Rabu, 08 Januari 2014

Mimiihhhhh, Dewa Ratu !!!! Dabdabang dewa, dabdabang........






Kamis, 9 Januari 2013. Berhubung sedang liburan murid, maka yang terlihat hadir adalah para dosen dan pegawai Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali. Baru tanggal 22 Januari nanti, kuliah perdana berawal kembali.

Kuparkir motor sesaat setelah tiba, di parkir yang terletak di sebelah Timur, persis di samping tembok pagar kampus kami. Kemudian mengawali hari dengan segudang aktivitas yang telah menanti. Kami mengoreksi hasil Ujian Akhir Semester para mahasiswa yang kami bimbing.

Beberapa saat kemudian, bu Sri Sadjuni menyadari, motor kami telah dalam keadaan tergembok. Memang, area ini adalah area terlarang untuk parkir motor. Lagipula, peraturan ini adalah demi menegakkan disiplin para dosen dan pegawai, dan menjaga keamanan dengan mengumpulkan motor para satu area khusus yang tepat berseberangan dengan gedung rektorat kami.





Para petugas keamanan kami tidak bisa disalahkan, kami mengakui bersalah, dan.... tak pelak lagi, lumayan repot juga, harus menghubungi petugas keamanan, petugas Rumah Tangga STPNDB, dan menunggu mereka tiba di area parkir terlarang bagi motor tersebut.

Maafkan kami deh ya, pak. Abis.... kami pikir khan masih dalam situasi liburan kuliah dimana para mahasiswa jarang hadir di kampus. Dan..... namanya juga khan usaha, hehehe...











Setelah kami pindahkan motor pada tempat parkir yang seharusnya, kami kembali melanjutkan dengan rangkaian pekerjaan lain. Aku bersama bu Ni Nyoman Sukerti, SE., M.Si., juga ibu Ida Ayu Indrawati, SE., MM.,  menemui bapak Drs. Ida Bagus Putu Puja, M.Erg., Kabag ADUM STPNDB, yang baru tiba dari Jakarta. Kami berdiskusi mempertanyakan kejelasan proses pengurusan pengusulan DUPAK kami ke jenjang Lektor Kepala. Berikutnya, kami berdiskusi dengan bapak I Gusti Made Darmaweda, SE., dari bagian ADAK STPNDB, mengenai program komputer yang kami rencanakan bagi program studi Diploma IV Administrasi Perhotelan, dan sekaligus berkaitan dengan program Akreditasi BAN PT yang sedang berjalan.































Waktu sudah menunjukkan pukul 15.40, bersiap mengakhiri tugas di sini, bersiap untuk kembali ke rumah. Aku keluar ruangan untuk menyerahkan berkas Penetapan Angka Kredit. Berjalan menuju ruang bapak Ketua STP Nusa Dua Bali, kutemui ibu Sekarti sedang berjalan ke arah gedung Rektorat. "Bu Santi..... Motorku digembok. Whoaaaa.....". Ehm. Kali ini yang jadi korban adalah bu Sekarti. Motornya yang diparkir di parkir timur, khusus parkir mobil, digembok oleh para petugas satpam kami.





Selasa, 07 Januari 2014

Nangka sebesar ban mobil dari Putu, anakku




Malam hari.... setelah 3 jam berkendaraan motor di tengah hujan deras semenjak Desa Banjar, Buleleng, Krisna Pradnya Permana Putu mampir ke pondokku. Dia membawa nangka berukuran ban mobil tersebut. "Titipan emak, bu", ujarnya langsung berpamit karena akan langsung bekerja pada shift malam hari di hotel.


Tinggal terpisah jarak ruang dan waktu dengan orangtua dan saudara, juga sang istri tercinta, serta sedang menanti hadirnya sang buah hati tercinta, calon bayi mereka, sungguh, sebuah perjuangan tiada tepi yang membutuhkan hati selalu shantih.....


