Minggu, 12 Januari 2014

'Coz, My Life is My Messages....... Bersyukur selalu atas setiap detik hidupku, Anugerah Hyang Widhi.......



"I have chosen to be happy because it's good for my health" - Voltaire
"Aku memilih untuk bahagia karena baik untuk kesehatan," kurang lebih seperti itulah artinya. Hal tersebut memang benar adanya. Seperti yang sering kita dengar bahwa tersenyum membutuhkan syaraf lebih sedikit daripada saat kita cemberut. Selain itu, Anda sendiri pasti merasakan perbedaan saat mood Anda baik dan saat sedang buruk. Maka dari itu, tidak ada salahnya memaksa diri kita untuk bahagia.


Maka, selalu ku bersyukur, atas segala suka dan duka dalam kehidupan, dengan segala emosi yang sering melanda jiwa, sedih, jengkel, marah, kecewa, terluka, bahagia, iseng dan usil menggoda para sahabat.


Aku senang bepergian, meski hanya lingkup di sekitar ku saja. Sejauh segala urusan rumah tangga beres, sejauh urusan pekerjaan beres, maka, aku senang bepergian, memuja kebesaran Tuhan yang hadir dalam segala bentuk di bumi. Terkadang kuajak suami dan anak-anak untuk terlibat. Meski suamiku bukan tipe orang yang senang bepergian, dan anak-anak sekarang sudah asyik memiliki rencana kegiatan mereka masing-masing....



Perlengkapan standar, hanya dengan menyiapkan jas hujan, dengan mengenakan pakaian kebesaran, jaket, selendang penutup leher, sepatu anti air, kacamata hitam, ransel dengan perlengkapan yang kubutuhkan, terutama, kamera......

Sabtu, 11 Januari 2014. Setelah segala urusan rumah tangga beres, dari mencuci dan menjemur pakaian, memasak hidangan sederhana bagi keluarga, Yudha berangkat sekolah, suami dan Adi masih bergelut dengan aktivitas masing-masing di rumah. Aku meluncur, dari Denpasar bergerak ke Sukawati, Gianyar, pernikahan Ayu, rekan kerja ku. Sejenak di sana, kembali kulanjutkan perjalanan menuju arah Tonja, kemudian mengambil jalan pintas ke Darmasaba, tembus di jalan raya Kapal. masuk ke Sempidi, menyusuri jalan raya, menuju Baturiti, Tabanan, pernikahan Uttari, mantan murid bimbingan skripsiku. Ada 3 upacara pernikahan yang ingin kuhadiri kali ini.







Hujan lebat semenjak Baturiti, membuatku istirahat sejenak menikmati semangkuk bakso babi dan segelas kopi hangat di salah satu warung di pinggir jalan. Berikutnya, kukenakan jas hujan, dan kembali menyusuri jalan raya sisi danau Beratan, Pancasari, dan berbelok ke kiri, ke arah asah Gobleg, hingga tembus ke Munduk. Putu Liong, anakku, menikah dengan seorang gadis dari Payangan.




Sejenak disini, aku kembali melanjutkan perjalanan, kali ini menuju Bubunan. Semenjak dari Munduk, kulalui Desa Mayong, Ringdikit, Rangdu, dan tiba di Bubunan. Kubelokkan arah laju motorku ke kanan, menuju Tangguwisia, Kalianget, dan tiba di banjar Tegehe, desa Banjar. Di jalan Srikandi, disini kini anak angkatku menetap.

Well, meski kami tidak memiliki ikatan pertalian darah, namun perhatian juga tetap kuberikan. Mereka baru memulai mahligai rumah tangga. Putu Singgih Permana dan Maisiah berkenalan semenjak duduk di bangku sekolah paket kelompok belajar, dimana aku mengajar. Dan, karena Mai sedang mengandung, dia menetap untuk sementara bersama mertua dan keluarga di kampung.

