Jumat, 14 Mei 2021

Bhagawad Gita, Kidung Suci, Nyanyian Dewata, I : 10

 


Bhagawad Gita I: 10

 

Aparyaptam tad asmakam

Balam bhismabhiraksitam

Paryaptam tv idam etesam

Balam bhismabhiraksitam

 

“Our strength is immeasurable,

and we are perfectly protected by Grandfather Bhisma,

whereas the strength of the Pandavas,

carefully protected by Bhima,

with limited protection”

 

Kekuatan pasukan kita yang dipimpin oleh Bhisma,

Terlindungi tanpa batas jumlahnya,

Sedangkan pasukan mereka dipimpin oleh Bhima

Dengan pasukan terbatas.

 

Bila kita senantiasa mengeluh, lihatlah sekeliling kita, banyak orang yang jauh lebih menderita. Banyak orang memiliki keterbatasan juga. Kita patut bersyukur atas setiap rejeki, setiap anugerah kesehatan yang dimiliki. Tidak baik memelihara iri dan dengki. Berusaha, meski sekecil apapun. Situasi yang kali ini sungguh berat, membuat kita terluka dan sakit hati, sedih karena terlupakan, kehilangan orang yang dikasihi, lapar dan haus tiada terkira. Kita tetap harus bergerak maju. Suka atau tidak, siap atau tidak, hidup akan senantiasa bergulir…….

Bhagawad Gita, Kidung Suci, Nyanyian Dewata, I : 9

 


Bhagawad Gita I: 9

 

Anye ca bahavah sura

Mad – arthe tyakta – jivitah

Nana – shastra – praharanah

Sarve yuddha – visaradah

 

“There are many other heroes,

Give their live to your glory,

They are well equipped with weapons,

Experienced warrior”

 

Terdapat banyak ksatria tangguh dan terlatih,

Berpengalaman dalam berbagai pertempuran.

Dilengkapi dengan berbagai senjata,

Dan siap mengorbankan hidup bagi kejayaanmu”

 

Banyak orang yang hebat, namun terkadang dibutuhkan jalinan organisasi dan kerjasama

Dalam menghasilkan suatu karya positif. Gunakan berbagai potensi yang kita miliki, tidak perlu ragu atau malu. Bila terjatuh dan terpuruk malu, tidak bisa bergerak maju, tetap berharap, berdoa, memohon bantuan dari orang terdekat, kemudian bangkit berkerak kembali. Perlahan demi perlahan, tegakkan harga diri untuk senantiasa berbuat baik…..


Bhagawad Gita, Kidung Suci, Nyanyian Dewata, I : 8


 

Bhagawad Gita I: 8

 

Bhavan bhismas ca karnas ca

Kripas ca samitim – jayah.

Ashvatthama vikarnas ca,

Saumadattis tathaiva ca.

 

“There are personalities like you,

Bhisma, Karna, Kripa, Asvatama, Vikarna,

And the son of Somadatta called Bhurisrava,

Who always triumphs in every battles”

 

Paduka yang mulia, beserta Bisma, Karna, Karpacarya,

Yang senantiasa tangguh pada setiap pertempuran,

Demikian pula Aswatama, Vikarna,

Dan para putra raja Somadatta.

 

Di dalam kehidupan, terkadang kita rapuh dan terjatuh

Belajar lah dari semangat dan keteladanan yang tepat,

Belajar bijak dari begitu banyak tokoh yang hebat,

Belajar dari para guru, leluhurMu, para sahabat dan kerabat,

Bahkan dari orang yang tidak kita kenal sekalipun….

Jangan melihat hanya pada satu tumpuan,

Selalu lah menjalin hubungan dan kerjasama dari berbagai pihak


Bhagawad Gita, Kidung Suci, Nyanyian Dewata, I : 7

 



Bhagawad Gita I: 7

 

Asmakam tu visista ye

Tan Nibodha dvijottama

Nayaka mama sainyasya,

Samjnartham tan bravimi te.

