Minggu, 07 Januari 2018

Pura Samuan Tiga, Doa, Cinta, Bersama kita Bisa. 7 Januari 2018





Pura Samuan Tiga, Minggu, 7 Januari 2018. Mengapa harus Pura Samuan Tiga? Sudah beberapa kali tertunda, fokus pada kegiatan lain dan juga tempat lain. Namun, kali ini, kami bisa berkumpul disini, bersama, meski tidak semua. 

Lontar Kutaca Kanda Dewa Purana Gangsul menjelaskan bahwa pada masa itu terdapat sebuah tempat suci yang bernama Kahyangan Samuantiga, dimana para Dewa dan Dewata, Bhatara dan Bhatari, Para Rsi Pandita mengadakan pertemuan, musyawarah, mempersatukan pandangan demi kebaikan di masa yang akan datang.

Pertemuan penting (ika maka cihna mwah genah), musyawarah tokoh penting terkait suatu sistem pemerintahan pada masa Bali Kuna, di masa pemerintahan Raja suami istri Udayana Warmadewa, bersama permaisuri Gunapriyadharmapatni, yang memerintah sekitar tahun 989 – 1011 Masehi. 



Pada Babad Pasek disampaikan bahwa : “…. Dahulu kala, pada saat bertahtanya Cri Gunapriyadharmapatni dan suaminya, Udayana Warmadewa, ada musyawarah besar Ciwa Budha dan Bali Aga. Itulah asal mulanya ada desa pekraman dan Kahyangan Tiga sebagai rujukan kehidupan pada masing-masing Desa Bali Aga…..”

Berdasar kedua lontar tersebut, jelas bahwa pertemuan dan musyawarah para tokoh agama di Pura Samuan Tiga pada masa pemerintahan Guna Priyadharmapatni dan Udayana telah berhasil mempersatukan berbagai pendapat, memutuskan suatu kemufakatan, untuk penerapan konsepsi Tri Murti, melalui Desa Adat / Pekraman, dengan Kahyangan Tiganya. 

Suksesnya pelaksanaan musyawarah ini dalam menghasilkan suatu keputusan bijak bagi perkembangan agama Hindu di Bali, secara tradisional, diyakini tidak terlepas dari peranan penting tokoh legendaries Mpu Kuturan sebagai senopati dan pemimpin lembaga majelis pemerintahan pusat yang diberi nama Pakira-kiraan Ijro Makabehan, sehingga situasi dan kondisi sosial keagamaan dapat berjalan secara kondusif, dan kehidupan bermasyarakat berjalan secara tentram.



Pura Samuan Tiga dahulu bernama Pura Gunung Goak, karena letaknya di pegunungan atau dataran tinggi. Pura ini lah yang dipilih dan dijadikan tempat pertemuan dalam rangka menyatukan pandangan akibat terpecahnya Bali menjadi sembilan sekte atau aliran di kala itu.

Pemangku Pura Samuan Tiga, Gusti Ngurah Mudrana, awal Desember 2017 (https://www.jawapos.com/baliexpress/read/2017/12/06/31665/pura-samuan-tiga-muasal-adanya-desa-pakraman-dan-mempersatukan-sekte) menjelaskan, pada abad X masehi, terjadi perselisihan di tengah masyarakat Bali yang menyebabkan keresahan di tengah masyarakat. 

Ada sembilan sekte yang berkembang pada masa itu. Sekte-sekte tersebut adalah Pasupata, Bhairawa, Siwa Sidhanta, Waisnawa, Bodha, Brahma, Resi, Sora dan Ganapatya. Masing-masing sekte memuja Dewa-Dewi tertentu sebagai istadewata (Dewa Utama) dengan simbol tertentu. Penganut setiap sekte berkeyakinan bahwa istadewata merekalah yang paling utama di antara dewa yang lain. Keyakinan sektarian itu mengakibatkan benturan konflik dan ketegangan antar-sekte. Hal ini berpengaruh terhadap stabilitas  kerajaan dan masyarakat.

