Selasa, 18 Desember 2018

Duh Gusti Mahaguru


Duh Gusti Mahaguru
 
Baose ngapak saha ngopak
Sat sardulapati nedeng galak
Mangde titian sregep matindak
     Polahe baud sada nyaleadin
     Kadi wrekudara ngenyek nyandain
     Mangde titian tiaga magarapan sami
Cecingake tajep muncuk pangutik
Waluya garuda ngemit manik
Mangda titian tragia ngricik cerik-cerik
     Icane ngakak mapungkus pangos
     Laksana truna truni sedek mandus
     Mangda titian tan males manyus
Duh Gusti rumaga Guru…..
A warsa luwus lumaku
Kala ngasab anggane sampun kaku
     Kala ngenduh duka ring bucu layu
     Kala ratu budal nunggil Hyang Sadhu
Tan wenten malih baud banyole
Tan wenten malih
Tan wenten malih
Tan wenten malih
Tan wenten malih……
     Mangkin,
     Durus masolah ring suargi
     Kaemban widiadari dewata dewati
     Ri samiparing Sang Hyang Widhi
Picayang taksu sujati
Mangda titian sida sadhu sidi
Ring pikobet jagate manresti
Ring paileh kawruhan tan sinipi
 
 
 
Sukra Umanis, 5/11/04
Pakeling a warsa mantuk Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus
Olih : I Made Suarsa

Sapunapi Gatra, Guru Neka ?


JMK Pande Wayan Suteja Neka mendapat penghargaan “Suksma Bali Award 2018” dalam acara Suksma Bali Night 2018, yang diselenggarakan oleh Paiketan Krama Bali. sebagai tokoh Bali yang menjadi pilar dan menopang pelestarian budaya Bali, terutama lukisan, patung, dan keris. Penghargaan diserahkan oleh Staf Ahli Kementerian Pariwisata, Prof. Dr. I Gde Pitana, atas nama Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Arief Yahya, bagi sebelas tokoh Bali yang dianggap sebagai tokoh inspirator dan juga berkontribusi bagi pemberdayaan masyarakat di berbagai aspek kehidupan di Bali. Pemberian penghargaan bertempat di Nusa Dua Convention Centre, pada hari Minggu, 16 Desember 2018.
 
 
Sebelumnya, JMK Pande Wayan Suteja Neka juga memperoleh penghargaan dari Pemerintah Jepang, yang disampaikan oleh Konsul Jendral Jepang di Bali. Penghargaan ini disampaikan dalam rangka memperingati 60 tahun hubungan baik yang terbina antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Jepang. Hubungan Diplomatik yang telah terbina baik selama ini membuat Pemerintah Jepang memberikan penghargaan pada beberapa organisasi maupun perseorangan yang dianggap memberikan kontribusi positif bagi kedua Negara. JMK Pande Wayan Suteja Neka dianggap sebagai tokoh yang banyak berkontribusi bagi pengembangan hubungan baik kedua belah Negara melalui seni budaya. Penghargaan yang disampaikan kepada dua belas tokoh dari kedua Negara pada tanggal 11 Desember 2018 oleh Konsul Jendral Jepang di Denpasar, yakni Hirohiza CHIBA yang baru bertugas semenjak akhir bulan Mei 2016, di Ayodya Hotel Resort and Spa di Nusa Dua.
 
