Kamis, 05 Oktober 2017

STP Nusa Dua Bali Peduli, Kamis, 28 September 2017




Kamis, 28 September 2017. Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali masih terlibat dalam penanganan kegiatan terkait Status Awas Gunung Agung. Kali ini ada Pak Anak Agung Ketut Putra Dalem yang mengkoordinir mahasiswa yang diperbantukan pada Dapur Umum di Posko Pengungsi GOR Swecapura, Klungkung. Juga ada ibu Ayu Aryasih, bersama 10 mahasiswa Program Studi Manajemen Konvensi dan Perhelatan, mulai mendata situasi dan kondisi terkini di lokasi pengungsian Desa Ulakan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Aku bergabung bersama mereka, juga pak Yani, supir kami, pukul 9 pagi. Kami bergerak dari kampus, Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, menuju Karangasem.



Dengan berbekal barang sumbangan yang kami kumpulkan bersama, tiga krat telur ayam, mie instan, air minum mineral, permen, berbagai roti, kami berangkat menuju Desa Ulakan. Tiba pukul 12.00 siang, kami temui bapak Wayan Dipta, perbekel desa Ulakan. Beliau menjelaskan bahwa desa Ulakan memiliki jumlah pengungsi 3000 orang, di antaranya terdapat bayi dan balita, anak-anak usia sekolah, mulai dari SD, SMP hingga SMA.

Tidak banyak kaum pria dewasa yang terlihat di posko pengungsi Desa Ulakan ini. Bapak Wayan Dipta menjelaskan bahwa berdasar data yang ada, para pengungsi berangkat pagi hari, kembali ke kampong halaman masing-masing untuk merawat ternaknya, ribuan sapi, babi, kambing, yang terletak di tegalan, lereng-lereng gunung, kemudian sore hari kembali ke lokasi pengungsian. Hal ini membuat aparat desa melakukan pendataan berulang, agar diperoleh jumlah perkiraan pengungsi yang mendekati pasti, terkait pembuatan komsumsi, agar tidak sia-sia atau mubazir jadinya. Seperti kemarin, dimana hampir 200 nasi bungkus terbuang karena jumlah pengungsi menyusut di saat siang hari.



Perlahan aku berjalan menyusuri tenda para pengungsi, melihat kaum perempuan dan anak-anak yang duduk di dalamnya, menyapa mereka, berbincang bersama. Ada yang sedang menjemur pakaian di tali jemuran yang terbentang. Pada salah satu tenda, aku menyapa seorang anak lelaki, Namanya Komang Budiarta. Disampingnya duduk seorang ibu. Namanya ibu Sukarti. Aku bersama ibu Ayu Aryasih ikut duduk lesehan di tenda tersebut. Perlahan, lirih, sang ibu berbisik “Cening, bicara saja pada para ibu ini. Banyak bantuan bagi para pengungsi, dari presiden, untuk bayi, untuk anak-anak SD. Bagaimana dengan yang SMA ?”……



Komang Budiarta terdiam termangu. Kutanya, ada apa? Dia terdiam, lalu berbicara, bahwa mereka tinggal di kebun timun yang dimiliki ibu nya, dan saat mulai terjadi gempa, mereka segera kabur bersamaan dengan penduduk desa lain, tanpa sempat membawa baju seragam SMA, bahkan buku-buku sekolahnya. Dia mencemaskan ujian kompetensi computer yang harusnya segera dia ikuti, ujian nasional awal tahun depan yang akan dia ikuti. Komang Budiarta kelas 3 SMAN 1 Bebandem, dia baru hari ini ikut bergabung bersekolah di SMA negeri Ulakan. Perlahan ibunya meneteskan air mata. Kulihat, ibu Ayu Aryasih juga menangis……



Mereka berasal dari Banjar Tihingan, Desa Bebandem, Kecamatan, Kabupaten Karangasem. Termasuk daerah dengan radius 9 km dari pusat gempa Gunung Agung. Ibu Sukarti memiliki dua putra. Putra pertamanya sedang kuliah di bangku terakhir Fakultas MIPA, jurusan Fisika, di Universitas Udayana. Sambil kuliah, dia bekerja part time malam hari di salah satu villa di Kuta. Sekarang dia ikut menginap di tenda di lokasi pengungsian, menemani adiknya, Komang Budiarta, ibunya, dan bibinya. Kini timun yang ada di kebun mereka tertutupi abu, terancam gagal panen. Komang mencemaskan bila harus membayar SPP di sekolah sementara nya kini. Tidak memiliki buku tulis, bahkan seragam sekolah. 



