Sabtu, 08 Juni 2019

Pameran Perupa Enam Wanita, Kartini, Kolaborasi, Myth & Women, Jum'at, 26 April 2019




Pameran Perupa Enam Wanita, Kartini, Kolaborasi, Myth & Women

Apa jadinya bila enam perupa wanita menghasilkan sederet karya, lalu menyajikan nya dengan sepenuh cinta, bagi para penikmat seni dan budaya, di Monkey Forest Gallery Ubud ?





Gaung Pesta Hari Lahirnya Kartini belumlah usai, tanggal 21 April 2019 bangsa Indonesia menyatakan telah 140 tahun berlalu semenjak Kartini menjadi tonggak lahirnya emansipasi kaum wanita Indonesia dalam upaya berkiprah bagi Negara.

Dan, bagai tak hendak surut dari upaya ikut berperan serta pula, enam perupa wanita menyajikan beragam karya nya. “Kami hadir dengan membawa beragam hasil seni, memperlihatkan eksistensi di bidang seni, sebagai seniman wanita, yang turut andil dalam upaya pengembangan jati diri kaum wanita, juga tenaga penggerak bagi banyak wanita lain untuk terus berkarya”, ujar Satya Cipta mewakili rekan-rekan perupa wanita nya.


Mengapa memilih Monkey Forest Gallery ? Ubud adalah salah satu destinasi wisata dunia. Mereka ingin memperlihatkan bahwa wanita perupa bisa tampil ber pameran disini dengan kualitas karya terbaik pula. Ini menjadi ajang pembuktian jati diri masuk dalam kancah dunia.

Ada Satya Cipta, Vony Dewi, Jero Candra KK, Suryani, Mona Palma, hingga IGA Ratih Aptiwidyari. “Kami dari berbagai penjuru nusantara, dengan beragam profesi, tingkat pengalaman serta pendidikan yang dimiliki, ingin memperlihatkan bahwa wanita juga bisa ber kolaborasi, menjalin diskusi dan bersatu menyajikan hasil karya di sini, untuk dinikmati, diamati serta dikritisi”, ujar Mona Palma dengan bersemangat mengatakan begitu antusias nya mengikuti pameran kali ini dengan membawa berbagai hasil karyanya.


Di kuratori oleh Ketut Budiana dan dibuka oleh JMK Pande Wayan Suteja Neka pada Hari Jum’at, 26 April 2019 di Monkey Forest Gallery, Pameran “Myth & Women” oleh enam perupa wanita  berlangsung hingga 26 Mei 2019. “Saya ingin memperlihatkan bahwa banyak kearifan lokal yang tumbuh sejak dahulu kala dari jaman nenek moyang, dan tetap relevan dengan konteks kekinian bagi dinamika masyarakat dalam konteks dunia global”, ujar IGA Ratih Aptiwidyari yang kemudian memberikan penjelasan tentang beberapa hasil karyanya.





Salah satu pengunjung, Scott Bauer, mengakui bahwa kini peranan kaum wanita, termasuk perupa wanita, sungguh hebat. Dia juga hadir untuk menikmati dan mengakui kematangan karya perupa wanita pada pameran kali ini. Dia juga mengakui bahwa kolaborasi merupakan suatu hal yang mutlak dalam mencapai hasil maksimal, bagi siapapun, untuk mereka yang bergerak di dalam dunia pariwisata, seni dan budaya, memperluas wawasan pergaulan, saling bertukar informasi dan memahami perkembangan dunia teknologi yang terbarukan, melebarkan jaringan perekonomian, dan berbagai hal lainnya....








Dan, lihatlah bagaimana riwayat Pedanda Baka terwujud dalam karya feminis di tangan penciptanya, betapa, persepsi perupa Suryani menguraikan sosok ibu dalam hasil karyanya, Mona Palma menggambarkan lekuk artistik disetiap hasil karyanya, Satya Cipta menampilkan guratan seni indah dalam nuansa dominan hitam dan putih, Jero Candra yang menyajikan sosok keluguan di setiap guratan lukisan pemandangan yang dihasilkan. Para perupa wanita ini memiliki kelas nya masing-masing. Mereka sama namun tak serupa, mereka serupa namun tidak lah sama. Namun satu yang nyata, mereka mampu menyajikan hasil karya yang indah untuk dinikmati bersama…..



Swadarma, by Ketut Budiana



To do swadharma (duties) means to do it without expecting anything in return, because the return will come by itself following the karma (Ketut Budiana)

To do, to Work, and to Search for something is a noble and valuable life….. Never waste your life.

Happiness is something everybody is searching for. The live in this world is an opportunity to be happy. To live means to move, to move means to work. That’s the meaning of doing the karma. Happiness is determined by one’s own karma in doing their swadharma (The proffesion chosen by oneself).

I have been given this opportunity to live on earth to choose art as my way of life in my quest for eternal happiness as my life goal, namely The Creator, through a very long life struggle against all obstacles, temptations, ups and downs, and various responsibilities.

That’s why I have been striving in a quest for the real life or freedom of life. It’s impossible to avoid two opposite things we call it “Rwa Bhinneda”, day – night, light – dark, happy – sad, male – female, heaven – earth, etc. The two opposite things have been my reflection to do my art, and I try to find the point where the two meet as a creative force to be put into various media like canvas, paper, wood or stone in paintings, sculptures, masks, or anything else using various techniques.

