Minggu, 24 November 2019

UGM dan Munas XIII Kagama, di Grand Inna Bali Beach, Bali, 14-17 November 2019



UGM dan Munas Kagama XIII (3)
Ini merupakan bagian dari Trilogi tulisan tentang UGM, 1. UGM dan Sejarah Berdirinya, 2. UGM dan Kagama, dan 3. UGM dan Munas Kagama XIII.

Munas XIII Kagama pada tanggal 14-17 November 2019 berlangsung di Bali, di Grand Inna Bali Beach. Ketua Umum Panitia Munas XIII Kagama sekaligus Sekjen PP Kagama adalah AAGN Ari Dwipayana, Ketua Panitia Harian Munas XIII Kagama, IGNA Dyatmika. Seminar dihadiri oleh 1.000 peserta dari berbagai kalangan, baik peserta Munas, kalangan cendekiawan, tokoh masyarakat, budayawan, ekonom, dan wakil dari berbagai SPD pemerintahan di Bali. Munas XIII Kagama dihadiri oleh 621 peserta Munas pemegang mandat dari berbagai Pengurus Daerah dan Pengurus Cabang Kagama di seluruh Nusantara. Pelaksanaan Munas XIII Kagama juga didukung penuh Ketua Pengda Kagama Bali, AAG Oka Wishnumurti.

Terkait dengan Munas XIII Kagama, dilaksanakan serangkaian Seminar bertajuk SDM dalam rangka menjaring ide, konsep pembangunan dan pengembangan aspek SDM yang kreatif, yakni di Medan, Semarang, Manado, dan Balikpapan, terakhir di Bali, tanggal 14 November 2019.


Seminar I di Museum Ronggowarsito Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 22 Agustus 2019. Seminar ini bertemakan “Pendidikan Bangsa dalam Menyiapkan SDM Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0”, menghadirkan pembicara Wikan Sakarinto (Dekan Sekolah Vokasi UGM), Retno Listyarti (praktisi pendidikan dan juga anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia/KPAI), Gita Gutawa (artis dan entrepreneur seni), Mahfud MD (Mantan Ketua MK dan kini menteri).

Keberadaan Kagama pada era milenial Industri 4.0 merupakan suatu situasi periode dengan kecenderungan otomatisasi dan pertukaran data yang mencakup cyber – physics, Internet of Things (IoT), cloud computing, dan cognitive computing.

Seminar II di Hotel Grand Senyiur Balikpapan, Kalimantan Timur pada tanggal 7 September 2019. Seminar ini bertemakan “Ketenagakerjaan dan Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0”, dengan pembicara utama Menteri Ketenagakerjaan RI: Mohammad Hanif Dhakiri, beserta pembicara: Bambang Satrio Lelono, Wahyu Susilo, Aji Erlangga, Sukamdi.


Seminar III di Manado, Sulawesi Utara, Kamis 19 September 2019, bertema: Kesehatan Indonesia Menghadapi Industri 4.0” dengan pembicara utama:  Menteri Kesehatan: Nita Djuwita Farid Anfasa Moeloek, pembicara: Achmad Noeroel Cholis, Krisnajaya, Budiono Santosa, dan Prih Sarmiano.


Seminar IV di Ballroom Adimulia Hotel, Medan, 3-5 Oktober 2019, bertajuk “Inovasi dan Disrupsi Industri 4.0, Smart City menuju Industri 4.0, dan Enterpreneurship dan Ekosistem menuju Industri 4.0. Terkait dengan pelaksanaan Seminar dan juga jelang Munas XIII ini, Kagama Sumut tidak hanya menyelenggarakan kegiatan Seminar, namun juga penyelenggaraan Pameran dan Expo, Lomba Inovasi dan Penelitian.








Seminar V di Bali yang terlaksana pada tanggal 14 November 2019, bertajuk “Kesiapan Sumber Daya Manusia Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0”, menghadirkan pembicara Panut Mulyono (Rektor UGM), Faisal Basri (Dosen FE UI), Prof. Raka Sudewi (Rektor UNUD), Hendri Saparini (Ekonom Core Indonesia), dan Adamas Belva Syah Devara (CEO Ruang Guru).







Munas XIII ini telah menghasilkan konsolidasi organisasi dan konsolidasi gagasan dengan lancar. Konsolidasi organisasi dengan telah berhasil dipilihnya Ketua Umum Kagama periode 2019 – 2024, Ganjar Pranowo. Konsolidasi gagasan dengan telah berhasil merumuskan GBHK (Garis-garis Besar Haluan Kagama), juga menghasilkan 13 rekomendasi strategis menuju Indonesia Maju, yakni: Isu terkait bonus demografi, Pembangunan mental dan Karakter, Konsolidasi sistem demokrasi, Pemberantasan korupsi, serta Peran Perempuan dan Anak Muda. GBHK dan 13 rekomendasi ini merupakan bentuk peta jalan bagi organisasi maupun pemerintah kelak dalam bersinergi membangun bangsa dan Negara RI tercinta.