 
Hal ini sekaligus memberikan gambaran bahwa untuk tahun 2018 ini, empat penghargaan telah diperoleh JMK Pande Wayan Suteja Neka, yang terkait dengan seni. Pertama, dalam rangka merayakan hari jadi ke dua belas Bali Vila Association, sebagai tokoh yang menerima penghargaan Tokoh Pariwisata Bali, yakni Dr. Ir. AAP Agung Suryawan Wiranatha, M.Sc., AAG Yuniartha Putra, SH., MH., Hermawan Kertajaya, I Nyoman Giri Prasta, Dr. Ir. Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati, M.Si., I Made Sudjana, SE., MM., CHT., CHA., I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya, SE., MBA., Ir. I Made Badra, MM. Pande Wayan Suteja Neka, Drs. I Gede Ardhika, dan I Gusti Agung Prana (Alm) yang menerima “Lifetime Achievement”. Para tokoh ini dianggap telah memberikan kontribusi nyata serta dedikasi yang konsisten bagi perkembangan pariwisata di Bali, khususnya, juga di Indonesia, bahkan di dunia. Penghargaan disampaikan pada hari Kamis, 26 Juli 2018, bertempat di Kriya Gosana Puspem Badung, sekaligus mengukuhkan Bali Villa Association sebagai “The DNA of Bali Quality Tourism” dengan penguatan terhadap kualitas produk, pelayanan dan pengelolaan, dalam mewujudkan Pariwisata Bali yang berbudaya, berkualitas dan berkelanjutan..
 
 
Berikutnya berupa penghargaan Bali Mandara Parama Nugraha 2018 oleh Gubernur Bali Made Mangku Pastika kepada enam tokoh Bali, I Wayan Sidja sebagai tokoh seniman, I Nyoman Nuarta sebagai tokoh seniman, Pande Wayan Suteja Neka sebagai tokoh budaya, ABG Satria Naradha sebagai tokoh pers dan media, Ketut Bangbang Gde Rawi sebagai tokoh astronomi yang mengawali lahirnya kalender Bali, Grace M. Tarjoto sebagai tokoh pertanian, khususnya beras Bali, disampaikan pada hari Selasa, tanggal 28 Agustus 2018 di Panggung Terbuka Ardha Chandra, Art Center, Denpasar.
 
 
Pande Wayan Suteja Neka telah sering mendapatkan penghargaan atas kontribusi beliau dalam bidang seni budaya di negeri ini. Salah satunya adalah penganugerahan atas pengabdian tiada henti sepanjang hayat “Lifetime Achievement Museum Awards 2014” yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, disampaikan oleh Wakil Menteri Bidang Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M.Arch., Ph.D. Beragam penghargaan yang diperoleh membuktikan kompetensi dan kualitas dalam bidang seni budaya, tidak hanya di Bali, namun juga Nusantara, dan bahkan dunia. “Tapi saya tidak ingin berhenti hingga disini. Saya ingin tetap aktif belajar, memberikan kesempatan pada banyak orang untuk belajar disini, ingin menjadi berguna, dan dikenang banyak orang. Ingin karya-karya ini dikenang selamanya”….
 
 
“Prestasi saya tidak mungkin terjadi tanpa bantuan dan motivasi dari istri tercinta secara terus menerus, Ni Gusti Made Srimin. Tidak mudah untuk mengawali langkah dalam mendirikan, mengelola dan mengembangkan Museum. Sungguh sebuah perjuangan yang menuntut perhatian, menguras emosi, juga banyak materi demi mewujudkan idealisme kami bersama”, Tutur JMK Pande Wayan Suteja Neka yang terlahir pada tanggal 21 Juli 1939 ini sambil mengenang masa-masa awal berdirinya Museum Seni Neka dan perkembangan Museum Neka selanjutnya.
 
 
Beliau kemudian menjelaskan beberapa karya yang menjadi perlambang kisah cinta sejati nan abadi antara JMK Pande Wayan Suteja Neka dengan Gusti Made Srimin, seperti “Cinta Abadi” karya Srihadi Soedarsono pada tahun 2000, dan “Saling Pandang” karya Abdul Azis.
 
 

Satya Ajeg Karya Tulus Inastuti


Satya ajeg karya tulus inastuti
 
Prihen temen dharma dumaranang sarat, Saraga Sang Sadhu sireka tutana, Tan artha tan kama pidonya tan yasa, Ya Sakti Sang Sajjana dharma raksaka.
 