Menyadari hal itu, raja suami-istri Gunapriyadharmapatni dan Udayana berusaha mengatasinya dengan mengundang tokoh-tokoh spiritual dari Bali dan Jawa Timur (Gunapriyadharmapatni adalah putri raja Makutawangsawardhana dari Jawa Timur) untuk mencari jalan keluar gejolak antar-sekte ini.

Pada waktu itu di Jawa Timur ada lima pendeta bersaudara. Ke-lima pendeta bersaudara tersebut kerap dijuluki Panca Pandita atau Panca Tirta. Mereka adalah Mpu Semeru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan, Mpu Gnijaya dan Mpu Bharadah. Empat di antara kelima pendeta tersebut didatangkan ke Bali secara berturut-turut, yaitu:

1.      Mpu Semeru datang di Bali pada tahun saka 921 (999 M) berparhyangan di Besakih.
2.      Mpu Ghana datang pada tahun saka 922 (1000 M) berparhyangan di Gelgel.
3.      Mpu Kuturan datang pada tahun saka 923 (1001 M) berparhyangan di Silayukti, Padangbai.
4.      Mpu Gnijaya datang pada tahun saka 928 (1006 M) berparhyangan di Lempuyang (Bukit Bisbis).

Mpu Kuturan yang berpengalaman  sebagai kepala pemerintahan di Girah dengan sebutan Nateng Girah, oleh Gunapriyadharmapatni diangkatlah beliau sebagai senapati dan sebagai Ketua Majelis Pakira-kiran I jro Makabehan. 

Melalui posisi yang dipegang itu, Mpu Kuturan melaksanakan musyawarah bagi sekte keagamaan yang berkembang di Bali bertempat di Pura Penataran kerajaan. Pada masa itu, setiap kerajaan di Bali memiliki tiga pura utama: Pura Gunung, Pura Penataran (di pusat kerajaan) dan Pura Segara (laut). Musyawarah tersebut berhasil menyatukan semua sekte untuk penerapan konsepsi Tri Murti yaitu kesatuan tiga manisfestasi Tuhan (Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa) dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan. 



Konsepsi "three in one" ini (aryapengalasanblogspot.com) berlaku di seluruh Bali dan menghapuskan dominasi satu sekte terhadap sekte lainnya, meskipun belakangan sekte Siwa Sidhantalah yang tampil dominan. Penyatuan ini serupa dengan apa yang dilakukan oleh Mpu Kuturan di Jawa dengan mendirikan Candi Loro Jonggrang (Prambanan) yang memuja Dewa Brahma, Wisnu dan Ciwa. 

Konsep Tri Murti yang diperkenalkan oleh Mpu Kuturan kemudian diterapkan dalam pola Desa Pakraman dengan pendirian pura Kahyangan Tiga yakni Pura Desa (Brahma), Pura Puseh (Wisnu) dan Pura Dalem (Siwa) pada setiap desa. Bagi setiap keluarga, diterapkan pembangunan Sanggar Kamulan Rong Tiga (tempat pemujaan dengan tiga pintu).

Ini yang menjadi pitenget bagi siapapun, bahwasanya, harmoni akan tercipta bila didasari dengan niat tulus dalam diri setiap insani, pemahaman mendalam terhadap latar belakang sejarah, saling menghargai satu sama lain, dan aplikasi nyata dalam berbagai aspek kehidupan. Karena.... bukankah, setiap orang memiliki peranan dan fungsi nya masing-masing yang akan saling melengkapi satu sama lain. Pedagang, penyanyi, nelayan, guru dan murid, pemimpin dan rakyat, penguasa dan pengusaha, tokoh spiritual dan umat. Semua sama penting dan mulianya.

Untuk memperingati peristiwa penting tersebut maka tempat dimana terjadi musyawarah tersebut, yakni Pura Penataran kerajaan tersebut, diberi nama Pura Samuantiga. 

Pura Samuan Tiga terdiri dari tujuh mandala, Pertama di Pura Beji sebagai tempat berstananya Bhetara Wisnu, memohon penglukatan dan membersihkan diri, berikutnya Palinggih Agung Sakti sebagai tempat berstananya Ganesha, Dewa Kemakmuran, Palinggih Ratu Agung Panji, Palinggih Ring Lumbung sebagai tempat berstananya Bhatara Segara dan Sedana, yang menganugerahkan kesejahteraan bagi setiap pemedek, terakhir, Mandala Pesamuan.

