Minggu, 31 Januari 2016

'Coz you're not alone in this world..... Outboundnya Dharma Wanita STPNB di Bedugul, 31012016







‘Coz you’re not alone in this world. We’re never alone…..




Wanita...... adalah keindahan tiada bertepi. Pria...... adalah kewibawaan pembawa keteduhan jiwa. Pimpinan, bawahan, rekan kerja, pegawai, dosen. Sinergi yang menghasilkan harmoni apik kita semua dalam kehidupan.

Terima kasih, para supir. Terima kasih, setiap orang, siapa pun mereka, yang sudah tentu berperan dalam keberhasilan kita melaksanakan beragam aktivitas bersama..... Sinergi indah tidak pernah tercipta dari satu orang belaka.

Waktu S'Bucks alami kejadian di salah satu cabang resto mereka di Jakarta baru2 ini.... owner nya langsung datang dan mengumpulkan banyak staf, berbicara langsung pada mereka untuk memberikan dukungan moril menghadapi situasi yang membuat dunia mengamati mereka....

Waktu sopir kami mengalami kejadian baru2 ini...... pihak manajemen juga berbicara dengan para sopir, melakukan banyak koordinasi yang terbaik yang mungkin dilakukan, memberikan dukungan moril bagi mereka semua......

Terima kasih, pihak manajemen. Terima kasih, para sopir. Terima kasih banyak pihak yang mau dan mampu selalu memperlihatkan kinerja maksimal ......



‘Coz you’re not alone in this world. We’re never alone.....

......karena, teriring kekuatan besar, datang pula tanggungjawab besar........

Minggu, 24 Januari 2016

Work Place Asessment & Upgrading Asesor Kompetensi




Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali merupakan lembaga pendidikan yang selalu berusaha mengembangkan kualitas manajemen, tenaga pengajar dan pegawai, juga para mahasiswa. Sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas tersebut, Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali telah memiliki lembaga Sertifikasi Profesi Partisipasi 1, semenjak tahun 2009.



Sesuai dengan visi, misi dan tujuan STPNB, maka pihak manajemen dengan di dukung para dosen, pegawai dan para mahasiswa selalu berupaya meningkatkan kualitas kompetensi masing-masing. Sebagai salah satu bukti kualifikasi kompetensi adalah sertifikat kompetensi. Sertifikasi kompetensi merupakan pengakuan kompetensi seseorang atas prestasi dan kinerja, baik dalam hal pengetahuan, sikap dan ketrampilan.



Sertifikasi kompetensi juga merupakan kelulusan yang sesuai dengan keahlian dalam cabang ilmunya dan/atau memiliki prestasi di luar program studinya pada STPNB. Sertifikat diterbitkan oleh perguruan tinggi bekerjasama dengan organisasi profesi, lembaga pelatihan, atau lembaga sertifikasi yang terakreditasi kepada lulusan yang lulus uji kompetensi. Sertifikat kompetensi seperti disebutkan di atas dapat digunakan untuk memperoleh pekerjaan tertentu. Terkait dengan hal tersebut sangat perlu dikembangkan seluruh sumber daya termasuk sumber daya manusia (SDM) dalam hal ini perlu adanya asesor kompetensi yang kompeten dan profesional.



Komitmen pihak manajemen STPNB beserta pihak pengurus LSP P1 STPNB ini diperlihatkan dengan diselenggarakannya Work Place Asessment pada hari Senin s/d Jum’at, 18 s/d 22 Januari 2016, bagi para pengajar yang belum memiliki sertifikasi kompetensi sebagai seorang Asesor, dan Upgrading Asesor Kompetensi pada hari Kamis dan Jum’at, 21 dan 22 Januari 2016, bagi para pengajar yang telah memiliki sertifikasi kompetensi sebagai seorang asesor. Dengan demikian, diharapkan para pengajar di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali mampu mengembangkan wawasan pengetahuan, sikap dan ketrampilan sebagai seorang asesor yang valid, aktual dan terkini, asli, mampu diandalkan.



