Senin, 08 Mei 2017

Semua karena Cinta.....


Anak-anak yang dididik dalam keluarga yang penuh kesantunan, etika tata krama, 
sikap kesederhanaan, akan tumbuh menjadi anak-anak yang tangguh, 
disenangi, dan disegani banyak orang....
 
Mereka tahu aturan makan table manner di restoran mewah, 
Tapi tidak canggung makan di warung kaki lima, bahkan emper jalanan....
 
Mereka sanggup beli barang-barang mewah, 
Tapi tahu mana yang keinginan dan mana yang kebutuhan.....
 
Mereka biasa pergi naik pesawat antar kota, 
Tapi santai saja saat harus naik angkot kemana-mana.....
 
Mereka berbicara formal saat bertemu orang berpendidikan, 
Tapi mampu berbicara santai saat bertemu orang jalanan....
 
Mereka berbicara visioner saat bertemu rekan kerja, 
Tapi mampu bercanda lepas bertemu teman sekolah atau sepermainan.....
 
Mereka tidak norak saat bertemu orang kaya, 
Tapi juga tidak merendahkan orang yang lebih miskin darinya....
 
Mereka mampu membeli barang-barang bergengsi, 
Tapi sadar kalau yang membuat dirinya bergengsi adalah kualitas, 
kapasitas diri, bukan dari barang yang dikenakan....
 
Mereka punya, Tapi tidak teriak kemana-mana.... 
Kerendahan hati yang membuat orang lain menghargai dan menghormati dirinya.....

Kamis, 04 Mei 2017

Purworejo dan Bromo, kali ini.....




Seiring bertambah nya usia,
kau akan temukan bahwa kau mempunyai dua tangan,
satu tangan untuk menolong dirimu sendiri,
dan satu untuk menolong orang lain.

Untuk mendapatkan bibir yang menawan,
ucapkanlah kata-kata kebaikan

Untuk mendapatkan badan yang langsing,
berbagilah makananmu dengan mereka yang kelaparan.

Untuk mendapatkan kepercayaan diri,
berjalanlah dengan ilmu pengetahuan,
kau tak akan pernah berjalan sendirian.
(Audrey Heburn)

Rencana perjalanan kali ini adalah menuju Desa Purworejo yang terletak di Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Propinsi Jawa Timur. Kecamatan Donomulyo terdiri dari desa Donomulyo, Banjarejo, Kedungsalam, Purworejo, Sumberoto, Tempursari, Tlogosari, Tulungsari, Purwodadi. Kabupaten Malang terkenal dengan slogannya, Mandiri, Agamis, Demokratis, Produktif, Maju, Aman, Tertib dan Berdaya Saing. Sebagian besar penduduk desa merupakan petani musiman (petani padi, tebu, jagung, kelapa, ketela pohon, kedelai). Sebagian diataranya menjadi pegawai Negeri, dan pedagang. Ada pula yang menjadi TKI ke Luar Negeri.

Di desa Purworejo, Kecamatan Donomulyo, terdapat Gua Maria Sendang Purwaningsih. Gua Maria Sendang Purwaningsih merupakan salah satu tempat tujuan para peziarah khususnya umat Katolik di daerah Malang dan sekitarnya. Untuk mencapai tempat peziarahan ini dari Kota Malang bisa menuju arah Kepanjen, lalu lurus ke arah selatan melewati Bendungan Sengguruh ke kanan arah Pagak, lalu menuju Sumbermanjing Kulon, di perempatan Sumbermanjing belok kanan terus menuju ke Donomulyo. Sebelum sampai ke Gereja Katolik Paroki Ratu Damai Purworejo, berbelok ke kanan di mana Gua Maria Sendang Purwaningsih berada.

Berbeda dengan Gua Maria yang sudah dikenal luas seperti Puhsarang di Kediri dan Sendangsono di Kulonprogo, Gua Maria Sendang Purwaningsih terletak di antara rimbunnya pepohonan lebat dan bebatuan yang berada sejauh sekitar satu kilometer dari jalan, sehingga terkesan tersembunyi dan sering digunakan untuk semadi atau menenangkan diri. Namun pada tempat ini terdapat palerepan atau aula untuk bermalam.

