Kamis, 17 Mei 2012

HUT Sederhana bagi Anakku, Made Yudhawijaya, 15 Mei 2012

133725255456445453

Selasa, 15 Mei 2012. Setelah 2 minggu lalu, Adi merayakan otonan tepat pada hari Selasa, Anggarakasih Prangbakat, hari ini adalah ulang tahun Yudha yang ke 9. Putra bungsuku ini lahir di Denpasar tahun 2003.

13372525842110398575

Akan ada pesta besar? Ah, sama sekali tidak. Tidak perlu terjadi euforia massa. Jalani hidup apa adanya, dengan berdoa dan berkarya selalu. Lagipula, kami baru tuntas mengadakan upacara Ngaben Sang Kakek tercinta, Wrespati Wage Bala, Kamis 10 Mei 2012 lalu di Sepang. Besok akan melangsungkan mecaru di Antasura Denpasar. Kakaknya tetap sekolah seperti biasa, demikian pula Yudha. Bapaknya berdiskusi dengan para anggota keluarga yang berkumpul di rumah ipar di Denpasar Utara tersebut.

1337252692974879367

Aku tetap menjalankan aktivitas seperti biasa pula. Ke kampus Pascasarjana di Nias dan Sudirman, temui staf akademik dan para profesor. Geleng2 kepala dan tersenyum tatkala salah seorang profesor menegur dan mengingatkan ku untuk mengikuti kuliahnya, sembari menanyakan dimana letak ruang kuliah. Hmmm, sambil berbicara dalam hati (Pertama, profesor, saya sudah tidak kuliah lagi. Kedua, ruang kuliah terletak di lantai atas, bukan di depan ruang Pudir ini).

Berhubung staf yang kucari tidak kunjung tiba, sedang aku ditunggu mahasiswa dan para rekan kerja di Nusa Dua, aku beranjak pergi dan berjanji untuk datang siang nanti. Tuntas PP ke dan dari Nusa Dua 4 jam dalam waktu, berhasil kutemui Ibu Indah. Dengan jawaban "Beasiswa baru akan cair bulan Juni". Hiks.....

Aku beranjak pulang. Mampir sejenak membeli kue tart mungil untuk sekedar merayakan HUT Yudha yang ke 9. Sebatang lilin berupa angka 9. Cukuplah sudah....

13372514377368474

Sedari lahir, kuajarkan anak-anakku, bahwa hidup tidak perlu dihadapi dengan sepenuh ketegangan dan tuntutan atas kesempurnaan. Tidak perlu bersikap terlalu ekstrim, jor-jor an, pamer, frustrasi. Karena hidup tidak melulu materi / kebendaan. Ada jauh yg lebih hakiki, bernilai, yakni hati nurani, pasrah dan ikhlas. Bersyukur, karena ada masih jauh lebih banyak orang yang tidak se beruntung diri kita. Maka, semoga anak-anakku akan selalu bisa beradaptasi dengan lingkungan dan situasi, juga kondisi apa pun jua....

13372515052011981083

Bahkan, tatkala pukul 10 malam bapaknya baru tiba dari tuntas diskusi dan urun rembug bareng keluarga, kedua anakku terjaga dari tidur lelap mereka, kembali duduk bersama, meniup lilin di atas kue tart mungil, mengucap syukur bersama, dan kembali melanjutkan tidur malam untuk bersiap dengan segudang aktivitas lain di esok hari.

13372515571342175475

Anak-anakku....
Hidup tidaklah selalu mudah. Tidak seindah yang selalu kita bayangkan dan kita harapkan. Terjatuh berkali, bangkitlah kembali berkali dan berkali lagi. Jangan pernah jumawa dan melupakan, bahwa di belakang keberhasilan kita selalu terdapat peranan orang lain, sekecil apapun. Juga, masih ada jauh lebih banyak orang yang tidak se beruntung diri kita.

13372515861947735524

1337253033124604095

13372530612123251909

13372530931420263434

Selasa, 15 Mei 2012

Puncak Karya Ngaben Mertuaku, Bape Ketut Rantun

Puncak Karya Ngaben Mertuaku.

Kamis, 10 Mei 2012, Wrespati Wage Bala, pukul 4 pagi.  Dingin udara pegunungan di Sepang membuat kami tetap menggunakan jaket untuk menghangatkan tubuh, namun tidak hentikan langkah dan hanya bermalas belaka.