Ah, aku memikirkan kedua anakku. Semoga tidak alami nasib seperti para pengungsi ini, harus meninggalkan rumah mereka, tinggal di tenda pengungsian, meninggalkan sekolah, terpisah dengan sanak keluarga, dan para sahabat yang dahulu senantiasa berkumpul dan bermain bersama…. Terdapat ribuan pengungsi, ribuan anak usia sekolah. Entah bagaimana kelanjutan pendidikan mereka. Ini rentan terhadap gangguan program pendidikan yang dicanangkan pemerintah. Perlu penanganan gabungan dari berbagai pihak, baik Dinas Pendidikan Provinsi Bali, Pemerintah Desa yang ada lokasi pengungsi untuk mendata anak-anak usia sekolah ini, kemudian menempatkan mereka pada berbagai sekolah terdekat.



Dan, di Posko pengungsi Gunung Agung di Desa Ulakan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, kami juga ber jumpa IOM di sini.. Ada pak Nyoman Mahardika, ada Pak Ngurah Ambara, juga ada beberapa pengurus lainnya. Bahkan, kami jumpai alumni Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali. Kami ber jumpa pak Wayan Ngidep, Exc. Housekeeper Alila Manggis, alumni STP Nusa Dua Bali. Sehabis mengunjungi lokasi pengungsi di Tanah Ampo, Manggis... Kami bahkan berjumpa Indra Lesmana, penyanyi jazz ternama, yang juga baru mengunjungi Tanah Ampo, salah satu lokasi pengungsian….











Sepulang mengunjungi Tanah Ampo siang hari ini, rombongan kami kembali ke kampus tercinta, Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, kami kembali melaksanakan tugas. Aku punya dua kelas di sore hari ini. dan, pukul delapan malam, aku masih sempat mampir di jalan Imam Bonjol, ke salah satu cabang Bank ternama ini, menyapa beberapa ekor anjing yang sering berkeliaran disini. Bukankah, mereka juga adalah mahluk ciptaan Tuhan ? ...... Peduli pada semua mahluk ciptaan Beliau..... 


Senin, 25 September 2017

STP Nusa Dua Bali Peduli, Minggu, 24 September 2017


Minggu, 24 September 2017. Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali dalam berbagai komponen yang ada, berbagai Program Studi, Dosen, Unit Kegiatan Mahasiswa, Senat Mahasiswa, bergerak bersama dalam rangka Peduli Pengungsi akibat Status Awas Gunung Agung.
 
Banyak yang bertanya, “Kok saya gak diberitahu?”, “Mengapa mendadak, bu?”, “Harusnya kita koordinir dan kita rapatkan terlebih dahulu”, “Apakah kita berangkat dari kampus, bu?”, “Bawa an nya apa saja, bu”, “Maaf kami tidak bisa menyumbang apa pun, bu”, “Wah, teman kami ada beberapa yang keluarganya juga termasuk pengungsi di banjar-banjar yang ada, bu”........
 
 
Ehmm..... Peduli. Kemanusiaan. Empati. Terkadang, hanya perlu membiarkan nya mengalir apa adanya. Ini merupakan gerakan spontanitas. Kekuatan dari doa, harapan, kemauan, dan mewujudkannya menjadi nyata. Se kecil apa pun tindakan, sejauh itu positif, aku yakin, Tuhan akan membantu kita semua.
 