Tegakkan lah selalu dharma dalam kehidupan di dunia, Orang-orang bijaksana hendaknya dijadikan panutan…. Bukan harta, nafsu atau kemashyuran, Keberhasilan yang sungguh bijak adalah karena mampu memahami hakekat dharma.
 
 
 
Museum Seni Neka adalah Museum swasta pertama di Indonesia yang diresmikan tanggal 7 Juli 1982. Museum yang pada awalnya hanya mengkoleksi lukisan dan patung, pada tanggal 7 Juli 2007 dilengkapi dengan pavilion Keris untuk memamerkan ratusan keris yang dimiliki.
 
 
Pande Wayan Suteja Neka memberikan buku “Keris Bali Bersejarah” kepada Dr. Jenderal (Purn) H. Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia, sebelum pembukaan Pameran “Titi Wangsa” karya Dr. I Wayan Kun Adnyana (Dosen Institut Seni Indonesia / ISI Denpasar), yang diselenggarakan di Museum Seni Neka. Didampingi oleh kedua putranya: Pande Nyoman Wahyu Suteja, SE., dan Dr. Pande Made Kardi Suteja, Sp.U., pada tanggal 12 Oktober 2018.
 
 
JMK Pande Wayan Suteja Neka menggunakan salah satu keris seselet kebanggaan, sebagai hasil inovasi dan kreasi. Bilahnya perlambang Keris Jawa. Motifnya bergaya Bali, dengan simbol Singa, Mina dan Paksi. Warangka bergaya Sumatera dengan motif Palembang, pengaruh Bugis. Penyejernya bermotif kan ruas tebu. Ukirannya bermotifkan Palembang, dengan kombinasi ukiran Bali, dengan tiga hiasan batu mulia. Blue safir berapitkan windusara atau mirah. "Merah bermakna Megah, Kemewahan yang elegan, Simbol kebesaran atau kegagahan pemilik keris. Biru angkasa bermakna kedamaian, memberikan kesan indah namun menyejukkan. Memiliki keris harus bisa menjaga damai di hati, di dalam diri, juga keluarga dan lingkungan dimanapun dia berada", Ujar JMK Pande Wayan Suteja Neka mengenai makna batu permata yang berada pada kerisnya.
 
 
“Ini adalah Keris Indonesia, Keris Nusantara, hasil kreasi saya yang dibuat oleh Made Pada, Pakar Keris dari Desa Taro, Tegallalang, Gianyar Bali”, Ujar JMK Pande Wayan Suteja Neka menjelaskan Keris Seselet yang digunakannya.
 
 
Bahan Warangka / Sarung dari Gading, dengan gaya Sumatera bermotif Palembang sebagai kerajaan dengan armada laut yang tangguh, juga tercermin pada gaya Bugis dari adanya simbol kapal karam / kandas. Motif ruas tebu melambangkan bahwa seluruh komponen menampilkan keindahan, semangat, gelora, hasrat, yang menjadi inti kehidupan, memberikan arah langkah ke masa depan, dalam bersikap positif, memberikan kebaikan bagi setiap umat manusia. “Bukankah tebu memberikan manis gula bagi kita, umat manusia, disuling, menjadi bahan obat dan spiritus, dan kemudian ampasnya bisa dijadikan bahan kertas pula”, tambah JMK Pande Wayan Suteja Neka pula.
“Lihatlah pada motif perahu dibagian warangka. Mengingatkan pada perahu Bugis. Ini simbol kejayaan Indonesia. Dilaut kita jaya. Indonesia terdiri dari ribuan pulau, dikelilingi lautan. Leluhur kita sudah terbukti sebagai pelaut tangguh. Keberanian kita mengatasi masalah yang terkadang hadir bagai ombak besar dan badai tiada henti, yang membutuhkan ketenangan mengatasinya. Semangat ini yang ingin saya tampilkan melalui simbol perahu. Jangan mudah menyerah, jangan emosi bila menghadapi masalah, tetap tenang”, Ujar JMK Pande Wayan Suteja Neka.
 
