Selasa, 21 Agustus 2012

Tujuh Belas Agustus 2012 dan Semangat di Dada

Setelah kemarin malam keluar hingga larut malam bersama putra sulungku, mencari topi korpri bagi suami yang akan apel di pagi hari, Jum'at, 17 Agustus 2012 ini, di kampus UNUD, kami tiba pada hari yg bersejarah, 67 tahun lalu, Hari Kemerdekaan Republik tercinta, Indonesia.



Seluruh pakaian seragam sudah tergelar di kursi. Seperangkat pakaian korpri bagi sang suami, seperangkat pakaian merah dan putih bagi putra bungsu yang duduk di kelas V SDN 14 Padang Sambian Kelod, seperangkat pakaian putih dan abu-abu bagi putra sulung yang duduk di kelas III SMAN I Denpasar, juga seperangkat pakaian putih biru dongker juga jas, bagiku.

Simbok yang ditugaskan ke pasar, kembali dengan heboh. Tangisan nya meledak karena telah menjatuhkan di jalan, uang belanja RP 120.000. Berulang kali dia mondar mandir dg motornya, sang uang tetap tidak berjumpa. Dia takut dimarahi. Hweleh...... Kesal? Memang, tapi mau bilang apa lagi? Marah berkepanjangan hanya akan merusak hatiku, juga kondisi mental simbok, yg adalah cucu dari pihak keluarga suamiku. Hehehe. Pasrah sajalah, anggap ujian dari Hyang Widhi di pagi hari.

Setelah kami sarapan sejenak, masing-masing berangkat menuju ke tempat tujuan. Suami Apel Upacara Bendera di kampus Bukit, si Sulung ke Smansa yg terletak di jalan Angsoka, Kreneng, si Bungsu ke sekolahnya, 50 meter dari rumah, dan aku mengendarai motor yg kutitipkan di TakaPit jl. Imam Bonjol, lalu menumpang bis kampus ke Nusa Dua, Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua.

 Mejeng bersama ibu Ni Made Eka Mahadewi. Kami berdua sesama kandidat Doktor di Universitas Udayana. Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa membantu kami menggapai cita-cita mulia ini.....



Tiba di Nusa Dua, pegawai STPNDB yg menumpang bis turun dan bergerak ke arah lapangan OR dimana upacara bakal digelar.








Para mahasiswa sudah berdiri di tengah lapangan. sesuai dengan kelompok masing-masing. 800 an mahasiswa baru dari berbagai Program Studi, dan 500 an mahasiswa semester 3 dan 5, juga 7 yang bergabung di kampus ini pada semester ganjil ini.




Bapak ketua STPNDB, Dr. I Nyoman Madiun, M.Sc. berfoto bersama Paskibraka STPNDB. Para pegawai berdiri di bagian Selatan, para dosen berdiri di bagian Utara Lapangan.



Kelompok Paskibra bersiap dengan gagahnya mengenakan uniform putih putih.



 Sesama emak-emak yang dosen narsis di STPNDB. Ibu Luh Ketut Sri Sadjuni, Ibu Widuri nan cantik....

Demikian pula ke 20 para PNS yang akan menerima Karya Satya Satya Lencana 20 tahun dan 30 tahun pada tahun 2012 ini. Para Dharma Wanita berdiri di samping barisan para dosen.




Ah...... Sungguh terharu. 67 tahun lalu, para pejuang berjuang memperoleh kemerdekaan, dengan mengorbankan segenap yang mereka miliki.



Terngiang, apa yg diujarkan oleh John Frederick Kennedy, "Jangan bertanya, apa yang telah negara mu berikan bagi dirimu. Namun bertanyalah pada dirimu sendiri, apa yang telah engkau berikan bagi negaramu". Hmmmm, apa ya, yg telah pernah kuberikan? Rasa nya gak pernah deh.... Tapi, biarlah org lain yg menilai, sejauh kita gak menilai cuma dari penampilan belaka.



Upacara bendera tuntas pukul 9.30. Kami beramah tamah sejenak. Pembagian hadiah dari berbagai lomba yang diadakan dalam rangka 17 Agustusan kemarin tuntas. Kami bergerak kembali menuju ke arah parkir.

