Senin, 18 Februari 2019

Purnama Sasih Kesanga, Anggara Kasih Tambir, Super Moon, Purnama Perige




Hari Selasa, 19 Februari 2019 merupakan Purnama, bulan bulat penuh, atau dikenal dengan istilah Super Moon. Tidak hanya itu, Purnama kali ini merupakan Purnama Perige, dimana ukuran bulan akan menjadi lebih besar 14 % jika dibandingkan saat purnama Apoge. Kelebihan lain pula adalah bulan akan terlihat lebih cemerlang 30 % sinar cahayanya.



Fenomena Supermoon atau Purnama Purana Perige terjadi bilamana posisi bulan berada di tempat paling dekat dengan bumi. Jarak bulan dengan bumi hanya berada sekitar 363.300 km saja. Bandingkan dengan jarak bulan dan bumi saat Purnama Apoge yang berjarak 405.500 km.

Hari Selasa ini juga merupakan Purnama Sasih Kesanga, Anggara Kasih Tambir, sekaligus Kajeng Kliwon. Umat yang meyakininya akan melaksanakan puja dan juga doa, bagi kesejahteraan kita bersama, sesuai dengan cara dan dengan beragam gaya yang dipercaya bisa menghantar mencapai cita-cita tersebut.



Menurut filosofi Hindu (Wayan Suyasa, 2016), Sasih Kesanga adalah puncak dari bulan kotor / cemer, sehingga umumnya juga dikenal sebagai Sasih Butha. Sasih Kesanga yang merupakan bulan ke Sembilan di setiap Tahun Saka, disebut pula Sasih Butha, bermakna saat tepat untuk melaksanakan korban suci Butha Yadnya (persembahan kepada Butha. Sasih Kesanga ini tidak baik dipakai sebagai Dewasa Ayu Manusa Yadnya utamanya menikah, dan tidak baik juga dipergunakan sebagai dewasa Dewa Yadnya.



Kajeng Kliwon  (Tantrayasa, 2015) merupakan hari yang dikeramatkan oleh umat Hindu dan orang Bali, karena konon Sang Tiga Buchari bermohon pada Sanghyang Durgha Dewi, mengundang semua desti, teluh, terangjana, yang mengakibatkan timbulnya kekacauan dan merajalelanya seribu satu macam penyakit yang mengancam keselamatan umat manusia. Pada Hari Kajeng Kliwon ini, umat Hindu di Bali menghaturkan sesajen dan persembahan kepada Sang Hyang Dhurga Dewi, di tanah, sesajen dihaturkan untuk Sang Butha Bucari, Sang Kala Bucari, dan Sang Durgha Bucari. Penjelasan ini bermakna pada saat Kajeng Kliwon, dimana Sang Butha Kala menggoda dan energi negatif cenderung lebih kuat daripada energi positif, manusia menghaturkan sesajen sebagai simbol upaya pengendalian diri, menetralisir beragam upaya yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi manusia.



Sesuai dengan perputaran musim, khusus terkait dengan iklim di Indonesia, Sasih Kesanga merupakan pergantian musim (Panca Roba) dari musim hujan ke musim panas. Sedang Sasih Kedasa digolongkan sebagai Sasih Dewa, misalnya : hari yang dianggap baik untuk memakuh aneka tempat suci saat purnama Sasih Kedasa (pertengahan Sasih Kedasa). 

Menurut Perhitungan dalam agama Hindu, sebelum memasuki yang disebut dengan Sasih Kedasa / Sasih Dewa, aneka macam Pralingga maupun Pretima sthana Ida Bethara (symbol dari Tuhan / Dewa / Leluhur dibersihkan, disucikan, dengan rangkaian upacara ritual mekiyis / melasti / mekiyis ke berbagai tempat sumber air seperti beji, campuhan, pantai / segara. 



Hal ini yang menjadi alasan upacara melasti pada umumnya dilaksanakan menjelang akhir sasih Butha / Sasih Kesanga, sebelum memasuki Sasih Dewa (saat yang dianggap tepat untuk memuja Dewa atau melakukan ritual Dewa Yadnya).

Referensi :
Wayan Suyasa. 2016. Sasih Kesanga. Bali.
Sudarsana, I. B. Putu. 2003. Ajaran Agama Hindu. Denpasar: Percetakan Bali
Kasturi. 2014. Sadhana (Disiplin Spiritual). Surabaya: Paramita
Pemerintah Propinsi Bali. 2001. Arti dan Fungsi Sarana Upakara.
Gede Sura. 2015. Pengendalian Diri dan Ethika, Departemen Agama RI



Jumat, 15 Februari 2019

Cinta Desak, Widyastuti dan Saryoto





Saling mencintai dan mengasihi satu sama lain
dan kepada siapa saja tanpa memandang perbedaan fisik
akan memberikan keseimbangan cinta kasih.