Isu terkait bonus demografi ini terjadi karena pada periode tahun 2025 – 2030, sebanyak 70 % penduduk Indonesia menempati posisi usia kerja puncak (20 – 50 tahun). Bonus demografi ini merupakan berkah dan modal pembangunan yang sangat penting. Namun bila tidak dikelola secara serius dan penuh ke hati-hatian, maka hal ini akan menjadi bencana. Ini bisa terjadi bila Indonesia gagal memperkuat SDM dan gagal menyediakan lapangan pekerjaan. 

Tantangan persaingan ekonomi yang kian keras hanya bisa dihadapi dengan kekuatan SDM. Hal ini membuat kita perlu memperkuat kualitas SDM sebagai suatu syarat kualitas sector ketenagakerjaan dari hulu hingga ke hilir, SDM yang menguasai emerging skill seperti artificial intelligent atau kecerdasan buatan, cloud computing atau komputasi awan, big data analytics atau analisis data berskala besar, dan internet of things atau semua serba digital dan internet, yang membuat dunia terus berubah, bergerak, bahkan kemapanan juga bisa runtuh, ketidakmungkinan bisa terjadi.

Hasil Munas XIII Kagama berupa 13 Rekomendasi berikut:
Rekomendasi pertama: Dalam menghadapi bonus demografi, Kagama mendesak pemerintah menyiapkan peta jalan (Roadmap) pembangunan SDM Indonesia yang bersifat lintas sektor, mulai dari bidang kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, sampai entrepreneurship. Roadmap bukan merupakan dokumen pajangan, namun memberikan panduan bagi semua kementerian dan lembaga terkait strategi dan rute pembangunan SDM yang akan ditempuh dengan tahapan yang jelas dan target yang terukur.

Rekomendasi kedua, Kagama melihat kunci untuk mencapai Indonesia Maju adalah keberhasilan pembangunan mental dan karakter bangsa. Berangkat dari hal tersebut, Kagama merekomendasikan berbagai langkah nyata dan sistematis untuk memperkuat karakter bangsa melalui pendidikan Pancasila, pendidikan berbasis nilai-nilai luhur ke Indonesiaan, serta pendidikan budi pekerti yang dilakukan dengan mengadopsi metode atau cara kekinian, sehingga nilai-nilai tersebut bisa tertanam, khususnya pada generasi muda.

Rekomendasi ketiga, Kagama menekankan pentingnya melanjutkan konsolidasi sistem demokrasi berjalan bersamaan dengan reformasi tata kelola pemerintahan yang kuat dan sehat. Terkait dengan hal ini, Kasgama merekomendasikan kepada Presiden untuk memastikan berjalannya agenda reformasi hokum dan reformasi tata kelola pemerintahan dengan capaian yang lebih terukur.

Rekomendasi keempat korupsi adalah musuh bersama yang menyebabkan pemiskinan, dengan segala dampak kemerosotan di berbagai bidang. Karena itu, Kagama terus mendorong upaya mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih dari KKN. Hal ini bisa dilakukan dengan memperbaiki system dan tata kelola pemerintahan yang berintegritas, akuntabel dan berkeadilan.

Rekomendasi kelima, Kagama mengingatkan bahwa Indonesia adalah Negara majemuk, beragam sisi suku, agama, bahasa, dan budaya. Oleh karenanya, sendi-sendi kebangsaan yang berdasar pada Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika harus dipertahankan dan diperkuat. Untuk mewujudkan ikatan kebangsaan yang kokoh, Kagama mengajak semua elemen bangsa dan seluruh anggota Kagama berperan aktif dalam merekatkan kerukunan, persaudaraan dan persatuan Indonesia.

Rekomendasi keenam, Kagama berpandangan bahwa dalam bernegara, selain konstitusi, dibutuhkan konstitusionalisme serta sikap yang konsisten untuk menjalankan konstitusi dengan konsisten.

Rekomendasi ketujuh, Kagama berpendapat desentralisasi dan otonomi daerah bukan hanya soal pembagian kewenangan, tetapi tanggungjawab untuk bisa mewujudkan kesejahteraan rakyat. Oleh karenanya, Kagama mendukung pemerintah untuk melanjutkan komitmen dalam membangun dari pinggiran, memperkuat pembangunan daerah dan desa. Karena hanya dengan melakukan penguatan daerah dan desa, penduduk desa dan daerah mampu menjadi penopang persatuan nasional karena menciptakan kemakmuran yang merata dan berkeadilan.

