Rabu, 30 Mei 2018

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan






(Agus Cipta Susila)
Kawisesan  iraga nyalanang dharma, nenten pacang ical antuk adharma.
Kawisesan iraga nambakin indria, nika dados anggen tamian ten nemu sengkala.......





Rahajeng Galungan lan Kuningan majeng ring semeton sami sane wangiang titiang…..
Ngaturang suksma ring manah,
Majeng ring Ida Sang Hyang Widhi Wase,
Sane sampun ngicenin galah sane pinih becik antuk irage sami tetep ngrastiti bhakti…..
Nunas pemargi selantang tuuh, irage ne ngurip tuah nyalanin dharma……

Sabtu, 19 Mei 2018

Pameran Retrospeksi Galang Kangin di Bentara Budaya, 13 Mei sampai 21 Mei 2018





Karena budaya membentuk pribadi yang lembut dan peka terhadap berbagai situasi, menghargai estetika seni, kehalusan rasa, mengembangkan  pola yang beragam dalam berkarya, dan memperluas tematik yang kita punya sehingga menjadi semakin kreatif”. Santidiwyarthi, 19 Mei 2018.





“Kami semua beranjak dari kegelisahan mendalam, atas rasa luka, karena ulah manusia yang terus menerus merobek-robek seisi muka bumi. Ini lah dampaknya, jika ucapan tidak sesuai lagi dengan tindakan, jika yang ada hanya wacana-wacana belaka, tanpa perencanaan matang, dan tanpa tindakan pengawasan yang berlangsung terus menerus”. Ujar Dewa Gede Soma Wijaya, dalam diskusi singkat jelang pembukaan Pameran kali ini.



Sebelumnya Komunitas Seni dan Budaya Galang Kangin mengadakan Pameran yang bertempat di Museum Neka, selama satu bulan, dari tanggal 24 Februari hingga 24 Maret 2018, juga dalam rangka memperingati keberadaan mereka selama 22 tahun. Saat itu Pameran bertahuk “On Becoming” melibatkan 42 karya seni rupa dari 15 seniman, sekaligus peluncuran buku dengan judul sama “On Becoming”, sebagai penanda 22 tahun berdirinya Komunitas Seni ini. Kali ini Pameran oleh Komunitas Seni Galang Kangin mengambil topik Retrospeksi, diadakan di Bentara Budaya,  dari hari Minggu, tanggal 13 hingga Senin, 21 Mei 2018. Melibatkan 36 karya seni dan rupa dari 16 seniman.
Seniman yang terlibat kali ini, di antaranya, Made Supena, Dewa Gede Soma Wijaya, I Nyoman Diwarupa, Sudarwanto, I Made Galung Wiratmaja, I Made Gunawan, Wayan Setem, Nyoman Ari Winata, Wayan Naya Swantha, Made Sudana, I Putu Edi Asmara, AA Eka Putra Dela, Ni Komang Atmi Kristyadewi, I Ketut Agus Murdika, I Made Ardika.



Pameran ini dibuka oleh Prof. Dr. I Made Bandem, MA., pada hari Sabtu, 12 Mei 2018, pukul 18.30, dihadiri oleh penikmat seni dan budaya. Turut memberikan kata sambutan, Warih Wiratsana selaku pengelola Bentara Budaya, Bapak Made Supena selaku Pimpina Komunitas Seni Galang Kangin, dan Bapak Hardiman, Kurator Seni dan Dosen Seni Rupa dari Undhiksa. 

Prof. Dr. I Made Bandem, MA menyampaikan bahwa seni bukan hanya sekedar sebuah karya saja, namun juga merefleksikan jati diri penciptanya, memberikan retrospeksi berbagai pihak terkait menyangkut beragam proses hingga sebuah karya tercipta, memperlihatkan rasa, estetika, bentuk dan corak ragam, dan tema dari berbagai karya itu sendiri. 



Pimpinan Komunitas Seni Galang Kangin, Made Supena, menjelaskan bahwa pameran ini mengambil tajuk Retrospeksi, karena sungguh, 20 tahun lebih, bukan hal mudah mempertahankan keberadaan sebuah kelompok. Berbagai terpaan dan tempaan telah membuat komunitas ini menjadi sosok yang dewasa, dan perlahan diakui keberadaannya, sehingga sukses mengadakan rangkaian pameran, baik di Bali hingga di luar Bali, bahkan, hingga ke luar negeri. 



Pengelola Bentara Budaya, Warih Wisatsana, menjelaskan bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik dalam menghasilkan sebuah karya seni, maupun dalam mengapresiasi karya seni tersebut. Dan, sepanjang perjalanan keberadaannya, Komunitas Seni Galang Kangin telah mampu memperlihatkan kualitas kemampuan dari para seniman yang bergabung di dalamnya. Proses ini menjadikan retrospeksi tiada henti dari semangat mereka selama ini.