Pengemong Pura Samuan Tiga terdiri atas lima desa pakraman, yaitu Desa Pakraman Bedulu, Wanayu Mas, Taman, Tangkulak Kaja, dan Tangkulak Tengah.

Maka, bila resah dan gelisah, konflik batin melanda, perselisihan mengancam persatuan dan kesatuan, setangkup doa berpijar dari Pura Samuan Tiga di sertai niat suci dan tulus juga semangat kebersamaan kita, semoga damai terpelihara senantiasa, di hati, juga di bumi, bagi semesta…….

Sumber Referensi :



Minggu, 24 Desember 2017

Linda Anugerah dan Metatah Massal, 23 Desember 2017





Ibu Linda Anugerah adalah perempuan biasa, sama seperti kita semua. Namun memiliki semangat luar biasa, kemauan luar biasa, yang menggerakkan semua kemampuannya demi kemanusiaan. Ibu Linda Anugerah adalah perempuan biasa, namun memiliki cinta kasih yang luar biasa, yang membuatnya mencurahkan pikiran, perkatan dan perbuatan, demi kemanusiaan. Maka, kita juga bisa menjadi orang-orang luar biasa, yang membuat kita lahirkan banyak karya pula, dengan semangat kreativitas, dengan teriring doa, dengan cinta kasih, bagi banyak orang di dunia…….

Pak Wayan Sura Bela yang anak keduanya, Madhu, ikut serta menjadi peserta metatah di Taman Pancasila Kertalangu pada hari Minggu, tanggal 23 Desember 2017.


Ibu Linda merupakan pendiri sekaligus ketua Yayasan Angel Hearts Bali. Dia merupakan perempuan yang berasal dari Kintamani. Yayasan ini merupakan yayasan sosial kemanusiaan yang berdiri murni untuk membantu umat manusia yang membutuhkan. Visi dan misi Yayasan Angel Hearts Bali antara lain membantu lansia terlantar, orang sakit, anak-anak yatim piatu dan terlantar, memberi bedah rumah pada kaum lansia atau rumah tangga miskin, memberi bantuan biaya kesehatan dan pendidikan pada anak-anak dari keluarga kurang mampu, membantu pembangunan panti asuhan, tempat ibadah.

Wakil Gubernur Bali, melakukan rangkaian upacara sangging, potong gigi, bagi dua peserta upacara metatah, pada hari Minggu, tanggal 23 Desember 2017, di Taman Pancasila, Kertalangu.


Kegiatan sosial kemanusian ini telah bertahun-tahun dilakukan oleh ibu Linda Anugerah, jauh sebelum Yayasan Angel Hearts Bali berdiri. “Mungkin saya gila melakukan ini semua atas dasar kemanusiaan, terkadang hingga mengabaikan keluarga saya”, ujar ibu Linda Anugerah di suatu saat……… Ah, ibu tidak gila, ibu bukan seorang perempuan gila…… Ibu hanya seorang perempuan biasa yang melakukan hal-hal luar biasa, dengan semangat luar biasa pula, bagi banyak umat manusia…..

Ibu Desak Sri Rejeki, melakukan yadnya, sebagai perias, bagi 20 an lebih, peserta metatah. Semenjak pukul lima pagi sudah berada di sini......
Metatah massal ini lahir dari ide beliau, karena banyak anak asuh Yayasan Angel Hearts Bali, baik yang tinggal di dalam maupun di luar Yayasan, yang sudah cukup umur, namun belum melaksanakan upacara potong gigi. Sebagian besar merupakan anak yatim piatu dan kurang mampu. Murni berasal dari niat suci tulus, ibu Linda berharap para anak asuh ini dapat menapaki jenjang kehidupan dengan perasaan bahagia karena telah melaksanakan rangkaian upacara memasuki gerbang kedewasaan ini.

Bapak Budiyasa bersama istrinya, juga ketiga putrinya. Bapak Budiyasa berasal dari Karangasem, daerah yang terkena dampak erupsi Gunung Agung. Ketiga putri bapak Budiyasa mengikuti upacara metatah di Taman Pancasila Kertalangu pada tanggal 23 Desember 2017. Beliau sangat bersyukur bisa mengikuti upacara gratis ini.....