Namun kali ini aku akan mengunjungi umat Hindu yang berada di Purworejo, Si Mbah Ndoyo. Semoga niat baik, tulus dan suci, mendapatkan jalan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sehingga umat bisa dengan serius bersembahyang, menguatkan jati diri, mengembangkan kesucian pikiran, perkataan dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari, juga menjaga harmoni dengan berbagai pihak di sekelilingnya, sehingga mereka bisa menjalin kerjasama yang baik, kebijakan yang semakin berkembang, dan tuntunan positif bagi anak cucu mereka kelak pula….

Pura Poten di Bromo
Sebagai pemeluk agama Hindu Suku Tengger tidak seperti pemeluk agama Hindu pada umumnya, memiliki candi-candi sebagai tempat peribadatan, namun bila melakukan peribadatan bertempat di punden, danyang dan poten. 

Poten merupakan sebidang lahan di lautan pasir sebagai tempat berlangsungnya upacara Kasada. Sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat Tengger yang beragama Hindu, poten terdiri dari beberapa bangunan yang ditata dalam suatu susunan komposisi di pekarangan yang dibagi menjadi tiga Mandala, yaitu : Mandala Utama, Mandala Madya, dan Mandala Nista.

Yadnya Kasada. Pada malam ke-14 Bulan Kasada Masyarakat Tengger penganut Agama Hindu (Budha Mahayana menurut Parisada Hindu Jawa Timur) berbondong-bondong menuju puncak Gunung Bromo, dengan membawa ongkek yang berisi sesaji dari berbagai hasil pertanian, ternak dan sebagainya, lalu dilemparkan ke kawah Gunung Bromo sebagai sesaji kepada Dewa Bromo yang dipercayainya bersemayam di Gunung Bromo. Upacara korban ini memohon agar masyarakat Tengger mendapatkan berkah dan diberi keselamatan oleh Yang Maha Kuasa.

Setelah bertahun tidak pernah ku kunjungi, kali ini sungguh kebesaran Tuhan, aku diberi kesempatan menghadap, bersimpuh di ujung jemari Beliau. Dahulu, pernah ku kunjungi Pura Poten, bersama rombongan dari Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, termasuk pula Ibu Endang Sri Widjiati. Apa persiapan ku?? Ah, hanya tubuh ini, bersiap untuk sebuah perjalanan panjang lagi, semoga akan selalu ada kesempatan kesempatan lain lagi datang menghampiri, ke berbagai Rumah Suci Tuhan…… meski kubawa selalu Rumah Suci Tuhan, di sini, dalam hatiku, di dalam tubuhku…..

Sumber :
Wikipedia
http://www.babadbali.com/pura/plan/poten-bromo.htm

Rabu, 26 April 2017

I Gusti Putu Ngurah Budiasa, A.Par., MA., CHA.






Terlahir tanggal 8 April 1970, di Desa Tista, Buleleng. Bapak kandung yang seorang guru, I Gusti Made Putra, dan ibu seorang pedagang, Desak Putu Putrini, membuat beliau memahami dunia pendidikan dan pemasaran semenjak usia dini. Beliau menamatkan pendidikan SMAN I Singaraja Jurusan Fisika, dan sempat menjabat sebagai ketua OSIS, hingga tamat pada tahun 1989. Hal ini semua membuat bapak Ngurah ditempa menjadi seorang pemimpin bijak, pakar dunia pemasaran, dan ahli pendidikan yang dihormati, disegani dan disayangi banyak orang.

Jabatan terakhir sebagai  Pembina IV A, Lektor Kepala, beliau menjabat Ketua Program Studi Administrasi Perhotelan per 1 Maret 2017, setelah sebelumnya memegang jabatan sebagai Ketua Jurusan Hospitality pada Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua. Kecintaan beliau pada dunia pendidikan dan pemasaran membentuk kepribadian yang tangguh dan disiplin, juga dekat pada berbagai kalangan, baik mahasiswa, rekan kerja, dan keluarga besarnya sendiri. Hal ini terlihat dari begitu banyak orang yang merasa kehilangan dengan kepergian sosok teladan dan pemimpin sejati. Berbondong-bondong mahasiswa, mantan murid, orang yang mengenal, bahkan hanya mendengar tentang beliau, mengucapkan ber bela sungkawa dengan beragam cara, memberi ucapan duka, dan ikut menghantar hingga saat prosesi terakhirnya. Beliau dikenal sebagai sosok yang selalu menuntaskan setiap beban tugas padanya sehingga kami selalu segan jika mengabaikan pekerjaan atau mengerjakan tugas tidak dengan sepenuh hati.

