Jumat, 08 Maret 2019

Tawur Agung Panca Wali Krama Pura Besakih 2019 (2)




Tawur Agung Panca Wali Krama merupakan rangkaian upacara yang dilaksanakan bersamaan dengan Karya Ida Betara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih. Sudah menjadi kewajiban bagi karma Desa Adat Besakih yang berada pada kelompok pemaksan, untuk melaksanakan berbagai upacara keagamaan di seluruh kawasan Pura Pesakih. Rangkaian persiapan terkait pelaksanaan Tawur Agung Panca Wali Krama pada bulan Maret 2019 telah dilaksanakan jauh hari sebelumnya, bahkan semenjak tahun 2018. 


Babadbali.com menjelaskan bahwa Pura Besakih merupakan tempat pemujaan Tuhan dengan simbol Bhuwana Agung. Hal ini sesuai dengan Mantra Yajurweda XXXX.1 yang menjelaskan bahwa alam semesta ini adalah stana Tuhan yang sesungguhnya. Sebagai lambang alam semesta, Pura Besakih dibagi menjadi dua bagian, yaitu Sor ring Ambal-ambal, dan Luhur ring Ambal-ambal. Sor ring Ambal-ambal, melambangkan alam bawah, yang disebut Sapta Petala.  dan Luhur ring Ambal-ambal melambangkan alam atas, yang disebut Sapta Loka.


Seluruh kompleks Pura Besakih terdiri atas 20 kompleks Pura. Empat Pura yang disebut dengan Pura Catur Dala, atau Catur Loka Pala, yaitu Pura Gelap, Pura Kiduling Kreteg, Pura Ulun Kulkul, dan Pura Batu Madeg. Di bagian tengah terdapat Pura Penataran Agung Besakih, yang terdiri atas tujuh Mandala, atau tujuh lapisan alam atas, atau Sapta Loka. 

1.Pura Pengubengan, 2.Pura Ida Ratu Dukuh (Catur Lawa), 3.Pura Paninjoan, 4.Pura Pamuputan, 5.Pura Ida Ratu Penyarikan, 6.Pura Ida Ratu Pande, 7.Pura Ida Ratu Pasek, 8.Pura Pasimpenan Ida Ratu Dukuh, 9.Pura Merajanan Kanginan, 10.Pura Banua Kawan, 11.Pura Goa Raja,  12.Pura Merajan Selonding, 13.Pura Bangun Sakti, 14.Pura Manik Mas, 15.Pura Pasimpangan, 16.Pura Dalem Puri.  Maka total terdapat 20 Pura di seluruh areal Pura Pesakih.


Buku Pedoman Pelaksanaan Tawur Agung Panca Wali Krama Pura Agung Besakih 2019 (Yasa Kerthi) menjelaskan di seluruh areal (pakideh sakuwub) Pura Agung Besakih terdapat 18 Pura. Satu Pura yang merupakan Pura Pusat (Center), yakni Pura Penataran Agung Besakih, dan 18 Pura Pendamping, yakni 1 Pura Basukian, dan 17 Pura lain. 

Dan pada tanggal 22 Januari 2019, bertempat di Wantilan Kesari Warmadewa, Besakih, telah diselenggarakan Paruman (pertemuan) bersama pemerintah provinsi, kabupaten dan kota se Bali selaku pengempon ke 18 Pura di areal Besakih, dihadiri oleh Yajamana Karya, Ida Dalem Semara Putra, Nayaka Praja Provinsi Bali, PHDI Provinsi Bali, MUDP Provinsi Bali, Kabupaten dan Kota, beserta berbagai unsur lainnya.


Tidaklah mudah melaksanakan upacara demikian besar tanpa disertai dukungan berbagai komponen masyarakat beserta aparat berwewenang. Namun keyakinan tulus ikhlas untuk melaksanakan kegiatan tersebut, akan membantu mempermudah kita bersama menjalin ikatan kerjasama dalam berbagai bentuk.