It is in my work that I find new things which always become my reflection and this makes me go deeper and deeper in the process of creation. Sometimes, what come up in my work are scary or weird figures.

This is the flow of energies which come from the inside in a synergy with the ones which come from the outside, microcosm and macrocosm. When such a thing comes up, I will follow, observe, feel, and cultivate them to be visualized in an artwork. This is an internal battle for peace, the real compassion.

This is just a short story of what I have done in sincerity for my swadarma.
Ketut Budiana, April 2019

Yayasan Cahaya Mutiara Hati dan Disabilitas





Yayasan Cahaya Mutiara Hati terletak di Ubud. Yayasan ini menempati sebuah bangunan gedung bekas SD di atas lahan milik Banjar Kawan, Desa Tampak Siring, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Gianyar. Gedung ini disewa sebagai gudang oleh seorang warga Negara asing yang berbaik hati mengijinkan mereka menumpang. Sebagai gedung bekas sekolah yang sudah using, terlihat beberapa bagian gedung yang mulai melapuk, atap bocor, sehingga perlu direnovasi. 


Ku kenal mereka saat bergabung bersama di area Car Free Day di Renon, saat membantu berjualan tiket Ubud Run yang mereka selenggarakan setahun lalu. Mereka menggalang dana untuk perbaikan beberapa bagian gedung.


Yayasan ini merupakan tempat bernaung bagi kaum disabilitas. Visi dan misi mereka adalah  Ketua nya bernama Ketut Budiarsa. Yayasan ini berdiri pada tanggal 27 Agustus tahun 2014. Sayang harapan mereka untuk melakukan renovasi bagian gedung yang rusak masih terkendala beberapa hal.
Pada hari Kamis, Juni 2019, aku berkunjung ke Ubud. Aku  melakukan serangkaian diskusi terkait penyusunan buku tentang seni dan budaya, khususnya salah satu tokoh seni, Jejeneng Mpu Keris Pande Wayan Suteja Neka, di museum beliau. Kutemui para staf beliau, Jangkung Wijanarko dan Made Sukadana, atau dikenal dengan nama keren, Boy, di Museum Neka. Ini merupakan konfirmasi ulang sebelum kupastikan hasil karya kami laik disebarluaskan bagi masyarakat pencinta seni. Berikutnya, aku mampir di Usada Bali, Jalan Sugriwa, kulihat seperangkat peralatan makan dari bambu (sedotan minuman) dan sabut kelapa (sendok, garpu) yang dibalut kain blacu. Penerima tamu yang ada disana menjelaskan bahwa peralatan tersebut dibuat oleh remaja disabilitas binaan Yayasan Cahaya Mutiara Hati. Aku teringat para sahabat yang kutemui tahun lalu. Kucoba sekalian mampir mengunjungi mereka. Kususuri jalan pedesaan, melintasi sawah, perempuan yan sedang “ngedig” batangan padi, rombongan wisatawan yang juga bersepeda dijalan yang kulalui, hingga tiba di Tampak Siring.


Kulihat mereka sedang duduk bersama, ada yang sedang membuat porosan untuk bahan pelengkap membuat banten, ada yang sedang merangkai kalung serta gelang, ada juga yang sedang masak. Mereka menawariku untuk ikut bergabung bersama, makan rame-rame. Kulihat jam menunjukkan pukul dua belas, tepat tengah hari, aku ikut mengambil piring, membuka sokasi tempat menyimpan nasi dari anyaman bambu, menyendok sayur kacang merah dan kacang panjang dari panci, telur mata sapi yang baru mereka goreng, tempe manis iris tipis, lalu duduk bersama mereka menikmati makan siang sepiring penuh menggunung…..


Tidak lama kemudian, tiba rombongan Pak Andre bersama keluarga dan Natasha Skin Care Denpasar. Mereka membawa bantuan berupa bahan sembako. Kulihat, anak-anak mereka senang menikmati situasi yang ada, kami berkeliling melihat beragam asesoris hasil kerja para disabilitas yang bernaung menjadi anggota Yayasan Cahaya Mutiara Hati, kami juga mengamati hasil kebun organic yang ada di bagian samping kiri Gedung. Terdapat beragam jenis tanaman sayuran dan buah yang sudah beberapa kali panen.




“Cahaya Mutiara Hati memiliki makna pribadi yang bersinar memberikan cahayanya, dan berguna bagaikan mutiara, memiliki hati yang teguh kukuh, tangguh, dan mulia”, ujar pak Ketut Budiarsa menjelaskan makna kata Cahaya Mutiara Hati. Program mereka meliputi pendidikan kesenian, olahraga, berkebun, menerima pesanan lukisan, juga kerajinan.





Sungguh indah kurasa hari ini…. Ku syukuri juga setiap hari yang bisa kunikmati…. Sebagai orang yang senantiasa diberi kemudahan, berlimpah rejeki dan kesehatan, tidak sepantasnya senantiasa berkeluh kesah dan hanya berdiam diri. Mereka yang merupakan kaum disabilitas masih tetap berupaya mencari cara untuk tetap berkarya, masak sih, aku harus menyerah kalah dan menyesali diri atas nasib…..