Work Place Asessment diikuti oleh 19 orang tenaga pengajar, dan Upgrading Asesor Kompetensi diikuti oleh 65 orang tenaga pengajar, bertempat di Golden Tulip Essential, Denpasar. Dibuka oleh Pembantu Ketua IV, IGA Dewi Hendriyani, S.St.Par., M.Par, dihadiri oleh Ketua Komisi Sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi, Ir. Drs. Asrizal Tatang, pihak LSP Par., Dr. Nyoman Teja Nandiana, Bersama para Master Asesor, IGN Windha, I Gede Widjana, Dr. Tiny Agustini Koesmawati.

Banyak hal yang dikupas, dibahas dan dianalisis dari beragam sudut pandang, sekaligus diaplikasikan oleh para peserta terkait bidang kompetensi masing-masing. Hal ini memperlihatkan bahwa, suka atau tidak, mau atau tidak, siap atau pun tidak, kita tidak akan pernah bisa terbebas dari tuntutan selalu memperbaiki kualitas diri dalam menghadapi persaingan, yang disesuaikan dengan ragam budaya masing-masing.



Adanya masa transisi dari apa yang dahulu dikenal sebagai TAA, dan kini menjadi SKKNI, memberikan gambaran bahwa dinamisasi yang terjadi adalah upaya mengadopsi nilai-nilai potensial yang berasal dari luar, di adaptasikan sehingga sesuai dan tepat dengan situasi dan kondisi yang ada di Indonesia, dan pas dengan nilai-nilai luhur budaya Indonesia sendiri, agar bisa diterapkan, di aplikasikan dalam berbagai ruang kehidupan, khususnya yang terkait dengan kompetensi sebagai orang yang bersentuhan dengan dunia pariwisata (ADAPT, ADOPT, APPLY)

Jumat, 01 Januari 2016

The Story Behind The Scene : Ramah Tamah 2015





Bahagia itu sederhana….
 

Namun, butuh waktu lama untuk menyadarinya. Bahagia itu sederhana. Hanya dengan selalu berusaha menghargai diri sendiri, menghargai orang lain di sekeliling kita, dan mencintai Tuhan.

Seiring waktu berjalan, sudah 20 tahun kami berkumpul bersama di perumahan ini. Kami besarkan anak-anak kami bersama di sini, melakukan aktivitas bersama pula, tempat bernaung kami dengan segala situasi dan kondisi yang menyertainya. Bukan waktu yang sedikit untuk mengenal, memahami, dan berinteraksi dengan sesame warga.

Pelaksanaan kegiatan Ramah Tamah di hari terakhir tahun 2015 ini juga sudah kami rencanakan semenjak awal bulan. Dari menyusun rencana berkumpul bersama, mengisi dengan beragam acara, berbagai lomba, pertandingan, kegiatan menari bersama, dan berkumpul bersama pada hari Kamis, 31 Desember 2015. 

Sudah tentu, menyatukan hampir seratusan KK dengan anggota keluarga, mulai dari yang belum bisa berjalan karena baru berumur beberapa minggu, yang balita, masih SD, SMP, SMA, masih kuliah, sudah bekerja, hingga para pensiunan, tidaklah gampang. Butuh kesabaran dan kesadaran dalam merangkai kebersamaan.

 

Aku sebenarnya bukanlah guru tari. Bahkan, menari pun tidak becus. Namun, dengan semangat berjuang, belajar dari mbah google, minta bantuan Adi meng cut tari Pendet yang aselinya 15 menit menjadi 5 menit saja, sampai ikut menari mendampingi para penari cilik saat pentas, kulakukan demi keberanian mereka untuk tampil menari di depan umum.

