Kamis, 08 Maret 2018

Keluarga Suteja Neka Berduka, 3 Maret 2018




“Ni Gusti Made Srimin, ibu, senantiasa mendukung saya, meski terkadang banyak rintangan yang kami temukan”. Ujar Pande Wayan Suteja Neka mengenai istri tercinta saat kami berdiskusi bersama sambil menyusuri ruang demi ruang di Museum Seni Neka di awal tahun 2014.  Ada lebih dari 400 an karya seni lukis, 300 an patung dan 300 an keris di Museum Neka yang terletak di Jalan Raya Sanggingan Campuhan, Desa Kedewatan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar ini. 

Gallery Seni Neka (Neka Art Gallery) merupakan dunia bisnis saya, sedangkan Museum Seni Neka (Neka Art Museum) merupakan dunia idealis saya” Sambung Pande Wayan Suteja Neka. “Saya sudah mendapatkan banyak hal, kebahagiaan dari ruang seni dan budaya, maka saya berkewajiban mengembalikan pula kebahagiaan tersebut bagi dunia seni. Dalam hal ini, idealism saya berkembang luas di tengah masyarakat”.  


                                             Lukisan karya Srihadi Soeharsono, tahun 2011

 “Saya mengawali nya sedikit demi sedikit. Mengumpulkan berbagai benda seni dan pusaka yang menjadi bentuk tanggungjawab saya terhadap keberlangsungan budaya, khususnya Bali. Saya merasa telah memperoleh kebahagiaan dari dunia seni, maka saya kembalikan kebahagiaan itu kepada dunia seni itu sendiri. Dan, ibu Ni Gusti Made Srimin selalu mendukung setiap jejak langkah yang saya lakukan”. Lanjut Pande Wayan Suteja Neka memaparkan berbagai bentuk dukungan yang telah dilakukan istri tercinta.


"Kami menikah pada tanggal 3 Mei 1963 dalam situasi penuh kesederhanaan, ditentang oleh pihak keluarga, dan tidak diakui. Namun perlahan kami mampu memperoleh simpati dan berjuang untuk berhasil, meski pun jalannya sering tidak lah mudah. Ibu selalu mendukung saya. Demikian pula dengan ke empat anak kami. Bahkan pada saat saya memutuskan keluar dari pekerjaan sebagai seorang guru dan memulai usaha di bidang seni". Ujar Pande Wayan Suteja Neka. 



Gallery Seni Neka (Neka Art Gallery) mulai dirintis semenjak tahun 1966. Museum Seni Neka (Neka Art Museum) berdiri semenjak tahun 1982. “Meski terkadang mendapat cemoohan dan tidak dipercaya oleh banyak pihak, namun Ibu selalu mendukung penuh setiap aktivitas yang saya lakukan terkait budaya”. Ujar Pande Wayan Suteja Neka sambil mengenang masa-masa perjuangan mendirikan museum seni. Sungguh bukan merupakan hal yang mudah mengumpulkan sedikit demi sedikit jejak langkah budaya nusantara, khususnya Bali, dalam bidang seni rupa, mulai dari lukisan wayang klasik, aliran lukis Ubud, aliran Batuan, aliran kontemporer Bali, hingga aliran kontemporer Indonesia. Hal ini demi memperluas wawasan pengetahuan para penikmat seni lukis mengenai sejarah seni rupa di Bali.



Situasi tersebut semakin berkembang denga upaya Pande Wayan Suteja Neka untuk bergelut pada bidang keris. “Semenjak tahun 2007, saya menambah ruang museum dengan koleksi ratusan keris. Memang tidak dapat disangkal, eyang buyut yang merupakan seorang empu keris dari kerajaan Peliatan Ubud pada awal abad ke 19, Pande Pan Nedeng, telah mengalirkan darah seniman keris sejati”. Pande Wayan Suteja Neka menguraikan lebih lanjut bahwa meski bukan merupakan seorang empu pembuat keris, namun JMK Pande Wayan Suteja Neka berhasil mengembangkan semangat budayawan sejati, sebagai seniman sejati, dengan koleksi beragam aliran senirupa dan keris yang legendaries, dengan bukti beragam penghargaan yang telah diraih, seperti Lempad Prize (1983), Penghargaan Seni dan Medali Emas Gubernur Bali (1992), Piagam Penghargaan dari Mendikbud RI (1993), Penghargaan Seni Wija Kesuma dari Bupati Gianyar (1997), Piagam Penghargaan dari Menparpostel (1997), Heritage Award dari PATA Indonesia Chapter (1997), Penghargaan Adi Karya Pariwisata oleh Pemerintah RI (1997), Penghargaan Karya Karana Pariwisata dari Pemerintah Provinsi Bali (2003).