Berawal dari niat tulus pula, kami yang tergabung dalam Yayasan Jaringan Hindu Nusantara, mencoba mengetuk pintu hati para relawan, donator, anggota masyarakat, bersama bersatu, ngaturang ngayah. Hingga kemudian terkumpul 250 an dus air mineral dalam botol, beberapa spanduk, belasan meter bahan berjaring untuk karung sampah bekas botol dan gelas plastik, puluhan kg donasi buah jeruk, sumbangan kendaraan untuk transportasi yang dibutuhkan selama ngaturang ngayah, dan tenaga yang dicurahkan demi kegiatan bersama ini. Nilainya tidaklah seberapa. Namun semangat dan rasa kemanusiaan, kebersamaan yang tercipta, adalah sesuatu yang sangat berharga, tidak ternilai oleh materi semata.


Kami tidak mungkin bisa mencurahkan waktu dan tenaga sepenuhnya selama prosesi Panca Wali Krama 2019 berlangsung. Kami putuskan hanya akan terlibat pada saat rombongan Ida Bhetara melakukan melasti, dari Pura Agung Besakih, menuju Segara Watu Klotok, kembali Pura Agung Besakih. Ada beberapa posko yang menurut rencana akan kami bentuk. Pada hari pertama, satu posko di Desa Akah, berikutnya, di jalan menuju Pantai Watu Klotok. Pada hari kedua, satu posko sebelum Pura Toh Jiwa, berikutnya, sebelum Pura Tebola dimana rombongan Ida Bhetara akan kembali mererepan (bermalam). Pada hari ketiga, satu posko sebelum Pura Agung Besakih, yakni di Desa Muncan.

Puncak Upacara Tawur Agung Panca Wali Krama jatuh pada tanggal 6 Maret 2019, Buda Kliwon Matal, Tahun Saka 1940. Tawur Agung Panca Wali Krama merupakan rangkaian upacara pelaksanaan Butha Yadnya dan Dewa Yadnya. Maknanya untuk membersihkan, menyucikan alam semesta, menuju tatanan yang harmonis jiwa dan raga, rohani dan spiritual. Yasa Kerthi berarti  yadnya, pelaksanaan upacara suci dengan tulus ikhlas. Maka sudah sepatutnya seluruh umat Hindu melaksanakan Yasa Kerthi, sebagai perwujudan dari pelaksanaan Tapa – Brata – Yoga, pengendalian diri, pemusatan pikiran, dan penyucian pikiran. 


Upacara Melasti berlangsung dari hari Sabtu, Saniscara Umanis Medangkungan, 2 Maret 2019, hingga Senin, Soma Pon Matal, 4 Maret 2019. Berawal dari Pura Agung Besakih, Menuju Segara Watu Klotok, dan kembali menuju Pura Agung Besakih.

Terdapat 29 desa yang dilalui dalam perjalanan melasti menuju Pantai Watu Klotok atau Segara Klotok hingga kembali ke Pura Agung Besakih. Prosesi Melasti dengan perjalanan yang akan ditempuh adalah sepanjang 30 km, semenjak hari Sabtu tanggal 2 Maret 2019, hingga tiba kembali pada tanggal 5 Maret 2019 di Pura Agung Besakih.


Empat Kecamatan yang dilalui sepanjang rangkaian upacara Melasti terkait Tawur Agung Panca Wali Krama 2019. Kecamatan Rendang : Desa Pekraman Besakih, Desa Pekraman Tegenan, Desa Pekraman Menanga, Desa Pekraman Rendang, Desa Pekraman Nongan, Desa Pekraman Pesaban. Kecamatan Klungkung : Desa Pekraman Gembelan, Desa Pekraman Cucukan, Desa Pekraman Selat, Desa Pekraman Akah, Desa Pekraman Besang, Desa Pekraman Bendul, Desa Pekraman Meregan, Desa Pekraman Galiran, Desa Pekraman Jelantik, Desa Pekraman Tojan, Desa Pekraman Paksebali. Kecamatan Sideman : Desa Pekraman Lebu, Desa Pekraman Tohjiwa, Desa Pekraman Talibeng, Desa Pekraman Sukahet, Desa Pekraman Tebola, Desa Pekraman Iseh, Desa Pekraman Padang Tunggal, Kecamatan Selat : Desa Pekraman Duda, Desa Pekraman Selat, Desa Pekraman Padang Aji, Desa Pekraman Muncan. Kecamatan Rendang : Desa Pekraman Batusesa.



