Kamis, 14 Maret 2013

Takdir.....

Terkadang...... Hidup tidak lah selalu indah, tidak semudah impian dan harapan. Terjatuh dan tersungkur berkali. Hingga ke titik ter nista yang pernah ada.

Pagi ini berangkat kerja bersama motor tuaku, menembus jalanan panjang dan berdebu yang tak kunjung usai proyeknya terentang sepanjang masa. Tiba di kantor kutuntaskan dengan bimbingan skripsi bagi mahasiswa yang sedang menuntaskan tugas akhir mereka. Bu Diah Sastri Pitanatri yang seminggu lagi akan melahirkan sedang bersiap melaksanakan ujian laporan hasil training bagi para mahasiswanya, bu Ni Putu Suastini sedang menuntaskan beberapa tugas di meja kerjanya.



Aku kemudian berjalan bersama bu IGA Mirah D menuju ke Aula. Ada seminar mengenai HIV / AIDS yang dibawakan oleh beberapa anggota ROTARACT cabang Bali. 1000 an mahasiswa semester 2 dan 4 Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali berada di dalamnya. Selesai mengawasi kegiatan mahasiswa di sini, kami bergerak menuju gedung MICE (meeting, incentive,  conference, event). Disini sedang berlangsung kegiatan dari MarkPlus, mengenai marketeer comunity. Terdapat 500 an mahasiswa semester 6 dan 8 yang mengikuti seminar ini. Hmmm, sungguh aktivitas dinamis sebuah lembaga pendidikan.


Tuntas berkeliling dan mengamati sejenak, aku bergerak kembali ke dalam ruang kantorku. Berkumpul bersama rekan kerja, dan berencana mengunjungi anak bu Luh Nyoman Tri Ariani, rekan kerja kami yang termasuk kelompok dosen di Manajemen Divisi Kamar. Namanya Putu Ugi Narendra. Tamatan STAN dan merupakan pengantin baru, kini bertugas di kantor dinas pajak di Surabaya. Kini sedang opname di RS Wangaya. Kondisinya semakin drop setelah jalani operasi akibat derita kanker kelenjar getah bening. Berkisah tentang situasi anaknya, bu Tri meneteskan airmata kesedihan saat berkumpul bersama kami. Dheuh..... derita seorang ibu yang anaknya sedang sakit.


Kembali kususuri jalanan panas berdebu Nusa Dua - Denpasar, menuju RS Wangaya, bersama ibu IGA Mirah dan ibu Nyoman Sukerti. Tiba di RS, kami bergegas menuju ke ruang Belibis 8, mendapati Ugik Narendra sedang duduk di atas tempat tidur, ditunggui para paman dan bibinya. Ah... tak sampai hati kami berlama di sana. Menatap tubuh kurus tersebut, tersentuh hatiku.... kubayangkan, anak-anakku mengalami sakit yg sama, tak ingin rasanya. Bahkan, mungkin, akan kuserahkan hidupku bila bisa memberi mereka kebahagiaan sepanjang masa.

Hujan angin mendadak turun, membuatku ber basah kuyup dalam perjalanan menghantar ibu Mirah ke rumahnya sebelum aku sendiri pulang ke rumahku. Sore ini ada rencana lain yang ingin kupenuhi.

Yudha hari ini tidak bersekolah karena badannya panas demam. Teman suamiku berduka karena ayahnya meninggal dunia, aku belum sempat berkunjung ke rumah mereka karena beberapa kesibukan. Maka, kuputuskan berangkat bersama Ayu, cucuku. Kali ini kami bergerak ke Denpasar Utara. Menyusuri jalan Marlboro, masuk ke Teuku Umar, lalu Diponegoro, hingga akhirnya jalan Antasura, berbelok ke Cekomaria, dan Gang Tanjung. Tiba di rumah bapak Ketut Sandi. Hmmm, sebuah rumah asri di tepi sawah dan berbatasan dengan hutan. Meninggal dua hari sebelum Nyepi, jenasah pak Ketut Sandi baru dibawa hari ini, Kamis, 14 Maret 2013, ke rumah ini, setelah dititipkan di RS Sanglah. Rencana ngaben akan dilaksanakan pada tanggal 18 Maret. Hmmm, meninggal di usia tua akibat terserang stroke. Namun sungguh sebuah kasih yang diperlihatkan oleh anak mantu dan para cucu, menghantarkan beliau berpulang dengan sepenuh damai. Semoga ini mampu memberi dharma lapang bagi siapa saja yang berbhakti pada kedua orang tua dan siapa saja di dunia ini....