Namun kebahagiaan keluarga terusik tatkala ibu Ni Gusti Made Srimin diketahui mengalami penyakit. Berbagai upaya dilakukan oleh pihak keluarga demi kesembuhan ibu, termasuk berobat ke Luar Negeri. Dr. Kardi Suteja Neka menjelaskan bahwa penyakit ibu telah diketahui semenjak beberapa tahun lalu, setelah dinyatakan tuntas menjalani perawatan di Singapura, ternyata kemudian kembali kambuh. Kembali pula berbagai upaya dilakukan oleh pihak keluarga, termasuk menjalani perawatan semenjak awal Januari 2018 lalu di Negara Singapura. Bergantian pula, pihak keluarga, anak, menantu dan cucu mendampingi dalam proses perawatan tersebut.



“Ibu Ni Gusti Made Srimin dirawat di Farrer Park Hospital, Singapura, semenjak 8 Januari 2018, atas penyakit kanker yang diderita. Bapak Pande Wayan Suteja Neka menemani dengan setia, dan menetap di One Farrer Hotel and Spa, yang merupakan hotel berbintang lima dan terkait dengan Farrer Park Hospital. Ujar beliau saat kami mengucapkan selamat menyambut Tahun Baru 2018.

Namun takdir dan karma berbicara lain, ibu Ni Gusti Made Srimin meninggal pada pagi hari, Sabtu, 3 Maret 2018, di Singapura. Bapak Pande Wayan Suteja Neka beserta anak-anak mendampingi saat-saat beliau berangkat. Amor ring acintya. Om ksama sampurna ya nama swaha. Om asato ma sat gamaya, Tamaso ma jyotir gamaya, Mrityor mam ritam gamaya…..Ya Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, bersatulah sang atman, Engkaulah yang Maha Sempurna, bimbing kami semua mencapai kebenaran, dari jalan gelap menuju terang, dari kematian menuju keabadian.

Rombongan keluarga kembali ke Indonesia pada hari Senin, 5 Maret 2018, dalam kondisi penuh duka. Jenasah disemayamkan di rumah duka Banjar Taman Kaja, Peliatan, Ubud. Prosesi upacara mekingsan di geni berlangsung pada tanggal 8 Maret 2018. “Kami merencanakan upacara Ngaben kelak bersama warga di Banjar Andong, Desa Peliatan, Kecamatan Ubud”. Ujar putra ibu Ni Gusti Made Srimin, dr. Kardi Suteja Neka, saat kami melayat pada hari Selasa, 6 Maret 2018.


Wajah lelah dan penuh duka terpancar dari seluruh anggota keluarga, dari seorang pria tua, Pande Wayan Suteja Neka, yang begitu mencintai istrinya. Begitu banyak rangkaian bunga di halaman rumah mereka, Gallery Seni Neka. Begitu banyak para sahabat yang dating berkunjung, juga warga banjar, dalam rangkaian upacara mekingsan di geni.




Aku ingin belajar dari cinta kasih sejati seorang Pande Wayan Suteja Neka dan Ni Gusti Made Srimi…… bahwa, cinta yang menguatkan mereka untuk menjalani hari-hari bersama, bahwa, kebahagiaan hadir dalam beragam cara, dalam cinta tentang seni dan budaya, yang hadir di tengah kehidupan mereka berdua.

Rabu, 07 Maret 2018

Galang Kangin di Museum Neka, 24 Februari - 24 Maret 2018




Pada hari Sabtu, 24 Februari 2018, kembali digelar pameran seni lukis di Museum Neka. Berlangsung selama satu bulan hingga tanggal 24 Maret 2018, pameran ini dibuka tanpa kehadiran Pande Wayan Suteja Neka. Bapak sedang mendampingi ibu berobat di Singapura”. Ujar salah satu pegawai Museum Neka.