Menikah pada tanggal 5 April 1995 dengan Ni Ketut Nonik Artini yang terlahir tanggal 25 Agustus 1973, keluarga ini dianugerahi dua orang putra dan seorang putri, I Gusti Ayu Putu Diah Anyani, lahir tanggal 21 September 1995, I Gusti Made Ngurah Jaya Pakerti, lahir tanggal 14 April 2001, dan I Gusti Nyoman Ngurah Hanugerah Pakerti, lahir tanggal 9 Mei 2008 . Beliau menamatkan pendidikan tanggal 14 Desember 1998 di Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata. Pada bulan September 1997 sampai 2 Oktober 1998, mengikuti program pendidikan master / S2, di bidang Kajian Pariwisata dan Industri Jasa, di Bournemouth University, UK.

Beliau juga memperoleh penghargaan Satya Lancana Karya Satya X tahun 2002, dan Satya Lancana Karya Satya XX tahun 2012. Tercatat mengikuti beragam diklat baik di Bali, di dalam negeri hingga ke luar negeri, manajemen training di Australia tahun 1996, ASEAN Expert di Pakistan pada tahun 2007, Short Course di Peking University tahun 2012, Seminar International di Malaysia tahun 2013, Seminar International di Australia tahun 2013, Seminar International di Hongkong tahun 2016, dan seharusnya, awal bulan Mei 2017 ini berangkat bersama Ketua STP Nusa Dua Bali untuk mengikuti seminar di Luar Negeri, dan menghandle International Seminar WCBM di STP Nusa Dua Bali. Beliau termasuk aktif melakukan penelitian dan menulis beragam karya, hingga berada pada berbagai organisasi, seperti menduduki posisi sebagai anggota Litbang pada organisasi PHRI, pengurus IOM STP Nusa Dua Bali. Sempat pula memegang jabatan sebagai Ketua Yayasan Werdhi Wisata yang mengelola Sekolah Ekstensi, dan sebagai GM Langon Resort & Spa, hotel praktek di STP Nusa Dua.

Orang yang tidak memahami dan mengenal beliau secara dekat, mungkin akan mengira kematian beliau adalah bunuh diri. Bahkan pada koran terbitan lokal, sehari setelah beliau meninggal, mengumumkan penyebab kematiannya adalah karena depresi, dan epilepsi, tenggelam dan meninggal saat sedang berenang di salah satu pantai di kawasan Nusa Dua. Namun kami, rekan-rekan se kerja, sahabat yang juga tinggal di perumahan dinas, keluarganya, akan dengan tegas membantah hal tersebut.

Sudah semenjak seminggu terakhir, beberapa gejala terlihat jelas dan saling berkaitan satu sama lain. Pada hari Senin, 17 April 2017. Beliau sudah dalam kondisi tidak enak badan. Namun masih memimpin rapat mengenai persiapan APM bagi mahasiswa, melakukan bimbingan dengan beberapa mahasiswa, ke Denpasar, kampus Pasca Sarjana melakukan bimbingan dengan Promotor Disertasi beliau, bahkan kembali ke STP Nusa Dua dan tercatat masih mengajar hingga malam hari. Semenjak hari Senin ini, pak Ngurah bahkan sudah sering memperlihatkan gejala linglung, seperti orang bingung dan tidak fokus. Mulai dari keliru jam yang dijanjikan untuk bimbingan dengan para mahasiswa. Biasanya, beliau selalu membawa catatan kecil, bahkan ingat setiap detil, termasuk janji bertemu dengan mahasiswa, hingga hitungan menit dan detik. Beliau tidak akan mau melayani diluar jam yang sudah ditentukan. Beliau bahkan keliru menyebutkan bapak Gusde sebagai Ibu Sulis, keliru mengirim pesan pada ibu Mirah yang seharusnya ditujukan pada ibu Putu. Ini semua bukanlah pak Ngurah yang kami kenal selama ini......

