Selasa, 28 November 2017

Jejeneng Mpu Keris Pande Wayan Suteja Neka





Jejeneng Mpu Keris Pande Wayan Suteja Neka : Seni adalah ekspresi jiwa dan semangat, baik itu individu, maupun budaya


Keluarga Neka merupakan keluarga terkenal dalam bidang budaya, khususnya terkait dengan berbagai benda seni, seperti keris. Berasal dari garis leluhur Mpu Keris, pembuat peralatan perang, Pande Pan Nedeng, dari Kerajaan Peliatan, Ubud, Ida Dewa Agung Djelantik, berkisar tahun 1823 – 1845.

Sebagai keturunan dari seorang Mpu Keris, darah seni dan budaya mengalir pada anak dan cucu. Pande Made Neka (1917 – 1980) terkenal sebagai seorang seniman patung yang unik dan berkualitas. Salah satu karya beliau adalah patung burung garuda setinggi tiga meter, untuk New York World Fair, di Amerika Serikat, pada tahun 1964.



Terletak di jalan Raya Sanggingan Ubud, Museum Neka merupakan sumber informasi tepat bagi para pengamat keris yang ingin mendalami dedikasi seorang pakar keris terhadap kehidupan. “Museum Neka saya dedikasikan bagi ayah tercinta, Pande Wayan Neka, yang merupakan seorang seniman keris Indonesia” ujar Jejeneng Mpu Keris Pande Wayan Suteja Neka.

Pande Wayan Suteja Neka pada awalnya merupakan seorang guru. Beliau mengabdikan diri bagi perkembangan awal Seni Rupa di Bali. Sebagai seorang pionir seni rupa, sudah tentu bukan hal mudah. Banyak perjuangan pada bagian awal perjalanan Suteja Neka. Termasuk meninggalkan pekerjaan sebagai Guru. 



“Untuk menjadi fokus pada sebuah bidang yang dicintai, kita tidak bisa main-main. Maka saya putuskan jalan menjadi seorang pencinta seni dan budaya, agar tidak mengecewakan anak didik dan dunia pendidikan karena tidak serius bekerja”. Beliau menjelaskan sejarah perjalanan perjuangan bagi seni yang beliau lakukan.

Museum Neka Ubud Bali berdiri pada tanggal 7 Juli 1982. Dari awal buka, Museum Neka hanya memiliki 100 an benda seni. Namun hingga kini tercatat 400 benda seni terdapat di Museum Neka. Dan semenjak Juli 2007, tersimpan ratusan keris yang berasal dari abad ke 13 hingga masa kini. Museum Neka saat ini memiliki empat ratusan keris yang terdiri dari 40 an bilah keris pusaka, 100 an bilah keris kuno, juga buatan para empu atau ahli keris masa kini.

Keris merupakan karya yang memperlihatkan Genius Local Wisdom, keluhuran yang sungguh bernilai tinggi dari budaya nusantara, sebagai senjata tradisional, benda berwasiat warisan sejarah, dan sarana upacara keagamaan yang membudaya dalam hidup masyarakat Indonesia, termasuk masyarakat Bali. UNESCO memberikan pengakuan terhadap keris semenjak 25 November 2005, dengan mengukuhkan keris Indonesia sebagai karya bangsa Indonesia, dan diakui seluruh dunia.



Berbagai benda seni yang terdapat di Museum Neka memperlihatkan bahwa sepanjang hidup seseorang akan senantiasa terlibat dalam seni dan budaya. Bahkan semenjak masih di dalam kandungan, sang janin akan sudah bersentuhan dengan seni dan budaya, sentuhan, suara, gerakan, gambaran. Ini yang membuat seorang wajib menghargai seni itu sendiri.

Pada Museum Neka terdapat pusaka kerajaan Karangasem yang berasal dari abad ke 18. Dibuat oleh Mpu Keris Kerajaan Karangasem pada abad ke 18, Pande Rudaya dari Desa Jasri, Karangasem. Disamping kedua pusaka Karangasem tersebut, terdapat pula Keris Ki Baju Rante dari masa Raja Karangasem, Ida Anglurah Made Karangasem. Juga Keris Ki Baru Upas, Keris Bengkel, Keris Ki Baru Kumandang, Keris Ki Taman Mayura, serta Keris Ki Taman Ujung.