Galang Kangin merupakan kelompok seniman perupa beranggotakan antara lain: Made Supena, I Dewa Soma Wijaya, I Nyoman Diwa Rupa, I Gusti Putu Muliana, I Nyoman Ari Winata, I Made Galung Wiratmaja, AA Gede Eka Putra Dela. Pada pameran kali ini mereka memajang 42 karya seni lukisan dari 15 seniman dengan berbagai aliran, dengan topik “Becoming” sebagai pertanda 20 tahun berdirinya kelompok tersebut. Pada saat bersamaan, diluncurkan pula buku berjudul “Becoming”. Sebagai sebuah kelompok seniman, Komunitas Galang Kangin berdiri semenjak tahun 1996, rutin mengadakan pameran di berbagai lokasi yang terkait kebudayaan. Para anggotanya juga mampu meraih berbagai penghargaan seni rupa seperti Phillip Morris Arts Foundation.



Di dalam rangkaian kata sambutannya, dr. Kardi Suteja Neka menjelaskan bahwa pameran ini merupakan suatu bentuk ajang apresiasi seni keluarga Neka bagi masyarakat, khususnya seniman dan budayawan, juga para pencinta seni. 

Museum Neka merupakan museum yang rutin memberikan ruang dan kesempatan bagi banyak seniman untuk mengadakan pameran karya seni mereka. “Jangkung adalah orang kepercayaan saya yang sudah terlatih dengan baik, punya pengalaman dalam mengelola ratusan karya seni, dan mengatur berbagai pameran seni yang layak tampil di sini” Ujar Pande Wayan Suteja Neka mengenai sumber daya manusia yang mengelola Museum Neka, bertempat di jalan Raya Sanggingan Campuhan, Kedewatan, Ubud.



“Saya ingin museum saya menjadi sebuah tempat pertemuan bagi para budayawan, pencinta seni. Menjadi ajang pembelajaran untuk memperluas cakrawala pengetahuan, bagi para siswa, para wisatawan yang datang berkunjung, bahkan para lansia yang ingin mengisi kekosongan jiwanya”. Ujar Pande Wayan Suteja Neka di penghujung akhir tahun 2017. Beliau berharap karya seni tidak hanya dikagumi sebagai sebuah karya seni, namun juga menjadi cerminan jiwa dan semangat dari pencipta seni dan pencinta seni, sehingga seniman dan budayawan bisa hidup dua kali, baik pada saat kehidupan nya di dunia, dan di dalam karya seninya meski dia sudah meninggal dunia.



Dibuka secara resmi oleh Anak Agung Rai, pemilik Museum ARMA, beliau menyampaikan pameran kelompok seni Galang Kangin di Museum Neka ini diharapkan mampu mewujudkan tanggungjawab moral para seniman dalam menghasilkan karya seni yang baik dan positif bagi masyarakat luas. “Pameran karya seni merupakan pertanggungjawaban seniman bahwa mereka menghasilkan karya seni yang akan dikenang lama, bahkan sepanjang masa, oleh masyarakat luas, dari berbagai kalangan”. Salah satu yang disampaikan oleh Anak Agung Rai pada tanggal 24 Februari 2017. “Pihak manajemen Museum tentu tidak dengan gampang memberikan ijin bagi berbagai pihak yang ingin menampilkan karya seninya. Ini sudah merupakan hasil pilihan, pertimbangan, penelusuran banyak karya yang dihasilkan sebelumnya”.



Jumat, 09 Februari 2018

Bunda Susi (Energik, cerdas, dan tetap membumi)




Mongken ade monto anggo,
mun sing ade lebian ken to,
de paksane pang dadi amonto..
isin polone mule amonto.
Maju dan sukseslah tanpa menjatuhkan orang lain.

Mongken ade monto anggo,mun sing ade lebian ken to,de paksane pang dadi amonto...isin polone mule amonto. Maju dan sukseslah tanpa menjatuhkan orang lain. 

Demikian tertulis di wall beliau pagi hari ini. 

Bunda Susi adalah seorang perempuan pekerja yang mengajarkan padaku, bahwa banyak falsafah kehidupan, teori keagamaan, ritual, adat istiadat, kegiatan sehari-hari terkait keluarga juga bermasyarakat, bisa tetap seiring sejalan. 

Jika aku mengeluh akan tuntutan hidup yang begitu menggebu, mulai dari anak-anak dengan segala rupa tingkahlaku mereka, pekerjaan yang terkadang penuh tekanan, keinginan yang tidak tercapai, maka aku merujuk pada beliau.

Tidak baik terlalu menyiksa diri, berharap semua kebutuhan dan keinginan terpenuhi. Tidak perlu hidup penuh penyesalan, kita bukanlah superwoman atau wondermom, bahkan, kita bukan malaikat bagi diri kita atau orang lain. Tidak boleh menyakiti orang lain, bahkan mahluk hidup lain, karena apa yang kita beri akan datang pada kita juga pada akhirnya.

