Rabu, 21 November 2018

Wisuda XXIV STP Nusa Dua Bali, Senin 12 November 2018, BICC, ITDC, Nusa Dua




Wisuda XXIV Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali dilaksanakan pada hari Senin, November 2018. Kali ini Wisuda dilaksanakan di Bali International Convention Centre yang terletak di kawasan Indonesia Tourism Development Corporation, Nusa Dua. Wisuda diikuti oleh 606 wisudawan dan wisudawati. Wisuda di lakukan oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya.



Sebelum Wisuda, telah dilangsungkan Yudisium. Yudisium Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali  berlangsung pada Hari Jum’at, 19 Oktober 2018. Dan terbagi menjadi tiga lokasi, di Gedung Genitri B, bagi mahasiswi dan mahasiswa Program Studi Manajemen Kepariwisataan dan Program Studi Destinasi Pariwisata, Gedung Widyatula atau MICE bagi mahasiswi dan mahasiswa Program Studi Manajemen Bisnis Perjalanan dan Program Studi Manajemen Konvensi dan Perhelatan, dan Gedung Joop Ave atau Aula bagi mahasiswi dan mahasiswa Program Studi Bisnis Hospitaliti, Program Studi Administrasi Perhotelan, Program Studi Manajemen Divisi Kamar, Program Studi Manajemen Tata Boga, Program Studi Manajemen Tata Hidangan, Program Studi Manajemen Akuntansi Hospitaliti.


Tahun ini terdaftar 606 Wisudawati dan Wisudawan yang berasal dari berbagai Program Studi di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali. Program Studi Manajemen Kepariwisataan memiliki 27 mahasiswa. Program Studi Destinasi Pariwisata dengan 29 mahasiswa. Program Studi Manajemen Bisnis Perjalanan dengan 24 mahasiswa. Program Studi Manajemen Konvensi dan Perhelatan dengan 26 mahasiswa.  Program Studi Bisnis Hospitaliti dengan 66 mahasiswa. Program Studi Administrasi Perhotelan dengan 110 mahasiswa. Program Studi Manajemen Divisi Kamar dengan 87 mahasiswa. Program Studi Manajemen Tata Boga dengan 94 mahasiswa. Program Studi Manajemen Tata Hidangan dengan 108 mahasiswa. Program Studi Manajemen Akuntansi Hospitaliti dengan 28 mahasiswa.
 


Berdasar Surat Keputusan Nomer : 29/KP.006/STP/X/2018, yang dikeluarkan per tanggal 18 Oktober 2018, telah pula ditetapkan Yudisiawati dan Yudisiawan terbaik pada masing masing Program Studi. Memang, Yudisia terbaik ditetapkan berdasar Indeks Prestasi tertinggi yang diraih dan lama waktu tempuh untuk menamatkan pendidikan hingga sampai pada Wisuda kali ini. Namun, prestasi juga ditentukan oleh banyak faktor lain. Semoga kelak di dalam perjalanan hidup mereka, para Wisudawati dan Wisudawan ini bisa semakin bijak dan dewasa dalam bertutur kata, berpenampilan dan bersikap.


Wisudawati terbaik dari Program Studi Manajemen Kepariwisataan, Ni Kadek Swandewi. dan Program Studi Destinasi Pariwisata, Baiq Iin Widya Wanting Putri. Program Studi Manajemen Bisnis Perjalanan, I Putu Bina Arta Wibawa, Komang Ary Wibayani, dan Kadek Novie Krisna Yanti. Program Studi Manajemen Konvensi dan Perhelatan, Nataline Putri. Program Studi Bisnis Hospitaliti, I Wayan Kouki. Program Studi Administrasi Perhotelan, Ni Putu Pebri Puspita Dewi. Program Studi Manajemen Divisi Kamar, Eka Novianti. Program Studi Manajemen Tata Boga, Vionisia Elsa Esterplay dan Ni Ketut Widya Rahayu. Program Studi Manajemen Tata Hidangan, Ni Kadek Lisna Candra Dewi dan Ni Kadek Trisnawati. Program Studi Manajemen Akuntansi Hospitaliti, I Made Astika Jaya.


Program Studi Manajemen Kepariwisataan meraih gelar Yudisium dengan mahasiswa yang memiliki Indeks Prestasi Tertinggi, yakni 3,81, oleh Ni Kadek Swandewi.

Berikutnya, mahasiswa yang telah di Wisuda ini, berhak menyandang gelar Sarjana Pariwisata (S.Par.) bagi mahasiswa Strata 1. Sarjana Terapan Pariwisata (S.Tr.Par), bagi mahasiswa Diploma 4, dan Ahli madya Pariwisata (A.Md.Par) bagi mahasiswa Diploma 3.


Dari total 606 mahasiswa yang diwisuda, 176 orang sudah bekerja, 48 melakukan wirausaha, 3 orang bekerja di luar negeri, dan 4 orang merupakan ASN (Aparatur Sipil Negara). Dan dari 606 wisudawan ini semua telah disertifikasi secara nasional oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi.

Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua sedang melakukan uji coba untuk kelas internasional yang disertifikasi oleh Pearson BTEC NHD bagi 20 orang mahasiswa Program Studi D4 Administrasi Perhotelan. Ketua STP Nusa Dua Bali menjelaskan bahwa sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi, STP Nusa Dua selalu konsisten melakukan pengembangan dan peningkatan kualitas. Disamping itu juga konsisten dalam mewujudkan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Peningkatan dan pencapaian prestasi dalam bidang pendidikan dan penelitian, juga pengabdian masyarakat selalu menjadi perhatian utama dari lembaga ini.


Menteri Arief Yahya optimis semua lulusan STP Nusa Dua berkualitas dan siap bekerja terlibat dalam berbagai bidang. Beliau mendorong seluruh lulusan untuk berani, kreatif, inovatif dalam berusaha. Salah satu caranya dengan go digital. Penggunaan digital akan memberikan manfaat positif bagi perkembangan pariwisata Indonesia. “More digital more global, more digital more personal, more digital more professional. Semua harus segera mengubah haluan, bertransformasi menuju platform digital. Travellers sekarang terus bergerak dan semakin cepat beralih ke digital lifestyle. Tugas kita untuk menjemput perubahan dengan go digital jika ingin winning the future customers”. Ujar beliau.


Tidak ada yang paling membahagiakan, melihat senyum cerah merekah di wajah sumringah, dari para wisudawan wisudawati, dari para keluarga, sanak saudara, orangtua, paman, bibi, kakek dan nenek yang turut hadir, juga anak, suami dan istri. Bahkan, para dosen, pegawai dan pimpinan lembaga Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali turut merasakan kebahagiaan tersebut. Teruslah kembangkan sayap-sayap kalian yang terbentang. Jangan pernah berhenti hingga disini, jangan mudah berputus asa, atau lekas berbangga diri. Tetap tegakkan kepala, maju melangkah meraih setiap asa dan cita yang kalian inginkan, membawa nama besar lembaga kita di dada kalian, Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua.


Minggu, 18 November 2018

(3) Visual Art Exhibition "Pluralisme", ISI Padangppanjang, 16 Nov - 2 Des 2018, Galeri Mandala Suci Wenara Wana, Ubud


Namanya Mohammad Iqbal. Dia bertutur tentang karyanya, sebuah karya seni fotografis berjudul “Fisherman at Singkarak Lake, berukuran 112 X 75 cm, sebuah foto di atas kain kanvas yang merupakan hasil karyanya pada tahun 2017. “Saya memotret dari atas bukit, mencoba mengamati aktivitas nelayan tersebut, menunggu momen tepat, dan mengambil beberapa gambar yang sesuai, kemudian memilih tampilan mana yang akan saya sajikan, yang bertutur tentang aktivitas nelayan di danau Singkarak”. Sungguh, sebuah usaha yang tidak mudah, menanti dengan tepat sebuah peristiwa yang layak untuk diabadikan, sehingga bahkan, riak dan lekuk air daari danau Singkarak terlihat jelas pada gambar foto yang dihasilkannya. Jangan bandingkan dengan kualitas puluhan foto yang kuhasilkan setiap saat berfoto. Jauuuuuhhh. Bagai jarak dari bumi ke bulan, balik lagi ke bumi. Namun satu hal yang kunggap kurang pas adalah dia tidak menunggu mengambil foto yang lebih memperlihatkan tenaga dinamis sang nelayan saat melempar jaring jala ikannya.



Ada juga Jendi Putra Prima dengan karya berjudul Bicuik Nan Tatanam, sebuah karya seni cat minyak akrilik di atas kanvas berukuran 140 X 90 cm dari tahun 2016. Banyak dari kita sendiri yang menolak fakta bahwa sesungguhnya di dalam diri juga tertanam sifat-sifat dan sisi negatif. Kita menolak dinyatakan buruk rupa, berupaya tampil sempurna, menolak disebut rakus, emosian, baperan, egois, angkuh, padahal sebenarnya semua sisi ini ada di dalam diri kita. Lihatlah bagaimana Jendi menggambarkan sosok manusia memeluk kerangka tulang belulang yang tetanam di dalam dirinya. Ini cerminan “Sadripu” enam sisi negatif manusia dalam istilah masyarakat Bali, yang harus selalu kita kendalikan agar tidak mengganggu aktivitas kehiduppan kita.


