Minggu, 11 Maret 2018

APM ADH B semester 8 di Museum Puri Lukisan, 10 Maret 2018




Kali ini tentang APM ADH B semester 8, UHSA, Ubud, dan seminar  yang mereka laksanakan pada hari Sabtu, 10 Maret 2018 kemarin. Kelas ini mengambil tema “Thriving Locally Act Digital & Always Deliver More Than Expected”. Seminar Hasil Aplikasi Manajemen digelar di Museum Puri Lukisan Ubud, dengan moderator Ibu Juli Rastitiati.



Seminar digelar bersama Narasumber Bapak Jeki Maddiraja Ibrahim mengupas topik  “Social Media: Business & Strategy”. Pengelola The Artini Resort, Icip Icip Restaurant, Tamatan STP Sahid Jakarta, pakar dibidang E-Commerce Specialist yang pernah bekerja di Plateno Group, Clever BOX Events, kini sebagai Business Development, Marketing Communication & E-Commerce Specialist at Pundi Ubud Group, seorang Travel Blogger juga.



Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali menyampaikan bahwa pada Program Aplikasi Manajemen ini mahasiswa menggabungkan berbagai potensi diri yang dimiliki, membuktikan kemampuan dalam menerapkan hasil pembelajaran juga  pengalaman yang didapat selama bertahun-tahun, sebelum mereka lanjut menuntaskan skripsi di bagian akhir pendidikan pada lembaga Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali. Pada tahun 2018, target 20 juta wisman mengunjungi nusantara, dan diharapkan jumlah yang berkunjung ke Bali berkisar 40 %. Terkait hal tersebut, homestay merupakan suatu bentuk yang pas dan tepat. Efisien karena rumah-rumah penduduk yang bermaksud sebagai tempat tinggal tamu, memang sudah tersedia, sudah dipersiapkan bagi wisatawan. Efektif, karena mampu membuat wisatawan benar-benar dekat dengan budaya Bali, berinteraksi dengan masyarakat, dan dapat melakukan aktivitas bersama-sama.



Ketua Program Studi Administrasi Perhotelan, yang kini bernama Program Studi Pengelola Perhotelan, berterima kasih pada organisasi Ubud Home Stay Association, yang telah menerima mahasiswa dalam mengaplikasikan segenap kemampuan yang dimiliki, hingga akhirnya terwujud sampai pada seminar hasil hari ini, Sabtu 10 Maret 2018.



Ida Bagus Gede Wiryawan, selaku ketua Ubud Home Stay Association, menjelaskan bahwa semenjak tahun 1978 mulai bertumbuh homestay di Ubud, hingga kini berjumlah 371, dengan jumlah kamar 5 – 6 kamar, hingga total jumlah kamar yang tersedia adalah 2256. Mahasiswa ADH B semester 8 telah berhasil menuntaskan program pemasaran sekaligus standar operasional prosedur yang dijadikan acuan bagi pelaksanaan di berbagai homestay di Ubud, khususnya yang ada di bawah naungan UHSA.



Ade Roy Renaldo, selaku Ketua program APM ADH B semester 8, Ade Roy Renaldo, bersyukur bahwa berkat kerja keras dan kerja sama tim, juga organisasi UHSA, telah berhasil membuat pedoman Standar Operasional Prosedur yang bisa dipergunakan sebagai acuan bagi seluruh Homestay yang ada di Ubud.



Seminar ini sekaligus pula digabung dengan peringatan berdirinya Ubud Home Stay Association. Para pemilik dan pengelola homestay di Ubud yang hadir menjelaskan bahwa keberadaan UHSA membantu mereka mempererat hubungan satu sama lain, baik dalam bekerja sama, sekaligus pula saling bertukar informasi satu sama lain. UHSA menyampaikan Certification of Appreciation kepada berbagai pihak yang banyak berkontribusi dan telah menjalin hubungan baik selama ini pada UHSA, seperti Kadisparda Gianyar, KADIN Gianyar, BPC PHRI Gianyar, HIPMI Gianyar, Ubud Hotel Association, JCI Ubud, STP Nusa Dua Bali, Anddna.co, Photo Leisure, Walk Imaging Bali, Guest Pro, MarkPlusInc., Wantilan Puri Lukisan.