Aku senang memotret pemandangan alam, beserta segala hasil buminya. Aku senang memotret aktivitas umat manusia, ekspresi wajah dan segala aktivitas yang sedang mereka lakukan. Aku senang mengunjungi para sahabat juga keluarga besar......



Saat mengunjungi anak asuhku, Maisiah, di rumahnya, di Banjar Tegehe, Desa Banjar, Buleleng, 11 Januari 2014





Se saat mengunjungi anakku ini, aku kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini ingin mengambil jalan pintas melalui desa Pedawa. Namun, sejenak mampir ke Brahmavihara Arama. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 sore. Masih cukup waktu untuk berdoa dan berkunjung ke sekeliling area vihara yang luas ini.

 Saat mengunjungi Brahmavihara Arama, kusempatkan untuk ber meditasi dan berdoa bagi kesejahteraan seisi dunia.





Bersujud dan berdoa demi semua orang, demi kebahagiaan setiap orang, baik keluargaku, para sahabat, bahkan, orang yang tak kukenal sekalipun.

Pukul 17.15, kembali kulanjutkan perjalanan, menembus Desa Pedawa, tiba di persimpangan jalan menuju desa Anturan, Cempaga, dan Asah Gobleg. Pemandangan asri dan menakjubkan yang terbentang sepanjang jalan, sungguh membuat hati tiada henti bersyukur, masih bisa menikmati kebesaran Tuhan yang hadir dalam berbagai bentuk dan makna.











 
Tiba di banjar Asah Gobleg, desa Gobleg, aku berhenti mampir sejenak, kembali menikmati semangkuk bakso babi. Lengkap dengan lontong, bakso, telur sebutir, dan krupuk, semua berharga Rp. 7.000 rupiah. "Saya masih kuliah di STIKOM Denpasar, semester 3. Sekarang sedang libur sekolah" Ujar Widya kesuma, sang pria tampan yang berjualan bergantian dengan ibunya, sementara bapaknya lumpuh akibat penyakit stroke yang di derita. Hmmmm, se dari muda, aplikasi kewirausahaan dalam dunia nyata akan membuat sukses tiba bagi mereka.






Dari Desa Gobleg, aku kembali menyusuri Desa Pancasari, Danau Beratan, dan beristirahat di Strawberry Hills. Kutemui rombongan pengendara vespa tua yang juga sedang beristirahat. Mereka berencana untuk berkemah di bumi perkemahan Danau Buyan. Hujan turun dengan deras, sedang mereka tidak membawa jas hujan. Dheeuuhhh. Sungguh, tidak siap akan sebuah petualangan jauh.





Setelah cukup beristirahat, kulanjutkan perjalanan kembali ke rumah. Tiba pukul 18.30 malam, anak-anakku ada di rumah, suami sedang asyik dengan bacaan di perpustakaan kami. Sungguh, sebuah anugerah pengalaman dan pembelajaran dalam kehidupan, bersyukur atas berkat Hyang Widhi. Anak-anakku yang mencuci motor2 kotor, membersihkan rumah, dan menyiapkan makan malam bagi kami semua. Swaha......


Dari satu Pawiwahan ke Pawiwahan lain....... 11 - 12 Januari 2014

The Law of Attraction : Only your thoughts and actions can determine your life.......

Dan...... Telah kubuktikan sendiri. Pikiran dan tindakan yang akan tentukan jalan sejarah kehidupan kita. Kita bertanggungjawab terhadap diri kita masing-masing...... Sekali niat hadir dalam hati, doa dan kerja keras akan membuktikan, apakah niat akan terwujud. Maka, aku bergerak menuju Gianyar, Banjar Cemenggaon, pernikahan ibu Ayu, rekan sesama dosen STPNDB. Berikutnya, Baturiti, Tabanan, pernikahan Uttari Pitanatri. Selanjutnya, Munduk, Buleleng, pernikahan anakku, Putu Liong. Kemudian, menempuh jarak Mayong, Ringdikit, Rangdu, Bubunan, Tangguwisia, Kalianget, Tegehe. Mengunjungi anak asuhku, Maisiah. Mengunjungi Brahmavihara Arama. Dan, menembus Banjar, Pedawa, Gobleg, Baturiti, danau Tamblingan dan Buyan, Pancasari, dan danau Beratan, kembali ke Denpasar.



