Kamis, 06 Oktober 2011

We Are One....


Kamis, 6 Oktober 2011. Setelah urusan dalam negeri selesai, anak2 berangkat sekolah, suami berangkat bimbingan dengan promotor di kampusnya, kubuka PC dan mulai tuntaskan Proposal Disertasi.

Setelah sebulan mandeg karena harus menuntaskan Ngaben Bapak di Batuaji, kini ingin kukebut semua.... Pembimbing Akademik bersedia membantu, maka semangat semakin membara tuntaskan langkah demi langkah ini. Dalam waktu 2 jam berikut, print out proposal sudah di tangan. Hasil dari berkali bimbingan dengan Profesor Suastika dan Profesor Mudana bulan lalu.

Kuarahkan laju motor menuju Gedung Prof. Bagus di Jalan Nias Denpasar. Kampus Pascasarjana ini terletak di sebelah RS Sanglah. Banyak temanku juga sedang berkumpul mengikuti ujian seminar hasil penelitian disertasi kakak kelas, Bu Pande. Kusempatkan berbincang dan mengomentari kehadiran mereka di sana. Ada Pak Made Suniastha, yang juga seorang mangku, teman seangkatanku. Dia mengeluhkan proposal disertasi yang harus dirombak total karena tidak disetujui pembimbing akademik.

Kami memang harus melalui serangkaian ujian demi berhak menyandang Doktor di depan nama masing-masing. Mulai dari ujian Pra Kualifikasi, ujian Proposal, ujian seminar hasil penelitian, ujian Tertutup, dan terakhir, ujian Terbuka. Hmmm, semoga kami semua berhasil melalui ujian demi ujian, tahap demi tahap bimbingan dan penelitian hingga sukses.

Setelah berjumpa dengan Profesor Suastika, Profesor Wedha Kusuma, Profesor Agung Wirawan, Doktor Redig dan Doktor Mudana, aku bersiap berangkat kembali. Kali ini menuju kampus STPNDB di Nusa Dua. Ada seminar mengenai Pengembangan Desa Wisata yang akan disampaikan oleh bapak Djinaldi Ghozana pukul satu siang, namun kini waktu sudah menunjukkan pukul 12.30. Hmmm, sungguh beruntung aku hanya punya motor, bisa menyelip di antara mobil dan truk....

Pukul 13.15 tiba di dalam ruang Administrasi Perhotelan. Ku jumpai ibu Sukerti yang juga baru tiba dari Denpasar. Ah hahaha, dunia ternyata sungguh kecil. Dia juga pada saat yang sama tatkala aku berada di Sastra, beberapa teman lain ikut berkumpul disana, pada satu gedung yang sama, berbeda lantai. Ah..... Aku sedang di lantai II kampus Pascasarjana di FakSas UNUD, dia di lantai III ruang Perpustakaan, bersama Made Artajaya, membongkar se isi buku nya. Aku turun ke lantai I temui Profesor pembimbing, Bu Lasmini naik ke lantai II untuk selesaikan urusan administrasi. Aku kembali ke lantai II, Bu Sukerti turun untuk beli bakso bersama 2 pegawai di sana. Hmmmm, dunia ternyata sungguh tiada berbatas dan terbetas kan / terpahami......

Kami kemudian bergabung dengan para dosen lain, juga para pejabat teras STPNDB, untuk mengikuti materi seminar dari pak Djinaldi. Terlihat pula 30 an murid bergabung bersama kami. Hingga pukul 16.00 berada di ruang Genitri, aku kembali ke ruang Administrasi Perhotelan. Bu Mirah dan bu Sukerti berangkat ke kelas masing-masing, mengajar hingga malam.

Waktu menunjukkan pukul 18.00, tatkala kututup laptop tercinta, dan mengakhiri aktivitas hari itu di kampus. Kini saatnya pulang. Keluarga tercinta menanti hadirku di rumah..... Besok, masih segudang kegiatan menanti..... Pagi hari, Jum'at 7 Okt 2011, harus menghandle kunjungan ke Bali Nusa Dua Convention Center bersama 2 kelas mahasiswa DIV/ADH C smt 5, dan DIV/BHP smt 5, siang, ingin ikut donor darah di kampus STPNDB, dalam rangka bulan Pariwisata.