Malam hari..... terbiasa berdiskusi dengan para sahabat, dan, baru kusadari, sahabatku alami kecelakaan. Pak Abdul Wahid, sesama rekan se angkatan di program pascasarjana S3 program studi Kajian Budaya Universitas Udayana angkatan 2009. Dia mengalami kecelakaan di salah satu mall di Jakarta, hingga wajahnya terluka, dan harus di operasi.



Hmm, sungguh kasihan sahabat kami ini.Salah satu staf pengajar di IAIN Lombok, berasal dari Bima Sumbawa, dengan istri yang sedang ikuti tugas belajar di Australia, ketiga anak lelaki yang masih kecil-kecil. Semoga beliau lekas pulih dan seluruh anggota keluarganya tabah.


Ah, Tuhan..... Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Malam ini aku terpekur dalam doaku...... sungguh, hidup tak dapat ditebak, untung rugi, baik buruk, benar salah, sedikit banyak, kita semua hanyalah pelakon, hanya pejalan dalam setiap kehidupan, yang menjejakkan langkah, satu demi satu, bagai pengembara dengan setiap harapan di pundak. Apapun yang terjadi dengan hidupku, siapa pun yang telah mengisi setiap bagian dari hidupku, dengan cara bagaimana pun kujalani hidupku, ini lah aku..... Akan terus ku langkahkan kakiku, meski terkadang, bulir tangis menggenangi pelupuk mata, galau tiada berkesudahan karena mimpi tak terwujud nyata, desah lirih tentang harap yang tak kunjung bisa terraih..... kusyukuri semua, kusyukuri semua.

Senin, 11 Maret 2013

Nyepi, Swasti Warsa Anyar, Rahajeng Nyanggra Rahina Nyepi, Anggarakasih Julungwangi, Selasa 12 Maret 2013

Tapa brata Penyepian.....

 Parisada merumuskan brata penyepian menjadi Catur Barata Penyepian yaitu:

-Amati geni (tidak menyalakan api termasuk memasak). Itu berarti melakukan upawasa (puasa).

- Amati karya (tidak bekerja), menyepikan indria.

- Amati lelungan (tidak bepergian).

- Amati lelanguan (tidak mencari hiburan)




Pada prinsipnya, saat Nyepi, panca indria kita diredakan dengan kekuatan manah dan budhi. Meredakan nafsu indria itu dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis sehingga kualitas hidup kita semakin meningkat. Bagi umat yang memiliki kemampuan yang khusus, mereka melakukan tapa yoga brata samadhi pada saat Nyepi itu.

Yang terpenting, Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tiggi. Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci, hening menuju jalan yang benar atau dharma. Untuk melak-sanakan Nyepi yang benar-benar spritual, yaitu dengan melakukan upawasa, mona, dhyana dan arcana.

Upawasa artinya dengan niat suci melakukan puasa, tidak makan dan minum selama 24 jam agar menjadi suci. Kata upawasa dalam Bahasa Sanskerta artinya kembali suci. Mona artinya berdiam diri, tidak bicara sama sekali selama 24 jam. Dhyana, yaitu melakukan pemusatan pikiran pada nama Tuhan untuk mencapai keheningan. Arcana, yaitu melakukan persembahyangan seperti biasa di tempat suci atau tempat pemujaan keluarga di rumah. Pelaksanaan Nyepi seperti itu tentunya harus dilaksana-kan dengan niat yang kuat, tulus ikhlas dan tidak didorong oleh ambisi-ambisi tertentu. Jangan sampai dipaksa atau ada perasaan terpaksa. Tujuan mencapai kebebesan rohani itu memang juga suatu ikatan. Namun ikatan itu dilakukan dengan penuh keikh-lasan.