Ahh..... anakku sayang. Hidup, terkadang tidak seindah impian dan harapan. Menjadi kepala keluarga, menjadi pria tangguh, menjadi bijak dan dewasa, adalah sebuah pilihan hidup yang tidak bisa dilakukan sembarang pria. buktikan, bahwa dikau bukan pria sembarangan......

Minggu, 05 Januari 2014

Telepon untuk Dewa Biyangku tersayang..... Minggu, 5 Januari 2014


Jarak yang memisahkan keberadaan seseorang dengan orang lain, terkadang menimbulkan banyak masalah. kerinduan, kesalahpahaman, kejelasan informasi, kebersamaan, kerja sama, dan..... serentetan kompleksitas situasi juga kondisi lain. Banyak cara yang dilakukan untuk membantu terjalinnya interaksi. Baik dengan mempersering pertemuan, saling berkunjung, berkirim surat, bertelepon, akses  internet.

Dewa Biyang Nyoman adalah adik kandung bapakku. Beliau bersama keluarga besar berada di kampung halaman, desa Batuaji kelod, kecamatan Kerambitan, kabupaten Tabanan. Sudah semenjak 3 bulan ini telepon rumah Dewa Biyang Nyoman bermasalah. Tidak bisa dipergunakan lagi. kami hanya bisa saling berhubungan melalui mobile phone para Dewa Aji, pamanku lainnya. Hmmm, tentu rada ribet jika rindu melanda, dan ingin menghubungi beliau, atau bila beliau ingin menghubungi kami.......

Aku berjanji untuk segera mengganti telepon rumah Dewa Biyang Nyoman. Dan, bahkan, sudah kudapatkan semenjak dua bulan lalu. Namun, yang belum sempat kulakukan adalah membawa telpon tersebut ke kantor Telkom Tabanan, dan mendaftar untuk mendapatkan nomer telepon yang ditembakkan atau disuntikkan ke dalam telepon bersangkutan, sehingga mudah dipergunakan. Dan..... yang lebih indahnya lagi, karena telepon tersebut kuletakkan di bagian bawah meja kerjaku di rumah, sedang rumah kami kebanjiran hingga sepinggang pada hari Senin, tanggal 16 Desember 2013 lalu, telepon tersebut dengan suksesnya terendam, sehingga rusak parah..... Hmmm, hidup memang tidak selalu indah seperti harapan dan keinginan kita.



Sudah berkali aku ingin pulang ke jeroan, pulang ke kampung halaman di Kerambitan, namun beragam kesibukan begitu menekan..... Dan, jujur, aku belum mampu membelikan beliau telepon sesuai keinginannya. Namun, kerinduan takkan tinggal diam hanya menjadi kerinduan yang menghujam. Justru di tengah hujan deras dan sesekali ditingkahi petir, aku beranjak pulang. Mengendarai motor tua tersayang, mengenakan jas hujan, dengan ransel tersampir di pundak, aku pulang.

Tiba di Tabanan Kota, aku mampir di salah satu toko penjual telepon di pinggir jalan. Berceritera sejenak dengan sang pemilik toko tentang situasi di kampung halaman, dia menawarkan solusi bagiku. Ehm.... jadi ingat salah satu iklan di teve, "Menawarkan solusi tanpa solusi", atau iklan salah satu badan usaha pemerintah, "Mengatasi masalah tanpa masalah". Kuambil salah satu mobile phone bekas yang paling sederhana cara penggunaannya bagi Dewa Biyang Nyoman ku tersayang. Kuminta bapak tua penjual telepon yang ramah tersebut untuk membuat format yang paling gampang, sehingga cukup mudah untuk digunakan. kemudian kami memasukkan beberapa nomer penting yang akan langsung muncul berturutan pada mobile phone tersebut.



