Rabu, 24 April 2019

Usada Bali, Mr. Vaughn, Keris, Jro Mangku Alit dan makna di dalam Bhargawa



Scibere scribendo, discere discendo disces. 
Engkau belajar menulis dengan menulis, engkau belajar membaca dengan membaca.





Usada Shala menggelar diskusi bersama mengenai Keris dan Pande. Rencana diskusi akan digelar dengan menghadirkan tokoh keris Empu Jero Pande Ketut Wirawan. Aku tertarik menghadiri kegiatan yang mengupas budaya nusantara, perkembangan seni, baik tokoh, produk seni, upaya pemerintah dalam melestarikan dan mengembangkan kesadaran di tengah masyarakat terkait kreativitas seni, hingga kemajuan teknologi kekinian dibidang budaya. Belajar lah selalu, belajar sepanjang kehidupan.....




Saat diskusi yang disampaikan mengalir oleh Daniel Vaughn dari Amerika, dia menjelaskan  hasil risetnya mengenai keris di nusantara. Keris modern sudah berkembang di nusantara semenjak abad ke 14, dan memiliki symbol kekuasaan dari para pemilik maupun penggunanya. Keris memiliki bentuk yang asimetris, bisa berbentuk lurus maupun berlekuk. Terkadang keris dibandingkan dengan naga, sebagai bentuk yang sering terlihat pada beragam pura yang ada di Bali. Keris tidak hanya dianggap sebagai senjata tajam sama seperti belati, namun juga memiliki nilai sacral yang terkandung dari besi atau bahan metal di dalamnya.



Keris tidak hanya sekedar simbol suci yang diikutsertakan dalam beragam prosesi terkait upacara keagamaan. Sejarah panjang selama berabad-abad proses keberadaan dan pembuatan keris menunjukkan level kesukaran dan kegunaan keris tersebut. Ada beragam teknik penempaan juga penyimpanan serta perawatan keris. Demikian pula rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh penempa keris. 



Daniel Vaughn mengakui bahwa terdapat beragam teknik, pola dan gaya perlakuan terhadap keris ini, dari seluruh nusantara, bahkan oleh masing-masing penempa itu sendiri. Mengagumkan mengikuti dokumentasi hasil penelitian nya yang disajikan dengan begitu apik. Bahkan, orang asing bisa mengadakan penelitian dan memaparkannya dengan baik mengenai keris. 



Laku spiritual yang dijalani oleh seorang empu atau pakar keris sebelum menempa keris, sering membuat sang empu juga merupakan seorang pemangku atau pendeta agama. Contohnya adalah Empu Jero Pande Ketut Wirawan dari Pejeng yang merupakan seorang pande besi penempa keris, sekaligus seorang pemangku. Hal ini yang membuat keris memiliki nilai spiritual dan kesaktian tinggi juga indah dengan nilai estetika tinggi.

Jro Mangku Alit Pande Made Nesa, saat menyaksikan bersama diskusi dan pemutaran film dokumenter hasil penelitian Daniel Vaughn di  Usada Bali, Ubud, 16 April 2019, menjelaskan bahwa demikian pula halnya keris, banyak ragam benda berupa senjata dengan nilai – nilai suci yang dipahami masyarakat Bali. Salah satu di antaranya adalah Pengentas Arug, atau lebih dikenal sebagai Bhargawa. Bhargawa atau Pengentas Arug merupakan simbol suci pembuka jalan, perlambang kebenaran dan kesucian, kemenangan dalam melawan kejahatan. Bhargawa yang berbentuk parang panjang digunakan sebagai simbol arah penjuru mata angin, perlengkapan upacara yang terkait dengan kematian, kremasi atau ngaben, dan rangkaian upacara lain di Pura Dalem. Pengentas Arug merupakan simbol suci yang menghantar manusia menuju kesempurnaan.

Jro Mangku Alit Pande Made Nesa menjelaskan filosofis yang ada didalam bhargawa atau pengentas arug. 

