Sabtu, 23 November 2019

UGM dan Sejarah Berdirinya (1)



Ini merupakan bagian dari Trilogi tulisan tentang UGM, 1. UGM dan Sejarah Berdirinya, 2. UGM dan Kagama, dan 3. UGM dan Munas Kagama XIII. Universitas Gadjah Mada sebagai kampus yang “Nguwongke”, memanusiakan manusia, sebagai Kampus Rakyat, dan kuat berakar pada budaya serta keberagaman nusantara, mengakar ke bawah, membumi namun menjunjung tinggi yang di atas, Yang Maha Kuasa. Universitas Gadjah Mada lahir pada tanggal 19 Desember 1949, berdasar Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1949 ter tanggal 16 Desember 1949, mengenai Peraturan Penggabungan Perguruan Tinggi menjadi Universitas. 


Pada awal mula berdirinya, tanggal 19 Desember 1949, Universitas Gadjah Mada hanya memiliki enam fakultas. Menurut Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1949, keenam fakultas tersebut adalah:
  1. Fakultas Teknik (termasuk di dalamnya, Akademi Ilmu Ukur dan Akademi Pendidikan Guru Bagian Ilmu Alam dan Ilmu Pasti)
  2. Fakultas Kedokteran termasuk di dalamnya, bagian Farmasi, bagian Kedokteran Gigi dan Akademi Pendidikan Guru bagian Kimia dan Ilmu Hayat)
  3. Fakultas Pertanian (termasuk di dalamya, Akademi Pertanian dan Kehutanan)
  4. Fakultas Kedokteran Hewan
  5. Fakultas Hukum (termasuk di dalamnya, Akademi Keahlian Hukum, Keahlian Ekonomi dan Notariat, Akademi Ilmu Politik dan Akademi Pendidikan Guru Bagian Tatanegara, Ekonomi dan Sosiologi)
  6. Fakultas Sastra dan Filsafat (termasuk di dalamnya, Akademi Pendidikan Guru bagian Sastra).

Kegiatan civitas academica Universitas Gadjah Mada dituangkan dalam bentuk Tri Dharma Perguruan Tinggi yang terdiri atas Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat. Pada tahun 2019, UGM kini memiliki 18 Fakultas dan dua sekolah, yaitu Sekolah Vokasi dan Sekolah Pasca Sarjana, beserta lebih dari 100 Program Studi, termasuk S2, S3, dan Program Spesialis. Disamping itu, UGM juga memiliki 28 Pusat Studi yang memiliki tugas utama melakukan kegiatan penelitian untuk mendukung kegiatan pendidikan dan pengabdian masyarakat. Rektor pertama adalah Prof. Dr. M. Sardjito. Rektor UGM kini, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng. Berdasar data per tahun 2012, UGM memiliki 37.611 alumni sarjana, 7.854 magister, 871 doktor. Data per tahun 2018 memperlihatkan jumlah 47.081 mahasiswa dan 4.468 staf akademik. UGM memiliki motto “Mengakar Kuat, Menjulang Tinggi”.


Sejarah keberadaan Universitas Gadjah Mada merupakan penggabungan dan pendirian kembali dari berbagai balai pendidikan, sekolah tinggi, perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta, Klaten, dan Surakarta. Nama Gadjah Mada berawal dari dibentuknya Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada yang terdiri dari Fakultas Hukum dan Fakultas Kesusasteraan. Pendirian diumumkan di Gedung KNI Malioboro pada tanggal 3 Maret 1946 oleh Mr. R. S. Budhyarto Martoatmodjo, Ir. Marsito, Prof. Dr. Prijono, Mr. Soenario, Dr. Soleiman, dr. Boentaran Martoatmodjo, dan Dr. Soeharto. 


Sejak 4 Januari 1946, karena situasi ibukota yang bergejolak, Soekarno dan Hatta memindahkan ibu kota Republik Indonesia ke Yogyakarta. Pertempuran yang terjadi antara pejuang kemerdekaan dan Sekutu serta NICA di Jakarta dan Bandung membuat Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung ikut pindah ke Yogyakarta. Pada tanggal 17 Februari 1946, Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung dihidupkan kembali di Yogyakarta dengan para pengajarnya antara lain Prof. Ir. Rooseno dan Prof. Ir. Wreksodhiningrat


Lembaga pendidikan lain yang berdiri pada waktu yang hampir bersamaan adalah Perguruan Tinggi Kedokteran (berdiri 5 Maret 1946), Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan (berdiri 20 September 1946), Sekolah Tinggi Farmasi (berdiri 27 September 1946), dan Perguruan Tinggi Pertanian (berdiri 27 September 1946) yang kesemuanya berada di Klaten, sekitar 20 kilometer dari Yogyakarta. 