Well, saatnya kembali ke peraduan..... menikmati kencanku dengan sang bantal. Selamat malam semua......



Rabu, 05 Oktober 2011

Aku Wanita Biasa yang Tak Biasa......

Sering kukatakan pada diriku sendiri.....
Aku adalah wanita biasa, dengan cinta biasa, dan anugerah Hyang Widhi Wasa, yang telah menjadikan aku ada..... Dan bersama setiap orang disekelilingku, aku hadir menyemai cinta di setiap semangat yang ada..... Semoga damai hadir selalu, karena Santi, damai, adalah namaku.....

Semester ini telah kutamatkan pelajaran teori bagi program S3 ku. Well, astungkara.... kini aku telah berada pada semester tiga Program Pasca Sarjana, Program Studi Kajian Budaya, kandidat Doktor, bersama suamiku yang menjadi kakak kelasku. Hahaha, sombong dikiiiiittt, boleh lah. Padahal, rangkaian perjalanan masih panjang. Namun aku berusaha menjalani tiap detik dalam hidupku dengan sepenuh cinta, entah itu susah dan senang, bahagia maupun duka, sedikit atau banyak, tanpa duit sepeserpun di kantong atau saat gajian, terpuruk sakit maupun dalam keadaan sempurna.

Dengan tetap menjalani hari-hariku, terjaga pagi dini hari, mandi dan bersembahyang, mencuci dan menjemur pakaian sebelum simbok tiba dari rumah sebelah, menyiapkan seragam sekolah anak-anakku, sarapan mereka, bekal untuk dimakan siang hari di sekolahnya, lalu berangkat ke kampus tempat ku mengabdikan diri sebagai seorang dosen. Yup. meski sedang menempuh pendidikan, namun aku masih melaksanakan tugas mengajar beberapa mata kuliah di STPNDB. Ini adalah komitmen yang kami lakukan bagi dosen STPNDB yang menempuh pendidikan lanjutan di berbagai kampus dengan program pasca sarjananya di Bali. Masih ditambah dengan berbagai kesibukan untuk membimbing skripsi, menguji, konsultasi dengan para murid yang minta perhatian, berbagi diskusi dan ngerumpi dengan rekan kerja lainnya...... Hmmmm. C'est la Vie, ini lah dunia, dan kucintai hari-hari yang kujalani.

Hidup tidak selalu di atas, terkadang..... roda kehidupan menghempas berkali dan berkali. Minggu lalu kuterima hujatan berkali dari sahabat sendiri yang terlanjur salah mengerti, Dia berkali mengirim short messaging service. Dan, aku cuma bisa geleng2 kepala menanggapi ini. Meski kemudian dia minta maaf dengan wajah sedihnya, tetap hingga kini sering tersenyum bila ingat peristiwa ini......

Termasuk, hanya menerima 3 kelas yang harus kubina pada semester ini, baik untuk mata kuliah Psikologi Pelayanan, Sikap dan Profesi, Menangani Keluhan Pelanggan, namun kini bertambah dengan dua mata kuliah lainnya lagi..... Hubungan Industrial Pancasila, dan Pengantar Kepariwisataan. Mungkin pula termasuk yang satu ini, Manajemen Warisan Budaya. Hmmm, seorang dosen, yang dituntut untuk selalu kreatif dan berinisiati untuk mengembangkan diri, menambah wawasan, belajar dari berbagai sumber, knapa tidak???

Tuhan ku.... Ida Sang Hyang Widhi Wasa..... bimbinglah aku selalu. Aku bukanlah siapa-siapa, bukan apa-apa tanpa Mu, tanpa orang lain, tanpa suami tercinta, dan juga kedua anakku terkasih, bahkan, tanpa adanya orang yang tak kukenal sekalipun..... Aku hanya seorang wanita biasa yang tak biasa......

