Selasa, 15 Mei 2012

Hari Kedua dan Ketiga Mertuaku Berpulang

Hari Kedua Mertuaku Berpulang

Pukul 4 pagi dini hari Minggu, Mei 2012. Iparku, Nyoman Sumadi, mempersiapkan mobil kijang biru tuanya untuk membawa jenasah. Kursi belakang mobil dibongkar, terpal digelar. Bapak mertua dinaikkan ke mobil melalui pintu belakang, diapit oleh suamiku dan ipar, Bli Made Miasa. 

Kami yang lain yang ditinggal di Denpasar, bertugas menunggu informasi selanjutnya. Wayan Adi Pratama dan Made Yudhawijaya, anak-anakku,  juga Made Dika, ponakanku, masih tertidur lelap. Iparku yang merupakan adik bungsu suami, Ketut Karmini, beserta suaminya, Agustinus Bheudema, kembali ke rumah sebelum kembali berangkat ke Singaraja dengan membawa 30 kg dry ice yang harus dibelinya terlebih dahulu di jalan Sidakarya, Sesetan.

Dengan mengendarai motor Mio suami, aku menghantar Nengah Smerti kembali bekerja di restoran di sebelah sekolah swasta terkenal di jalan PB Sudirman. Kemudian aku kembali pulang ke rumah untuk menyiapkan pakaian yang akan kubawa pulang kampung. Kuminta Ayu menyiapkan lauk pauk yang akan kubawa ke rumah ipar, agar anak-anak tetap terjaga pemenuhan kebutuhan akan makanan mereka.

Waktu menunjukkan pukul 7 pagi. Belum lama aku di rumah, mencuci dan menjemur baju, kuterima telpon dari Agus. Ia mengalami kecelakaan, terjatuh dari motor. Dia minta dibawakan obat-obatan di lokasi kejadian, jalan Belitung, dekat lapangan Pegok. Hmmm. Ada masalah di saat dibutuhkan konsentrasi tinggi. Kuhampiri dia dengan mengendarai motor dan berpakaian lengkap untuk sebuah perjalanan jauh, karena sudah hampir bisa dipastikan, dia tidak siap untuk mengambil dry ice dan membawanya menuju Singaraja.

Kutelpon anakku Adi, yang masih di jalan Antasura, untuk menyiapkan motornya, Yamaha Jupiter MX, agar bisa kubawa ngebut melintasi jalan raya untuk segera tiba di Singaraja. Kemudian aku menuju ke penyalur dry ice yang terletak di jalan Sidakarya. Ah ha. Baru kuketahui, pabrik dry ice di Surabaya sedang dalam kondisi rusak, dan paket pengiriman berikut baru akan tiba esok siang. Sementara bersama ku, ada 2 rombongan yang juga membutuhkan dry ice untuk mengawetkan jenasah. Namun akhirnya, berkat perjuangan gigihku, juga disertai doa pada Tuhan, dan berkah dari bapak mertua, bisa kudapatkan 20 kg dry ice. Diletakkan dalam box berbahan gabus putih padat ber lakban, diikat erat di bagian belakang boncengan motorku yang sudah terisi bensin penuh, aku mampir di rumah ipar, jalan Antasura.

Mampir di rumah ipar, aku mendapati Yudha sedang bermain bersama Dika. Adi sedang memberi makan ikan lele dan kodok yang merupakan ternak peliharaan iparku. Kuletakkan makanan yang kubawa dari rumah, berpamitan pada mereka semua, dan segera meluncur ke Singaraja.

Melaju menembus jalan raya Denpasar – Gilimanuk, menerobos hutan Bading Kayu, dan tiba di Desa Dapdap Putih dengan berkali lepas rantai motor, aku harus rehat sejenak di sebuah bengkel. Motorku butuh perbaikan. Kusempatkan minum air putih sambil ber santai sejenak. Kubiarkan boks berisi dry ice tetap terikat rapi di jok sadel sepeda motorku bagian belakang.