 

“As information, O Brahmanas,

Let me tell you about the captains

Who are especially qualified to lead the warrior”

 

Ketahuilah, para wikan, yang terbaik di antara kaum pendeta, para dwijati,

Sebagai bahan informasi bagi paduka yang mulia,

Semua panglima pasukan yang merupakan pemimpin terkemuka.

 

Kehidupan ini terkadang tidak mudah ditebak.

Orang baik memiliki potensi kebaikan pula, bila bisa tersalurkan secara positif.

Yang kita perlukan adalah menemukan passion di dalam diri masing-masing,

Dan menyalurkan melalui cara yang positif pula. Namun terkadang badai kehidupan menghempas kita semua pada titik terdalam. Roda kehidupan berputar pada titik terendah. Jangan menyerah untuk kembali bangkit secara perlahan, meski tertatih dengan penuh luka, kembali ketitik nol lagi…..


Bhagawad Gita, Kidung Suci, Nyanyian Dewata, I : 6


 

Bhagawad Gita I: 6

 

Yudhamanyus ca vikranta.

Uttamaujas ca viryavan,

Saubhadro draupadeyas ca

Sarva eva maha-rathah

 

“There are the mighty Yudhamanyu,

The great Uttamauja,

The son of Subadra and the son of Draupadi,

The great chariot warrior”

 

Juga terdapat Yudhamanyu yang sungguh perkasa,

Uttamauja yang gagah berani,

Dan para putra dari Subadra dan putra Drupadi,

Para ksatria berkereta kuda yang hebat dan tangguh.

 

Di dalam kehidupan, sungguh penting pemetaan potensi yang dimiliki

Temukan dan kenali berbagai aspek positif dan negatif diri sendiri,

Juga aspek lain yang ada di sekeliling kita. Setiap orang memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Setiap orang memiliki karma dan jalan hidup masing-masing.

Dengan memahami kehidupan ini, kita akan paham bagaimana bersikap,

Bagaimana beradaptasi dan berlaku bijak.

Perlakuan yang tepat akan membantu kita mengatasi konflik yang mungkin terjadi.


Bhagawad Gita, Kidung Suci, Nyanyian Dewata, I : 5

 


Bhagawad Gita I : 5

 

Dhrishtaketus cekitanah

Kasirajas ca viryavan

Purujit kuntibhojas ca

Saibyas ca nara – pungavah

 

“There are also great, heroic, powerful fighters like Dhrishtaketu,

Cekitana, Kasiraja, Purujit, Kuntibhoja, and Saibya…”

 

Terdapat pula banyak pahlawan hebat dan orang gagah, seperti Dristaketu,

Cekitana, para raja negeri Kasi yang gagah seperti Purujit, Kuntibhoja dan Saibya,

Para manusia pilihan yang tangguh.

 

Begitu banyak pahlawan hebat dan tangguh di seluruh penjuru negeri

Mereka yang patut kita jadikan teladan dalam melangkah pada kehidupan.

Tetaplah berhati-hati mencari guru bijak agar tidak salah dalam melangkah.

 

Ambil yang positif, buang hal yang negatif,

pilih yang cocok untuk diterapkan dalam hidup sehari-hari

Sesuatu yang cocok bagi orang lain, belum tentu cocok pula bagi kita


Bhagawad Gita, Kidung Suci, Nyanyian Dewata, I : 4

 


Bhagawad Gita I : 4

 

Atra sura mahesva - asa

Bhimarjuna - sama yudhi

Yuyudhano viratas ca

Drupadas ca maha – rathah

 

“Here are many heroic bowmen equal with Bhima and Arjuna,

great warriors as Yuyudhana, Virata and Drupada……”

 

Begitu banyak pasukan pemanah yang tangguh,

Sebanding dengan Bima dan Arjuna,

Petarung tangguh sama seperti Yuyudana,

Virata, dan Drupada….