Rekomendasi kedelapan, kagama mengingatkan bahwa pembangunan ekonomi harus bersendikan pada kepentingan dan kekuatan nasional. Oleh karenanya, Kagama merekomendasikan agar pemerintah bukan hanya fokus untuk memperkuat daya tahan dan daya saing ekonomi Indonesia di tengah persaingan global. Namun juga memperhatikan esensi pembangunan ekonomi sebagai upaya menjawab kebutuhan rakyat dan meningkatkan kemampuan rakyat, sehingga mampu bersaing dalam bidang ekonomi. Haluan ekonomi kerakyatan harus menjadi jalan dalam menggerakkan eonomi nasional, dengan cara perbaikan secara terus menerus ekosistem usaha, memberdayakan sector UMKM, mendorong kewirausahaan, meningkatkan daya beli para pekerja serta melakukan lompatan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani dan nelayan. 

Rekomendasi kesembilan, Kagama berpendapat bahwa kunci dalam meningkatkan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat adalah strategi reformasi birokrasi yang tepat. Kagama menyarankan agar reformasi birokrasi bisa dipercepat, yang dilakukan secara sistematis, komprehensif, dan berkelanjutan. Kagama meyakini, reformasi birokrasi seharusnya mencakup struktur kelembagaan maupun kultur birokrasi. Reformasi birokrasi tidak hanya terkait pemangkasan struktur kelembagaan, namun seharusnya menyentuh kultur birokrasi yang di reformasi menjadi lebih responsive, membuka ruang berpartisipasi, dan berorientasi pada pelayanan masyarakat, sehingga kehadiran Negara beserta seluruh jajaran staf nya sangat dirasakan bermanfaat oleh rakyat.

Rekomendasi kesepuluh, Kagama mendorong Pemerintah senantiasa melakukan evaluasi efektivitas program penanggulangan kemiskinan dan program perlindungan sosial. Sehingga semua program tersebut betul-betul bisa menjangkau penerima manfaat, baik di pedesaan maupun perkotaan, dengan pendekatan yang tepat dan target-target terukur. Ukuran yang paling nyata dari keberhasilan program penanggulangan kemiskinan yaitu bisa menurunkan angka kemiskinan. Upaya serta tindakan nyata pemerintah tidak boleh hanya berhenti pada penurunan angka kemiskinan. Berbagai perencanaan program penanggulangan kemiskinan harus berjalan seiring dengan upaya peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, serta mendorong produktivitas rakyat, terutama di sektor industri kecil-menengah, pertanian, perkebunan dan perikanan.

Rekomendasi kesebelas, Kagama melihat dunia menghadapi ancaman bersama, yakni perubahan iklim yang sangat ekstrem. Karena itu, Kagama mengusulkan agar pemerintah lebih aktif lagi dalam melakukan kampanye dan diplomasi internasional dalam rangka penyelamatan lingkungan dan melindungi keanekaragaman hayati. Terkait dengan hal tersebut, pemerintah juga harus mengambil langkah serius dalam manajemen dan mitigasi risiko bencana lingkungan, mengendalikan laju deforesterasi dan degradasi ekosistem, serta mengajak semua komponen bangsa untuk mencintai lingkungan dan melestarikan alam.

Rekomendasi kedua belas, Kagama berpandangan bahwa perempuan adalah tiang negeri yang aktif terlibat dalam pembangunan bangsa. Oleh karena itu, Kagama merekomendasikan kepada Pemerintah untuk terus memperkuat komitmen perlindungan dan pemberdayaan perempuan serta mendorong perempuan terlibat aktif dalam berbagai sektor. Hal ini memberi dampak positif kekuatan perempuan aktif terlibat dan berperan dalam berkarya kreatif menggerakkan prestasi bangsa.

Rekomendasi ketiga belas, Kagama berpandangan bahwa Indonesia memiliki potensi generasi muda dengan talenta-talenta hebat yang bisa menjadi kekuatan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju. Karenanya, Kagama berpendapat diperlukan manajemen pengembangan bakat dan talenta di dalam negeri maupun diaspora yang tersebar di luar negeri, sehingga anak muda Indonesia mendapatkan ruang untuk tumbuh dan berkembang demi mendukung kemajuan bangsa.

