Minggu, 16 Februari 2014

Sanggah Dadia Warga Tanjung, Klungkung. Redite, 16 Februari 2014






Banjar Kapit, Nyalian, Banjarangkan, Klungkung. Ngaturang ngayah bareng. Bersama dalam kebersamaan kita, sungguh indah.....

Bersama suami tercinta, kami bermotor ria pulang kampung. Hari ini adalah Minggu. Dan, bepergian bersama sungguh menyenangkan. Tujuan kami adalah ikut membantu keluarga untuk bersama bergotong royong, meratakan halaman. Setelah para tukang selesai membuat pagar bagi sanggah dadia, kami ingin merapikannya lagi.

Pura Dadia, adalah pura bagi keluarga besar. Dan pura kami ini terdiri dari beberapa kepala keluarga. Piodalan dilaksanakan setiap Anggarakasih Julungwangi. Kami berusaha untuk pulang dan berkumpul bersama.







Well...... bergotong royong bersama, memudahkan semuanya tuntas dengan lebih cepat. Kami bukanlah keluarga yang kaya, namun selalu berusaha menyumbangkan sedikit demi kebahagiaan keluarga, meski itu hanya tenaga fisik yang kupunya.







Suamiku juga berusaha untuk melakukan yang bisa dilakukannya. Mengapa harus malu dan ragu, jika dilakukan dengan tulus ikhlas, sebagai bukti yadnya kami, bhakti kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Maka, dari mengaduk adonan semen dan pasir, dicampur air, mengangkatnya dalam ember bersama2, kami lakukan tanpa ragu.










Iparku yang juga tiba pagi ini, Nyoman Sumadi, kembali memesan 10 zak semen untuk menuntaskan meratakan adonan semen tersebut ke halaman sekitar. Tanpa ragu aku turut membawa semen tersebut ke dalam pura agar bisa dipergunakan segera.




























Berkali kami bersenda gurau bersama sambil bertukar ceritera, agar tidak bosan dan terasa letih dalam bekerja.

















Berkumpul bersama..... megibung, segelas kopi dan ubi rebus, mengalirkan banyak ceritera di antara kita, tentang kita, bergulir seiring waktu berlalu, tentang masa kini, dan masa yang akan datang......















Menatap wajah mereka, sungguh, sebuah alur kehidupan dalam suka dan duka yang melahirkan ceritera dalam kebersamaan dan kerja sama. Mungkin...... kita takkan pernah bisa sama, baik dalam ide, pikiran, perkataan dan tindakan. Namun, ceritera ini akan selalu mengalir, ceritera tentang cita-cita dan cinta kasih, akan keluarga besar. Keluarga besar Warga Gede Tanjung, di Banjar Kapit, Desa Nyalian, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Propinsi Bali, yang tersebar hingga ke berbagai daerah, seantero negeri, juga hingga ke berbagai belahan dunia.......












Diplomasi bungut paon..... adalah kesederhanaan yang mendekatkan kita dalam kebersamaan. Tanpa batasan usia, tanpa sekat yang membuat jurang hebat, tanpa kata terurai, tanpa laku munafik. Ehm...... duang porsi pun beres kusikat.














Waktu menunjukkan pukul lima sore, tatkala aku berkemas untuk kembali ke Denpasar. Pekerjaan usai sudah. Bersama suami,dengan motor tercinta. Well, suamiku sayang. Cinta kita sederhana....... Meski tak selalu bisa sama dan bersama, kebersamaan dan kerja sama akan selalu ada..... My Lovely Amazing Handsome Bodyguard.




Minggu, 09 Februari 2014

Will you always be My Valentine ? (4) Ttg suamiku, kekasih hatiku, sahabatku, musuhku....



"Will you always be my Vals ?". Tanyaku sambil berbisik genit mengedipkan sebelah mata..... "Ngapain tuh mamak mu, Yud. Liat deh, kumat, duh, gawat !" Ujar suami tercinta, sahabat sekaligus teman berdebat, kakak sekaligus musuh di banyak aktivitas bila kami tak sependapat, kekasih sekaligus selimut tidurku.....

Ehm.... Valentin, kasih sayang, atau, entah dengan kata apa lagi istilah mereka menyebut nuansa cinta kasih, tidak harus selalu hadir mendayu-dayu, dan menggebu sepenuh hawa nafsu, bukan?

Romantis tidak selalu harus hadir bagai romansa seperti gambaran yang kita inginkan. Namun, aku mencintaimu apa adanya, dan, biarkan akan selalu hadir begitu, tetaplah seperti apa adanya, tanpa perlu dibuat-buat, menghujat, atau, berharap namun salah tempat.....

