Jumat, 28 Maret 2014

Melasti Sukra Umanis Ukir, 28 Maret 2014 (2)


 




Aku selalu percaya, kenali dan hargai budaya dengan baik, maka kita bisa menghargai diri sendiri dengan baik pula. Jika sudah demikian, akan mampu menghargai orang lain dan budayanya pula dan jalin harmoni dengan beragam pihak yang ada.....




Di saat mengiringi rombongan melasti dari Pura Dalem Pejarakan Ulun Lencana Umedui, setibanya di Pura Petitenget, Kerobokan, kujumpai mantan muridku, alumni BPLP. "Saya Gunawan, dari MPH angkt 1994. Saya sedang bersama keluarga Bruener dari Switzerland yang menginap di salah satu hotel di Seminyak", ujarnya.





Delivering WOW Service karena baru ikutan Seminar Marketingnya MarkPlus??? Ehm, ga juga. Kami mengenalnya semenjak lama dengan Genius Local Wisdom, Desa, Kala, Patra. Mereka datang dengan berbasa basi, dengan sepenuh penghormatan, dengan ikut menghargai budaya yang tumbuh di masyarakat Hindu, dengan ikut mengenakan pakaian sopan dan pantas untuk memasuki pura, untuk bersembahyang.







"May I enter this temple to pray??" Ujar Mr. & Mrs. Bruener..... Tentu saja. Maka, kuberikan canang baginya, dupa, dan, kami berdoa bersama. Kenali dan hargai budaya dengan baik, maka kita bisa bertutur dengan baik pula mengenai budaya pada pihak lain. Dan jalin harmoni dengan beragam pihak yang ada, hingga bisa menebar kebaikan dan kebajikan dimana pun berada..... 






Dan, setelah bersembahyang, kami menikmati lungsuran bersama dalam kebersamaan. Siang hari di Pura Petitenget, Kerobokan.









Wisatawan mancanegara lain yang kutemui berujar "Nama saya Martina dari Perancis. Selalu menakjubkan mengenai budaya kalian. Saya mengaguminya, dan selalu ingin menjadi keluarga, menjadi bagian dari ini semua......." @Pantai Petitenget di siang hari. Kenali dan hargai budaya dengan baik, dan jalin harmoni dengan beragam pihak yang ada..... 


Hmmm, benar kata pepatah, bila ingin dihargai, maka terlebih dahulu kita harus menghargai diri sendiri, dan, tidak membiarkan orang lain meremehkan diri kita........













Melasti Sukra Umanis Ukir, 28 Maret 2014 (1)




Bapakku pernah bertutur.... "Bimbinglah anak-anakmu dengan baik selagi masih ada cukup waktumu, agar dia mampu memimpin dirinya sendiri dengan baik pula, agar dia jadi lebih baik darimu....". Ah, aku mungkin bukan seorang ibu yang baik dan bisa berikan yang terbaik bagi mereka, namun aku berjanji akan membimbing mereka semampuku dan sebisaku, bapakku sayang.......




Ibuku pernah berkata: Tidak mudah jadi seorang perempuan, pekerja, istri, dan seorang ibu. Tidak ada yg mudah di dunia ini. Namun bisa kita jalani jika mau, semoga akan selalu ada jalan mudah bagimu, anakku".
Ibu... Terkadang, hidup tidak hadir mudah bagiku. Tidak seperti impian dan anganku. Namun aku berjanji, terjatuh dan tersungkur, aku akan bangkit kembali berkali dan berkali.


Maka, kucoba membimbing mereka semua, anak-anakku, keluargaku, mengenali dan memahami jutaan makna kehidupan, baik suka dan duka, baik dan buruk, persahabatan dan kekerabatan yang ada.  Kami tinggal di tengah masyarakat desa ini, desa Padang Sambian Kelod. Mereka harus bisa beradaptasi dimanapun, kapanpun, dan, dengan siapapun mereka berada bersama. Dimana bumi dipijak, disana pula langit dijunjung, mengembangkan semangat spiritual, jiwa kebersamaan dalam menjalin harmoni, dan mengembangkan wawasan pengetahuan mereka seluas mungkin, untuk menjadi semakin bijak dan dewasa dari hari ke hari.....


Jum'at, 28 Maret 2014. Terjaga semenjak pukul 5 pagi, kutuntaskan urusan rumah tangga, dari memasak, mencuci, dan kemudian berangkat kerja seperti biasa. Kantorku terletak di Nusa Dua. Membutuhkan 45 menit berkendara di atas sepeda motor tuaku tercinta. Menuntaskan beberapa berkas bimbingan dari para murid, mengecek surat yang masuk, dan aku berpamitan untuk pulang lebih awal, karena aku ingin mengikuti rangkaian kegiatan melasti di desa dimana aku tinggal dan memiliki pondok mungil.








Ada beberapa anak tetangga yang ingin ikut serta. Maka, kami bersiap diri dan bergabung bersama rombongan. Pura Dalem Pejarakan Ulun Lencana,  Umadui. Banjar Jabapura, desa Padang Sambian Kelod. Kami bergerak perlahan di bagian belakang iringan rombongan jempana, kereta yang berisikan berbagai benda, simbol, perlambang, yang disucikan, dianggap keramat, disakralkan, oleh masyarakat penyungsungnya. Kami bergerak bersama menuju ke Pura Petitenget, Kerobokan.









