Sabtu, 24 Desember 2016

Tukad Petanu dan Air Terjun Blangsinga



Jum’at, 23 Desember 2016. Setelah menuntaskan Ujian Akhir Semester pada hari terakhir bagi mahasiswa semester lima Program Studi Administrasi Perhotelan di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, ku pikir saatnya tiba untuk refreshing sejenak...... Pulang dari sekolah, kugerakkan laju motor menuju Gianyar. Kulihat awan berarak, angin bertiup kencang, namun tak surut jejak langkah motor ku mengarah.....





 Bergerak menyusuri By Pass IB Mantra, setelah satu jam berkendara dengan motorku si Hitam Nyonya Tua, aku tiba di perempatan Pantai Saba, aku berbelok ke kiri, menuju Desa Saba. Menyusuri jalan pedesaan dengan hamparan sawah, tegalan, rumah penduduk, akhirnya tiba di Banjar Bonbiyu. Berbelok ke arah kanan, aku tiba di Pura Dalem Desa Saba. Aku terus bergerak lurus dengan motorku, kutemui Pura Prajapati, dan tiba di parkiran Air Terjun Blangsinga. Ada pak Made Slamet yang menyapa ku ramah.


 Ayu, kakak Nyoman Kayen. Mereka berdua adalah guide yang dibentuk oleh pengalaman untuk melayani tamu sebagai guide di air terjun Blangsinga. Hmmm. pendidikan dan pengalaman, sungguh bekal penting bagi masa depan mu kelak, anak2ku.....

Pak Slamet bertutur bahwa Air Terjun Blangsinga baru dibuka semenjak 8 bulan lalu. Air terjun ini terletak di aliran Tukad Petanu, yang terletak di Kabupaten Gianyar. Air terjun Blangsinga terletak di Banjar Blangsinga, Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Desa Saba terdiri dari delapan banjar, beberapa diantaranya, Banjar Blangsinga, Banjar Saba, Banjar Banda.







Aku membayar sebesar Rp. 10.000 untuk tiket masuk. Berkenalan dengan Nyoman Kayen, guide ku hari itu. Dia baru duduk di bangku kelas 6 SD. Di musim liburan sekolah ini, dia mengisi hari liburnya dengan kegiatan sebagai seorang guide, berbayar Rp 20.000 setiap kali bertugas hingga tuntas.




















Kami lalu menuruni anak tangga dari bebatuan yang disemen, berjumlah 130 an, hingga tiba di tukad Petanu. Di pinggir sungai ini, terdapat mata air yang mengeluarkan air dari sela bebatuan. Kuminum mata air yang disucikan oleh masyarakat Banjar Blangsinga ini. Ereka mempercayainya bisa menyembuhkan keseleo atau urat syaraf yang terjepit.
















Kembali kami menuruni anak tangga yang terbuat dari besi, sebanyak 50 an anak tangga, hingga tiba di air terjun Blangsinga. Masih terdapat 50 an anak tangga dari besi lagi untuk tiba di bagian bawah air terjun. Di seberang banjar Blangsinga, terpisah Tukad Petanu, terdapat Banjar Tegenungan. Jadi sebenarnya air terjun ini menjadi milik dari kedua banjar, yakni Banjar Tegenungan, dan Banjar Blangsinga.




Pak Made Slamet, Pecalang yang bertugas di lapangan parkir Air Terjun Blangsinga

 





Bu Wayan, penjual minuman di lapangan parkir Air Terjun Blangsinga, menunggu pembeli sambil mejejaitan untuk banten

 


















Pukul 6 sore hari. Ku akhiri kunjunganku ke Desa Saba, Kecamatan Gianyar. Masih cukup waktu untuk membesuk saudara jauh, Nyoman Wajib, yang bertugas di Dinas Perikanan Benoa. Dia mengalami tabrakan parah saat mengendarai motor, menabrak truk tanki bahan bakar, sehingga wajahnya hancur, hari Selasa Pagi hari, 20 Februari 2016, di Benoa. Kini dia menjalani operasi wajah di RS Bali Royal Hospital, di Renon. Ditemani istrinya, juga saudara-saudara lain dari Bujak, Sepang, Buleleng.