Selamat, Ade dan tim lain. Selamat bagi kelas kalian, Administrasi Perhotelan kelas B semester 8. Tugas ini telah kalian tuntaskan. Tidak ada gading yang tak retak, tidak ada hasil yang bisa sempurna mutlak. Namun kalian mampu mewujudkan karya nyata. Teruslah berkarya, meski se kecil apa pun. Tetaplah bersyukur atas segala cobaan dan rintangan yang ada. Standar Operasional Prosedur bagi Homestay atau Pondok Wisata ini bahkan, bukan tidak mungkin nantinya, akan dapat dipergunakan pula di berbagai homestay lain yang berada pada lokasi lain seperti di seluruh Indonesia.


























Kamis, 08 Maret 2018

Aplikasi Manajemen Program Studi Pengelola Perhotelan Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali 2018


Berawal dari kelas D semester 8, Aplikasi Manajemen Program Studi Pengelola Perhotelan Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali dimulai pelaksanaannya semenjak hari Jum'at, 9 Maret 2018.



Setelah melalui serangkaian proses, mulai dari penetapan topik pada awal tahun lalu, 2017, diskusi awal bersama mahasiswa masing masing kelas, Ketua Program Studi Administrasi Perhotelan pada waktu itu, I Gusti Putu Ngurah Budiasa,  telah memutuskan, terdapat empat topik bagi Program Aplikasi Manajemen bagi semester 6 pada waktu itu, untuk dilaksanakan pada saat semester 8, setelah mereka melaksanakan Management Training saat semester 7. Ke empat topik tersebut yakni Program Lounge Bar, Program Pengelolaan Hotel Laguna, Program Seminar Internasional, dan Program Keberlangsungan Kerjasama dengan Ubud Home Stay Association (UHSA). 



Setelah undian dilakukan, Program Lounge Bar diperuntukkan bagi kelas ADH C saat mereka berada pada semester 8. Program Pengelolaan Hotel Laguna diperuntukkan bagi kelas ADH A saat mereka berada pada semester 8. Program Seminar Internasional diperuntukkan bagi kelas ADH D saat mereka berada pada semester 8. Program Keberlangsungan Kerjasama dengan Ubud Home Stay Association diperuntukkan bagi kelas ADH B saat mereka berada pada semester 8.



Berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari diskusi bersama para dosen pembimbing, pengajuan proposal kegiatan Aplikasi Manajemen, hingga presentasi proposal kegiatan di depan para pimpinan manajemen Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali. Revisi mata anggaran, pematangan diskusi, hingga berbagai program evaluasi telah mereka lalui. 



Pembimbing Program Aplikasi Manajemen bagi kelas A semester 8 adalah Dewa Ketut Sujatha, Ida Bagus Putu Puja, Ni Nyoman Sukerti, dan Diah Prabawati. Pembimbing Program Aplikasi Manajemen bagi kelas B semester 8 adalah Ni Luh Ketut Sri Sulistyawati, I Wayan Muliana, Wayan Jata, dan Dewa Gede Hendriyana. Pembimbing Program Aplikasi Manajemen bagi kelas C adalah Luh Gde Sri Sadjuni, NDM Santi Diwyarthi, Nyoman Gede Mas Wiartha, dan I Nyoman Wirtha.  Pembimbing Program Aplikasi Manajemen bagi kelas D adalah I Nyoman Sukana Sabudi, Diah Sastri Pitanatri, Suastini, dan Andita Dwi P.



Dan, hari ini, Jum'at 9 Maret 2018, adalah puncak kegiatan Program Aplikasi Manajemen yang dikelola oleh ADH semester 8 kelas D. Seminar Internasional bertajuk "Emerging Hotel Management Through Digital Marketing" digelar di hotel Mercure, dengan jumlah hampir 100 peserta yang berasal dari enam negara. Ini nantinya diharapkan akan dapat menjadi rangkaian kegiatan yang berkelanjutan, yang memberikan gambaran dan mampu menjadi acuan mengenai situasi manajemen perhotelan dewasa ini, khususnya mengenai digitalisasi marketing. Sesuai dengan tema mereka, "Leading The Future with International Hospitality Outlook 2018.