Melasti kali ini jatuh pada hari Jum'at, Sukra Umanis Ukir, 28 Maret 2014. Udara panas di pagi hari ini tidak menyurutkan semangat mereka. Berjalan perlahan menuju Pantai Petitenget Kerobokan..... inilah Genius Local Wisdom, Indigenous Wisdom, Melasti, Melis, Melukat, dan, entah dengan beragam istilah lain, sebagai bentuk dari upaya membersihkan beragam pretima, benda yang disucikan, perlambang atau simbol yang dianggap sakral, menyucikan diri, menyucikan hati, sucikan pikiran, perkataan dan perbuatan kita semua.


Minggu, 23 Maret 2014

PKL 2014 STPNDB Prodi DIV ADH smt 6, 20 - 22 Maret 2014 (5)





Keesokan hari, Jum'at 21 Maret 2014.Hari ini adalah hari terakhir kami di Jawa.  Pukul 6 pagi hari waktu penunjukku, berarti pukul 5 pagi waktu Malang. Aku bersama Ibu Dra IGA Mirah Darmayanty, M.Si., telah selesai mandi. Kami bersiap sarapan pagi dan berkeliling sejenak dengan menggunakan becak. Anakku dan sahabat sekelasnya yang juga kelas 6 SD, Komang Mahesa, telah selesai mandi. Kami keluar kamar dengan membawa seluruh barang bawaan. Kubunyikan bel kamar 123 dimana berada ibu Dra. NLKS Sulistyawati, M.Par. berkali2, agar dia segera keluar dan menikmati Malang di waktu pagi hari. Barang kami titipkan di lobby hotel, sarapan sejenak, dan bersiap naik becak.





























Beberapa mahasiswa juga telah keluar kamar untuk sarapan pagi. Hujan gerimis yang turun tidak mengurangi niat untuk berbecak ria. Tidak lama, hanya 30 menit berbecak, namun tidak kutemui pasar atau warung oleh2 khas kota Malang yang buka. Hmmm, kami tidak cukup beruntung.

Well, kembali ke hotel di tengah hujan gerimis, rombongan kelas A dan C bersiap check out, dan kemudian bergabung dengan rombongan kelas B, bis kami kembali beriringan, kali ini menuju kota Batu, tujuan kami adalah kebun Apel.




















Setelah letusan Gunung Bromo beberapa waktu lalu, kawasan wisata apel sempat terpuruk. Debu setebal 3 sentimeter membuat ratusan ribu tanaman petani hancur. namun kini perlahan mereka mulai bangkit kembali.

satu jam setengah kami berada di kebun apel, menikmati makan dan memetik apel dari pohon langsung, membeli keripik dan madu apel, kemudian kembali menaiki bis, bergerak menuju Jatim Park 2, yang juga terletak di daerah Wisata Batu.



















































































































Memang, takkan pernah cukup waktu, bila kita menikmati sungguh, segala situasi dan kondisi yang ada...... Keceriaan dan kebahagiaan, terkadang terkalahkan dengan rasa lapar dan lelah yang terkadang mengganggu. Ahh..... tapi inilah perbedaan yang terkadang membuat kita mengembangkan sikap toleransi dan menjaga emosi di hati. Kebersamaan terkadang menuntut kesabaran dalam berjalan bersama...... Kita semua ber seratus, takkan mungkin membawa ego masing-masing, meski terkadang, ingin menikmati sepuasnya demi kebahagiaan diri sendiri.....

Hari ini, dari mbecak di pagi hari, ke kebun apel, ke Jatim Park 2, keluyuran di Matos, dan akhirnya, kami harus bergerak meninggalkan Jawa Timur, menuju pulau Bali. Pukul 8.30 malam waktu mBali, bis kami bergerak menyusuri Pantura, kembali beristirahat di Ruman Makan Bromo Asri, mandi dan beristirahat sejenak. kembali jalan pada pukul 11 malam. Hingga tiba di pelabuhan Ketapang pukul 3 pagi hari Sabtu, 22 Maret 2014.































Hujan angin di sertai puting beliung sempat membuat pelabuhan Ketapang Gilimanuk ditutup pada pukul 10 pagi hingga pukul 4 sore hari 21 Maret 2014. Ferry kami tidak bisa mendarat berlabuh di sandaran pelabuhan Gilimanuk. Kami harus menyusuri bebatuan di pinggir pantai, dibantu naik ke atas jalan di pinggir pelabuhan.. Namun bersyukur semua baik2 saja. Kami tiba kembali di Bali. Waktu menunjukkan pukul 9 pagi, saat bis kami tiba di luar terminal bis Ubung, dan kembali melanjutkan perjalanan menuju ke Nusa Dua.....

Waktunya beristirahat dan tepar??? Ahh.... tidak ada waktu untuk bersantai. Kubongkar seisi pakaian kotor. Sebanyak 2 ember besar cucian langsung di cuci bersih dan dijemur berderet rapi di tiang penjemuran. Suami dan para pria di perum kami sibuk mempersiapkan piodalan di pura jagatnata di bagian utara perumahan. Aku bersembahyang di rumah, hari ini adalah Tumpek Landep, hari dimana kami umat Hindu mengupacarai berbagai peralatan yang dianggap telah berjasa bagi kelancaran pelaksanaan tugas dalam keseharian kami. Sebagai tanda sujud kami pada Tuhan yang telah mempermudah hidup kami, sebagai tanda kami bersyukur atas hidup dan segala berkah yang kami terima. Kemudian aku segera bergabung dengan para perempuan untuk turut terlibat pula.