(Yajur Weda 32. 8) “Sa’atah protasca wibhuh prajasu”
artinya Tuhan terjalin dalam makhluk yang diciptakan.


Dan di dalam ajaran Hindu, perspektif cinta kasih diwujudkan dalam hubungan horizontal, vertikal, diagonal, juga universal, yang dikenal dengan Tri Hita Karana. Tri Hita Karana sebagai sebuah perwujudan cinta kasih secara nyata, dalam bentuk interaksi sosial religious, yaitu sesame manusia (pawongan), antara manusia dengan alam lingkungan di sekelilingnya (palemahan), dan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (parahyangan).

Hanya mereka yang mampu memahami sifat hakiki dari kasih sayang sejati yang mampu menerapkan cinta kasih pula di dalam kehidupan, bersikap welas asih terhadpa semua mahluk hidup. Hanya mereka yang mampu mewujudkan kasih sayang di dalam aktivitas kehidupan sehari-hari yang akan mampu memiliki spirit, semangat, me taksu, dalam perbuatannya.
Ini pula yang diharapkan dari umat Hindu, bukan tentang mewahnya kehidupan, bukan tentang banyak nya bantuan yang kita berikan, bukan pula tentang megahnya upacara pengorbanan yang kita wujudkan dalam kehidupan.



Cinta kasih hanya dapat terwujud jika manusia dapat saling memahami serta mengimplimentasikan cipta, rasa dan karsa menjadi satu, baik spiritual maupun rasional, yang berlandaskan ajaran “Tat Twam Asi” Chandogya Upanisad VI : 14, sloka 1, Dasar dari cinta kasih adalah Aku adalah kamu. Di dalam dirimu tercermin jiwaku, demikian pula sebaliknya. “Sarwam khalu idan Brahman”, Chandogya Upanisad III : 14 sloka 3, yang bermakna semua ini adalah Brahman / Tuhan. Ciptaan dan cerminan dari Tuhan. “Aham Brahman asmi” (Brhadaranyaka Upanisad I : 4 sloka 10), Aku adalah Brahman / Tuhan. Di dalam diri kita terdapat cerminan sifat Tuhan.




Atharwa Weda III.30
“Aku membuat engkau bersatu dalam hati,
bersatu dalam pikiran, tanpa rasa benci,
mempunyai ikatan satu sama lain
seperti anak sapi yang baru lahir dari induknya.
Agar anak mengikuti Ayahnya dalam kehidupan yang mulia
dan sehaluan dengan Ibunya.
Agar si isteri berbicara yang manis,
mengucapkan kata-kata damai kepada suaminya.
Agar sesama saudara, laki atau perempuan tidak saling membenci.
Agar semua bersatu dan menyatu dalam tujuan yang luhur
dan berbicara dengan sopan.
Semoga minuman yang engkau minum bersama dan makan makanan bersama.”

Cinta kasih di dalam keluarga, di era milenial tidak lagi hanya sekedar pemaksaan kehendak. Yang sangat menonjol adalah adanya keterbukaan, saling bersikap jujur, mengembangkan sikap saling memahami dan memotivasi, sehingga beragam masalah keluarga dapat diselesaikan, menciptakan keselarasan dan kesesuaian seperti pada alam, sesuai dengan hukum abadi (Rta).


Konsep hubungan garis vertikal dan horizontal juga berlaku dalam kehidupan keluarga agar mencapai satu tujuan luhur yaitu keharmonisan, ketentraman, kedamaian dan kebahagiaan bersama. Kebersamaan yang begitu menonjol dalam kehidupan keluarga inti menjadi parameter ke tingkat kehidupan keluarga yang lebih besar dan kehidupan sosial kemasyarakatan.

Minggu, 10 Februari 2019

Lagi, Sesuatu tentang Cinta, Ni Wayan Suci Rahayu dan Bunda Hismudiati Suryani Mubadi



Abhi wadanacilasya,
Nityam wrddhopasewinah,
Catwari tasya madhante,
Ayurwidya yaco balam
(Manawa Dharma Sastra, adyaya II, sloka 121).