Institut Pasteur di Bandung sejak 1 September 1945, turut pula dipindahkan ke Klaten dengan laboratorium di Rumah Sakit Tegalyoso. Salah seorang yang berperan dalam pemindahan ini adalah Prof. Dr. M. Sardjito yang kelak menjadi Rektor Universitas Gadjah Mada yang pertama. Kehidupan kampus di Klaten semakin ramai dengan berdirinya Fakultas Kedokteran Gigi pada awal 1948.
Pada awal Mei 1948, Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan mendirikan Akademi Ilmu Politik di Yogyakarta atas usul Kementerian Dalam Negeri untuk mendidik calon-calon pegawai Departemen Dalam Negeri, Departemen Luar Negeri dan Departemen Penerangan. Akademi ini awalnya dipimpin oleh Prof. Djokosoetono, S.H. Namun akademi ini tidak berumur panjang, setelah pemberontakan PKI Madiun meletus, September 1948, akademi ini ditinggalkan para mahasiswanya yang ikut menumpas pemberontakan sehingga akademi ini ditutup.
Selanjutnya pada 1 November 1948 didirikan Balai Pendidikan Ahli Hukum di Surakarta, sebagai hasil kerja sama Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan dengan Kementerian Kehakiman. Bersamaan dengan itu Panitia Pendirian Perguruan Tinggi Swasta di Surakarta, yaitu Drs. Notonagoro, S.H., Koesoemadi, S.H. dan Hardjono, S.H. di Surakarta merencanakan mendirikan Sekolah Tinggi Hukum Negeri. Demi efisiensi, Panitia mengusulkan penggabungan Balai Pendidikan Ahli Hukum ke dalam Sekolah Tinggi Hukum Negeri yang akhirnya disetujui dan disahkan oleh Peraturan Pemerintah No. 73 Tahun 1948.
Serangan Belanda ke ibu kota Republik Indonesia di Yogyakarta dalam rangka Agresi Militer Belanda II melumpuhkan semua kegiatan belajar mengajar di Yogyakarta, Klaten dan Surakarta dan semua perguruan tinggi tersebut ditutup karena para mahasiswa ikut berjuang. Setelah serangan Belanda, wilayah Republik Indonesia menjadi semakin sempit. Pada tanggal 20 Mei 1949, diadakan rapat Panitia Perguruan Tinggi, di Pendopo Kepatihan Yogyakarta yang dipimpin oleh Prof. Dr. Soetopo, dengan anggota rapat antara lain, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Prof. Dr. M. Sardjito, Prof. Dr. Prijono, Prof. Ir. Wreksodhiningrat, Prof. Ir. Harjono, Prof. Sugardo dan Slamet Soetikno, S.H. Salah satu hasil rapat adalah pendirian perguruan kembali di wilayah republik yang masih tersisa, yaitu Yogyakarta. Disepakati Prof. Ir. Wreksodiningrat, Prof. Dr. Prijono, Prof. Ir. Harjono, dan Prof. Dr. M. Sardjito akan berusaha keras mewujudkannya. Kesulitan utama saat itu adalah tidak adanya ruangan untuk kuliah. Namun Sri Sultan Hamengkubuwono IX bersedia meminjamkan ruangan keraton dan beberapa gedung di sekitarnya.
Tanggal 1 November 1949, di Kompleks Peguruan Tinggi Kadipaten, Yogyakarta, berdiri kembali Fakultas Kedokteran Gigi dan Farmasi, Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran. Pembukaan ketiga fakultas ini dihadiri oleh Presiden Soekarno. Pada upacara pembukaan diadakan sebuah renungan bagi para dosen dan mahasiswa yang telah gugur dalam peperangan melawan Belanda, yaitu Prof. Dr. Abdulrahman Saleh, Ir. Notokoesoemo, Roewito, Asmono, Hardjito dan Wurjanto.
Tanggal 2 November 1949, Fakultas Teknik, Akademi Ilmu Politik serta Fakultas Hukum dan Fakultas Kesusasteraan yang berada di bawah naungan Yayasan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada ikut diresmikan. Tanggal 3 Desember 1949 dibuka Fakultas Hukum di Yogyakarta dengan pimpinan Prof. Drs. Notonagoro, SH. Fakultas ini merupakan pindahan Sekolah Tinggi Hukum Negeri Solo.
Tanggal 19 Desember 1949, lahir Universitas Gadjah Mada dengan enam fakultas. Menurut Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1949, keenam fakultas tersebut adalah:
1.      Fakultas Teknik (di dalamnya termasuk Akademi Ilmu Ukur dan Akademi Pendidikan Guru Bagian Ilmu Alam dan Ilmu Pasti);
  1. Fakultas Kedokteran, yang di dalamnya termasuk bagian Farmasi, bagian Kedokteran Gigi dan Akademi Pendidikan Guru bagian Kimia dan limu Hayat;
  2. Fakultas Pertanian di dalamya ada Akademi Pertanian dan Kehutanan;
  3. Fakultas Kedokteran Hewan;
  4. Fakultas Hukum, yang di dalamnya termasuk Akademi Keahlian Hukum, Keahlian Ekonomi dan Notariat, Akademi Ilmu Politik dan Akademi Pendidikan Guru Bagian Tatanegara, Ekonomi dan Sosiologi;
  5. Fakultas Sastra dan Filsafat, yang di dalamnya termasuk Akademi Pendidikan Guru bagian Sastra.
Sebagai Rektor yang pertama (Presiden) ditetapkan Prof. Dr. M. Sardjito. Pada saat yang sama juga ditetapkan Senat UGM dan Dewan Kurator UGM. Dewan Kurator UGM terdiri dari Ketua Kehormatan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dan Ketua adalah Sri Paku Alam VIII, seorang wakil ketua dan anggota.
Tahun 1952 Fakultas Hukum, Sosial dan Politik ditambah dengan bagian ekonomi sehingga menjadi Fakultas Hukum, Ekonomi, Sosial dan Politik HESP). Pada bulan September 1952 Fakultas Pertanian ditambah dengan Bagian Kehutanan, sehingga menjadi Fakultas Pertanian dan Kehutanan.
Sejak September 1955, beberapa fakultas dimekarkan menjadi fakultas-fakultas baru, antara lain:
  • Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Farmasi menjadi Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi dan Fakultas Farmasi.
  • Bagian Bakaloreat Biologi Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Farmasi menjadi Fakultas Biologi.
  • Fakultas Hukum, Ekonomi, Sosial dan Politik dipecah menjadi tiga fakultas, yaitu: Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Sosial dan Politik.
  • Fakultas Sastra, Pedagogik dan Filsafat dipecah menjadi tiga fakultas, yaitu: Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Fakultas Ilmu Pendidikan dan Fakulas Filsafat.
  • Tingkat pengajaran Bakaloreat Ilmu Pasti dan Bakaloreat Ilmu Alam pada Bagian Sipil Fakultas Teknik dijadikan Fakultas Ilmu Pasti dan Alam.
  • Fakultas Ilmu Pendidikan mempunyai dua bagian yaitu Bagian Pendidikan dan Bagian Pendidikan Jasmani.
  • Fakultas Kedokteran Hewan diuubah namanya menjadi Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan.
Pada tahun 1960 Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi dipisahkan menjadi Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi.
Pada tahun 1962 Bagian Pendidikan Jasmani dari Fakultas Ilmu Pendidikan ditingkatkan menjadi Fakultas Pendidikan Jasmani. Fakultas ini diserahkan pada Departemen Olah Raga pada tahun 1963 dan menjadi Sekolah Tinggi Olah Raga (STO).
Untuk memberikan pendidikan umum yang kuat bagi semua Fakultas, didirikan pula Fakultas Umum, dan digabungkan dengan Fakultas Filsafat menjadi Gabungan Fakultas Umum dan Fakultas Filsafat. Pada tahun 1961 Fakultas Filsafat dibubarkan dan pada tahun 1962 Fakultas Umum juga dibubarkan. Sebagai penggantinya tahun 1963 didirikan Biro Penyelenggara Kuliah-Kuliah khusus untuk melaksanakan tugas yang semula menjadi tugas gabungan Fakultas Umum dan Fakultas Filsafat. Namun pada tanggal 18 Agustus 1967 Fakultas Filsafat didirikan kembali dan pada tahun 1969 Biro Penyelenggara Kuliah-Kuliah khusus dimasukkan dalam Fakultas Filsafat sebagai Biro Penyelenggara Kuliah-Kuliah Agama.
Pada tahun 1963 Bagian Kehutanan Fakultas Pertanian ditingkatkan menjadi Fakultas Kehutanan, seksi teknologi dan seksi kultur teknik menjadi Fakultas Teknologi Pertanian. Pada tahun itu pula Jurusan Geografi pada Fakultas Sastra dan Kebudayaan ditingkatkan menjadi Fakultas Geografi.
Jurusan Psikologi pada FIP menjadi Bagian Psikologi yang kemudian pada tanggal 8 Januari 1965 menjadi Fakultas Psikologi.
Pada tahun 1969 Fakultas yang ke-18 lahir yaitu Fakultas Peternakan yang merupakan peningkatan Bagian Peternakan Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan.
Semenjak tahun 1983 Universitas Gadjah Mada memiliki 18 Fakultas Program Sarjana, dua Fakultas Program Diploma (Fakultas Non Gelar Ekonomi dan Fakultas Non Gelar Teknologi) dan satu Fakultas Pascasarjana (Magister dan Doktor). Awal tahun 1992 terjadi penyederhanaan jumlah fakultas, Fakultas Pascasarjana diubah menjadi Program Pascasarjana, sedangkan Fakultas Non Gelar Ekonomi diintegrasikan ke Fakultas Ekonomi dan Fakultas Non Gelar Teknologi diintegrasikan ke Fakultas Teknik.
Sejarah panjang perjalanan Universitas Gadjah Mada semenjak tahun 1949 disaat awal, hingga kini sudah memasuki usia ke 70 tahun, pada tahun 2019, dengan ke enam belas Rektor meliputi sebagai berikut:
Rektor pertama UGM, Prof. Dr. M. Sardjito (1949-1961) berasal dari Fakultas Kedokteran
Rektor ke 2 UGM, Prof. Dr. Ir. Herman Johannes (1961-1966) berasal dari Fakultas Teknik
Rektor ke 3 UGM, drg. M. Nazir Alwi (1966-1967) berasal dari Fakultas kedokteran Gigi
Rektor ke 4 UGM, Drs. Soepojo padmodipoetro, MA. (1967-1968) berasal dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Rektor ke 5 UGM, Prof. Dr. Soeroso H. Prawirohardjo, MA. (1968-1973) berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Rektor ke 6 UGM, Prof. Dr. Sukadji Ranuwihardjo, MA. (1973-1981)
Rektor ke 7 UGM, Prof. Dr. Teuku Jacob, MS., DS. (1981-1986) berasal dari Fakultas Kedokteran
Rektor ke 8 UGM, Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, SH., ML. (1986-1990) berasal dari Fakultas Hukum
Rektor ke 9 UGM, Prof. Dr. Ir. Mohammad Adnan (1990-1994) berasal dari Fakultas Teknologi Pertanian
Rektor ke 10 UGM, Prof. Dr. Soekanto H. Reksohadiprodjo, M.Com (1994-1998) berasal dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Rektor ke 11 UGM, Prof. Dr. Ichlasul Amal, MA (1998-2002) berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Rektor ke 12 UGM, Prof. Dr. Sofian Efendi, MPIA (2002-2007 berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Rektor ke 13 UGM, Prof. Ir. Soedjarwadi, M.Eng., Ph.D (2007-2012) berasal dari Fakultas Teknik
Rektor ke 14 UGM, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc. (2012-2014) berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Rektor ke 15 UGM, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D. (2014-2017) berasal dari Fakultas Teknik
Rektor ke 16 UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng. (2017-2022) berasal dari Fakultas Teknik UGM.