Dari Puri Kanginan Singaraja, terdapat pusaka kerajaan berupa Keris Ki Gajah Perak.
Dari Puri Gelgel Klungkung, terdapat pusaka kerajaan berupa keris Ki Tantri Tumurun.



Saat ditanya, mengapa beliau senantiasa berupaya mengumpulkan, merawat dan memuliakan berbagai benda seni, termasuk keris pusaka kerajaan dari seluruh pelosok negeri, Pande Suteja Neka menjelaskan ini adalah salah satu upaya melestarikan budaya, mengembangkan rasa bangga terhadap kebudayaan negeri, melambangkan nilai estetika yang terkandung pada keris tersebut juga pemilik dan pemakainya, dan memberikan aura positif bagi Museum Seni Neka, sebagai museum pelestari berbagai benda seni dan keris pusaka nusantara. Beliau ingin Museum Neka menjadi pusat penelitian, pusat pembelajaran dan perkembangan studi pengetahuan mengenai benda warisan budaya luhur nusantara.

Ketertarikan beliau pada keris karena karakteristik unik yang terdapat di dalamnya, baik dari segi penampilan, fungsi keris tersebut, teknik pembuatan, hingga pemberian nama atau istilah.

Keris sesungguhnya bukan bermaksud sebagai senjata atau alat berperang. Istilah senjata bagi keris lebih bermakna spiritual, filosofis, dan perlambang. Ditinjau dari bentuk, kontur, keris terbagi menjadi ratusan macam bentuk. Klasifikasi dari satu bentuk dengan bentuk yang lainnya ditandai dengan ada atau tidak bagian tersebut pada keris yang diamati. Istilah bentuk keris disebut dengan Dhapur, jadi Dhapur Keris adalah bentuk standar sebilah keris. Sedangkan bagian-bagian keris yang dipergunakan untuk menandai nama Dhapur, disebut Ricikan Keris.
Keris terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu : Bilah Keris, bagian Ganja, dan bagian Pesi. Dari ketiga bagian tersebut, hanya bagian Pesi yang bentuknya selalu sama dan tidak mempengaruhi penamaan Dhapur.
Pesi, atau sering pula disebut Paksi, atau Peksi, merupakan ujung tangkai yang masuk ke dalam pegangan keris (Ukipan/Dedep/Deder). Pegangan ini disebut pula Hulu Keris, Putting, atau Punting  (Sumatera, daerah kepulauan Riau).

Ganja, atau Gonjo, merupakan bagian alas dari kedudukan Bilah Keris. Pada bagian tengah Ganja berlobang untuk tangkai Pesi. Bilah Keris dengan Ganja memiliki filosofis perlambang Lingga dan Yoni. Di beberapa tempat di Kalimantan, bagian Ganja disebut dengan istilah Aring. Bagian Ganja pada proses pembuatan keris dipotong dari pangkal bilah keris. Cara pembuatan semacam ini juga berlaku untuk Ganja Wulung, yakni ganja tidak berpamor. Ganja, Pesi dan Bilah merupakan satu kesatuan dari awal pembuatan. Ganja yang menyatu bahannya dengan bilah keris di sebut Ganja Iras.



Ricikan Keris - Seseorang bisa menandai atau menyebutkan nama Dhapur keris apabila ia mengetahui dengan benar nama-nama bagian dari sebilah keris, karena itu sebelum kita membicarakan soal dhapur keris, kita harus lebih dulu mengetahui bagian-bagian keris yang menandakan dhapur keris. Sebilah keris yang lengkap mempunyai 26 macam bagian atau ricikan dan masing-masing ricikan memiliki nama. Untuk penamaan ricikan baku sifatnya dan sesuai dengan pakem.

Nama-nama ricikan telah dipakai turun-temurun sejak ratusan tahun lalu. Dalam perjalanan waktu, bisa dipahami jika terjadi kesalahan dalam pengucapan, gaya bahasa tiap daerah dan pengucapan berdasarkan sinonim, sama maksudnya tetapi lain penamaannya.