Nah, lalu bagaimana pelaksanaan Nyepi di luar Bali? Rangkaian Hari Raya Nyepi di luar Bali dilaksanakan berdasarkan desa, kala, patra dengan tetap memperhatikan tujuan utama hari raya yang jatuh setahun sekali itu. Artinya, pelaksanaan Nyepi di Jakarta misalnya, jelas tidak bisa dilakukan seperti di Bali. Kalau di Bali, tak ada kendaraan yang diperkenankan keluar (kecuali mendapat izin khusus), namun di Jakarta hal serupa jelas tidak bisa dilakukan.


Sumber: Buku "Yadnya dan Bhakti" oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni)






Ogoh-ogoh.... ketika para bhuta kala bersimbol

Coma Wage Julungwangi, Senin, 11 Maret 2013

(http://www.balistarisland.com/Balinews/BaliNews-Apr0601.htm)
''Mecaru'' diikuti oleh upacara ''pengerupukan'', yaitu menyebar (nasi) tawur, mengobori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu )sejenis bahan makanan), serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. 



Mulai tahun 1990 an, di Bali pada saat Pengerupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai Ogoh-ogoh, sebagai perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.





Bagi sebagian orang, Ogoh-ogoh hanya buang waktu, tenaga dan biaya belaka. Apalagi bila disertai dengan keributan akibat pergesekan yang sering bermula dari saling guyon, saling sindir dan menjadi ketersinggungan, ditambah dengan minum bir atau arak. Namun bagi orang lainnya, Ogoh-ogoh juga adalah sebuah bentuk bersyukur, memuji kebesaran Hyang Widhi Wasa, sarana penyaluran kreativitas anak muda, kerjasama antara sekehe teruna teruni, belajar berorganisasi dengan beragam pihak, hingga termasuk ajang persaingan serta uji gengsi bila banyak yang mengagumi, dan mampu memenangkan lomba, hingga layak untuk tampil diarak mengelilingi suatu daerah.




 
Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Patung yang dibuat dengan bambu, kertas, kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyarakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan, misalnya berupa raksasa yang melambangkan Bhuta Kala.





Pemuda pemudi Br. Anyar yang berkumpul bersama, merancang dan mengerjakan obor mini sebagai penerang jalan di malam Pengerupukan. Botol bekas dikumpulkan, kemudian diikat menggunakan lakban pada sebatang bambu, diisi dengan minyak tanah, kemudian ditancapkan pada potongan batang pohon pisang.









Karena bukan sarana upacara, ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai serta tidak mengganggu ketertiban dan kea-manan. Selain itu, ogoh-ogoh itu jangan sampai dibuat dengan memaksakan diri hingga terkesan melakukan pemborosan. Karya seni itu dibuat agar memiliki tujuan yang jelas dan pasti, yaitu memeriahkan atau mengagungkan upacara. Ogoh-ogoh yang dibuat siang malam oleh sejumlah warga banjar itu harus ditampilkan dengan landasan konsep seni budaya yang tinggi dan dijiwai agama Hindu.



Minggu, 10 Maret 2013

Mecaru Pemarisudha Butha Kala, Coma Wage Julungwangi, Senin, 11 Maret 2013.


Sehari sebelum Nyepi, pada "tilem sasih kesanga", umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan, dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya.  



Pagi hari ini, bersama dengan seluruh umat Hindu yang ada di perumahan kami, bersama kami mengikuti pecaruan pemarisuda di pura bersama. Kemudian kuikuti upacara pecaruan di banjar Jabapura, Umedui, dimana kami merupakan bagian dari banjar adat ini. Hmmm, sungguh, sebuah pengejawantahan dari makna Tri Hita Karana. Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung.... Menjaga harmoni di antara parahyangan (hubungan dengan Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, pawongan (hubungan dengan sesama umat manusia) dan palemahan (hubungan dengan alam semesta).