Hari Selasa pagi, 18 April 2017, beliau masuk bekerja dengan mengenakan jaket. Sempat menyampaikan, bahwa sudah diminta dokter untuk beristirahat karena gejala DB dan trombosit turun. Beliau memimpin rapat dosen prodi ADH mengenai rencana kerja APM tahun 2018, PKN mahasiswa periode Juli - Desember 2017 mengenai manajemen training, dan rencana pertemuan terkait penandatangan MOU dengan Padma Resort pada hari Jum'at, 21 April 2017. Selesai rapat dosen prodi, pukul 11 siang, beliau pamit untuk beristirahat dengan wajah terlihat sangat pucat dan sempoyongan. Pada hari Rabu, 19 April, beliau tidak masuk kerja. Pada hari Kamis, 20 April 2017, beliau masuk bekerja, dan kami kaget, karena seharusnya beliau beristirahat.

Pagi hari itu, Kamis, 20 April 2017, kami sempat berbincang tentang kematian. Kuingatkan, bahwa berita yang beredar menjelaskan Demam Berdarah yang mewabah akhir-akhir ini bukan lagi karena gigitan nyamuk, namun karena adanya virus yang menyebar sebagai silent killer. Meski kelihatannya kondisi tubuh sudah membaik, demam menurun, namun tetap harus diwaspadai trombosit yang bisa drop mendadak, mengakibatkan terjadinya disorientasi, demam dan panas yang memuncak, mengigau tinggi dan melakukan hal tidak terduga. Kusampaikan bahwa aku sendiri pernah mengalami hal begini, anak-anak yang mengigau dan meracau dengan panas demam tinggi akibat gejala DB, bahkan hingga mereke bangun mendadak dari tidur dan berjalan tanpa disadari. Kusampaikan pula bahwa hari Selasa yang baru lalu aku melayat anak seorang sahabat yang meninggal akibat DB, padahal sudah sembuh dari demam tinggi. Kuingatkan pula kasus yang dialami almarhum ibu Utami, sahabat kami, akibat meremehkan panas demam karena DB, akibatnya pembuluh darah pecah di dalam tubuh, dan terlambat penanganan.

Rekan-rekan satu ruangan sudah meminta beliau untuk lebih memilih beristirahat dan fokus pada kesehatannya. Namun beliau bahkan masih menuntaskan beberapa pertemuan, rapat mulai pukul 14.00 dengan seluruh mahasiswa semester 6 prodi ADH mengenai rencana PKN dengan manajemen training periode Juli - Desember 2017, PKL ke Bandung, 18 s/d 20 Mei 2017, program kerja APM 2018 mengenai Seminar Internasional, Lounge Bar, UHSA Sustainable Program, dan Pengelolaan Langon Resort Hotel. Bahkan setelah nya, beliau masih mengajar hingga kelas sore tuntas bersama ibu Praba.

Hari Jum'at, 21 April 2017. Aku bertugas mengikuti Bimtek Kementerian Pariwisata mengenai Manajemen Perubahan di Artotel Sanur sehingga tidak hadir di Nusa Dua. Pak Ngurah bersama pimpinan STP Nusa Dua Bali dan dosen prodi ADH mengikuti penandatanganan MOU antara pihak hotel dihadiri oleh seluruh mahasiswa semester 6. Acara yang dimulai pukul 9.00 pagi, ternyata dihadiri oleh sedikit mahasiswa. Beberapa dosen dan staf prodi menyaksikan, tumben pak Ngurah panik dan marah-marah, mondar mandir di bagian depan gedung Widyatula dimana acara dilangsungkan. "Jika begini ini, saya bisa kena serangan jantung nih. Mahasiswa belum hadir semua"...... Demikian komentar beliau yang diingat pak Nyoman Sukarma. Siang hari, bapak Ngurah berpamitan untuk rapat di ITDC, namun menurut pak Nyoman Sukarma, pak Ngurah pada sore hari kembali dan melanjutkan bekerja di kampus.

Hari Sabtu, 22 April 2017, rombongan Darma Wanita mengadakan perjalanan Tirta Yatra, ke Pura Rambut Siwi, Pulau Menjangan, Pura Pulaki, sampai hari Minggu, 23 April 2017. Berangkat dari Garase mobil. Termasuk dalam rombongan kami, ada ibu Ngurah Budiasa. Beliau menjelaskan bahwa sudah semenjak seminggu ini, sekeluarga dalam kondisi sakit. Berawal dari ibu Ngurah, anak-anak, dan kini bapak sedang sakit. Namun oleh pak Ngurah, ibu diijinkan untuk berangkat, bahkan, dipaksa, dan menjelaskan bahwa beliau dan anak-anak akan baik-baik saja. Ibu Ngurah mengenakan jaket, dan menjelaskan, belum pulih benar dari sakit panas demam, tenggorokan yang seperti terbakar, batuk kering, namun obat sudah habis, tapi batuk tidak juga hilang.