Pada artikel kali ini sengaja diberikan sinonimnya, selain itu ricikan yang dipakai adalah yang menurut pakem Jawa, terutama Jogyakarta, Surakarta dan sedikit Madura. Dalam melihat ricikan keris, yang paling utama adalah dibagian sor-soran, berikut ricikan keris untuk mempermudah membedakan dhapur suatu keris :

 Pesi
Tangkai bilah keris yang terbuat dari bahan yang sama dengan bahan bilah kerisnya, terletak di bawah ganja. Untuk keris-keris tangguh/buatan pulau Jawa, Bali dan Lombok, ukurannya cukup panjang, antara 5,5 cm s,d 9 cm. Sedangkan keris buatan Palembang, Riau, Luwu, Makasar dan Semenanjung Melayu umumnya pendek, antara 4 cm s.d 6,5 cm. Pesi ini sering juga disebut dengan Peksi, Paksi, Puting atau Punting.

Ganja (dibaca Gonjo)
Ada yang terpisah dari bagian bilah, ada pula yang menyatu dan hanya dibatasi semacam guratan. Ganja yang menyatu dengan bilah disebut Ganja Iras. Ganja ini sering juga disebut dengan Aring atau Ariang.

Bungkul
Bungkul atau Sebungkul atau Bonggol. Bentuknya mirip irisan bawang. Bungkul ini merupakan kelanjutan dari bagian Janur yang bersinggungan dengan bagian ganja.

Blumbangan
Blumbungan atau Pejetan atau Pijetan, merupakan daerah lekukan di belakang bagian Gandhik. Keris-keris yang terbilang garapan baik, bentuk blumbangan ini digarap dengan manis.

Srewehan
Srewehan merupakan bagian melandai di belakang Sogokan sampai ke bagian Greneng. Srewehan disebut juga dengan istilah Sraweyan, Sarewehan atau Sreawahan.

Gandhik
Gandhik merupakan raut muka dari sebilah keris. Ada yang polos, ada yang dilengkapi dengan Kemang Kacang, Lambe Gajah dll. Gandhik biasanya terletak di bagian depan bilah keris. Tetapi ada pula yang berada di bagian belakang, antara lain pada dhapur Cengkrong. Bagian bawah pada Gandhik bersinggungan dengan Ganja.

Jalu Memet
Merupakan tojolan runcing pada bagian paling bawah dari Gandhik, paling dekat dengan Ganja.

Lambe Gajah
Lambe Gajah atau Bibir Gajah merupakan dua tonjolan runcing, atas bawah, pada bagian Gandhik, dekat dengan ujung Kembang Kacang. Walaupun kebanyakan Lambe Gajah ini rangkap dua, namun ada pula keris yang hanya memiliki satu Lambe Gajah.

Kembang Kacang
Kembang Kacang atau Tlale Gajah atau Belalai Gajah, bentuknya memang mirip dengan namanya. Bentuk Kembang Kacang ada beberapa macam yaitu : Gula Milir, Bungkem, Nguku Bima dan Pogok.

Jenggot
Jenggot atau Janggut merupakan beberapa tonjolan tajam di bagian dahi Kembang Kacang. Jumlah tonjolan ini umumnya 3 buah.

Tikel Alis
Sebuah alur melengkung seperti Alis, mulai dari atas Gandhik ke atas, dengan panjang sekitar 3,5 cm. Alur Tikel Alis ini tidak sedalam alur Sogokan.

Jalen
Jalen merupakan tonjolan tajam, hanya sebuah, persis di ketiak Kembang Kacang. Ada sebagian yang berpendapat, yang disebut Jalen merupakan Jalu Memet, begitu juga sebaliknya. Memang dalam buku-buku kuno terdapat perbedaan pendapat, tidak ada alasan yang kuat untuk membenarkan salah satu pendapat atau menyalakan pendapat lainnya.