Berbagai kendaraan bergerak menuju arah rumah masing-masing, aku menaiki bis kampus yang melewati rute jalan Imam Bonjol, kami pulang.



Tiba di rumah kemudian...... Sebenarnya telah kusediakan beragam jenis hadiah kecil. Aku terbiasa berkumpul bersama para anak dan remaja di lingkungan perumahan, dan melakukan banyak aktivitas bersama, mulai dari bersepeda bersama, merayakan berbagai peristiwa seperti 17 Agustusan, Tahun Baru an, dan berbagai yang lainnya. Namun, hingga tiba pukul 11 di rumah, sama sekali belum ada ide terlintas, apa yang akan kami lakukan bersama.... Maka, aku duduk sejenak di teras, dan menikmati suasana siang.


Pukul 15, suara anak-anak kecil berteriak memanggilku di depan pagar rumah. Aku bergerak keluar rumah. Kami berkumpul di aula perumahan. duduk bersama mereka, kutawarkan berbagai lomba yang bisa kami lakukan bersama-sama. Kubawa bersamaku, tepung terigu dalam toples plastik, sendok plastik satu lusin, kue cokelat 30, 20 kelereng, dan..... apa yg kemudian bisa kami lakukan?


Hmmm, sedikit ide kreatif bersama, yg penting semangat kebersamaan di dada. Maka, dari lomba makan kue anak perempuan dan lelaki, lomba balap lari kelereng bersalju, dan lomba lari berpasangan dengan tali kaki melilit satu sama lain. Mereka berteriak heboh dan saling memberi semangat satu sama lain.....

























Tuntaskan acara pukul 5 sore tersebut? Belum...... Kami rencanakan acara persembahyangan bersama di pura padmasana yang terletak di bagian Utara perum. Para anak dan remaja muslim tidak bisa bergabung, karena mereka sedang persiapkan acara ber buka puasa, dan juga persiapan untuk berlebaran esok lusanya. Kami juga merencanakan untuk berkumpul bersama di rumah kak Agus Satria, karena aliran listrik di aula bermasalah di malam hari.








Pukul 19.30 malam, para anak dan remaja yang terlibat sudah duduk manis di rumah Ibu dan Bapak Mangku Made Sedana Putra ini. Aku membawa satu magic com nasi panas yang baru saja jadi, kuminta anakku, Adi, membawa 30 ingka / piring dari anyaman lidi kelapa yang kupunya, juga sepanci sayuran yang kubuat bagi acara kami ini. Aku hanya punya 8 butir telur asin, namun bukankah.... semangat kebersamaan yang lebih penting di atas segalanya? bukannya banyaknya alternatif pilihan menu yang mampu mempererat kebersamaan di antara kita...... Kubelah telur tersebut, menjadi 4 bagian. Dan, jadilah, kuminta para remaja putri untuk mengatur menu makan malam kami tersebut, nasi, sesendok sayur, dan seperempat butir telur asin. Kami berdoa bersama sebelum menikmati menu makan malam sederhana kami.......














Setelah makan malam, berbagai acara dadakan di gelar, dari persembahan tari kakak beradik, musik dan lagu anak2, pembagian hadian beragam gantungan kunci dan jepit rambut sederhana, dan..... acara berakhir pukul 10.30 malam. 




Anakku, Wayan Adi Pratama, jago bermain gitar, dan menggebuk drum. Jago IT, dan.... semoga dia jadi anak yang berbhakti bagi negeri ini, tidak sombong, ingat leluhur dan keluarga, juga para sahabat....













 Anakku, Made Yudhawijaya, beserta para sahabat, Gusti Agung Wipa, dan Ketut Suarsana, bergaya bersama topi yang mereka menangkan dalam lomba balap kelereng salju.















Sederhana, namun sungguh, mampu mempererat rasa persabatan di antara kami semua. Semoga esok hari mereka tetap mampu menjalin rasa ini. Para pemimpin masa depan negeri, kutitipkan negeri ini ke tangan kalian, kalian lah yang bakal beri arti, di saat kami hanya tulang-tulang berserakan......