1337091035203344175

Dua jam 30 menit kemudian, aku tiba di halaman rumah di kampung halaman, di Pangkung Singsing, di Dusun Asah Badung, Desa Sepang Kelod, Desa Adat Sepang, Kecamatan Busung Biu, Kabupaten Buleleng. Di tengah jalan sempat aku berpapasan dengan ipar, Nyoman Sumadi, yang sedang mengendarai Kijang Biru Tuanya. Dia mengatakan akan berangkat menuju Desa Kapal, Badung, untuk memesan Tabla / Wadag bagi jenasah, lanjut kemudian ke Klungkung, untuk menyampaikan informasi pada para keluarga, juga membuat banten untuk persiapan nunas tirta.

13370911361974016114

Di rumah sudah ramai orang mulai berdatangan. Para pria membangun rompog / tenda yang ditopang dengan tiang bambu. Para perempuan mejejaitan dan mecik jaje untuk banten. 

1337091261672558870


13370915431076292316

Aku mulai membuka kotak berisi dry ice, dengan dibantu oleh para kerabat dan suami, membelah dry ice menjadi potongan kecil dengan sebuah kapak. Lalu membuka lembaran kantung plastik yang kubeli dijalan, menjejali potongan dry ice ke dalamnya, lalu me lakban kantung tersebut sebelum kemudian diletakkan di sekujur tubuh bapak mertua.

1337091651470206555

Nyoman Kopat panggilannya. Dia adalah seorang cucu yang sangat mencintai sang kakek. Matanya memerah, meski tidak menangis, namun terlihat jelas wajahnya sungguh sedih bermuram durja.

1337091920215618645

1337091788645200237

Meski dia tidak bersama kakek tatkala sang kakek berpulang, namun sungguh lama waktu yang telah mereka lewati bersama. Maka, tak heran, ikatan batin sangat kuat terasa antara cucu dan kakeknya.

13370919511009753471

Hari dengan cepat beranjak malam.

 Hari Ketiga Mertuaku Berpulang

Senin pagi, 7 Mei 2012. Pukul 7 pagi, rombongan berikutnya tiba dari Denpasar. Anak bungsuku, ipar2ku dan anak2 mereka. Kaum pria anggota banjar kembali tiba dan melanjutkan membangun tenda. Kaum perempuan anggota banjar menanding banten.

Setelah selesai dengan urusan dapur, mulai dari mempersiapkan bumbu, memasak untuk sarapan, menata kue, aku berpamitan dengan seluruh kerabat untuk bergerak menuju Denpasar.

Waktu menunjukkan pukul 10.30 tatkala aku tiba di SMAN I Denpasar. Kutemui guru piket, dan menjelaskan mengenai rencana Ngaben kakek Adi pada guru piket, dan memohon ijin untuk berjumpa dengan nya.Berbincang sejenak dengan Adi, aku pamit melanjutkan perjalanan. 

Suami meminta menghubungi Jero Gede Tanjung, dari kawitan Gede Tanjung Klungkung, tempat dimana leluhur bermula.

Ah, entah dimana harus kutemui Beliau. Hanya pernah kukunjungi sekali pada saat sepuluh tahun lalu, ketika ibu mertua berpulang. Dan itu pun di malam hari, dengan diantar oleh Mbok Mang Dari. Maka, kutelusuri jalan Cekomaria di Peguyangan Kaja, tembus di Banjar Cengkilung, Peguyangan Kangin. Bertanya hanya 2 kali dengan orang yang kujumpai di jalan, kutemui rumah Beliau, Jero Gede Tanjung Agung Suputra. Astungkara, Tuhan. Hanya berkat Mu lah, kudapat menyampaikan pesan dari keluarga besarku, dan sekaligus mengundang Beliau untuk hadir pada upacara pengabenan bapak Mertua ku.

13370920711206087589

Bahan untuk pretima yang kulihat di rumah Jero Gede Tanjung Agung Suputra, di Banjar Cengkilung, Peguyangan Kangin.

13370925281975033495

Setelah berdikusi, aku mohon pamit. Lalu mampir di rumah ipar, di Jalan Antasura, Gg. Sutra, mengambil laptop yang kutinggal kan di sana, memberi makan anjing peliharaan keluarga, dan menuju jalan Sidakarya, kembali kuambil masing-masing dua boks berisi 15 kg dry ice, total 30 kg. kuikat di bagian belakang motor,  dan melanjutkan perjalanan kembali menuju Singaraja, Asah Badung.