Life Tree, Song of Ancestor, Sacred Sites, Mandala Wisata Samuan Tiga, 23 Februari 2019




Sabtu 23 Februari 2019 di Open Stage Mandala Wisata Samuan Tiga Desa Bedahulu Gianyar. Open Day untuk Lokakarya Life Tree, Song of Ancestor: The Art of Moving in Sacred Sites. “Datanglah, ibu Santi, bila ada waktu dan berkenan untuk hadir. Ada acara bagus, kita diskusi bersama, menikmati pentas seni, bersama Prapto Suryodarmo dari Padepokan Lemah Putih, Solo. Juga Ajahn Jutindharo, Kepala Vihara Hartrigde, UK, dan para sahabat lain”. Ujar seorang sahabat, Ibu Diane Butler. 


Peserta lokakarya berasal dari kalangan teater Bali, Jawa Timur, Lampung. Juga para karyasiswa dan seniman dari ISI Denpasar, empat karyasiswa program studi S3 doktoral Kajian Budaya Universitas Udayana. Peserta lokakarya tidak hanya dari Indonesia, namun juga Jerman, Spanyol, Meksiko, Cina, AS. Mereka akan mempresentasikan penampilan dan karya singkat dari berbagai kolaborasi kelompok seni masing-masing daerah.


Tema Lokakarya kali ini adalah : Penciptaan Nilai Budaya dalam Kebersamaan dan Kerukunan. Dengan bentuk Lokakarya, Srawung Seni, Diskusi dan Penampilan Karya Seni.


Para seniman yang menyajikan karyaseni antara lain adalah Teater Kalangan (Bali), Ibed Surgana Yuga (Bali), Alexander Gebe (Sumatra), Agus Wiratama (Bali), Dayat (Banyuwangi), Riwanto Tirto Sudarmo (Jakarta), Claudine Merkel (Jerman), Rudolf Berlekamp (Jerman), Ana Zapata (Meksiko), Moon Hu (Cina), Liang Doris Chen (Cina), Siwen Bo (Cina), Qin Hui Jin (Cina), Xin Yu Niu (Cina), Hong Ge Yu (Cina), Alba Sagarra (Spanyol), Diane Butler (USA), Koyano Tetsuro & Naoka (Jepang), Tebo Aumbara (Bali), Juan Pereyra (Argentina), Tina & Jonathan Bailey (Narwastu Art Community Bali), Blanka (Spanyol).


Diskusi santai tentang seni disampaikan oleh empat karyasiswa program studi doktoral, Luh Putu Sri Ariyani (Undiksha), Komang Adi Sastra Wijaya (UNUD), Ida Sri Wayan Budra (Pasraman Tunjung Putih), Gene Ginaya (Poltek Negeri Bali).


Ibu Diane Butler menjelaskan bahwa penampilan seni dan diskusi seni, khususnya seni teatrikal ini sengaja memilih suatu situs bersejarah, cagar budaya purbakala, tempat yang dianggap suci dan keramat, sebagai suatu bentuk karya nyata, dalam memaknai situs sacral yang dapat menginspirasi, menjadi sumber kreativitas beragam karya seni, melahirkan semangat menghargai karya luhur budaya suatu bangsa, terkait dengan hubungan terhadap berbagai komponen kehidupan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan, Sang Pencipta Kehidupan.