 
Pada bagian Danganan, terlihat simbol Singa, Mina dan Paksi. “Singa dikenal sebagai Raja Hutan. Mina adalah Ikan. Perhatikan pada bagian sisik tersebut. Dan Paksi perlambang Burung. Dengan tempaan atau ujian kehidupan, seseorang harusnya semakin bijak dalam bersikap. Semakin tinggi pengalaman, semakin tinggi pendidikan, semakin luas wawasan, harus semakin rendah hati. Bisa menjadi teladan bagi masyarakat, bagi banyak orang. Mau membantu, bersedia membimbing dan berbagi ilmu pengetahuan. Ini yang ingin saya sampaikan dari keris kreasi saya. Saya menyebutnya sebagai Keris Nusantara”. Ujar JMK Pande Wayan Suteja Neka.
 
 
Pada bagian Bilah Keris, terlihat motif Jawa, dengan panjang 21 cm. Dhapur Singo Barong, ber kinatah emas sampai ganja, dengan relief hiasan emas tiga wedana / sisi. Hal ini memperlihatkan segi estetika dari sebuah keris, simbolis, dan spiritual. Kewibawaan dan penolak bala. Luk tiga / jangkung, berasal dari kata Jinangkung, terjangkau. Melambangkan perjuangan mencapai tujuan hidup, cita-cita, baik duniawi maupun rohani, spiritual dan juga moral haruslah seimbang, bersinergi dengan baik. “Terkadang, orang ingin usaha yang serba instan, namun lupa pada perjuangan keras, proses dalam mewujudkan cita-cita. Ini yang ingin saya sampaikan, bahwa kita tidak boleh patah semangat bila menemukan permasalahan atau gangguan” Ujar JMK Pande Wayan Suteja Neka menjelaskan makna dari simbol Keris Nusantara kreasi beliau.
 
 
Pamor Keris dengan menggunakan teknik woshing wutah motif ngulit semangka. Teknik ini melambangkan teknik tinggi yang dipergunakan dalam menempa keris.JMK Pande Wayan Suteja Neka menggambarkan Keris hasil inovasinya yang merupakan keris simbolik, perlambang bersimbolkan Singa Kinatah emas, bertatahkan emas permata, bermakna kebesaran atau kemegahan seseorang yang berjiwa pemimpin, luk tiga, dengan pamor beras wutah yang bermakna kesuburan, kemakmuran, bermotifkan ngulit semangka, dan Danganan / Ulu Bali bersimbolkan Singa, Mina, juga Paksi.
 
 
“Keris Modern merupakan keris hasil inovasi dan kreasi, yang berubah dari tradisi sebelumnya, namun tetap berpijak pada kearifan lokal dimana keris tersebut berada, dengan tetap berpegang pada konsep Bhinneka Tunggal Ika”. Ujar JMK Pande Wayan Suteja Neka. Proklamasi atau pernyataan “UNESCO” yang mengakui keberadaan Keris Indonesia sebagai Warisan Dunia yang sungguh mulia semenjak tanggal 25 November 2005 sungguh merupakan suatu penghargaan bagi bangsa Indonesia, khususnya terkait budaya dan seni perkerisan. Pada jaman dahulu, keris hanya disimpan sebagai bagian dari benda suci milik keluarga secara turun temurun. Namun kemudian keris juga dipergunakan sebagai bagian dari perlengkapan penampilan seseorang, mencerminkan jati diri orang tersebut, menjadi bahan perbincangan dalam berbagai kesempatan berjumpa, di antara para pemiliknya, dalam menyebarluaskan nilai-nilai luhur warisan budaya asli Indonesia yang telah diakui dunia ini.
 