Santi Diwyarthi, Alumni Fak. Psikologi UGM 1993.
Politeknik Pariwisata Bali (dahulu Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali)
Referensi : dari hasil riset studi literatur dan berbagai sumber lainnya.

Senin, 28 Oktober 2019

Ubud Writers and Readers Festival, 23-27 Oct 2019



Berpuluh tahun menggelar kegiatan Ubud Writers and Readers Festival, telah memperlihatkan sinergi berbagai pihak dalam melaksanakan kegiatan tersebut. Bukan berarti di dalamnya tidak terdapat pertarungan kekuasaan, pergulatan perjalanan panjang dari penyusunan perencanaan, operasional kegiatan yang menyita perhatian, serta evaluasi tindakan yang berulangkali dilakukan, agar dapat dijadikan pelajaran dan pengalaman mengurangi kegagalan atau kekecewaan berbagai pihak.


Tidak ada gading yang tidak retak, inilah perwujudan kolaborasi dunia seni dan budaya, harmoni di antara penguasa dan pengusaha, pencipta dan pemelihara seni itu sendiri, penerus serta penikmat seni yang akan menghadirkannya lagi, kembali dan kembali, dalam berbagai ruang dan waktu. Sehingga akan senantiasa lahir berjuta karya seni, ribuan kegiatan terkait budaya, tidak hanya Ubud Writers and Readers Festival, tidak hanya di Ubud, berwujud pencipta karya, pelestari budaya, pengembang budaya, pencinta dan penikmat budaya, penutur dan penjual budaya, yang mampu mengemas budaya sedemikian menarik, mengikuti selera jaman, tanpa mengabaikan spirit maupun taksu dari budaya itu sendiri.



