Minggu, 21 Februari 2021

Jalanku meraih Mu (4) Terkadang, Hidup tidaklah berjalan mudah dan indah seperti yang diharapkan.

 


Terkadang, Hidup tidak seindah impian dan harapan yang diinginkan. Tidak semudah membalik telapak tangan. Namun para ksatria sejati akan menuntaskan perjuangan, menghadapi berbagai aral rintangan. Terjatuh dan tersungkur berkali, bangkit kembali, berkali, lagi, dan lagi…..

Setelah sekian lama perjuangan, tiba saatnya melakukan presentasi, dan mempertahankan disertasi. Hari Rabu, 6 Januari 2021, dengan ketegangan memuncak, aku hadir di hadapan para penguji, termasuk Promotor dan Ko Promotor yang kali ini bertindak selaku penguji. Karena situasi Pandemi Covid 19, Ujian Sidang Terbuka Promosi Doktor berlangsung sesuai dengan protokol kesehatan, dan bersifat semi online. Tiga jam kemudian, namaku dibacakan secara jelas oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Dr. Made Sri Satyawati, S.S., M.Hum., pada hari Rabu, 6 Januari 2021.

“Setelah mempertimbangkan :

1.      1. Prestasi yang telah dicapai Promovenda selama Pendidikan

2.      2. Ketekunan dan kesungguhan Promovenda dalam melakukan Penelitian

3.      3. Cara Promovenda mempertahankan Disertasi

4.      4. Sumbangan Disertasi Promovenda terhadap Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Serta penilaian yang telah dilakukan panitia Ujian Doktor Tertutup pada 7 April 2020 dengan segala peraturan dan wewenang yang berlaku di Universitas Udayana, dengan ini, Sidang memutuskan bahwa  Disertasi saudara Promovenda, Dra. Ni Desak Made Santi Diwyarthi, M.Si., dinyatakan di Terima. Dengan demikian Saudara telah menyelesaikan pendidikan Doktor pada Program Studi Doktor (S3) Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

Saudara Dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan.

Kepada saudara diberikan hak Memakai Gelar Doktor dengan Hak dan Kewajiban, serta kehormatan yang menurut hukum melekat pada gelar tersebut. Kami atas nama lembaga Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, mengucapkan selamat kepada Doktor Baru kita, Dr. Dra. Ni Desak Made Santi Diwyarthi, M.Si.

Saudara merupakan Doktor ke 113 di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, dan Doktor ke 239 pada Program Studi Doktor (S3) Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

Sungguh, puji syukur tiada terkira yang kupanjatkan kepada Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Kuasa, Rektor Universitas Udayana beserta seluruh jajarannya, Direktur Poltekpar Bali beserta seluruh jajarannya, kedua orangtuaku dan kedua mertuaku, suami dan kedua anakku terkasih, leluhur, seluruh anggota keluarga, kerabat, juga sahabat, bahkan orang yang tidak kukenal. Mereka semua membentukku hingga berada pada tahap ini. Betapa besar anugerah yang kuterima. Tiada putus rasa syukur yang kupanjatkan. Segala waktu, biaya, tenaga yang tercurah, saat yang mendebarkan, di saat galau, murka, sedih berkepanjangan, bahagia dan tawa canda yang mengiringi jejak langkah hingga tiba pada tahap ini…….

Aku disini. Santidiwyarthi, 21 Februari 2021

 

Link Youtube Ujian Sidang Terbuka Promosi Doktor pada hari Rabu, tanggal 6 Januari 2021

https://www.youtube.com/watch?v=qbeHOGQ44Nk&t=2652s

Jalanku meraih Mu (3) Terkadang, Hidup akan menghempas kita lepas liar tanpa kendali. Kembali lah.

 


  “They never walk in other's shoes”.

Ada yang berkata bahwa gampang sekali masuk, menempuh kuliah pada program studi Doktor (S3). Sejauh punya jejaring, orang dalam, bisa cepat tamat. Apalagi di Universitas Udayana, terlebih, di Kajian Budaya. Ada yang menyampaikan, bahwa tentu aku mendapatkan berbagai kemudahan, karena suami juga seorang tenaga pengajar pada program studi Doktoral (S3), karena tentu banyak mahasiswa yang siap membantuku menyelesaikan proses pembelajaran ini. Banyak yang terkadang meremehkan perjuangan orang lain. Hanya mengukur kemampuan orang lain sesuai dengan kemampuan dirinya sendiri. Mereka lupa, mereka bukan pelaku utama dari jalan hidup orang lain. “They never walk in other's shoes”.