Ada Juli Hendra, dengan karyanya yang berjudul “Tabuik Paiaman”. Memandang karya seni fotografinya mengingatkan akan upacara Ngaben dengan bade nya bagi masyarakat Hindu. Dia bertutur jauh ke belakang, tentang sejarah keberadaan masyarakat Padang Pariaman, tentang masa kecilnya, tentang kenangan akan ritual Tabuik yang dahulu begitu disakralkan oleh masyarakat Minang. “Tahukah ibu, bahwa terdapat sepuluh rangkaian ritual yang harus dilakukan sebelum sepasang Tabuik dibawa menuju arah Pantai, berjalan sejauh lebih kurang 5 km, menuruni perbukitan, dan kemudian beradu di bibir pantai”, Ujarnya dengan penuh semangat. Juli bertutur mengenai fotografi hasil karyanya. “Jika dahulu ritual keagamaan ini merupakan hal sakral dan terjadi bertepatan tanggal satu Muharam, hanya untuk konsumsi masyarakat Pariaman saja, maka kini kegiatan tersebut semakin meriah, bahkan sudah melibatkan berbagai tamu yang datang sebagai wisatawan, dan menjadi ajang atraksi wisata”, Juli menambahkan lagi.

“Dan kini, perlahan, Upacara Tabuik Paiaman ini telah berubah menjadi konsumsi pariwisata. Sesuatu yang dahulu begitu disakralkan, dikeramatkan, telah mengalami komodifikasi wisata”. Ujar Juli pula

Ah, inilah anak muda, mahasiswa, seniman era milenial dengan multi talenta, multi tasking yang mereka miliki, merekalah pemilik dunia ini. Betapa mengagumkan lompatan dentum milenium yang mereka lakukan, mampu memahami berbagai aspek kehidupan masyarakat di sekitarnya, mulai dari ekonomi, sosial, politik, mereka juga menguasai beragam informasi dengan begitu lengkap dan cepat bak cahaya, memahami teknologi dalam penyajian seni secara digital, natural, dan tetap indah dalam komposisi kecepatan, keakuratan pengambilan cahaya juga pergerakan lensa kamera dan menyajikan dalam bentuk karya seni. Mereka mewakili anak-anak era kini, yang berani mengambil tindakan, menentukan langkah, menampilkan karya seni secara maksimal, sekaligus juga mempresentasikannya secara apik bagi para penikmat seni, bagi para pencinta seni, bagi para kritikus, dan bagi siapa pun yang ikut menyaksikan karyanya, mereka juga berani mempertanggungjawabkan hasil karya nya, siap untuk berdiskusi dan bahkan berdebat.

Sayang, tidak semua seniman dari ke 48 karya seni di pajang pada pameran ini bisa hadir. “Kami terkendala berbagai urusan administrasi dan kesibukan yang juga ada di kampus kami”, Ujar Ketua panitia Pameran “Pluralisme”, Yandri, S.Sn., M.Sn.

Sayang pula, tidak bisa menikmati seluruh rangkaian seni dengan tenang. Begitu banyak ragam karya yang tersaji, membutuhkan ruang waktu dan pemahaman yang bersungguh pula. Kita tidak bisa hanya sekedar memahami sebuah karya yang tersaji dan terpapar di hadapan kita. Harus memaknai pproses penyajian karya seni pula, menelusuri riwayat nya memahami masyarakat dimana karya tersebut berawal dan bertumbuh kembang, seperti pemahaman ku akan nilai-nilai pada masyarakat Minang, tentang matrilineal, tentang kegelisahan mereka, tentang ketangguhan mereka di rantau orang, tentang semangat persaudaraan, aaahhh, sungguh, tak cukup waktu ku bercumbu dengan seluruh karya indah yang tersaji……

Tentu tidak mudah bagi para seniman muda ini untuk tampil sekaligus bersamaan. Mengurus ke 48 seniman muda, mahasiswa yang mempertanggungjawabkan tugas akhir dengan menampilkan karyanya, di suatu daerah yang jauh terpisah dari Padang, bahkan, mungkin, baru pertama kali mereka berkunjung kemari. Apalagi di suatu daerah bernama Ubud, yang terkenal sebagai destinasi wisata internasional, di pusat aktivitas kehidupan masyarakat yang kental dengan suasana serta aktivitas adat istiadat, spiritual, seni. Namun, keberanian mereka uji nyali patut diapresiasi. Bagi masyarakat penikmat seni sendiri, hal ini tentu membawa angin segar, bahwa kita memiliki banyak nuansa seni dan budaya yang bertumbuh dan berkembang di berbagai belahan nusantara, bahwa seniman tidaklah elok berhenti berkarya, bahwa budayawan harus bersikap dinamis dan siap menjadi agen agen pperubahan, yang menjadi motor penggerak di tengah masyarakat, ke arah yang semakin baik dari hari ke hari, bersinergi dengan berbagai pihak lain, dengan seniman dari daerah lain, dan bahkan, dengan saling mengunjungi, membawa misi seni dan budaya.