 
JMK Pande Wayan Suteja Neka memperlihatkan komitmen dalam memuliakan Keris sebagai Warisan Luhur Bangsa Indonesia, menyampaikan informasi seluasnya bagi masyarakat Bali, Indonesia, bahkan seluruh dunia terkait Keris, memberikan kesempatan untuk belajar tentang tradisi dan spiritual juga perkembangan Seni Keris, termasuk mengembangkan inovasi serta kreasi terkait Keris. Karena semangat tersebut, maka Ruang Keris, dibuka secara resmi pada tanggal 22 Juli 2006, untuk memuliakan berbagai macam Keris Nusantara, bertempat di Museum Seni Neka. Ruang Keris dibuka secara resmi tepat 25 tahun setelah Museum Neka berdiri.
 
 
Pakem Keris yang sempurna, harus memenuhi persyaratan seorang Empu Keris, yakni Ahli Tempa, Ahli Bentuk, dan Ahli Perlambang. Di dalam setiap karya seni, akan terdapat jiwa dan semangat pembuatnya. Demikian pula halnya dengan Keris. Yang disebut dengan Empu adalah Pakar di bidangnya, ahli. Dia akan mencurahkan segenap perhatian, usaha, daya dan juga gaya, agar Keris berhak disebut sempurna. Pemilik keris juga harus tetap menjaga dan menghormati keris miliknya, dengan cara memelihara, merawat keris, sebagai bagian diri dan keluarga. Tanggungjawab untuk menyampaikan informasi terkait keris, senantiasa mengembangkan data dan fakta terkait keris, tidak hanya menjadi tugas dan tanggungjawab Empu Keris atau pemilik keris. Ini adalah tanggungjawab kita semua, pemerintah dan tenaga pendidik, penguasa, tokoh masyarakat, juga para pengusaha, menyadari, mengembangkan dan menerapkan fungsi keris dalam berbagai ruang kehidupan bermasyarakat.
 
 
Satya ajeg karya tulus inastuti
 
Menjadi kesatria tangguh tidaklah gampang. Senantiasa berjuang, menghasilkan karya dan berkreasi, setia dan berpegang teguh pada tegaknya kebenaran. Tidak semudah membalik telapak tangan, tidak semudah harapan dan keinginan kita, untuk selalu tulus bekerja, tanpa adanya paksaan atau tunduk pada tekanan pihak lain.
 
 
Prihen temen dharma dumaranang sarat, Saraga Sang Sadhu sireka tutana, Tan artha tan kama pidonya tan yasa, Ya Sakti Sang Sajjana dharma raksaka, 
 
Tegakkan lah selalu dharma dalam kehidupan di dunia, Orang-orang bijaksana hendaknya dijadikan panutan…. Bukan harta, nafsu atau kemashyuran, Keberhasilan yang sungguh bijak adalah karena mampu memahami hakekat dharma
 
Hal ini terurai indah dalam Kakawin Ramayana. Kakawin Ramayana termasuk dalam Kidung Sekar Agung, Kidung Indah yang menggambarkan Genius Lokal Wisdom terkait kepemimpinan. Leluhur kita bertutur tentang petuah-petuah terkait kepemimpinan. Kakawin Ramayana berisi ajaran Sri Rama mengenai kepemimpinan kepada Bharata, dalam Pupuh / Wirama Wangsastha.
 
Hanya orang dengan jiwa pemimpin sejati yang sanggup memenangi peperangan dalam diri, sehingga mampu menjadi pemenang dalam kehidupannya….

Kamis, 13 Desember 2018

Piodalan ring Nyalian, Anggarakasih Julungwangi




Piodalan ring Nyalian, Anggarakasih Julungwangi, 11 Desember 2018

Pujawali, Petoyan atau Petirtaan, Piodalan Pura, merupakan salah satu bentuk rangkaian upacara pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Piodalan termasuk dalam kelompok upacara Dewa Yadnya, yang ditujukan pada Tuhan Yang Maha Kuasa.  Piodalan adalah wujud bhakti sebagai usaha umat manusia dalam mencapai jagadhita, kedamaian dan kesejahteraan dunia, dilaksanakan dengan persembahyangan bersama, dipimpin oleh pemangku di tempat suci, Pura. 