Take it, or leave it. Ini yang ada, mari kita syukuri bersama. Berusaha untuk mendapatkan yang terbaik, maka mari kita bekerjasama mewujudkannya.....

I Love You Full, Mom. Tetaplah bersemangat ya, dalam segala cuaca, dengan sendal jepitmu, dengan nafas yang memberi kita hidup......

Kamis, 01 Februari 2018

Namanya Dedi, supir bis pariwisata.....


Namanya Dedi, supir bis pariwisata...... 
 
Lewat jalan tol Bali Mandara dari Nusa Dua, setelah bunderan yang mengarah ke Benoa. Seorang pria duduk di motor tua. Berkali dia melambai, tidak ada yang berhenti. Saya melihatnya, dan membayangkan anakku disana, diabaikan, sendirian, letih kehujanan.... Ah. Sempat ku pikir dia begal, karena wajah tersembunyi di balik helm gelap dan hari jelang malam. Motornya mogok kehabisan bensin di jalan tol tadi sore jelang malam. Dia melambaikan tangan memohon bantuan..... gerimis turun perlahan, hari kian gelap. 
 
Sempat bingung bagaimana cara ku harus membantu. Mendorong motornya di bagian knalpot, dengan kaki kiri, sementara tetap mengendarai motorku. Atau ?? Akhirnya. Dia mengendarai motorku dan mendorong motor mogok nya yang kukendarai, hingga pom bensin di benoa. Ah, ini karma ku. Terbayang dahulu, beberapa kali aku juga kehabisan bensin di tengah jalan, dan berkali dibantu orang tak ku kenal.
Namanya Dedi, supir bis pariwisata..... 
 
Dia berkali ucapkan terima kasih dan bersikeras membelikan bensin juga di stasiun pompa bensin Benoa tersebut. He he. Gak perlu dah. Sesama pengelana jalan raya dan umat manusia harus saling peduli juga. Ku geber motor tua, lanjut menyelesaikan urusan beberapa berkas yang harus selesai segera, menuju tempat fotokopi yang masih buka di malam hari ini.... 
 
Namanya Dedi, supir bis pariwisata..... 
 
Jack Ma kuingat pernah bertutur tentang Values, Believing, Independent Thinking, Teamwork, Care for Others.... 
 
Terkadang, orang sering abaikan values atau nilai yang tertanam dalam diri semenjak dahulu, saling membantu, tolong menolong, menghargai dan menghormati. Ini pula yang diajarkan orangtuaku dahulu, dan selalu kutanam pada anak-anakku, mengenai membantu orang lain..... 
 
Urusanku masih panjang, masih harus fotokopi, dan pulang, menyediakan makan malam bagi keluarga. Namun Kepercayaan, Believing yang melekat, bukan cuma sekedar keyakinan. Orang itu juga percaya padaku untuk membantunya..... tidak baik menghancurkan harapan orang yang mempercayai kita dengan tulus.... 
 
Independent Thinking, pikiran yang membebaskan, tidak terikat untung rugi, tidak berharap apa pun, tidak ada unsur kepentingan dan konflik sedikitpun, tidak ada beban, membuat kita tulus ikhlas membantu orang lain. Oke deh, anak dan suami menunggu di rumah untuk menikmati makan malam bersama, namun ada panggilan bantuan. Keluarga tentu akan maklum, emak nya juga pejuang jalanan..... 
 
Teamwork. Kerjasama yang baik, yang mampu membuat kami tuntaskan masalah tersebut dengan baik pula. Gak kebayang deh, andai dia yang duduk di motor miliknya, lalu aku mendorong knalpot motornya dengan kaki kiriku sambil mengendarai motor tua ku. Ha ha ha.... 
 
Care for Others. Ini bukan tentang sok sok an menjadi pahlawan. Aku gak butuh pengakuan. Gak penting lah itu. Yang utama dalam hidup adalah saling peduli, bahu membahu, bekerja sama, mewujudkan visi dan misi. Kita gak perlu jadi sang pahlawan penyelamat yang selalu ada setiap saat. Kita juga bukan malaikat, apalagi mau jadi Tuhan. Hidup sudah berat. Setidaknya, dengan peduli pada orang lain, melakukan hal yang kita bisa, itu sudah baik. 
 
Namanya Dedi, supir bis pariwisata......