Sabtu, 11 Januari 2014, bertepatan dengan Tumpek Kandang, Saniscara Kliwon Uye. Ada tiga upacara pernikahan, Pawiwahan, yang ingin kuhadiri. Maka, setelah tuntas dengan urusan rumah tangga, dari cuci2 dan masak2, aku berpamitan dengan suami. Yudha sedang bersekolah, Adi masih menikmati tidur lelapnya. Pukul 8 motorku bergerak menuju Banjar Cemenggaon, pinggir jalan raya, persis sebelum Pasar Seni Sukawati.

Pawiwahan I, rekan kantorku, Ibu Putu Ayu Sudiparwati, SE., menikah dengan I Wayan Seraya, ST., sahabat sekaligus tetangganya di seberang rumah. Bu Ayu sedang bersiap berdandan bersama sang suami, bagi resepsi pernikahan mereka. Aku berjalan berkeliling, diskusi dengan keluarga besarnya, mengambil beberapa foto, dan berpamitan melanjutkan perjalanan.






Setelah Banjar Cemenggaon, aku bergerak menuju Banjar Kerobokan, di Baturiti. Pawiwahan putri dari Pinandita Profesor I Gede Pitana.  Uttari Pitanatri, seorang alumni STPNDB, dia juga adalah mahasiswa bimbingan skripsiku. Sekaligus adik dari Putu Diah Sastri Pitanatri, rekanku satu ruang, di STPNDB.










Bersama Ibu dan Bapak Prof. Dr. Wayan P. Windia, SH., M.Si., pakar hukum adat Bali, yang juga dosen UNUD.


Bersama Ibu dan Bapak Komang Mahawira, Direktur Akademi Pariwisata Makasar


Bersama Ibu dan Bapak I Gusti Ngurah Putra,





Bersama Ibu dan Bapak Dr. Anak Agung Gde Oka Wisnumurti, dosen FISIP Warmadewa, yang juga Ketua Yayasan Kesejahteraan KORPRI Prop. Bali.


Berfoto bersama rekan-rekan seperjuangan...... Ibu Dra. NLKS Sri Sulistyawati, M.Par., Ibu Ni Luh Gde Sri Sadjuni, SE., M.Par., Ibu Ni Nyoman Sukerti, SE., M.Si., Ibu Dra. Ni Luh Lasmini, M.Si., dan Ibu Any Rasmini.



Bersama ibu Susi, dari Badan Pengembangan Kemenparekraf Jakarta, yang dipaksa rela untuk berfoto ria bersama.....


Setalah tuntas di sini, aku kembali bergerak menuju ke Munduk, Buleleng. Putu, anakku, melangsungkan pernikahan. Dan dia memintaku untuk hadir memberi restu baginya.

Hmmm, hujan yang mulai turun, semakin lama kian deras, semenjak jalan sesudah pasar Baturiti, mengganggu laju motorku. Beristirahat sejenak menikmati semangkuk bakso babi, juga kopi kental, lumayan menenangkan pikiran, sebelum kembali melaju.

Setelah melewati danau Beratan, aku berbelok ke kiri, memasuki daerah Asah Gobleg, menuju ke Munduk. Ku lalui danau Tamblingan dan danau Buyan. Kabut tebal menutupi jarak pandang hingga hanya 10 meter ke depan.















Bersama Guru Dr. Wayan Sukarma,


Keesokan hari, Minggu, 12 Januari 2014, kembali aku mengunjungi Pawiwahan putra pertama bapak Wayan Dana, rekan kerja kami di STPNDB. Hmmm, sungguh, bulan dengan banyak pernikahan. Bulan baik untuk menikah.




