.468 staf akademik. UGM memiliki motto “Mengakar Kuat, Menjulang Tinggi”.


Sejarah keberadaan Universitas Gadjah Mada merupakan penggabungan dan pendirian kembali dari berbagai balai pendidikan, sekolah tinggi, perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta, Klaten, dan Surakarta. Nama Gadjah Mada berawal dari dibentuknya Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada yang terdiri dari Fakultas Hukum dan Fakultas Kesusasteraan. Pendirian diumumkan di Gedung KNI Malioboro pada tanggal 3 Maret 1946 oleh Mr. R. S. Budhyarto Martoatmodjo, Ir. Marsito, Prof. Dr. Prijono, Mr. Soenario, Dr. Soleiman, dr. Boentaran Martoatmodjo, dan Dr. Soeharto. 


Sejak 4 Januari 1946, karena situasi ibukota yang bergejolak, Soekarno dan Hatta memindahkan ibu kota Republik Indonesia ke Yogyakarta. Pertempuran yang terjadi antara pejuang kemerdekaan dan Sekutu serta NICA di Jakarta dan Bandung membuat Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung ikut pindah ke Yogyakarta. Pada tanggal 17 Februari 1946, Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung dihidupkan kembali di Yogyakarta dengan para pengajarnya antara lain Prof. Ir. Rooseno dan Prof. Ir. Wreksodhiningrat. 


Lembaga pendidikan lain yang berdiri pada waktu yang hampir bersamaan adalah Perguruan Tinggi Kedokteran (berdiri 5 Maret 1946), Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan (berdiri 20 September 1946), Sekolah Tinggi Farmasi (berdiri 27 September 1946), dan Perguruan Tinggi Pertanian (berdiri 27 September 1946) yang kesemuanya berada di Klaten, sekitar 20 kilometer dari Yogyakarta. 