Bahkan, Sabtu, 22 April, saat sore hari kami di Penginapan Taman Sari, ibu Ngurah kulihat sudah terbaring dengan kondisi membungkus diri. Namun malam hari, hingga larut malam, ibu Ngurah masih mengikuti rapat Darma Wanita membahas hasil kegiatan selama ini, rencana program kerja ke depannya, bersama para ibu Darma Wanita lain, termasuk pembina, Ketua STP Nusa Dua Bali, Bapak Dewa Gede Ngurah Byomantara.

Pagi hari, Minggu 23 April 2017. Ibu Ngurah terlihat sudah membaik, ikut yoga di pagi hari yang dipimpin ibu Dayu Puspaadi, kami juga berjalan menyusuri pantai, bergembira bersama, sebelum kembali bergerak pulang menuju Denpasar. Saat masih di Pasar Senggol Bajra pukul 13.30 menikmati makan siang di warung kaki lima, ibu Ngurah terlihat gelisah karena masih lama lagi perjalanan menuju Nusa Dua. Berulang kali beliau berupaya menghubungi pak Ngurah dan anak-anaknya di Nusa Dua.

Pagi hari, Senin 24 April 2017. Pukul 7.00 pagi, banyak informasi dan pesan masuk di hape ku. Namun kutuntaskan urusan rumah tangga, mencuci dan persiapan memasak. Pukul 7.30 pagi, pak Nyoman Sukarma menelpon..... "Bu, Pak Ngurah menghilang. Bisa bantu informasi, dimana beliau, bu?".... Ah. Aku langsung tercekat. Beliau sudah di salah satu Pura di Klungkung. "Maksud ibu???" Ujar pak Nyoman. "Sedang ngayah di Dalem Puri, pak". Namun ku wanti-wanti pak Nyoman. Kuminta tidak menyebarkan info ini. Sampai saatnya kelak, terbukti....... Aku masih tercekat, termangu. Bahkan, suamiku memandang dengan tatapan aneh, istrinya bengong dan kaku di atas kursi.

Tersadar beberapa menit kemudian, kucoba berharap masih ada setitik harapan untuk berjuang. Sambil berdoa, menghubungi manajemen untuk meminta ijin, dan termasuk ibu Ngurah kutelpon, mohon ijin untuk menyebarkan informasi melalui sosial media massa yang kupunya, maka kulakukan ini demi menemukan keberadaan pak Ngurah. Termasuk, menemukan tubuh fisik beliau.

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10209583270446363&set=a.10202113846715438.1073742607.1465952742&type=3&theater

"Mohon bantuan ibu dan bapak, para mahasiswa, dan siapa pun, yang mendengar kabar dan tahu keberadaan bapak Ngurah Budiasa, untuk segera menghubungi pihak keluarga. Sudah dilaporkan pada pihak kepolisian. Diketahui meninggalkan rumah Minggu pagi, 23 April 2017, tanpa membawa hape, dompet, identitas apa pun, dan sedang dalam keadaan sakit . Mohon sebar kan info ini, dan mohon bantuan segera...."



Beberapa gejala yang meyakinkan kami, bukan bunuh diri penyebab kematian Pak Ngurah Budiasa. Hari Sabtu, 22 April 2017, beliau ditemui beberapa alumni sedang mencukur rambut, padahal rambut masih sangat pendek. Kemudian ditemui makan di warung babgul Buleleng. Padahal beliau tidak makan babi guling. Karena hari Minggu, 23 April, beliau terjaga pukul 4.30 pagi, langsung keluar rumah. Bukanlah kebiasaan beliau. Olahraga pagi pun hanya berjalan atau berlari kecil saat hari libur di dalam kampus, mengelilingi area perumahan dinas atau lingkungan kampus. Langsung mengendarai motor di pagi gelap buta, menuju Pura Geger? Bukan tipe seorang bapak Ngurah. Seorang nelayan pada pukul 5 pagi, menyaksikan bapak berjalan menuruni area parkir Pura, ke arah pantai. Jika bunuh diri, tinggal menghampiri tebing tinggi di samping pura, dan terjun, kan? Tidak perlu berjalan menyusuri jalan setapak ke arah pantai. Hem..... Penduduk lain menemukan sebuah motor vario, menghalangi jalan masuk ke area Pura, dengan kunci motor masih tercantel di motornya. Penduduk ini memindahkan motor dan memarkir di tempat yang lebih aman, agar tidak menghalangi, dan bisa diambil oleh pemilik sebenarnya. Beliau dalam kondisi sakit, demam dan linglung. Hal ini bisa membuat seseorang beraktivitas di luar kendali, terjaga dari tidur, kepupungan, berjalan. Pak Ngurah bukan seorang olahragawan, beliau bahkan tidak pandai berenang. dan ini.... berenang di pagi buta??