Tiba pukul 5 sore hari, masih ramai anggota banjar yang berkumpul. Sisa hujan deras masih terlihat basahi berbagai sudut halaman. Pukul 6 sore anggota banjar tuntas dengan aktivitas hari itu. Kami membersihkan halaman, membersihkan diri, dan menikmati makan malam ala kadarnya.

13370944231364326589

Menjelang malam, beberapa anggota banjar kembali megebagan, menemani sang empunya karya menuntaskan berbagai kerja tersisa. Kemudian kami merebahkan badan untuk beristirahat.

1337092620592163368
Dalam beragam gaya tatkala tertidur

1337095007928392491

Hingga yg ber galang beras.....

13370953981685885430


Lelah kah aku?? Sudah jelas. Aku hanya seorang perempuan biasa. Bukan apa-apa dan juga bukan siapa-siapa. Namun kita sebagai manusia, umat ciptaan Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, diberikan kebijakan untuk berkembang menjadi smakin kian dewasa dari hari ke hari. Sekarang, tergantung diri kita, apakah mau menggunakan kesempatan ini dengan baik, atau hanya menekankan egosi semata. Di saat begini, kita diminta bijak menyikapi berbagai situasi dan kondisi yang kita hadapi..... bukan dengan tuntutan untuk mencapai kesempurnaan, namun untuk bersikap bijak dan dewasa.....

Hari sudah sungguh larut malam, tatkala kurebahkan tubuh di samping ponakan ku, Putu Diah Trisna Septiani, di lantai dapur kami, dengan beralas plastik dan ber galang beras se kampil......

Hari Pertama Mertuaku Berpulang

Hari Pertama Mertuaku Berpulang
Sabtu,  5 Mei 2012, Saniscara Kajeng Wage Prangbakat, Purnama Jiyestha, hari yang sudah kunantikan semenjak berhari lalu. Dua banten pejati telah kupersiapkan untuk nangkil ke Pura Catur Kandapat Sari yang terletak di jalan Antasura 150. Bersamaku akan ikut pula berangkat dari Umedui, tiga anak asuhku, dan anak-anakku sendiri. Aku juga merencanakan akan mengajak serta ponakan tercinta, Putu Diah Trisna Septiani.

13370874871783114080

Waktu menunjukkan pukul 6.10 sore tatkala telpon rumah berdering. Suamiku berbicara di ujung seberang…. “Datanglah ke Antasura, jangan bawa banten, ajak anak-anak”. Ah…. Jantungku berdegup kencang. Bapak mertuaku yang sudah berumur 95 tahun, tinggal bersama ipar di jalan Antasura, dan kini suami sedang berkumpul di sana pula.

Tebakan ku benar….. Bapak mertua baru berpulang, dengan didampingi anak-anaknya, suamiku, Wayan Tagel Eddy, para ipar, Made Miasa, Wayan Tinggal, Wayan Arsini, juga cucu, Putu Diah dan Made Dika.

Segera kuberitahu Putu Widiasih atau yang biasa kupanggil Ayu. Dia sedang bersiap untuk ikut bersembahyang, namun kini kubatalkan. Kuminta dia menunggu rumah dan berjaga terhadap segala kemungkinan, sementara aku dan anak-anak akan segera berangkat menuju Antasura. Ku telpon May dan menyatakan bahwa aku tidak bisa menghantar mereka bersembahyang bersama, dan meminta dia juga teman2nya mengambil banten yang telah kupersiapkan untuk sembahyang. Ku telpon pula para sahabat, Jro Nyoman Suharta, dan Nyoman Gede Artha sekeluarga, yang sesungguhnya tertarik ingin ikut bergabung dalam rangkaian persembahyangan bersama di Pura yang terkenal unik tersebut. Hmmm, Tuhan belum berkenan memberi ku kesempatan bergabung kali ini, dalam rangkaian odalan di Pura tersebut.