Setelah yakin cukup mudah untuk dipergunakan, kubelikan pulsa untuk dipergunakan sebulan oleh Dewa Biyang Nyoman, kutuntaskan pembayaran, dan segera pamit pada sang penjual untuk kembali melanjutkan perjalananku. Kubeli beberapa roti dan jaje bali, soto ayam dan lontongnya, juga sekotak gula jagung, karena Dewa Biyang Nyoman juga mengidap penyakit diabetes mellitus......

15 menit kemudian, aku tiba di kampung halaman, berjumpa Dewa Biyang Nyoman, memberikan mobile phone berwarna hijau tersebut, mengajari beliau, dan mencoba menghubungi beberapa nomer yang telah kutanam di dalamnya. Setelah cukup yakin beliau akan mampu gunakan mobile phone tersebut, aku merasa tenang. Kemudian mengunjungi bagian rumah yang lain, menyapa keluarga besarku, bertutur kata dan bertukar ceritera. 


 







 

Tidak lama, karena aku harus segera kembali ke Denpasar, acara lain kembali menanti. Hmmm, kerinduan ini, seperti apa yang kubaca dari sang bijak, pak Made Andi Arsana..... "Kita tidak tahu kemana harus melangkah jika lupa dari mana kita".

Benar sekali, pak Andi. Karena kita tentu memiliki keluarga, leluhur, juga budaya asal. Tidak menghargai dan berusaha melupakan mereka adalah bagai Kacang Lupa dengan Kulitnya. Walau terkadang terdapat kenangan yang menyakitkan, gambaran yang buruk dan menakutkan, namun, selalu indah untuk berpijak dan tumbuh berkembang dengan segala kompleksitas yang ada. Maka...... Aku pulang, berlari membawa rinduku, di tengah hujan deras dan petir, meski hanya sekejap bisa membunuh rindu pada mereka, keluargaku...

Rabu, 01 Januari 2014

Tilem Kaenem, Kajeng Kliwon, Tahun baru 1/1/14, Hujan berhari..... dan, Tahun Kuda





1 Jan 2014 bertepatan dengan Tilem Kanem dan Kajeng Kliwon di Tahun Baru Masehi. Buda Kliwon Matal, Kajeng Kliwon Uwudan. Guru Ngurah menjelaskan bahwa Tilem merupakan saat malam yang gelap gulita, diyakini ketika Prabhawa Sang Hyang Widhi sebagai Sang Hyang Rudra dalam perwujudan Sang Hyang Yamadipati yang memiliki kekuatan pralina atau “Pamuliha maring sangkan Paran”. Umat Hindu melaksanakan persembahan dan pemujaan secara khusuk kehadapan Sang Hyang Widhi, agar terhindar dari sifat dan sikap atau tabiat gelap, negatif, dan hal-hal tidak baik lain.

Bersembahyang tidak hanya terikat waktu dan tempat semata, setiap saat bila bisa, alangkah baiknya. Mesjid, Gereja, Vihara, Kelenteng, Pura, adalah simbol tempat suci umat di dunia. Dengan segala cara dan gaya, juga tata krama dan etika kita tatkala bertamu ke rumah Suci, berharap menyucikan pikiran, perkataan dan perbuatan, menjadi pribadi yang suci, putih bersih, berharap memperoleh berkah Beliau. Namun, di atas segalahnya, saya percaya, tempat tersuci, adalah di dalam diri sendiri, di hati masing2. Namun, tata cara persembahyangan, etika bersembahyang, juga terkait dengan Desa, Kala, Patra. Dimana bumi di pijak, di sana pula langit kita junjung.

Ki Kusumo menjelaskan, bahwa di Tahun Kuda ini, situasi negeri akan memanas, mengalami perguncangan dan perubahan. Banyak orang yang dahulu putih bersih, kemudian menjadi hitam, bersikap negatif dan menjadi jahat.

Banyak ramalan beredar tentang peruntungan nasib, karir, percintaan, cita dan harapan, kesehatan atau kemakmuran dari beragam shio, baik shio ayam, shio anjing, shio babi, shio kambing, shio kerbau, shio kelinci, shio kuda, shio macan, shio monyet, shio naga, shio tikus, shio ular.