Piodalan berasal dari kata “wedal / medal”, memiliki arti mengeluarkan, menyucikan, melinggihkan, Nglinggayang, Ngerekayang, Ngadegang berbagai pretima, bentuk, simbol, lambang benda suci. Pelaksanaan Piodalan diawali dengan pesucian Ida Bethare, pretima, di Pura Beji oleh pemangku atau sulinggih. Piodalan atau perayaan hari suci ini disesuaikan berdasar atas sasih, wuku atau pawukon, dan lain lainnya.


Upacara Yadnya dalam bentuk persembahan suci dengan ketulusikhlasan orang-orang yang terlibat dalam pelaksanaan yadnya. Ngayah sebagai penerapan ajaran karma marga yang dilaksanakan secara gotong royong. Mepeed, iring-iringan dengan gebogan yang dihaturkan bagi Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sebagai rasa syukur atas rejeki yang kita nikmati. Sembahyang bersama sebagai penerapan ajaran Hindu Dharma.


Kali ini bersama keluarga besar suami di Klungkung. Kami merupakan warga keturunan Gede Tanjung. Piodalan di Sanggah Dadia kami, bertempat di Banjar Kapit, Desa Nyalian, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Propinsi Bali, berlangsung setiap Anggara Kasih Julungwangi.
Pada abad ke 17, ada sebuah kerajaan di Taman Bali yang diperintahkan oleh seorang raja yang bernama I Dewa Gde Ngurah Den Bencingah. Salah satu putra beliau bernama I Dewa Ketut Kaler yang berstana di Desa Getakan dengan dua buah sungai yang membelah desa, yakni Sungai Bubuh dan Sungai Melangit.


Babad Ksatria Taman Bali yang berbahasa Jawa Kuna, dan tersimpan rapi di Museum Gedong Kirtya Singaraja, menuturkan bahwa tersebutlah kisah Bhatara Subali yang bersaudara dengan Dalem Bhatara Sekar Angsana. Bhatara Subali berstana di Tohlangkir, dan Bhatara Sekar Angsana berstana di Pura Dasar Gelgel. Mereka juga bersaudara dengan Sang Hyang Aji Rembat (penawing) yang berstana di Kentelgumi. Sang Hyang Aji Rembat berputra Ida Mas Kuning, yang berstana di Guliang, dan Bukit Pangelengan. https://www.dalemsilaadri.com/babad-ksatria-taman-bali


Data referensi lain memperlihatkan bahwa  Warga Banjar Kapit, Nyalian, Klungkung, mayoritas merupakan keturunan prajurit dari Desa Keramas, Gianyar. Mereka dikirim sebanyak 150 orang prajurit, bersama Kulkul Puri Keramas yang bernama I Macan Poleng. Peristiwanya terjadi sekitar tahun 1855 – 1860, di bawah pimpinan I Gusti Agung Gede Anom  dan I Gusti Agung Garong dari Puri Keramas.


Desa Nyalian terdiri dari empat Desa Pekraman dan 8 Dusun atau Banjar. Desa Pekraman Setra Kangin, Desa Pekraman Pemenang, Desa Pekraman Umanyar, dan Desa Pekraman Tegalwangi. Desa Pekraman Setra Kangin terdiri dari lima Banjar Adat / Dusun, yakni Banjar / Dusun Pekandelan, Banjar Kelodan, Banjar Geria, Banjar Kapit dan Banjar Dukuh, Desa Pekraman Pemenang terdiri dari Banjar Adat / Dusun Pemenang, Desa Pekraman Umanyar terdiri dari Banjar Adat / Dusun Umanyar, dan Desa Pekraman Tegalwangi terdiri dari Banjar Adat / Dusun Tegalwangi..   