Termasuk di saat mereka telah sepakat menari Pendet, ternyata satu penari ngambul dan bersikukuh untuk menari Manuk Rawa. Dan menjelang pentas, ada penari cilik yang menolak didandani oleh bu Dayu Puspaadi, karena hanya mau menunggu tantenya yang baru pulang kerja pukul 7 malam, sedangkan kami sudah mulai pentas pukul 7 malam.

Bahkan, saat acara sedang berlangsung pun, kami harus sigap sekaligus menjadi MC, merangkap para pengasuh anak-anak yang sibuk berlarian kian kemari, memenuhi tempat pentas, sibuk memilih sendiri hadiah yang mereka inginkan dan menolak hadiah yang diberikan panitia, hingga mencari juri dadakan bagi lomba tumpeng ibu-ibu warga perumahan.

Saat pelaksanaan berbagai jenis lomba juga butuh kesabaran tersendiri. Waktu yang telah ditetapkan mulai lomba pada pukul 9 pagi hari Sabtu dan Minggu, 27 – 28 Desember 2015, mundur menjadi pukul 10, menunggu para Laskar Pelangiku ini bangun tidur dalam suasana libur panjang mereka. Jenis lomba yang bisa berubah-ubah juga membutuhkan kreativitas tersendiri. Dari yang ketiadaan karung lomba balap karung, hingga tarik tambang antar para balita yang akhirnya dibantu oleh para emaknya. Dari para perempuan cilik peserta lomba yang pemenangnya sebagian besar orang yang sama sehingga aku harus melakukan sedikit kelicikan kecil, melarang perempuan cilik pemenang berkali2 lomba untuk ikut lomba lagi. Hehehe…..

Well….
Inilah seni nya kita tinggal dalam suatu lingkungan permukiman. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita diminta beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ada begitu banyak perbedaan, namun bukannya tidak mungkin untuk menjadikan perbedaan tersebut suatu hal yang mewarnai kehidupan kita, dan belajar dari pengalaman yang sudah ada.

Kisah Cinta Tentang Angga






I Dewa Made Angga Sujaya Putra


Kisah yang takkan pernah musnah adalah kisah tentang cinta. Cinta orangtua sejati terhadap anak-anaknya hingga rela berjuang melakukan yang terbaik. Cinta yang terkandung dalam persaudaraan dan persahabatan. Cinta yang dilakukan dalam setiap perkataan juga perbuatan setiap umat manusia.


Dan, kisah tentang cinta itu juga terwujud dalam perjuangan I Dewa Made Angga Sujaya Putra. Sejak divonis mengidap tumor paru-paru berdasar hasil pemeriksaan para dokter, rontgen, dan CT Scan terakhir pada tanggal 13 Desember 2015, keluarganya berupaya memberikan yang terbaik yang bisa dilakukan demi kesembuhannya. Termasuk dengan operasi pengangkatan tumor sebesar 13,5 cm pada tanggal 19 Desember 2015 sore hari.


Namun, Ida Sang Hyang Widhi Wasa berkehendak lain. Kisah cinta tentang Angga berjalan dalam takdirNya. Tanpa pernah tersadar dari tidur panjang semenjak operasi berlalu, I dewa Made Angga Sujaya Putra meninggal dunia. Amor ring acintya. 

 

Meninggal pukul 21.15 malam, hari Senin, 28 Desember 2015, di RS Kasih Ibu, yang terletak di jalan Teuku Umar, Denpasar. Kamar 206 yang telah disiapkan baginya pasca operasi takkan pernah ditempati, karena tumor paru-paru stadium 3 telah menggerogoti bagian tubuh, menjalar hingga jantung, hati dan ginjal. 


Cinta itu juga terlihat pada banyaknya kerabat dan sahabat yang menghantarkan Dewa Made Angga berupa doa, datang disaat ia dirawat dirumah sakit atau di crematorium, dan deretan karangan bunga duka, baik dari rekan-rekan For Bali, Alumni SD SLUB Saraswati, Alumni SMP SLUB Saraswati, SMK Pariwisata Triatma Jaya, dan para tetangga.