 Pergesekan dan benturan yang mungkin saja terjadi. Namun manusia berakal dan berbudhi untuk menjadi smakin bijak dan dewasa galam mengarungi jejak langkah kehidupannya. Semoga semua umat di dunia senantiasa menjadi shantih..... damai.



Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Buta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding / paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.



Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Bali, pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.



Dalam rangkaian Nyepi di Bali, upacara yang dilakukan berdasarkan wilayah adalah sebagai berikut: di ibukota provinsi dilaku-kan upacara tawur. Di tingkat kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud. Di tingkat kecamatan dilakukan upacara Panca Sanak. Di tingkat desa dilakukan upacara Panca Sata. Dan di tingkat banjar dilakukan upacara Ekasata.



Sedangkan di masing-masing rumah tangga, upacara dilakukan di natar merajan (sanggah). Di situ umat menghaturkan segehan Panca Warna 9 tanding, segehan nasi sasah 100 tanding. Sedangkan di pintu masuk halaman rumah, dipancangkanlah sanggah cucuk (terbuat dari bambu) dan di situ umat menghaturkan banten daksina, ajuman, peras, dandanan, tumpeng ketan sesayut, penyeneng jangan-jangan serta perlengkapannya. Pada sanggah cucuk digantungkan ketipat kelan (ketupat 6 buah), sujang berisi arak tuak. Di bawah sanggah cucuk umat menghaturkan segehan agung asoroh, segehan manca warna 9 tanding dengan olahan ayam burumbun dan tetabuhan arak, berem, tuak dan air tawar.

Setelah usai menghaturkan pecaruan, semua anggota keluarga, kecuali yang belum tanggal gigi atau semasih bayi, melakukan upacara byakala prayascita dan natab sesayut pamyakala lara malaradan di halaman rumah.

Upacara Bhuta Yajña di tingkat provinsi, kabupaten dan kecamatan, dilaksanakan pada tengah hari sekitar pukul 11.00 - 12.00 (kala tepet). Sedangkan di tingkat desa, banjar dan rumah tangga dilaksanakan pada saat sandhyakala (sore hari). Upacara di tingkat rumah tangga, yaitu melakukan upacara mecaru. Setelah mecaru dilanjutkan dengan ngrupuk pada saat sandhyakala, lalu mengelilingi rumah membawa obor, menaburkan nasi tawur. Sedangkan untuk di tingkat desa dan banjar, umat mengelilingi wilayah desa atau banjar tiga kali dengan membawa obor dan alat bunyi-bunyian. Sejak tahun 1980-an, umat mengusung ogoh-ogoh yaitu patung raksasa. Ogoh-ogoh yang dibiayai dengan uang iuran warga itu kemudian dibakar. Pembakaran ogoh-ogoh ini meru-pakan lambang nyomia atau menetralisir Bhuta Kala, yaitu unsur-unsur kekuatan jahat.

Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Patung yang dibuat dengan bambu, kertas, kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyarakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan, misalnya berupa raksasa yang melambangkan Bhuta Kala.

Karena bukan sarana upacara, ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai serta tidak mengganggu ketertiban dan kea-manan. Selain itu, ogoh-ogoh itu jangan sampai dibuat dengan memaksakan diri hingga terkesan melakukan pemborosan. Karya seni itu dibuat agar memiliki tujuan yang jelas dan pasti, yaitu memeriahkan atau mengagungkan upacara. Ogoh-ogoh yang dibuat siang malam oleh sejumlah warga banjar itu harus ditampilkan dengan landasan konsep seni budaya yang tinggi dan dijiwai agama Hindu.



Melasti @ Petitenget, Kerobokan. Saniscara Paing Warigadean, 9 Maret 2013.



Nyepi berasal dari kata sepi (hening, sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit (Wikipedia).

Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali.

Melasti adalah salah satu rangkaian dari upacara Tawur Kesanga, dalam perayaan Nyepi bagi umat Hindu. Perjalanan panjang yang ditempuh umat Hindu dalam proses melasti, mekiyis, melis... tiga atau dua hari sebelum hari raya Nyepi, merupakan simbol penyucian lahir dan batin, buana alit (manusia) dan buana agung (alam semesta) dimana beragam sarana persembahyangan, benda pusaka / pretima diarak menuju sungai, danau atau laut yang dianggap sebagai sumber tirtha amertha untuk disucikan.