Institut Pasteur di Bandung sejak 1 September 1945, turut pula dipindahkan ke Klaten dengan laboratorium di Rumah Sakit Tegalyoso. Salah seorang yang berperan dalam pemindahan ini adalah Prof. Dr. M. Sardjito yang kelak menjadi Rektor Universitas Gadjah Mada yang pertama. Kehidupan kampus di Klaten semakin ramai dengan berdirinya Fakultas Kedokteran Gigi pada awal 1948.
Pada awal Mei 1948, Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan mendirikan Akademi Ilmu Politik di Yogyakarta atas usul Kementerian Dalam Negeri untuk mendidik calon-calon pegawai Departemen Dalam Negeri, Departemen Luar Negeri dan Departemen Penerangan. Akademi ini awalnya dipimpin oleh Prof. Djokosoetono, S.H. Namun akademi ini tidak berumur panjang, setelah pemberontakan PKI Madiun meletus, September 1948, akademi ini ditinggalkan para mahasiswanya yang ikut menumpas pemberontakan sehingga akademi ini ditutup.
Selanjutnya pada 1 November 1948 didirikan Balai Pendidikan Ahli Hukum di Surakarta, sebagai hasil kerja sama Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan dengan Kementerian Kehakiman. Bersamaan dengan itu Panitia Pendirian Perguruan Tinggi Swasta di Surakarta, yaitu Drs. Notonagoro, S.H., Koesoemadi, S.H. dan Hardjono, S.H. di Surakarta merencanakan mendirikan Sekolah Tinggi Hukum Negeri. Demi efisiensi, Panitia mengusulkan penggabungan Balai Pendidikan Ahli Hukum ke dalam Sekolah Tinggi Hukum Negeri yang akhirnya disetujui dan disahkan oleh Peraturan Pemerintah No. 73 Tahun 1948.
Serangan Belanda ke ibu kota Republik Indonesia di Yogyakarta dalam rangka Agresi Militer Belanda II melumpuhkan semua kegiatan belajar mengajar di Yogyakarta, Klaten dan Surakarta dan semua perguruan tinggi tersebut ditutup karena para mahasiswa ikut berjuang. Setelah serangan Belanda, wilayah Republik Indonesia menjadi semakin sempit. Pada tanggal 20 Mei 1949, diadakan rapat Panitia Perguruan Tinggi, di Pendopo Kepatihan Yogyakarta yang dipimpin oleh Prof. Dr. Soetopo, dengan anggota rapat antara lain, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Prof. Dr. M. Sardjito, Prof. Dr. Prijono, Prof. Ir. Wreksodhiningrat, Prof. Ir. Harjono, Prof. Sugardo dan Slamet Soetikno, S.H. Salah satu hasil rapat adalah pendirian perguruan kembali di wilayah republik yang masih tersisa, yaitu Yogyakarta. Disepakati Prof. Ir. Wreksodiningrat, Prof. Dr. Prijono, Prof. Ir. Harjono, dan Prof. Dr. M. Sardjito akan berusaha keras mewujudkannya. Kesulitan utama saat itu adalah tidak adanya ruangan untuk kuliah. Namun Sri Sultan Hamengkubuwono IX bersedia meminjamkan ruangan keraton dan beberapa gedung di sekitarnya.
Tanggal 1 November 1949, di Kompleks Peguruan Tinggi Kadipaten, Yogyakarta, berdiri kembali Fakultas Kedokteran Gigi dan Farmasi, Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran. Pembukaan ketiga fakultas ini dihadiri oleh Presiden Soekarno. Pada upacara pembukaan diadakan sebuah renungan bagi para dosen dan mahasiswa yang telah gugur dalam peperangan melawan Belanda, yaitu Prof. Dr. Abdulrahman Saleh, Ir. Notokoesoemo, Roewito, Asmono, Hardjito dan Wurjanto.
Tanggal 2 November 1949, Fakultas Teknik, Akademi Ilmu Politik serta Fakultas Hukum dan Fakultas Kesusasteraan yang berada di bawah naungan Yayasan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada ikut diresmikan. Tanggal 3 Desember 1949 dibuka Fakultas Hukum di Yogyakarta dengan pimpinan Prof. Drs. Notonagoro, SH. Fakultas ini merupakan pindahan Sekolah Tinggi Hukum Negeri Solo.
Tanggal 19 Desember 1949, lahir Universitas Gadjah Mada dengan enam fakultas. Menurut Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1949, keenam fakultas tersebut adalah:
1.      Fakultas Teknik (di dalamnya termasuk Akademi Ilmu Ukur dan Akademi Pendidikan Guru Bagian Ilmu Alam dan Ilmu Pasti);
  1. Fakultas Kedokteran, yang di dalamnya termasuk bagian Farmasi, bagian Kedokteran Gigi dan Akademi Pendidikan Guru bagian Kimia dan limu Hayat;
  2. Fakultas Pertanian di dalamya ada Akademi Pertanian dan Kehutanan;
  3. Fakultas Kedokteran Hewan;
  4. Fakultas Hukum, yang di dalamnya termasuk Akademi Keahlian Hukum, Keahlian Ekonomi dan Notariat, Akademi Ilmu Politik dan Akademi Pendidikan Guru Bagian Tatanegara, Ekonomi dan Sosiologi;
  5. Fakultas Sastra dan Filsafat, yang di dalamnya termasuk Akademi Pendidikan Guru bagian Sastra.
Sebagai Rektor yang pertama (Presiden) ditetapkan Prof. Dr. M. Sardjito. Pada saat yang sama juga ditetapkan Senat UGM dan Dewan Kurator UGM. Dewan Kurator UGM terdiri dari Ketua Kehormatan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dan Ketua adalah Sri Paku Alam VIII, seorang wakil ketua dan anggota.
Tahun 1952 Fakultas Hukum, Sosial dan Politik ditambah dengan bagian ekonomi sehingga menjadi Fakultas Hukum, Ekonomi, Sosial dan Politik HESP). Pada bulan September 1952 Fakultas Pertanian ditambah dengan Bagian Kehutanan, sehingga menjadi Fakultas Pertanian dan Kehutanan.
Sejak September 1955, beberapa fakultas dimekarkan menjadi fakultas-fakultas baru, antara lain:
  • Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Farmasi menjadi Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi dan Fakultas Farmasi.
