Minggu, 24 Desember 2017

Linda Anugerah dan Metatah Massal, 23 Desember 2017





Ibu Linda Anugerah adalah perempuan biasa, sama seperti kita semua. Namun memiliki semangat luar biasa, kemauan luar biasa, yang menggerakkan semua kemampuannya demi kemanusiaan. Ibu Linda Anugerah adalah perempuan biasa, namun memiliki cinta kasih yang luar biasa, yang membuatnya mencurahkan pikiran, perkatan dan perbuatan, demi kemanusiaan. Maka, kita juga bisa menjadi orang-orang luar biasa, yang membuat kita lahirkan banyak karya pula, dengan semangat kreativitas, dengan teriring doa, dengan cinta kasih, bagi banyak orang di dunia…….

Pak Wayan Sura Bela yang anak keduanya, Madhu, ikut serta menjadi peserta metatah di Taman Pancasila Kertalangu pada hari Minggu, tanggal 23 Desember 2017.


Ibu Linda merupakan pendiri sekaligus ketua Yayasan Angel Hearts Bali. Dia merupakan perempuan yang berasal dari Kintamani. Yayasan ini merupakan yayasan sosial kemanusiaan yang berdiri murni untuk membantu umat manusia yang membutuhkan. Visi dan misi Yayasan Angel Hearts Bali antara lain membantu lansia terlantar, orang sakit, anak-anak yatim piatu dan terlantar, memberi bedah rumah pada kaum lansia atau rumah tangga miskin, memberi bantuan biaya kesehatan dan pendidikan pada anak-anak dari keluarga kurang mampu, membantu pembangunan panti asuhan, tempat ibadah.

Wakil Gubernur Bali, melakukan rangkaian upacara sangging, potong gigi, bagi dua peserta upacara metatah, pada hari Minggu, tanggal 23 Desember 2017, di Taman Pancasila, Kertalangu.


Kegiatan sosial kemanusian ini telah bertahun-tahun dilakukan oleh ibu Linda Anugerah, jauh sebelum Yayasan Angel Hearts Bali berdiri. “Mungkin saya gila melakukan ini semua atas dasar kemanusiaan, terkadang hingga mengabaikan keluarga saya”, ujar ibu Linda Anugerah di suatu saat……… Ah, ibu tidak gila, ibu bukan seorang perempuan gila…… Ibu hanya seorang perempuan biasa yang melakukan hal-hal luar biasa, dengan semangat luar biasa pula, bagi banyak umat manusia…..

Ibu Desak Sri Rejeki, melakukan yadnya, sebagai perias, bagi 20 an lebih, peserta metatah. Semenjak pukul lima pagi sudah berada di sini......
Metatah massal ini lahir dari ide beliau, karena banyak anak asuh Yayasan Angel Hearts Bali, baik yang tinggal di dalam maupun di luar Yayasan, yang sudah cukup umur, namun belum melaksanakan upacara potong gigi. Sebagian besar merupakan anak yatim piatu dan kurang mampu. Murni berasal dari niat suci tulus, ibu Linda berharap para anak asuh ini dapat menapaki jenjang kehidupan dengan perasaan bahagia karena telah melaksanakan rangkaian upacara memasuki gerbang kedewasaan ini.

Bapak Budiyasa bersama istrinya, juga ketiga putrinya. Bapak Budiyasa berasal dari Karangasem, daerah yang terkena dampak erupsi Gunung Agung. Ketiga putri bapak Budiyasa mengikuti upacara metatah di Taman Pancasila Kertalangu pada tanggal 23 Desember 2017. Beliau sangat bersyukur bisa mengikuti upacara gratis ini.....


Salah satu yg akan ikut dalam acara ini adalah Wayan Bela, anak penderita CP (celebral palsy) yg sudah bertahun2 dibantu di Yayasan Angel Hearts Bali. Ketiga putrid dari Ibu dan Bapak Budiyasa dari Karangasem yang termasuk KRB 2 Gunung Agung.  Juga Madhu, putri dari Ibu dan Bapak Sura. Dan bersama dengan 120 peserta lain dari berbagai penjuru Bali.