Di semayamkan di RS Sanglah semenjak Senin, kremasi  dilaksanakan pada hari Kamis, 31 Desember 2015, pagi hari di krematorium yang terletak di Cekomaria.

 
Berangkatlah, Angga sayang. Berangkatlah bersatu dengan Sang Pencipta. Berangkatlah bersama cinta kedua orangtuamu terkasih, I Dewa Gede Sudiastawan Putra dan Jero Mahastiti, juga adikmu, Berangkatlah bersama cinta para kerabat, keluarga besar, dan sahabat, juga lingkunganmu. Berangkatlah bersama doa kekasihmu yang kulihat setia mengiringi setiap jejak langkahmu. Karena cinta takkan pernah berakhir, karena cinta akan selalu ada, terus bertumbuh dan berkembang, meski dalam rupa berbeda.


Senin, 07 Desember 2015

Kupang, I'm coming. 2-4 Desember 2015





Begitu mendapat mandat untuk berangkat ke Kupang, aku segera mempersiapkan diri. Menjadi narasumber bagi para pengelola Desa Wisata yang ada di Kupang, menghantarkan materi Revolusi Mental. Seumur hidup belum pernah menginjakkan kaki di bumi Kupang, namun, bila panggilan hati nurani dan Negara memanggil, maka, aku akan berusaha memberikan yang terbaik yang ku bisa.

Hari ini hari raya Pagerwesi, aku telah bersembahyang bersama anggota keluarga di pagi hari. Si sulung berangkat kerja, si bungsu sedang bermain bersama sahabatnya, suami sedang paruman bersama warga perum. Setelah berpamitan, aku berangkat dengan mengendarai motor si putih nyonya tua, meluncur menuju Bandara Ngurah Rai. Parkir di gedung parkir berlantai dua, lalu bergerak ke terminal keberangkatan dengan pesawat GA 438 pukul , tiba di bandara El Tari Kupang pada pukul 12.10. Tanpa membuang waktu, kuminta supir yang menjemputku untuk bergerak menuju Pura Oebananta, untuk bersembahyang disana.


Pura Oebananta terletak di daerah Oeba, di tepi Pantai Pasir Panjang.Untuk tiba di Pura Oebananta, kita harus melalui Pasar Oeba. Pasar Oeba terkenal sebagai pasar ikan yang terbesar di Kupang. Di pasar ini tidak hanya menjual ikan hasil tangkapan nelayan Kupang, namun juga sayur mayor, buah-buah an, bahan pangan lain, serta pakaian yang diperdagangkan disini.



Di Kupang terdapat banyak pantai yang menarik. Jika Pasar Oeba terkenal sebagai pasar ikan terbesar yang terletak di Pantai Pasir Panjang, maka Pasar Nunsui dikenal sebagai pasar ikan di tengah laut, dimana para pedagang mencegat para nelayan yang baru kembali dari menangkap ikan di tengah laut. Pasar Nunsui serupa dengan pasar terapung yang berada di Kalimantan Selatan. Pasar Nunsui terletak di dekat pantai Nunsui, sekitar 12 km dari pusat kota Kupang.


Data BPS NTT memperlihatkan, 190 ribu dari 4,6 juta penduduk Kupang berprofesi sebagai nelayan. Dengan jumlah tersebut, rata-rata hasil tangkapan ikan nelayan Kupang bisa mencapai 388.000 ton/ tahun. Tak heran jika berkunjung ke Kupang, para wisatawan selalu disajikan berbagai kuliner khas pesisir, salah satunya berpusat di pasar Solor yang terkenal dengan sajian ikan bakarnya.


Cukup 1 jam berada di Pura, kuajak supir yang bersamaku menikmati Se’I di Resto Aroma. Kami mencoba Se’I Babi dengan sayur daun ubi lembut yang disiram kuah santan. 