Minggu, 07 Januari 2018

Pura Samuan Tiga, Doa, Cinta, Bersama kita Bisa. 7 Januari 2018





Pura Samuan Tiga, Minggu, 7 Januari 2018. Mengapa harus Pura Samuan Tiga? Sudah beberapa kali tertunda, fokus pada kegiatan lain dan juga tempat lain. Namun, kali ini, kami bisa berkumpul disini, bersama, meski tidak semua. 

Lontar Kutaca Kanda Dewa Purana Gangsul menjelaskan bahwa pada masa itu terdapat sebuah tempat suci yang bernama Kahyangan Samuantiga, dimana para Dewa dan Dewata, Bhatara dan Bhatari, Para Rsi Pandita mengadakan pertemuan, musyawarah, mempersatukan pandangan demi kebaikan di masa yang akan datang.

Pertemuan penting (ika maka cihna mwah genah), musyawarah tokoh penting terkait suatu sistem pemerintahan pada masa Bali Kuna, di masa pemerintahan Raja suami istri Udayana Warmadewa, bersama permaisuri Gunapriyadharmapatni, yang memerintah sekitar tahun 989 – 1011 Masehi. 



Pada Babad Pasek disampaikan bahwa : “…. Dahulu kala, pada saat bertahtanya Cri Gunapriyadharmapatni dan suaminya, Udayana Warmadewa, ada musyawarah besar Ciwa Budha dan Bali Aga. Itulah asal mulanya ada desa pekraman dan Kahyangan Tiga sebagai rujukan kehidupan pada masing-masing Desa Bali Aga…..”

Berdasar kedua lontar tersebut, jelas bahwa pertemuan dan musyawarah para tokoh agama di Pura Samuan Tiga pada masa pemerintahan Guna Priyadharmapatni dan Udayana telah berhasil mempersatukan berbagai pendapat, memutuskan suatu kemufakatan, untuk penerapan konsepsi Tri Murti, melalui Desa Adat / Pekraman, dengan Kahyangan Tiganya. 

Suksesnya pelaksanaan musyawarah ini dalam menghasilkan suatu keputusan bijak bagi perkembangan agama Hindu di Bali, secara tradisional, diyakini tidak terlepas dari peranan penting tokoh legendaries Mpu Kuturan sebagai senopati dan pemimpin lembaga majelis pemerintahan pusat yang diberi nama Pakira-kiraan Ijro Makabehan, sehingga situasi dan kondisi sosial keagamaan dapat berjalan secara kondusif, dan kehidupan bermasyarakat berjalan secara tentram.



Pura Samuan Tiga dahulu bernama Pura Gunung Goak, karena letaknya di pegunungan atau dataran tinggi. Pura ini lah yang dipilih dan dijadikan tempat pertemuan dalam rangka menyatukan pandangan akibat terpecahnya Bali menjadi sembilan sekte atau aliran di kala itu.

Pemangku Pura Samuan Tiga, Gusti Ngurah Mudrana, awal Desember 2017 (https://www.jawapos.com/baliexpress/read/2017/12/06/31665/pura-samuan-tiga-muasal-adanya-desa-pakraman-dan-mempersatukan-sekte) menjelaskan, pada abad X masehi, terjadi perselisihan di tengah masyarakat Bali yang menyebabkan keresahan di tengah masyarakat. 

Ada sembilan sekte yang berkembang pada masa itu. Sekte-sekte tersebut adalah Pasupata, Bhairawa, Siwa Sidhanta, Waisnawa, Bodha, Brahma, Resi, Sora dan Ganapatya. Masing-masing sekte memuja Dewa-Dewi tertentu sebagai istadewata (Dewa Utama) dengan simbol tertentu. Penganut setiap sekte berkeyakinan bahwa istadewata merekalah yang paling utama di antara dewa yang lain. Keyakinan sektarian itu mengakibatkan benturan konflik dan ketegangan antar-sekte. Hal ini berpengaruh terhadap stabilitas  kerajaan dan masyarakat.

Menyadari hal itu, raja suami-istri Gunapriyadharmapatni dan Udayana berusaha mengatasinya dengan mengundang tokoh-tokoh spiritual dari Bali dan Jawa Timur (Gunapriyadharmapatni adalah putri raja Makutawangsawardhana dari Jawa Timur) untuk mencari jalan keluar gejolak antar-sekte ini.