Kutemui pula, Bapak I Nyoman Darmika, yang hadir bersama istrinya. Hmmm, aku kagum pada dedikasi supir kami ini. Telah 20 tahun aku bekerja di STPNDB, selalu kulihat semangat mengabdinya yang tidak pernah goyah. Ah.... aku belajar disiplin dan tangguh dari pak Nyoman Darmika.


Hadir pula, ibu dan bapak Dr. Wisnu Bawa Tarunajaya, SE, MM., mantan Puket STPNDB, dan ibu dan bapak Ida Bagus Widana, SH., M.Par.







Well......
Selamat atas upacara pernikahan yang telah kalian lalui, para sahabat, para anakku...... Semoga langgeng selalu, memperoleh berkat bagi kalian semua, juga keluarga besar........
Ingatlah selalu.


"Life does not have to be perfect to be wonderfull" - Annette Funicello
Hidup yang menyenangkan tidak harus hidup yang sempurna. Kita mungkin memiliki kekurangan, ada beberapa hal yang tidak kita miliki, tapi bukan berarti kita tidak bisa bahagia karenanya. Berusaha untuk selalu sempurna dan menyempurnakan segala sesuatu akan membuat hari-hari Anda begitu saja. Coba lihat kembali sekitar, bersyukur, dan nikmati segala yang ada.






Rabu, 08 Januari 2014

Mimiihhhhh, Dewa Ratu !!!! Dabdabang dewa, dabdabang........






Kamis, 9 Januari 2013. Berhubung sedang liburan murid, maka yang terlihat hadir adalah para dosen dan pegawai Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali. Baru tanggal 22 Januari nanti, kuliah perdana berawal kembali.

Kuparkir motor sesaat setelah tiba, di parkir yang terletak di sebelah Timur, persis di samping tembok pagar kampus kami. Kemudian mengawali hari dengan segudang aktivitas yang telah menanti. Kami mengoreksi hasil Ujian Akhir Semester para mahasiswa yang kami bimbing.

Beberapa saat kemudian, bu Sri Sadjuni menyadari, motor kami telah dalam keadaan tergembok. Memang, area ini adalah area terlarang untuk parkir motor. Lagipula, peraturan ini adalah demi menegakkan disiplin para dosen dan pegawai, dan menjaga keamanan dengan mengumpulkan motor para satu area khusus yang tepat berseberangan dengan gedung rektorat kami.





Para petugas keamanan kami tidak bisa disalahkan, kami mengakui bersalah, dan.... tak pelak lagi, lumayan repot juga, harus menghubungi petugas keamanan, petugas Rumah Tangga STPNDB, dan menunggu mereka tiba di area parkir terlarang bagi motor tersebut.

Maafkan kami deh ya, pak. Abis.... kami pikir khan masih dalam situasi liburan kuliah dimana para mahasiswa jarang hadir di kampus. Dan..... namanya juga khan usaha, hehehe...











Setelah kami pindahkan motor pada tempat parkir yang seharusnya, kami kembali melanjutkan dengan rangkaian pekerjaan lain. Aku bersama bu Ni Nyoman Sukerti, SE., M.Si., juga ibu Ida Ayu Indrawati, SE., MM.,  menemui bapak Drs. Ida Bagus Putu Puja, M.Erg., Kabag ADUM STPNDB, yang baru tiba dari Jakarta. Kami berdiskusi mempertanyakan kejelasan proses pengurusan pengusulan DUPAK kami ke jenjang Lektor Kepala. Berikutnya, kami berdiskusi dengan bapak I Gusti Made Darmaweda, SE., dari bagian ADAK STPNDB, mengenai program komputer yang kami rencanakan bagi program studi Diploma IV Administrasi Perhotelan, dan sekaligus berkaitan dengan program Akreditasi BAN PT yang sedang berjalan.