Minggu, 18 Desember 2016

Pempek Kapal Selam dan Bakso Ala Adi & Yudha







Pempek adalah makanan khas terkenal dari Palembang. Terbuat dari ikan dan tepung, dengan berbagai bentuk, di rebus atau di kukus, kemudian digoreng, lalu dihidangkan dengan kuah yang terbuat dari gula aren serta acar.



Dan, hari ini kami membuat pempek ala – ala. Ada ikan tongkol, ada tepung beras dan tepung jagung, diberi campuran cinta dan kreativitas keluarga. Jadi dah, Pempek ala - ala. Oww ya, juga jadi bakso ikan ala – ala. Hohoho…….


Hidangan ini terbuat dari campuran tepung tapioca dengan ikan tenggiri. Namun berhubung yang kami miliki adalah ikan tongkol, tak mengapa lah, gunakan adonan daging ikan tongkol saja.  Satu lagi, berhubung yang kami miliki hanya tepung terigu dan tepung maizena, campur saja lah. Ehm, yang penting keluarga mampu berkreasi dan bersemangat dalam kebersamaan. Untuk merekatkan tepung, gunakan tambahan telur. Hahaha. Takaran? Ah, kira-kira sendiri saja. Lalu, biarkan tangan-tangan mereka bekerja, mengaduk, mengulen, merebus dan menggoreng. Membuat kuah dari gula aren yang kami bawa dari Sepang, kampung halaman di Buleleng sana. 


Dan hasilnya ??? Taraaaaa !!!! Jadilah, empat porsi pempek kapal selam dan pempek lenjer ala – ala, lalu dua mangkok bakso ikan ala – ala……
Ini, bukan sekedar menikmati hari-hari kami bersama, ini juga bukan sekedar mengajari mereka memasak belaka…… Di dalamnya terkandung filosofi tentang mencintai budaya makanan nusantara, mencintai kebersamaan di antara mereka, mencintai hasil masakan sendiri, selalu bersyukur atas segala yang kami miliki, selalu berkarya tanpa memandang hasilnya harus sempurna……


Tapi asli nya sih, proses dan bahan-bahan membuat pempek itu seperti ini nih……
Bahan utama pempek :
50 gram tepung terigu, tambahkan dua sendok makan garam, tiga sendok makan minyak goring, dua suing bawang putih yang dihaluskan, satu sendok the gula pasir, setengah  sendok the penyedap rasa (kalau suka), 400 ml air matang. I kg daging ikan tenggiri cincang, I kg tepung sagu / kanji / tapioca.


Kemudian bahan dicampur, diaduk dan dibentuk menurut selera.  Pempek kapal selam dengan mengisi telur di bagian dalam adonan, pempek lenjer atau lonjor dengan menggulung memanjang. Direbus lalu didinginkan sebelum digoreng.




Membuat kuah cuka nya, cabe rawit, udang kering ebi, bawang putih yang dihaluskan, gula merah atau gula aren, beri tambahan cuka dua sendok makan, dua sendok makan asam jawa, lalu direbus hingga mendidih.
Rasa campur sari dari kuah yang manis asem pedas ini memberikan sensasi yang memikat saat menikmati pempek panas yang baru selesai digoreng.


Berbagai bentuk pempek adalah kapal selam, lenjer atau lonjor, adaa, keriting, atau dos (tanpa menggunakan ikan).















































Kamis, 01 Desember 2016

Bensin, oohh bensin. Lagi, dan Lagi....


Kamis, 1 Desember 2016.
Pulang dari Kampus. 
Waktu menunjukkan pukul 16.30. 
Mendung, sehabis gerimis, dan sempat hujan deras siang hari itu. 
Seperti biasa, mengendarai motor tercinta, si hitam nyonya tua. 
 
