Selasa, 21 Oktober 2014

Hari Raya Saraswati dan Sang Guru : Pande Wayan Suteja Neka (4)






Hari Saniscara Umanis Wuku Watu Gunung, sebagai Hari Raya Piodalan Sang Hyang Saraswati, adalah sebagai hari pemujaan terhadap ilmu pengetahuan bagi umat Hindu.

Ilmu Pengetahuan merupakan jalan melangkah dalam kehidupan untuk menjadi semakin dewasa dan bijak. Ilmu pengetahuan yang digunakan bagi seluas-luasnya kepentingan mahluk hidup, kesejahteraan setiap umat di dunia.

“Siapa lagi yang akan menghargai budaya kita bila tidak kita sendiri?” Ujar Sang Guru suatu waktu. Hanya bangsa besar yang mampu mengakui, menghargai, merawat dan mengembangkan budaya leluhurnya. Ilmu pengetahuan akan saling melengkapi keberadaan budaya kita. Semakin tinggi ilmu pengetahuan yang dibarengi dengan semakin tinggi moral dan etika budaya, akan membantu bangsa dan Negara berkembang dengan semakin baik. Bangsa yang hanya mengutamakan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan tanpa dibarengi penghargaan terhadap budayanya, bagaikan bangsa yang tidak bermartabat, tidak memiliki pegangan dan pedoman dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegaranya.

Ah Guru….. Sungguh, kami membutuhkan bimbingan dan tuntunan mu selalu, belajar untuk menjadi manusia-manusia bijak, yang menggunakan segenap pengetahuan kami, demi kemuliaan budaya bangsa ini…… Terharu aku membaca dan merenungi surat beliau terkini yang kuterima…..



“Ibu Santi yang baik,

Petinget Tumpek Landep yg jatuh pada Hari ini, 18 Okt. 2014, sudah dirayakan sejak 15 s.d. 17 Okt. 2014, dengan pameran : Keris Pusaka Nusantara, di ruang pameran  temporer Museum Bali, Denpasar. Yang dibuka oleh bp. Wali Kota Denpasar. Saya pemilik Museum Neka hadir dalam kesempatan itu. Juga diluncurkan buku Jelajah Keris Bali seri - 2 : Proses Kreatif dalam dalam Pembuatan dan Perawatan. Buku seri- 1 sudah diluncurkan tahun lalu.

Juga di Neka Art  Museum dalam rangka Writter and Reader Festival yang juga ada mengambil tempat  di wantilan Neka Art Museum diluncurkan buku Understanding Balinese Keris : An Insider's Perspective by Pande Wayan Suteja Neka, translated and edited by Garrett Kam.

Ketiga buku diatas saya siapkan untuk melengkapi koleksi buku ibu Santi.
Datanglah bersama bapak Wayan, dan kita akan diskusi panjang lebar tentang budaya. Salam Seni dan Budaya !!!”. ”.



Aku terharu………
Spechless……..
Seorang Guru, mengetahui sejauh kebijakan ilmu pengetahuan. Dan aku tertatih, berusaha meraih mimpiku, menjadi seorang guru, yang patut ditiru dan digugu…… setidaknya, menjadi pribadi yang bermutu…….

Hari Raya Pagerwesi dan Sang Guru : Pande Wayan Suteja Neka (3)



Bhagavadgita, Adhyaya XIII, sloka 6-7 sebagai berikut.
“Maha bhutany ahankaro buddhir avyaktam eva ca Indriyani dasaikam ca panca cendriya gocarah”

“Iccha dvesah sukham duhkam sanghatas cetana dhrtih
Etat ksetram samasena sa vikaram udahrtam”

Artinya :
Lima unsur besar (panca mahabhuta), keakuan palsu (ahamkara), kecerdasan (buddhi), yang tidak berwujud (avyaktam), sepuluh indria (dasendriya) dan pikiran, lima objek indria, keinginan, rasa benci, kebahagiaan, duka cita, jumlah gabungan, gejala-gejala hidup, dan keyakinan-keyakinan -- sebagai ringkasan, semua unsur tersebut merupakan lapangan kegiatan dan hal-hal yang saling mempengaruhi dari lapangan kegiatan.