Salah satu yg akan ikut dalam acara ini adalah Wayan Bela, anak penderita CP (celebral palsy) yg sudah bertahun2 dibantu di Yayasan Angel Hearts Bali. Ketiga putrid dari Ibu dan Bapak Budiyasa dari Karangasem yang termasuk KRB 2 Gunung Agung.  Juga Madhu, putri dari Ibu dan Bapak Sura. Dan bersama dengan 120 peserta lain dari berbagai penjuru Bali.

Ketiga anak asuhan Yayasan Angel hearts Bali yang mengikuti upacara metatah kali ini.Mereka sangat bersyukur bisa mengikuti upacara gratis ini, sebagai gerbang melangkah menuju jejak kehidupan di masa yang akan datang.


“Saya benar-benar  ingin meringankan beban keluarga mereka dan memberikan yg terbaik utk anak-anak asuh saya. Agar lengkaplah upacara yg wajib mereka jalani dalam kehidupan. Tapi tentu saya menyadari, saya sangat awam mengenai upacara adat dan juga keagamaan. Jadi sejak awal saya telah meminta petunjuk dan berdiskusi dengan sesepuh serta beberapa orang yg sudah berpengalaman di bidang itu, antara lain dengan Bapak Kantha Adnyana dari Yayasan Jaringan Hindu Nusantara, dan juga para Pandita dr Yayasan Weda Poshana Ashram Korwil Denpasar yg sudah berpengalaman menyelenggarakan upacara Potong Gigi Bersama, serta tentu saja saya juga meminta petunjuk dari Bapak angkat saya, Bapak Agung Udayana”, Ujar ibu Linda Anugerah lagi……

Adi, mahasiswa dari Program Studi Manajemen Kepariwisataan semester lima, yang sedang training di Phenom Event Organizer. Phenom EO ikut meng handle kegiatan Metatah Gratis pada hari Minggu, 23 Desember 2017, dan Adi yang ditugaskan menghandle kegiatan disini.

“Dan akhirnya saat penyusunan kepanitiaan, disepakati bahwa SELURUH RANGKAIAN UPACARA akan dilaksanakan dan diatur oleh Para Pandita dr Yayasan Weda Poshana Ashram Korwil Denpasar. Sedangkan Yayasan Angel Hearts Bali hanya bertugas di bidang penanggung jawab pendanaan (dengan dibantu oleh donatur2 yayasan). Saya sangat menyadari bahwa niat baik saya utk membantu anak-anak yatim/piatu, disabilitas dan kurang mampu tentu harus pula saya lakukan dengan cara yang baik dan tidak gegabah. Saya yakin, niat baik, dilakukan dengan cara yang baik, Astungkara hasilnya pun akan baik”.

Ibu Wayan Sura Bela, sangat berbangga dan bersyukur, putrinya, Madhu, bisa ikut upacara Metatah gratis ini.....


Akhirnya, terlaksanalah kegiatan Metatah Massal pada hari Minggu, 23 Desember 2017, di Taman Pancasila, Kertalangu, Denpasar. Udara yang bersahabat, cuaca cerah, wajah-wajah ceria, rasa bahagia terpancar dari banyak orangtua, peserta, keluarga juga sahabat…..

Sebagian dari para serati, bhawati, tukang banten yang bertugas mempersiapkan dan menghaturkan banten yang diperlukan bagi rangkaian upacara Metatah pada hari Minggu, 23 Desember 2017, di Taman Pancasila, Kertalangu.

Ibu Linda Anugerah adalah perempuan biasa, sama seperti kita semua. Namun memiliki semangat luar biasa, kemauan luar biasa, yang menggerakkan semua kemampuannya demi kemanusiaan. Ibu Linda Anugerah adalah perempuan biasa, namun memiliki cinta kasih yang luar biasa, yang membuatnya mencurahkan pikiran, perkatan dan perbuatan, demi kemanusiaan. Maka, kita juga bisa menjadi orang-orang luar biasa, yang membuat kita lahirkan banyak karya pula, dengan semangat kreativitas, dengan teriring doa, dengan cinta kasih, bagi banyak orang di dunia…….