Keseluruhan dari 13 Rekomendasi Munas XIII Kagama ini disampaikan kepada Presiden Joko Widodo yang saat ini juga tengah fokus melakukan reformasi struktural secara besar-besaran. Rekomendasi Munas juga menjadi panduan Kagama untuk terus melangkah, bergerak, berkembang. Kagama tidak hanya berdiam diri, berpangku tangan, melainkan bersinergi, berkolaborasi dengan semua elemen bangsa, bersama bekerjasama dan berusaha keras, teriring doa di setiap usaha, menuju Indonesia maju.

Kagama dan nama besar UGM sebagai kampus yang “Nguwongke”, memanusiakan manusia, dan kuat berakar pada budaya serta keberagaman nusantara, mengakar ke bawah, membumi namun menjunjung tinggi yang di atas, Yang Maha Kuasa. Berdiri pada tanggal 19 Desember 1949, berdasar PP No. 23 Tahun 1949 per tanggal 16 Desember 1949, mengenai Peraturan Penggabungan Perguruan Tinggi menjasi Universitas. Dahulu hanya memiliki enam fakultas, kini memiliki 18 Fakultas dan dua sekolah, yaitu Sekolah Vokasi dan Sekolah Pasca Sarjana, beserta lebih dari 100 Program Studi, termasuk S2, S3, dan Program Spesialis. Disamping itu, UGM juga memiliki 28 Pusat Studi yang memiliki tugas utama melakukan kegiatan penelitian untuk mendukung kegiatan pendidikan dan pengabdian masyarakat. Rektor pertama adalah Prof.Dr. M. Sardjito. Rektor UGM kini, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., berdasar data per tahun 2012, 37.611 alumni sarjana, 7.854 magister, 871 doktor. Data per tahun 2018 memperlihatkan jumlah 47.081 mahasiswa dan 4.468 staf akademik. UGM memiliki motto “Mengakar Kuat, Menjulang Tinggi”.

Sejarah panjang perjalanan Universitas Gadjah Mada semenjak tahun 1949 disaat awal, hingga kini sudah memasuki usia ke 70 tahun, pada tahun 2019, dengan ke enam belas Rektor meliputi sebagai berikut:
Rektor pertama UGM, Prof. Dr. M. Sardjito (1949-1961) berasal dari Fakultas Kedokteran
Rektor ke 2 UGM, Prof. Dr. Ir. Herman Johannes (1961-1966) berasal dari Fakultas Teknik
Rektor ke 3 UGM, drg. M. Nazir Alwi (1966-1967) berasal dari Fakultas kedokteran Gigi
Rektor ke 4 UGM, Drs. Soepojo padmodipoetro, MA. (1967-1968) berasal dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Rektor ke 5 UGM, Prof. Dr. Soeroso H. Prawirohardjo, MA. (1968-1973) berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Rektor ke 6 UGM, Prof. Dr. Sukadji Ranuwihardjo, MA. (1973-1981)
Rektor ke 7 UGM, Prof. Dr. Teuku Jacob, MS., DS. (1981-1986) berasal dari Fakultas Kedokteran
Rektor ke 8 UGM, Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, SH., ML. (1986-1990) berasal dari Fakultas Hukum
Rektor ke 9 UGM, Prof. Dr. Ir. Mohammad Adnan (1990-1994) berasal dari Fakultas Teknologi Pertanian
Rektor ke 10 UGM, Prof. Dr. Soekanto H. Reksohadiprodjo, M.Com (1994-1998) berasal dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Rektor ke 11 UGM, Prof. Dr. Ichlasul Amal, MA (1998-2002) berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Rektor ke 12 UGM, Prof. Dr. Sofian Efendi, MPIA (2002-2007 berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Rektor ke 13 UGM, Prof. Ir. Soedjarwadi, M.Eng., Ph.D (2007-2012) berasal dari Fakultas Teknik
Rektor ke 14 UGM, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc. (2012-2014) berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Rektor ke 15 UGM, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D. (2014-2017) berasal dari Fakultas Teknik
Rektor ke 16 UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng. (2017-2022) berasal dari Fakultas Teknik UGM.

Santi Diwyarthi, Alumni Fak. Psikologi UGM Tahun 1993
Politeknik Pariwisata Bali (dahulu Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua)
 
Referensi dari hasil riset studi literatur dan berbagai sumber

UGM, Kagama dan Munas (2)



Universitas Gadjah Mada, Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama), dan Musyawarah Nasional (Munas). Ini merupakan bagian dari Trilogi tulisan tentang UGM, 1. UGM dan Sejarah Berdirinya, 2. UGM Kagama, dan 3. UGM dan Munas Kagama XIII.