Kami semua bersiap. Tabla / bade / wadag sudah bersiap dengan bambu berpalang yang akan dipergunakan menggotongnya. Ida Bagus dari Ghriya Pangyangan membacakan mantram dan memercikkan tirta menyucikan. Gamelan Gong yang dimainkan mengeluarkan suara merdu nan magis yang membuat tiap orang terpukau.

13371051901778400523

Ibuku yang telah tiba larut malam setelah menempuh berkali penerbangan dari Pontianak, dan menginap di desa Batuaji, telah pula berangkat menuju Sepang. Beliau disertai Dewa Biyang Nyoman Nesi dan Dewa Kadek Kokar ygn mengendarai kendaraan APV.

Kusiapkan sarapan bagi anak-anak dan para ponakan. Mereka tidak boleh sampai terlupakan. Kuperhatikan pula pakaian bersembahyang yang mereka kenakan. Setelah itu baru kusempatkan untuk sarapan. Kami semua bersama dengan seluruh anggota banjar dan kelompok sekehe Suka Duka Asah Badung sarapan bersama.

Berikutnya, rombongan bersiap untuk berangkat menuju setra / sema / kuburan.


13371056891300877438

Aku kebagian menggendong seperangkat peralatan upacara, dengan diselaputi kain kasa putih yang diselempangkan di bahuku. Namun tetap tidak mau melupakan seperangkat kamera saku untuk mengabadikan berbagai peristiwa dan kejadian hari ini yang bakal kualami. Batere kamera telah ku isi ulang se penuh nya tadi malam. Anak-anak juga telah mengenakan pakaian sembahyang dan sandal yang tidak menghambat perjalanan jauh mereka hari ini.


1337105515625542082

Kami bersiap berangkat, dengan terlebih dahulu berdoa, dan diperciki tirta oleh Ida Ratu Peranda, memohon berkat agar di puncak karya ini semuanya dapat berjalan lancar.

Kami berjalan ber iringan di bagian depan tabla / bade.  Ibuku juga bersikeras tetap ikut di bagian depan bade, sambil memegangi kain putih yang terbentang, berjalan cepat. Terkadang harus berlarian. Ah.... ibuku sayang, ibuku terkasih.... Ibu yang telah melahirkan dan merawatku. Beliau sudah sepuh kini. Dengan kondisi fisik yang tidak sempurna, kedua kaki cacat, pernah patah akibat beragam kecelakaan, pinggul bengkok, namun bersikeras ikut berjalan kaki menempuh jarak ber kilo meter, demi menghantar jenasah bapak mertua ke tempat pengabenan, untuk kembali bersatu dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.....

Dari Ibu ku lah aku belajar tentang arti kehidupan,
tentang semangat untuk pantang menyerah kalah
sebelum buktikan ketangguhan kita dalam berjuang.
Dari Ibu ku lah aku dapatkan spirit empati dan kasih sayang pada sesama....
Dari Ibu ku lah aku belajar untuk selalu rendah diri,
menyatu dan berbaur dengan orang lain,
karena gelar dan materi tak kan berarti tanpa terlibat bersama sahabat dan kerabat.
Dari Ibu ku lah aku dapatkan, manusia akan selalu temui masalah dan tantangan hidup,
namun kita akan bisa belajar untuk menjadi bijak dan dewasa dari ini semua,
meski berkali terjatuh dan terpuruk.... namun bangkit kembali selalu.....

1337261417705141440

1337105934443663420

13371060022096267760


13371060582072239375

Perjalanan menuju setra.

Hari Kelima Mertuaku Berpulang

Hari Kelima Mertuaku Berpulang

Rabu, 9 Mei 2012. Pukul 5 pagi, aku bersama anakku sudah berada di jalan raya. Kami meninggalkan rumah dan menembus dingin udara pagi hari, menuju jalan Sidakarya, Sesetan. Mengambil boks berisi 15 kg dry ice, yang kemudian dipangku oleh anakku, dan kembali melaju ke jalan Antasura.

Kami memberi makan ke dua ekor anjing yang super gemuk, mengecek aliran listrik dan mengunci rapat rumah, lalu bersiap menuju ke Singaraja.