Well. Terkadang, rasa jenuh melanda. Marah dan resah, karena ternyata banyak hal mengganggu fokus pikiran, juga perbuatan dalam menuntaskan tahap demi tahap menuju gelar doktor. Mulai dari proses matrikulasi di awal perkuliahan, tugas demi tugas yang diberikan oleh para dosen pengampu mata kuliah. Satu mata kuliah bisa diampu oleh tiga sampai empat dosen yang masing-masing memberikan tugas pula. Belum lagi tahapan penyusunan disertasi yang terdiri dari mata kuliah Metodologi Penelitian, Kualifikasi Disertasi, Proposal Disertasi, Penelitian Disertasi, Penulisan Disertasi, Seminar Hasil Penelitian Disertasi yang juga dihadiri dan melibatkan rekan se angkatan, beda angkatan, dalam mendiskusikan temuan hasil penelitian, Ujian Tertutup (Tahap Akhir I), Ujian Terbuka (Tahap Akhir II) yang sekaligus merupakan Ujian Sidang Promosi Doktor, dimana masing-masing tahap tersebut dihadiri oleh para Promotor, Ko Promotor I dan II, para dosen penguji lain (lima orang). Ini belum termasuk kesiapan berbagai berkas penunjang seperti artikel yang dimuat oleh jurnal internasional bereputasi, kesiapan mengadakan dan mengikuti berbagai seminar yang diselenggarakan internal kampus, proses editing disertasi yang melelahkan dan meresahkan, situasi Pandemi Covid-19 yang memberikan dampak pada proses penuntasan bimbingan, ujian, berkas disertasi, dan lainnya.

Aku sempat mengalami rasa putus asa disaat diminta mengubah pola penelitian kuantitatif menjadi kualitatif. Pola yang selama ini sudah tertanam jauh semenjak kuliah pada Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, terpaksa harus jungkir balik lagi, mengalami perombakan total, menyesuaikan dengan pola Kajian Budaya. Perlu waktu mengembalikan semangat dan perilaku tetap sempurna untuk fokus pada hasil yang akan dicapai.

Namun, bukankah manusia menjadi sempurna dengan segala ujian yang menghampirinya. Jika kita hanya berharap yang baik saja, yang indah saja, kita takkah pernah tahu rasa bersyukur telah melewati jalan panjang meraih bahagia, mewuudkan mimpi. Dan, inilah aku, disini aku bisa tegak berdiri, dan berkata dengan bangga, “Telah kulewati masaku, telah kutaklukkan tantanganku, telah kujalani perjuanganku. Dan kini, aku bersiap untuk perjuangan lain lagi, perjalanan lain lagi, tantangan berikutnya”.

Jalanku meraih Mu (2). Jalani, takkan menyerah kalah, apalagi surut melangkah, meski lelah, resah

 


Taki Taki ning Sewaka Guna Widya

Bersumber pada teks Kakawin Nitisastra. Sebuah karya sastra puisi berbahasa Jawa Kuna yang digubah pada masa akhir kejayaan Majapahit di Jawa Timur. Pepatah luhur ini menjadi motto Universitas Udayana yang berarti bahwa Orang yang bersungguh-sungguh mengabdikan diri pada kebajikan dan pengetahuan. Pepatah ini juga bermakna ajakan untuk senantiasa sadar diri, bersungguh-sungguh dalam mengabdikan diri kepada kebajikan (guna) dan ilmu pengetahuan (widya), memposisikan diri sebagai abdi (sewaka) yang mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat atau orang lain, terkait ilmu pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku yang berkepribadian luhur, wawasan ke depan, sehingga memiliki karya unggul, berkualitas dalam pekerjaan, mandiri serta berbudaya.

Kakawin Nitisastra terdiri dari dua versi, yakni teks panjang yang terdiri dari 15 pupuh dan 120 bait, dan teks pendek yang terdiri dari 10 pupuh dan 83 bait. Bait yang mengandung Taki-taki ning Sewaka Guna Widya terletak pada bait pertama Pupuh ke lima, dengan metrum Kusumawicitra:

Taki-taki ning sewaka guna widya

Smara wisaya rwang puluh ing ayusya,

Tengahi tuwuh sancawana gegonta.

Patilar ing atmeng tanu paguroken.

 

Bersungguh-sungguh mengabdikan diri

kepada kebajikan dan ilmu pengetahuan.

Menikmati asmara pada usia dua puluh tahun.

Pada usia setengah umur, patut mendalami ajaran suci.

Perpisahan jiwa dengan raga patut dipelajari.

Ini memperlihatkan bahwa di dalam proses belajar juga akan terlibat dengan banyak hal. Tidak hanya berkaitan dengan pembelajaran secara langsung, namun juga terlibat dengan urusan lainnya, keluarga, sahabat, kematian, kehidupan, kebahagiaan, spiritual, duniawi, jasmani, rohani.