Visual Art Exhibition bertajuk “Pluralisme”, yang akan berlangsung hingga tanggal 2 Desember 2018, yang menghadirkan karya seni lukis, seni kriya, seni desain komunikasi visual, peach work art,  seni perfilman, seni fotografi, seni media, dari 48 seniman mahasiswa ISI Padangpanjang : Rajudin, Ibrahim, Harissman, Zulhelman, Juprinaldi, Hamzah, Yunis Muler, Armen Nazaruddin, Ferry Fernando, Aryoni Ananta, Olvyanda Aresta, Kendall Malik, Yulimarni, Juli Hendra, Febrian Iqbal, Jendi Putra Prima, Genta Putra Mulyawan, Rafki Bakti Jaya, Awan, Gladysmara, Dio Oktoviandi, Riadi Ferdi Sihombing, Andika Putra, Jeki Aprisela, Novriadi, Julion Afdil, Jelly F., Murdiono, Zaky Nusyirwan, Diana Aprilia, Surkapri, Arif Rahman As., Ivan Saputra, Muhammad Iqbal, Dimas Fajrian, Jefri Riadi, Yorie Aviorel Daffa, Genta Noverda Putra, Fajrin Pratama, Dika Saputra, Aprivaldi El Ikrimi, Zul Fadhli, Yeyen Darmawan, Reny Gusvita, Windy Nasir, Suri Handai Yani, Suseva Dina Putri, Maksal Mina.

Andai, aku adalah dosen mereka, akan kuberikan nilai maksimal bagi mereka, karena kerja keras mereka, semangat mereka, dan berbagai hal yang mereka lakukan, telah mencerminkan kelas mereka, jati diri, inilah anak muda, seniman yang berpotensi menjadi tenaga penggerak dalam berbagai sendi kehidupan 

(2) Visual Art Exhibition "Pluralime", ISI Padangpanjang, 16 Nov - 2 Des 2018, Galeri Mandala Suci Wenara Wana




Batolan mangko bajalan, mufakat mangko bakato. Pepatah Minang bertutur indah terngiang. Makna nya mengajarkan kita untuk tidak pernah mengasingkan diri dalam bergaul. Tidak baik membentuk kelompok eksklusif dan membeda-bedakan orang dalam bergaul di tengah masyarakat. Dalam bertindak juga kita harus mengutamakan berdiskusi, bermusyawarah untuk merai mufakat.

Dan, hal ini sudah diwujudkan secara indah dalam proses pegelaran pameran seni visual yang berlangsung di Galeri Mandala Suci Wenara Wana.


Awal nya adalah persahabatan yang terjalin di antara putra Bali dan Putra Padang yang bersama menempuh pendidikan di ISI Jogjakarta bertahun silam. Kemudian mereka merencanakan saling berkunjung. Mengapa tidak, jika bisa menjalin kerjasama, kunjungan disertai dengan Pameran bersama. Akan ada begitu banyak manfaat, saling membuka cakrawala wawasan pengetahuan terkait seni dan budaya daerah masing-masing, bertukar informasi, membuka peluang kerja sama yang berkelanjutan, termasuk pula, dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat luas dimana pameran berlangsung. Dan, dimulailah rangkaian kegiatan, dari penyusunan proposal kegiatan, berbagai pendekatan dan diskusi panjang untuk mematangkan rencana, eksekusi akhir rencana, keberangkatan, dan seluruh tim yang terdiri dari tujuh dosen beserta staf juga 15 mahasiswa dan mahasiswi ISI Padangpanjang tiba di Ubud pada hari Kamis, 15 November 2018. Maka, terwujudlah Pameran bertajuk “Pluralisme” yang akan berlangsung dari tanggal 16 November hingga 2 Desember 2018.


Mandala Suci Wenara Wana atau lebih dikenal dengan Monkey Forest Ubud merupakan sebuah cagar alam yang terletak di desa Padangtegal, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, terkenal dengan habitat alami khas monyet Bali berekor panjang (Natural habitat of Balinese long tailed monkey / Macaca Fascicularis). Monyet yang terdapat di Mandala Suci Wenara Wana ini terbagi menjadi enam area, yakni yang pertama, areal di depan Pura, area konservasi hutan, area pusat Mandala Suci Wenara Wana, area Michelin, areal Timur dan pemakaman / setra. Data tahun 2011 memperlihatkan terdapat 605 monyet ekor panjang dengan 39 pejantan, 38 remaja monyet, 194 betina monyet dewasa, 243 anak monyet, dan 91 bayi monyet. . Data tahun 2017 oleh pengelola mencatat terdapat total 749 monyet, dengan klasifikasi 63 pejantan monyet dewasa, 34 remaja monyet, 219 betina monyet dewasa, 29 betina monyet remaja, 167 bayi monyet berusia 2 – 3 tahun, 118 bayi monyet berusia 1 – 2 tahun, 63 bayi monyet berusia 5 – 12 bulan, dan 56 bayi monyet berusia di bawah lima bulan. Di Mandala Suci Wenara Wana ini terdapat 186 spesies tanaman dan pohon pada area seluas 12.5 hektar. Di dalam Mandala Suci Wenara Wana terdapat tiga pura, yakni Pura Dalem Agung Padang Tegal, Pura Beji dan Pura Prajapati. Ketiga pura ini dibangun pada tahun 1350. Masyarakat setempat meyakini pentingnya keberadaan Mandala Suci Wenara Wana ini bagi dinamika dan keberlangsungan aspek kehidupan masyarakat di bidang spiritual, ekonomi, pendidikan, dan pusat konservatori desa tersebut, termasuk desa lain di sekitarnya. Setiap bulan sekitar 120.000 wisatawan mengunjungi Mandala Suci Wenara Wana, baik wisatawan domestik mupun wisatawan mancanegara.