Ia yang sudah terbiasa menghormati dan selalu taat kepada orangtua, mendapatkan tambahan dalam empat hal, yaitu umur panjang, pengetahuan, kemashyuran, dan kekuatan.



Hormat, Kasih sayang, Empati, bukan hanya untuk orangtua, namun juga terkait dengan remaja, anak kecil, bayi, orang sehat maupun sakit, bagi semua umat di dunia. Dan dalam Bakti Sosial kali ini, Yayasan Jaringan Hindu Nusantara mengunjungi Gianyar juga Karangasem. Ada Ni Wayan Suci Rahayu di banjar Bangun Liman Desa Buruan, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar yang menerima beasiswa. Ada Bunda Hismudiati Suryani Mubadi di banjar Tengah Desa Ulakan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, sesepuh yang sedang sakit karena stroke.

Sudah bertahun berlalu, tidak berjumpa dengan bunda Hismudiati lagi. Kami terputus hubungan, tak kumiliki nomer  telepon yang bisa kuhubungi. Dan kudengar, beliau sedang sakit karena stroke.



Bunda Hismudiati Suryani Mubadi lahir bertepatan dengan hari proklamasi negeri tercinta ini, yakni 17 Agustus, 66 tahun lalu, tepatnya, 17 Agustus 1954. Bunda Titik, panggilan beliau, begitu aktif mengadakan rangkaian aktivitas perjalanan di Jawa dan Bali. Beliau menikah dengan Mangku Pasek, seorang pria yang berasal dari Banjar Tengah, Desa Pekraman Ulakan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem.

Setahun lalu, saat sedang pulang ke kampung halaman, dan akan kembali ke Tulungagung, Jawa Timur, beliau jatuh sakit. Hingga kini, kesehatan beliau berangsur membaik, dan tinggal bersama suami, Mangku Pasek, di desa Ulakan. Dan, semoga Bunda Titik memperlihatkan progres yang menyenangkan, dan  dapat kembali melakukan perjalanan keumatan.


Kita semua, siapa pun jua, pasti bisa mendapatkan keesempatan tumbuh menjadi tua, bila Tuhan menghendaki. Kita tidak akan pernah tahu  pasti jalan kehidupan kita, usia, kesehatan, kemakmuran, kesaktian. Namun, bersiap diri akan segala kemungkinan adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan.

Yayasan Jaringan Hindu Nusantara, bersama mengunjungi Bunda Hismudiati Mubadi di rumah beliau yang terletak di dekat Pasar Ulakan, Karangasem. Setelah mengunjungi Ni Wayan Suci Rahayu di Gianyar, kami berangkat menuju Karangasem. Berkumpul bersama di rumah keluarga beliau yang sungguh  asri. Terdapat beberapa jenis jepun atau pohon kamboja di halaman, sulur menjangan, bahkan tanaman yang dikenal sebagai rambut rangda, yang perlu perawatan ekstra hati hati.

Menjadi tua bukan lah berarti menderita…. Kita semua, bisa saja alami jatuh sakit, terpaksa tinggal sendiri tiada berkawan, tanpa sanak saudara, tetap harus berjuang dalam kehidupan. Namun perasaan kesepian, tanpa sahabat tempaat curhat, berkeluh kesah, tiada yang memotivasi,  itu yang dapat membunuh secara perlahan.

Maka, sebisa mungkin, saling menghubungi, menjalin persahabatan, menanyakan keadaan, sekedar ber basa basi, bahkan untuk saling peduli satu sama lain, akan menguatkan kita menjalani hari demi hari di muka bumi.

Sloka 239 Sarasamuscaya bertutur:
Tappacaucavata nitym,
Dhrmasatyaratena ca,
Matapitro raharah,
Pujanam karyamanjasa.

Tapa yang paling tinggi tingkatannya,  pengorbanan yang paling suci, adalah penghormatan yang dilakukan pada kedua orangtua kita secara tulus ikhlas.

Manawa Dharma Sastra, adyaya II sloka 227:
Yam Matapitarrau klecam, sahete sambhawernam, na tasya niskirtih cakya, kartum warsacatairapi. Artinya : segala kesulitan yang dialami orangtua, rasa sakit saat melahirkan anak, tidak dapat tergantikan meski dibayar dalam waktu seratus tahun.

Prabu Sri Aji Jayabaya, putra Airlangga, cucu Prabu Udayana, juga menjelaskan bahwa penghormatan kepada orangtua sangat penting karena menghormati orangtua berarti kita menghormati Tuhan. Beliau menjelaskan “Sing sapa lali marang wong tuwane prasast lali marang Hyang Widhi. Ngabektia marang wong tuwa.