1337089259387703082

Aku dan kedua anakku tiba di Jalan Antasura, Gg Sutra, 30 menit kemudian, kami mendapati bapak mertua, Ketut Rantun, telah dibaringkan di atas kasur di ruang keluarga. Dokter didatangkan untuk memastikan keberangkatan beliau. Berikutnya, berdatangan para kerabat dan sahabat, mulai dari adik2nya dan keluarga masing-masing dari Wayan Arsini, para sahabat suamiku sesama rekannya yang sedang menempuh pendidikan di program pascasarjana S3, para tetangga di Perum Pondok Galeria, seperti Pak Made Mertayasa beserta istri, Pak Nyoman Arka, Pak Nyoman Runteg, Pak Dewa Kadek Uriana.

Kami putuskan akan membawa pulang bapak mertua ke kampung halaman tercinta, Asah Badung di Sepang Kelod. Namun baru pada keesokan pagi dini hari, dengan alasan agar tidak terjebak kemacetan. Mengapa tidak membawa beliau ke rumah sakit? Dengan alasan, karena usia sudah sepuh, diyakini meninggalnya beliau memang bukan karena penyakit atau kecelakaan. Lagi pula, bila dibawa ke rumah sakit, harus melalui serangkaian visum, memandikan jenasah, meminta surat keterangan dari dokter atau pihak RS, lalu kemudian ambulan beserta supir yang akan membawa ke kampung halaman yang belum tentu bisa menguasai medan yang sungguh berat dengan jalan berliku, rusah parah, dan dalam keadaan gelap larut malam.

1337089660748192058

Bagaimana dengan proses mengawetkan jenasah? Karena kami belum tahu, entah bagaimana kelanjutan dari prosesi acara upacara dan upakara yang disepakati bersama keluarga besar, juga desa adat dan lingkungan di kampung. Ada 3 alternatif pilihan, diawetkan dengan menggunakan formalin? Toh aku sudah beberapa kali membantu proses penyuntikan formalin terhadap jenasah. Dengan menggunakan es? Namun bagaimana mungkin, bisa mendapatkan es dengan mudah, di kampung jauh di Buleleng sana…. Atau, dengan menggunakan dry ice. Maka, iparku, Agustinus Bheudema, mulai mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan ini. 

13370897451704985607

Dari informasi yang berhasil kami kumpulkan malam itu, penyalur dry ice terdapat di jalan raya Sidakarya, Sesetan, Denpasar. Diperlukan 30 kg dry ice di hari pertama penggunaan, dan kemudian 20 kg dry ice per hari nya bagi bapak mertua yang memiliki berat badan 50 kg. Per kg dry ice dihargai sebesar Rp 20.000. Iparku ditugaskan meng handle urusan membawa dry ice dari Denpasar ke Singaraja.

Berikutnya, kami memandikan bapak mertua dengan menggunakan peralatan serba baru, ember dan gayung baru, sabun baru. Aku menyabuni dan menggosok perlahan, demikian pula Bli Made Miasa, Nyoman Sumadi, dan Ketut Karmini, juga suamiku, me lap hingga bersih seluruh bagian tubuh beliau. 

13370898471500236004

Kami kemudian menggosok kembali seluruh bagian badan beliau dengan air hasil uleg an kayu cendana, sebelum kemudian memberi pakaian bersih. 

Ah….. tenang sekali wajah beliau. Sungguh memancarkan sinar kasih teduh dalam senyuman di balik wajah tertidur nya.

1337090265257995294

Terbayang saat-saat kami masih berkumpul bersama, saling bertukar ceritera, tentang perjalanan hidup, kisah dan berbagai harapan yang kami punya.

13370900451252723323
1337090316481306972

Namun ini jalan yang telah Tuhan beri bagi kami semua. Kami harus tabah menghadapi ini, menjalani semua dengan sepenuh cinta.

Rabu, 02 Mei 2012

Bila Panik Melanda, Bisakah Kita Tetap Tenang?? Stay Cool..... atau Menggila??