Setelah dua minggu lalu turun mesin di Luwus karena olie kering lupa diganti. 
Setelah sekian kali terpaksa mendorong motor karena bensin kosong. 
Aku still yakin percaya diri motor masih terisi dengan bensin hingga stasiun bensin di Sunset Road dalam perjalanan pulang nanti....
 
Jelang Simpang Siur, sebelum Billabong, 
si hitam nyonya tua tercinta, berhenti dengan cerianya......
aku menepi. Hehehe. Bensin habis.
 
Haruskah aku panik, mengumpat dan mulai menyesali diri? 
ah... bukan tipe ku lah.... 
 
Ku lihat di depan, ada resto mini, Chicken Gourmet. 
Ku parkir motor di halamannya, dan, kupesan segelas es teh. 
Coba hubungi anak2, mereka sibuk dan berjauhan. 
Coba hubungi teman2, mereka juga sudah dengan manis di rumah masing-masing. 
 
Kucoba bertanya pada si pengelola resto, Pak Angga. 
Dia mencoba membantu dengan aplikasi Gxxjek. Namun ternyata ditolak. 
Pak Angga memerintahkan stafnya untuk keluar, membelikan dua liter bensin. 
Aku melirik ayam guling yang masih rock n roll dalam roaster, 
dan meminta pak Angga memotongnya untuk kubawa pulang.
Rp 65.000 per ekor.... 

 
 
Pak Angga, Barista di Town Square Hotel. 
Ponakannya ternyata Muridku di STP Nusa Dua Bali, 
Joshua Santoso, mahasiswa semester 1 ADH. 
Wah, dunia ternyata sempit, ya pak.
Terima kasih sudah membantu saya....
 
 

 
Hasilnya.... jadilah, 
bensin kudapat bagi motorku, si hitam nyonya tua tercinta, 
ayam guling bagi keluarga tercinta..... 
akhirnya, kembali ku meluncur di jalan raya....
 
 
 
 
Ehm, Pagi hari berangkat kerja kehujanan dan basah kuyup 
sehingga baju basah kering di badan. 
Sore hari bensin habis dan dorong motor. 
Syukuri semua apa adanya. 
Mari lanjut kerja dan kerja. 
Jangan lupa berdoa. 
Semangat jangan sampai terbang melayang ke mana-mana.....
 
 
 

Ni Ketut Sudarsih, 31/12/1958 s/d 1/12/2016



Ibuku sayang.....
Perjalanan hidup terkadang penuh tantangan, rintangan, godaan. 
Namun perjalanan hidup juga mengajarkan kita, 
bahwa akan selalu ada harapan dan kasih sayang 
jika kita senantiasa berusaha....
Terlahir 31 Desember 1958, di Jimbaran. 
Menikah dengan seorang putra Kubutambahan, bapak Made Wiriadnya. 
Ibu sering bertutur tentang perjalanan panjang Singaraja Nusa Dua, 
mengendarai motor berdua sang suami, di malam hari, 
di tengah hujan deras, motor mogok berkali. 
Ah, aku belajar banyak tentang semangat perjuangan ibu dalam kehidupan, 
kasih sayang seorang ibu pada keluarga, anak dan cucu, juga keluarga besar. 
Senantiasa bersemangat dan bersyukur padaNya.....
Cukup sudah berkarya, setelah mengabdi 
di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali 
selama 28 tahun 9 bulan, 
terakhir sebagai staf pada Program Studi Manajemen Tata Hidangan. 
Dan tercatat pensiun tertanggal 1 Januari 2017,
dengan pangkat Penata, golongan III c. 
Sekarang ibu sudah beristirahat dengan tenang, 
Tidak lagi terbayangi sakit yang menggerogoti. 
Tidurlah ibu, tidurlah dengan tenang. 
Amor ring acintya, ibuku sayang....