Tujuh Belas Agustus an, bermakna besar, bukan hanya pada sebuah hari, dengan beragam pesta pora, atau dengan caci maki bagi se isi negeri, namun pada bagaimana kita menghargai hari itu sendiri..... menghargai diri sendiri, juga negeri ini.


Selasa, 24 Juli 2012

Antonius Hardy

Staf manajemen STPNDB sungguh peduli dan sangat perhatian dengan berbagai situasi dan kondisi STPNDB. Kepedulian ini terwujud dalam banyak hal. Salah satunya, dari sekian banyak kisah, adalah pada peristiwa yang menimpa Antonius Hardy.

134313900010492336

Kami sedang berkumpul di ruang dosen Administrasi Perhotelan pagi itu. Berdiskusi dengan para dosen dari Program Studi Manajemen Akuntansi Hospitaliti, Ibu Ni Ketut Mareni, Ibu Ni Made Sri Rukmiyati, Ibu Riska Yusmarisa, Bapak Ketut Sudarsana, Bapak Ketut Reja Arjana, Ibu Ketut Anggreni.



1343139048582916792

1343139320726576314

Kutuntaskan satu bimbingan skripsi saat pak Wayan Jata tiba di ruang kami. Sambil berdiskusi dengan bapak Ir. Nyoman Sukana Sabudi, M.EP, ibu Dra. IGA Mirah Darmayanthi, M.Si, ibu Diah Sastri Pitanatri, A.Par, kami ketahui info dari pak Jata, salah satu mahasiswa STPNDB sedang berada di rumah sakit.

1343139100909946583

Ah..... duka kami bagi mahasiswa ini. Dan, kami putuskan berangkat bersama, untuk membesuknya di Rumah Sakit Surya Husada, di Sanglah. Aku menggandeng bu Mirah. Kami berangkat dengan 2 motor, menembus panas jalan raya Nusa Dua - Denpasar, di tengah terik mentari, dan macet jalanan berdebu. Satu jam di jalanan, kami tiba juga pukul 11.15 di salah satu ruang tipe Pendet di lantai tiga rumah sakit tersebut. Seorang ibu cantik berdiri di samping mahasiswa yang terbaring lemah. Kalung bersalib terlihat melingkar di lehernya.

13431391501266792313


Antonius Hardy, adalah mahasiswa kami dari Program Diploma III, Program Studi Manajemen Tata Boga, semester 3. Pada saat kejadian kecelakaan menimpanya, Rabu, 17 Juli 2012, dia baru dua minggu menjalani masa training di hotel Bxxxxx Tree. Malam hari, sehabis training dan mengikuti evaluasi hasil training malam itu, mengendarai motor di jalanan sepi dan menikung, dengan kecepatan rendah, laju motornya justru lurus, hingga dia menghantam pagar tembok balok pembatas, hingga tembok balok semen sebesar itu terbelah menjadi beberapa bagian. Motornya masuk jurang, dan dia dalam keadaan koma dibawa ke rumah sakit, oleh staf manajemen hotel.
 

13431391821135794265

Begitu mendapat info tentang anaknya, ibunya berangkat dengan pesawat pertama dari Jakarta menuju Denpasar, dan terus mendampingi di rumah sakit. Tangan kiri patah, kaki kiri patah, darah memenuhi wajah dan mengalir dari telinga kanannya. Namun kini, kaki kirinya berbalut perban setelah menjalani operasi. Tangan kiri dibalut gips, dan, beberapa pen ditanamkan di wajah untuk menyambung tulang rahang dan tulang wajah.

 1343139206816610450

Putra bungsu dari tiga bersaudara ini akan berangkat malam ini juga, dengan pesawat ke Jakarta. "Karena kami tidak memiliki keluarga di Bali, dan agar dekat dengan seluruh keluarga besar" sahut ibunya. Ibunya lanjut dengan uraian, betapa, sebenarnya dia tidak pernah rela mengijinkan putra bungsunya berangkat menempuh pendidikan terpisah jauh dari keluarga. "Banyak sekolah pariwisata yang bagus di Jakarta. Ada UPH, dan juga yang lain. Namun kok ya, dia bisa memilih Bali", ujar sang ibu. Dia juga menyesali keputusan bapak Antonius, yang membelikan motor bagi anaknya.