Senin, 30 April 2012. Dua hari lagi menjelang ujian proposal Disertasi. Panik?? Hmm, tidak perlu lah. Hadapi berbagai situasi dan kondisi dalam hidup ini tanpa perlu menjadi histeris. Biasa saja bila temui suka dan duka, bahagia juga nestapa, terpuruk atau disanjung se antero dunia. Itu moto hidupku. Lagi pula, bukankah, sudah se bulan kuletakkan proposal di ruang akademik Pascasarjana dan menanti sekian lama sebelum akhirnya mendapat jadwal antrean pasti.

Terjaga di pagi hari, awal minggu, selalu terjadi sedikit kehebohan. Yudha menangis menyadari buku Cetak Agama nya basah kuyup karena terkena tumpahan air botol minuman sepanjang malam, sedang dia belum menuntaskan 20 nomer peer. 

Hmmm, kulirik jarum jam di tembok rumah kami, waktu menunjukkan pukul 6 pagi. Sebagai orangtua, dituntut untuk mendampingi anggota keluarga sebisa mungkin dalam hadapi situasi dalam status galau begini, hhehehe. Maka, kutelpon Bu Ida Ayu Puspaadi, teman kantor sesama dosen, sekaligus tetangga berdekatan yang anaknya sekelas bareng Yudha. Pinjam buku cetak untuk digunakan bikin pekerjaan rumah yang diberikan oleh sang guru.

Pukul 7 pagi, urusan persiapan sekolah beres, kedua anakku berangkat sekolah. Aku harus tiba pagi hari di kantor pelayanan samsat. Urusan perpanjangan STNK. Maka, segera meluncur ke sana. Dengan gagah perkasa parkir motor di bagian penggosokan rangka mesin. Alamaakkk...... baru kusadari, motor yang kukendarai adalah honda astrea 800, sedang motor yang STNK nya akan ku samsat adalah honda astrea grand. Hiks.... 

Pulang lagi sejauh 10 km untuk bertukar motor? Ah, masih ada esok hari untuk samsat. Maka, kupilih mengikuti ujian sidang terbuka promosi doktor di gedung Pascasarjana Universitas Udayana.
Hmmm, menyaksikan Dr. Drs. I Ketut Suardika, S.Pd., M.Si, bersama istri tercinta, dan ke tiga putra dan putri. alangkah indahnya. Beliau menuntaskan Disertasi dengan topik Keterpinggiran Pendidikan Dasar dalam Masyarakat Nelayan Suku Bajo di Desa Saponda Kec. Soropia Kab. Konawe Prop. Sulawesi Tenggara.
1335979134669048920
Sungguh sebuah analisis mengenai bagaimana mengupas keterpinggiran anak bangsa dan mencerdaskan mereka sebagai bagian dari masa depan bangsa dan negeri ini. Karena mencerdaskan selalu berawal dari pembenahan pendidikan semenjak usia dini.
Scholae Non Vitae Sed Discimus. Kita belajar demi hidup itu sendiri. Karena prestasi tidak diukur dari tumpukan gelar dan ijasah, maupun deretan piala dan harta, tapi dari usaha dan perjuangan dalam meraih setiap cita dan harapan.

Dari ujian sidang terbuka promosi doktor, aku bergerak menuju kampus Sanglah, Gedung Prof. Bagus, memastikan jadwal ujianku dan distribusi proposal disertasiku. Kusempatkan pula mengikuti Bedah buku Prof. I Nyoman Kutha Ratna, berjudul Antropologi Sastra: Peranan Unsur-unsur Kebudayaan dalam Proses Kreatif, sekaligus peringatan Hari Chairil Anwar dan pembacaan puisi2 Beliau.
1335979060788681478
1335979095829813550
Tuntas disini, aku mendapat energi kembali untuk konsentrasi sepenuh hati pada disertasiku. Astungkara.... Multitasking seseorang, di jaman kini dituntut untuk serba bisa, bukannya menjadi cerdik cendekia hebat maupun heroik, namun bisa dan mau berusaha dalam berbagai bidang, situasi dan kondisi kehidupan.