Senin, 18 Desember 2017

YJHN dan Baksos V ke Karangasem, Minggu, 17 Desember 2017





Ketika kita berupaya berbuat baik, kadang ada yang bertanya penyebabnya, latar belakang kita, ada apa maksud dan tujuannya, bagaimana kelanjutannya, dlsb, dsb, dst….. Namun jangan pernah lelah untuk berbuat baik….

Kali ini kami kembali bersama-sama melakukan aksi. Demi kemanusiaan, bagi para korban yang alai dampak erupsi Gunung Agung, hari Minggu kami berkumpul bersama di  Warung Bubu Bali. Sudah ada tiga mobil di sana. Dua mobil tiba pagi ini dari Banyuwangi, salah satunya, mobil pick up / pengangkut barang, penuh dengan muatan.



Menurut rencana, kali ini kami meyalurkan Bantuan Ke Pengungsi Erupsi Gunung Agung, pada Posko Pengungsi, Minggu 17 Desember 2017, di : 

1. Banjar Sibakan Kauh, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem
2. Banjar Sibakan Kangin, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem
3. Banjar Dinas Segah, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem
4. Banjar Pande Sari, Desa Bebandem, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem
5. Banjar Tengah, Desa Bebandem, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem
6. Kantor Desa Padangbai, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem

 

Bantuan ini Persembahan dari saudara2 di Banyuwangi yang disalurkan melalu Parisada Hindu Dharma Siliragung Banyuwangi, bersama Pasraman Jnana Sila Bhakti di Kepulauan Riau serta Para Donatur Yayasan Jaringan Hindu Nusantara.



Kabupaten Karangasem atau Karangasem adalah sebuah kabupaten yang terletak di provinsi Bali, Indonesia. Di kabupaten ini terletak pura terbesar di Bali, yaitu Pura Besakih. Karangasem mempunyai 8 kecamatan, 3 kelurahan, 75 desa, 52 Lingkungan dan 552 dusun, 185 Desa Adat dan 605 Banjar Adat.
Semenjak memasuki daerah Nongan, kami di temani oleh bapak Wayan Astawa, Koodinator posko pengungsi di KecamatanRendang, Kabupaten Karangasem. 












Medan yang berat, dengan turunan dan tanjakan curam, membuat mobil pick up dari Banyuwangi gagal move on. Barang-barang terpaksa diturunkan dari mobil, dan diangkut berkali-kali dengan motor, dipanggul dan berjalan kaki, hingga akhirnya tiba bantuan mobil pick up dari lokasi posko pengungsi Desa Nongan.



Pos yang menjadi tujuan pertama adalah Pos Pengungsi di Banjar Sibakan Kauh, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem ini, pengungsi berasal dari Geliang Pempatan. Seratusan kepala keluarga, beserta puluhan anak-anak usia balita hingga SD merubung, menangis minta bingkisan yang kami bawa, sumbangan dari anak-anak Pesraman Jnana Sila Bhakti di Kepulauan Riau.

Pos yang menjadi tujuan berikutnya adalah Pos Pengungsi Banjar Sibakan Kangin, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem ini, pengungsi berasal dari Desa Temukus, di atasnya Pura Besakih.














Pos ketiga yang menjadi tujuan kami adalah Pos Pengungsi yang terdapat pada Banjar Segah, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem ini, jumlah pengungsi sebanyak 293 orang. 









Pada Pos yang menggunakan Wantilan Desa di Banjar Segah ini juga sedang berlangsung kegiatan pengabdian, bakti sosial, yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa. Bersama 15 mahasiswa Fakultas Kedokterannya, dibawah coordinator dokter Santi dan teman-teman, mereka melakukan pengecekan kondisi kesehatan para pengungsi. 

“Keluhan para pengungsi adalah tentang batuk, tenggorokan terasa kering, perih dimata, dan lemas”, ujar Rangga yang memegang payung agar para pengungsi tidak kepanasan, sebab pengecekan dilakukan di lapangan terbuka.