Gagasan membentuk organisasi persatuan para alumnus UGM timbul tahun 1956. Pada tahun ini mulai terselenggara berbagai pertemuan yang dilakukan alumni dari berbagai fakultas. Dalam peringatan Dies Natalis UGM tahun 1958 Ir. Suwarno (alm.) didesak Panitia Dies Natalis Dewan Mahasiswa UGM untuk mengambil inisiatif pertama menyelenggarakan musyawarah para alumnus UGM pertama dari berbagai kota tanggal 18 Desember 1958 di Yogyakarta. Dari musyawarah ini lahirlah organisasi “Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada” disingkat KAGAMA.

UGM merupakan induk semang, ibu pertiwi, yang melahirkan Kagama beserta beragam kreativitas dan aktivitas sivitas cerdas yang saling berkaitan satu sama lain. Munas merupakan suatu bentuk hasil dari kreativitas tersebut, sebagai sarana mempertemukan keluarga besar ini, melakukan konsolidasi internal dan eksternal, menjadi ajang saling bertukar informasi, teknologi, dan memperluas jejaring komunikasi dan juga kerjasama di antara berbagai organisasi, tidak hanya nusantara, namun pula global, tingkat dunia. 

Munas I Kagama terlaksana pada tanggal 18 Desember 1958 di Yogyakarta. Prof. Ir. Herman Johannes ditunjuk sebagai Ketua dengan Sekretaris Ir. Suwarno. Ciri-ciri KAGAMA juga berhasil dicetuskan dalam musyawarah itu, yaitu:
  1. KAGAMA adalah organisasi kekeluargaan bukan organisasi politik.
  2. KAGAMA berdiri di luar UGM, tetapi menjalin hubungan yang erat dengan UGM.
  3. Keanggotaan KAGAMA diperoleh secara pasif, yaitu seorang alumnus UGM otomatis menjadi anggota KAGAMA.
  4. Yang dimaksud UGM dalam hubungannya dengan KAGAMA, bukan saja UGM yang diresmikan pemerintah RI tanggal 19 Desember 1949 tetapi juga perguruan-perguruan tinggi yang lebih dulu ada sebagai embrio-embrionya yaitu:
    • Sekolah Teknik Tinggi berdiri tanggal 12 Februari 1946.
    • Perguruan Tinggi Klaten, berdiri tanggal 5 Maret dan 27 September 1946, meliputi sekolah Sekolah Tinggi Kedokteran, Farmasi dan Pertanian. Pendirian Fakultas-fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, Farmasi, Pertanian dan Kedokteran Hewan berdiri tanggal 1 Nopember 1949.
    • Pendirian Fakultas-fakultas Teknik Akademi Ilmu Politik oleh Yayasan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada.
    • Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada (swasta) berdiri tanggal 3 Maret 1946, dengan Fakultas Hukum dan Kesusastraan.
  1. Yang disebut sebagai alumnus UGM (anggota KAGAMA) adalah seseorang yang memiliki ijasah dari UGM, mulai dari propaedeuse sampai yang tertinggi, yaitu gelar Doktor dan Doktor Honoris Causa.
Munas II Kagama pada tanggal 19 Desember 1961 di Yogyakarta menetapkan Prof. Drs. Soempono Djojowadono sebagai Ketua Umum, sekaligus merencanakan pembuatan Anggaran Dasar Kagama yang berhasil ditetapkan pada tanggal 5 April 1962.

Rencana Munas III Kagama pada tahun 1966 di Jakarta tertunda karena pemberontakan G30S/PKI. Praktis selama 10 tahun tidak ada kegiatan berarti pada Kagama. Selama itu pula kepengurusan Kagama dipegang oleh Ir. Soewarno, hingga tahun 1973, Prof. Ir. Herman Johannes kembali menjadi Ketua Kagama. Pada tanggal 18 Desember 1975 di Yogyakarta diadakan pertemuan pendahuluan Musyawarah III Kagama yang memutuskan penyelenggaraan Munas III Kagama di Jakarta bulan Juli 1976. Namun karena kesibukan para tokoh Kagama jelang Pemilu, Pengurus Pusat Kagama memutuskan mengalihkan penyelenggaraan ke Surabaya.

Munas III Kagama berhasil diselenggarakan pada tanggal 5-8 Januari 1977 di Surabaya dan menetapkan Prof. Ir. Herman Johannes sebagai Ketua Umum, Prof. dr. Ismangoen sebagai ketua Yayasan Kagama Pusat. Dalam Munas III Kagama ini berhasil dirumuskan beberapa hal penting seperti :
1.  Perubahan Anggaran Dasar dan penyusunan Anggaran Rumah Tangga Kagama yang diserahkan kepada Pengurus Pusat Harian 
2.  Pembentukan Pengurus Pusat Kagama yang terdiri dari: Pengurus Pusat Lengkap, dan Pengurus Pusat Harian. 
3. Pembentukan Yayasan Kagama Pusat, yang pelaksanaannya diserahkan kepada Pengurus Pusat Harian. 
4.  Penyusunan Program Kerja Kagama periode 1977 – 1981 
5.  Pendirian Wisma Kagama di Yogyakarta sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan Kagama, guna mendorong pengembangan almamater.
 