Sehari sebelum hari raya suci piodalan berlangsung, pretima di junjung oleh anggota keluarga yang hadir di sanggah dadia, pura keluarga, dibawa berkeliling di dalam pura, searah jarum jam, sebanyak tiga kali, lalu kemudian dilinggihkan, dilinggakan tepat di tengah pura, sebelum bersama kami bersembahyang bersama, sebagai pertanda penghormatan terhadap leluhur, terhadap Tuhan yang telah memberi rejeki dan melindungi serta membimbing di setiap jejak langkah dalam kehidupan.


Piodalan yang berlangsung setiap enam bulan kalender Bali, mempersatukan kami yang berasal dari berbagai lokasi tempat tinggal, dari Jawa, dari Buleleng, dari Denpasar, dari Mengwi, dari Klungkung. Berkumpul bersama, beberapa hari, mejejahitan, nanding banten, mundut atau menyungsung pretima, megibung bersama, sebelum akhirnya berpisah dan kembali ke rumah masing-masing melanjutkan aktivitas secara terpisah, dan kembali berjumpa enam bulan berikutnya.


Kita ada karena leluhur kita, karena kekuatan bersama, saling mendukung satu sama lain, berkumpul dalam sejuta aktivitas, dengan setiap suka dan duka yang hadir, baik atau buruk adalah bagian dari diri kita, tidak bisa hidup sendiri di permukaan bumi. Ada keluarga, ada sahabat, ada kerabat, dan, inilah yang melengkapi kita pula. Semangat keberagaman dalam kebersamaan, di setiap doa yang kita panjatkan, entah di masa lalu, kini dan juga nanti, terima kasih, Tuhan, jadikan kami manusia yang bijak dan dewasa dalam bertutur kata, dalam bertindak……

Minggu, 09 Desember 2018

Nangluk Merana, Genius Local Wisdom




Nangluk Merana termasuk dalam Bhuta Yadnya yang diselenggarakan pada sasih kanem. 

Leluhur kita di nusantara memiliki kearifan lokal yang sungguh luhung. Salah satunya adalah  Tolak Bala, Peneduh Jagat, Pamilayu Bumi, Bumi Pada, atau Nangluk Merana. Hal yang membahas ini terdapat pada Naskah Roga Sanghara Bhumi, Lontar Purwaka Bumi, “Perembon indik ngaben tikus, Lontar Sri Purana (Pemda Tingkat I Bali 1989), Lontar Dukuh Jumpungan.

Prosesi tradisi memohon maaf dan keselamatan pada penguasa semesta (Tuhan Yang Maha Kuasa) ini bertujuan untuk menetralisir berbagai bencana alam, musibah, mala petaka dalam kehidupan.



Mardiwarsito (1981: 507) menjelaskan bahwa kata Roga barasal dari bahasa Sanskerta yakni penyakit, sakit, cacat badan. Sanghara / Samhara berarti menarik kembali, meniadakan, memusnahkan sakit, melebur, membinasakan. Kata Bhumi merujuk pada bumi.  Maka, rangkaian upacara ini bertujuan untuk menetralisir, meniadakan bencana di muka bumi.

Lontar Widhi Sastra menjelaskan bahwa masyarakat Bali setiap lima tahun sekali melaksanakan Tawur Agung (Pancawalikrama) di Pura Besakih, sebagai sabda Bhatara Putrajaya yang berstana di Gunung Agung. Upacara ini bertujuan menyucikan  alam semesta, menyucikan kembali pikiran manusia (manacika), perkataan (wacika), dan perbuatan (kayika) dari cemer ikang bhuwana, agar bumi menjadi bersih dan suci (kaparisudha).


Upacara penyucian yang bisa dilakukan menurut Roga Sanghara Bhumi adalah (1) upacara Prayascita, yaitu upacara penyucian bumi pada tatanan yang kecil seperti bangunan pribadi, kebun, dan sebagainya, (2) Guru Piduka, yaitu permohonan maaf pada para dewa karena ulah manusia bumi menjadi kotor (cemer), (3) Labuh Gentuh, yaitu upacara penyucian bumi yang tingkatnya lebih tinggi dari prayascita.