Di Desa Bebandem, kami ditemani oleh bapak Wayan Budiana, koordinator posko pengungsi disini, untuk meninjau dan menyalurkan bantuan di Banjar Pande Sari dan Banjar Tengah. 



Pos ke empat berikutnya adalah Pos Pengungsi di Banjar Pande Sari, Desa Bebandem, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem ini, pengungsi berasal dari Desa Liligundi.

Miris sekali melihat kondisi para pengungsi di Banjar Pande Sari. Dengan penutup dinding dari hawa dingin berupa terpal plastik tipis seadanya, mereka berjuang melawan hawa dingin dan hujan yang terkadang membuat becek lantai tanah di bawah bale bambu tempat mereka tidur, juga menciprati tubuh mereka.

Di lokasi pengungsi ini terdapat 75 an anak-anak pengungsi yang masih balita hingga SMP. Mereka duduk di tengah halaman lokasi pengungsi, bernyanyi bersama, mengikuti kuis yang diajukan bunda Dea, juga perwakilan umat dari PHDI Banyuwangi. Ah, sungguh tatapan polos itu menusuk hatiku, seolah berkata, “Kami juga berhak bahagia, kan, bunda ??”. 

Kaum pria pulang ke lokasi rumah dan perkebunan mereka di pagi hari, mengecek sawah, ladang, juga rumah yang terdampak erupsi Gunung Agung, lalu kembali ke lokasi pengungsian pada sore harinya. Sempat pula kulihat, kaum perempuannya mengulat berbagai anyaman dari bamboo, atau ilalang yang didatangkan dari Lombok. Mereka memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik mungkin.

Berikutnya lagi, Pos ke lima adalah Pos Pengungsi di Banjar Tengah Desa Bebandem, pengungsi berjumlah 100 orang, berasal dari Desa Tihing Seka. Kulihat sekumpulan ibu-ibu dan remaja putri yang merupakan para pengungsi, sedang membuat prasana banten dari bahan janur. Mereka membawanya ke pasar, dijual, dan memperoleh uang untuk biaya keperluan mereka.







Pos yang terakhir, atau ke enam kami kunjungi, adalah Kantor Desa Padang Bai di Kecamatan Manggis.


“Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyusun rencana dan melakukan berbagai aktivitas terkait para pengungsi, khususnya anak, atau trauma healing di pengungsian, agar mereka tidak jenuh dan tetap terjaga psikologisnya,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, 16 Desember 2017.



Benar, karena kita tidak pernah bisa berjalan sendiri dan terpisah atau terkotak-kotak, maka berbagai pihak saling bahu membahu, membangun jejaring, melakukan koordinasi untuk bekerja sama membantu menangani dampak erupsi Gunung Agung ini. Berbagai instansi, lembaga masyarakat dan lembaga pendidikan, organisasi, dan badan individu yang telah melaksanakan kegiatan tersebut.  



Kali ini, Hari Minggu, 17 Desember 2017, Pesraman Jnana  Sila Bhakti di Kepulauan Riau, Yayasan Jaringan Hindu Nusantara. Bersama dengan Rombongan dari Kecamatan Siliragung Banyuwangi, yang membawa bantuan masyarakat, yang disalurkan melalui Parisadha Hindu Dharma Indonesia Kecamatan Siliragung Kabupaten Banyuwangi, Masyarakat memberikan bantuan berupa :

1.      Beras 945 kg
2.      Minyak goreng 137 liter
3.      Gula 120 kg
4.      Mie instan 31 dus
5.      Krupuk I sak
6.      Bawang putih / merah 10 kg
7.      Nangka sayur 7 sak
8.      Kopi 1 dus



Terdapat total 239 posko atau titik pengungsian tersebar di berbagai kabupaten di Propinsi Bali, dengan jumlah tercatat 71.668 jiwa pengungsi. Tercatat di antaranya 3.321 balita di Kabupaten Karangasem, Kabupaten Klungkung 527 balita, Kabupaten Bangli 49 balita, Kabupaten Gianyar 85 balita, Kabupaten Tabanan 78 balita, Kota Denpasar 61 balita, Kabupaten Jembrana 26 balita. Total keseluruhan 4.147 balita, update data BNPB per 17 Desember 2017, pukul 18.00 WITA.