Namun, di atas itu semua, belajar dari pengalaman yang telah ada, setiap dari kita dituntut untuk berpikir, bertutur kata, dan bertindak semakin berhati-hati, mempergunakan setiap kesempatan untuk belajar dan berkarya selalu. Rwa Bineda akan selalu ada. Sisi hitam dan putih, baik dan buruk, benar dan salah, suka dan duka, sedikit dan banyak. Berdoa akan menguatkan iman dan bhakti, Sraddha kita semua. Jangan pernah menyerah kalah untuk selalu berusaha di setiap kesempatan yang ada. Bukankan, kesempatan tidak akan datang pada waktu dan ruang sama pula, lagipula, diri kita sendiri yang paling menentukan keberhasilan kita.

Terjatuh dan tersungkur berkali, bangkit kembali berkali dan berkali..... yang lebih menderita dan lebih parah masih jauh lebih banyak... Bersyukur dan berdoa, dan... tetap lanjut berkarya.

Muridku curcol neeee....... Something 'bout Love.......




You find the perfect love, but at the wrong time.
You find the perfect person, but he/she is not in love with you.
You find the perfect one, but you must be loyal to someone else.
You got the perfect looks, but no one takes you seriously.
You met the perfect personality, but you are bound to be just friends.
You got brains, but got a frail heart.
You find the courage, but it’s just too late.
You are ready to love, but you don’t know where to start


Terkadang......
Pada suatu ketika, di suatu waktu,
Kita temukan cinta sejati, yang terasa begitu indah, dan begitu sempurna,
Namun pada waktu yang salah, dan tidak tepat.
Kita temukan orang sempurna, namun dia tidak mencintaimu.
Kita temukan orang yang sempurna, namun, harus setia pada orang lainnya.
Kita memiliki penampilan sempurna,
namun tak pernah seorangpun yang menganggap kita seurieus.
Kita berjumpa dengan orang yang memiliki pribadi sempurna,
namun hanya dianggap sekedar sahabat biasa.
Kita memiliki kecerdasan sempurna,
namun hati yang terluka dan hancur berkeping-keping
Kita memiliki keberanian untuk terbuka dan menentukan sikap,
namun sudah begitu terlambat untuk melakukan suatu tindakan.
Kita siap untuk mengawali sebuah percintaan,
namun tak pernah tahu dari mana memulai mengawalinya......
Ahhhh, cinta, oh cinta.......


Curcol, adalah singkatan dari curhat colongan,
artinya curhat yang dilakukan bersamaan dengan hal lain yang tidak berhubungan secara langsung. Suatu curhat yang dilakukan secara colongan, dilakukan dan disambung2in di tengah2 obrolan biasa dan tidak ada peringatan \"gw mau curhat nih..\"

Sabtu, 28 Desember 2013

Terbanglah, Merpati Putih Bersih..... Terbanglah Tinggi ke Angkasa, Ivan

Putu Ivan Krisnanda Kusuma.....
Setangkup kesan tergambar bersama hadirnya dia.
Alumni STPNDB dari Prodi BHP
yang diwisuda di BNDCC 20 April 2013



Dengan penuh semangat dia bertutur tentang harapannya
Tentang masa depan, tentang segala cita-cita dan cintanya
Tentang keinginan membahagiakan keluarga
Juga tentang membentuk keluarga kecil kelak.
"Saya ingin kuliah saya dibiayai dari jerih payah saya sendiri"
Ujarnya dengan tatapan mata pasti.



Kuliah sambil bekerja membuatnya terkadang sulit mengatur waktu
Berkali hadir di rumahku untuk tuntaskan bimbingan skripsi
Termasuk menempuh jarak Denpasar Klungkung,
Bimbingan dengan bapak Drs AA Oka Waicaka, M.Pd,
Di Puri Satria, Klungkung, akhir tahun 2012

"Saya lanjutkan pendidikan di Pascasarjana UNUD, bu.
Mohon beri restu bagi saya. Saya ingin keluarga bangga akan saya".
Ujarnya setelah tamat dari STPNDB.