Pemilik Museum Neka, Pande Wayan Suteja Neka, yang turut hadir pada Pembukaan Pameran Retrospeksi menjelaskan, sebuah karya, tidak hanya mencerminkan jiwa sang pembuat karya tersebut, namun juga menggambarkan jiwa sang penikmat seninya, menjadi ajang berkomunikasi pembuat dan penikmat, menggambarkan titik temu nilai-nilai estetika dan pola juga tema dari berbagai karya yang ada, dari pembuat dan para pengamat serta penikmatnya. Jika sesuai dan tercapai titik temu, akan tercapai kepuasan dan kebahagiaan.

Begitu memasuki area halaman Bentara Budaya yang dipergunakan memamerkan hasil karya Dewa Gede Soma, terlihat rangkaian karya seni instalasi. “Ini merupakan studi saya terkait rusaknya bumi karena ulah manusia, yakni daerah tambang pasir di Sebudi, Karangasem”, ujar Dewa Gede Soma.



Masuk ke bagian dalam gedung pameran, terlihat 36 hasil karya seni dan rupa dari 16 seniman yang berasal dari rentang waktu karya sepanjang tahun 1996 hingga 2018. Sebagian besar menunjukkan kegelisahan terhadap situasi kehidupan masyarakat, tentang keinginan terlibat, berperan serta secara aktif, dengan cara mengekspresikan melalui beragam bentuk seni dan rupa yang dipamerkan kini.

Jumat, 18 Mei 2018

SBMPTNPAR 2018 (Dua)




Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri Pariwisata 2018. Kamis, 17 Mei 2018. Gedung Rebab. Lantai 2. 

Putu panggilannya. Nama lengkapnya I Putu Ariska Jayadi Putra. Dia tamatan SMK Perhotelan, namun memilih Program Studi Usaha Perjalanan Wisata dan Manajemen Konvensi dan Acara. “Saya ingin kenal dunia pariwisata yang lebih luas lagi. Saya ingin berjalan-jalan sambil bekerja, dan membuktikan kemampuan saya pada bidang pariwisata. Tidak cukup hanya paham tentang hotel, namun juga mengenali berbagai budaya di seluruh negeri, sehingga bisa membuat pariwisata kita semakin baik dari hari ke hari”. Ujar Putu dengan mantap.

Setelah mengikuti Seleksi Bahasa Inggris pada hari Selasa, 15 Mei 2018, dan Tes Psikologi pada hari Rabu, 16 Mei 2018. Seluruh peserta SBMPTNPAR 2018 di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali mengikuti Tes Wawancara pada hari Kamis atau Jum’at, 17 Mei atau 18 Mei 2018. Terdapat 47 tim pewawancara pada 45 ruang kelas, yang masing masing terdiri dari dua hingga tiga orang, pada hari Kamis, 17 Mei 2018, dan 43 tim pewawancara pada 41 ruang kelas yang terdiri dari dua hingga tiga orang, pada hari Jum’at, 18 Mei 2018. pada masing-masing kelas terdapat 16 peserta.



Dan hari ini, Jum’at, 18 Mei 2018, kembali kutemui anak anak era milenial, anak-anak jaman kekinian, yang penuh pemahaman terhadap potensi dirinya, menyusun rencana bagi masa depannya, serta penuh semangat untuk berjuang bersama demi masa depan yang semakin baik lagi …….

Ada Abdurrahman Putra Wienantyo Selamat. Bapaknya alumni STP Nusa Dua Bali Program Studi Tata Hidangan, yang berkali berangkat ke kapal pesiar, sekarang bisnis tanaman bonsai ke seluruh nusantara. Ibunya juga alumni STP Nusa Dua yang masih bekerja di salah satu hotel di kawasan Nusa Dua. Dia juga sudah terbiasa mengambil kerja sebagai daily worker di berbagai hotel. Tidak diragukan lagi, dia sudah paham mengenai dunia perhotelan. Ah, benar-benar pribadi yang sudah siap memasuki jenjang pendidikan dan pengalaman selanjutnya dalam bidang pariwisata.



Berikutnya ada pula Putu Ditha Tilottami Upaningtyas yang tamatan SMAN 7 Denpasar. “Nama saya berarti bidadari, diambil dari kisah tantric”, ujarnya sambil tersenyum manis…. Dia sudah terbiasa bepergian ke luar negeri. Bapaknya yang berusaha di bidang travel agent sangat mendukung niatnya untuk lanjut pada dunia pendidikan pariwisata dan perhotelan. Memang, dukungan dari pihak keluarga sangat memotivasi pula bagi keberhasilan anak dalam memasuki jenjang berikut pada pendidikan. Doa restu orangtua dan keluarga akan memberi motivasi tinggi dan meningkatkan kepercayaan anak dalam menjalani hidupnya, sehingga memperlancar usaha dalam berbagai aktivitas terkait pengembangan pendidikan di tahap selanjutnya pula.

Selanjutnya ada I Made Baskara Aria Marta. Berasal dari keluarga yang juga memiliki usaha terkait pariwisata, memiliki galeri di Uluwatu, dan sudah terbiasa ikut terlibat dalam bekerja, menjalin kontak dengan wisatawan, sudah tentu merupakan modal positif bagi Made untuk mengembangkan prestasi di masa depan. Teruslah kepakkan sayap-sayapmu, jangan ragu atau malu dalam berusaha, pastikan bahwa engkau juga bias bersaing dan kembangkan semua potensi dalam diri.