Bhargawa atau pengentas arug merupakan senjata perlambang kebesaran yang dipergunakan oleh Krian Pasung Grigis. Krian Pasung Grigis merupakan mangkubumi, atau patih dari Kerajaan Bali, sebagai salah satu patih, selain Kebo Iwa, yang berperang menentang Patih Gadjah Mada, Kriyan Pasung Grigis merupakan seorang Mahapatih Mangkubumi Kerajaan Bali yang sakti mandraguna, pemberani, setia pada kerajaan, ahli strategi perang, dan ikut turun berperang melawan pasukan majapahit yang menyerang Bali  (Lontar Kebo Iwa dan Pura Gajah). Bhargawa merupakan senjata tajam yang dipergunakan saat berperang, melambangkan kekuatan dari berbagai penjuru dan arah mata angin dalam melawan musuh, Majapahit, yang dianggap akan merampas kekuasaan Bali.

Kekuatan dan kesaktian Mahapatih Kriyan dengan senjata ampuhnya yang berbentuk clurit atau parang panjang membuat pihak musuh berupaya mencari kelemahan menaklukkan beliau dengan beragam cara, baik tipu daya dan muslihat perang. Patih Gadjah Mada memahami, kesaktian Mahapatih Mangkubumi Kriyan Pasung Grigis akan musnah bila hati dikuasai sifat tamak, lupa daratan, dan mati karena kesombongan diri, terlalu bangga hingga ingkar janji. 

Kriyan Pasung Grigis dibuat percaya bahwa Patih Gadjah Mada menyerah kalah dan bersedia berjumpa dengan nya beserta seluruh pasukan. Beliau dirayu dengan memperalat binatang kesayangan, anjing, yang selalu diberi makan setiap datang menghampiri. Beliau ingkar memberi makan binatang peliharaan yang diminta memperlihatkan keahlian hewan tersebut.

Tipu daya muslihat ini berhasil, Kriyan Pasung Grigis dicap tidak setia pada janji, dan kekuatannya dilumpuhkan, sehingga kemudian dipaksa menanggalkan jabatan, menyerahkan wilayah kerajaan kepada Patih Gadjah Mada. 

Hal ini pada awalnya bagaikan dilema bagi Sang Mahapatih Kriyan Pasung Grigis, apalagi banyak pertentangan terjadi di berbagai daerah dalam menghadapi serbuan Patih Gadjah Mada, pasukan yang sudah lelah akibat perang berkepanjangan, dan dirinya yang sudah dicap sebagai pemimpin yang tidak setia pada janji sendiri. Namun demi semangat persatuan dan kesatuan yang lebih besar lagi, yakni kesatuan nusantara di bawah perintah Patih Gadjah Mada, Beliau rela melakukan hal tersebut. Bagai terkena pengaruh Bajra atau Vajra yang dibawa oleh Patih Gadjah Mada. Dan meminta Patih Gadjah Mada mengakhiri hidupnya, kemudian mempersatukan nusantara menjadi suatu kesatuan nusantara. Bhargawa atau Pengentas Arug yang dimiliki oleh Kriyan Pasung Grigis, menjadi perlambang penghancur kegelapan, sisi duniawi yang negatif, membuka jalan ke arah kebaikan, dan ditempatkan di Pura Dalem, dipergunakan terutama pada saat terkait dengan upacara kematian, kremasi atau pelebon.

Belajar dari semangat Kebo Iwa, Patih Gadjah Mada, dan Patih Mangkubumi Kriyan Pasung Grigis dengan beragam senjata yang beliau miliki, masing-masing memiliki makna dan tujuan penggunaan. Hal ini menguraikan bahwa setinggi apapun jabatan, kekuatan dan kesaktian yang kita miliki, sehebat apa pun peralatan yang kita punyai, secanggih apapun manfaatnya, semua harus dipergunakan demi tujuan bijak dan baik. Bajra atau Wajra, Bhargawa, juga Pengentas Arug, merupakan simbol dewata penghancur kegelapan, pembuka jalan menuju terang, bersih, suci, sehingga manusia bisa mencapai tahapan kehidupan yang lebih baik, lepas dan terbebas dari ikatan duniawi.

Riohelmi menjelaskan bahwa disaat kremasi berlangsung, ada rangkaian upacara dimana ritual senjata yang disebut dengan “Pengentas Arug” dipergunakan untuk membuka peti mati




Selasa, 23 April 2019

Bakti Sosial di Jembrana saat Hari Kartini, dan Paskah, 21 April 2019




Yoga-sthah kuru karmani sangam tyaktva dhananjaya (Bhagawadgita II : 48)
Yoga tidak selalu berarti melakukan tapa, brata, dan semadhi. Yoga dapat berarti melakukan kewajiban atau pekerjaan yang seimbang dalam beragam aktivitas kehidupan kita masing-masing. Terlepas dari keberhasilan atau kegagalan, kita tetap harus berusaha dan berjuang melakukan kewajiban dan pekerjaan tersebut.