Ketiga anak asuhan Yayasan Angel hearts Bali yang mengikuti upacara metatah kali ini.Mereka sangat bersyukur bisa mengikuti upacara gratis ini, sebagai gerbang melangkah menuju jejak kehidupan di masa yang akan datang.


“Saya benar-benar  ingin meringankan beban keluarga mereka dan memberikan yg terbaik utk anak-anak asuh saya. Agar lengkaplah upacara yg wajib mereka jalani dalam kehidupan. Tapi tentu saya menyadari, saya sangat awam mengenai upacara adat dan juga keagamaan. Jadi sejak awal saya telah meminta petunjuk dan berdiskusi dengan sesepuh serta beberapa orang yg sudah berpengalaman di bidang itu, antara lain dengan Bapak Kantha Adnyana dari Yayasan Jaringan Hindu Nusantara, dan juga para Pandita dr Yayasan Weda Poshana Ashram Korwil Denpasar yg sudah berpengalaman menyelenggarakan upacara Potong Gigi Bersama, serta tentu saja saya juga meminta petunjuk dari Bapak angkat saya, Bapak Agung Udayana”, Ujar ibu Linda Anugerah lagi……

Adi, mahasiswa dari Program Studi Manajemen Kepariwisataan semester lima, yang sedang training di Phenom Event Organizer. Phenom EO ikut meng handle kegiatan Metatah Gratis pada hari Minggu, 23 Desember 2017, dan Adi yang ditugaskan menghandle kegiatan disini.

“Dan akhirnya saat penyusunan kepanitiaan, disepakati bahwa SELURUH RANGKAIAN UPACARA akan dilaksanakan dan diatur oleh Para Pandita dr Yayasan Weda Poshana Ashram Korwil Denpasar. Sedangkan Yayasan Angel Hearts Bali hanya bertugas di bidang penanggung jawab pendanaan (dengan dibantu oleh donatur2 yayasan). Saya sangat menyadari bahwa niat baik saya utk membantu anak-anak yatim/piatu, disabilitas dan kurang mampu tentu harus pula saya lakukan dengan cara yang baik dan tidak gegabah. Saya yakin, niat baik, dilakukan dengan cara yang baik, Astungkara hasilnya pun akan baik”.

Ibu Wayan Sura Bela, sangat berbangga dan bersyukur, putrinya, Madhu, bisa ikut upacara Metatah gratis ini.....


Akhirnya, terlaksanalah kegiatan Metatah Massal pada hari Minggu, 23 Desember 2017, di Taman Pancasila, Kertalangu, Denpasar. Udara yang bersahabat, cuaca cerah, wajah-wajah ceria, rasa bahagia terpancar dari banyak orangtua, peserta, keluarga juga sahabat…..

Sebagian dari para serati, bhawati, tukang banten yang bertugas mempersiapkan dan menghaturkan banten yang diperlukan bagi rangkaian upacara Metatah pada hari Minggu, 23 Desember 2017, di Taman Pancasila, Kertalangu.

Ibu Linda Anugerah adalah perempuan biasa, sama seperti kita semua. Namun memiliki semangat luar biasa, kemauan luar biasa, yang menggerakkan semua kemampuannya demi kemanusiaan. Ibu Linda Anugerah adalah perempuan biasa, namun memiliki cinta kasih yang luar biasa, yang membuatnya mencurahkan pikiran, perkatan dan perbuatan, demi kemanusiaan. Maka, kita juga bisa menjadi orang-orang luar biasa, yang membuat kita lahirkan banyak karya pula, dengan semangat kreativitas, dengan teriring doa, dengan cinta kasih, bagi banyak orang di dunia…….








Senin, 18 Desember 2017

YJHN dan Baksos V ke Karangasem, Minggu, 17 Desember 2017





Ketika kita berupaya berbuat baik, kadang ada yang bertanya penyebabnya, latar belakang kita, ada apa maksud dan tujuannya, bagaimana kelanjutannya, dlsb, dsb, dst….. Namun jangan pernah lelah untuk berbuat baik….

Kali ini kami kembali bersama-sama melakukan aksi. Demi kemanusiaan, bagi para korban yang alai dampak erupsi Gunung Agung, hari Minggu kami berkumpul bersama di  Warung Bubu Bali. Sudah ada tiga mobil di sana. Dua mobil tiba pagi ini dari Banyuwangi, salah satunya, mobil pick up / pengangkut barang, penuh dengan muatan.