Berbagai upacara penyucian bumi ini dilakukan sesuai dengan tingkatan, mulai dari rumah tangga, tingkat desa, kota, kabupaten, dan propinsi. Dalam perkembangan selanjutnya, upacara ini memanfaatkan kearifan local yang disesuaikan dengan Desa, Kala, Patra. Hingga kemudian terdapat istilah sebagai implementasi dari lontar Roga Sanghara Bhumi, seperti: Peneduh Jagat, Pamilayu Bhumi, dan Nangluk Merana.

Peneduh Jagat merupakan upacara yang diselenggarakan pada hari Kajeng Kliwon pada Sasih Kapat, sesuai dengan Lontar Pemaculan, Lontar Roga Segara Bhumi, bila terdapat ciri seperti gempa bumi, wabah penyakit, gerhana, manusia meninggal tanpa sebab, manusia tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk, bertujuan agar bumi aman, damai dan tentram. 

Pamilayu Bumi merupakan upacara permohonan agar diberikan berkah kerahayuan jagat dan terbebaskan dari bencana alam atau konflik sosial, terjadi di luar daya nalar atau akal sehat umat manusia, disikapi dengan menggelar “Pamilayu Bumi” agar terwujud keselamatan jagad.

Nangluk Merana merupakan Upacara Yadnya sebagai permohonan Kepada Tuhan agar berkenan menangkal atau mengendalikan bencana, gangguan yang mengakibatkan kehancuran, penyakit pada tanaman, mala petaka atau mara bahaya bagi umat manusia. “Nangluk” berarti empangan, tanggul, pagar, penghalang, “Merana” berarti hama atau bala penyakit, mara bahaya.

Upacara Nangluk Merana, Pecaruan Sasih Kaenem, Sudha Bumi Jagat taler Pemelaspas, Mendem Pedagingan lan Rsi Gana ring Pelinggih Catus Pata, Desa Adat Pekraman Nyalian,  di Desa Nyalian, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Jum’at, 7  Desember 2018.

Upacara Nangluk merana Ring Pura Dalem Gede Blahkiuh, Jum’at, 7 Desember 2018

Upacara mecaru Sasih Kaenem di Desa Tonja dan Banjar Bantas Denpasar, Kamis, 6 Desember 2018

Upacara nangluk Merana Banjar Adat Subamia Dencarik dan Subamia Ambal-ambal, Tabanan.

Upacara Nangluk Merana di Pura Dalem Gede Desa Pekraman Senapahan, Senapahan Kaja dan Senapahan Kelod, Sengauk Petung, Tanah Bang, Ngelanglang Buana, Ngider Desa.

Upacara Nangluk Merana Desa Adat Kuta, Kamis, 6 Desember 2018

Upacara nangluk Merana ring Desa Wanasari

Upacara nangluk Merana, Ida Ratu Sesuhunan mececingak ring wewidangan Desa Pekraman Petiga, Semiga, Marga, Tabanan.

Upacara Nangluk Merana berdasar sastra Lontar Purwaka Bumi, agar terhindar dari mara bahaya, memohon berkah kesuburan, pada Sasih Kaenem. Karena Sasih Kaenem merupakan fase pancaroba, peralihan musim dari kemarau ke hujan, curah hujan lebih lebat, berdampak pada kondisi alam, perubahan cuaca yang ekstrim, merebaknya hama atau penyakit, sehingga upacara ini bertujuan untuk menetralisir dan memberikan kedamaian serta keselamatan lahir dan batin.

Upacara Nangluk Merana ring Desa Lukluk

Ida Ratu Sesuhunan Pura Dalem Penataran lan Kahyangan Tibung melancaran ring wewidangan Desa Adat Padang.