 

Terkadang, pikiran kita begitu sempit. Lupa bahwa dunia begitu luas,

Dengan begitu banyak orang lain, pasukan tangguh dan hebat,

Bahkan, kehebatan yang ada pada diri sendiri, sisi positif pada lingkungan sekitar.

 

Keluarlah dari kotak tempurung, lihat dan saksikan,

begitu banyak para pejuang tangguh yang bisa kita jadikan contoh bijak

sebagai guru pengalaman dalam hidup….


Bhagawad Gita, Kidung Suci, Nyanyian Dewata, I : 3


 

Bhagawad Gita I : 3

 

Pasyaitam pandu putranam

Acarya mahatim camum

Vyudham drupada putrena

Tava sisyena dhimata

 

“O my “Guru”, behold the great army of the sons of Pandu,

So expertly arranged by your intelligent disciple,

the son of drupada……”

 

Wahai Guru ku…

Saksikan para pasukan itu, putra-putra Pandu yang gagah perkasa,

Dipimpin oleh murid paduka yang maha bijaksana, putra Drupada….

 

Para pemimpin, pemuka agama, tokoh masyarakat, mereka yang terkemuka, sudah seharusnya mampu menjadi teladan, memberi contoh, membimbing orang lain di sekelilingnya, berpikir cerdas dan bijak, kreatif dalam bertindak.

 

Ini akan memberi kedamaian dan keamanan bagi dirinya dan juga masyarakat sekitar.

 

Jadilah orang yang bermanfaat, jaga pikiran, jaga tutur kata, sikap dan perilaku, agar tidak merugikan diri sendiri juga orang lain. Karena yang baik bagi kita, belum tentu baik bagi orang lain. Demikian pula sebaliknya…..


Bhagawad Gita, Kidung Suci, Nyanyian Dewata I : 2


 

Bhagawad Gita I : 2

 

Sanjaya uvaca,

Drishtva tu pandavanikam

Vyudham duryodhanas tada

Acaryam upasangamya

Raja vacanam abravit

 

"Sanjaya said: O King….

After looking over the army

Arranged in military formation by the sons of Pandu.

King Duryodhana went to his “Guru”, Acharya Drona,

And spoke the following words…."

 

Berikutnya, setelah menyaksikan bala pasukan Pandawa

Yang bersiaga di medan pertempuran,

Raja Duryudana menghampiri sang guru, Drona,

Bertutur kata….

 

Setiap dari kita, tatkala menghadapi ujian hidup, permasalahan,

konflik yang membuat galau, terjatuh dan terpuruk,

peristiwa yang begitu menyakitkan hati,

berupaya mencari solusi, mengajukan permohonan bantuan,

agar mencapai kebahagiaan hati…..

 

Jangan pernah lelah untuk berharap, jangan pernah berhenti berdoa,

Jangan ber putus asa. Kehilangan adalah bentuk kelahiran kembali,

Berganti tempat, waktu dan dan cara, meski bukan terjadi langsung pada kita…

Bhagawad Gita, Kidung Suci, Nyanyian Dewata, I : 1

 


Bhagawad Gita I :1.

 

Dhritarashtra uvaca,

Dharma kshetre kuru kshetre

Samaveta yuyutsavah

Mamakah pandavas caiva

Kim akurvata sanjaya.....

 

"Dhritarashtra said: O Sanjaya, after my sons and

the sons of Pandu assembled in the place

of pilgrimage at Kuruksetra,

desiring to fight, what did they do?"

 

Dhritarashtra berkata, wahai Sanjaya, di Medan Dharma,

di Padang Kuruksetra, saat anak-anakku dan putra Pandu

saling berhadapan untuk bertempur,

apa yang akan mereka lakukan ?

 

Terkadang, kita begitu cemas akan masa depan,

resah gelisah memikirkan perjuangan anak cucu

dalam menapaki kehidupan.

 

Tugas kita membimbing mereka,

mempersiapkan segala yang bisa,

yang baik, bagi mereka.

Selanjutnya, biarkan mereka berjalan, melangkah ke muka.