Menurut rencana, kali ini kami meyalurkan Bantuan Ke Pengungsi Erupsi Gunung Agung, pada Posko Pengungsi, Minggu 17 Desember 2017, di : 

1. Banjar Sibakan Kauh, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem
2. Banjar Sibakan Kangin, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem
3. Banjar Dinas Segah, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem
4. Banjar Pande Sari, Desa Bebandem, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem
5. Banjar Tengah, Desa Bebandem, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem
6. Kantor Desa Padangbai, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem

 

Bantuan ini Persembahan dari saudara2 di Banyuwangi yang disalurkan melalu Parisada Hindu Dharma Siliragung Banyuwangi, bersama Pasraman Jnana Sila Bhakti di Kepulauan Riau serta Para Donatur Yayasan Jaringan Hindu Nusantara.



Kabupaten Karangasem atau Karangasem adalah sebuah kabupaten yang terletak di provinsi Bali, Indonesia. Di kabupaten ini terletak pura terbesar di Bali, yaitu Pura Besakih. Karangasem mempunyai 8 kecamatan, 3 kelurahan, 75 desa, 52 Lingkungan dan 552 dusun, 185 Desa Adat dan 605 Banjar Adat.
Semenjak memasuki daerah Nongan, kami di temani oleh bapak Wayan Astawa, Koodinator posko pengungsi di KecamatanRendang, Kabupaten Karangasem. 












Medan yang berat, dengan turunan dan tanjakan curam, membuat mobil pick up dari Banyuwangi gagal move on. Barang-barang terpaksa diturunkan dari mobil, dan diangkut berkali-kali dengan motor, dipanggul dan berjalan kaki, hingga akhirnya tiba bantuan mobil pick up dari lokasi posko pengungsi Desa Nongan.



Pos yang menjadi tujuan pertama adalah Pos Pengungsi di Banjar Sibakan Kauh, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem ini, pengungsi berasal dari Geliang Pempatan. Seratusan kepala keluarga, beserta puluhan anak-anak usia balita hingga SD merubung, menangis minta bingkisan yang kami bawa, sumbangan dari anak-anak Pesraman Jnana Sila Bhakti di Kepulauan Riau.

Pos yang menjadi tujuan berikutnya adalah Pos Pengungsi Banjar Sibakan Kangin, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem ini, pengungsi berasal dari Desa Temukus, di atasnya Pura Besakih.














Pos ketiga yang menjadi tujuan kami adalah Pos Pengungsi yang terdapat pada Banjar Segah, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem ini, jumlah pengungsi sebanyak 293 orang. 









Pada Pos yang menggunakan Wantilan Desa di Banjar Segah ini juga sedang berlangsung kegiatan pengabdian, bakti sosial, yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa. Bersama 15 mahasiswa Fakultas Kedokterannya, dibawah coordinator dokter Santi dan teman-teman, mereka melakukan pengecekan kondisi kesehatan para pengungsi. 

“Keluhan para pengungsi adalah tentang batuk, tenggorokan terasa kering, perih dimata, dan lemas”, ujar Rangga yang memegang payung agar para pengungsi tidak kepanasan, sebab pengecekan dilakukan di lapangan terbuka.

Di Desa Bebandem, kami ditemani oleh bapak Wayan Budiana, koordinator posko pengungsi disini, untuk meninjau dan menyalurkan bantuan di Banjar Pande Sari dan Banjar Tengah. 



Pos ke empat berikutnya adalah Pos Pengungsi di Banjar Pande Sari, Desa Bebandem, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem ini, pengungsi berasal dari Desa Liligundi.

Miris sekali melihat kondisi para pengungsi di Banjar Pande Sari. Dengan penutup dinding dari hawa dingin berupa terpal plastik tipis seadanya, mereka berjuang melawan hawa dingin dan hujan yang terkadang membuat becek lantai tanah di bawah bale bambu tempat mereka tidur, juga menciprati tubuh mereka.