 
Jum’at, 22 September 2017. Bersama rombongan STP Nusa Dua Bali, melayat ke rumah duka keluarga ibu Dr. Ni Made Eka Mahadewi di Desa Mayungan Let, Desa Antapan, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan. Bersama bapak Putu Tonsen dan ibu Suci Artini yang mengendarai motor NMax, kami bergerak menuju Klungkung. Mereka ingin mengunjungi keluarganya, sedangkan aku melayat Sang Maestro, Nyoman Gunarsa, yang wafat awal September 2017. Sehabis memberikan penghormatan terakhir bagi beliau, kusempatkan berkunjung ke GOR Swecapura, yang terletak di Desa Gelgel, Klungkung. Pemandangan yang kulihat membuatku menangis, dan berjanji akan mencoba membantu mereka dengan cara yang kubisa.
 
 
 
Disinilah kekuatan media sosial. Info yang kusebarkan mulai Sabtu pagi, 23 September 2017, melalui beberapa pesan singkat, umpan yang kutebar, bak gayung bersambut. Kuhubungi Pak Drs. I Putu Tonsen, dan juga pak Drs. I Wayan Mulyana, M.Ed., selaku pejabat dalam jajaran dan jejeran manajemen lembaga mengenai rencana kegiatan. Beberapa mahasiswa memberikan respon. Beberapa sahabat tergerak bergabung. Beberapa saran yang masuk, minta untuk disebar ke berbagai lokasi. Namun aku tidak berani memecah mereka. Alasannya, problem yang mungkin kami hadapi dalam memantau, mengendalikan, melaksanakan kegiatan. Saran lain, memberikan bantuan berupa uang. Namun yang paling tepat adalah memberikan mereka kesempatan mengkoordinir kelas mereka masing-masing, dengan niat tulus untuk peduli bagi pengungsi dampak status awas Gunung Agung.
 
 
 
Kembali kami berdiskusi, tentang sasaran kegiatan. Lebih tepat bantuan yang diberikan adalah makanan dan minuman dalam dus, agar praktis. Tentang kemungkinan menuju lokasi lain, karena di GOR Swecapura Klungkung sudah penuh bantuan, ku bilang tetap lanjut dengan tujuan di GOR Swecapura ini merupakan induk posko bagi 105 pos lain yang tersebar di berbagai Bale Banjar dan tempat lain di Kabupaten Klungkung. Ya, GOR Swecapura ini pula merupakan induk posko bagi tiga kecamatan lain, yakni Klungkung, Banjarangkan, dan Dawan yang terdapat di Kabupaten Klungkung. Data terakhir hari Sabtu malam, 23 September 2017, memperlihatkan, terdapat 1080 kk dan 3.741 jiwa yang menjadi pengungsi status awas Gunung Agung yang terdapat di Kabupaten Klungkung. Padahal hari Jum’at, 22 September 2017, masih 850 jiwa yang berada di GOR Swecapura Klungkung.
 
 
Akhirnya, kami sepakati berangkat hari Minggu pagi, 24 September 2017. Meeting point pertama, daerah Sanur. Bersama mengendarai beberapa sepeda motor, dan beberapa mobil, kami bergerak menuju Klungkung. Aku berboncengan bersama Adi, anakku yang kini merupakan alumni STP Nusa Dua Bali. Takjub pada respon mereka bersama, sehingga akhirnya bergabung di GOR Swecapura Klungkung.
 
 
 
Tercatat pula, dari Program Studi Administrasi Perhotelan kelas D semester 3, diwakili oleh I Ketut Juliantara, Daniel Evander, Ida Bagus Wahyu Ari Saputra, Ferrian Muharram. 
 
Program Studi Administrasi Perhotelan kelas C semester 3, diwakili oleh I Nyoman Bayu Citha Putra, Kadek Alvin Hendra Wirama, Kadek July Ariasa, I Gusti Ngurah Bisma Srama, Rifaldi, Dena Swaravayu, Novita Dewi, Gung Dita. 
 
Program Studi Administrasi Perhotelan kelas A semester 5, diwakili oleh Felisiani Ayu Debby, Swasti Ayu Natalia, Wanda Adi Syahputra, Ngurah Aditya, Putri Gita Heavenly, Sheila Melinda.
 
Program Studi Administrasi Perhotelan kelas C semester 5, diwakili oleh Luh Ade Angarwati.
 