Upacara Pagerwesi juga merupakan manifestasi menjaga kesucian hati, jiwa dan pikiran dari belenggu beragam sisi negatif duniawi, selayaknya direfleksikan untuk memahami hakikat idep atau citta. Artinya, untuk mendapatkan pengetahuan rohani yang benar adalah benar untuk memahami terlebih dahulu seluruh kekuatan materi yang melingkupinya. Manusia yang berkesadaran tentu adalah mereka yang mampu membedakan antara “yang rohani” (hakikat) dan “yang materi” (instrumen/alat). Mengingat kegagalan dalam membedakan kedua aspek ini akan membawa manusia pada belenggu dualisme paradoks yang akan menghalangi sang atman menuju pembebasan sejati (moksa).



Terlahir pada tanggal 21 Juli 1932, Sang Guru pernah berkata……
“Hanya diri kita yang bisa membentengi diri dari berbagai benturan yang mungkin mengakibatkan kejatuhan kita sendiri.”

Lama….. Bertahun sesudahnya, baru kupahami makna kalimat tersebut. Budaya, Seni, Ritual, Pembimbing, bahkan seorang Guru yang selalu menjadi inspirasi di setiap langkah, hanya fasilitator yang membantu kita mengembangkan pola di setiap aspek kehidupan. Namun, diri kita sendiri, yang harus selalu menyaring, menjaga, mengembangkan pola yang pas dan sesuai bagi diri kita.

Hari Raya Pagerwesi jatuh setiap Rabu Kliwon wuku Sinta. Hari ini dirayakan untuk memuliakan Ida Sanghyang Widhi Wasa dengan manifestasinya sebagai Sanghyang Pramesti Guru (Tuhan sebagai guru alam semesta). Hari ini dirayakan mengandung filosofis sebagai simbol keteguhan iman, Pagerwesi berasal dari kata Pager yang berarti pagar atau pelindung, dan Wesi yang berarti besi. Pagar Besi ini memiliki makna suatu sikap keteguhan dari iman dan ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia, sebab tanpa ilmu pengetahuan kehidupan manusia akan mengalami kegelapan (Awidya).

“Kembangkan ilmu pengetahuan, perluas cakrawala pemikiran, jangan membatasi diri terhadap lingkungan dan masyarakat yang datang menghampiri, jangan pelit berbagi informasi, atau merasa takut tersaingi. Namun bentengi diri terhadap beragam gempuran yang membawa efek negatif. Waspada selalu ya”. Demikian Sang Guru menguraikan bimbingannya berkali-kali.

Ah Guru….. Bagaimana caranya?
Ritual di kala Pagerwesi, dengan melakukan ayoga semadhi, menenangkan hati dan melakukan sembah bhakti pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, melakukan widhi widhana atau menghaturkan sesembahan di Sanggah / Merajan / Pura.

Apa yang telah dilakukan oleh Sang Guru, Pande Wayan Suteja Neka, telah mengajarkanku, bahwa, terkadang, mencapai cita-cita membutuhkan perjuangan dan semangat tidak pernah kenal lelah. Sungguh, sebuah perjuangan berpuluh tahun, berkeliling melanglang buana, sebelum beliau dapat membuka sebuah museum seni dan budaya, Museum Neka, pada tahun di Ubud, mengumpulkan potongan sejarah, beragam benda seni dan budaya, sebelum beliau pada akhirnya diakui sebagai seorang Maestro Keris.  

Jika saja beliau tidak bersungguh-sungguh, tidak kukuh dalam sikap, tidak membentengi diri dengan semangat dan disiplin tinggi, mungkin beliau tidak dapat menjadi seorang maestro seperti adanya saat ini.



Pada saat Pagerwesi, umat hendaklah ayoga semadhi, yakni menenangkan hati serta menunjukkan sembah bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi. Juga pada hari ini diadakan widhi widhana seperlunya, dihaturkan dihadapan Sanggar Kemimitan disertai sekedar korban untuk Sang Panca Maha Butha. Pada hari ini kita menyembah dan sujud kehadapan Ida Sang Hyang Widhi, Hyang Pramesti Guru beserta Panca Dewata yang sedang melakukan yoga. Menurut pengider-ideran Panca Dewata itu ialah:

1. Sanghyang Içwara, berkedudukan di Timur
2. Sanghyang Brahma, berkedudukan di Selatan
3. Sanghyang Mahadewa, berkedudukan di Barat
4. Sanghyang Wisnu, berkedudukan di Utara
5. Sanghyang Çiwa, berkedudukan di tengah

Ekam Sat Tuhan itu tunggal. Dari Panca Dewata itu kita dapatkan pengertian, betapa Hyang Widhi dengan 5 manifestasiNya dilambangkan menyelubungi dan meresap ke seluruh ciptaanNya (wyapi-wiapaka dan nirwikara). Juga dengan geraknya itulah Hyang Widhi memberikan hidup dan kehidupan kepada kita. Hakekatnya hidup yang ada pada kita masing-masing adalah bagian daripada dayaNya. Pada hari raya Pagerwesi kita sujud kepadaNya, merenung dan memohon agar hidup kita ini direstuiNya dengan kesentosaan, kemajuan dan lain-lainnya.