Tidak salah Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn., dosen ISI dan Kajur Kriya Seni, menawarkan lokasi berpameran disini. Dosen yang meraih penghargaan sebagai Dosen berprestasi beberapa kali ini mengemukakan bahwa Ubud merupakan suatu destinasi yang sudah mendunia, dengan jumlah kunjungan wisatawan yang terus meningkat, namun tetap menegakkan falsafah hidup masyarakat, menerapkan seni dan budaya dalam berbagai bentuk kehidupan sehari-hari, yang bisa dijadikan sarana pembelajaran rombongan ISI Padangpanjang.


Dosen humble yang menamatkan pendidikan Doktoral sebagai Doktor ke 34 di ISI Yogyakarta ini memiliki disertasi berjudul Judi Tajen, mengupas Tabuh Rah, makna dan juga fungsi, serta implementasi nya di tengah kehidupan sosial masyarakat Bali. “Saya punya tanggungjawab moral untuk turut berperan serta membantu teman-teman serta para mahasiswa dari ISI Padangpanjang mewujudkan pameran ini. Pameran ini membuktikan pendidikan sebagai sarana mengembangkan kemampuan mereka di bidang seni yang telah berkembang di Padang, kebudayaan yaang tumbuh dan berkembang di daerah mereka, dan membuka cakrawala pengetahuan mereka terhadap dunia seni, sekaligus budaya masyarakat Bali” Ujar Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.


Ini salah satu bentuk kepedulian kita bersama, sebagai tenaaga pendidik yang harus membuka ruang seluasnya bagi para seniman untuk unjuk kreativitas dan terbuka terhadap kritik serta pendapat masyarakat luas. Ini juga suatu bentuk kepedulian kita, sebagai orang-orang yang terlibat dalam dunia seni dan budaya, bahwa pendidikan juga penting untuk membantu logika berpikir secara sistematis, bahwa, dialogis bisa membantu kita belajar menerima dan memahami suatu karya seni, yang  hadir di tengah – tengah kita semua….


Bahkan, ada jokes yang berbicara..... "Orang Padangpanjang pameran di Padangtegal, disaksikan juga oleh orang PadangSambian. He he he..... aku kan tinggal di PadangSambian.

Mitrasya ma caksusa sarvani bhutani samiksantam,
Mitrasyaham caksusa sarvani bhutani samikse,
Mitrasya caksusa samiksamahe

Yayur Weda XXXVI.18

Semoga semua mahluk memandang kami dengan pandangan mata seorang sahabat,
semoga saya memandang semua makluk sebagai seorang sahabat,
semoga kami berpandangan penuh persahabatan.

(1) Visual Art Exhibition "Pluralisme, ISI Padangpanjang, 16 Nov - 2 Des 2018, Galeri Mandala Suci Wenara Wana



Persahabatan adalah kado terindah melebihi apapun di dunia ini (Thomas Aquinas)

“Datanglah ke Museum Puri Lukisan untuk melihat dan mengamati perkembangan seni, juga budaya Bali, dalam berbagai bentuk karya seni”, Ujar Penglingsir Puri Agung Ubud pada para mahasiswa Institut Seni Indonesia Padangpanjang yang melaksanakan Pameran bertajuk “Pluralisme”, Hari Jum’at, 16 November 2018.



Mereka hadir di Bali semenjak Kamis, 16 November 2018. Dengan berkekuatan tujuh orang dosen beserta tenaga administrasi ISI Padangpanjang, juga 15 mahasiswa beserta 48 karya seni mahasiswa yang merupakan proyek akhir sebelum menamatkan pendidikan pada ISI Padangpanjang. Inilah wujud nyata Misi Kebudayaan bisa menjadi jembatan persahabatan, tali silaturahmi, dan bentuk kerjasama antar lembaga pendidikan, pemerintahan, para budayawan, seniman, serta berbgai komponen masyarakat lainnya.



“Kami tidak menyangka, masyarakat Bali begitu aktif dalam beragam aktivitas budaya juga berkesenian, bisa saling mendukung, baik dalam seni dan budaya, juga mengekspresikan seni tersebut pada berbagai bentuk karya seni dengan begitu indah”. Ujar beberapa mahasiswa dari Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Padangpanjang, yang ditemui saat pembukaan pameran, Jum’at, 16 November 2018.