Bahkan, hari Selasa, 25 April 2017, Pak Sabudi menemukan, printer di meja kerja pak Ngurah masih dalam kondisi hidup. Ini bukanlah kebiasaan pak Ngurah. Beliau tipe orang yang disiplin, selalu mematikan printer, dan menggulung kabel printer, memasukkan kedalam bagian printer. Berarti, hari Sabtu, 22 April, pak Ngurah sempat lembur bekerja. Pak Sabudi sempat curiga saat pelaksanaan APM mahasiswa ADH C semester 8 pada tanggal 8 April 2017, pak Ngurah makan banyak, di luar porsi kebiasaan beliau, yang biasanya hanya makan sedikit nasi beserta lauknya. Seperti bukan pak Ngurah yang kami kenal selama ini.

Apa pun itu..... kematian hanyalah suatu proses dalam kehidupan. Amor ring acintya, bapak I Gusti Putu Ngurah Budiasa, sahabat kami, pembimbing dan motivator kami, guru yang baik dalam kehidupan ini. Awasi kami selalu dari atas sana ya. Semoga seluruh anggota keluarga tabah, semoga ibu Ngurah bisa kuat dan tangguh menjadi kepala keluarga, semoga kami semua bisa meniru teladanmu, hangat dan ramah pada mahasiswa, disiplin dan tangguh dalam bekerja, dan selalu bijak di setiap jejak langkah kami......

Mejalan ya mejalan, bapak. Om Swargantu, Moksantu, Sunyantu. Om Ksama Sampurna ya Nama Swaha.......

Minggu, 26 Maret 2017

Trance : Jalan Spiritual atau Sakit Jiwa ??




Ada kejadian yang kadang terjadi tanpa dapat dipahami logika..... Seseorang dianggap kemasukan roh halus, berbicara, bersikap, seperti bukan dirinya sendiri. Namun inilah fenomena budaya, dimana manusia dengan segala tradisi, ritual, agama, spiritual, simbol, lambang, berbagai bentuk, fungsi dan makna berbalur jadi satu.... 
 
Trance : kelinggihan, kerawuhan, atau kesurupan ? @ Petitenget kala Melasti, Saniscara Wage Julungwangi, Sabtu 25 Maret 2017 .
 
 
Ada yang menggambarkan, trance merupakan sebuah peristiwa dimana roh yang berasal dari dunia lain, leluhur atau dewa, datang hadir di tengah-tengah sekelompok orang, dan menyampaikan pesan. Ada pendapat lain yang menjelaskan bahwa trance sebenarnya merupakan suatu situasi yang dialami oleh orang yang mengalami waham atau delusi, maka ini termasuk sakit jiwa.
 
 
Namun, bagiku sendiri. apa pun itu, kapanpun terjadinya, siapa pun yang sedang mengalaminya, trance bisa terjadi dimana pun dan kapanpun. Ini merupakan urusan pribadi orang tersebut, dan melibatkan orang-orang yang ada di sekelilingnya saat itu. Dan, orang-orang yang alami trance adalah orang-orang dengan fenomena spiritual, yang sudah seharusnya memberikan manfaat spiritual pula bagi orang lain yang ada pada lingkungannya. Orang-orang pilihan, yang dipanggil oleh Tuhan, untuk menjadi teladan, menebarkan kedamaian bagi lingkungan..... Lalu, siapa saja yang bisa alami trance? Ya kita semua.... karena kita semua adalah orang-orang pilihan, yang dipanggil oleh Tuhan....
 