Program Studi Administrasi Perhotelan kelas D semester 5, diwakili oleh Brigita Advenia Tanoko, Cristina Delisa, Rosiana Santi, Komang Dwi Maya, Agus Prananditha, Putra Binawa, Yogi Pentagama. 
 
Program Studi Administrasi Perhotelan kelas B semester 5, diwakili oleh Isvari Ayu Pitanatri, Dewa Agung Ayu Sinta Pramesti, Kadek Indria Pradnyani Esti, Putu Andria Permata Rahayu, Anak Agung Gde Sidhimandi, I Made Dika Ardiana, I Putu Arya Bagus Prakasa, I Wayan Adnyana Utamantara, Michael Lee, I Gede Agus Aldi Juniawan. 
 
Program Studi Manajemen Bisnis Perjalanan, diwakili oleh Ni Komang Galih Triana, Ni Kadek Alya Ferlina, Wayan Agung Suarya, Putu Santi Kharisma, Zulfi Jauharul Ikhsan, Kadek Fendi Permana.
 
Program Studi Manajemen Tata Hidangan kelas A semester 5, Jonathan Roring.
 
Program Studi Manajemen Kepariwisataan kelas A semester 5, Yoga Raharja.
 
Program Studi Manajemen Tata Boga kelas C semester 5, diwakili oleh Joshua Wiartha.
 
Alumni yang bisa turut bergabung, Adi Pratama, Alit Swantika, Rama Dika, Eka dan Ginari.
 
 
Adapun sumbangan yang diberikan bagi posko GOR Swecapura Klungkung berupa tiga karung beras, belasan dus mie, puluhan dus air minum mineral, perlengkapan mandi, berbagai sembako lainnya, pakaian, popok, kue, susu.
 
 
Pukul 9.00 pagi kami tiba di GOR Swecapura Klungkung, selesai menyerahkan bantuan dan melapor di ruang sekretariat posko, kami bergerak menuju Dapur Umum. Sebagian mahasiswa membantu membungkus nasi, sebagian membantu mempersiapkan bahan masakan, sebagian lagi di bagian minuman, juga ada yang bertugas di bagian cuci peralatan.
 
 
 
Kulihat, ibu-ibu PKK Klungkung, yang dipimpin langsung oleh ketua tim penggeraknya, ibu Nyoman Suwirta, ikut mengolah bahan makanan, memotong sayur, mengiris bawang. Ibu-ibu persit KODIM Klungkung, membungkus ratusan nasi, bersama komponen PMI, PMR, Pramuka, LSM yang ada di Bali.
 
 
 
Pak Yudi, dari KODIM Klungkung, menjelaskan, bahwa sekali memasak beras, mereka menghabiskan 750 kg beras, bagi 9.000 pengungsi yang tersebar di 105 lokasi pengungsian pada tiga kecamatan di Klungkung, yakni Klungkung, Banjarangkan, dan Dawan. 
 
Jelang pukul 12.00 siang, kami akhiri Bakti Sosial di sini. Rasa lapar yang mendera, membuat kami memenuhi undangan dari bapak Drs. Anak Agung Oka Waicaka, M.Pd., dosen STP Nusa Dua Bali juga, yang berada di Puri Satria Kanginan yang terletak sekitar 1 km dari kota Klungkung, termasuk dalam Desa Dinas Paksebali, dan Desa Adat Sampalan.
 
 
 
Di Puri kami dijamu dengan kopi bali, penganan jaje bali oleh ibu Agung Oka, istri dari pak Agung Waicaka. Kami juga mendapat hidangan khas Klungkung, berupa tipat serombotan. Terima kasih, atas keramahtamahan keluarga Puri Satria Kanginan. Terima kasih.... Semoga niat tulus membantu warga pengungsi dampak status awas Gunung Agung dari komponen Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali mendapat limpahan berkah, mampu mmberi arti bagi para pengungsi. Semoga upaya pemicu ini dapat berlanjut kembali, dengan berbagai gerakan kemanusiaan lain, yang menunjukkan empati kita bersama, niat untuk bekerja sama, dalam berbagai keterbatasan yang ada.
 