Lalu, mengapa hanya pada bunda Hismudiati? Ada apa hanya untuk Suci Rahayu ? Ah, enggak juga, ku cintai dan kukasihi setiap orang, kita hormati setiap mahluk di dunia, kami hormati siapa saja. Dan ketika kita tidak bisa membahagiakan semua orang, tatkala kita tidak bisa menjadi malaikat bagi semua orang, setidaknya, kita bisa berbuat sedikit bagi orang lain, berlaku kebaikan, menebar kasih sayang semampu kita…..

Sabtu, 09 Februari 2019

Tumpek Krulut, Valentine, dan Hari Kasih Sayang



Tumpek bermakna ketajaman pikiran dan kejernihan hati. Krulut berasal dari kata Lulut yang artinya senang atau cinta, bemakna jalinan atau rangkaian kasih sayang. Setiap hari raya Tumpek, umat Hindu melaksanakan rangkaian upacara yang bermakna menghormati ajaran leluhur, mengingatkan kita senantiasa mengasah ketajaman pikiran, agar selalu fokus, tidak diperdaya oleh ego dan emosi yang bisa menghancurkan umat manusia.

Sanjaya (2010, 80) mengemukakan bahwa kata Tumpek berasal dari kata Tu (metu) yang berarti keluar atau lahir, dan pek yang berarti putus atau berakhir. Pengertian ini diambil berdasar dari Tumpek yaang merupakan hari berakhirnya sapta wara atau saniscara, dan berakhir pula panca wara, yaitu kliwon. Dengan berakhirnya ini, maka merupakan hari raya Hindu yang patut dilaksankan sebagai hari raya Tumpek.

Setiap agama memiliki hari suci yang dirayakan oleh umat pemeluknya. Baik itu terkait dengan awal mula berdirinya agama tersebut, hari lahir pemuka agama atau tokoh spiritual, tempat atau peristiwa terkait keagamaan. Pemaknaan filosofis hari suci agama berfungsi untuk semkin mendekatkan diri dengan Tuhan, melakukan aktivitas terkait dengan hari suci, dan sebagai srana meningkatkan kualitas diri dalam hal memberikan pelayanan bagi sesama umat manusia, leluhur, juga Tuhan. Hal ini memberikan buktti empiris bahwa pelaksanaan rangkaian kegiatan agama yang sakral tidak dapat terlepas dari kemasan ragam budaya yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.

Lontar Sundarigama menjelaskan bahwa tumpek merupakaan hari turunnya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Dharma yang membawa ajaran Tatwa atau ilmu pengetahuan suci. Perayaaan Tumpek bertujuan memohon agar Saang Hyaang Dharma berkenan menurunkan ajaran suci supaya tercipta ketenangan lahir dan batin dalam diri maanusia pada berbagai situasi dan kondisi yang ada di dalam kehidupan.

Sang Ayu Asri Laksmi Dewi (https://laksmidewiblog.wordpress.com/2016/06/11/tumpek-krulut-dan-hari-kasih-sayang/) menjelaskan bahwa Rerahinan Tumpek adalah hari suci agama Hindu yang dirayakan setiap 210 hari sekali (6 bulan Bali), yaitu pada setiap hari Sabtu atau Saniscara Kliwon. Hari raya Tumpek adalah hari berdasarkan pawukon, dengan demikian nama Tumpek disesuaikan dengan nama wuku, misalnya Tumpek pada wuku Landep disebut Tumpek Landep, Tumpek pada wuku Krulut disebut Tumpek Krulut.

Tumpek Krulut jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Krulut. Pada hari ini umumnya masyarakat Hindu di Bali melaksanakan upacara pada berbagai jenis tetabuhan seperti gong, angklung, dan berbagai alat gamelan lain. Krulut berasal dari kata Lulut, berrti senang, gembira, kepingon, seperti halnya suara tetabuhan gamelan yang mengalun dan dapat menyebabkan orang lain merasa senang.

Dalam gamelan, melinggih Bhatara Iswara (Dang), Siwa (Dung), Brahma (Deng), Wisnu (Dung), dan Maha Dewa (Dong). Melinggih pula Batara Maha Dewi, Uma Dewi, Saraswati, Sri, dan Gayatri (Sanjaya, 2010).  Maka hari ini adalah hari baik dan tepat untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah menganugerahkan keindahan dalam seni dan budaya, berupa satu kesatuan nada dan irama dari gamelan, merdu dan menyenangkan hati, apalagi ditambah dengan keindahan penampilan para pemainnya, para penari atau penyanyi yang melantunkan kidung suci. Rangkaian keindahan dan keharmonisan ini yang patut diteladani umat manusia dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.