Sebagai Pembicara pada acara ini adalah  Reza Sunardi dari International Hotel General Manager Association, Ricky Putra selaku GM The Royal Santrian Benoa, sekaligus ketua Bali Hotel Association, Fransisca Handoko selaku GM Risata Bali Resort & Spa. Dengan moderator Dr. Irene Hanna Sihombing, SE., MM.



Well...... Di antara berbagai aktivitas perkuliahan yang tetap berjalan pada semester 8 ini, para mahasiswa dituntut untuk tidak hanya fokus pada Program Aplikasi Manajemen. Mereka baru saja menuntaskan Program Praktek Kerja Nyata Manajemen Training di berbagai hotel beserta Ujian Laporan PKN nya, mereka juga sedang berjuang dalam proses Usulan Proposal Penelitian bagi skripsi mereka. Semoga pelaksanaan Program Aplikasi Manajemen Program Studi Administrasi Perhotelan Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali berjalan lancar, dan semoga kalian semua berhasil melaksanakan tugas dengan baik, sehingga bisa bersama wisuda pada bulan September 2018 ini.........


Keluarga Suteja Neka Berduka, 3 Maret 2018




“Ni Gusti Made Srimin, ibu, senantiasa mendukung saya, meski terkadang banyak rintangan yang kami temukan”. Ujar Pande Wayan Suteja Neka mengenai istri tercinta saat kami berdiskusi bersama sambil menyusuri ruang demi ruang di Museum Seni Neka di awal tahun 2014.  Ada lebih dari 400 an karya seni lukis, 300 an patung dan 300 an keris di Museum Neka yang terletak di Jalan Raya Sanggingan Campuhan, Desa Kedewatan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar ini. 

Gallery Seni Neka (Neka Art Gallery) merupakan dunia bisnis saya, sedangkan Museum Seni Neka (Neka Art Museum) merupakan dunia idealis saya” Sambung Pande Wayan Suteja Neka. “Saya sudah mendapatkan banyak hal, kebahagiaan dari ruang seni dan budaya, maka saya berkewajiban mengembalikan pula kebahagiaan tersebut bagi dunia seni. Dalam hal ini, idealism saya berkembang luas di tengah masyarakat”.  


                                             Lukisan karya Srihadi Soeharsono, tahun 2011

 “Saya mengawali nya sedikit demi sedikit. Mengumpulkan berbagai benda seni dan pusaka yang menjadi bentuk tanggungjawab saya terhadap keberlangsungan budaya, khususnya Bali. Saya merasa telah memperoleh kebahagiaan dari dunia seni, maka saya kembalikan kebahagiaan itu kepada dunia seni itu sendiri. Dan, ibu Ni Gusti Made Srimin selalu mendukung setiap jejak langkah yang saya lakukan”. Lanjut Pande Wayan Suteja Neka memaparkan berbagai bentuk dukungan yang telah dilakukan istri tercinta.


"Kami menikah pada tanggal 3 Mei 1963 dalam situasi penuh kesederhanaan, ditentang oleh pihak keluarga, dan tidak diakui. Namun perlahan kami mampu memperoleh simpati dan berjuang untuk berhasil, meski pun jalannya sering tidak lah mudah. Ibu selalu mendukung saya. Demikian pula dengan ke empat anak kami. Bahkan pada saat saya memutuskan keluar dari pekerjaan sebagai seorang guru dan memulai usaha di bidang seni". Ujar Pande Wayan Suteja Neka. 



Gallery Seni Neka (Neka Art Gallery) mulai dirintis semenjak tahun 1966. Museum Seni Neka (Neka Art Museum) berdiri semenjak tahun 1982. “Meski terkadang mendapat cemoohan dan tidak dipercaya oleh banyak pihak, namun Ibu selalu mendukung penuh setiap aktivitas yang saya lakukan terkait budaya”. Ujar Pande Wayan Suteja Neka sambil mengenang masa-masa perjuangan mendirikan museum seni. Sungguh bukan merupakan hal yang mudah mengumpulkan sedikit demi sedikit jejak langkah budaya nusantara, khususnya Bali, dalam bidang seni rupa, mulai dari lukisan wayang klasik, aliran lukis Ubud, aliran Batuan, aliran kontemporer Bali, hingga aliran kontemporer Indonesia. Hal ini demi memperluas wawasan pengetahuan para penikmat seni lukis mengenai sejarah seni rupa di Bali.