 
 
Pada hari yang sama pula, Ketua STP Nusa Dua Bali, Drs. Dewa Gede Ngurah Byomantara, M.Ed, mengunjungi posko Pengungsi Status Awas Gunung Agung di Desa Tanah Ampo, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Kemudian perjalanan berlanjut mengunjungi para mahasiswa yang menjadi relawan di GOR Swecapura Klungkung.
 
 

Kamis, 07 September 2017

I Wayan Adi Pratama dan Yudisiumnya hari ini, 8 September 2017


My Lovely Amazing Handsome Bodyguard...... Anakku sayang, I Wayan Adi Pratama...... Yudisium dengan IPK tertinggi pada Program Studi Manajemen Kepariwisataan, Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali hari ini, Jum’at, 8 September 2017....... 
 
 
 
Tidak banyak yang tahu disini, bahwa dia putraku. Hingga dua tahun terlewati masa kuliahnya. “Jangan membawa nama orangtua. Berusahalah tunjukkan prestasimu berkat usaha, semangat dan kerja bersama teman-temanmu, nak. Buktikan siapa dirimu sesungguhnya dengan kerja keras” Ujarku berkali-kali. Aku percaya, angka hanya tetap tinggal angka, jika kita tidak bisa memaknai dan membuktikan diri dalam kehidupan bermasyarakat, berdoa, belajar dan bekerja.....
 
Teruslah kembangkan sayap-sayapmu, menembus langit, menggapai setiap harapan yang tertulis mesra di hadapanmu.... Jadilah pribadi tangguh yang rendah hati, tidak perlu sombong dan lekas berpuas diri.... Tegakkan dharma di dalam hati, jangan biarkan kebencian dan ego menutupi pintu logikamu...... Perjuangan panjang masih menanti di depan. Jangan sia-siakan hidupmu..... Doa kami semua akan selalu menyertaimu, sayang.....

Yudisium, Jum'at 8 September 2010, dan Wisuda, Selasa 19 September 2017


Wisuda ? Bukan berarti harus terlibat euforia berbangga hati secara berlebihan. Telah begitu banyak perjuangan yang kita jalani bersama, patutlah puas hati, bangga, bahagia bagi kalian semua, bagi kami, bagi banyak orang yang terlibat, entah langsung maupun tidak.
Bertahun lalu, berawal dari bulan Juli tahun 2013, Wayan Adi Pratama, bersama Dede Bhajraskara bertemu, menjejakkan langkah kaki melalui PSDP. Dengan wajah culun mereka terbakar mentari sepanjang hari. Beragam aktivitas yang dilalui bersama rekan-rekan mahasiswa lainnya. Melalui Ujian Skripsi bulan Juli 2017..... dan kini Yudisium, Jum’at, 8 September 2017, hingga jelang Wisuda, Selasa, 19 September 2017.
Data per hari Kamis, 7 September 2017, menggambarkan, terdapat 602 wisudawan dan wisudawati terdaftar mengikuti wisuda tahun ini, terdiri dari 87 mahasiswa dari Program Studi Administrasi Perhotelan, 48 mahasiswa dari Program Studi Bisnis Hospitaliti, 30 mahasiswa dari Program Studi Destinasi Pariwisata, 34 mahasiswa dari Program Studi Manajemen Akuntansi Hospitaliti, 29 mahasiswa dari Program Studi Manajemen Bisnis Perjalanan, 82 mahasiswa dari Program Studi Manajemen Divisi Kamar, 33 mahasiswa dari Program Studi Manajemen Konvensi dan Perhelatan, 43 mahasiswa dari Program Studi Manajemen Kepariwisataan, 2 mahasiswa dari Program Studi Manajemen Perhotelan, 5 mahasiswa dari Program Studi Manajemen Spa, 113 mahasiswa dari Program Studi Manajemen Tata Boga, 94 mahasiswa dari Program Studi Manajemen Tata Hidangan, 2 mahasiswa dari Program Studi Tata Boga. Data yang ada juga memperlihatkan bahwa sebanyak 12,79 % sudah terserap di berbagai bidang pekerjaan pada industri, baik pariwisata, perhotelan, maupun yang lainnya.