Bagai petir menyambar tatkala berita tersebar
Putu Ivan Krisnanda Kusuma meninggal dunia
28 Desember 2013
Di usia yang sungguh Belia
Di tengah segala harapan dan keinginan yang kau cipta



Berangkatlah, Ivan
Temuilah Sang Pencipta
Sang Empunya Jiwa kita semua
Bersatulah dengan Beliau
Terbebaslah dari segala galau
Berangkatlah teriring doa kamu semua

Om swargantu , moksantu, sunyantu, murcantu.
Om ksama sampurnaya namah swaha.

Astungkara... Kebanjiran lagi. "Tinggi, Tan?". Hmmm, lumayan, sepinggang.







Senin, 16 Desember 2013. Hari ini adalah hari pertama Ujian Akhir Semester untuk ujian teori di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali.. Sudah semenjak dua minggu lalu para mahasiswa mengikuti ujian praktik untuk beragam mata kuliah yang berisi materi praktek.


Simbok dan Yudha berada di rumah sedari pagi. Aku bertugas di Nusa Dua, Adi juga sedang menghadapi Ujian Akhir Semesternya, suami bertugas di UNUD. Bertugas hingga sore, aku mengawasi Prodi Manajemen Perhotelan hingga pukul 5 sore. Hujan deras sedari pagi, ditambah dengan aliran listrik yang padam semenjak pukul 3 sore semakin membuat suasana di ruang ujian semakin tidak nyaman. Tak bisa kubayangkan mereka akan mampu melewati Ujian ini hingga pukul 6.30 sore nanti.

Sudah semenjak pukul 3 sore Yudha menjelaskan bahwa hujan disertai petir membuatnya takut. Kuyakinkan dia bahwa kami akan baik2 saja. Kuminta simbok untuk selalu mendampinginya. Pukul 4 sore Yudha kembali menelponku di mobile phoneku, menjelaskan bahwa air di jalan di depan rumah kami sudah tinggi. Pukul 5 sore kembali dia menjelaskan bahwa air sudah melampaui tanggul semen yang kami buat di pagar depan rumah. Hhhhh, kuminta mereka menaikkan perabotan yang berada di lantai, dan, apa pun yang terjadi, untuk pasrah saja.

Aku membungkus diri dengan jas hujanku, ransel dipunggung berisi laptop dan beberapa kertas kerja, kukendarai motor Honda tua milikku, dan mulai menerobos hujan deras. Banjir melanda sepanjang jalan yang kulalui, By Pass Gusti Ngurah Rai, simpang menuju jalan tol Bali Mandara, daerah dekat Perum Taman Griya, seputran Patung Ngurah Rai. Macet total karena banjir yang membuat perjalanan Nusa Dua - Denpasar harus kutempuh dalam waktu hampir 2 jam sebelum tiba di perum kami pukul 6.30 sore jelang malam. Kulihat Bu Dayu Puspaadi, beliau teman se kantorku, juga tetanggaku, berteduh di teras rumah tetangga, masih mengenakan pakaian kerja juga. Dia menjelaskan kondisi rumahku yang kebanjiran, dan Yudha masih berdiam di rumahku. 



 
Ah..... kutitipkan motor di pinggir tembok rumah tetanggaku, kutitipkan pula ranselku di rumah tetangga, bu Nyoman Runteg. Aku masih mengenakan jas hujan, berjalan menerobos hujan deras dan banjir setinggi lutut, kulihat suami berdiri di tengah banjir dan hujan deras, berbicara dengan beberapa bapak lainnya tentang aliran air yang makin tidak terkendali. Aku masuk ke halaman rumah, banjir merendamku hingga pinggang. Kulihat anakku berdiri di tengah banjir di halaman rumah kami, kupeluk erat dia, kukatakan bahwa kami akan baik2 saja. Kuminta dia mengungsi ke rumah tetangga yang tidak kena banjir dan berganti dengan baju kering. Yudha menolak. Dia bersikeras untuk tetap bersama kami, apa pun yang terjadi.