Waktu sudah menunjukkan pukul 15.40, bersiap mengakhiri tugas di sini, bersiap untuk kembali ke rumah. Aku keluar ruangan untuk menyerahkan berkas Penetapan Angka Kredit. Berjalan menuju ruang bapak Ketua STP Nusa Dua Bali, kutemui ibu Sekarti sedang berjalan ke arah gedung Rektorat. "Bu Santi..... Motorku digembok. Whoaaaa.....". Ehm. Kali ini yang jadi korban adalah bu Sekarti. Motornya yang diparkir di parkir timur, khusus parkir mobil, digembok oleh para petugas satpam kami.





Selasa, 07 Januari 2014

Nangka sebesar ban mobil dari Putu, anakku




Malam hari.... setelah 3 jam berkendaraan motor di tengah hujan deras semenjak Desa Banjar, Buleleng, Krisna Pradnya Permana Putu mampir ke pondokku. Dia membawa nangka berukuran ban mobil tersebut. "Titipan emak, bu", ujarnya langsung berpamit karena akan langsung bekerja pada shift malam hari di hotel.


Tinggal terpisah jarak ruang dan waktu dengan orangtua dan saudara, juga sang istri tercinta, serta sedang menanti hadirnya sang buah hati tercinta, calon bayi mereka, sungguh, sebuah perjuangan tiada tepi yang membutuhkan hati selalu shantih.....


Ahh..... anakku sayang. Hidup, terkadang tidak seindah impian dan harapan. Menjadi kepala keluarga, menjadi pria tangguh, menjadi bijak dan dewasa, adalah sebuah pilihan hidup yang tidak bisa dilakukan sembarang pria. buktikan, bahwa dikau bukan pria sembarangan......

Minggu, 05 Januari 2014

Telepon untuk Dewa Biyangku tersayang..... Minggu, 5 Januari 2014


Jarak yang memisahkan keberadaan seseorang dengan orang lain, terkadang menimbulkan banyak masalah. kerinduan, kesalahpahaman, kejelasan informasi, kebersamaan, kerja sama, dan..... serentetan kompleksitas situasi juga kondisi lain. Banyak cara yang dilakukan untuk membantu terjalinnya interaksi. Baik dengan mempersering pertemuan, saling berkunjung, berkirim surat, bertelepon, akses  internet.

Dewa Biyang Nyoman adalah adik kandung bapakku. Beliau bersama keluarga besar berada di kampung halaman, desa Batuaji kelod, kecamatan Kerambitan, kabupaten Tabanan. Sudah semenjak 3 bulan ini telepon rumah Dewa Biyang Nyoman bermasalah. Tidak bisa dipergunakan lagi. kami hanya bisa saling berhubungan melalui mobile phone para Dewa Aji, pamanku lainnya. Hmmm, tentu rada ribet jika rindu melanda, dan ingin menghubungi beliau, atau bila beliau ingin menghubungi kami.......

Aku berjanji untuk segera mengganti telepon rumah Dewa Biyang Nyoman. Dan, bahkan, sudah kudapatkan semenjak dua bulan lalu. Namun, yang belum sempat kulakukan adalah membawa telpon tersebut ke kantor Telkom Tabanan, dan mendaftar untuk mendapatkan nomer telepon yang ditembakkan atau disuntikkan ke dalam telepon bersangkutan, sehingga mudah dipergunakan. Dan..... yang lebih indahnya lagi, karena telepon tersebut kuletakkan di bagian bawah meja kerjaku di rumah, sedang rumah kami kebanjiran hingga sepinggang pada hari Senin, tanggal 16 Desember 2013 lalu, telepon tersebut dengan suksesnya terendam, sehingga rusak parah..... Hmmm, hidup memang tidak selalu indah seperti harapan dan keinginan kita.



Sudah berkali aku ingin pulang ke jeroan, pulang ke kampung halaman di Kerambitan, namun beragam kesibukan begitu menekan..... Dan, jujur, aku belum mampu membelikan beliau telepon sesuai keinginannya. Namun, kerinduan takkan tinggal diam hanya menjadi kerinduan yang menghujam. Justru di tengah hujan deras dan sesekali ditingkahi petir, aku beranjak pulang. Mengendarai motor tua tersayang, mengenakan jas hujan, dengan ransel tersampir di pundak, aku pulang.