Maka, sekali lagi aku berbisik......
"Will you always be my Vals ?". Tanyaku sambil berbisik genit mengedipkan sebelah mata.....

Will you always be My Valentine ? (3) Ttg Ibu dan Bapak....



"Sampai maut memisahkan kita, bahkan, sampai lama setelahnya", ujar pepatah lama tentang kisah cinta.

Ah, emak.....
Ber puluh tahun mencoba mendalami makna cinta,
ber puluh tahun pula kusadari,
takkan pernah sama seperti persepsi kita.
Kekuatan persepsi kita kah ?
Semangat kah ?
untuk bersama, meski tak selalu bisa sama....

Namun aku berjanji,
akan kujaga harapan bahagia,
bagi keluargaku, di tengah keluargaku,
untuk hadir senantiasa bagi keluarga,
sebisa dan semampuku,
seperti emak dan bapak mengajariku dahulu......

Setangkup doa dan puja kasih,
bagi orang tua terkasih,
Semoga, cinta kasih kalian
menjadi sumber inspirasi dan semangat hidupku......

Will you always be My Valentine ? (2) Ttg kakakku, bahagia dan mesra itu sederhana



Cinta hadir sederhana,
karena cinta hadir apa adanya,
meski banyak jurang yang beda kan kita di batas ruang dan waktu
namun, cinta jua akan buktikan,
tak lekang dimakan jaman, tak lapuk di rentang waktu.

Terimakasih, kakakku sayang......
Dikau mengajariku,
tegas dan tangguh terkadang tidak mudah
namun, cinta keluarga akan selalu hadir dalam beragam cara
dengan caranya sendiri, yang, terkadang diluar logika

Terima kasih, kakakku sayang.....
Terkadang, hidup tidaklah mudah
Tidak seindah impian dan harapan kita
Namun, aku kan selalu berjuang
demi segala kebaikan demi segala keluarga.....

Will you always be My Valentine ? (1) Ttg Pande Wayan Suteja Neka



"Ni Gusti Made Srimin, ibu, senantiasa mendukung saya, meski terkadang banyak rintangan yang kami temukan". Ujar beliau disaat bertutur mengenai usaha menegakkan pelestarian budaya yang ada, agar tidak beralih ke lain hati, ke para pemilik di luar negeri, atau tanpa sempat dinikmati oleh banyak pihak.

Kami berjalan perlahan di senja hari, Kamis, 6 Februari 2014 ..... menyusuri satu ruang ke ruang lain, dari satu gedung ke gedung lain, dengan lebih dari seribu rupa ragam benda seni budaya yang ada. Ada lebih dari 400 an karya seni lukis, 300 an patung, dan 300 an keris.

"Agar anak cucu kita kelak bisa dengan bangga memandang dan menikmati budaya leluhurnya, juga melestarikan dan mengembangkan budaya itu sendiri", ujar JMK Jero Pande Wayan Suteja Neka, ketika kutanya alasan, mengapa beliau lakukan ini semua, bahkan dengan mengorbankan materi dan emosi dalam diri.

Ah, guru......
Aku ingin seteguh karang di hatimu, dalam melestarikan dan mengembangkan budaya leluhur. Bukan sebuah hal mudah, mengumpulkan berkas sejarah dalam beragam rupa, baik lukisan, patung, keris, bahkan, dengan membeli dari pemiliknya, dan kemudian memberi kesempatan pada anak - cucu, untuk belajar memahami dan menikmati sejuta makna dibalik rupa tersebut.......

Aku ingin belajar dari cinta kasih seorang Pande Wayan Suteja Neka dan Ni Gusti Made Srimin...... Bahwa, cinta yang menguatkan mereka untuk menjalani hari-hari bersama, bahwa kebahagiaan hadir dalam beragam cara, dalam cinta tentang seni dan budaya, yang hadir di tengah kehidupan mereka berdua.....

"Saya mendapat kebahagiaan dari dunia seni, maka saya kembalikan kebahagiaan itu kepada dunia seni itu sendiri". Pande Wayan Suteja Neka, sebagaimana tertulis dalam buku beliau, "Keris Bali Bersejarah" (2010).

Senin, 03 Februari 2014

Pinge





Mengupas Pinge membuat mereka galau dan minta ijin curcol. Di tengah beberapa rangkaian kegiatan yg ingin segera dituntaskan, kuijinkan mereka katarsis melepas galau......  Jangan lama, karena banyak karya menanti kerja keras kita bersama.