Banyak orang yang terkadang tidak mampu memahami lingkungan sekitar, tidak dapat menghormati sesama umat manusia, bahkan cenderung meremehkan cagar budaya. Hadir pada berbagai situs budaya, mencoba memahami rasa yang mengalir masuk ke dalam jiwa, bersatu dengan alam, dan mampu melahirkan berbagai karya seni akan membuat kita belajar berempati, belajar menghargai orang lain, belajar menghormati karya luhur suatu peradaban dari suatu bangsa. Karena tidak mudah menjalin suatu kerjasama, berkolaborasi dengan orang lain, apalagi yang berbeda latar belakang sosial dan budaya, dari berbagai belahan dunia.

Pemilihan situs budaya yang merupakan cagar purbakala Samuan Tiga sebagai tempat pentas seni sungguh tepat. Karena Pura Samuan Tiga ini merupakan titik awal bersatunya Bali yang dahulu sempat terpecah belah menjadi banyak sekte atau aliran.

Literatur sejarah Bali kuno menguraikan pemberian nama Samuan Tiga terkait dengan adanya suatu peristiwa penting musyawarah berbagai tokoh pada masa Bali Kuna. Pelaksanaan musyawarah para tokoh di Bali pada masa pemerintahan raja suami-istri Udayana Warmadewa bersama permaisurinya Gunapriyadharmapatni yang memerintah sekitar tahun 989 – 1011 Masehi.

Menurut Goris, pada masa itu di Bali berkembang kehidupan keagamaan yang bersifat sektarian. Ada sembilan sekte yang berkembang pada masa itu. Sekte-sekte tersebut adalah Pasupata, Bhairawa, Siwa Sidhanta, Waisnawa, Bodha, Brahma, Resi, Sora dan Ganapatya. Masing-masing sekte memuja Dewa-Dewi tertentu sebagai istadewata (Dewa Utama) dengan simbol tertentu. Penganut setiap sekte berkeyakinan bahwa istadewata merekalah yang paling utama di antara dewa yang lain. Keyakinan sektarian itu mengakibatkan benturan konflik dan ketegangan antar-sekte. Hal ini berpengaruh terhadap stabilitas kerajaan dan masyarakat.

Menyadari hal itu, raja suami-istri Gunapriyadharmapatni dan Udayana berusaha mengatasinya dengan mengundang tokoh-tokoh spiritual dari Bali dan Jawa Timur (Gunapriyadharmapatni adalah putri raja Makutawangsawardhana dari Jawa Timur) untuk mencari jalan keluar gejolak antar-sekte ini.

Pada waktu itu di Jawa Timur ada lima pendeta bersaudara. Ke-lima pendeta bersaudara tersebut kerap dijuluki Panca Pandita atau Panca Tirta. Mereka adalah Mpu Semeru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan, Mpu Gnijaya dan Mpu Bharadah. Empat di antara kelima pendeta tersebut didatangkan ke Bali secara berturut-turut, yaitu:

1. Mpu Semeru datang di Bali pada tahun saka 921 (999 M) ber parhyangan di Besakih.
2. Mpu Ghana datang pada tahun saka 922 (1000 M) ber parhyangan di Gelgel.
3. Mpu Kuturan datang pada tahun saka 923 (1001 M) berparhyangan di Silayukti, Padangbai.
4. Mpu Gnijaya datang pada tahun saka 928 (1006 M) berparhyangan di Lempuyang (Bukit Bisbis).

Mpu Kuturan yang berpengalaman sebagai kepala pemerintahan di Girah dengan sebutan Nateng Girah, oleh Gunapriyadharmapatni diangkatlah beliau sebagai senapati dan sebagai Ketua Majelis Pakira-kiran I jro Makabehan.