Situasi tersebut semakin berkembang denga upaya Pande Wayan Suteja Neka untuk bergelut pada bidang keris. “Semenjak tahun 2007, saya menambah ruang museum dengan koleksi ratusan keris. Memang tidak dapat disangkal, eyang buyut yang merupakan seorang empu keris dari kerajaan Peliatan Ubud pada awal abad ke 19, Pande Pan Nedeng, telah mengalirkan darah seniman keris sejati”. Pande Wayan Suteja Neka menguraikan lebih lanjut bahwa meski bukan merupakan seorang empu pembuat keris, namun JMK Pande Wayan Suteja Neka berhasil mengembangkan semangat budayawan sejati, sebagai seniman sejati, dengan koleksi beragam aliran senirupa dan keris yang legendaries, dengan bukti beragam penghargaan yang telah diraih, seperti Lempad Prize (1983), Penghargaan Seni dan Medali Emas Gubernur Bali (1992), Piagam Penghargaan dari Mendikbud RI (1993), Penghargaan Seni Wija Kesuma dari Bupati Gianyar (1997), Piagam Penghargaan dari Menparpostel (1997), Heritage Award dari PATA Indonesia Chapter (1997), Penghargaan Adi Karya Pariwisata oleh Pemerintah RI (1997), Penghargaan Karya Karana Pariwisata dari Pemerintah Provinsi Bali (2003).



Namun kebahagiaan keluarga terusik tatkala ibu Ni Gusti Made Srimin diketahui mengalami penyakit. Berbagai upaya dilakukan oleh pihak keluarga demi kesembuhan ibu, termasuk berobat ke Luar Negeri. Dr. Kardi Suteja Neka menjelaskan bahwa penyakit ibu telah diketahui semenjak beberapa tahun lalu, setelah dinyatakan tuntas menjalani perawatan di Singapura, ternyata kemudian kembali kambuh. Kembali pula berbagai upaya dilakukan oleh pihak keluarga, termasuk menjalani perawatan semenjak awal Januari 2018 lalu di Negara Singapura. Bergantian pula, pihak keluarga, anak, menantu dan cucu mendampingi dalam proses perawatan tersebut.



“Ibu Ni Gusti Made Srimin dirawat di Farrer Park Hospital, Singapura, semenjak 8 Januari 2018, atas penyakit kanker yang diderita. Bapak Pande Wayan Suteja Neka menemani dengan setia, dan menetap di One Farrer Hotel and Spa, yang merupakan hotel berbintang lima dan terkait dengan Farrer Park Hospital. Ujar beliau saat kami mengucapkan selamat menyambut Tahun Baru 2018.

Namun takdir dan karma berbicara lain, ibu Ni Gusti Made Srimin meninggal pada pagi hari, Sabtu, 3 Maret 2018, di Singapura. Bapak Pande Wayan Suteja Neka beserta anak-anak mendampingi saat-saat beliau berangkat. Amor ring acintya. Om ksama sampurna ya nama swaha. Om asato ma sat gamaya, Tamaso ma jyotir gamaya, Mrityor mam ritam gamaya…..Ya Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, bersatulah sang atman, Engkaulah yang Maha Sempurna, bimbing kami semua mencapai kebenaran, dari jalan gelap menuju terang, dari kematian menuju keabadian.

Rombongan keluarga kembali ke Indonesia pada hari Senin, 5 Maret 2018, dalam kondisi penuh duka. Jenasah disemayamkan di rumah duka Banjar Taman Kaja, Peliatan, Ubud. Prosesi upacara mekingsan di geni berlangsung pada tanggal 8 Maret 2018. “Kami merencanakan upacara Ngaben kelak bersama warga di Banjar Andong, Desa Peliatan, Kecamatan Ubud”. Ujar putra ibu Ni Gusti Made Srimin, dr. Kardi Suteja Neka, saat kami melayat pada hari Selasa, 6 Maret 2018.


Wajah lelah dan penuh duka terpancar dari seluruh anggota keluarga, dari seorang pria tua, Pande Wayan Suteja Neka, yang begitu mencintai istrinya. Begitu banyak rangkaian bunga di halaman rumah mereka, Gallery Seni Neka. Begitu banyak para sahabat yang dating berkunjung, juga warga banjar, dalam rangkaian upacara mekingsan di geni.