Well, anak-anakku sayang. Kebersamaan dan kerjasama akan membantu menghasilkan karya yang baik pula, bukan???

Desa secara umum lebih sering dikaitkan dengan pertanian. Egon E. Bergel (1955: 121) mendefinisikan desa sebagai “setiap pemukiman para petani (peasants)”. Namun ciri utama yang terlekat pada setiap desa adalah fungsinya sebagai tempat tinggal (menetap) dari suatu kelompok masyarakat yang relatif kecil. Koentjaraningrat (1977) memberikan pengertian tentang desa melalui pemilahan pengertian komunitas dalam dua jenis, yaitu komunitas besar (seperti: kota, negara bagian, negara) dan komunitas kecil (seperti: desa, rukun tetangga dan sebagainya). Dalam hal ini Koentjaraningrat mendefinisikan desa sebagai “komunitas kecil yang menetap tetap di suatu tempat” (1977:162). Beliau menggambarkan bahwa masyarakat desa sebagai sebuah komunitas kecil itu dapat saja memiliki ciri-ciri aktivitas ekonomi yang beragam, tidak di sektor pertanian saja

Peraturan perundangan RI Indonesia (PP No. 72 Tahun 2005) tentang Pemerintahan Desa yang dapat pula diperbandingkan dengan PP No. 73 Tahun 2005 tentang Pemerintahan Kelurahan. Di dalam PP No. 72 Tahun 2005 yang antara lain didasarkan atas penerapan UU otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, dinyatakan bahwa: ... desa atau disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut dengan desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Atas dasar ini pulalah maka masing-masing daerah menyesuaikan dengan keadaan-keadaan setempat, misalnya di Provinsi Sumatra Barat, mengaturnya sendiri dengan menerapkan istilah kenagarian (nagari) yang terdapat di daerah kabupatennya, di Bali dengan istilah banjar.
Desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. (Nuryanti, Wiendu. 1993. Concept, Perspective and Challenges, makalah bagian dari Laporan Konferensi Internasional mengenai Pariwisata Budaya Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 2-3)
Pinge termasuk salah satu desa wisata. Desa Pinge terletak 34 km dari Denpasar. Lokasinya 17 Km di bagian utara kota Tabanan. Desa Wisata Pinge memiliki hawa sejuk karena terletak pada ketinggian 500 meter di atas permukaan laut. Di desa ini terdapat situs arkeologis, Pura Natar Jemeng, yang menggelar tarian sakral, Wali Pendet, setiap perayaan piodalannya. .
Desa wisata Pinge sering dikunjungi para wisatawan asing yang ingin menikmati suasana pedesaan dan keindahan serta hamparan sawah yang berundak. Setiap 210 hari sekali yaitu pada hari Rabu Kliwon Ugu adalah hari upacara Petoyan di Pura Natar Jemeng yang menggelar juga tarian Wali Pendet yang bersifat sakral.
Desa Pinge termasuk salah satu obyek wisata dengan panorama yang indah. Tata letak desa yang teratur memanjang dan dibelah oleh satu jalan besar dengan tata letak bangunan yang rapi dan sejajar. Objek wisata alam berupa panorama sawah berundak-undak dengan latar belakang gunung berhutan lebat. Wisata tour desa wisata Pinge sering kali dirangkai dengan wisata tour Bedugul – Pertigaan Desa Pacung – Jati Luwih – Yeh Panes – Desa Wisata Pinge-Tabanan – Alas Kedaton.
Referensi:
http://desawisata.wordpress.com/2009/09/25/wisata-pedesaan-pinge-tabanan-bali
Nuryanti, Wiendu. 1993. Concept, Perspective and Challenges, makalah bagian dari Laporan Konferensi Internasional mengenai Pariwisata Budaya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 2-3
http://budisuminarto.blogspot.com/2012/11/desa-wisata.html
Laporan Konferensi Internasional mengenai Pariwisata Budaya.Yogyakarta: Gajah Mada University
Press . Tahun 1993
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/11/11/d2.htm
http://marga.tabanankab.go.id/profil-desa

Sabtu, 01 Februari 2014

Bedulu di hari Sabtu, 1 Februari 2014


Penjajagan Program Pengamas Prodi ADH 2014, Sabtu, 1 Februari 2014










Setelah minggu lalu, Hari Minggu, 26 Januari 2014, Program Studi DIV ADH melakukan penjajagan Program Pengamas Prodi ADH 2014, maka hari Sabtu, 1 Februari 2014, dilakukan penjajagan. Kali ini adalah Desa Bedulu, Gianyar.