Di lokasi pengungsi ini terdapat 75 an anak-anak pengungsi yang masih balita hingga SMP. Mereka duduk di tengah halaman lokasi pengungsi, bernyanyi bersama, mengikuti kuis yang diajukan bunda Dea, juga perwakilan umat dari PHDI Banyuwangi. Ah, sungguh tatapan polos itu menusuk hatiku, seolah berkata, “Kami juga berhak bahagia, kan, bunda ??”. 

Kaum pria pulang ke lokasi rumah dan perkebunan mereka di pagi hari, mengecek sawah, ladang, juga rumah yang terdampak erupsi Gunung Agung, lalu kembali ke lokasi pengungsian pada sore harinya. Sempat pula kulihat, kaum perempuannya mengulat berbagai anyaman dari bamboo, atau ilalang yang didatangkan dari Lombok. Mereka memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik mungkin.

Berikutnya lagi, Pos ke lima adalah Pos Pengungsi di Banjar Tengah Desa Bebandem, pengungsi berjumlah 100 orang, berasal dari Desa Tihing Seka. Kulihat sekumpulan ibu-ibu dan remaja putri yang merupakan para pengungsi, sedang membuat prasana banten dari bahan janur. Mereka membawanya ke pasar, dijual, dan memperoleh uang untuk biaya keperluan mereka.







Pos yang terakhir, atau ke enam kami kunjungi, adalah Kantor Desa Padang Bai di Kecamatan Manggis.


“Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyusun rencana dan melakukan berbagai aktivitas terkait para pengungsi, khususnya anak, atau trauma healing di pengungsian, agar mereka tidak jenuh dan tetap terjaga psikologisnya,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, 16 Desember 2017.



Benar, karena kita tidak pernah bisa berjalan sendiri dan terpisah atau terkotak-kotak, maka berbagai pihak saling bahu membahu, membangun jejaring, melakukan koordinasi untuk bekerja sama membantu menangani dampak erupsi Gunung Agung ini. Berbagai instansi, lembaga masyarakat dan lembaga pendidikan, organisasi, dan badan individu yang telah melaksanakan kegiatan tersebut.  



Kali ini, Hari Minggu, 17 Desember 2017, Pesraman Jnana  Sila Bhakti di Kepulauan Riau, Yayasan Jaringan Hindu Nusantara. Bersama dengan Rombongan dari Kecamatan Siliragung Banyuwangi, yang membawa bantuan masyarakat, yang disalurkan melalui Parisadha Hindu Dharma Indonesia Kecamatan Siliragung Kabupaten Banyuwangi, Masyarakat memberikan bantuan berupa :

1.      Beras 945 kg
2.      Minyak goreng 137 liter
3.      Gula 120 kg
4.      Mie instan 31 dus
5.      Krupuk I sak
6.      Bawang putih / merah 10 kg
7.      Nangka sayur 7 sak
8.      Kopi 1 dus



Terdapat total 239 posko atau titik pengungsian tersebar di berbagai kabupaten di Propinsi Bali, dengan jumlah tercatat 71.668 jiwa pengungsi. Tercatat di antaranya 3.321 balita di Kabupaten Karangasem, Kabupaten Klungkung 527 balita, Kabupaten Bangli 49 balita, Kabupaten Gianyar 85 balita, Kabupaten Tabanan 78 balita, Kota Denpasar 61 balita, Kabupaten Jembrana 26 balita. Total keseluruhan 4.147 balita, update data BNPB per 17 Desember 2017, pukul 18.00 WITA.

Minggu, 10 Desember 2017

Komang Erick Armajaya



Namanya Komang Erick Armajaya. Lebih sering dipanggil Mang Erick oleh teman-temannya.

Terlahir pada tanggal sembilan September tahun 1993. Dia menamatkan SMA tahun 2012, dan diterima sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali. Setelah dua tahun menempuh pendidikan, dia diterima training pada hotel Nusa Dua Bali Beach Hotel. Namun di awal training pada semester lima ini, Mang Erick alami kecelakaan ditabrak oleh pengendara lainnya. Tulang lengan kanan patah, beberapa tulang rusuk dan tulang iga patah, sehingga harus cuti selama setahun kuliah.