 

Daging se’I merupakan daging asap sebagai makanan khas yang berasal dari propinsi Nusa Tenggara Timur. Daging asap diolah dengan menggunakan kayu bakar yang berjarak jauh dari makanan, sehingga yang mematangkan olahan makanan tersebut bukan api, melainkan asap panas dari kayu bakar. Se’I bisa berupa daging sapi, daging babi, juga daging ikan. Se’I bisa dimakan langsung dengan mengiris tipis. Namun bila sudah disimpan selama beberapa hari, maka harus digoreng kembali, atau dimasak dalam tumisan sayur mayur.



Waktu sudah menunjukkan pukul 15.15 sore ketika aku tiba di Hotel On The Rock, di pinggir pantai Oesappa. Hotel yang berada di bawah manajemen Prasanthi ini merupakan hotel bintang  3 dan memiliki 84 kamar. Aku mendapatkan kamar 229, berhadapan dengan jalan Timor Raya, dimana banyak angkot berseliweran yang memudahkan mobilitas murah ke berbagai tempat tujuan di Kupang. Selesai meletakkan ransel berisi laptop dan berkas materi, aku bergerak menuju ruang Jasphire, tempat diklat sedang berlangsung. Kulihat Pak Cecep, dari Kementerian Pariwisata, sedang menyampaikan materi mengenai hygiene dan sanitasi peralatan yang dipergunakan dalam dunia pariwisata. Ada tiga narasumber dalam diklat Pembekalan bagi Para Pengelola Desa Wisata di Kupang, yakni Pak Djinaldi Gosana, Pak Cecep Tomi, dan aku sendiri. Diklat diadakan dari tanggal 1 – 3 Desember 2015. Aku baru akan menyampaikan materi pada hari terakhir, yakni Kamis, 3 Desember 2015. 



Pada Diklat ini terdapat 40 orang peserta, yang berasal dari 5 Desa Wisata yang ada di Kupang, meliputi Batunona, Goakristal, Aercina, Lasiana, Kolbano, Tablolong.




Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Kupang adalah seorang perempuan, yakni Dra Ester Muhu. Beliau menjelaskan di Kupang, Jumat (20/11/2015), kota Kupang memiliki empat desa wisata, yakni Lasiana, Penfui, Mantasi dan Manutapen. Muhu menambahkan  pengembangan desa wisata ini disesuaikan dengan kondisi desa masing-masing, misalnya di Lasiana ada sanggar tari dan warga sudah dilatih untuk membuat cenderamata, di Kelurahan Manutapen ada sentra tenun ikat dan ada kuburan Taebenu, dan di Penfui ada Tugu Jepang.


Gubernur Nusa Tenggara Timur, Frans Lebu Raya, tanggal 2 Mei 2015 menjelaskan target 2018 akan terdapat 273 desa wisata di NTT sebagai realisasi komitmen pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat NTT, khususnya yang ada di pedesaan (http://www.beritasatu.com/nasional/270583-ntt-targetkan-capai-273-desa-wisata-sampai-tahun-2018.html)


Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Timur, Marius Ardu Jelamu, di Kupang mengatakan, hingga 2014 lalu NTT baru mempunyai 73 desa wisata. "Penambahan jumlah desa wisata merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat NTT, khususnya yang ada di pedesaan. Karena itu pemerintah berkeyakinan bahwa desa wisata akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Secara otomatis, langkah ini akan menjadi lokomotif untuk menggerakkan sektor lainnya," lanjutnya.


Desa-desa wisata saat ini antara lain desa wisata Wae Sano, Cunca Lolos, dan Liang Dara di Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai. Kemudian desa wisata Labuan Bajo, Komodo, Pasir Panjang, Desa Batu Cermin di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Selanjutnya Desa Satarlenda, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai dan Desa Nangalabang, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, serta desa wisata perkampungan tradisional Bena di Kabupaten Ngada dan perkampungan tradisional Boti di Kabupaten Timor Tengah Selatan.