Lontar Sundarigama menguraikan Melasti dengan : Manusa kabeh angaturaken prakerti ring prawatek dewata. Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara.

Artinya: Manusia melaksanakan serangkaian aktivitas upacara mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Ka-mandalu) di tengah-tengah samudra.

Jadi tujuan Melasti adalah untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah Samudra. Samudra adalah lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Dalam gelombang samudra kehi-dupan itulah, kita mencari sari-sari kehidupan dunia.



Beragam benda pusaka, sarana upacara dan upakara, pretima, diarak menuju sungai, danau dan laut untuk disucikan. Jika dahulu beragam benda sakral tersebut diarak dengan meletakkannya di atas kepala, dengan ditandu oleh beberapa orang, pada era modern ini beragam benda sakral tersebut diletakkan pada jolly, juli, atau jempana, yang diberi roda di bagian bawahnya, sehingga memudahkan untuk membawa menuju ke tempat yang dituju. Kemudian arakan berjalan perlahan, dari Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dalem, menuju sungai, danau, atau laut, untuk menjalani prosesi penyucian, dan kemudian kembali ke Pura Desa, berstana di sana hingga sehari setelah hari raya Nyepi.



Tua & muda, berbaur bersama, memaknai dan melakoni rangkaian upacara melasti..... karena kita adalah sama di mata Nya, meski dengan sejuta warna dalam corak dan ragam. Melasti adalah : nganyudang malaning gumi ngamet Tirta Amerta,  atau menghanyutkan kekotoran alam menggunakan air kehidupan. Laut sebagai simbol sumber Tirtha Amertha (Dewa Ruci, Pemuteran Mandaragiri). Ritual dilaksanakan selambat - lambatnya pada tilem sore, pemelastian harus sudah selesai secara keseluruhan, dan pratima yang disucikan sudah harus berada di bale agung. 


Bimbinglah anak sedari dini, karena mereka tiang pancang dunia..... Hidup takkan selalu mudah dan indah, tidak seperti impian dan harapan. Namun dengan bimbingan dari kita semua, dunia akan harmoni dalam genggaman tangan mereka...... Genius local wisdom di era globalisasi.

Matangnyan prihen tikang bhutahita haywa tan mâsih ring sarwa prani (Oleh karenanya, usahakan kesejahteraan semua makhluk, saling mengasihi satu sama lainnya). Apan ikang prana ngaranya, ya ika nimitang kapagehan ikang catur warga, mâng dharma, artha kama moksha (Karena kesejahteraan setiap mahluk menyebabkan tetap terjaminnya dharma, artha, kama dan moksha)





















Anakku tersayang.... kami mungkin tidak selalu bisa mendampingimu setiap waktu, tidak selalu hadir di kala dikau membutuhkan bantuan kami, tak dapat memberimu yang terbaik yang tersedia di dunia ini. Namun tumbuhlah bersama doa kami, menjadi pribadi tangguh dalam mengarungi samudra kehidupan kalian.... Terjatuh & tersungkur berkali, maka bangkitlah berkali dan berkali lagi.

Manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. Perbuatan mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma wasana. Perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi, yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas.....

Dan..... Tawur Kesanga adalah salah satu dari sekian banyak aktivitas dalam memaknai kehidupan & memotivasi umat Hindu secara ritual dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber kehidupan. Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata "tawur" berarti mengembalikan atau membayar.


"Ini kali kedua saya mengikuti rangkaian upacara Melasti. Dan, sungguh menakjubkan menyadari perjuangan mereka untuk memaknai spiritual sejati dalam beragam aktivitas kehidupan sehari-hari...." (Kristine from Germany). Dan.... kami bersimpuh bersembahyang bersama, bagi buana alit & buana agung....







  
Sekitar 300 an juli / jempana / kereta beroda sebagai sarana membawa beragam benda sakral, bergerak dari masing-masing Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem yang ada di Desa Pekraman Kerobokan, menuju ke pantai Petitenget.