Berikutnya adalah sebuah rally perjalanan menuju Sepang. Berkali kehujanan di rentang jalan, kami selalu kenakan jas hujan. Jalan terjal dan berliku tak pelak lagi membuat kami harus ekstra berkonsentrasi, dan anakku terpaksa turun berkali dari motor. Namun sungguh, ini lah sebuah wujud nyata perjuangan sebuah karya di jalan Dharma, sebuah Local Genius Wisdom, yang mengajarkan pada tiap umat untuk selalu eling, menghargai satu sama lain, belajar sabar, dan terus berusaha untuk menjadi smakin bijak dan dewasa, dari hari ke hari.

Tiba di Asah Badung, Sepang, Buleleng, 2,5 jam berikutnya, sudah ramai orang berdatangan dan berkumpul di rumah. Maka, tanpa menunggu lama lagi, kami berganti pakaian, mengenakan kain, dan bersiap berbaur.

13371019571951537581

Seluruh anggota keluarga bersiap untuk ngening, sebuah prosesi dimana berbagai simbol upacara dan upakara di bawa ke beji / pancuran, untuk disucikan, sebagai pertanda bersiap untuk prosesi pengabenan.

1337102160605764948

1337102046527470013

Sebagian dari perlengkapan sarana dan prasarana upacara Ngaben.

1337102281346431862

Selanjutnya, sawa / mayat orang yang meninggal akan dimandikan. Seluruh anggota keluarga berdiri di sekeliling tempat dari bambu berupa meja. Berbagai banten yang dibutuhkan demi prosesi ini telah dipersiapkan. Ida Bagus dari Geriya Pangyangan mengawali prosesi dengan berdoa, membaca mantram, kemudian memandikan sawa tersebut, mengenakan kembali perangkat pakaian di tubuh orang yang telah meninggal.

1337102416220754297

Ah.... betapa, setelah meninggal, kita semua sungguh tidak lagi mengetahui apa yg pantas dan tidak bagi diri sendiri. Orang lain yang tentukan, orang lain yang akan mengenang seluruh ingatan akan masa lalu kita, baik buruknya, sedikit banyaknya....

Setelah sawa dimandikan, lalu diletakkan di atas panggung yang terbuat dari bambu, di sampingnya diberi lampu yang terbuat dari kapas, dimasukkan kedalam sebuah telur yang telah diberi minyak dari kelapa. Nyala api tersebut akan dijaga bersama hingga menyala sepanjang malam, dan esok hari menjelang upacara ngben berlangsung.

133710398598785823

Ida Ratu Peranda yang berasal dari Ghriya Pangyangan memimpin kami dalam memanjatkan doa bagi para leluhur dan dewata, sebagai kepanjangan tangan Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, agar membantu kami melaksanakan rangkaian upacara dengan lancar. Lantunan kidung suci, mantram yang mengalir perlahan, alunan genta, sungguh membuat kami menangis perlahan. Kebersamaan ini menguatkan kami satu sama lain, agar prosesi penyatuan sang Atman dengan Hyang Widhi berjalan sempurna.

1337103875384167517

13371025071709242795

Prosesi ngening menuju beji, pertanda pembersihan diri dan bersiap melalui upacara Pengabenan.

13371026162101546089

13371037381517207482

Di tembok rumah, terpasang Info Dudonan Karya Ngaben yang ditulis oleh iparku :

Rabu, 9 Mei 2012,  Buda
Pukul 8. Mendak banten. Nebus ke Pura Dalem, Mrajapati, Puseh.
Pukul 15. Ngeringkes. Ngening.
Pukul 16. Mendak Ida Ratu Perandha.

Kamis, 10 Mei 2012,
Pukul 00. Nunas tirta penembak.
Pukul 5. Mralina. Ngagah. Ngutang sok ceg-ceg.
Pukul 8 hingga tuntas di malam hari:
            Mlaspas tabla / bade. Mecaru, turun sawa, mepegat, Berangkat ke setra.
            Mecaru di rumah. Ngeseng. Munggah, muspa, nganyut.
            Nebus. Ngangget don bingin. Mebanten sumping keladi.
            Ngajum sekah. Purwa daksina / ngunggahang sekah.
            Ngening.
            Ida Ratu Perandha munggah.
            Muputang sekah, muspa.
            Mekutang Bok.
            Ngaturang pependetan. Mekencang-kencung.
            Mralina ngeseng sekah.
            Nganyut sekah / pengrorasan.
            Nganyut ke pasih, nebus.
            Mamitang ke griya.