Duh Gusti, Tuhan...... Haruskah aku menangis, menjerit, atau meraung menyesali hidup??? Hmmm, tidak ada waktu untuk mencaci atau mengutuk hidup, tidak ada waktu untuk berkeluh kesah. Aku masuk ke dalam rumah. Aliran listrik tidak mati. Ku cek agar tidak ada kabel mengarah ke air. Kudiskusikan dengan suami apakah kami akan membiarkan aliran listrik hidup atau harus kumatikan. Kulihat tempat tidur kami mengapung seolah melayang di tengah banjir, kulkas dua pintu terendam banjir, beras yang baru kubeli tadi pagi satu karung sebanyak 25 kg, terendam banjir, buku-buku kami, lemari baju........ Ahhhh.

 
 
 

Aku beranjak ke rumah sebelah. Rumah kami terdiri dari 2 kaplingan. Rumah yang terletak di belakang ini dijadikan perpustakaan oleh suamiku. Lebih tinggi 50 cm kontur lantainya, lumayan menghibur, ribuan buku koleksi suamiku dalam kondisi aman, terhindar dari banjir. Kedua anjing peliharaan kami berada di teras berpasir, monyet peliharaan di dalam kandang, dan kedua motor lain berada di bawah teras, terlindung dari hujan. Kuambilkan baju kering untuk ganti baju Yudha yang basah kuyup, kuminta simbok mengganti bajunya juga dengan pakaian kering.

Aku bersyukur masih punya satu magic com nasi hangat dan semangkuk ayam goreng kecap. Yudha yang baru merasa lapar, kusuapi, dan dia dengan lahap menghabiskan makanannya. Kuingatkan suami untuk menggunakan jas hujan yang lebih tebal untuk melindungi tubuhnya di tengah hujan deras dan banjir yang masih menggenangi rumah kami. Kami juga bersyukur memiliki satu pompa air untuk memompa air yang menggenangi keluar menuju selokan. Kuminta simbok bersama Yudha tidur beralas karpet di lantai perpustakaan. Mereka telah lelah mengangkut barang2 untuk terhindar dari banjir. Kusempatkan memberitahu Adi, putra sulungku, tentang banjir. Dia bersikeras untuk pulang. Aku juga bersikeras melarangnya pulang. Butuh waktu 2 jam untuk menembus perjalanan di tengah hujan deras dan banjir, sedang dia masih dalam minggu ujian. Whatever it is, kuminta dia menjaga kesehatan dan bersiap hadapi ujiannya, itu akan jauh lebih baik bagi kami semua.






 
Pukul 11 malam, air mulai surut. Kami tidak bisa bersantai. Lumpur yang memenuhi lantai rumah harus segera dibersihkan selagi basah, atau esok akan semakin sulit membersihkan. Aku dan suami saling bahu membahu bekerja sama dengan sapu dan kain pel mendorong sisa air dan kotoran yang menggenangi lantai rumah kami. Pukul satu malam, setelah menikmati segelas susu hangat, kami tidur kelelahan di atas tempat tidur yang telah dialasi jas hujan.

Tanggul sungai kecil yang jebol menjadi penyebab aliran sungai dengan bebas terjun memasuki perumahan kami. Inilah banjir terparah yang kami alami semenjak tinggal disini, dari tahun 1993 dahulu. Banyak rumah yang terendam di perumahan kami. Kubayangkan, rumah Ibu Nyoman Karang yang barusan ditinggal suaminya meninggal 2 minggu lalu, dengan putra bungsu yang masih berusia 2 tahun, dan kini harus alami kebanjiran hingga setinggi dada. Kubayangkan pula rumah ibu Bintoro yang juga terendam hingga sedada, membuat suaminya terpeleset di depan kamar mandi, kakinya terluka hingga harus diamputasi karena penyakit diabetes, dan akhirnya meninggal. Kubayangkan rumah Pak Ronny yang terendam hingga dada. Ahh..... ujian Tuhan bagi kami semua.