Kuamati pula si Gede, I Gede Denisa Arjana, yang berkali-kali terpilih menjadi Danton Sarbagita, Komandan Peleton terbaik se Denpasar – Bangli – Tabanan. Bapaknya yang merupakan alumni STP Nusa Dua, pekerja sektor pariwisata, kini bergerak di dalam dunia pendidikan pariwisata, dan ibu yang juga alumni STP Nusa Dua, masih aktif bekerja di salah satu hotel di Nusa Dua. Sudah tentu modal disiplin diri dan kemampuan bekerja akan membuatnya bisa menjalani hari-hari perkuliahan dengan baik pula.

Ada pula Bianda Elsika yang tidak lagi memiliki bapak, ibu dalam kondisi sedang sakit. Namun tatapan wajahnya memperlihatkan tekad bulat dalam mengembangkan jati diri dan melanjutkan pendidikan di dunia pariwisata serta perhotelan. Ada Sabrina Wella Saakqina yang sudah terbiasa bepergian, suka masak dan makan, dari orangtua yang pengusaha travel agent. Ada Yarra Riva Phambudi yang memilih program kuliner karena ingin mengembangkan potensi di bidang makanan terkait dunia perhotelan. Ada Ni Nyoman Elsa Cahyani Ariani Putri SP, si juara nyanyi yang sudah memetakan dengan jelas rencana di masa depan terkait jenjang karir yang akan diraihnya. Ada I Komang Gita Purusotama yang berasal dari Gianyar dan bapaknya sedang terbaring sakit, memiliki sanggar seni tari Mekar Sari di rumahnya…..

Yang terakhir kami wawancarai di ruang 101 Gedung Lontar B adalah Apriedho Ndaku Larak. Seorang pemuda dari Desa Bajawa, Waingapu, Sumba Timur. Niat merantau jauh, meninggalkan kampung halaman menimba ilmu, mengembangkan potensi diri dan meraih prestasi, untuk selanjutnya kembali ke daerah asal, dan mengabdi di sana, membuatnya layak diapresiasi…..

Mereka semua hanyalah sebagian dari ribuan anak-anak jaman now, demikian mereka menyebut istilah mereka, yang jauh berbeda dengan era terdahulu. Mereka memiliki visi dan misi tegas mengenai masa depan mereka, sudah memetakan dari awal, ingin jadi apa dan bagaimana langkah mewujudkan cita-cita dan harapannya. Mereka berasal dari berbagai pelosok nusantara, bersaing bersama dalam SBMPTNPAR 2018 ini, pada ke enam UPT yang ada, dan memilih lokasi perkuliahan mereka kelak, dengan berbagai alas an tersendiri pula.

Para ahli menjelaskan bahwa generasi milenial kelahiran tahun 1980 sampai 2000 ini merupakan generasi yang dikaitkan dengan teknologi digital dan modern. Era kini, teknologi tidak lagi bias dipisahkan dari kehidupan manusia jika dibandingkan dengan cara tradisional yang dianggap rumit. Generasi masa kini terikat dengan gadget seperti smartphone, tablet, dan teve, terkait dengan internet dan media social yang menjadi salah satu kebutuhan utama remaja milenial. Sementara sebagian generasi tua mencap mereka dengan stereotype sama, seperti malas, manja, narsis, cuek dengan keadaan di sekelilingnya, lebih terfokus pada media social yang mereka miliki, mengejar merek atau brand tertentu terkait dengan pencitraan diri yang cenderung demi mendapat pengakuan orang lain maupun follower nya. Namun sesungguhnya generasi milenial ini menggunakan internet, jejaring social, dan media social yang mereka miliki sebagai ajang kreativitas, membangun jejaring komunikasi dan koordinasi tanpa batas, dan mengembangkan peluang yang sangat besar, dimana mereka semua berperanaktif, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, proses evaluasi dalam berkarir dan berbisnis. Hal ini yang membuat para remaja milenialis memiliki peluang lebih tinggi dari generasi sebelumnya untuk berkarya.

Mereka semua adalah anak-anak masa kini, yang tidak suka diatur atau dipaksa tanpa penjelasan logis, karena mereka pribadi yang kritis, dengan niat ingin tahu yang begitu besar, dan tingkat kemandirian yang mengagumkan. Berbagai lompatan perbedaan ini bukan merupakan sebuah hal yang harus ditakuti kita. Mereka sudah tahu batas kemampuan diri mereka sendiri, mereka paham siapa diri mereka, menentukan visi dan misi dalam hidup, dan menyusun rencana kerja mereka secara bersama, bergerak bersama, dalam berbagai perbedaan. Mereka adalah pribadi yang dinamis, sosok yang selalu resah untuk mencari tahu, untuk menganalisis, dan menemukan jawaban sesuai dengan cara dan gaya mereka.

Selamat datang, anak-anakku sayang……. Kalian semua pemilik masa depan. Bangga padamu semua. Buktikan semua potensi dalam diri kalian, jaga selalu semangat perjuangan, jaga selalu kebersamaan, juga kerja sama di antara kalian semua…..