Jum'at, 11 Mei 2012
            Nangkilan ke Pura Kahyangan Tiga :

            Pempatan. Puseh. Dalem.
            Lanjut, Ngelinggihang ring jumah sowang-sowang.

Hari Keempat Mertuaku Berpulang

Hari Keempat Mertuaku Berpulang

Selasa, 8 Mei 2012. Terjaga pagi hari, kubuatkan nasi goreng bagi keluarga. Lumayanlah, memanfaatkan nasi kemarin, dengan tambahan mie goreng dan telur. Juga teh manis. Kuutamakan anak-anak dan para ponakan. Mereka harus tetap mendapatkan perhatian meski kami semua sibuk menuntaskan karya ini.

13370978141888813618

Pukul 8 pagi, anggota banjar mulai berkumpul berdatangan, kaum lelaki dan perempuannya. Mereka kemudian bertugas sesuai dengan arahan yang diberikan oleh para pemegang komando, mulai dari ketua tim PKK, penglingsir, dan para mbok ku.

1337097980151311989

1337098071563614969

Kusadari, gas isi tabung tinggal sedikit, dan kami membutuhkan cadangan gas. Seluruh anggota keluarga yang pria sedang sibuk bekerja dengan bagian tugas masing2. Kenapa tidak? Jangan pernah remehkan kemampuan seorang wanita, maka aku membawa tabung gas yang kosong, mengikatnya di atas motor, dan melaju menuju desa, rumah Nang Merat. Menukar tabung gas kosong tersebut dengan tabung gas yg berisi penuh, lalu kembali ke rumah kami.

Bagaimana dengan persiapan lainnya? Kami butuh sayur-mayur, telur bebek untuk perlengkapan banten, aneka plastik.  Maka, kembali aku berangkat ke desa. Namun Yudha, anakku, dan Dita, ponakanku ingin ikut serta. Knapa tidak? Kami bertiga menuju ke desa dengan mengendarai motor. Berbagai peralatan dan perlengkapan yang kami beli kuletakkan di bagian depan motor, anak-anak di bagian belakang, saling berpegangan erat, dan kami kembali ke rumah.

1337098533654672146

Tinggal bersama di berbagai lingkungan yang berbeda-beda, dengan banyak orang, menuntut kita untuk bisa beradaptasi. Aku bersyukur memiliki keluarga yang beraneka warna, dan mau belajar beradaptasi dengan berbagai perbedaan ini. Memelihara harmonisasi dan tenggang rasa satu sama lainnya memang tidak mudah dan tak segampang membalik telapak tangan. Namun sejauh kita siap dan mau belajar, maka semua akan lebih mudah bagi diri kita sendiri dan juga orang lain.

13370982031361481616

Di jalan kembali ke rumah, kami melihat serombongan anak sekolah yang baru pulang. Mereka berjalan kaki beriringan, tersenyum manis dan menyapa kami. Hmmmm, tipikal masyarakat Indonesia yang ramah dan murah senyum. Meski jarak jauh yang harus mereka tempuh demi sebuah cita-cita di masa depan, menuntaskan pendidikan.

1337098300538040467

Ada beberapa bagian banten yang harus di bawa ke rumah Beli Nengah Puja. Bapak nya yang merupakan adik mertuaku, akan ikut diaben pula. Mbok Wayan Nuka dan Me Nyoman Tamas sudah cukup lelah menuntaskan banyak banten. Maka kuputuskan akan membawa sebagian banten dengan menggunakan motor, menggandeng Kadek, menantu Mbok Wayan Nuka.

1337098402367450222

Well, mau professor, pejabat terkenal, sepenuh deretan gelar, tetap harus bisa membaur, saling bahu membahu, tolong menolong menuntaskan berbagai problema. Dan kurasa aku cukup mampu. Maka, kuberikan apa yg bisa kulakukan demi keluarga tercinta. Mengendarai motor mondar mandir.

