Kamis, 13 Juni 2019

Making Bed & Honeymoon Creation Competition 2019




Making Bed & Honeymoon Creation Competition 2019

Pelaksanaan Making Bed & Honeymoon Creation Competition yang diselenggarakan oleh hotel The One Legian dan Hotel Villa Lumbung, serangkaian HUT ke 8 berlangsung pada hari Selasa, 11 Juni 2019


Eka Pertama, GM The Hotel Legian, menjelaskan bahwa manajemen hotel The One memberi kesempatan seluasnya bagi kaum muda agar bermental kritis dengan terselenggaranya kegiatan ini.  Ketua panitia Making Bed Contes,  IB Wiryanata dan Ketua Pelaksana Lomba , Arta Wirawan, juga menjelaskan bahwa mereka mendorong kaum muda di era global untuk selalu mengasah skil di dalam berbagai bidang, salahsatunya, pada bidang housekeeping ini.



Dengan di damping oleh Ibu Putu Diah Prabawati dan Ibu Luh Gede Sri Sadjuni, Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali mengirimkan dua orang mahasiswa untuk mengikuti lomba. Mereka berasal dari program studi Administrasi Perhotelan semester enam, Putu Juliantara dan Adit Abdul Hamid. 


“Kami gagal meraih juara”, ujar mereka di penghujung lomba.

















Ah….. Juara, jawara dan sakti, bukan akhir dari suatu target yang harus dicapai. Namun ini adalah suatu prestasi yang harus dijalani, proses dalam perjuangan menjalin kerjasama, menyusun rencana matang, dan tetap bersemangat untuk terus berkarya, semakin baik lagi, dari hari ke hari…..





SMMSTAPP 2019 STP Nusa Dua Bali




Non scholae, sed vitae discimus  "Kita belajar bukan untuk sekolah melainkan untuk hidup".

Namanya Moses Gorintha, seorang pemuda tampan dari Jambi. Perjalanan panjang yang menghantarnya jauh ke Bali untuk mengikuti Ujian Seleksi Masuk Perguruan Tinggi. Dia memiliki seorang kakak kandung yang sedang menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Dia juga memiliki seorang ayah yang berprofesi sebagai seorang dokter di Jambi. Dia berasal dari sekolah favorit di Jambi, jurusan IPA. 

Dia membuang kesempatan untuk ikut kuliah di beberapa perguruan tinggi ternama, baik di Jakarta maupun di Jogja, dimana dia sudah diterima. Saat kami bertanya, mengapa dia tidak mengambil jurusan yang sama seperti latar belakang keluarganya, dia mengatakan mantap ingin menjadi seorang entrepreneurship di bidang hidangan, menjadi seorang professional dan membuktikan diri akan berhasil kelak. Dia tidak mengikuti SBMSTAPP yang baru berlalu. “Karena saya belum tahu saat itu”, ujarnya saat kami bertanya.

Bahkan, saat kami giring lebih jauh untuk masuk dalam dunia perhotelan dan pariwisata, dia dengan tegas mengatakan, menjadi seorang tukang masak handal. Meski dia hanya belajar secara otodidak, menyaksikan dari youtube, bekerja sendiri, dan tidak suka menyaksikan berbagai program di televise yang terkenal dengan lomba masak. “Itu dibuat-buat, dan hanya demi menaikkan rating siaran”, ujarnya tegas. Oke, Moses, dan juga banyak pemuda lainnya, kalian adalah tunas bangsa, yang tahu dengan persis harapan serta cita-cita di masa depan, yang berjanji akan berjuang sekuat tenaga membuktikan kompetensi diri, semoga kalian bisa menjadi pemimpin handal bagi negeri ini, dunia ada dalam genggaman tangan kalian.


Taki Takining Sewaka Guna Widya: Antara Ilmu dan Pengetahuan. “Taki Takining Sewaka Guna Widya” berarti Orang yang Menuntut Ilmu wajib mengejar pengetahuan dan kebajikan
Menjadi bijak dan dewasa di masa depan kalian. Bukan hanya sekedar menuntut ilmu, namun juga belajar dari proses dalam setiap langkah kehidupan kalian…..

Pemuda era milenial yang tahu persis dirinya, menentukan perencanaan matang, dan bersemangat menjalani setiap proses dalam mencapai prestasi, siap untuk bekerjasama dan bersaing secara adil. Negara ini perlu pemimpin era milenial seperti mereka pula.

Pagi ini adalah jadwal tes wawancara terkait SMMSTAPP di kampus Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua. SMMSTAPP merupakan Seleksi Masuk Mandiri Sekolah Tinggi, Akademi, dan Politeknik Pariwisata yang terdapat pada Kementerian Pariwisata. Terdapat 1174 kandidat mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali yang memperebutkan jatah bagi sekitar 250 kursi yang tersedia dari berbagai program studi yang ada, mencakup Program Studi Administrasi Perhotelan, Manajemen Kepariwisataan, Manajemen Bisnis Perjalanan, Manajemen Konvensi dan Perhelatan, Manajemen Akuntansi Hospitaliti, Manajemen Divisi Kamar, Manajemen Tata Hidangan, dan manajemen Tata Boga.