Dari rencana target semula, hanya dua tahun, bahkan, maksimal, tiga tahun, akan kuraih gelar Doktor. Namun tidaklah semudah itu. Berkali harus mengalah, berkali harus egois, berkali harus murka, tertawa bahagia, resah dan gelisah, bahkan gundah. Mulai dari urusan keluarga, pelebon bibi, Dewa Biyang Dewa Nyoman Nesi di desa Batuaji, anak-anak yang membutuhkan perhatian karena menginjak usia remaja, suami yang juga menempuh pendidikan program doktoral. Mulai dari urusan Promotor yang berganti, dari Prof. Dr. Made Suastika, SU., menjadi Prof. Dr. Anak Agung Wirawan, SU, namun kemudian memasuki usia pensiun, sehingga kembali berganti menjadi Prof. Dr. Anak Agung Anom Kumbara. Ko Promotor yang meninggal, Dr. I Nyoman Madiun, SE., M.Sc., sehingga harus berganti kembali. Permintaan para pembimbing dan para penguji untuk rombak total rancang bangun bagan disertasi, menyesuaikan kembali, topik disertasi, landasan teori, aplikasi di lapangan, analisis data, rangkuman hasil penelitian. Semua berkembang menjadi sebelas tahun, dua puluh satu semester, baru kutuntaskan proses disertasi dalam meraih gelar doktor ini.

Menyesal ? Tidak ! Sedikit pun tidak ada rasa sesal. Semua membutuhkan proses, tumbuh berkembang, hadir dengan berbagai alasan dan perjuangan dalam meraih nya. Dan, inilah hasil yang bisa ku peroleh. Dengan penuh rasa syukur, kusampaikan, Terima kasih yang sebesarnya, sedalamnya, bagi leluhurku, kedua orangtuaku, kedua mertuaku, suami dan kedua anakku, para guru, para rekan kerja, direktur ku, atasan, dan sahabat juga kerabat, bahkan yang tidak kukenal sekalipun. Mereka semua telah berperan sesuai bidang masing-masing, menghantarku hingga menjadi seorang doktor, meraih doktor dalam kurun waktu sebelas tahun.

Jika ada yang bertanya, bagaimana perasaanku kini, kujawab, biasa saja, mari lanjut kerja. Bekerja, berdoa dan berusaha, menjalani hidup dengan sebaiknya. Itu saja. Suatu impian dan harapan yang sederhana, namun justru membuat kita berbahagia.

Jalanku meraih Mu (1) Takdir, Perjuangan, Kerja Keras, Semangat dan Haraoan menjadi Doktor

 

 


Ajining diri gumantung saka ing lathi.

Ajining raga gumantung saka busana.

Harga diri seseorang tergantung pada tutur bahasa, sikap dan lakunya.

Nilai seseorang tercermin pada busana atau pakaian. 

 

Pepatah ini merujuk bukan hanya pada tampilan fisik semata, namun juga pada konsep, ide, buah pikiran, karya nyata, tutur bahasa, kelakuan dan tindak tanduk di dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Pedoman ini pula yang kupegang dan berusaha menerapkan di dalam kehidupan, dengan sebaik mungkin, semampuku, berupaya belajar memahami berbagai situasi dan kondisi yang ada di dunia.

 

Dalam rangka senantiasa belajar ini pula, aku masuk menjadi karyasiswa di Universitas Udayana pada tahun 2010, pada Program Doktoral Kajian Budaya. Meski sudah mempersiapkan diri dengan sebaiknya, sebagai lulusan Cum Laude pada Program Magister Kajian Budaya pada Universitas Udayana tahun 2008, aku sudah paham akan kesibukan yang bakal mengiringi. Sebagai ibu rumah tangga dengan dua putra yang beranjak remaja, tuntutan keluarga tentu begitu kompleks. Sebagai perempuan pekerja dengan tuntutan yang menyertai, meski aku merupakan karyasiswa dengan status tugas belajar, tidak bisa terlepas dari tanggungjawab pada keberlangsungan program studi Administrasi Perhotelan dan juga lembaga Politeknik Pariwisata Bali, waktu itu masih bernama Sekolah Tinggi Pariwisata Bali. Sebagai seorang pribadi dengan karakter yang kompleks juga membutuhkan kesadaran dan kesabaran tersendiri, selalu belajar menjadi perempuan yang semakin bijak dari hari ke hari.

Program Studi Doktor (S3) Kajian Budaya berdiri pada tahun 2001 melalui Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia SK nomor 2366/D/T/2001, tanggal 11 Juli 2001 dan pejabat yang membuat keputusan adalah Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Pelaksanaannya berdasarkan Surat Pernyataan Rektor Universitas Udayana No. 2444/J.14/HK.01.01/2001 tanggal 11 Juli 2001 Program Studi ini tergabung di dalam Program Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar.