Jumat, 30 September 2011

Antara Kerja, Kuliah, Karir, Keluarga, Para Sahabat, dan Para Murid.


Jum'at, 30 September 2011. Hari terakhir di bulan September. Pagi ini aku bertugas sebagai Penanggungjawab Ujian Skripsi bagi mahasiswa STPNDB di ruang Padma 202, bersama bu Reni dan Pak Gede Darmawijaya. Tuntas menguji ujian sidang skripsi mahasiswa STPNDB. Kunikmati nasi kotak yang dibagikan staf akademik kami. Hmmm. toh anak dan suami di rumah telah selesai kumasakkan semur kecap ati dan rempela ayam, soup kentang, juga capcay, tadi pagi. Mereka juga telah selesai sarapan sebelum berangkat ke sekolah, dan membawa masing-masing kotak makan siang.

Sambil menikmati makan siang, kubuka internet, mengecek email yang kuterima dari beberapa milist yang kuikuti, menyapa teman2 dan keluarga yag tinggal terpisah kota denganku. Well, sungguh sebuah dunia yang kian hari kian terasa.... Borderless World, berkat jejaring sosial. Sungguh beruntung bisa nikmati akses internet, walau terkadang dihambat beberapa masalah.

Pukul 14.00 sore. Aku dan bu Irene sepakat mengakhiri keberadaan kami di ruang Administrasi Perhotelan tersebut. Kami yang terakhir berada di ruang itu. Petugas cleaning service telah memperingatkan kami. Kami pun keluar menuju parkiran, mengambil kendaraan masing-masing. Bu Irene tinggal di perumahan dinas, karena dia adalah pejabat, ketua program studi Administrasi Perhotelan. Kubawa dua ikat bunga hasil praktek mahasiswa prodi Manajemen Divisi Kamar yang terletak di atas meja tamu. Hmmm, bakal kuberi bapak mertua dan ponakanku yang tinggal di Antasura. Sudah lama tidak berjumpa mereka.....

Ku arahkan laju motor menyusuri jalan raya. Butuh waktu hampir satu jam dari Nusa Dua menuju Denpasar Utara, jalan Antasura, dan tiba di rumah iparku ini. Sengaja ku tidak mampir ke rumah menjemput anak-anak yang sudah tiba dari sekolah mereka, karena pukul 7 malam nanti sudah harus mengajar di Paket Kelompok Belajar, Paket C, setara dengan SMA. Sebuah bentuk yadnya lain bagi orang-orang yang kurang mampu. Dan biasanya, kuajak si bungsu Yudha, duduk di depan kelas, sementara aku mengajar para murid yang sebagian besar adalah orang tua.

Tiba di rumah ipar, bercanda bersama mereka. Ada seekor anak anjing yang baru berusia se bulan. "Baru se hari di antar oleh yang punya" komentar ponakanku, Diah. Sungguh sebuah hal yang merepotkan, sementara mereka sudah punya 2 ekor anjing yang sangat gendut. Maka, kuajak dia ke pasar burung Satria yang terletak di jalan Veteran untuk membeli kandang bagi anak anjingnya, agar tidak berkeliaran kemana-mana, dan aman dari serbuan anjing dewasa.

Well, sungguh bukan hal mudah pula, mengendarai motor bersama ponakan ku yang super duper gendut ini, plus membawa kandang anjing. Walaupun bisa dilipat. Perlu konsentrasi tingkat tinggi, hehehe...... Namun, sungguh sebuah hal indah dan menyenangkan pula, bisa bekerja sama bersama ponakan, mencapai harapan dan mewujudkan keinginan. Bisa jadi kenangan indah di masa depan.

Pukul 5.30 sore, kembali bergerak menuju rumahku, masih ada waktu satu setengah jam lagi untuk mandi dan persiapkan diri mengajar para murid dan anak asuhku di Paket Kejar.