Pukul 12 siang, banten dari Griya Pangyangan tiba, kami mempersiapkan segala sesuatu bagi penempatan sementara per bantenan ini. Di teras rumah, di panggung yang terbuat dari bambu juga.

1337098680416939233

1337099433697378336

Dalam jangka waktu yang hampir bersamaan, tiba pula tabla / bade / wadag yang akan dipergunakan untuk meletakkan mayat dan diarak menuju setra. Bade ini dipesan oleh iparku di daerah Kapal, Denpasar.

1337100093121598680


Juga sekeha angklung. Hmmm, sungguh sebuah rangkaian prosesi upacara dan upakara demi berjalan lancarnya karya kami ini.

13370992411724250835

Waktu menunjukkan pukul 4 sore tatkala aku bersama ipar dan para ponakan mempersiapkan dry ice tambahan bagi bapak mertua. Ku potong-potong dry ice menjadi beberapa bagian kecil, memasukkannya ke dalam plastik ber lakban, melap dan membersihkan tumpahan air hasil udara yang mengembun di tubuh kurus beliau, dan kembali menutup dengan plastik dan terpal yang telah disediakan.

13370996851639795456


Ramainya tamu yang datang silih berganti menunjukkan dukacita bagi keluarga kami, sungguh merupakan sebuah kehormatan bisa menerima mereka dari berbagai lokasi di seantero negeri. Mulai dari rekan-rekan kerja, para kerabat dan tetangga kami di Denpasar. Ah, semoga Bapak, leluhur, bhetare dan pada dewa sebagai kepanjangan tangan Beliau, dapat membalas budi baik mereka semua.

Waktu menunjukkan pukul 6 sore. Saatnya bersiap berangkat menuju Denpasar. Aku akan menjemput Adi anakku, sekalian mengambil dry ice untuk yang terakhir kalinya.

Kukenakan jaket, celana panjang, lengkap dengan kaus kaki dan sarung tangan, juga helm baku SNI. Hmmm..... bakal malam hari melewati jalan raya, menembus hutan dan jalan berliku pegunungan. Smoga Hyang Widhi melindungiku.

Bahkan, dengan kondisi motor mati mendadak berkali, di Tukad Yeh Baas, di Munduk Mengenu, di Hutan Bading Kayu, disertai gonggongan anjing dan udara malam yang dingin menembus kulit, aku tersadar, motor Yamaha Jupiter MX ku sudah lama belum ganti olie juga tak ditambah akinya karena kesibukan mondar-mandir berkali.

Astungkara.....  empat jam kemudian aku tiba dengan perasaan lelah teramat, bila dibandingkan 2,5 jam waktu yang biasanya kubutuhkan untuk menempuh perjalanan dengan jarak sama. Kurebahkan badan setelah mandi dan berdiskusi dengan anakku Adi. Besok kami akan menempuh perjalanan di pagi hari dini sekali.

Hari Kedua dan Ketiga Mertuaku Berpulang

Hari Kedua Mertuaku Berpulang

Pukul 4 pagi dini hari Minggu, Mei 2012. Iparku, Nyoman Sumadi, mempersiapkan mobil kijang biru tuanya untuk membawa jenasah. Kursi belakang mobil dibongkar, terpal digelar. Bapak mertua dinaikkan ke mobil melalui pintu belakang, diapit oleh suamiku dan ipar, Bli Made Miasa. 

Kami yang lain yang ditinggal di Denpasar, bertugas menunggu informasi selanjutnya. Wayan Adi Pratama dan Made Yudhawijaya, anak-anakku,  juga Made Dika, ponakanku, masih tertidur lelap. Iparku yang merupakan adik bungsu suami, Ketut Karmini, beserta suaminya, Agustinus Bheudema, kembali ke rumah sebelum kembali berangkat ke Singaraja dengan membawa 30 kg dry ice yang harus dibelinya terlebih dahulu di jalan Sidakarya, Sesetan.

Dengan mengendarai motor Mio suami, aku menghantar Nengah Smerti kembali bekerja di restoran di sebelah sekolah swasta terkenal di jalan PB Sudirman. Kemudian aku kembali pulang ke rumah untuk menyiapkan pakaian yang akan kubawa pulang kampung. Kuminta Ayu menyiapkan lauk pauk yang akan kubawa ke rumah ipar, agar anak-anak tetap terjaga pemenuhan kebutuhan akan makanan mereka.