Pameran yang dibuka pada hari Jum’at sore tersebut dihadiri oleh tokoh Puri yang ada di Ubud, tokoh masyarakat, budayawan, seniman, wakil dari berbagai museum yang ada di Ubud, pencinta seni, dan berbagai kalangan masyarakat. Kurator Pameran I Ketut Budiana, S.Pd., MM., turut pula hadir, seniman AA Gde Bagus Mandera Erawan, pengusaha dan kolektor seni, JDS Nyoman Sumerta, seniman pelukis perempuan Ubud, Satya Cipta, dan pelukis nyentrik, Aboetd.



Pande Wayan Suteja Neka menyampaikan dalam kata sambutannya, “Kita tidak bisa menutup diri terhadap perubahan dan perkembangan jaman. Masyarakat begitu antusias dan dinamis terhadap dunia seni budaya. Budaya dan seni yang berada di tengah masyarakat pluralisme menuntut kita untuk selalu terbuka, menerima pendapat dan kritik dari berbagai pihak terhadap karya seni kita, selalu dinamis dalam berkarya, dan menanamkan semangat serta jiwa seni di setiap karya yang kita hasilkan. Masyarakat Bali sudah dikenal di seluruh dunia sebagai masyarakat yang menjiwai seni dan budaya semenjak jaman dahulu, dan ditunjukkan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Sekarang rombongan seni ini hadir bersama, membawa karya mereka untuk ditampilkan di tengah masyarakat Bali, dinikmati bersama, juga oleh para turis yang hadir disini dari berbagai penjuru negeri bahkan juga manca negara”.



I Ketut Budiana, S.Pd., MM., menjelaskan bahwa pameran yang dilakukan oleh rombongan kesenian dari ISI Padangpanjang ini memperlihatkan tanggungjawab seniman terhadap masyarakat. Masyarakat menaruh kepercayaan terhadap ISI sebagai lembaga pendidikan yang mampu menghasilkan seniman berkualitas. Dan sudah menjadi tugas kita bersama pula untuk menciptakan banyak ruang kesempatan bagi para seniman mengekspresikan jiwa seni mereka, memperlihatkan hasil karya mereka, dan mempertanggungjawabkan hasil karya mereka ke depan publik secara luas, tidak hanya masyarakat di mana mereka berada, namun dengan hadir ke berbagai daerah, menjalin komunikasi dan relasi dengan berbagai pihak. Pameran di Ubud ini merupakan, suatu bentuk tanggungjawab moral dari para seniman dan ISI Padangpanjang sebagai sebuah lembaga pendidikan”.




Hadirnya Pameran bertajuk “Pluralisme” ini juga tidak terlepas dari kontribusi apik Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn., dosen dan Ketua Jurusan Kriya Seni ISI Denpasar. Beliau melakukan banyak pendekatan dengan berbagai pihak terkait, memantau dan mengunjungi berbagai lokasi yang memungkinkan terlaksananya pameran, dan mengkoordinir hingga pembukaan pameran terselenggara lancar. Dosen, seniman kriya, peraih beberapa penghargaan, doktor muda yang low profile ini menjelaskan bahwa pameran ini juga merupakan suatu bentuk yadnya kita, maasyarakat Bali, yang meyakini Tri Hita Karana, yakni menjaga hubungan baik dengan siapa pun dalam bermasyarakat, menjaga hubungan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, dan memelihara hubungan dengan semesta, dengan lingkungan, di dunia.




Dan, Inilah Visual Art Exhibition bertajuk “Pluralisme”, yang akan berlangsung hingga tanggal 2 Desember 2018, yang menghadirkan karya seni lukis, seni kriya, seni desain komunikasi visual, peach work art,  seni perfilman, seni fotografi, seni media, dari 48 seniman mahasiswa ISI Padangpanjang : Rajudin, Ibrahim, Harissman, Zulhelman, Juprinaldi, Hamzah, Yunis Muler, Armen Nazaruddin, Ferry Fernando, Aryoni Ananta, Olvyanda Aresta, Kendall Malik, Yulimarni, Juli Hendra, Febrian Iqbal, Jendi Putra Prima, Genta Putra Mulyawan, Rafki Bakti Jaya, Awan, Gladysmara, Dio Oktoviandi, Riadi Ferdi Sihombing, Andika Putra, Jeki Aprisela, Novriadi, Julion Afdil, Jelly F., Murdiono, Zaky Nusyirwan, Diana Aprilia, Surkapri, Arif Rahman As., Ivan Saputra, Muhammad Iqbal, Dimas Fajrian, Jefri Riadi, Yorie Aviorel Daffa, Genta Noverda Putra, Fajrin Pratama, Dika Saputra, Aprivaldi El Ikrimi, Zul Fadhli, Yeyen Darmawan, Reny Gusvita, Windy Nasir, Suri Handai Yani, Suseva Dina Putri, Maksal Mina.