Pada waktu itu di Jawa Timur ada lima pendeta bersaudara. Ke-lima pendeta bersaudara tersebut kerap dijuluki Panca Pandita atau Panca Tirta. Mereka adalah Mpu Semeru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan, Mpu Gnijaya dan Mpu Bharadah. Empat di antara kelima pendeta tersebut didatangkan ke Bali secara berturut-turut, yaitu:

1.      Mpu Semeru datang di Bali pada tahun saka 921 (999 M) berparhyangan di Besakih.
2.      Mpu Ghana datang pada tahun saka 922 (1000 M) berparhyangan di Gelgel.
3.      Mpu Kuturan datang pada tahun saka 923 (1001 M) berparhyangan di Silayukti, Padangbai.
4.      Mpu Gnijaya datang pada tahun saka 928 (1006 M) berparhyangan di Lempuyang (Bukit Bisbis).

Mpu Kuturan yang berpengalaman  sebagai kepala pemerintahan di Girah dengan sebutan Nateng Girah, oleh Gunapriyadharmapatni diangkatlah beliau sebagai senapati dan sebagai Ketua Majelis Pakira-kiran I jro Makabehan. 

Melalui posisi yang dipegang itu, Mpu Kuturan melaksanakan musyawarah bagi sekte keagamaan yang berkembang di Bali bertempat di Pura Penataran kerajaan. Pada masa itu, setiap kerajaan di Bali memiliki tiga pura utama: Pura Gunung, Pura Penataran (di pusat kerajaan) dan Pura Segara (laut). Musyawarah tersebut berhasil menyatukan semua sekte untuk penerapan konsepsi Tri Murti yaitu kesatuan tiga manisfestasi Tuhan (Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa) dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan. 



Konsepsi "three in one" ini (aryapengalasanblogspot.com) berlaku di seluruh Bali dan menghapuskan dominasi satu sekte terhadap sekte lainnya, meskipun belakangan sekte Siwa Sidhantalah yang tampil dominan. Penyatuan ini serupa dengan apa yang dilakukan oleh Mpu Kuturan di Jawa dengan mendirikan Candi Loro Jonggrang (Prambanan) yang memuja Dewa Brahma, Wisnu dan Ciwa. 

Konsep Tri Murti yang diperkenalkan oleh Mpu Kuturan kemudian diterapkan dalam pola Desa Pakraman dengan pendirian pura Kahyangan Tiga yakni Pura Desa (Brahma), Pura Puseh (Wisnu) dan Pura Dalem (Siwa) pada setiap desa. Bagi setiap keluarga, diterapkan pembangunan Sanggar Kamulan Rong Tiga (tempat pemujaan dengan tiga pintu).

Ini yang menjadi pitenget bagi siapapun, bahwasanya, harmoni akan tercipta bila didasari dengan niat tulus dalam diri setiap insani, pemahaman mendalam terhadap latar belakang sejarah, saling menghargai satu sama lain, dan aplikasi nyata dalam berbagai aspek kehidupan. Karena.... bukankah, setiap orang memiliki peranan dan fungsi nya masing-masing yang akan saling melengkapi satu sama lain. Pedagang, penyanyi, nelayan, guru dan murid, pemimpin dan rakyat, penguasa dan pengusaha, tokoh spiritual dan umat. Semua sama penting dan mulianya.

Untuk memperingati peristiwa penting tersebut maka tempat dimana terjadi musyawarah tersebut, yakni Pura Penataran kerajaan tersebut, diberi nama Pura Samuantiga. 

Pura Samuan Tiga terdiri dari tujuh mandala, Pertama di Pura Beji sebagai tempat berstananya Bhetara Wisnu, memohon penglukatan dan membersihkan diri, berikutnya Palinggih Agung Sakti sebagai tempat berstananya Ganesha, Dewa Kemakmuran, Palinggih Ratu Agung Panji, Palinggih Ring Lumbung sebagai tempat berstananya Bhatara Segara dan Sedana, yang menganugerahkan kesejahteraan bagi setiap pemedek, terakhir, Mandala Pesamuan.

Pengemong Pura Samuan Tiga terdiri atas lima desa pakraman, yaitu Desa Pakraman Bedulu, Wanayu Mas, Taman, Tangkulak Kaja, dan Tangkulak Tengah.

Maka, bila resah dan gelisah, konflik batin melanda, perselisihan mengancam persatuan dan kesatuan, setangkup doa berpijar dari Pura Samuan Tiga di sertai niat suci dan tulus juga semangat kebersamaan kita, semoga damai terpelihara senantiasa, di hati, juga di bumi, bagi semesta…….

Sumber Referensi :