Berikut Desa Oebelo dengan obyek wisata pembuatan alat musik tradisional Sasando dan Oelnasi dengan obyek wisata agro dan pemancingan serta Desa Manusak dengan obyek wisata agro dan wisata alam di Kabupaten Kupang. Selanjutnya desa Lede Unu dengan obyek wisata perkampungan adat dan Desa Kujiratu dengan obyek wisata situs Kujiratu di Kabupaten Sabu Raijua, Desa Maritaing dengan wisata alam dan bahari serta Desa Marisa dengan obyek wisata bahari di Kabupaten Alor.


Pada Kabupaten Lembata terdapat empat desa wisata yang juga mendapat dukungan program desa wisata yakni, Desa Atawai di Kecamatan Nagawutung dengan obyek wisata air terjun Lodowawo, Desa Atakore dengan dapur alam budaya, Desa Lamalera dengan obyek wisata penangkapan ikan paus secara tradisional dan Desa Laranwutun dengan wisata bahari.


Desa-desa wisata tersebut terdapat pada 46 kecamatan yang ada di 22 kabupaten/kota di NTT, dimana persoalan infrastruktur menuju desa-desa wisata juga menjadi program lintas satuan kerja perangkat daerah (SKPD).


Hal ini memperlihatkan gambaran bahwa pembangunan dan pengembangan desa wisata tidak bisa berjalan sendiri atau terpisah. Ini semua membutuhkan kemampuan berkomunikasi dan menjalin kerjasama antar lintas sektoral, lintas departemen, Pembangunan jalan dan jembatan ataupun infrastruktur lainnya seperti air bersih pada obyek-obyek wisata bukan domain Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Pembangunan infrastruktur merupakan tugas dan tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum, baik di provinsi maupun kabupaten/kota. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, dalam APBD tahun anggaran 2014 mengalokasikan dana hibah sebesar Rp 2,5 miliar untuk mendukung program desa wisata di provinsi kepulauan itu. Dana tersebut disalurkan kepada 50 desa wisata, masing-masing desa mendapat alokasi dana sebesar Rp 50 juta, yang dimanfaatkan untuk mengairahkan usaha-usaha ekonomi masyarakat yang bermukim di desa-desa wisata. Dana tersebut juga dimanfaatkan untuk membantu kelompok masyarakat pada desa-desa wisata untuk pemberdayaan ekonomi, yang berhubungan langsung dengan sektor kepariwisataan.




Well, sudah tentu kebijakan pemerintah yang bersifat positif bagi pembangunan dan pengembangan masyarakat secara luas ini harus didukung dan dilaksanakan setiap jajaran dan jejeran dari atas hingga ke bawah. Maka, implementasi ini membutuhkan kemauan dan kemampuan kita semua untuk bergerak. Revolusi mental bukanlah basa-basi, dengan revolusi mental yang kita mulai dari diri sendiri, secara bersama-sama, demi kemajuan Desa dan masyarakatnya, khususnya di Desa-Desa Wisata, maka seluruh sumber daya alam dan sumber daya manusia akan mampu bereksplorasi secara maksimal.


Materi ini yang kubawakan pada mereka, para peserta diklat Pembekalan bagi Para Pengelola Desa Wisata di Kupang, yang diadakan dari tanggal 1 – 3 Desember 2015


Pukul 14.15 siang, Kamis tanggal 3 Desember 2015, kuakhiri materi yang kusampaikan. Dan kami berfoto bersama. Sebagian peserta meminta kesediaanku untuk mengunjungi Desa Wisata dimana mereka berada. Maka, setelah kuletakkan ransel berisi barang-barang kerja di kamar, berganti mengenakan celana panjang, topi, dan ransel mbolang, aku keluar dari lobby hotel, berjalan menuju jalan raya, naik angkot menuju ke Pantai Lasiana.