 
Mahasiswa dengan Indeks Prestasi terbaik mencakup Selviana Fortunella Santosa, IPK 3,64 dari Program Studi Administrasi Perhotelan, Kadek Wiwin Widyantari, IPK 3,51 dari Program Studi Bisnis Hospitaliti, Gloria Elleanor, IPK 3,65 dari Program Studi Destinasi Pariwisata, I Nengah Ersa dan Ni Nengah Fetriscia Desi Arini, IPK 3,57 dari Program Studi Manajemen Akuntansi Hospitaliti, Ni Putu Intan Mega Yanti, IPK 3,57 dari Program Studi Manajemen Bisnis Perjalanan, Desak Gede Wistari Prima Dewi, IPK 3,57 dari Program Studi Manajemen Divisi Kamar, Nabillah Noor Lintang Wilujeng, IPK 3,55 dari Program Studi Manajemen Konvensi dan Perhelatan, I Wayan Adi Pratama, IPK 3,57 dari Program Studi Manajemen Kepariwisataan, I Wayan Endra Pradipta, IPK 3,46 dari Program Studi Manajemen Perhotelan, Ni Luh Putu Susiantini, IPK 3,52 dari Program Studi Manajemen Spa, Ratna Gumilang, IPK 3,57 dari Program Studi Manajemen Tata Boga, Ni Made Aswina, IPK 3,57 dari Program Studi Manajemen Tata Hidangan, I Ketut Arya, IPK 3,51 dari Program Studi Tata Boga.




Ujian Seminar Hasil Penelitian Disertasi, 6 September 2017


 
 
Setelah bertahun menunggu, tetap bergerak, namun dalam diam penantian panjang, kali ini melangkah demi Ujian Seminar Hasil Penelitian bagi Disertasiku. Ujian ? Tidak perlu ditanggapi histeria atau berlebihan. Diuji, menguji, teruji, tetap biasa saja. Namun, dua minggu sebelum maju, laptop, komputer, flasdisk dan email terpapar virus Eternal Blue sehingga data musnah berantakan, setelah dibersihkan, masih tetap menempel dengan sukses, ah, ujian ini sungguh meresahkan jiwa........ Aku bisa merasakan empati mendalam, bagaimana pak Putu Utama sakit menjelang rangkaian ujiannya, Bu Irene Hanna Sihombing, pak Nyoman Madiun, pak Ngurah Budiasa.... Bu Amiroza yang kehilangan laptop, bahkan se koper nya saat proses menuntaskan pendidikan Doktoral...... Ujian kali ini baru pada tahap ujian seminar hasil penelitian. Masih ada tahapan ujian tertutup, ujian terbuka, ujian dari berbagai pihak lain di saat lain dalam hidup kita masing-masing.
 
 
 
Hmmmm, begitu banyak faktor yang mempengaruhi proses perjuangan dalam kehidupan kita, dalam menuntaskan jenjang pendidikan, dalam meraih harapan dan mewujudkan impian. Kusadari, kita tidak akan pernah sukses menjalani ini semua sendirian.... aku bersyukur memiliki keluarga kecil, keluarga besar, para sahabat, rekan kerja, para tetangga, para mahasiswa, bahkan, orang yang tidak ku kenal sekalipun, yang mewarnai hari-hari dalam kehidupan, sehingga aku bisa tetap tegak berdiri dengan tegar hadapi ini semua.
Jelang ujian hari ini, aku bahkan tetap memasak terlebih dahulu bagi keluarga tercinta, sayur hijau, telur goreng, dan sambel tomat. Mencuci baju dan menjemurnya dengan rapi sebelum ditinggal pergi. Memberi makan para anjing pasukan penjaga yang setia menanti. Lalu sarapan pagi setelah dua hari tidak tidur demi berikan yang terbaik hari ini......
 
 
 
Terimakasih, Lembaga dimana aku mengabdi hingga hari ini, Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, tempat ku menempa diri. Terima kasih, Universitas Udayana, tempat ku menuntut ilmu semenjak Program Magister ku dahulu. Terima kasih, Universitas Gadjah Mada, takkan kulupa jasamu menjadikan aku seperti yang kini. Terima kasih, semesta.... akan kubuktikan, aku akan selalu belajar dari berbagai aspek ruang dan waktu kehidupanku.....
 