Ketut Wiana (2009) menjelaskan bahwa Tumpek Krulut merupakan hari khusus untuk mengingaatkan umt Hindu membina hidup berdasar kasih sayang pada sesama manusia. Tumpek Krulut dinyatakan sebagai Hari Kasih Sayang bagi Umat Hindu, dan simbol untuk memotivasi umat mewujudkan kasih sayang pada sesama umat manusia sebagai pengabdian dalam bentuk pelayanan sesuai swadharma masing-masing. Di India Hari Kasih Sayang dikenal dengan Hari Raya Raksa Banda, yang diperingati dalam bentuk Hari Walmiki Jayanti, dengan memberi gelang benang pada kaum lelaki dan kaum wanitanya. Hari ini mengingatkan kita semua untuk selalu menjaga ikatan persaudaraan dan persahabatan satu sama lainnya.


Istilah ini diambil dari nama wuku atau penanggalan Jawa dan Bali, berdasar kalender Bali, dan jatuh pada hari Sabtu Kliwon wuku Krulut, setiap enam bulan sekali, atau 210 hari kalender. Pada hari ini, masyarakat Hindu mengadakan pemujaan dan puji syukur pada Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dalam manifestasinya sebagai Dewa Iswara, menciptakan, menjaga dan mengembangkan nada suci, suara, dalam bentuk Tabuh atau Gamelan.

Hari Tumpek Krulut merupakan sarana memunculkan rasa kasih sayang, saling asah, asih dan asuh di antara sesama manusia, menjaga kesesuaian pikiran, perkatan dan perbuatan, agar kehidupan berjalan dengan harmonis, baik dalam perekonomian, sosial, budaya juga spiritual, melalui hasil karya manusia berkat anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, salah satunya, sarana seni tetabuhan.

Pada hari Tumpek Krulut, dihaturkan rangkaian banten terkait upacara bagi perangkat Tabuh dan Gamelan yang disucikan. Dan pada msyarakat Bali, Tetabuhan sangat identik dengan Gong. Oleh sebab itu, hari Tumek Krulut juga disebut dengan Odalan Gong atau Otonan Gong. Rangkaian upacara yang dilaksanakan berrttujuan untuk menjaga keseimbangan nada, keselarasan karya yang lahir daari rangkaian perangkat Gamelan, sehingga bisa dinikmati, baik oleh seniman pembuat, pemain, dan para penonton serta penikmat Gamelan.

Ir. Made Bujastra (2018, http://desasedang.badungkab.go.id/baca-artikel/150/Makna-Tumpek-Krulut-Hari-Valentinennya-Umat-Hindu-Bali.html )menjelaskan bahwa Tumpek Krulut merupakan bukti bahwa hari kasih sayang sudah ada sejak jaman dahulu di tengah masyarakat. Dan berlaku sama seperti Valentine. Namun belum banyak orang yang menyadari hal ini. Keselarasan dari berbagai benda yang berbeda dalam Gong, jika dipergunakan dengan tepat, dengan metoda atau teknik tepat, akan bisa menghasilkan nada suara yang menyenangkan, sehingga timbul suka atau cinta. Jalinan nada yang berasal dari perangkat Gong yang berbeda saat dimainkan sudah tentu membutuhkan kesabaran, mencintai seni budaya, dan melahirkan karya bagus juga jika mampu menyatukan berbagai perbedaan ini.

Dr. Wayan Tagel Eddy, MS. (Februari 2019), menjelaskan bahwa Tumpek Krulut adalah bentuk implementasi Tri Hita Karana didalam agama Hindu yang melibatkan yadnya atau korban suci. Korban suci atau pengorbanan adalah suatu  bentuk cinta kasih yang tulus. Agama Hindu melaksanakan Tri Hita Karana dalam bentuk menjaga keselarasan hubungan dengan alam lingkungan sekitarnya, menjaga hubungan dengan sesama umat manusia, dan menjaga hubungan dengan Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Hal ini menjelaskan bahwa jika kita bisa menjaga jalinan hubungan baik dengan beragam komponen kehidupan, maka harmoni dan kasih sayang akan terjaga pula.