Widhi-widhananya ialah: suci, peras penyeneng sesayut panca-lingga, penek rerayunan dengan raka-raka, wangi-wangian, kembang, asep dupa arum, dihaturkan di Sanggah Kemulan (Kemimitan). Yang di bawah dipujakan kepada Sang Panca Maha Bhuta ialah Segehan Agung manca warna (menurut urip) dengan tetabuhan arak berem. Hendaknya Sang Panca Maha Bhuta bergirang dan suka membantu kita, memberi petunjuk jalan menuju keselamatan, sehingga mencapai Bhukti mwang Mukti.

Senin, 20 Oktober 2014

Hari Raya Tumpek Landep dan Sang Guru: Pande Wayan Suteja Neka (2)





I.Hari Raya Tumpek Landep dan Sang Guru, Pande Wayan Suteja Neka

Upacara Tumpek Landep yang hadir setiap Saniscara Kliwon wuku Landep adalah pemujaan kepada Bhatara Siwa dalam manifestasinya sebagai Sanghyang Pasupati. Tumpek Landep terutama menjadikan senjata dan semua peralatan yang terbuat dari besi menjadi sthana Sanghyang Pasupati. 

Upacara ini merupakan wujud bhakti dan karma umat Hindu, baik sebagai sarana pemujaan, ucapan terima kasih, sekaligus permohonan kepada Hyang Widhi atas anugerah berupa peralatan dari besi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Namun demikian makna Tumpek Landep adalah landeping idep, yakni mengasah kekuatan idep (citta) dan berpuncak pada pengetahuan rohani mengenai pengendalian citta untuk mencapai jivanmukta.

Guru Pande Wayan Suteja Neka menuturkan (17 Oktober 2014), 
“Perlu saya sampaikan bahwa yang disebut Pusaka adalah :
- Sesuatu yang mempunyai arti dan makna yang terkandung didalamnya.
-Memiliki nilai historis.
-Merupakan warisan dari leluhur.

Apa makna keris Pusaka :
-Di Bali pada umumnya memandang Keris Pusaka itu sebagai keris pajenengan, simbol kekuatan leluhur dan alam semesta.
-Keris Pusaka adalah keris yang disakralkan melalui upacara pasupati sehingga mempunyai kekuatan/kesaktian dan mempunyai sifat kandel atau andalan sebagai pengameng-ameng.

Mengapa keris pusaka dipandang mewakili kepemimpinan berkarisma?.
Keris merupakan suatu benda sakral yang penuh dengan simbol-simbol yang mempunyai arti & makna yang sangat mendalam bagi kehidupan manusia.





Apa yang diuraikan Sang Guru menjelaskan bahwasanya dalam kehidupan masyarakat modern, perekmbangan teknologi tidak dapat terpisah dari kemampuan mengasah keselarasan diantara pikiran – budi – ego, cipta – rasa – karsa, kognitif – afeksi - konasi. 

Kekuatan citta yang terdiri atas pikiran (manah), kecerdasan (buddhi), dan ego (ahankara) dapat diarahkan menjadi spirit dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK). Manusia sebagai mahluk mulia yang diberi kemampuan berpikir dan mengolah rasa, menilai dengan disertai standar norma. Tumpek Landep bagi umat Hindu menjadi ritual untuk membangun kesadaran idep secara berkesinambungan dalam sistem makna yang selalu terbuka untuk didialogkan pada setiap zaman.


REFERENSI:
Geria, I Wayan. 2000. Transformasi Kebudayaan Bali Memasuki Abad XXI. Denpasar.
Magetsari, Noerhadi. 1986. Local Genius Dalam Kehidupan Beragama, dalam Kepribadian Budaya Bangsa, Jakarta: Pustaka Jaya.
Pendit, Nyoman S. 1994, Bhagavad Gita, Jakarta, P.T. Hanuman Sakti, Jakarta.
Suamba, I.B.Putu. 2007. Siwa-Buddha di Indonesia: Ajaran dan Perkembangannya. Denpasar: Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan bekerjasama dengan Penerbit Widya Dharma.
Sudharma, I Made. 2000. “Acara Agama Hindu”. Artikel. Disampaikan dalam Pelatihan Pemangku dan Sarathi Banten, Kanwil Agama Prov. Bali.
Sudharta & Punyatmadja, 2001. Upadesa. Surabaya: Paramita.
Sugito,ed. 2007. Jagat Upacara Mengungkap Realitas Sakral dan Profan. Yogyakarta: Gajahmada University Press.
Tim. 1989. Lontar Sundarigama: Teks dan Terjemahan. Pemerintah Daerah Tk. II Kabupaten Badung.
Yasa, I Wayan Suka. 2006. Teori Rasa: Memahami Taksu, Ekspresi & Metodenya. Denpasar: Penerbit Widya Dharma Bekerjasama dengan Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan Universitas Hindu Indonesia Denpasar.