SMMSTAPP berlangsung semenjak hari Senin hingga Kamis, 10 – 13 Juni 2019. Hari Senin, 10 Juni 2019 dengan jadwal seleksi Psikotes, terbagi menjadi dua periode (pukul 08.00 – 10.00, dan pukul 10.00 – 12.00), pada 38 ruang yang berada di Gedung Padma dan Gedung Rebab, masing-masing terdiri dari 30 kandidat mahasiswa dan diawasi oleh satu orang dosen dan satu pegawai. Hari Selasa, 11 Juni 2019 dengan jadwal Seleksi Bahasa Inggris, terbagi menjadi dua periode (pukul 08.00 – 10.00, dan pukul 10.00 – 12.00), pada 38 ruang yang berada di Gedung Padma dan Gedung Rebab, masing-masing terdiri dari 30 kandidat mahasiswa dan diawasi oleh 30 kandidat mahasiswa dan diawasi oleh  satu orang dosen dan satu pegawai. 

Hari Rabu, 12  Mei 2019 dengan jadwal Wawancara pada Gedung Padma dan Gedung Rebab, pada 35 ruang,  masing-masing terdiri dari 20 kandidat mahasiswa STP Nusa Dua dan 2 orang dosen pewawancara, dan Kamis, 13 Mei 2019 dengan jadwal Wawancara pada Gedung Padma dan Gedung Rebab, pada 24 ruang, masing-masing terdiri dari  20 orang kandidat mahasiswa STP Nusa Dua dan 3 orang dosen pewawancara.

Senin, 10 Juni 2019

Cerita Tantri, Dongeng, Fabel, dan Santi




Kharma phala ngaran ika,
Phalaning gawe hala hayu.
Hala ula hala tinemu,
Hayu pinargi hayu pinanggih.

Dari: Satua I Kedis Cangak Mati Baan Lobane / Pedanda Baka / Cangak Maketu.

Cerita atau dongeng memiliki peranan dalam pengembangan karakter agar memiliki jati diri yang jelas dan tegas. Dongeng juga dapat dijadikan sarana dalam mewariskan nilai-nilai luhur kepribadian yang membantu anak menjalani masa tumbuh kembang dengan baik. Anak – anak dapat belajar bermain peran, mengembangkan empati dan juga mengatasi permasalahan yang terjadi di dalam lingkungan. 


Mereka belajar mengembangkan intelektualitas dan imajinasi dengan mendengarkan dongeng, mengembangkan kreativitas dengan mencari problem solving yang di dapat dari dongeng. Dengan demikian akan semakin banyak alternatif solusi jika terjadi konflik atau permasalahan di dalam berinteraksi dengan orang lain dan menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan daya nalar yang ada. 


Di Bali, Hikayat atau dongeng rakyat dikenal dengan Cerita Tantri yang berbentuk prosa maupun puisi. Masyarakat Bali mengenal tiga macam Cerita Tantri, yakni Tantri Kamandaka, Tantri Manduka Harana, dan Tantri Pisaca Harana. Salah satu bentuk Cerita Tantri Kamandaka yang terkenal adalah Satua Ni Diah Tantri yang menceritakan mengenai tingkah laku para binatang yang didongengkan oleh Ni Diah Tantri pada Raja Patali Nagatun, Prabu Eswaryadala. Satua Ni Diah Tantri ini sendiri memiliki dua puluh enam cerita yang meliputi : Kisah Bhagawan Drarmaswami, Tertipu Tipuan Suara-suara, Burung Atat Meniru Pengasuhnya, Kisah Empas, I Titih Berguru kepada I Tuma, Burung Kedis Cangak Mati Baan Lobane, Kisah Bangsa Burung Pemangsa, Kisah I Cewagara, Kejelekan Tingkah Laku Singa, Burung Tinil Mengalahkan Samudera, Kisah I Papaka, Kisah Sri Adnya Dharmaswami, I Welacit dan I Surada, Macan yang Dihidupkan Sang Pandita, Yuyu yang Baik Hati, Kisah Burung Sangsiah, Kisah Keburukan Perilaku Kera, Kambing Takutin Macan, Kisah Gajah yang Sok Kuasa, Kisah Empas Mengalahkan Garuda, Kisah Seorang Pemburu, Kasiapa Kepuh, I Syaruda Menjalankan Tipu Daya untuk Membunuh Ular, Kisah Tiga Ikan, Kisah Batur Taskara, dan Cerita Sang Arya Dharma Percaya Ajaran si Kambing.