Desa Bedulu, terletak di Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Propinsi Bali. Dengan luas wilayah 27 km persegi, terbentang dari 115.17.448 lintang Utara, dan 8.331.770 lintang Selatan. Desa Pekraman Bedulu terdiri dari 723 kepala keluarga (data per th 2013), mencakup wilayah banjar Margabingung, banjar Tengah, banjar Batulumbang, banjar Lebah, dan banjar Goa.



Di daerah Barat desa, terdapat sungai Petanu. Di bagian Utara terdapat hamparan sawah. Di bagian selatan terdapat sebuah dam / bendungan sebagai campuhan, atau pertemuan dari aliran air beberapa sungai yang kemudian diatur pengairannya bagi desa-desa lain yang terletak di daerah Selatan.



Bedulu berawal dari kata Bedahulu, sebuah Kerajaan yang berdiri pada abad ke 8 hingga abad ke 14, dengan pusat pemerintahan yang terletak di Pejeng. kerajaan ini diperkirakan diperintah oleh raja-raja keturunan dinasti Warmadewa. Penguasa terakhir kerajaan Bedulu (Dalem Bedahulu) menentang ekspansi kerajaan Majapahit pada tahun 1343, yang dipimpin oleh Gadjah Mada, namun berakhir dengan kekalahan Bedulu. Perlawanan Bedulu kemudian benar-benar padam setelah pemberontakan keturunan terakhirnya (Dalem Makambika) berhasil dikalahkan tahun 1347. Setelah itu, Gadjah Mada menempatkan seorang keturunan Brahmana dari Jawa bernama Sri Kresna Kepakisan sebagai raja (Dalem) di pulau Bali. Keturunan dinasti Kepakisan inilah yang di kemudian hari menjadi raja-raja di beberapa kerajaan kecil di Pulau Bali.

Beberapa objek wisata yang dianggap sebagai peninggalan Kerajaan Bedahulu adalah Pura Jero Agung, Pura Samuan Tiga, Pura Goa Gajah, dan Pura Bukit Sinunggal.

Desa Wisata Bedulu memiliki beberapa Pondok Wisata, salah satunya yang terletak di Puri Bedulu. Pondok Wisata memiliki definisi sebagaiusaha perseorangan yang menggunakan sebagian dari tempat tinggalnya untuk menginap wisatawan dengan perhitungan pembayaran tertentu. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Pondok Wisata ini mengemukakan alasan keindahan, keunikan, dan juga nilai sejarah yang terkandung di balik riwayat desa Bedulu ini.

Salah satu situs mengemukakan bahwa
Pattern settled population and dwelling houses are still relatively traditional patterned, although here and there it appears the renewal or modernization. Hallways that connect neighbouring village with its other neighbour, as if in turns gives the villages in harmony. Besides these halls also serve as a means to facilitate the mobility of people maintain smooth traffic and the village community as a community link.
Pattern settled population and dwelling houses are still relatively traditional patterned, although here and there it appears the renewal or modernization. Hallways that connect neighboring village with its other neighbors, as if in turns gives the village harmony. Besides these halls also serve as a means to facilitate the mobility of people maintain smooth traffic and the village community as a communication link. - See more at: http://www.desawisatabedulu.com/#sthash.0rQhPmgX.dpuf

Hal ini membuktikan bahwa suasana alam pedesaan nan asri, kreativitas penduduknya dan kegiatan masyarakat sehari-hari merupakan sebuah kearifan luhur semenjak jaman dahulu, yang terbukti mampu menjaga harmonisasi kehidupan di tengah masyarakat. Ini yang menarik wisatawan datang berkunjung, pada berbagai desa wisata, dalam hal ini, pondok wisata. Kesigapan dan kesiapan SDM menjadi sumber daya yang mampu mempertahankan dan mengembangkan desa wisata semakin berkualitas, terutama bagi masyarakat dimana desa wisata itu berada.......



Referensi:
Sejarah Bali. Nyoka, Penerbit & Toko Buku Ria, Denpasar, 1990.
Harian Pikiran Rakyat. Diduga di Bedulu Gianyar terdapat Kerajaan. Jum'at, 2 Juli 2004.
Harian Bali Post. Pura Penegil Dharma berasal dari Kerajaan Kawista. Rabu, 12 Juli 2006.
Regional Chronologies Website. Southeast Asia.
http://www.desawisatabedulu.com. 1 Februari 2014