Waktu menunjukkan pukul 7 pagi. Belum lama aku di rumah, mencuci dan menjemur baju, kuterima telpon dari Agus. Ia mengalami kecelakaan, terjatuh dari motor. Dia minta dibawakan obat-obatan di lokasi kejadian, jalan Belitung, dekat lapangan Pegok. Hmmm. Ada masalah di saat dibutuhkan konsentrasi tinggi. Kuhampiri dia dengan mengendarai motor dan berpakaian lengkap untuk sebuah perjalanan jauh, karena sudah hampir bisa dipastikan, dia tidak siap untuk mengambil dry ice dan membawanya menuju Singaraja.

Kutelpon anakku Adi, yang masih di jalan Antasura, untuk menyiapkan motornya, Yamaha Jupiter MX, agar bisa kubawa ngebut melintasi jalan raya untuk segera tiba di Singaraja. Kemudian aku menuju ke penyalur dry ice yang terletak di jalan Sidakarya. Ah ha. Baru kuketahui, pabrik dry ice di Surabaya sedang dalam kondisi rusak, dan paket pengiriman berikut baru akan tiba esok siang. Sementara bersama ku, ada 2 rombongan yang juga membutuhkan dry ice untuk mengawetkan jenasah. Namun akhirnya, berkat perjuangan gigihku, juga disertai doa pada Tuhan, dan berkah dari bapak mertua, bisa kudapatkan 20 kg dry ice. Diletakkan dalam box berbahan gabus putih padat ber lakban, diikat erat di bagian belakang boncengan motorku yang sudah terisi bensin penuh, aku mampir di rumah ipar, jalan Antasura.

Mampir di rumah ipar, aku mendapati Yudha sedang bermain bersama Dika. Adi sedang memberi makan ikan lele dan kodok yang merupakan ternak peliharaan iparku. Kuletakkan makanan yang kubawa dari rumah, berpamitan pada mereka semua, dan segera meluncur ke Singaraja.

Melaju menembus jalan raya Denpasar – Gilimanuk, menerobos hutan Bading Kayu, dan tiba di Desa Dapdap Putih dengan berkali lepas rantai motor, aku harus rehat sejenak di sebuah bengkel. Motorku butuh perbaikan. Kusempatkan minum air putih sambil ber santai sejenak. Kubiarkan boks berisi dry ice tetap terikat rapi di jok sadel sepeda motorku bagian belakang.

1337091035203344175

Dua jam 30 menit kemudian, aku tiba di halaman rumah di kampung halaman, di Pangkung Singsing, di Dusun Asah Badung, Desa Sepang Kelod, Desa Adat Sepang, Kecamatan Busung Biu, Kabupaten Buleleng. Di tengah jalan sempat aku berpapasan dengan ipar, Nyoman Sumadi, yang sedang mengendarai Kijang Biru Tuanya. Dia mengatakan akan berangkat menuju Desa Kapal, Badung, untuk memesan Tabla / Wadag bagi jenasah, lanjut kemudian ke Klungkung, untuk menyampaikan informasi pada para keluarga, juga membuat banten untuk persiapan nunas tirta.

13370911361974016114

Di rumah sudah ramai orang mulai berdatangan. Para pria membangun rompog / tenda yang ditopang dengan tiang bambu. Para perempuan mejejaitan dan mecik jaje untuk banten. 

1337091261672558870


13370915431076292316

Aku mulai membuka kotak berisi dry ice, dengan dibantu oleh para kerabat dan suami, membelah dry ice menjadi potongan kecil dengan sebuah kapak. Lalu membuka lembaran kantung plastik yang kubeli dijalan, menjejali potongan dry ice ke dalamnya, lalu me lakban kantung tersebut sebelum kemudian diletakkan di sekujur tubuh bapak mertua.

1337091651470206555

Nyoman Kopat panggilannya. Dia adalah seorang cucu yang sangat mencintai sang kakek. Matanya memerah, meski tidak menangis, namun terlihat jelas wajahnya sungguh sedih bermuram durja.

1337091920215618645

1337091788645200237

Meski dia tidak bersama kakek tatkala sang kakek berpulang, namun sungguh lama waktu yang telah mereka lewati bersama. Maka, tak heran, ikatan batin sangat kuat terasa antara cucu dan kakeknya.