Ehm, seorang ibu cantik yang terlihat panik dan berduka, karena sang anak mengalami kecelakaan. Ah, duka seorang bunda, adalah juga duka kami. Tidak ada seorang pun, yang ingin berada dalam situasi duka. Apalagi, menghadapi situasi tersebut sendirian, tanpa ada teman curhat, untuk berbagi perasaan dan kesedihan.

"Cutilah dia semester. Lekas sembuh, dan bergabung kembali untuk menuntaskan pendidikanmu", kata pak Wayan Jata. Lalu beliau menghubungi beberapa staf manajemen lembaga kami, memastikan transportasi yang akan turut menghantarkan Antonius Hardy dan ibunya ke bandara sore hari, untuk berangkat menuju Jakarta. Pak Jata juga membantu mengurus administrasi asuransi yang harus dituntaskan oleh ibu Antonius dan pihak manajemen rumah sakit, menyerahkan data kelengkapan surat cuti bagi Antonius dari STPNDB.
Satu jam berada di sana, menguatkan hati Antonius Hardy beserta ibunya, kami mohon diri, berpamit untuk melanjutkan perjalanan kami.

1343139261177699094

Duh, Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Semoga dia lekas sembuh, berkat doa dan kasih sayang dari kedua orang tuanya, keluarga dan para sahabatnya, para dosen dan pegawai STPNDB, juga staf manajemen dimana dia mengikuti training......

Senin, 16 Juli 2012

Morning Crazy & Mac Gyver for my boy

Senin, 16 Juli 2012. Hari pertama para murid kembali bersekolah setelah sebulan liburan kenaikan kelas. Demikian pula dengan anak-anakku. Mereka akan mulai kembali mengawali hari-hari dengan segudang aktivitas belajar di sekolah.

13424527701002832874

Sudah semenjak minggu lalu ku cek berbagai perlengkapan sekolah mereka. Seragam, buku, kaus kaki. Aman terkendali. Pagi ini, makanan pagi dengan menu nasi goreng dan teh anget sudah terhidang di meja. Sudah kusiapkan pula bekal bagi mereka, lengkap dengan sebotol air minum.

Selesai mandi dan mengenakan seragam, mereka mulai mengenakan sepatu. Dan...... olala, baru kusadari. Sepatu hitam putra keduaku, Made Yudhawijaya, tidak memiliki tali sepatu. Tali sepatu hitamnya telah putus dan tidak bisa digunakan lagi.

1342452799560551287

Hmmm, tak kehilangan akal, kupindahkan tali sepatu olahragaku yang berwarna putih. Sambil kurayu dia, bahwa nanti sore akan kubelikan tali sepatu hitam, yang penting, dia bisa berangkat sekolah. Namun dia menolak.

Ah, anakku ngambul bisa berat kasusnya bila hingga dia mogok sekolah. Ini adalah hari pertama. Dia harus mengawali hari bersekolah dengan sepenuh semangat dan juga bertanggungjawab. Maka, ide kreatifku berkeliaran. Daripada harus membelikan sepatu baru demi mendapatkan tali hitam, lebih baik berusaha mencari tali sepatu hitam. 

Ahai, kuambil spidol hitam dari tas ransel yang biasa kubawa kemana-mana, kubuka tutupnya, dan, kuwarnai tali tersebut. Lumayan lah, bisa bertahan untuk se hari ini. Dan segera sepatu digunakan oleh Yudha. Dia mengikat tali sepatu, segera berlalu menuju sekolah tercinta. SD 13 Padang Sambian Kelod, dengan diantar oleh simboknya.

Well. Sepagi ini, seorang ibu telah berusaha menjadi Mac Gyver, dengan segudang ide kreatif, mencoba mencari solusi. Morning Crazy, kesibukan di pagi hari, dengan segala urusan dalam negeri. Karena.... tak ada rotan pun, akar akan mampu berguna.