  • Bagian Bakaloreat Biologi Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Farmasi menjadi Fakultas Biologi.
  • Fakultas Hukum, Ekonomi, Sosial dan Politik dipecah menjadi tiga fakultas, yaitu: Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Sosial dan Politik.
  • Fakultas Sastra, Pedagogik dan Filsafat dipecah menjadi tiga fakultas, yaitu: Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Fakultas Ilmu Pendidikan dan Fakulas Filsafat.
  • Tingkat pengajaran Bakaloreat Ilmu Pasti dan Bakaloreat Ilmu Alam pada Bagian Sipil Fakultas Teknik dijadikan Fakultas Ilmu Pasti dan Alam.
  • Fakultas Ilmu Pendidikan mempunyai dua bagian yaitu Bagian Pendidikan dan Bagian Pendidikan Jasmani.
  • Fakultas Kedokteran Hewan diuubah namanya menjadi Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan.
Pada tahun 1960 Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi dipisahkan menjadi Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi.
Pada tahun 1962 Bagian Pendidikan Jasmani dari Fakultas Ilmu Pendidikan ditingkatkan menjadi Fakultas Pendidikan Jasmani. Fakultas ini diserahkan pada Departemen Olah Raga pada tahun 1963 dan menjadi Sekolah Tinggi Olah Raga (STO).
Untuk memberikan pendidikan umum yang kuat bagi semua Fakultas, didirikan pula Fakultas Umum, dan digabungkan dengan Fakultas Filsafat menjadi Gabungan Fakultas Umum dan Fakultas Filsafat. Pada tahun 1961 Fakultas Filsafat dibubarkan dan pada tahun 1962 Fakultas Umum juga dibubarkan. Sebagai penggantinya tahun 1963 didirikan Biro Penyelenggara Kuliah-Kuliah khusus untuk melaksanakan tugas yang semula menjadi tugas gabungan Fakultas Umum dan Fakultas Filsafat. Namun pada tanggal 18 Agustus 1967 Fakultas Filsafat didirikan kembali dan pada tahun 1969 Biro Penyelenggara Kuliah-Kuliah khusus dimasukkan dalam Fakultas Filsafat sebagai Biro Penyelenggara Kuliah-Kuliah Agama.
Pada tahun 1963 Bagian Kehutanan Fakultas Pertanian ditingkatkan menjadi Fakultas Kehutanan, seksi teknologi dan seksi kultur teknik menjadi Fakultas Teknologi Pertanian. Pada tahun itu pula Jurusan Geografi pada Fakultas Sastra dan Kebudayaan ditingkatkan menjadi Fakultas Geografi.
Jurusan Psikologi pada FIP menjadi Bagian Psikologi yang kemudian pada tanggal 8 Januari 1965 menjadi Fakultas Psikologi.
Pada tahun 1969 Fakultas yang ke-18 lahir yaitu Fakultas Peternakan yang merupakan peningkatan Bagian Peternakan Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan.
Semenjak tahun 1983 Universitas Gadjah Mada memiliki 18 Fakultas Program Sarjana, dua Fakultas Program Diploma (Fakultas Non Gelar Ekonomi dan Fakultas Non Gelar Teknologi) dan satu Fakultas Pascasarjana (Magister dan Doktor). Awal tahun 1992 terjadi penyederhanaan jumlah fakultas, Fakultas Pascasarjana diubah menjadi Program Pascasarjana, sedangkan Fakultas Non Gelar Ekonomi diintegrasikan ke Fakultas Ekonomi dan Fakultas Non Gelar Teknologi diintegrasikan ke Fakultas Teknik.
Sejarah panjang perjalanan Universitas Gadjah Mada semenjak tahun 1949 disaat awal, hingga kini sudah memasuki usia ke 70 tahun, pada tahun 2019, dengan ke enam belas Rektor meliputi sebagai berikut:
Rektor pertama UGM, Prof. Dr. M. Sardjito (1949-1961) berasal dari Fakultas Kedokteran
Rektor ke 2 UGM, Prof. Dr. Ir. Herman Johannes (1961-1966) berasal dari Fakultas Teknik
Rektor ke 3 UGM, drg. M. Nazir Alwi (1966-1967) berasal dari Fakultas kedokteran Gigi
Rektor ke 4 UGM, Drs. Soepojo padmodipoetro, MA. (1967-1968) berasal dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Rektor ke 5 UGM, Prof. Dr. Soeroso H. Prawirohardjo, MA. (1968-1973) berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Rektor ke 6 UGM, Prof. Dr. Sukadji Ranuwihardjo, MA. (1973-1981)
Rektor ke 7 UGM, Prof. Dr. Teuku Jacob, MS., DS. (1981-1986) berasal dari Fakultas Kedokteran
Rektor ke 8 UGM, Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, SH., ML. (1986-1990) berasal dari Fakultas Hukum
Rektor ke 9 UGM, Prof. Dr. Ir. Mohammad Adnan (1990-1994) berasal dari Fakultas Teknologi Pertanian
Rektor ke 10 UGM, Prof. Dr. Soekanto H. Reksohadiprodjo, M.Com (1994-1998) berasal dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Rektor ke 11 UGM, Prof. Dr. Ichlasul Amal, MA (1998-2002) berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Rektor ke 12 UGM, Prof. Dr. Sofian Efendi, MPIA (2002-2007 berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Rektor ke 13 UGM, Prof. Ir. Soedjarwadi, M.Eng., Ph.D (2007-2012) berasal dari Fakultas Teknik
Rektor ke 14 UGM, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc. (2012-2014) berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Rektor ke 15 UGM, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D. (2014-2017) berasal dari Fakultas Teknik
Rektor ke 16 UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng. (2017-2022) berasal dari Fakultas Teknik UGM.

Santi Diwyarthi, Alumni Fak. Psikologi UGM 1993.
Politeknik Pariwisata Bali (dahulu Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali)
Referensi : dari hasil riset studi literatur dan berbagai sumber lainnya.