 
 
Terkadang..... hidup tidak lah mudah bagi kita. Tidak berjalan sesuai impian dan harapan yang kita inginkan. Namun, terjatuh dan tersungkur berkali, akan kubuktikan, bangkit kembali, berkali, lagi, dan lagi......
 
 
 
 

Selasa, 29 Agustus 2017

Wae Rebo, The Heart of Manggarai (1)



Ketika memutuskan akan menjelajahi Manggarai Barat, kami sudah menyadari, ini bukanlah sesuatu yang mudah. Kami membutuhkan persiapan matang, orang yang dapat kami handalkan, bukan guide yang abal-abal. Maka, kami persiapkan diri dengan sebaik mungkin yang kami bisa, menelusuri berbagai informasi tentang Wae Rebo, sejarah, rute perjalanan, transportasi yang mungkin dipergunakan, lama waktu tempuh, biaya yang kami butuhkan, siapa saja yang dapat kami hubungi untuk membantu mengumpulkan beragam data tersebut. Kami terlibat dengan banyak diskusi, banyak perdebatan, urun rembug, dan berbagai pertimbangan, sehingga memutuskan yang terbaik yang dapat kami lakukan.
 
 
 
Banyak yang berkata, kami gila, dan sesuatu yang tidak mungkin kami lakukan. Underestimate lah, tidak becus lah. Okay. Aku selalu percaya, adanya banyak tangan yang tidak terlihat, keterlibatan Tuhan, dan, niat baik kami yang tentu akan mempermudah kami melaksanakan ini. Perlu kedewasaan bersikap, kehati-hatian, dan kerendahan hati dalam bertingkah laku. Meski kami tipe orang yang senang berpetualang, menguji nyali diri, dan bersiap terhadap resiko yang mungkin kami hadapi, namun kebersamaan team sangat dibutuhkan.
 
 
 
Anakku telah lebih dahulu menjelajahi Manggarai tahun 2015 lalu. Melalui rute perjalanan darat, dia berangkat bersama Edi Sempurna Sembiring Meliala, sahabat se kelas dan se kos nya. Selama seminggu, mereka bergerak ke arah Timur, hingga mencapai Wae Rebo. Dan kini, sungguh beruntung aku dapat menuju ke Wae Rebo, yang disebutnya sebagai jantung hati Manggarai, sebuah desa aseli, negeri di atas awan.
 
 
 
Wae Rebo merupakan sebuah desa yang terletak di kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Flores, kira-kira 1.200 meter di atas permukaan laut. Situasi pedesaan yang terpencil, terisolasi di daerah pegunungan, membuat desa ini unik untuk diamati terkait aktivitas sehari-hari, sistem kekerabatan, dan bentuk bangunan nya. Desa ini sudah tumbuh dan berkembang semenjak 1100 tahun lalu, diyakini leluhur mereka berasal dari Minangkabau di Sumatera, berkembang ke daerah Todo yang juga di Manggarai, yang terkenal dengan kerajaan Todo, kemudian mengasingkan diri ke Wae Rebo. Desa ini bisa dicapai setelah melewati daerah pesisir pantai, pegunungan, berjalan kaki mendaki gunung, kemudian menuruni jalan curam, melintasi sungai, bahkan terkadang melalui awan, sehingga desa ini juga dikenal dengan negeri di atas awan.
 
 
Terdapat beberapa rute perjalanan untuk mencapai desa ini. Yang pertama, dari Labuan Bajo berkendara menuju Ruteng, lalu ke Desa Dintor, desa terakhir yang dapat dilintasi kendaraan, kemudian menyewa ojek menuju pos pertama Hutan Lindung, dan melanjutkan perjalanan kaki menuju Wae Rebo. 
 
 
 
Yang kedua, dengan menggunakan truk / oto kayu dari Ruteng, di Terminal Bus Mena. Kemudian bergerak menuju Desa Cancar, Desa Pela, Desa Todo, Desa Dintor, Desa Denge. Waktu tempuh selama tiga hingga empat jam ber kendara.
 