Melalui posisi yang dipegang itu, Mpu Kuturan melaksanakan musyawarah bagi sekte keagamaan yang berkembang di Bali bertempat di Pura Penataran kerajaan. Pada masa itu, setiap kerajaan di Bali memiliki tiga pura utama: Pura Gunung, Pura Penataran (di pusat kerajaan) dan Pura Segara (laut). Musyawarah tersebut berhasil menyatukan semua sekte untuk penerapan konsepsi Tri Murti yaitu kesatuan tiga manisfestasi Tuhan (Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa) dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Konsepsi "three in one" ini (aryapengalasan) berlaku di seluruh Bali dan menghapuskan dominasi satu sekte terhadap sekte lainnya, meskipun belakangan sekte Siwa Sidhanta yang tampil dominan. Penyatuan ini serupa dengan apa yang dilakukan oleh Mpu Kuturan di Jawa dengan mendirikan Candi Loro Jonggrang (Prambanan) yang memuja Dewa Brahma, Wisnu dan Ciwa.

Untuk memperingati peristiwa penting tersebut maka tempat dimana terjadi musyawarah tersebut, yakni Pura Penataran kerajaan tersebut, diberi nama Pura Samuantiga.

Konsep Tri Murti yang diperkenalkan oleh Mpu Kuturan kemudian diterapkan dalam pola Desa Pakraman dengan pendirian pura Kahyangan Tiga yakni Pura Desa (Brahma), Pura Puseh (Wisnu) dan Pura Dalem (Siwa) pada setiap desa. Bagi setiap keluarga, diterapkan pembangunan Sanggar Kamulan Rong Tiga (tempat pemujaan dengan tiga pintu).

Ini yang menjadi pitenget bagi siapapun, bahwasanya, harmoni akan tercipta bila didasari dengan niat tulus dalam diri setiap umat manusia, pemahaman mendalam terhadap latar belakang sejarah, saling menghargai satu sama lain,dan aplikasi nyata dalam berbagai aspek kehidupan. Karena setiap orang memiliki peranan dan fungsi nya masing-masing yang akan saling melengkapi satu sama lain. Pemimpin, pengusaha, penguasa, tokoh masyarakat, pemuka agama, petani, nelayan, guru, seniman, budayawan, guru dan murid, ibu rumah tangga. Semua sama penting dan mulianya.

Jumat, 01 Maret 2019

Salak Sibetan dengan empat belas rasa yang ada


Jika anda pencinta agrowisata, pencinta salak, pencinta suasana alam pedesaan dengan tinggal bersama masyarakat di pondok wisata, maka wajib mengunjungi Desa Wisata Sibetan. 
 
 
 
Bahkan, meski jika anda bukan seorang pencinta, bukalah mata hati, seluruh panca indera, menikmati sensasi alam pegunungan, dan rasakan nuansa yang hadir menyapa.
 
Masih jarang pemandu wisata atau agen perjalanan mengagendakan perjalanan wisata menuju Desa Sibetan. Namun Desa Wisata ini memiliki keunikan tersendiri, dan terkenal karena penghasil buah salak yang terkenal dengan kualitas bagus.
 
Desa Sibetan Kecamatan Bebandem Kabupaten Karangasem memiliki ketinggian 400 - 600 meter dari permukaan laut. Daerah yang terkenal dengan hawa pegunungan dingin, sehingga bisa menghasilkan buah salak terbaik disini.
 
 
 
Jalan utama desa juga dipenuhi di bagian kiri dan kanan oleh tanaman salak. Meski menurut penjelasan Pak Sujana, penglingsir banjar Dukuh, desa Sibetan, sesungguhnya tanaman salak bukan merupakan tanaman asli desa Sibetan, melainkan dibawa dari daerah lain. Pada perkembangannya, tanaman ini mampu tumbuh subur dan menghasilkan produktivitas terbaik bagi masyarakat desa.
 
Dalam perkembangan selanjutnya, berbagai olahan makanan yang dibuat berbahan baku salak mulai dikembangkan masyarakat, seperti kripik salak, kurma salak, rujak salak, pia salak.
 
 
 
Bagaimana ?? Anda tertarik mencoba ?? atau berniat kembali lagi kemari berkali kali ? Mari rencanakan segera. Jangan lupa ajak saya yaaaa.