Referensi:
Ketut Wiana, 2010, Makna Hari Raya Hindu, Surabaya : Paramita.
Putu Sanjaya, 2010, Acara Agama Hindu. Surabaya : Paramita.
https://laksmidewiblog.wordpress.com/2016/06/11/tumpek-krulut-dan-hari-kasih-sayang/
http://bali.tribunnews.com/topic/serba-serbi?url=2019/02/09/hari-ini-merupakan-hari-raya-tumpek-krulut-benarkah-valentine-versi-bali

Kamis, 07 Februari 2019

Pawiwahan



“Samtusto bharyaya bharta bharta tathaiva ca, Yasminnewa kule nityam kalyanam tatra wai dhruwam” Manava Dharma sastra III. 60. Pada keluarga dimana suami berbahagia dengan istrinya, dan demikian pula sang istri terhadap suaminya, kebahagiaan pasti kekal”  (Pudja dan Sudharta, 2002: 148).


Dalam agama Hindu, sistem kehidupan terbagi menjadi empat tahapan, yang disebut dengan Catur Asrama, meliputi Brahmacari Asrama, Grehasta Asrama, Wanaprastha Asrama, dan Sanyasin (Bhiksuka) Asrama (Babadbali.com/canangsari).

Brahmacari Asrama merupakan tingkatan kehidupan menuntut ilmu, belajar , berguru. Diawali dengan upacara Upanayana, dan diakhiri dengan pengakuan, pemberian ijasah, surat tanda tamat belajar (Samawartana).

Grehasta Asrama merupakan tingkatan kehidupan berumahtangga, atau tingkatan kedua setelah Brahmacari Asrama. Tahap awal memasuki masa Grahasta diawali dengan suatu upacara yang disebut Perkawinan (Wiwaha Samskara) yang bermakna sebagai pengesahan secara agama dalam rangka memasuki kehidupan berumahtangga (melanjutkan keturunan, melaksanakan yadnya, berkehidupan sosial). Oleh karena itu, penggunaan Artha dan Kama sangat penting artinya dalam membina kehidupan keluarga yang harmonis dan manusiawi berdasarkan Dharma.

Wanaprasta Asrama merupakan tingkatan kehidupan ketiga dimana seseorang mulai menjauhkan diri dari nafsu keduniawian. Pada masa ini hidupnya diabdikan bagi pengamalan ajaran Dharma. Dalam masa ini, kewajiban kepada keluarga sudah berkurang, seseorang lebih mencari jati diri dan menjalani kehidupan mengabdi pada spiritual, aspirasi untuk melepaskan keduniawian yang dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sanyasin Asrama (Bhiksuka) merupakan tingkatan kehidupan dimana pengaruh dunia sama sekali telah ditinggalkan, dilepaskan. Yang diabdikan hanya nilai-nilai dari keutamaan Dharma dan hakekat hidup yang sebenarnya. Pada masa ini banyak dilakukan kunjungan (Dharma yatra, Tirta yatra) ke tempat suci, dimana seluruh sisa hidup hanya diperuntukkan bagi Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk menggapai Moksa.

Bila ada yang beranggapan bahwa masa Grahasta Asrama adalah tahapan yang paling sulit dalam kehidupan, tidak lah benar. Memang tidak mungkin menggabungkan dua insan manusia menjadi satu, baik dalam pola pikir, perkataan dan perbuatan. Tahapan ini menjadi proses yang memotivasi dua belah pihak dalam belajar untuk bersama, membentuk keluarga, menjalankan berbagai fungsi rumah tangga, beraktivitas, saling melengkapi, berdiskusi, dan mengevaluasi situasi yang mereka hadapi. Tahapan Grahasta menjadi sumber energi, sumber spirit atau semangat, sumber lahirnya beragam karya atau kreativitas, sumber kebahagiaan (lila cita atau lila loka) dan sah nya pelaksanaan panca maha yadnya. Jadi masa Grahasta Asrama mencakup bersatunya dua pihak yang berbeda, baik personalia, maupun juga kedua belah pihak keluarga, dalam mengembangkan pemikiran baik, perkataan baik dan perbuatan baik (subha karma), melebur perbuatan yang tidak baik (asubha karma), melepaskan diri dari cengkeraman kesengsaraan (samsara), sehingga dapat memperbaiki kehidupan menjadi semakin baik dan bijak lagi. Bukankah, tujuan kita hidup di dunia berdasarkan agama Hindu adalah melakukan kebaikan dan kebenaran, mencapai kesejahteraan (jagatdhita) dan kebahagiaan (moksha), sehingga memperoleh kebahagiaan lahir dan batin. Hal ini dapat dirinci lagi menjadi dharma, artha, kama dan moksa.
 