Namanya Komang Erick Armajaya. Lebih sering dipanggil Mang Erick oleh teman-temannya.

Pada awal tahun 2015, kembali dia melanjutkan training dengan bersemangat, meski tertatih tatih menyesuaikan diri dan kondisi fisik. Pada tahun 2016, di saat sedang mengikuti management training di Novotel Nusa Dua Hotel, Nyoman Mastra, ayahnya, meninggal dunia. Kembali, duka menyeruak di tengah keluarga ini. Kembali pula Mang Erick memperlihatkan jiwa besarnya, tetap bersemangat menuntaskan pendidikan.

Namanya Komang Erick Armajaya. Lebih sering dipanggil Mang Erick oleh teman-temannya.

"Dia termasuk anak asuh Ikatan Orangtua Murid". ujar Pak Nyoman Mahardika mengenai Mang Erick. "Dia anak yang baik dan selalu sopan", ujar ibu Juli Rastitiati, ibu Sri Sadjuni, dan beberapa dosen lain yang sempat mengajar dan kenal tentang Mang Erick.

Namanya Komang Erick Armajaya. Lebih sering dipanggil Mang Erick oleh teman-temannya.

Dia tuntaskan manajemen training di hotel Mercure Nusa Dua, dan bersiap maju ke tahap terakhir pendidikan sebagai mahasiswa. Pada semester tujuh ini, mulai dari Program Aplikasi Manajemen, persiapan Proposal Penelitian, Perkuliahan, serta Bimbingan Skripsi yang cukup menguras waktu, tenaga dan juga biaya. "Kami sesama mahasiswa angkatan 2012, juga angkatan 2013 kelas ADH B, yang mulai bergabung bersama Mang Erick semenjak 2016 awal, sangat merasa kaget dan kehilangan. Mang Erick sangat baik" ujar beberapa sahabatnya.

Namanya Komang Erick Armajaya. Lebih sering dipanggil Mang Erick oleh teman-temannya.

Sebelum wisuda, dia telah diterima bekerja di Ayodya Resort Bali sebagai seorang butler, pada Ayodya Palace Club Room. Dia terkenal ramah dan santun dalam bekerja, juga senang bersepeda bersama rekan-rekan kerjanya. "Kami terakhir bersepeda bareng ke Pantai Pandawa, ada juga yang ke pantai Nikko bersama". ujar mereka sedih. "Kami rencananya akan melukat bersama ke Tampak Siring".

Namanya Komang Erick Armajaya. Lebih sering dipanggil Mang Erick oleh teman-temannya.

Wisuda pada bulan September 2017, dia masih begitu muda, energik, dan memiliki masa depan terbentang luas. Namun takdir tidak pernah membuat kita dengan mudah menerima kenyataan yang terkadang tak sesuai impian dan harapan. Erick meninggal tanggal 9 Desember 2017, dua bulan berlalu semenjak ulang tahun nya yang ke 24, tanggal 9 September 2017. Pecah pembuluh darah di kepala karena varises di jaringan syaraf otaknya, ujar pihak keluarga dan sahabat sahabat dekatnya. Selamat jalan, Mang Erick. jalanlah perlahan, menuju masa depanmu. Tidak ada lagi sakit, tidak ada lagi resah. Bersatulah dengan Yang Maha Kuasa, Pencipta Alam Semesta, Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Namanya Komang Erick Armajaya. Lebih sering dipanggil Mang Erick oleh teman-temannya.

YJHN dan Tirtayatra, 9 Desember 2017








Manusia adalah mahluk yang dinamis. Senantiasa bergerak tiada henti, dalam kehidupan. Sejarah, perjalanan, perkembangan, kehidupan, budaya dengan agama, seni, ritual, sosial, ekonomi yang mengiringinya. Inilah aku, apa adanya. Kali ini kembali kami bergerak, melakukan perjalanan spiritual menuju ke Jawa Timur, memberikan bantuan bagi umat Hindu, meski hanya sekedar buku, kalender, dana, dan menjalin tali silaturahmi dengan sesama umat.