 

Puluhan Jempana dan ratusan Pretima di arak oleh masyarakat Hindu penyungsungnya, diiringi oleh suara gamelan Gong, Kidung suci yang dinyanyikan atau dilantunkan. Perjalanan Melasti berawal dari berbagai pura di daerah Desa Adat Kerobokan menuju Pantai Petitenget, Seminyak. 
 
Berjalan di sepanjang belasan kilometer dari Pura menuju Pantai, kemudian beragam Pretima ditempatkan bersama di Pura Desa Kerobokan, inilah indigenous wisdom, kearifan luhur yang telah diwariskan turun temurun oleh nenek moyang. Makna yang terkandung di baliknya adalah bahwa kita belajar menghargai budaya sendiri, budaya orang lain, memelihara toleransi dalam menjalin hidup bersama dengan orang lain,, menguji kesabaran lahir dan batin, menyucikan pikiran kita, menjaga sikap dan penampilan untuk senantiasa berada di jalan Tuhan. 
 
 
 
Hmmm, benar kata pepatah. Bila ingin dihargai, kita harus menghargai diri sendiri, budaya kita sendiri, dan tidak membiarkan orang lain meremehkan diri kita. Ini semua adalah jalan pilihan hidup. Kusebut ini sebagai jalan pilihan hidup. Sekecil apapun yadnya, dan, dengan segala macam cara yang kita bisa dan mampu, untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa...... 
 
Budaya hanya akan berjalan dan berkembang bila ada masyarakat penjunjung dan penyungsung budaya itu sendiri. Dan, melasti atau melis, adalah bagian dari komponen budaya. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita semua adalah bagian dari struktur atau sistematika yang berkembang di tengah masyarakat 
 
 
 
Dengan melasti masyarakat berharap dapat membersihkan diri, menyucikan beragam benda suci, memelihara kesakralan pretima dan beragam simbol atau perlambang yang disucikan oleh masyarakat. Dengan melasti masyarakat bersiap menyambut hari raya Nyepi, Tahun Baru Saka. Dengan melasti masyarakat berharap agar di tahun yang akan datang mereka akan menjadi semakin bijak dan shantih.... 
 
 
 
Cinta lah yang akan membawa kita pada Tuhan, bersimpuh berkali-kali, meski tak pernah bisa selalu sama..... hadir dalam berbagai cara, sederhana, dengan gaya kita masing-masing. Memohon agar selalu dibimbing di dalam cinta Tuhan.... Petitenget kala Melasti, Saniscara Wage Julungwangi, Sabtu 25 Maret 2017.

Melasti / Melis / Mekiyis





Melasti atau Melis, Mekiyis, merupakan rangkaian prosesi dari Upacara Tawur Kesanga. Tawur Kesanga adalah Upacara yang dilakukan umat Hindu dalam rangka menyambut Hari Raya Suci Nyepi. Dan tahun ini pergantian tahun Saka 1938 menuju 1939. Pretima maupun berbagai bentuk, simbol, lambang yang dikeramatkan atau disungsung umat Hindu dibersihkan, diletakkan dalam jempana atau tempat bagi beragam pretima, kemudian diarak menuju sungai, danau, atau pantai.

I Gusti Made Darmaweda menjelaskan bahwa Tawur Kesanga memiliki makna filosofis dimana kita membersihkan diri dari sifat ego yang melekat, membayar atau mengembalikan sifat hakiki sebagaimana mestinya seorang umat, terlepas dari keserakahan. Dan Tawur Kesanga berlangsung pada Sasih Kesanga dari 12 sasih yang ada.

Masing-masing Desa Adat memiliki awig-awig, perarem, atau peraturan yang ditetapkan berdasar kebiasaan semenjak leluhur maupun kebijakan yang ditetapkan masyarakat di daerah tersebut. Dan Desa Adat Kerobokan, Kuta, melaksakan Melasti terkait Upacara Tawur Kesanga tahun ini pada hari Sabtu, Saniscara Wage Kliwon Julungwangi, 25 Maret 2017. Melasti diadakan di pantai Petitenget, Seminyak.

Bendesa Adat Kerobokan, Anak Agung Putu Sutarja, menjelaskan bahwa terkait Melasti, Desa Adat Kerobokan tidak dapat terpisahkan dari Desa Adat Padang Sambian dan Desa Adat Padang Luwih. Melasti ketiga Desa Adat tersebut selalu dilaksanakan pada saat yang bersamaan. Kebijakan ini sudah berlangsung semenjak nenek moyang, dan merupakan kearifan lokal (indigenous wisdom) yang sekaligus juga bermakna ikatan historis bahwa kita tidak akan pernah berdiri sendiri dalam menjalani kehidupan ini.