Mangku Putu Wayan Karma & Kangmas Sukono Kardimin

Mangku atau Sulinggih, atau Pinandita, adalah sebutan bagi tokoh spiritual, pemuka agama Hindu. Dan aku bersyukur bisa menemui dan berjumpa banyak orang hebat, tokoh spiritual mumpuni, laku dan jejaknya dalam Dharma sungguh mulia.
13359757861309633097
Mangku Putu Wayan Karma adalah seorang mangku yang bertugas di Pura Kiduling Kreteg, salah satu pura dari serangkaian Pura di Besakih. Sudah sering kuikuti karya dan aktivitas beliau di jejaring sosial Facebook, dan sungguh sebuah kehormatan bisa berdiskusi dengan Beliau secara langsung.
13359758541542416691
Seorang Insinyur Teknik Sipil tamatan ITN Surabaya, namun kemudian memilih mengabdikan hidup di jalan Dharma, ngayah demi kepentingan umat.
1335975933231534409
Bahkan, istri beliau yang seorang mangku istri, juga berjuang sepenuh semangat ber yadnya bagi sesama. Laku seorang dengan pengetahuan sungguh luas dalam aplikasi di berbagai sendi kehidupan. Hmmm, aku sungguh kagum dan menghormati jalan hidup beliau sekeluarga.
133597596730992106
Kangmas Sukono Sardimin adalah seorang putra Lampung yang memiliki darah Ponorogo.  Juga merupakan seorang penekun spiritual di jalan Dharma. Sungguh, kukagumi laku mereka secara nyata dengan alam dunia, sementara masih banyak di antara kita yang hanya bisa berbicara tanpa bukti nyata, walau hanya dalam bentuk kecil semata.
13359760121206738099

Sebagai anggota dari Japan Karate Association(JKA), Kangmas Sukono Sardimin menamatkan DAN I dan DAN II di Jepang. Dan menamatkan DAN III di Indonesia dengan penguji dari Jepang.
13359760362012327036
Selama di Jepang, dia berkumpul bersama para sensei dan senpai nya di Seikoukai Dojo Sanwa Machi.
13359760811709629832
Mangku Wayan Karma bersama Kangmas Soekono Kardimin, berencana bakal berjalan kaki dari Bali ke Ujung Kulon, Jawa Barat. Mereka sudah ber kali menempuh berjalan kaki ke beberapa tempat. Dan kali ini bakal mengawali kegiatan pada tanggal 7 bulan Mei.

Ah, sungguh sebuah rencana yg butuh tingkat penyusunan secara matang dalam pelaksanaan, agar berjalan lancar. Aku sendiri, belum mampu untuk sampai ke taraf laku spiritual seperti itu. Hidup dan kehidupan dengan segala pernak-pernik duniawi masih begitu menggodaku. Jika suamiku sendiri memiliki laku demikian, aku bakal protes keras, karena bakal merasa diabaikan dan harus menuntaskan urusan keluarga sendirian.

Bersyukur pada Sang Hyang Widhi Wasa, memperkenankan aku mengenali dan berjumpa dengan Mangku Wayan Karma, juga Kangmas Sukono Kardimin.

Hmmm, berdiskusi dengan beliau beliau ini, bagai, menggelar Babad dan aplikasi nyata di lapangan yang sungguh luas. Sungguh beruntung aku dalam mendapat anugerah ini, mengetahui dan memahami yang tersembunyi di balik sejarah, fungsi, bentuk dan makna dari berbagai situasi dan kondisi yang ada.

Ke Batukaru dan Petitenget, Karena Panggilan Mu Menghantar Langkah Kami Mendekat...

Aku terlahir di Kalimantan, kemudian melanjutkan kehidupan di Jawa, lalu kini di Bali. Keluarga ku tersebar se antero negeri. Dan kini, ada keluarga yang berkunjung ke Bali, maka.... inilah ceritaku, mana cerita mu??
1335970208344068687
Nama sepupu ku ini adalah Putu Ayu. Orangtuanya dinas di Kalimantan Barat, tepatnya Pontianak. Dia baru menuntaskan pendidikan sarjana di Fakultas Sastra Inggris Universitas Udayana. Adiknya, Made Alit, baru 5 hari berada di Bali, menempuh seleksi masuk di STIKOM, dan akan kembali 2 hari lagi ke Pontianak untuk menuntaskan berbagai urusan SMA nya, sebelum melanjutkan pendidikan di sini.