Bagai pepatah Minang yang berbunyi, “Lamak di awak, katuju di urang”. Setiap hal yang kita ucapkan, yang kita lakukan, harus mendatangkan manfaat, baik bagi diri sendiri, juga bagi orang lain. Menjaga persahabatan itu indah, bagi diri sendiri, juga bagi kehidupan kita bersama di mana pun berada……. Inilah Misi Kebudayaan dari Padang yang datang berkunjung untuk merajut tali persahabatan dengan Ubud, dengan Bali, dengan para penikmat seni, dengan masyarakat, dan berbagai komponen yang ada.

Sabtu, 17 November 2018

Art Bali, Bali Collection, Beyond The Myths, dan WCCE 2018


Ada yang menarik saat terselenggaranya World Conference on Creative Economy, 6 – 8 November 2018 kemarin. Meski tidak berlangsung pada satu gedung yang sama, namun terdapat pula Pameran Seni di Art Bali – Bali Collection, ITDC. Dengan tim kurator Rifky Effendy dan Ignatia Nilu bagi pameran ini, inilah pameran seni kontemporer yang menyajikan alternatif destinasi bagi par partisipan WCCE 2018, bahkan wisatawan lokal maupun turis mancanegara.



Pameran ini menghadirkan berbagai tipe karya seni, termasuk instalasi, lukisan, karya interaktif, fotografi, dan perfilman dari berbagai seniman yang diseleksi berdasar kriteria pengalaman nya pada dunia seni, pengabdian dan sumbangsih terhadap seni dan budaya, dan kontribusi dalam perkembangan dinamika seni visual kontemporer, baik di Indonesia juga di dunia.

Bertemakan “Beyond The Myths”, Pameran Internasional ini merupakan salah satu bentuk dukungan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia bagi dunia ekonomi kreatif Indonesia, khususnya terkait seni dan budaya. Pameran ini juga dipersembahkan bagi seluruh partisipan yang mengikuti rangkaian aktivitas IMF – World Bank Meeting 2018, yang diselenggarakan pada hari Senin hingga Minggu, tanggal 8 – 14 Oktober, dan World Conference on Economic Creative 2018, yang diselenggarkan pada hari Selasa sampai Kamis, tanggal 6 – 8 November 2018.



Bayangkan saja. Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank) yang diselenggarakan di Bali ini diikuti oleh lebih dari 20.000 peserta yang berasal dari 189 negara di seluruh dunia. Mereka hadir tidak hanya di seputran kawasan ITDC atau Nusa Dua, namun berkunjung ke berbagai daerah di Bali, bahkan, hingga ke Lombok, lokasi pengungsian korban gempa. Contohnya, Direktur IMF, Christin Lagarde, Menko Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Keuangan, Sri Mulyani, yang berkunjung ke Lombok Barat, dan langsung diterima oleh Gubernur NTB Zulkieflimansyah, Senin, 8 Oktober 2018. (https://regional.kompas.com/read/2018/10/09/17405851/5-fakta-acara-pertemuan-imf-world-bank-di-bali-ubi-goreng-hingga).


Dari 20.000 partisipan IMF, Bank Dunia, tercatat ratusan peserta per harinya, yang mengunjungi pameran Art Bali yang terletak di Bali Collection ini. Demikian pula hal nya di saat pelaksanaan World Conference on Creative Economi. Para peserta disediakan transportasi khusus berupa shuttle bus, dari dan ke Art Bali – Bali Collection, untuk menikmati beragam karya seni berkualitas yang ditampilkan di Gedung ini. Jelas ini merupakan suatu promosi terkait seni dan budaya, bagi seniman pembuatnya, bagi Bali, bagi Indonesia. Diatas itu semua, mengembangkan jiwa kreatif dalam berkesenian, juga kreatif dalam berpendapat terhadap produk seni serta budaya, sehingga masyarakat semakin dinamis dalam seni dan budaya.


Pembukaan Art Bali 2018 Contemporary Art Exhibition bertajuk “Beyond The Myths” sekaligus sebagai penanda dan inaugurai mulai beroperasinya bangunan seluas 1000 m2, yang bisa dipergunakan, tidak hanya indoor, namun juga outdoor, diperuntukkan seluasnya bagi kreativitas seniman dengan berbagai bidang ilmu dan kompetensi serta aliran seni. Disini bisa termuat karya seni, produk budaya, dan berbagai industri kreatif lain, mulai instalasi, seni ukir patung, media seni, mulai dari 10 Oktober hingga 9 November 2018.