Tingkah dadi jadma idup,
tusing suud mangulati,
solah, laksana melah,
anggon kemulan numadi,
magae jemet-jemetang,
sinah mapikolih lewih.

Dari Pupuh Ginanti. Sebagai umat manusia yang menjalankan ajaran Dharma, melakukan perbuatan di dalam kehidupan, bekerja dengan bersungguh, berpikir dan berkata kebaikan, sehingga memperoleh hal yang baik pula.
Cerita Tantri mengandung ajaran dan nilai moralitas yang mengajarkan umat manusia dengan perumpamaan hubungan sebab dan akibat dari sifat para binatang dan tokoh yang terdapat dalam cerita. Cerita Tantri juga mengandung nilai luhur tentang budi pekerti, etika, keteladanan dalam hidup yang berlandaskan aspek Ketuhanan, Kemanusiaan, Kejujuran, Keadilan, Kerjasama, Kepedulian, Kecerdasan.
Penerapan dari filosofis Maguru Satwa (berguru pada binatang) ini menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat yang dikenal dengan istilah Dunia Tantri. Dan filosofis ini yang secara terus menerus ditanamkan semenjak usia dini pada diri anak yang disebut dengan Golden Age, usia emas sang anak dalam menumbuhkembangkan benih-benih sikap positif, sehingga memiliki pengaruh luar biasa dalam pembentukan karakter sang anak setelah dia dewasa.
Referensi:
Sawitri, Cok. 2011. Tantri, Perempuan yang Bercerita. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Ananda, IB, BP., Hendra Setiawan. 2012. Kisah 1001 Malam Ni Diah Tantri, Inspirasi Ibu dalam mengembangkan Karakter Anak. Klungkung

Sabtu, 08 Juni 2019

Wayan Wartayasa, Ngurip Angga, Museum Puri Lukisan, Senin, 29 April 2019




Wayan Wartayasa mengadakan pameran tunggal di Museum Puri Lukisan Ubud. Pameran yang dibuka pada Hari Senin 29 April 2019 bertajuk Ngurip Angga.


“Datanglah untuk melihat-lihat pameran tunggal saya”, ujarnya ramah saat kami berjumpa pada Pameran Enam Perupa Wanita di Monkey Forest Gallery, Ubud, Jum’at, 26 April 2019, sambil memberikan katalog pamerannya. Ia menjelaskan bahwa Pameran Lukisan nya akan dibuka pada hari Senin, 29 April 2019. Ah, hari Senin merupakan hari sibuk, aku harus mengajar, mengikuti seminar di kampus, membimbing mahasiswa kami, dan menyelesaikan beberapa tugas. Namun sebuah undangan yang baik harus dihadiri.


Dia merupakan seorang pelukis yang biasa dalam kesehariannya berada di Museum Puri Lukisan Ubud, memperlihatkan ketrampilannya pada para wisatawan yang hadir, dan termasuk memberikan teknik singkat mengenai seni lukis tradisional hingga modern bagi mereka yang berkenan mengikuti informasi dari pak Wayan Wartayasa.



Kulihat daftar udangan yang bakal hadir. Terdapat Bupati Badung, Wakil Gubernur Bali, dan beberapa orang terkenal lainnya di bidang budaya. Namun bukan ini yang menjadi fokus perhatian. Ngurip Angga !. yang bermakna membangkitkan semangat, jiwa, spirit, roh. Kita semua, sebagai mahluk hidup, sudah memiliki jiwa, namun untuk bersungguh-sungguh dalam menjalani, membangkitkan sesuatu yang ada di dalam diri, menjiwai dan menjalani sehingga tercermin pada pikiran, perkataan, juga perbuatan, metaksu, tidak semua orang bisa melakukan.


Ini yang tercermin pada setiap karya seni lukis beliau. Guratan yang hadir, usapan kuas, permainan bentuk dan gradasi warna, hingga penyelesaian setiap detil yang ada di atas canvas, dengan tingkat kerumitan atau kompleksitas yang dimiliki, memperlihatkan seni lukis berkelas yang hanya bisa dicapai oleh orang-orang yang menjiwai dunia seni. 



Meskipun seseorang sudah menguasai bidang pekerjaan, memiliki pengalaman bertahun tahun, menguasai teknologi dan pendidikan tinggi terkait bidang tersebut, namun jika tidak menjiwai, tidak melakukan dengan bersungguh-sungguh, karya yang dimiliki juga terkesan asal-asal an, hanya sekedar mengejar target. “Karya saya masih ratusan”, Ujarnya saat kutanya sudah berapa banyak lukisan yang dihasilkan..


Dan beliau tetap rendah hati. Tidak lantas terbuai dengan pujian yang disampaikan, meski bahkan beberapa lukisan sudah laku terjual sebelum pameran mulai digelar. Pak Wayan Wartayasa mengatakan, “Ah, saya masih tetap belajar. Semoga karya saya bisa semakin baik lagi”,…..