Program Studi Doktor (S3) Kajian Budaya membawa atmosfir baru dalam dunia kependidikan strata 3 di Universitas Udayana. PS ini merupakan pengembangan dari Program Studi Magister (S2) Kajian Budaya Program Pascasarjana Universitas Udayana yang berdiri tahun 1995. Dengan keberadaan awal yang serba sederhana, tetapi mengemban misi yang sangat mulia dalam dunia pendidikan, Program Studi Doktor (S3) Kajian Budaya pertama kali terakreditasi C dan ketika berbagai kemajuan yang telah dimiliki program studi ini, pada tahun 2009 Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Republik Indonesia berdasarkan Keputusan BAN-PT No. 013 BAN-PT/Ak-VII/S3/I/2009 tanggal 23 Januari 2009, yang menyatakan Program Studi Doktor (S3) Kajian Budaya, Universitas Udayana, Denpasar terakreditasi dengan peringkat Akreditasi B.

Pada Tahun 2014 Program Studi Doktor (S3) Kajian Budaya kembali diakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Republik Indonesia, melalui Keputusan BAN-PT No. 365/SK/BAN-PT/Akred/D/IX/2014, tanggal 11 September 2014 dengan nilai 309 peringkat B. Berbagai upaya dilakukan dalam rangka memajukan dan pengembangan Program Studi Doktor Kajian Budaya, juga terkait dengan peningkatan mutu dan kualitas pelayanan yang diberikan bagi para dosen dan mahasiswa. Hal itu terbukti dengan meningkatnya animo masyarakat menjadi mahasiswa di Program Studi  Doktor (S3) Kajian Budaya. Ini tidak terlepas dari pengelolaan program studi selalu berlandaskan visi, misi, tujuan, dan strategi pencapaian Program Studi Doktor (S3) Kajian Budaya Universitas Udayana. 

Ada 79 SKS yang bakal kami tempuh selama lebih kurang dua tahun, sebelum sampai pada batas akhir masa studi, dan diwisuda sebagai seorang Doktor. Kupersiapkan diri menghadapi segala cobaan, tantangan, rintangan yang bakal menghadang, mengalir, menggoyang, menggalang semangat persatuan dan kesatuan. Aku dipercaya sebagai Koordinator tim, baik oleh teman-teman satu angkatan, dan para dosen serta staf Program Doktor Kajian Budaya. Tugasnya adalah sebagai mediator, negosiator, motivator, promotor, dari teman pada para dosen, dari para dosen dan staf kepada para mahasiswa, juga antar angkatan. Jadilah, kami bersama menjalani setiap tahapan dalam proses pembelajaran ini. Terkadang tertawa dan bahagia bersama, menangis dan terpuruk bersama. Tidak hanya urusan perkuliahan semata, namun juga dari urusan pekerjaan masing-masing, bahkan urusan keluarga, dan yang paling personal sekalipun. Di dalam setiap pergerakan, selalu kuingatkan rekan rekan seperjuangan untuk mematuhi visi dan misi yang berlaku, agar tidak keluar dari koridor perjuangan kami.

Visi Misi Doktor Kajian Budaya

a.       Visi

Program Studi Doktor (S3) Kajian Budaya Universitas Udayana diselenggarakan dengan visi menghasilkan tenaga ahli yang unggul, mandiri, berbudaya, kritis, dan berwawasan luas serta menguasai bidang ilmu sesuai perspektif kajian budaya dan sejalan dengan Pola Ilmiah Pokok (PIP) Kebudayaan Universitas Udayana.

b.      Misi

1.      Mengembangkan wawasan keilmuan dan menyediakan tenaga ahli kajian budaya yang kritis dan berwawasan luas.

2.      Mengkaji persoalan-persoalan kebudayaan dan kemanusiaan secara inter- dan multidisipliner.

3.      Menumbuhkan kesadaran multikultural yang mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia

Menjadi doktor bukan berarti menjadi orang yang super hebat, pakar yang benar hebat, sang jawara dan juara di atas segalanya. Menjadi doktor seharusnya bisa semakin giat berkarya, mengabdi demi banyak orang, memberi bukti nyata, menjadi teladan bagi semua, dan bahkan juga diri sendiri. Proses belajar akan selalu ada, senantiasa berkembang. Justru berada di tengah masyarakat menjadikan kita mampu membuktikan diri menjadi baik dan memberikan manfaat bagi banyak pihak.

Oke, welcome to the jungle of fighting for study…….