Pameran “Beyond The Myths” ini menampilkan hasil karya 39 seniman dari berbagai usia dan disiplin ilmu seni dan budaya, seperti Nu – Abstract (Gede Mahendra Yasa, Kemalezedine, Ketut Moniarta, Dewaa Ngakan Ardana, Agus Saputra, Putu Bonuz), Adi Panuntun, Agan Harahap, Agung mangu Putra, Agus Sewage, Arin Dwihartanto Sunaryoo, Ashley Bickerton, Chusin Setiaadikara, I Made Wianta, Dipo Andy, Eddy Prabandono, Eko Nugroho, Entang Wiharso, Filippo Sciascia, Galam Zulkifli, Handiwirman Saputra, Heri Dono, I Made Djirna, I Made Widya Diputrra, I Made Wiguna Valasara, I Nyoman Erawan, I Waayan Upadana, Joko Dwi Avianto, Jompet Kuswidananto, Mella Jaarsma, Nasirun, Pande Ketut Taman, Samsul Arifin. Mereka dianggap sebagai wakil perlambang kemajuan senirupa Indonesia dan mancanegara di Art Bali – Bali Collection, ITDC Nusa Dua Bali.



Art Bali CEO and Founder, Heri Pemad, saat konferensi pers jelang pembukaan dan peresmian Gedung ini mengemukakan bahwa “Melalui Art Bali, kita ingin memperlihatkan pada dunia bahwa kita secara intensif, terus menerus, berkomitmen, dalam membangun, membina, dan mengembangkan ekosistem terkait seni budaya, khususnya di Bali. Dan, Art Bali adalah merupakan sebuah ruang bangun seni terbaru, bertujuan membuat masyarakat dapat menikmati seni, mencintai seni, dan berbahagia karena seni”. Oh ya. Heri Pemad juga merupakan Pendiri dan Pemillik dari Art Jogja. Hal ini sekaligus memperlihatkan konsistensi dukungan beliau yang begitu mendalam bagi dunia seni dan budaya nusantara, serta dinamika budaya agar tetap menggeliat di tengah masyaarakat, ikut memberikan sumbangsih bagi pemahaman dan penghargaan masyarakat bagi budayawan, khususnya seniman Indonesia.


Agung Mangu Putra dengan karya lukisan Puputan Badung: The Fall of Kingdom yang dihasilkannya tahun 2015 menguraikan seni kreatif nya berupa lukisan atas peristiwa bersejarah tahun 1906, Puputan Badung. Keluarganya termasuk korban peristiwa tersebut, sebagai pertanda penolakan pendudukn Belanda atas kerajaan Badung yang membawa kepedihan mendalam. Banyak keluarga kerajaan dibunuh ataau bunuh diri, dan seluruh kerajaan, Puri Denpasar, dibakar hangus. Agung Mangu Putra menggambarkan peristiwa tersebut dalam nuansa hitam dan putih, dengan guratan tegas dan mencolok pada ekspresi orang-orang pada karya seni lukisnya,


Ada pula karya instalasi yang memperlihatkan Patung Garuda Wisnu Kencana, disertai Uraian mengenai The Garuda Wisnu Kencana Project Timeline, awal proses karya Nyoman Nuarta ini semenjak tahun 1990, hingga kemudian tegak berdiri sempurna dan diresmikan pada tahun 2018. Sungguh, sebuah proses panjang yang dibutuhkan hingga sebuah karya terselesaikan. Ada pula karya I Made Widya Diputra berjudul “The Tragedy of Resistance” yang memperlihatkan sosok calon arang, kisah yang berasal dari Hindu Bali. Karya mutakhir I Made Widya Diputra ini menurut seniman pembuatnya, tidak semata mencerminkan makna perempuan, bernama Dirah, namun juga sejarah, mitos dan sensasi terhadap tubuh perempuan, bahkan,cerminan persepsi yang berlaku di tengah masyarakat, pandangan kritis terhadap situasi sosial, juga isu politik di Indonesia.


Secara umum, Pameran ini menggambarkan beragam ide-ide kreatif para seniman kontemporer, dan bagaimana mereka menuangkan daya imajinatif tersebut menjadi karya yang bisa dinikmati oleh pencinta seni. Beragam kompetensi yang hadir disini memperlihatkan kita bebass berinterpretasi, memaknai, memahami karya seni itu sendiri. Bahwa, bagi kita mungkin terlarang menampilkan area sensitif yang paling pribadi, atau hal tabu bagi masyarakat, disini justru ditampilkan terbuka, seperti instalasi yang melibatkan komposisi pakaian dalam pria dan wanita, sosok patung liberty di beri warna biru, dan tergeletak di bawah, bahkan diberi rantai pula. Namun bahkan, seniman berhak atas ruang imajinasi dan kreativitas seni mereka pula. Maka, inilah dunia seni, dunia sosial kita bersama, siapa pun berhak atas nilai-nilai ekonomi kreatif nya, memaknai, dimaknai, menikmati, dinikmati, dikritisi, saling mengisi bersama…..


Michael Hangga Wismabrata,  Andri Donnal  Putera, Akhdi Martin Pratama, Fabian Januarius Kuwado.