Aku ingin belajar dari cinta kasih sejati seorang Pande Wayan Suteja Neka dan Ni Gusti Made Srimi…… bahwa, cinta yang menguatkan mereka untuk menjalani hari-hari bersama, bahwa, kebahagiaan hadir dalam beragam cara, dalam cinta tentang seni dan budaya, yang hadir di tengah kehidupan mereka berdua.

Rabu, 07 Maret 2018

Galang Kangin di Museum Neka, 24 Februari - 24 Maret 2018




Pada hari Sabtu, 24 Februari 2018, kembali digelar pameran seni lukis di Museum Neka. Berlangsung selama satu bulan hingga tanggal 24 Maret 2018, pameran ini dibuka tanpa kehadiran Pande Wayan Suteja Neka. Bapak sedang mendampingi ibu berobat di Singapura”. Ujar salah satu pegawai Museum Neka.



Galang Kangin merupakan kelompok seniman perupa beranggotakan antara lain: Made Supena, I Dewa Soma Wijaya, I Nyoman Diwa Rupa, I Gusti Putu Muliana, I Nyoman Ari Winata, I Made Galung Wiratmaja, AA Gede Eka Putra Dela. Pada pameran kali ini mereka memajang 42 karya seni lukisan dari 15 seniman dengan berbagai aliran, dengan topik “Becoming” sebagai pertanda 20 tahun berdirinya kelompok tersebut. Pada saat bersamaan, diluncurkan pula buku berjudul “Becoming”. Sebagai sebuah kelompok seniman, Komunitas Galang Kangin berdiri semenjak tahun 1996, rutin mengadakan pameran di berbagai lokasi yang terkait kebudayaan. Para anggotanya juga mampu meraih berbagai penghargaan seni rupa seperti Phillip Morris Arts Foundation.



Di dalam rangkaian kata sambutannya, dr. Kardi Suteja Neka menjelaskan bahwa pameran ini merupakan suatu bentuk ajang apresiasi seni keluarga Neka bagi masyarakat, khususnya seniman dan budayawan, juga para pencinta seni. 

Museum Neka merupakan museum yang rutin memberikan ruang dan kesempatan bagi banyak seniman untuk mengadakan pameran karya seni mereka. “Jangkung adalah orang kepercayaan saya yang sudah terlatih dengan baik, punya pengalaman dalam mengelola ratusan karya seni, dan mengatur berbagai pameran seni yang layak tampil di sini” Ujar Pande Wayan Suteja Neka mengenai sumber daya manusia yang mengelola Museum Neka, bertempat di jalan Raya Sanggingan Campuhan, Kedewatan, Ubud.



“Saya ingin museum saya menjadi sebuah tempat pertemuan bagi para budayawan, pencinta seni. Menjadi ajang pembelajaran untuk memperluas cakrawala pengetahuan, bagi para siswa, para wisatawan yang datang berkunjung, bahkan para lansia yang ingin mengisi kekosongan jiwanya”. Ujar Pande Wayan Suteja Neka di penghujung akhir tahun 2017. Beliau berharap karya seni tidak hanya dikagumi sebagai sebuah karya seni, namun juga menjadi cerminan jiwa dan semangat dari pencipta seni dan pencinta seni, sehingga seniman dan budayawan bisa hidup dua kali, baik pada saat kehidupan nya di dunia, dan di dalam karya seninya meski dia sudah meninggal dunia.



Dibuka secara resmi oleh Anak Agung Rai, pemilik Museum ARMA, beliau menyampaikan pameran kelompok seni Galang Kangin di Museum Neka ini diharapkan mampu mewujudkan tanggungjawab moral para seniman dalam menghasilkan karya seni yang baik dan positif bagi masyarakat luas. “Pameran karya seni merupakan pertanggungjawaban seniman bahwa mereka menghasilkan karya seni yang akan dikenang lama, bahkan sepanjang masa, oleh masyarakat luas, dari berbagai kalangan”. Salah satu yang disampaikan oleh Anak Agung Rai pada tanggal 24 Februari 2017. “Pihak manajemen Museum tentu tidak dengan gampang memberikan ijin bagi berbagai pihak yang ingin menampilkan karya seninya. Ini sudah merupakan hasil pilihan, pertimbangan, penelusuran banyak karya yang dihasilkan sebelumnya”.