Tujuan atau kebutuhan hidup manusia dalam masa grahasta asrama adalah diutamakan untuk mencapai artha yang berupa bhoga, upabhoga dan paribhoga (pangan, sandang, rumah dan lain-lainnya), dan kama berupa kepuasan dan kenikmatan hidup. Kepuasan hidup itu diperoleh di samping melalui artha, juga melalui hasil seni dan budaya. Pencapaian dan penggunaan artha dan kama harus selalu berdasar dharma agar berpahala, jika tidak demikian, akan menimbulkan malapetaka atau penderitaan.

UU Perkawinan tahun 1974 pasal satu menjelaskan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Rumusan tersebut tidak hanya menjelaskan tentang definisi perkawinan, namun pula tujuan perkawinan sebagai suatu lembaga yang penuh arti dan luhur. Wiwaha bersifat religius (sakral) dan formal (resmi/sah) yang wajib, yang mengatur hubungan sanggama (seks) yang layak, dan secara biologis sangat diperlukan dalam kehidupan sebagai dampati (suami istri).  Wiwaha dimuliakan, sebagai suatu jalan untuk memperoleh keturunan yang berkualitas, yang kelak akan melanjutkan serta melaksanakan upacara sradha serta panca maha yadnya.

Sah nya pawiwahan (http://phdi.or.id/artikel/grahastha-asrama) adalah : (1) bila dilakukan menurut ketentuan hukum Hindu, (2) pengesahan nya dilakukan oleh pejabat agama yang memenuhi syarat, baik Brahmana, Pinandita, Pandita, Rohaniawan, Sulinggih, (3) bila kedua mempelai beragama Hindu, (4) berdasar tradisi, adat istiadat yang berlaku di tengah masyarakat, seperti sudah melaksanakan me biakaon / me biakala / me kala-kala an.
Rangkaian upacara pawiwahan sah (https://dharmavada.wordpress.com/2009/07/28/idealnya-perkawinan-hindu/) karena sudah melibatkan tiga kesaksian yaitu:

Manusa saksi diwujudkan secara hukum dalam bentuk Akta Perkawinan, Sesuai dengan Undang-Undang No. 1/1974 pasal 2, Akta Perkawinan itu dicatatkan pada Kantor Catatan Sipil.
Di Daerah Kabupaten yang kecil, pejabat catatan sipil kadang-kadang dirangkap oleh Bupati atau didelegasikan kepada Kepala Kecamatan. Jadi tugas catatan sipil disini bukanlah “mengawinkan” tetapi mencatatkan perkawinan itu agar mempunyai kekuatan hukum.

Pada dasarnya manusia selain sebagai mahluk individu juga sebagai mahluk sosial, sehingga mereka harus hidup bersama-sama  untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Tuhan telah menciptakan manusia dengan berlainan jenis kelamin, yaitu pria dan wanita yang masing-masing telah menyadari perannya masing-masing. Dan keindahan hidup di dunia secara harmonis akan mampu memberikan manfaat bagi pasangan yang berada pada tahap Grahasta Asrama bila keduanya saling menyayangi, saling menghargai, saling mengisi. Dampaknya juga pada kehidupan berkeluarga, bertetangga, dalam melaksanakan berbagai aktivitas pada kehidupan, dengan penuh perhatian, secara akrab, harmonis, penuh empati satu sama lain. Kasih sayang dan perhatian adalah kunci utama dalam mengembangkan kreativitas, menghadapi cobaan atau tantangan, masalah yang terjadi pada masa Grahasta Asrama.