Aiihhh, naik angkot di daerah yang belum pernah kukunjungi?? Hmmm, knapa mesti takut sejauh kita yakin dan berani bertanya agar tidak tersesat di jalan. Membayar Rp 4.000,- aku turun di jalan masuk menuju Pantai Lasiana. Mobil tidak bisa lewat karena sedang ada pengurukan jalan. Aku sempat narsis dengan menaiki backhoe yang sedang bekerja. “Saya pak Martin dari Kefamenanu” Ujarnya saat menjelaskan pekerjaannya tersebut.


Di pantai Lasiana kujumpai ibu Mariana, Ibu Hendrik, dan ibu Pasoleh yang juga menjadi peserta diklat kami. Tak lama kemudian, bergabung bersama kami, ibu Diah Kartika bersama teman-teman dari Kementerian Pariwisata, juga dari Dinas Pariwisata Kota Kupang. Kami menikmati kelapa muda, pisang gepe bakar disiram gula enau, madu dan kacang tabur buatan ibu Mariana. Berjalan menyusuri tepi pantai, dan saling bercanda bersama.


Pantai Lasiana memiliki bentang panjang 5 km dengan pasir putih yang landai. Pantai Lasiana lebih sempit dengan batu karang. Sedangkan Pantai Oesappa lebih lebar dengan adanya jalan lebar yang telah ditata pemerintah tepat di pinggir pantai. Di Pantai Lasiana juga terdapat banyak deretan tanaman enau, atau sabuak, buahnya dikenal dengan nama buah siwalan. Torehan ujung tunas bunga enau yang dipotong akan menghasilkan air tuak dan ditampung dalam jerigen. Air tuak merupakan minuman khas NTT dengan kadar alkohol tinggi yang memabukkan. Air tuak yang diolah lagi disebut dengan Sofi. Sofi memiliki nilai jual tinggi yang lebih mahal dari tuak.  





Selesai dengan aktivitas bersantai di pantai Lasiana, kami mampir ke pusat oleh-oleh bu Soekiran, sebelum kembali ke Hotel On The Rock. Menikmati makan malam di bawah naungan awan gelap pinggir pantai Oesappa dari resto hotel, dengan cahaya kilat saling menyambar, dan kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Sempat pula berkenalan dengan ibu Lenny Subroto, yang sedang menikmati makan malam bersama keluarga. Ibu cantik ini penggemar kain dari berbagai penjuru nusantara. Kami sempat berdiskusi tentang ragam budaya, mulai dari kain songket, makanan khas berbagai daerah, nasi goring porsi raksasa yang kupesan, dan bahkan bernyanyi lagu bali, Bungan Sandat, bersama-sama.






Aku juga sempat berkenalan dengan mBak Yulita, dari tim Trans 7 yang sedang mengeksplorasi Sasando dan Tilangga dari desa Oebelo, dan bu Indri dari Kementerian Perhubungan yang juga bepergian sendirian dalam rangka tugas ke Kupang, selama 3 hari.

Perempuan, adalah pilar utama keberhasilan negeri ini. Karena perempuan membawa garis kebijakan dan kedamaian di setiap jejak langkah yang dia lakukan. Aku percaya, perempuan bisa membawa angin segar di setiap aktivitas yang dilakukannya……



Hari Jum’at, 4 Desember 2015, pukul 7 pagi, kami berangkat bersama menuju bandara El Tari Kupang. Ibu Diah Kartika bersama teman-teman bergerak menuju Jakarta dengan pesawat Batik Air pukul 8.30. Aku bersama pesawat GA 443 D menuju Denpasar. 



Kupang….. sebuah cerita cinta tentang pengabdian, dengan semangat melayani diri sendiri, melayani orang lain, melayani banyak orang….. Aku akan kembali lagi, suatu saat nanti.