Sabtu ini, 28 April 2012,  kami berencana akan berangkat bersama ke Pura Batukaru yang terletak di daerah Penebel, Tabanan. Berhubung mereka menginap di desa Batuaji, Tabanan, maka kuputuskan akan berangkat pagi-pagi dan bergabung dengan mereka di Tabanan.

Pukul 7 pagi, anak2 telah berangkat sekolah. Suami membongkar berbagai buku di perpustakaan untuk bahan studi bagi disertasinya. Aku meloncur bersama Astrea tercinta. Pukul 8 pagi, aku sudah tiba di sekitar Pesiapan. Mobile phone ku berdering. Woww,  Made Alit menelpon dan menyatakan mereka baru saja tiba di tempat kost Ayu di Perum Monang-Maning, Denpasar. 

Ahaii. Aku ke Tabanan, dan mereka justru ke Denpasar. Misunderstanding yang terjadi di antara kami...... Maka, kuminta mereka kembali ke arah Tabanan, kami berjanji akan berjumpa di depan RSU Tabanan.
Kulirik waktu, masih 45 menit lagi mereka baru akan tiba di sana. Aku meluncur ke Batuaji Kelod, menjumpai Dewa Biyang Nyoman Nesi. Tanteku ini adalah adik kandung bapakku. Beliau tinggal bersama para keluarga besar lainnya di Jeroan Batuaji Kelod.Pulang ke Jeroan Kerambitan, di Batuaji Kelod.... selalu indah pulang ke sebuah tempat yang disebut kampung halaman. Home sweet home. "Hargailah dan hormati selalu leluhurmu". Demikian pesan yg selalu ditanamkan oleh orangtuaku.

30 menit menyapa seluruh anggota keluarga di satu natah / pekarangan, dan aku kembali melanjutkan perjalanan dengan motor, untuk bergabung dengan Putu Ayu dan Made Alit di depan RSU Tabanan.

Di Perempatan jalan Batuaji dan jalan raya Bypass Gilimanuk - Denpasar, kulihat serombongan masyarakat sedang melaksanakan upacara Pitra Yadnya / Ngaben. Mereka mengarak bade dan mengiringinya menuju ke setra / sema / kuburan untuk dibakar. Hmmm, sungguh sebuah tradisi adat istiadat yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan di Bali yg mengalir seiring jiwa jaman (Zeitgeist).
1335969744762556925
Berjumpa di depan RSU Tabanan dengan Putu Ayu dan Made Alit setelah aku menunggu 15 menit, akhirnya kami bersama-sama menuju ke Pura Luhur Batukaru. Kami melewati desa Jegu, tempat wisata Yeh Panes, dan akhirnya tiba di ajeng Pura. Bersiap mengawali persembahyangan kami.
13359698981253362708
Bergabung bersama kami adalah serombongan para pengawas pendidikan SMA dari Bangli yang baru menunaikan tugas menuntaskan pelaksanaan ujian akhir nasional SMA se Bangli. Mereka juga ingin mengucap syukur atas pelaksanaan pekerjaan yg dibebankan pada mereka. Ada juga serombongan wisatawan yang mengambil foto di luar area jaba tengah Pura Luhur Batukaru.
13359698101796888948
Kami melangkah menuju Pura Beji, melakukan rangkaian upacara pembersihan diri. Melukat, mempersiapkan diri untuk berkontemplasi menghadap Beliau, Sang Maha Pencipta.
13359699971496821793
Berikutnya kami melangkah menuju ke Jeroan Pura. Para pemangku mengalunkan genta yang terdengar suaranya nan merdu.
1335969856379962548
Tangan tercakup, dengan mata terpejam dan tarikan nafas perlahan, seiring untaian mantra yang kami ucapkan.
13359700461019268507
Tuhan.... Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kami datang dari berbagai pelosok dan penjuru bumi, dengan beragam cara dan gaya yang kami bisa, untuk memuja dan memuji Mu. Swaha di jalan Dharma.....
13359701481498113261
Berikutnya, kami tuntas bersembahyang di Pura Luhur Batukaru. Kembali bergegas dan melanjutkan perjalanan menuju ke Pura Dang Kahyangan Petitenget yang terletak di desa Kerobokan, Kecamatan Kuta.
13359702611630986228
Masih cukup banyak waktu, kulirik, baru pukul 12.00, saat kami beristirahat untuk makan siang sejenak di warung nasi Men Baru, yang terletak di sebelah jalan menuju ke tempat wisata Yeh Panes. Kulihat Madame & Monsieur Julian yang juga mengendarai motor sedang beristirahat di sebelah meja makan kami. Mereka memilih menu makan yg sama, nasi campur.