Pembelajaran dan pengalaman sekian lama akan membuat berbagai pihak kian dewasa dan bijak dalam penyelenggaraan berbagai event selanjutnya. Bagaimana partisipasi masyarakat setempat dalam perencanaan awal harus didukung penuh oleh jaringan komunikasi dan teknologi informasi yang baik dengan berbagai pihak. Kesiapan sumber daya manusia dalam melestarikan unsur-unsur budaya local genius wisdom, mengembangkan dengan selera kekinian yang disertai upaya mengemas berbagai paket menarik, banyaknya alternatif pilihan kegiatan tanpa mengurangi fokus dan makna dari kegiatan itu sendiri. Hal ini yang membuat Ubud Writers and Readers Festival mampu bertahan hingga tahun ke 16 dari kegiatan mereka, dan dengan tekad serta harapan masih akan terus berjalan hingga ber puluh tahun lamanya. 


Dunia Baca Tulis tidak hanya terkait dengan puisi dan novel absurd belaka, di sekelilingnya juga terdapat budaya, kecanggihan teknologi, jejaring pemasaran dan penjualan, interaksi yang terjalin, pada kalangan wisatawan, generasi berbeda dengan arus genre bermacam pula, kajian sejarah sastra se kaliber dunia, wisata alam yang menaungi, pengenalan beragam topik bahasan sebagai pelampiasan hasrat dan semangat jiwa yang ingin tersalurkan. Maka, inilah implikasi Ubud Writers and Readers dalam hajatan yang melibatkan berpuluh negara, lebih dari 30 negara yang ada di dunia, baik penguasa maupun pengusaha negara tersebut, sastrawan, budayawan, ilmuwan, kaum teknokrat.
Seperti yang dikemukakan oleh Laksmi Pamuntjak sang koki dan juga penulis beberapa buku terkenal, yang akan berulang tahun ke 49 bulan Desember ini. Dia menyampaikan bahwa ajang diskusi seni dan budaya semacam ini akan membuat kita semakin terbuka, semakin termotivasi untuk berkarya secara kreatif, berpikir yang out of the box, siap terhadap kritikan orang lain. 


Chef ternama, Bara Raoul Pattiradjawane (55 th), menjelaskan bahwa terdapat banyak konsep dan ide yang ada pada setiap buah karya manusia, entah itu makanan, filosofi yang terkandung di dalamnya. Berbagai daerah memiliki kearifan lokal masing-masing, setiap orang memiliki keunikan sendiri, dan disaat mereka bertemu, mungkin saja terjadi benturan, ketidakcocokan. Ubud Writers and Readers Festival ini mempertemukan banyak pihak dalam serangkaian diskusi berkepanjangan, dengan didukung berbagai riset yang memadai, membuka ruang pameran untuk berkarya dan menyajikan  produk masing-masing akan membawa kita semua pada beragam informasi terkini yang sifatnya lintas budaya.


Maka, jadilah diskusi berkepanjangan kami mengenai perjalanan sejarah, saksi hidup dan perjuangan mereka dalam beragam buah karya, entah itu berupa cinema, film screening, beragam asesoris dari berbagai komunitas masyarakat dan budaya, art culinary, art exhibition, art performance, para jurnalis, kaum muda dan juga lansia, kanak-kanak, para pencinta seni dan kaum budayawan, para kritikus hingga para penjaja atau pengusaha jitu bertemu menjadi satu. Lima hari terlalu singkat, namun memiliki kesan mendalam, mampu menjadi ajang interaksi berkepanjangan, bagi sebuah peluang melahirkan banyak rencana ke depannya, terkait sastra, seni, desain dan pertunjukan.


Stigma dimana festival mampu menjadi ajang yang tidak hanya sekedar workshop, diskusi panel dan ruang ekspresi karya seni ini yang dibangun oleh Ubud Writers and Readers Festival. Namun juga membangun persahabatan, mengembangkan jejaring komunikasi, membentuk persaudaraan, melahirkan kritik yang membangun, saling memotivasi satu sama lain dalam melahirkan banyak karya kreatif dan produktif. Suatu destinasi yang fantastik dan berlangsung secara terus menerus dalam membangun kepedulian kita bersama terhadap lingkungan juga masyarakat yang ada di sekelilingnya.