Sejak tahun ini, kegiatan Kagama lebih tampak nyata dalam berbagai ruang dan bidang kehidupan di tengah masyarakat, baik di Pusat maupun di Daerah. Setiap Dies Natalis UGM, diselenggarakan rapat dan berbagai seminar juga pertemuan ilmiah yang hasilnya disumbangkan kepada masyarakat, pemerintah, juga almamater.

Pada Dies Natalis UGM 19 Desember 1979, sebagian dari gedung Wisma KAGAMA diresmikan oleh Prof.Ir. Herman Johannes, Bangunan ini terdiri dari 5 unit 7 m x 7 m di atas tanah 57 meter x 110 meter terletak di kawasan Bulaksumur, di Utara RS Pantirapih. Berbarengan pula setelah unit kecil Wisma KAGAMA Pusat ini, KAGAMA Surabaya membangun wisma di Surabaya.

Munas IV Kagama tanggal 19 – 21 Februari 1981 diselenggarakan di Jakarta, menetapkan Prof. Dr. Sukadji Ranuwiharjo, MA., sebagai Ketua Umum. Menetapkan pula Prof. Ir. Herman Johannes sebagai sesepuh Kagama. Munas IV Kagama dengan hasil penyempurnaan AD dan ART yang menyangkut Organisasi, Pengurus Pusat dan Daerah, serta Yayasan Kagama. Hal yang istimewa pula adalah Sumbangsih Ide dan Konsep Pemikiran Kagama untuk GBHN 1983.

Selama periode 1981 – 1985, kegiatan di daerah dan pusat cukup menonjol. Di daerah banyak berdiri cabang-cabang baru, terlebih lagi di Jawa Barat yang tahun 1985 ini menjadi pusat perhatian karena Munas V diselenggarakan di Bandung. Namun salah satu yang sudah lama diidam-idamkan seluruh warga KAGAMA adalah Wisma KAGAMA di Yogyakarta belum juga terwujud. Sampai sekarang masih terdiri dari 5 unit yang pernah diresmikan 19 Desember 1979.

Munas V Kagama berlangsung tanggal 18 – 20 Februari 1985 di Bandung menetapkan Ketua Umum Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, SH., ML., Drs. Hadori Yunus sebagai Sekr. Umum. Program kerja Pengurus Pusat Harian meliputi pembinaan organisasi, pembinaan komunikasi alumni, pembinaan hubungan dengan almamater UGM, pembinaan sarana fisik pengurus pusat, dan peningkatan kemampuan ilmiah anggota Kagama.

Hasil pelaksanaan program kerja adalah penyempurnaan AD dan ART ter tanggal 18 Desember 1986, konsolidasi Pengurus Cabang dan Pengurus Daerah Kagama, dan berhasil diselesaikan pembangunan Wisma Kagama dengan biaya 600 juta rupiah.

Munas VI Kagama pada tanggal 1989 berlangsung di Bali. Hal menarik dari Munas VI Kagama adalah realisasi dari rencana kerja rapi yang telah berjalan semenjak Munas V Kagama, beserta seluruh perkembangan, baik mencakup konsolidasi organisasi, dan kerjasama dengan berbagai pihak sebagai kebijakan eksternal. Konsolidasi organisasi berupa pembentukan Kagama Cabang, baik di dalam maupun di luar negeri. Hingga tahun 1992, Laporan Kagama menjelaskan sudah terbentuk 52 Pengurus Cabang Kagama yang tercatat, baik di dalam maupun di luar negeri. Kerjasama eksternal misalnya dengan Bank Duta terkait penerbitan kartu kredit Visa KAGAMA-BANK DUTA. Dengan Koperasi Asuransi Indonesia (KAI). Yayasan KAGAMA Pusat diorientasikan pada pemantapan organisasi dan pendukung dana bagi kegiatan KAGAMA, khususnya kegiatan PPH KAGAMA. Kegiatan di bawah Yayasan KAGAMA Pusat antara lain PT. COLIN dan PT Gada Mas yang berkedudukan di Jakarta. PT. Purna Gama yang meliputi koordinasi semua kegiatan Yayasan KAGAMA di Yogyakarta. Kegiatan di Yogyakarta antara lain pengelolaan Wisma KAGAMA, Percetakan, PT. Retracindo. Yang terakhir, Yayasan KAGAMA menanam saham 50 persen yang pada tanggal 15 Juni 1992 disahkan di Notaris.