Telah menjadi kodratnya sebagai mahluk sosial bahwa setiap pria dan wanita mempunyai naluri untuk saling mencintai dan saling membutuhkan dalam segala bidang. Sebagai tanda seseorang menginjak masa ini diawali dengan proses perkawinan. Perkawinan merupakan peristiwa suci dan kewajiban bagi umat Hindu karena Tuhan telah bersabda dalam Manava dharmasastra IX. 96 sebagai berikut:
 Prnja nartha striyah srstah samtarnartham ca manavah, Tasmat sadahrano dharmah crutam patnya sahaditah.
Untuk menjadi Ibu, wanita diciptakan dan untuk menjadi ayah, laki-laki itu diciptakan. Upacara keagamaan karena itu ditetapkan di dalam Veda untuk dilakukan oleh suami dengan istrinya (Pudja dan Sudharta, 2002: 551).
Pawiwahan (nikah; nganten, mesakapan; "Wiwaha Samskara"; Grehasta; Wedding / Marriage) adalah tradisi adat perkawinan Hindu di Bali (termasuk dalam manusa yadnyadimana dalam pernikahan menurut pandangan orang bali disebutkan merupakan :
  • Ikatan lahir bathin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri;
    • "Tetep pageh ring tresna Sujati";
    • Selalu setia terhadap janji dan kata hati.
  • Dengan tujuan untuk dapat membentuk keluarga (rumah tangga) yang berbahagia, harmonis dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
  • Rumah yang nantinya dipenuhi kasih sayang dalam cerita perempuan Bali di keluarganya yang baru disebutkan bahwa :
    • Seorang istri, hendaknya nanti dapat memberikan kekuatan untuk dapat mendukung suaminya.
    • Suami juga harusnya membuat wanita merasa nyaman dan terlindungi saat berada disampingnya.


Wiwaha atau nganten adalah ikatan suci dan komitment seumur hidup menjadi suami-istri dan merupakan ikatan sosial yang paling kuat antara laki laki dan wanita.
Wiwaha juga merupakan sebuah cara untuk meningkatkan perkembangan spiritual.

Lelaki dan wanita adalah belahan jiwa, yang melalui ikatan pernikahan dipersatukan kembali agar menjadi manusia yang seutuhnya karena di antara keduanya dapat saling mengisi dan melengkapi.

Wiwaha harus berdasarkan pada rasa saling percaya, saling mencintai, saling memberi dan menerima, dan saling berbagi tanggung jawab secara sama rata, saling bersumpah untuk selalu setia dan tidak akan berpisah. Pawiwahan atau Pernikahan adat menurut orang bali pada hakekatnya adalah upacara persaksian kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa dan kepada masyarakat bahwa kedua orang yang bersangkutan telah mengikatkan diri sebagai suami-istri.


Beberapa Sarana Pawiwahan disebutkan berupa :
  • Segehan cacahan warna lima, Api takep (api yang dibuat dari serabut kelapa), Tetabuhan (air tawar, tuak, arak berem), Padengan-dengan`/`pekata-kalaan, Pejati
  • Tikar dadakan (tikar kecil yang dibuat dari pandan), Pikulan (terdiri dari cangkul, tebu, cabang kayu dadap yang ujungnya berisi periuk, bakul yang berisi uang), Bakul, Pepegatan terdiri dari dua buah cabang dadap yang dihubungkan dengan benang putih.
Berbagai macam bentuk Pawiwahan atau pernikahan unik dan sangatlah kompleks juga bervariasi. Tata cara perkawinan Hindu (etnik Bali) yang mengikuti tata cara adat yang telah berlaku turun temurun. (Nyentana) mempelai laki-laki tinggal di rumah asal mempelai perempuan dan statusnya sebagai status mempelai perempuan dirumah istrinya. (Upacara Pawiwahan Sadampati) upacara yang sangat sederhana, biayanya sedikit namun makna yang dikandung sangat tinggi, karena banten (upakara) yang digunakan. (Perkawinan pada Gelahang) suatu terobosan untuk terhindar dari camput {putung). (Wiwaha Brahmacari)  pola perkawinan untuk mendalami arti hidup yang sebenarnya. Tugas dan kewajiban suami istri dicapai bilamana di dalam rumah tangga terjadi keharmonisan serta keseimbangan

1. Upacara di rumah pengantin wanita :
2. Upacara di rumah pengantin lelaki :
  • Mareresik
  • Mapiuning di Sanggah Surya
  • Upacara suddi-wadhani
  • Mabeakala
  • Mapadamel
  • Metapak oleh kedua orang tua, berterimakasih dan mohon doa restu.
  • Mejaya-jaya
  • Ngaturang ayaban
  • Natab peras sadampati
  • Pemuspaan / Sembahyang
  • Nunas wangsuhpada / bija

Om iha iwa stam mà wi yaustam
wiswam àyur wyasnutam
kridantau putrair naptrbhih
modamànau swe grhe
 
(Ya Tuhan, anugerahkanlah kepada pasangan pengantin ini kebahagiaan, keduanya tiada terpisahkan dan panjang umur. Semoga penganten ini dianugerahkan putra dan cucu yang memberikan penghiburan, tinggal dirumah yang penuh kegembiraan.)