Demikian pula beragam tombak dan lambang sakral yang dibawa oleh para pengiring.



Tujuan dari upacara ini adalah untuk penyucian diri. Dalam upacara Melasti menurut Lontar Sunarigama dan Sang Hyang Aji Swamandala ada empat hal yang dipesankan dalam upacara Melasti tersebut.
  1. Pertama untuk mengingatkan umat agar meningkatkan terus baktinya kepada Tuhan (ngiring parwatek dewata).
  2. Kedua peningkatan bakti itu untuk membangun kepedulian agar dengan aktif melakukan pengentasan penderitaan hidup bersama dalam masyarakat (anganyutaken laraning jagat).
  3. Ketiga untuk membangun sikap hidup yang peduli dengan penderitaan hidup bersama itu harus melakukan upaya untuk menguatkan diri dengan membersihkan kekotoran rohani diri sendiri (anganyut aken papa klesa).
  4. Keempat dengan bersama-sama menjaga kelestarian alam ini (anganyut aken letuhan bhuwana).












Dengan ribuan umat Hindu selaku pemedek / penyungsung, yang mengiringi beragam benda sakral dari pura masing-masing, terkadang ada yang mengalami trance / kesurupan.


Trance... Hmm, perlu berhati menyikapi hal ini. Beberapa pakar hypnosis menyatakan bahwa trance adalah suatu situasi dan kondisi seseorang yang menyerupai tidur. Hal ini bisa dibuktikan dari gelombang otak yang terekam. Sementara yang lain mengatakan, mereka sepenuhnya sadar, dan bisa tetap mengendalikan diri mereka.  Adakalanya trance dikaitkan dengan dunia gaib, mistik, ilmu hitam. Adapula yg beranggapan trance merupakan suatu bentuk komunikasi verbal dan non verbal dari alam lain, entah itu leluhur, para dewa, butha kala. Sebagai satu dari sekian pertanda / cihna / ciri / fenomena kehadiran dewata / leluhur.











Beragam pandangan ini, apapun itu, siapapun, dimanapun, dan, dengan cara bagaimanapun, semoga hadir dengan situasi positif yang bisa membawa ke arah semakin baik, dari hari ke hari. Hidup sudah susah dan rumit, maka akan jauh lebih indah dan mudah bila semua berjalan lancar demi kebaikan buana alit & buana agung....

Tujuan utama brata penyepian adalah untuk menguasai diri, menuju kesucian hidup agar dapat melaksanakan dharma sebaik-baiknya menuju keseimbangan dharma, artha, kama dan moksha.

Hari Raya Nyepi memiliki makna filosofis yang relevan dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Tawur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan yang akan datang. Bhuta Yajña (Tawur Kesanga) mempunyai arti dan makna untuk memotivasi umat Hindu secara ritual dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber kehidupan.


Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata "tawur" berarti mengembalikan atau membayar. Sebagaimana kita ketahui, manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. Perbuatan mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma wasana. Perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi, yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas. Mengambil dan memberi perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Ini berarti Tawur Kesanga bermakna memotivasi ke-seimbangan jiwa. Nilai inilah tampaknya yang perlu ditanamkan dalam merayakan pergantian Tahun Saka

Menyimak sejarah lahirnya, dari merayakan Tahun Saka kita memperoleh suatu nilai kesadaran dan toleransi yang selalu dibutuhkan umat manusia di dunia ini, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. Umat Hindu dalam zaman modern seka-rang ini adalah seperti berenang di lautan perbedaan. Persamaan dan perbedaan merupakan kodrat. Persamaan dan perbedaan pada zaman modern ini tampak semakin eksis dan bukan merupakan sesuatu yang negatif. Persamaan dan perbedaan akan selalu positif apabila manusia dapat memberikan proporsi dengan akal dan budi yang sehat. Brata penyepian adalah untuk umat yang telah meng-khususkan diri dalam bidang kerohanian. Hal ini dimaksudkan agar nilai-nilai Nyepi dapat dijangkau oleh seluruh umat Hindu dalam segala tingkatannya. Karena agama diturunkan ke dunia bukan untuk satu lapisan masyarakat tertentu.