Tiba di Tabanan Kota, aku mampir di salah satu toko penjual telepon di pinggir jalan. Berceritera sejenak dengan sang pemilik toko tentang situasi di kampung halaman, dia menawarkan solusi bagiku. Ehm.... jadi ingat salah satu iklan di teve, "Menawarkan solusi tanpa solusi", atau iklan salah satu badan usaha pemerintah, "Mengatasi masalah tanpa masalah". Kuambil salah satu mobile phone bekas yang paling sederhana cara penggunaannya bagi Dewa Biyang Nyoman ku tersayang. Kuminta bapak tua penjual telepon yang ramah tersebut untuk membuat format yang paling gampang, sehingga cukup mudah untuk digunakan. kemudian kami memasukkan beberapa nomer penting yang akan langsung muncul berturutan pada mobile phone tersebut.



Setelah yakin cukup mudah untuk dipergunakan, kubelikan pulsa untuk dipergunakan sebulan oleh Dewa Biyang Nyoman, kutuntaskan pembayaran, dan segera pamit pada sang penjual untuk kembali melanjutkan perjalananku. Kubeli beberapa roti dan jaje bali, soto ayam dan lontongnya, juga sekotak gula jagung, karena Dewa Biyang Nyoman juga mengidap penyakit diabetes mellitus......

15 menit kemudian, aku tiba di kampung halaman, berjumpa Dewa Biyang Nyoman, memberikan mobile phone berwarna hijau tersebut, mengajari beliau, dan mencoba menghubungi beberapa nomer yang telah kutanam di dalamnya. Setelah cukup yakin beliau akan mampu gunakan mobile phone tersebut, aku merasa tenang. Kemudian mengunjungi bagian rumah yang lain, menyapa keluarga besarku, bertutur kata dan bertukar ceritera. 


 







 

Tidak lama, karena aku harus segera kembali ke Denpasar, acara lain kembali menanti. Hmmm, kerinduan ini, seperti apa yang kubaca dari sang bijak, pak Made Andi Arsana..... "Kita tidak tahu kemana harus melangkah jika lupa dari mana kita".

Benar sekali, pak Andi. Karena kita tentu memiliki keluarga, leluhur, juga budaya asal. Tidak menghargai dan berusaha melupakan mereka adalah bagai Kacang Lupa dengan Kulitnya. Walau terkadang terdapat kenangan yang menyakitkan, gambaran yang buruk dan menakutkan, namun, selalu indah untuk berpijak dan tumbuh berkembang dengan segala kompleksitas yang ada. Maka...... Aku pulang, berlari membawa rinduku, di tengah hujan deras dan petir, meski hanya sekejap bisa membunuh rindu pada mereka, keluargaku...

Rabu, 01 Januari 2014

Tilem Kaenem, Kajeng Kliwon, Tahun baru 1/1/14, Hujan berhari..... dan, Tahun Kuda





1 Jan 2014 bertepatan dengan Tilem Kanem dan Kajeng Kliwon di Tahun Baru Masehi. Buda Kliwon Matal, Kajeng Kliwon Uwudan. Guru Ngurah menjelaskan bahwa Tilem merupakan saat malam yang gelap gulita, diyakini ketika Prabhawa Sang Hyang Widhi sebagai Sang Hyang Rudra dalam perwujudan Sang Hyang Yamadipati yang memiliki kekuatan pralina atau “Pamuliha maring sangkan Paran”. Umat Hindu melaksanakan persembahan dan pemujaan secara khusuk kehadapan Sang Hyang Widhi, agar terhindar dari sifat dan sikap atau tabiat gelap, negatif, dan hal-hal tidak baik lain.