KAGAMA kian berkembang, tidak hanya pada berbagai bidang kegiatan, namun juga dalam jumlah anggotanya. Tiap wisudawan kini mendapatkan kartu anggota. Dalam wisuda 19 Mei 1993, Rektor UGM Prof. Dr. Ir. Mochamad Adnan menyebutkan lulusan UGM tercatat 61.048 orang lulusan, 53.645 diantaranya lulusan program sarjana (S1) dan 212 doktor. Artinya, anggota KAGAMA, meski belum semua terregistrasi adalah sebanyak lebih dari 61 ribu orang.

Munas VII Kagama tanggal 1 – 3 Agustus 1993 di Banjarmasin menetapkan Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, SH., sebagai Ketua Umum. Munas VII Kagama bertemakan “Peningkatan Sumber Daya Manusia sebagai Faktor Strategis Pembangunan Nasional”, yang meliputi bidang Kepribadian, Profesi, dan Kelembagaan. Pada Munas VII Kagama ini disahkan usulan pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata di luar Jawa, atas permintaan Pemerintah Daerah dan Kagama Daerah Kalimantan Selatan, dengan menyelenggarakan kegiatan bakti sosial.

Hal unik dan menarik dari Munas VII Kagama adalah upaya konkret Kagama untuk meningkatkan partisipasi yang lebih nyata secara aktif, baik sebagai individu di dalam wadah Kagama, dalam pembangunan nasional. Program nyata tersebut mencakup program internal maupun program eksternal Kagama. Program Internal meliputi Konsolidasi Organisasi, yang bertujuan untuk pemantapan organisasi Kagama, meliputi Pembinaan Komunikasi dengan alumni UGM, Sistem Distribusi dan pendanaan Berita Kagama, Pembinaan hubungan dengan Almamater, Pembinaan sarana fisik, Peningkatan kesejahteraan alumni, Penjaringan Bibit Unggul Daerah, Pembinaan generasi penerus Kagama, Pengerahan dana, Dana pemeliharaan fakultas, Pembangunan permukiman Kagama berwawasan lingkungan di Yogyakarta, dan Peningkatan kemampuan ilmiah anggota Kagama. Eksternal mencakup Program Eksternal meliputi peningkatan pengabdian Kagama kepada masyarakat, bangsa, Negara dan kemanusiaan; dimulai dari Peningkatan Hubungan Kerjasama Kagama dengan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan Lembaga Swasta, serta Peningkatan Hubungan dengan alumni perguruan tinggi lain.

Munas VIII Kagama tanggal 23 – 26 Juli 1997 di Palembang menetapkan Prof. Dr. Koento Wibisono sebagai Ketua Umum. Seminar terkait Munas dengan topik “Pengabdian dan Profesionalisme pada Abad XXI” dalam bidang Profesionalisme, Cinta tanah air, serta Iman dan Taqwa, dalam menghadapi globalisasi.

Munas IX Kagama bulan Juli 2001 di Balikpapan menetapkan Prof. Dr. Ichlasul Amal, MA, sebagai Ketua Umum, Prof. Dr. Ir. Budi Wignyosukarto sebagai Sekr. Umum, dan Prof. Dr. Ir. Kapti Rahayu sebagai Bendahara Umum. Perkembangan menarik terjadi pada Munas IX Kagama saat ini, yakni terkait AD dan ART, struktur organisasi yang lebih simple dan praktis seiring perubahan status UGM menjadi Badan Hukum Milik Negara terhitung 2001.

Munas X Kagama, bulan Juli 2005 di Jakarta menetapkan Dr. Ir. Djoko Kirmanto, Dipl., HE., sebagai Ketua Umum, Wakin Ketum, Ir. Airlangga Hartarto, MT., Sekr. Umum, Ir. A. Hamid Dipopramono, Bendahara Umum, Ir. A. Sutjipto. 

Program ini cukup lengkap, mulai program Intern hingga program Ekstern. Program intern meliputi Konsolidasi Organisasi, program intern bertujuan untuk pemantapan organisasi KAGAMA yang meliputi Pembinaan komunikasi dengan alumni UGM, Sistem distribusi dan pendanaan Berita Kagama, Pembinaan hubungan dengan Almamater, Pembinaan sarana fisik, Peningkatan kesejahteraan alumni, Penjaringan Bibit Unggul Daerah, Pembinaan generasi penerus KAGAMA, Pengerahan dana, Dana pemeliharaan fakultas, Pembangunan Permukiman KAGAMA berwawasan Iingkungan di Yogyakarta dan Peningkatan kemampuan ilmiah anggota KAGAMA.