Senin, 04 Maret 2013

I Lose Control...... Gue Galau, Babe.


Be selective in your battles, sometimes peace is better than being right
My father told me at that day...... Ah. You always right, Dad, and right now, I miss you so much.......
(Waspadalah selalu di setiap jalan hidupmu, terkadang, cari amannya aja deh, daripada ngotot pertahankan kebenaran, karena, gak selalu benar bisa diterima di mata masyarakat luas. Demikian si Babe, Bapak, kala itu, bicara padaku)



When heart speaks and heart listens, harmony is produced. It is always so. When head talks and head listens, argument is produced.
(Bila kata hatimu bicara, dan hati nuranimu mendengar.... harmoni akan tercipta. Bila pikiranmu berbicara, dan pikiranmu pula yg mendengarkan..... maka akan tercipta jutaan argumentasi)







 

Loyalty means believing in the continuity of commitment. Responsibility, dedication and commitment are the limbs of loyalty.
(Kesetiaan berarti mempercayai kelangsungan komitmen yang telah terucap diantara kita. Tanggungjawab, dedikasi dan komitmen adalah inti dari kesetiaan itu sendiri)

We have this ability, but we have forgotten to listen from our heart. That is why we are tense and worried and dull and dry. We feel dry in life. The joy comes when we can listen from our heart.

(Kita semua memiliki kemampuan ini, namun kita mengabaikan suara hati. Ini lah sebabnya mengapa kita tegang dan waswas, hampa dalam hidup ini. Kebahagiaan akan hadir bila kita mendengarkan suara hati)

And, I cry, lay down here lonely....... hear Scorpion band sing this song: You and I
(Dan..... air mata bergulir perlahan di malam sunyi sepi nan hening..... kudengarkan lagu dari band Scorpion, Kau dan Aku....)


I lose control because of you babe
I lose control when you look at me like this
There's something in your eyes that is saying tonight
I'm not a child anymore, life has opened the door

To a new exciting life
I lose control when I'm close to you babe
I lose control don't look at me like this
There's something in your eyes, is this love at first sight

Like a flower that grows, life just wants you to know
All the secrets of life
It's all written down in your lifelines
It's written down inside your heart

You and I just have a dream
To find our love a place, where we can hide away
You and I were just made
To love each other now, forever and a day

I lose control because of you babe
I lose control don't look at me like this
There's something in your eyes that is saying tonight
I'm so curious for more just like never before

In my innocent life
It's all written down in your lifelines
It's written down inside your heart
You and I just have a dream

To find our love a place, where we can hide away
You and I were just made
To love each other now, forever and a day
Time stands still when the days of innocence

Are falling for the night
I love you girl I always will
I swear I'm there for you
Till the day I die

You and I just have a dream
To find our love a place, where we can hide away
You and I were just made
To love each other now, forever and a day

Kamis, 28 Februari 2013

C'est la Vie, Mon Ami......

Pukul 4 sore, Kamis 28 Februari 2013. Hari terakhir di bulan Februari. Setelah tuntas dengan beragam kegiatan di kampus Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, aku bersiap untuk pulang..... Suami yang sedang di Malang melaksanakan tugas negara, anak-anak dengan beragam aktivitasnya, rumah tangga yang menanti hadirku, membuat ingin bergegas pulang.

Kulihat senat mahasiswa sedang rapat. Mereka bersiap untuk melaksanakan  beragam persiapan bagi acara pembukaan awal kegiatan bagi peringatan Dies Natalis ke 35 Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali. Dan besok kegiatan akan dilaksanakan di lapangan olah raga kami pada pukul 7 pagi hari.



Bu Suastuti, dosen muda di STPNDB. Setelah tuntas mengajar, dia akan lanjut kuliah di program pascasarjana, magister manajemen, Universitas Udayana. Ya, para dosen diwajibkan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, minimal S2, maka dia melanjutkan pendidian kembali. Ternyata ban mobilnya kempes. Ada cadangan ban mobil di bagasi. Setelah berdiskusi dengan bapak IB Negarayana, Ketua Jurusan MKP yang juga sedang beranjak pulang, pak Giriana, staf transportasi, diputuskan akan menjemput karyawan bengkel mobil di dekat kampus kami. Dan, setelah karyawan bengkel tiba, bagasi mobil dibuka untuk mengeluarkan ban cadangan.