Pukul tiga pagi dini hari, Sabtu, 9 Desember 2017, kami bergerak dari Denpasar, menuju Jawa Timur, dengan menggunakan minibus kapasitas 16 orang. Berhenti bersembahyang di Pura Rambut Siwi yang terletak di Negara, menaiki ferri pukul 6 pagi dari pelabuhan Gilimanuk menuju Ketapang. Kami tiba pukul 9 pagi di rumah bunda Yuli Laras Candrawati, di Desa Pedotan, Kabupaten Banyuwangi.





Setelah mandi dan berpakaian sembahyang, kami menikmati hidangan sajian bunda Yuli sekeluarga, sungguh luar biasa, keramahan yang kami terima dari keluarga ini. Sambil lesehan menikmati buah naga merah hasil panen kebun sendiri. Sempat pula kami berjumpa Romo Lorohadi dan Romo Warsiyo beserta rombongan yang mampir ke butik milik bunda Yuli.

Berikutnya kami bergerak menuju Pura Segara Tawang Alun yang terletak di Pantai Merah, Dusun Pulo Merah, Desa Pancer, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur. Pura Tawang Alun pernah disapu tsunami yang melanda pada tahun 1990, hingga tertutupi air laut. Pura Segara Tawang Alun memiliki vibrasi aura tenang dan damai yang cocok untuk tempat meditasi, aroma angin laut pantai Selatan yang membelai tiap pori tubuh, dan tidak terganggu meski berada di lokasi wisata yang tidak pernah sepi pengunjung.

Pulo Merah merupakan sebuah pulau berbukit hijau dan bertanah merah, dengan tinggi menjulang 200 meter, yang terletak di Kecamatan Pesanggaran. Pulau ini bisa dicapai dengan berjalan kaki pada saat air laut sedang surut. Namun dengan ombak yang relatif besar pantai Selatan, pantai ini kurang cocok menjadi tempat berenang, kecuali berselancar. Objek wisata ini dikelola oleh Perum Perhutani Unit II Jawa Timur, KPH Banyuwangi Selatan, dan relatif ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai pelosok nusantara, hingga wisatawan mancanegara, yang sangat menggemari surfing.  Mereka menggemari ombak tinggi tiga hingga lima meter, dan sedikitnya batu karang di dasar pantai, hingga di Pulo Merah beberapa kali diselenggarakan  kompetisi selancar internasional, salah satunya, Banyuwangi International Surf Competition pada tahun 2013 bulan Mei. Dilanjutkan dengan kompetisi tahun 2014, 2015.






Selesai bersembahyang di Pura Segara Tawang Alun, kembali kami bergerak menuju lokasi berikutnya. Pura Giri Sunya Mertha, yang terletak di Dusun Pasembon, Desa Sambirejo, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur. 

Di Pura ini juga terdapat Pesraman yang dikelola oleh Bapak Gatot. Para remaja, dengan pertumbuhan dan perkembangan yang mereka alami, tentu disertai adanya gejolak jiwa, keresahan, kegalauan, sifat kritis, keingintahuan, banyak bertanya, sehingga membutuhkan bimbingan kita semua. Bapak Gatot, beserta para tetua, pemangku, memberikan bimbingan dan tuntunan yang bisa dijadikan pedoman hidup mereka sehari-hari. Semoga, mereka bisa menjadi pribadi yang tangguh, sosok yang berbakti pada keluarga, sahabat, juga menjunjung tinggi ahlak etika dan norma yang berkembang di tengah masyarakat, menjunjung tinggi bingkai persatuan dan kesatuan negara, menjunjung bingkai NKRI.

Kecamatan Bangorejo memiliki tujuh Desa, yakitu Desa Bangorejo, Desa Kebondalem, Desa Sambirejo, Desa Sambimulyo, Desa Sukorejo, Desa Temorejo, Desa Ringin Telu. Kecamatan Sambirejo terkenal dengan hasil panen buah naga merah (Hylocereus Costaricencis) yang dikirim hingga ke luar Propinsi Jawa Timur, juga pulau Bali. Disamping itu, dikenal juga dengan hasil panen jeruk nya.

Hari sudah beranjak gelap. Kami berpamitan dengan umat di Pura Giri Sunya Mertha, dan segera kembali bergerak. Kali ini menuju Pura Sunya Loka yang terletak di Gunung Srawet.