Program ekstern adalah dalam rangka meningkatkan pengabdian KAGAMA kepada masyarakat, bangsa, negara dan kemanusiaan; dimulai dengan Peningkatan hubungan kerjasama KAGAMA dengan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan Lembaga Swasta, serta Peningkatan hubungan dengan alumni perguruan tinggi lain.

Kesimpulan dalam seminar antara lain bahwa sukses pembangunan belum seluruhnya diikuti oleh pengembangan mutu sumber daya manusia. Masih perlu dikembangkan kepribadian pelaksanaan pembangunan yang memihak kepada upaya pengentasan sumber daya manusia dari kemiskinan.

Munas XI Kagama 24-25 Juli 2009 di Graha Sabha Pramana, Yogyakarta menetapkan Sri Sultan HB X sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Kagama periode 2009 – 2014. Sekjen Kagama adalah Prof. Dr. Ir. Budi, WS.  
Terkait dengan Munas XI, digelar Dialog Kebangsaan yang dihadiri oleh empat orang menteri yang juga merupakan alumni UGM, yakni Dr. Ir. Djoko Kirmanto, Dipl., HE., Ketua Umum PP Kagama sekaligus Menteri PU,  Menteri Kesehatan, Dr. dr. Siti Fadillah Supari, Mendiknas, Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA., Menpan, Drs. Taufik Effendi, MBA., termasuk calon wakil presiden, Boediono, yang juga merupakan alumni UGM.

Munas menghasilkan rekomendasi bagi pihak UGM yang diharapkan mampu meningkatkan keberadaan UGM sebagai universitas bertaraf internasional dan universitas riset berkelas dunia, dengan begitu banyak hasil karya dan pemikiran yang berkelas dunia. Mengingat bahwa semenjak tahun 1956 hingga 2009, Kagama sudah memiliki jumlah anggota lebih dari 200.000 orang, sebagai sebuah organisasi kekeluargaan yang bukan politik, namun tetap menjalin hubungan erat dengan UGM, dan keanggotaannya bersifat pasif.

Munas XII Kagama berlangsung tanggal 6-9 November 2014 di Makasar, Sulawesi Selatan, menetapkan Ganjar Pranowo sebagai Ketua Umum Kagama periode 2014-2019. Topik Munas XII Kagama bertemakan Revitalisasi Negara Maritim yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian. Munas XII Kagama dihadiri oleh Presiden RI, Joko Widodo, yang merupakan alumnus Fak. Kehutanan angkatan 1980, Ketua Umum Pengurus Pusat Kagama, Sri Sultan HB X. Ketua Panitia Munas XII Kagama, Prof. Dr. Ir. Sunjoto, Dipl. HE., DEA.

Momen penting dari kepengurusan periode ini adalah ditandatanganinya Nota Kesepahaman Bersama di antara pihak UGM, Kagama, Himbara (BTN, BNI, Bank Mandiri, BRI), dan BSM, beserta peluncuran kartu Gama Co – Brand pada hari Sabtu tanggal 12 Agustus 2017 di Balai Senat UGM Jogjakarta, meliputi Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., Ketua Umum PP Kagama Ganjar Pranowo, Dirut BTN, Maryono, Dirut BNI, Achmad Baiquni, Wadirut Bank Mandiri, Sulaiman Arianto, Dirut BRI, Suprajarto, Dirut Bank Syariah Mandiri (BSM), Kusman Yandi. 

Munas XIII Kagama pada tanggal 14-17 November 2019 berlangsung di Bali, di Grand Inna Bali Beach. Ketua Umum Panitia Munas XIII Kagama sekaligus Sekjen PP Kagama adalah AAGN Ari Dwipayana, Ketua Panitia Harian Munas XIII Kagama, IGNA Dyatmika. Seminar dihadiri oleh 1.000 peserta dari berbagai kalangan, baik peserta Munas, kalangan cendekiawan, tokoh masyarakat, budayawan, ekonom, dan wakil dari berbagai SPD pemerintahan di Bali. Munas XIII Kagama dihadiri oleh 621 peserta Munas pemegang mandat dari berbagai Pengurus Daerah dan Pengurus Cabang Kagama di seluruh Nusantara. Pelaksanaan Munas XIII Kagama juga didukung penuh Ketua Pengda Kagama Bali, AAG Oka Wishnumurti.

Santi Diwyarthi, Alumni Fak. Psikologi UGM 1993
Politeknik Pariwisata Bali (dahulu Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua)

Referensi: dari Hasil riset studi literatur dan berbagai sumber lain.