C'est la Vie.....
Ini lah hidup dan kehidupan, dengan segala dinamika yang menghiasi.....
Tidak selalu, hidup itu indah dan berjalan sesuai harapan serta keinginan kita, namun hanya kita yang bisa membuatnya indah dan berjalan mendekati hasil.... Kuliah, kerja, karir, keluarga, sahabat, murid..... semua akan selalu menjadi bagian dari kehidupan, yang melingkupi diri kita. Kenapa harus sedih dan merasa susah, bila kita bisa berusaha menikmati dan belajar menerima, mencintai apa adanya, juga berusaha sekuat tenaga meraih damai itu sendiri..... Swaha di jalan Dharma.

Rabu, 28 September 2011

All We Have (via Shreenivas)


We have 2 eyes and just 1 tongue,
which means we need to look twice & talk once.

We have 2 ears and just 1 mouth,
so we need to listen more than we talk..

We have 2 hands and 1 stomach,
so we need to work twice as much as we eat..

We have 2 major brain parts left and right and 1 heart,
so we can think twice but love only ONE..

Minggu, 25 September 2011

Ketika Cinta Datang Menyapa......

Jangan berkata tidak, bila kau jatuh cinta.... Terus terang sajalah, buat apa berdusta. Cinta itu anugrah, maka berbahagialah... Sebab kita sengsara, bila tak punya cinta (numpang syair lagu).

1316950059445467835

Dan....

Biarkan cinta slalu penuhi hati. Jangan simpan dendam serta gundah dalam diri.

Hidup tidak slalu indah dan semudah yang kita impikan, sayangku....

Hidup terkadang penuh lika dan liku. Namun jangan buang asa,

meski harus terjatuh, jungkir balik dalam perjalanan kehidupanmu....

Bangkitlah berkali dan berkali lagi.

13169501121829697586

Kita tidak ditentukan oleh hasil dan derajat yang kita punya,

namun proses kita menggapai hasil.....

Tumbuhlah menjadi manusia yang bijak dan dewasa,

karna hidup telah mewarnai segala nuansa yang ada.....

1316951522299134781

Selamat atas pernikahan ini....para sahabatku.

Smoga jadi awal lahirnya kebahagiaan demi kebahagiaan,

hingga damai senantiasa hadir menghiasi dunia.

13169515711015265310

Maka, dari satu Pawiwahan di Desa Selat, Karangasem, Jum'at 23 September 2011, sang mempelai wanita adalah sahabat akrabku se angkatan waktu menempuh program Pasca Sarjana di UNUD, dari tahun 2006 hingga 2008, ibu Ardini nan cantik jelita. Mempelai pria adalah guruku, Dr. Mudana.

13169516461594025634

Berikutnya, Pawiwahan di Baturiti, Tabanan, Minggu 26 September 2011. Pawiwahan pada Gelahang (Another local genius wisdom to become shantih). Mempelai wanita adalah mantan muridku yang kini juga menjadi tenaga pengajar di STPNDB. Kuajar dia di kelas, kubimbing skripsinya. Ayahnya adalah Pinandita Profesor Pitana Brahmananda, Ka Badan Pengembangan SDM Kemenbudpar, juga guruku saat menempuh program Pasca Sarjana di UNUD.


Swaha....

Abadilah selalu cinta.....

Jumat, 23 September 2011

Anakku Yudha......

Kamis, 22 Sept 2011. Hari kedua bagi anakku, Yudha, kembali bersekolah setelah seminggu ijin demi tuntaskan upacara Ngaben bagi bapakku di Batuaji, Kerambitan, Tabanan. Dia setengah memohon untukku mengantarnya ke sekolah. Hmmm, okelah. Toh aku juga harus menemui ibu guru wali kelas, ibu Gung Dewi, menjelaskan tentang ijin tidak bersekolah bagi anakku, menyerahkan foto dan data diri anakku bagi proses pembuatan struktur kelasnya.