Bersembahyang tidak hanya terikat waktu dan tempat semata, setiap saat bila bisa, alangkah baiknya. Mesjid, Gereja, Vihara, Kelenteng, Pura, adalah simbol tempat suci umat di dunia. Dengan segala cara dan gaya, juga tata krama dan etika kita tatkala bertamu ke rumah Suci, berharap menyucikan pikiran, perkataan dan perbuatan, menjadi pribadi yang suci, putih bersih, berharap memperoleh berkah Beliau. Namun, di atas segalahnya, saya percaya, tempat tersuci, adalah di dalam diri sendiri, di hati masing2. Namun, tata cara persembahyangan, etika bersembahyang, juga terkait dengan Desa, Kala, Patra. Dimana bumi di pijak, di sana pula langit kita junjung.

Ki Kusumo menjelaskan, bahwa di Tahun Kuda ini, situasi negeri akan memanas, mengalami perguncangan dan perubahan. Banyak orang yang dahulu putih bersih, kemudian menjadi hitam, bersikap negatif dan menjadi jahat.

Banyak ramalan beredar tentang peruntungan nasib, karir, percintaan, cita dan harapan, kesehatan atau kemakmuran dari beragam shio, baik shio ayam, shio anjing, shio babi, shio kambing, shio kerbau, shio kelinci, shio kuda, shio macan, shio monyet, shio naga, shio tikus, shio ular.

Namun, di atas itu semua, belajar dari pengalaman yang telah ada, setiap dari kita dituntut untuk berpikir, bertutur kata, dan bertindak semakin berhati-hati, mempergunakan setiap kesempatan untuk belajar dan berkarya selalu. Rwa Bineda akan selalu ada. Sisi hitam dan putih, baik dan buruk, benar dan salah, suka dan duka, sedikit dan banyak. Berdoa akan menguatkan iman dan bhakti, Sraddha kita semua. Jangan pernah menyerah kalah untuk selalu berusaha di setiap kesempatan yang ada. Bukankan, kesempatan tidak akan datang pada waktu dan ruang sama pula, lagipula, diri kita sendiri yang paling menentukan keberhasilan kita.

Terjatuh dan tersungkur berkali, bangkit kembali berkali dan berkali..... yang lebih menderita dan lebih parah masih jauh lebih banyak... Bersyukur dan berdoa, dan... tetap lanjut berkarya.

Muridku curcol neeee....... Something 'bout Love.......




You find the perfect love, but at the wrong time.
You find the perfect person, but he/she is not in love with you.
You find the perfect one, but you must be loyal to someone else.
You got the perfect looks, but no one takes you seriously.
You met the perfect personality, but you are bound to be just friends.
You got brains, but got a frail heart.
You find the courage, but it’s just too late.
You are ready to love, but you don’t know where to start


Terkadang......
Pada suatu ketika, di suatu waktu,
Kita temukan cinta sejati, yang terasa begitu indah, dan begitu sempurna,
Namun pada waktu yang salah, dan tidak tepat.
Kita temukan orang sempurna, namun dia tidak mencintaimu.
Kita temukan orang yang sempurna, namun, harus setia pada orang lainnya.
Kita memiliki penampilan sempurna,
namun tak pernah seorangpun yang menganggap kita seurieus.
Kita berjumpa dengan orang yang memiliki pribadi sempurna,
namun hanya dianggap sekedar sahabat biasa.
Kita memiliki kecerdasan sempurna,
namun hati yang terluka dan hancur berkeping-keping
Kita memiliki keberanian untuk terbuka dan menentukan sikap,
namun sudah begitu terlambat untuk melakukan suatu tindakan.
Kita siap untuk mengawali sebuah percintaan,
namun tak pernah tahu dari mana memulai mengawalinya......
Ahhhh, cinta, oh cinta.......


Curcol, adalah singkatan dari curhat colongan,
artinya curhat yang dilakukan bersamaan dengan hal lain yang tidak berhubungan secara langsung. Suatu curhat yang dilakukan secara colongan, dilakukan dan disambung2in di tengah2 obrolan biasa dan tidak ada peringatan \"gw mau curhat nih..\"