Dan, inilah yang kami lakukan terkait dengan swadharma kami masing-masing. Setelah kunjungan pertama tanggal 2 April 2019, dengan membawa bantuan berupa sembako bagi empat orang bersaudara kakak beradik di Banjar Biluk Poh, Desa Tegal Cangkring, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, kali ini kami datang untuk mempersiapkan kamar mandi sederhana bagi mereka. 








Kami datang dari beragam latar belakang pekerjaan, jabatan, usia, tingkat pendidikan, jenis kelamin. Namun bukan itu yang utama. Yang terpenting adalah niat suci tulus dan ikhlas, bekerjasama, bahu membahu dalam mewujudkan visi dan misi Yayasan Jaringan Hindu Nusantara. Dengan beragam bahan atau peralatan yang bisa kami berikan, entah fisik atau materi, doa, menghibur dengan lagu juga permainan suling dari Cokorda Gede Widhi Adnyana. 


Ada kayu kamper yang bisa dipergunakan bagi rusuk atap kamar mandi yang menurut rencana kami bangun hari ini. Juga genteng dari Bapak Nyoman Matra, yang kami sebut dengan Ki Matra. Ada triplek dari Bunda Ayu dan Ajik Anom atau bapak AA Anom Binarka. Pintu untuk kamar mandi sumbangan dari Bapak Gede Artayasa. Makanan olahan Bunda Ayu, Bunda Nengah Jegeg, dan Bunda Ratu atau Bu Desak S. Rejeki, telur asin dari Bunda Agung Parwati. Ku persiapkan seperangkat seragam sekolah juga pakaian bersembahyang bagi si bungsu, Ni Ketut Setiawati. Juga perangkat bersembahyang bagi para kakak lelakinya, Putu Agus, Kadek Budi dan Komang Juliastika. Punia dana dari Bunda Arie Melanie, Bunda Putu Suharningsih dan YJHN. Transposrtasi dan tenaga ahli arsitek dan pertukangan dari Ajik Agung Made Surya, Pak Putu Budiana,  Pak Ketut Suja, Pak Komang Arya. Juga para Bunda Ayu, Bunda Krisna, Bunda Rangga, Bunda Kadek Kartika, mBak Ade Asry. 



Cinta adalah, ketika tidak perlu alasan kecuali menjalani kehidupan dengan penuh bersemangat. Dan inilah yang bisa kami lakukan. Wujud nyata beragam aktivitas dalam kehidupan bermasyarakat, kearifan lokal dalam bentuk perilaku yang bermakna sosial dalam kebersamaan “menyamabraya”, hidup rukun dan damai penuh persaudaraan. Sikap menyamabraya ini merupakan pengamalan ajaran Hindu “Tat Twam Asi” yang berarti Engkau adalah Aku. Hidup rukun, bergotongroyong, bekerjasama, saling menghormati hak asasi seseorang sebagai wujud penegakan hak asasi manusia. 


Kami bersama mengangkat batako, mengaduk bahan cor tembok, menggelindingkan buis untuk bahan penampungan kamar mandi, memindahkan kayu triplek, menyusun rangka kayu, dan mempersiapkan minuman teh dan kopi panas, serta makanan untuk dinikmati bersama. Tidak bisa tuntas dalam waktu sehari, kami akhiri saat waktu menunjukkan pukul enam sore. Tinggal sedikit finishing lagi, sebelum kamar mandi sederhana berukuran 2 X 1,5 M2 ini bisa dipergunakan.


Inilah lambang cinta, sederhana namun bermakna. Menebar damai bagi semua umat manusia dengan cara dan gaya yang kami bisa. Kali ini, cinta bagi kakak adik empat bersaudara yatim piatu, di Banjar Biluk Poh, Desa Tegal Cangkring, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, pada hari Minggu, 21 April 2019, bertepatan dengan Hari Kartini, Hari Suci Paskah, kami melakukan Bakti Sosial Bersama…..