Prosesi Melasti bagi ketiga Desa Adat ini diawali dengan kegiatan melakukan Pesamuan Hidangan, atau sesaji bagi para Dewa, Leluhur, Tuhan. Dimana Desa Adat Kerobokan bertugas mempersiapkan dan membuat sarana upakara Pesamuan, Desa Adat Padang Luwih bertugas membawa hewan ternak seperti ayam dan itik, anak babi, dan Desa Adat Padang Sambian bertugas mempersiapkan, membuat dan mengusung banten sesajian loloan. http://koranjuri.com/desa-adat-kerobokan-gelar-pelaksanaan-melasti-di-pantai-petitenget/ . Dari ketiga Desa Adat tersebut, Desa Adat Kerobokan memiliki jumlah pura terbanyak, yakni 400 pura.

I Gusti Made Darmaweda juga menguraikan bahwa di dalam kehidupan, manusia selalu mengambil, menyerap sumber-sumber alam untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Perbuatan mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dikenal sebagai KARMA WASANA https://www.facebook.com/darmaweda .

Perbuatan MENGAMBIL, perlu dimbangi dengan perbuatan MEMBERI, yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas. Mengambil dan memberi perlu selalu dilakukan, agar KARMA WASANA agar hidup menjadi harmonis atau seimbang. Hal ini berarti TAWUR KESANGA bermakna KESEIMBANGAN JIWA, dimana manusia membersihkan diri dan lingkungan. 


Nilai ini yang terkandung dan perlu ditanamkan serta dikembangkan dalam merayakan pergantian Tahun Saka, sehingga kita memperoleh nilai kesadaran dan toleransi, yang selalu dibutuhkan umat manusia di dunia ini, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. Karena dengan menghargai leluhur, melestarikan ajaran leluhur dan mengembangkan dalam hidup, kita menghargai diri sendiri, juga menghargai orang lain yang ada di sekitar kita. Hal ini yang mampu membuat kita terhindar dari konflik, dan dijadikan pedoman dalam mengantisipasi permasalahan yang timbul.

Sebelum berlakunya Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2001, istilah yang digunakan adalah istilah “desa adat” sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 06 Tahun 1986. Pasal 1 Perda 06 Tahun 1986 menyatakan bahwa:

Desa adat adalah kesatuan masyarakat hukum adat di Daerah Tingkat I Propinsi Bali yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata pergaulan hidup masyarakat umat Hindu secara turun temurun dalam ikatan Kahyangan Tiga yang mempunya wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri.


Secara formal, istilah desa pakraman pertama kali digunakan dalam Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2001 tentang Desa Pakraman yang ditetapkan pada tanggal 21 Maret 2001. Dalam Pasal 1 angka 4 disebutkan pengertian desa pakraman sebagai berikut:

Desa Pakraman adalah kesatuan masyarakat hukum adat di Propinsi Bali yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu secara turun temurun dalam ikatan Kahyangan Tiga atau Kahyangan Desa yang mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri.

Sumber Referensi :



R. Soepomo, 2001, Asas-asas dan Susunan Hukum Adat. Pradnya Paramita., Jakarta.

Van Dijk, 1979, Pengantar Hukum Adat Indonesia, Penerbit Sumur Bandung, hal. 18.

I Ketut Sudantra, 2001, Pola Penyelesaian Persoalan-persoalan Hukum Hukum Oleh Desa Adat”. Dinamika Kebudayaan III. Lembaga Penelitian Universitas Udayana, Denpasar.

Tim Peneliti Pusat Studi Hukum Adat Unud., op.cit., hal. 24.

I Ketut Sudantra, 1999, ”Formalisasi Forum Komunkasi Antar Desa Adat dalam Kontek Penyelesaian Persoalan-persoalan Hukum yang Dihadapi Desa Adat”, Kertha Patrika No.72 Th.XXIV. Denpasar: Fakultas Hukum Universitas Udayana.

Tjok Istri Putra Astiti, 2005, Pemberdayaan Awig-awig Menuju Ajeg Bali, Lembaga Dokumentasi dan Publikasi Fakultas Hukum Universitas Udayana.