Pura Sunya Loka merupakan Pura Kahyangan Jagat, yang diyakini penyungsungnya sebagai petilasan Empu Baradah. Berdasarkan sejarah para sesepuh setempat, Gunung Srawet juga sering disebut dengan Gunung Srandil Jawi wetan. Adapun mitologi atau mitos dari Gunung Srawet yang berada di Kecamatan Bangorejo menurut sesepuh yang berada didaerah sekitar bahwasannya pada jaman dahulu Gunung Srawet ini digunakan sebagai tempat pertapaan Sang Prabu Erlangga selama bertahun-tahun untuk mendapatkan kesaktian dan kewibawaan dalam memimpin daerah kekuasaannya. Sang Prabu Erlangga bertapa di Gunung Srawet tepatnya di Gua Selo Panepen (salah satu gua yang berada di Gunung Srawet dengan posisi gua menembus bumi atau lubang guanya lurus kebawah tidak kesamping seperti gua padaa umumnya, Setelah lama bertapa di Gunung Srawet datanglah Empu Bharadah menjemput Sang Prabu Erlangga untuk mengantarkan ke Pulau Bali. Melihat kedatangan Empu Bharadah Sang Prabu Erlangga bangun dari tempat bertapanya lalu bergegas mengikuti Empu Bharadah. Sesampainya di hutan Prejeng (sekarang menjadi kota Rogojampi) Empu Bharadah dan Sang Prabu Erlangga dihadang oleh singo barong yang sangat besar, dan seketika itu singo barongpun langsung menyerang dan saat itu juga terjadilah peperangan antara Sang Prabu Erlangga dengan singo barong. Peperangan itu dimenangkan oleh Sang Prabu Erlangga dengan kesaktiannya yang luar biasa, walaupun peperangan tersebut dimenangkan oleh Prabu Erlangga namun singo barong tidak sampai mati dan mengakui kesalahannya, pada saat itu pula singa barong bersedia mengabdikan diri menjadi abdi dalem Sang Prabu Erlangga dalam perjalanannya menuju Pulau Bali. Sesampainya di Pulau Bali Prabu Erlangga beserta rombongan menetap di Pura Gunung Kawi Gianyar sampai akhirnya singo barong meninggal dan juga Prabu Erlangga kembali dengan sang Brahman. (Eko Prasetyo)

Pura Kahyangan Jagat Sunya Loka ini terletak di Puncak Serindhil, di kawasan Gunung Srawet, di Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo. Perjalanan dengan jalan tanah berkerikil, dan hanya cukup untuk satu mobil, membuat mobil minibus harus berjalan perlahan dan sedikit berguncang, bahkan hingga nyaris terperosok ke dalam got yang terletak di samping jalan menuju Pura ini. Rombongan kami terpaksa harus turun, bahu membahu mendorong, ke arah depan dan belakang mobil, memberi batu, dahan kayu, di bagian roda kiri depan mobil,  hingga dibantu penduduk juga pemangku Pura sampail akhirnya mobil bisa kembali melanjutkan perjalanan menuju Pelataran parkir Pura, dan menaiki anak tangga berjumlah lima puluh an, sebelum tiba di depan Pura Kahyangan Jagat Sunya Loka.

Sudah hampir pukul tujuh malam WITA, waktu rombongan kami berpamitan meninggalkan pura. Ada rasa haru, entah kapan baru bisa mendapatkan perkenan kembali bersembahyang disini. Namun aku yakin, karma akan mempertemukan kita semua pada arahnya masing-masing. Entah kapan, dimana, dan dengan cara bagaimana, rasa rindu, rasa cinta, rasa bahagia, akan bersatu, meski tidak selalu dangan cara dan gaya yang sama.....

Kembali rombongan kami menuju Desa Pedotan, dijamu makan malam oleh keluarga bunda Yuli, sebelum bergerak menuju Pulau Bali. Sepanjang hari ini, Sabtu, 9 Desember 2017, kami mengadakan perjalanan panjang, dalam ikatan persaudaraan Yayasan Jaringan Hindu Nusantara, dalam berbagai nuansa kehidupan yang ada, dalam rasa cinta yang menyatukan kita semua......