Selasa pagi, 17 Desember 2013, bersama simbok kubawa 3 karung besar berisi baju basah kami yang terendam banjir ke laundry di depan perum. Kusempatkan ke pasar, membeli lauk pauk bagi makan siang keluiargaku. 4 bungkus nasi bagi sarapan kami bersama. Dan, kusadari, tak satupun aku punya pakaian dalam. Semua terendam banjir dengan sukses. Masih bersyukur, aku masih memiliki cukup uang di kartu atm ku. Ku beli celana dalam bagi suami, anak, dan juga diriku, serta bh di mini market dekat rumah. Dheuh...... sungguh-sungguh terasa seperti orang yang mengungsi karena banjir, hanya baju yang melekat di badan. Aku kemudian pamit pada suami dan anakku, kembali bertugas menuntaskan Ujian Akhir Semester di Nusa Dua, rapat persiapan Akreditasi BAN-PT.

Bencana, malapetaka, musibah..... haruskah membuat kita merana dan nestapa? Menangis sungguh sangat wajar, itu adalah hak setiap orang untuk menikmati kesedihan dan mengekspresikan dalam beragam cara. Namun, aku belajar dari setiap permasalahan yang kutemui dan kuhadapi, bahwa aku tetap cuma manusia biasa, yang bisa terluka, yang bisa hadapi mara bahaya, yang bisa temui masalah, dalam berbagai bentuknya, di kehidupan ini. Brazilia menghadapi banjir terparah di negaranya dengan puluhan orang meninggal. Di Amerika badai dan banjir telah menyebabkan aliran listrik putus berhari, juga ribuan orang mengungsi, serta puluhan orang meninggal. Di negara-negara Eropa juga alami banjir terparah kali ini. Musibah ini bisa terjadi pada siapa pun, dimana pun, dan kapan pun. Dan, aku juga belajar menjadi smakin tangguh, pasrah, dan selalu berdoa, juga berusaha, melakukan segala hal yang mungkin, dalam mengatasi setiap cobaan dan rintangan yang kutemui.






Senin, 23 Desember 2013, di tengah deras hujan yang melanda, dan aku sedang melaksanakan tugas mewawancarai 25 kandidat calon pegawai negeri sipil di STPNDB, aku kembali menerima berita, rumahku kembali kebanjiran, kali ini setinggi 5 cm di atas lantai rumah. Pasrah.... dan, tetap dengan bersyukur, ada Adi sang putra sulung di rumah. Dia bisa diandalkan dalam mengatasi kepanikan adik dan simbok, dan bisa dengan tenang hadapi situasi yang mungkin terjadi. 

Kujelaskan pada kedua putraku, bahwa kita semua mungkin saja hadapi beragam cobaan dari Tuhan, kita bisa saja hadapi situasi yang lebih buruk lagi. Namun, bila situasi tersebut tiba, yang bisa kita lakukan adalah menghadapinya dengan sebaik mungkin yang bisa kita lakukan. Manja dan emosi tidak akan bisa tuntaskan masalah dengan baik. Mereka suatu saat kelak akan menjadi kepala keluarga yang harus bisa membimbing keluarganya dengan sikap bijak dan dewasa, entah dimana pun mereka berada, dan apapun yang terjadi pada mereka.......


Rabu, 25 Desember 2013, kami sempatkan sejenak menikmati makan malam bersama di sebuah restoran, dan bermain bersama, sebelum kembali pulang dan tertidur lelap bersama...... Hidup adalah sebuah anugerah terindah, demikian juga kesempatan untuk belajar dari pengalaman yang kita peroleh dari kebanjiran, yakni kebersamaan.....