26 November 2017, JMK Pande Made Suteja Neka menjelaskan bahwa Keris Ki Taman Mayura dan Ki Taman Ujung, seperti keris kembar yang dibuat oleh Mpu Keris Pande Rudaya. Nama keris itu juga diambil dari nama taman yang dimiliki Kerajaan Karangasem. “Saat itu kekuasaan Kerajaan Karangasem sampai pulau Lombok, salah satu peninggalannya adalah Taman Mayura,” jelasnya.
Suteja Neka mengungkapkan, kedua keris itu memiliki banyak kesamaan. Keduanya berpamor beras wutah. Begitu juga dengan teknik penempaanya. Bahkan, kedua keris itu panjangnya sama. “Bahan yang digunakan juga sama. Begitu juga dengan tatahan emasnya,” jelasnya.
Selain memiliki persamaan, kedua keris itu juga memiliki perbedaan. Perbedaannya ada pada Dhapurnya. Ki Taman Mayura dhapur Surapati, sedangkan Ki Taman Ujung dhapur Sinom. Selain itu, juga ada perbedaan pada sorsorannya. “Kembang kacangnya juga ada perbedaan. Ki Taman Mayura kembang kancangnya pogok, sedangkan Ki Taman Ujung kembang kacangnya seperti Keris Bali pada umumnya,” paparnya.






Mendak atau Cincin Keris - Mendak atau Mendhak adalah perlengkapan dari ukiran yang berada di bagian bawah hulu, berfungsi sebagai hiasan dan sekaligus sebagai penguat tancapan pesi pada ukiran. Mendak terbuat dari logam emas, perak, kuningan atau campuran keduanya. Mendak biasa dihias batu mulia mulai dari intan, berlian sampai manik-manik berwarna-warni merah dan hijau. Mendak demikian disebut Mendak Kendit, sedangkan Mendak yang tidak dihiasi dinamakan Mendak Lugas.
Mendak terdiri dari beberapa bagian yang saling berhubungan, bagian paling tengah berupa bentukan seperti kerucut terpancung yang dinamakan Srumbung. Bagian-bagian mendak dari atas ke bawah adalah sebagai berikut : 
  1. Meniran yaitu deretan butir-butir kecil berjumlah 30 s.d 31.
  2. Bingkai halus dimana meniran itu melakat
  3. Ungkat-ungkatan, berjumlah 8/9 - 16, tempat bergantung bola-bola kecil terletak di bagian atas.
  4. Untu Walang (gigi belalang) yaitu lempeng-lempeng tajam kecil.
  5. Widheng ialah tempat bertenggernya bola-bola batu mulia, terletak pada setiap untu walang dan setiap ujung ungkat-ungkatan. Pada Mendak Lugas, widheng ini polos. Bola-bola batu mulia ini melekat pada dasar cincin, disebut dhamping (penyokong, penahan).
  6. Ri Pandhan (duri pandan) ialah segitiga-segitiga kecil yang melekat pada cincin yang langsung berhubungan dengan bola-bola batu mulia, Ri Pandan ini berada pada sebuah cincin, disebut tumpang sari (tiga balok yang disusun seperti tangga pada atap bangunan pendapa).
  7. Sor-soran (bagian paling bawah) yaitu deretan butir-butir kecil yang terletak paling bawah, Meniran Klawang adalah meniran bagian atas sebagai kebalikan Meniran Sor-soran. Semua bagian tersebut melakat dalam sebuat tabung yang disebut srumbung. 
Selut 

Guna mempercantik keris, seringkali di atas mendak masih dilengkapi dengan Selut, yaitu cincin logam emas, perak atau logam lain di sekitar bungkul ukiran. Terdapat beberapa jenis Selut yaitu : 
Selut Trap-Trapan ialah selut yang dibuat dari beberapa bagian yang lepas.
Selut Tatahan ialah bilamana selut itu terbuat dari logam yang ditatah. 

Pada Selut Trap-Trapan, motif hiasannya bisa berupa :
  • Kembang Unthuk-Unthuk (Unthuk Busa).
  • Kembang Anggur.

Sedangkan Selut Tatahan, Motif hiasannya bisa berupa tatahan motif batik, seperti
  • Semen Jlengut
  • Wilaya
  • Kuma Iraawan
  • Lung Gadhung
  • Saton (bentuk adonan roti yang siap untuk di bakar/panggang)
  • Tlacapan (tumpal, tumpang, sarah, seret/cerat panjang), Selut biasanya dipasang berlekatan dengan mendak