Zaehner, R.C. 1993. Kebijaksanaan Dari Timur: Beberapa Aspek Pemikiran Hinduisme. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Minggu, 19 Oktober 2014

Sang Maha Guru : Pande Wayan Suteja Neka (1)





















Tumpek Landep, Pagerwesi, dan Saraswati ......

Ketiga hari bersejarah ini selalu mengingatkan aku pada Sang Guru..... Pande Wayan Suteja Neka. Tak dapat kuurai secara memadai menurutku sendiri, namun, Beliau begitu bersungguh-sungguh akan harga mati sebuah penghargaan terhadap leluhur, budaya, dan kreativitas abadi di bidang budaya.








”abdhir gatrani suddhayanti
manah satyena suddhyati
vidyatapobhyam bhuttatma,
buddhir jnanena suddhyati”

(Manawadharmasastra Bab V, sloka 109) 

Artinya:

Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran (satya), jiwa disucikan dengan pelajaran suci dan tapa brata, dan kecerdasan disucikan dengan pengetahuan yang benar (jnana).

Sloka ini menegaskan bahwa kita wajib senantiasa menjaga kesucian, baik fisik maupun psikis, jasmani atau rohani, jiwa maupun budi. Kesucian ini akan membantu mengembangkan kualitas diri manusia sehingga siap menghadapi kehidupan yang penuh kontradiksi nilai dan norma. 

Kekuatan diri ini juga menjadi syarat mutlak bagi manusia untuk memenangi berbagai kompetisi dalam kehidupannya. Dalam hal ini manah dan buddhi sebagai pembangun sistem pengetahuan manusia perlu diasah dan disucikan terus menerus dengan kebenaran dan pengetahuan yang benar. Oleh karena itu pendidikan menjadi bagian tak terpisahkan dalam pemaknaan terhadap upacara Tumpek Landep.

Seringkali orang merasa bahwa pemahaman dan kecerdasan yang dimilikinya sudah sangat tinggi, jauh melebihi masyarakat pada umumnya. Hal ini yang seharusnya diwaspadai, karena kesombongan dan keangkuhan akan menjadi titik awal kejatuhan dan kerapuhan.

“Jangan pernah sombong dan cepat merasa puas” Tutur Guru padaku. Teruslah mengasah ketajaman indra dan budi pekerti, demi kesucian dan kelangsungan eksistensi diri kita. 

Ah…… Betapa, Tumpek Landep, Pagerwesi, dan Saraswati, senantiasa menghantar ingatanku pada Sang Guru.








 Ayah beliau, I Wayan Neka (1917 – 1980), dikenal sebagai seorang tokoh seni patung yang mendapat penghargaan di bidang seni oleh pemerintah pada tahun 1960.  Sekaligus juga dikenal sebagai pembuat patung burung garuda setinggi 3 meter di pameran tingkat dunia di New York pada tahun 1964, dan juga patung sama setinggi 3 meter pada tahun 1970, di Osaka Jepang. 

Sebagai orang yang memiliki darah budayawan, melalui perjuangan panjang, keberhasilan beliau juga ditandai pada tanggal 7 Juli 1982 sebagai tanggal dibukanya Museum Neka, dan diresmikan oleh Dr. Daoed Yoesoef.

“Saya tidak akan pernah berhenti berkarya”. Ujar beliau dengan sepenuh semangat. Guru, saya berjanji, akan meneruskan semangat Sang Guru, kepada banyak orang, kepada ribuan, bahkan jutaan orang. Semangat untuk pantang menyerah kalah, meski penuh halangan dan rintangan di dalam kehidupan.

Terkadang. Hidup tidaklah mudah. Tidak seindah impian dan harapan yang kita inginkan. Tidak seperti angan yang kita cita-citakan. Terjatuh dan tersungkur berkali, bangkit kembali berkali dan berkali lagi…..