 
 
Yang ketiga, dari Labuan Bajo, dengan menggunakan perahu, menyusuri pantai Selatan, dekat Pulau Mules, menuju pesisir, Desa Nangalili.Setelah tiba di Desa Dintor, kembali melanjutkan perjalanan menuju Desa Denge. Dari Desa Dintor, menyewa motor atau bersama tukang ojek dengan tarif sebesar 50.000 menuju Desa Denge.
 
 
 
Perjalanan kami berawal dari Labuan Bajo. Rabu, 23 Agustus 2016. Pukul 7 pagi kami bergerak bersama Servasius, seorang guide lokal, aseli orang Manggarai, dan supir Kasianus. Sekitar empat jam berkendara dari Labuan Bajo, hingga berakhir di Desa Dintor, lanjut ke Desa Denge, dan menggunakan ojek bermotor menuju pos pertama di Hutan Lindung. Berikutnya kami lanjutkan dengan berjalan kaki selama tiga jam lebih, mendaki gunung, menyusuri hutan, menuruni gunung, melintasi sungai melalui jembatan bambu, melintasi awan, sebelum tiba di desa Wae Rebo.
 
 
 
Rumah berbentuk kerucut ini dahulu berbentuk kotak. Mulai mengalami pelapukan pada tahun 2008. Namun semenjak di renovasi pada tahun 2010, bentuknya berubah menjadi kerucut. Yayasan Rumah Asuh bersama Yori Antar dan kawan-kawan banyak berperan dalam proses renovasi Mbaru. Berikutnya banyak pula pihak swasta dan bahkan pemerintah daerah ikut terlibat. Jumlah utama rumah sebenarnya hanya tujuh. Pada masing-masing rumah, tinggal tujuh hingga delapan kepala keluarga. Namun kemudian berkembang menjadi sembilan, dimana dua buah Mbaru dipergunakan sebagai tempat tinggal bagi para wisatawan yang ingin menginap dan merasakan aktivitas kehidupan masyarakat Desa Wae Rebo. Terdapat rumah Utama yang disebut dengan Mbaru Niang, dimana di Rumah Utama ini terdapat Niang Gendang, gendang yang telah diwarisi semenjak jaman nenek moyang mereka. Rumah ini merupakan rumah yang pertama kali berdiri di Wae Rebo, dimana leluhur penduduk desa ini tinggal. Para tamu yang datang harus menuju rumah utama ini terlebih dahulu, untuk disambut dengan upacara sebagai pertanda sah nya mereka datang berkunjung dan mengetahui apa saja yang patut dan tidak boleh dilanggar selama berada di Wae Rebo. 
 
 
 
Sepanjang perjalanan kami temui banyak wisatawan asing, turis lokal, bahkan ibu Kadi, berusia 71 tahun, ibu Ima berusia 65 tahun, yang tetap bersemangat meski akhirnya membutuhkan delapan jam berjalan kaki. Kami bermalam di salah satu Mbaru, bersama dengan sekitar 50 an wisatawan lain, ikut mengenakan songkee yang di tenun oleh para perempuan desa Wae Rebo, makan malam bersama dengan seluruh wisatawan, menikmati bintang malam, dan bangun pagi serta menikmati sarapan pagi dengan menu pedesaan, sebelum kembali ke Labuan Bajo dengan kembali menyusuri perjalanan di pegunungan selama hamper empat jam berjalan kaki.
 
 
 
Delapan Mbaru atau rumah kerucut menggambarkan delapan garis keturunan kepala keluarga utama. Hingga kini terdapat 137 kepala keluarga dan 632 orang anggota masyarakat desa Wae Rebo, namun sebagian di antaranya sudah ada yang menetap di luar Mbaru, di kebun sekitar Mbaru, atau di perkampungan sebelah desa Wae Rebo, bahkan merantau ke desa lain untuk bekerja atau melanjutkan pendidikan. 
 
 
 
Pada tahun 2012, desa Wae Rebo mendapat penghargaan Asia Pacific Heritage Award for Culture Heritage dari UNESCO (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization), sebuah badan PBB untuk Pendidikan dan Kebudayaan.