13370919511009753471

Hari dengan cepat beranjak malam.

 Hari Ketiga Mertuaku Berpulang

Senin pagi, 7 Mei 2012. Pukul 7 pagi, rombongan berikutnya tiba dari Denpasar. Anak bungsuku, ipar2ku dan anak2 mereka. Kaum pria anggota banjar kembali tiba dan melanjutkan membangun tenda. Kaum perempuan anggota banjar menanding banten.

Setelah selesai dengan urusan dapur, mulai dari mempersiapkan bumbu, memasak untuk sarapan, menata kue, aku berpamitan dengan seluruh kerabat untuk bergerak menuju Denpasar.

Waktu menunjukkan pukul 10.30 tatkala aku tiba di SMAN I Denpasar. Kutemui guru piket, dan menjelaskan mengenai rencana Ngaben kakek Adi pada guru piket, dan memohon ijin untuk berjumpa dengan nya.Berbincang sejenak dengan Adi, aku pamit melanjutkan perjalanan. 

Suami meminta menghubungi Jero Gede Tanjung, dari kawitan Gede Tanjung Klungkung, tempat dimana leluhur bermula.

Ah, entah dimana harus kutemui Beliau. Hanya pernah kukunjungi sekali pada saat sepuluh tahun lalu, ketika ibu mertua berpulang. Dan itu pun di malam hari, dengan diantar oleh Mbok Mang Dari. Maka, kutelusuri jalan Cekomaria di Peguyangan Kaja, tembus di Banjar Cengkilung, Peguyangan Kangin. Bertanya hanya 2 kali dengan orang yang kujumpai di jalan, kutemui rumah Beliau, Jero Gede Tanjung Agung Suputra. Astungkara, Tuhan. Hanya berkat Mu lah, kudapat menyampaikan pesan dari keluarga besarku, dan sekaligus mengundang Beliau untuk hadir pada upacara pengabenan bapak Mertua ku.

13370920711206087589

Bahan untuk pretima yang kulihat di rumah Jero Gede Tanjung Agung Suputra, di Banjar Cengkilung, Peguyangan Kangin.

13370925281975033495

Setelah berdikusi, aku mohon pamit. Lalu mampir di rumah ipar, di Jalan Antasura, Gg. Sutra, mengambil laptop yang kutinggal kan di sana, memberi makan anjing peliharaan keluarga, dan menuju jalan Sidakarya, kembali kuambil masing-masing dua boks berisi 15 kg dry ice, total 30 kg. kuikat di bagian belakang motor,  dan melanjutkan perjalanan kembali menuju Singaraja, Asah Badung.

Tiba pukul 5 sore hari, masih ramai anggota banjar yang berkumpul. Sisa hujan deras masih terlihat basahi berbagai sudut halaman. Pukul 6 sore anggota banjar tuntas dengan aktivitas hari itu. Kami membersihkan halaman, membersihkan diri, dan menikmati makan malam ala kadarnya.

13370944231364326589

Menjelang malam, beberapa anggota banjar kembali megebagan, menemani sang empunya karya menuntaskan berbagai kerja tersisa. Kemudian kami merebahkan badan untuk beristirahat.

1337092620592163368
Dalam beragam gaya tatkala tertidur

1337095007928392491

Hingga yg ber galang beras.....

13370953981685885430


Lelah kah aku?? Sudah jelas. Aku hanya seorang perempuan biasa. Bukan apa-apa dan juga bukan siapa-siapa. Namun kita sebagai manusia, umat ciptaan Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, diberikan kebijakan untuk berkembang menjadi smakin kian dewasa dari hari ke hari. Sekarang, tergantung diri kita, apakah mau menggunakan kesempatan ini dengan baik, atau hanya menekankan egosi semata. Di saat begini, kita diminta bijak menyikapi berbagai situasi dan kondisi yang kita hadapi..... bukan dengan tuntutan untuk mencapai kesempurnaan, namun untuk bersikap bijak dan dewasa.....

Hari sudah sungguh larut malam, tatkala kurebahkan tubuh di samping ponakan ku, Putu Diah Trisna Septiani, di lantai dapur kami, dengan beralas plastik dan ber galang beras se kampil......