Aku jadi teringat salah satu hasil penelitian para muridku. The real backpacker..... merekalah para wisatawan yang sungguh menyentuh masyarakat langsung, baik berbagai dampak dari segi positif, maupun negatif nya. Hmmm, sungguh ku berharap, semoga win win solusi lah yg selalu kami hasilkan, baik bagi sang wisatawan, maupun bagi masyarakat yang bersangkutan.
13359702971700717725
Pukul 3 sore memasuki daerah Kuta, dan kami tiba di depan Pura Dang Kahyangan Petitenget.
13359703251935056517
Perlahan kami melangkah memasuki Penataran Pura, menghaturkan canang dengan tiga tangkai dupa di bagian jaba tengah, lalu bersimpuh bersembahyang.
1335970362674440475
Tuntas di sini, lalu masuk ke bagian Jero Pura, menyapa Pemangku yang bertugas di sana. Kembali kami bersembahyang di sini.
1335970402749632588
Hmmm..... Damai yang kurasa, membuat letih jadi tak terasakan. Enggan kami melangkah untuk berpamitan.
1335970435660365065
30 menit kami meluangkan waktu di Pura ini, sebelum kemudian bubar. Aku kembali ke rumah, sedang Ayu dan adiknya kembali ke Perum Monang-Maning, tempat kost mereka.

Setelah istirahat sejenak bersama keluarga, aku dan keluargaku beranjak menuju Antasura. Kini waktunya berkumpul bersama mertua tercinta yang sudah sangat sepuh, juga para ipar dan ponakan lainnya.....

Ne be yeee...... Punyah ye ??

Kamis 26 April 2012. Wrespati Kajeng Kliwon Menail.

Setelah selesai seminar Tax Planning 2012 yang diselenggarakan mahasiswa Program Diploma IV, Program Studi Manajemen Akunting Hospitaliti pukul 3 sore hari, aku kembali menuju ruang dosen.

Bu Ketut Anggreni yang baru kembali dari bimbingan skripsi di Denpasar menghampiriku. Beliau adalah seorang staf Prodi MAH. Dahulu bertugas di cleaning service, dan kini sedang menuntaskan skripsi di salah satu perguruan tinggi di Denpasar. Demi meningkatkan prestasi, banyak orang berjuang dengan beragam cara untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Berjuang sekuat tenaga.  Dia meminta bantuan untuk mengecek skripsinya. Well, seorang sahabat memohon, maka.... tanpa memandang siapa pun dia, kucoba melakukan semampuku, memberi bantuan diskusi, mengedit, dan kami komunikasikan bersama.

Pukul 5.15 sore kami bubar. Waktunya pulang ke rumah. Aku bergegas ke parkiran dengan mengenakan pakaian kebesaran. Sungguh serba besar, jaket, selendang melingkar, ransel doraemon dengan berbagai pernak-pernik perlengkapan, berkacamatahitam, sepatu dan kaus kaki.

Baru kusadari, motor tak mau hidup karena bensin benar-benar habis. Menghela dan menarik nafas panjang.....

Terlihat ibu Sri menuju parkiran. Astungkara Tuhan. That's what friends are for....  Bersama kami bermotor, mencari pedagang bensin botolan terdekat, dan kembali dengan se botol bensin, ke parkiran kampus tercinta.

Urusan tuntas?? Ooppss, belum. Demi memelihara narsisitas, wajib hukumnya untuk foto bersama. Maka..... ber foto dulu dengan beragam gaya, baru kami menggeber motor di jalan raya, menuju rumah tercinta.