Namun sayangnya lagi, ban cadangan ini juga kempes. Hmmm. Ban mobil yg pecah dimasukkan ke dalam bagasi, ban cadangan yang kempes dibawa ke bengkel untuk dipompa. Uniknya lagi, velg mobil dari ban cadangan tidak lah sama. Resiko tinggi untuk alami kecelakaan.... Mobil hanya bisa dikendarai dengan kecepatan dibawah 80b km per jam nya. Padahal jalur Nusa Dua - Denpasar, dan khususnya kampus UNUD di jalan Sudirman di kala sore hari sangat lah padat. Orang yang pulang kerja, murid sekolah yang baru pulang, dan banyaknya kendaraan proyek yang sedang bertebaran di Denpasar.



Kuputuskan mengiringi ibu Suastuti yang mengendarai mobil KIA Picanto ber pelat DK 1422 KK ini. Aku mengendarai motor bututku. Mengikuti gerak laju mobilnya, sambil memanjatkan doa, semoga tidak terjadi sesuatu apa pun yg membahayakan sepanjang perjalanan. Perlahan kami beriringan menyusuri jalan Denpasar - Nusa Dua, hingga tiba di dekat kampus MM UNUD tersebut, sebelum berbelok menuju ke arah rumahku. Mampir sejenak untuk melakukan pembayaran modem yang kugunakan sebagai akses internet di salah satu anjungan tunai mandiri, dan bergegas pulang ke rumah....... Hum swit hum menanti dengan segudang rencana.



Betapa........
Cobaan terkadang mendera bertubi, datang silih berganti, menguji kesabaran dan kemampuan dalam mengatasi ini semua..... Dari pak Putu Agus Suryawan, staf keuangan yang sedang berada dalam ketegangan tingkat tinggi karena  pemeriksaan BPK yang hadir di kampus kami semenjak kemarin, Rabu 27 Februari 2013. Sementara kedua anaknya dalam kondisi sakit. "Panake mekejang sekarat, ane I tipes dan gejala DB, anak II batuk, pilek, panas. Andika mare mesu uli rumah sakit ofname 4 hari di rumah sakit puri rahaja sakit DB", Tuturnya dalam bahasa Bali.

Aku juga teringat sahabat karib yang bersama sedang menempuh pendidikan lanjutan di program pascasarjana S3, program doktoral, di Universitas Udayana. Ibu Putu Parniasih. Bersama 23 orang lainnya lagi, dari beragam seantero nusantara, kami se angkatan tahun 2009 menghabiskan waktu bertahun di program studi Kajian Budaya tersebut, hingga kini masih berjuang untuk menuntaskan pendidikan kami. Ceria dan selalu ramah, cerdas dan sepenuh semangat menjalani setiap hari-harinya, bersama suami yang dikasihinya. Siapa menyangka kini dia hanya mampu terbaring lemah di ranjang, tidak bisa bangun duduk berlama lebih dari 15 menit. Disertasi terhambat, dan hanya bisa melakukan banyak hal di tempat tidur......

 Kuliah dan kerja, Sahabat dan keluarga, Emosi dan logika, Egois dan cinta, Hasrat dan hampa, Kebutuhan dan keinginan, setiap orang memiliki kisah hidupnya dan jejak langkah yang harus dilalui dalam kehidupan ini.
Aku jadi teringat pepatah yang mengatakan..... Kita tidak bisa memuaskan setiap orang, tidak bisa mendapatkan cinta setiap orang. Kita hanya bisa belajar mencintai setiap orang, dalam situasi dan kondisi yang bagaimana pun jua. Inilah hidup dan kehidupan, dengan segala ragam pernak pernik yang ada di dunia ini. Inilah kehidupan itu sendiri, sahabatku.......... Swaha.....