Tiba di depan kelas empat B, kutinggal dia, kutemui ibu guru wali kelas. Setelah urusan tuntas, ku pamit pada anakku untuk meninggalkannya. Yudha anakku mulai cemberut, merunduk dengan wajah sedih, lalu menangis. Ah.... dia yang selama ini selalu tabah, persiapkan sendiri segala peralatan sekolahnya, kini menangis sedih dan merjauk karena tidak ingin ditinggalkan.

Tuhan.....
anakku butuh kehadiran dan bimbinganku.... Hatiku trenyuh. Aku yang seorang psikolog, tamatan Universitas Gadjah Mada tahun 1993..... Aku yang seorang dosen Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali, tenaga pengajar, dengan ribuan mahasiswa, dan telah meluluskan ribuan mahasiswa pula...... Aku yang memiliki beberapa anak asuh, dan sering menjadi tempat curhat bagi banyak orang..... Kini, anakku membutuhkanku. Kubatalkan rencana untuk pergi bekerja, masuk ke STPNDB.

Setelah seminggu dia tidak masuk sekolah.... dengan begitu banyak tunggakan tugas yang belum diselesaikannya, dengan ketakutan bila ditunjuk untuk maju ke depan kelas oleh ibu guru, dia kini sedang dalam situasi dilema, stres, tegang, takut, sedih, merasa tidak berdaya...... Kugenggam tangannya, kukuatkan hatinya, agar dia tabah dan siap menghadapi segala kemungkinan..... Kupeluk dia, ah.... jiwanya sedang rapuh.

Tiap orang adalah pribadi yang unik. Suka duka, lara pati, semua di tangan Hyang Widhi, namun kita patut berusaha sekuat tenaga agar menjadi pribadi yang tegar dan tabah menjalani dinamika kehidupan. Akan kuserahkan segala yang kumampu demi buah hatiku ini..... namun dia juga harus berusaha menjadi pribadi yang bijak dan kian dewasa, meski kini umurnya baru 8 tahun.

Berbagai aktivitas yang kujalani akhir2 ini, sungguh telah menyita perhatian dan waktu, juga tenaga dan ruang hari-hariku.... kini aku harus konsentrasi pada si bungsu, sebelum dia menjadi pribadi yg minder karena stres yg dialaminya. Kutemui kembali guru wali kelasnya, memohon ijin untuk mengajak Yudha kembali ke rumah. Kupeluk dia, dengan membisikkan kata-kata, kami berdoa bersama, lalu dia jatuh tertidur.

Dia terbangun dan terjaga dari tidurnya satu jam kemudian. Kami makan bersama, dan aku pamit padanya untuk sebuah tujuan lain. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Aku ingin beranjak menuju Bitra, Gianyar. Mertua Komang Mahayani, ponakanku yang tinggal bersama suaminya di Pontianak, akan dikuburkan hari ini pukul 12 siang. Suami sedang bertugas dalam rangka DIES Fakultasnya, maka aku pergi sendiri kali ini. Maka kukenakan pakaian kebesaranku, lengkap dengan berbagai perlengkapan lainnya, dan mengarahkan laju motor menuju setra Bitra......

Kamis, 22 September 2011

Living a Life That Matters (Thx Lewis)






































Living a Life That Matters


Ready or not, Someday it will all come to an end....

There will be no more sunrise. No minutes, hours, or days.....

All the things you collected, Whether treasure or forgotten,

Will pass to someone else....

Your wealth, fame, and temporal power,

Will shrivell to irrelevance....

It will no matter what you owned,

Or what you were owed....

Your grudges, resentments, Frustrations, and jealousies,

Will finally disappear....

So, too..... Your hopes, ambitions, plans, and to do lists,

Will expire.....

The wins and losses at once, Seemed so important,

Will fade away......

It won’t matter, Where you came from,

Or on what side of the tracks,

You lived, at the end.....

Life isn’t about finding yourself, Life is about creating yourself.

Trough each day, our goal is.....

To touch one’s heart,

To encourage one’s mind,

And, To inspire one’s soul,

May you continually be blessed,

And, be a blessing to others.......