 

Setiap orang memiliki karmanya,

memiliki perjuangannya,

pertempurannya masing-masing dalam kehidupan...


Minggu, 25 April 2021

PENYINTAS COVID-19

 


PENYINTAS COVID-19

Begitu mendapat info merebaknya virus ini pada akhir tahun 2019, masyarakat di seluruh dunia mengalami kecemasan luar biasa. Beragam informasi yang beredar, dampak yang ditimbulkan, upaya pengobatan dan antisipasi yang dilakukan demi pencegahan, bagai berlomba dengan waktu. Tak pernah sedikitpun berpikir bahwa dampaknya bakal begitu luar biasa, merambah di seluruh dunia. Mulai dari perekonomian, pendidikan, perdagangan, sosial, pariwisata dan perhotelan, pertanian, dan berbagai aspek kehidupan bagai terhenti.

Menerima info begitu banyak korban langsung penderita virus Corona, membuatku semakin waspada. Jadwal vaksinasi tahap pertama yang akan kuterima bersama suami saat itu, Selasa 16 Maret 2021, semakin membuatku mempersiapkan diri dengan sebaiknya. Kami melakukan tes swab PCR, tes usap secara mandiri, sehari setelah Hari Raya Suci Nyepi, Senin, 15 Maret 2021, sebelum keesokan harinya menerima vaksin di salah satu RS di kota Denpasar. Vaksin Covid-19 pertama berjalan lancar, dangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) berupa sedikit nyeri dan rasa ngantuk seharian mendera. Keesokan hari kami sudah melanjutkan aktivitas seperti biasa. Aku terjadwal menerima suntikan vaksin kedua pada Hari Selasa, tanggal 30 Maret 2021. Bertepatan dengan Pujawali, Anggara Kasih Julungwangi, hari piodalan di Merajan Dadia, Banjar Kapit, Desa Nyalian, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung. Suami terjadwal menerima vaksin kedua dengan rentang waktu lebih lama, satu setengah bulan kemudian, dengan alasan sudah termasuk kategori lansia. Bahkan, setelah kuikuti menerima suntikan vaksin kedua, kembali di RS di tengah kota Denpasar ini, tidak ada faktor ikutan yang berarti, kecuali sedikit mengantuk. Hari Selasa, 2021.

Putra pertamaku mengeluh mengalami demam. Kami bikir ini adalah gejala biasa, karena kelelahan setelah rangkaian upacara yang melelahkan, pulang kampung dan kehujanan. Dia memutuskan melakukan tes swab PCR secara mandiri pagi hari Kamis, 1 April 2021. Siang hari informasi hasil tes keluar, dia dinyatakan positif Covid. Tentu sebagai seorang ibu, aku sangat kaget. Bukan karena berharap ini April Mob. Namun panik dan histeris tidak akan menyelesaikan masalah. Aku yang sedang berada di kantor, segera menyampaikan informasi pada pimpinan, mohon ijin untuk permisi pulang. Kuminta anak-anakku segera pulang, dan merencanakan tes swab secara mandiri bagi kami semua. Kusiapkan rencana panjang bagi kesembuhan keluarga. Menyediakan bahan makanan selama isolasi mandiri yang entah berapa lama akan berlangsung.

Jum’at pagi, 2 April 2021, setelah melakukan tes swab PCR, aku dan kedua anakku dinyatakan positif Covid-19, suami negatif. Tidak ada rujukan perawatan secara khusus. Kami melakukan isolasi mandiri di rumah. Kusampaikan informasi sesuai protockl kesehatan, kepada seluruh warga di perumahan kami dan kepala lingkungan mengenai situasi terkini keluarga kami, kepada pimpinan di kantorku, juga di kantor suami, kepada keluarga besarku. Aku juga menghubungi para sahabat dan anggota keluarga, menanyakan pengalaman mereka dan memohon informasi bagaimana sebaiknya dalam menghadapi situasi ini.

Berhubung suami dinyatakan negatif Covid-19, untuk memudahkan penanganan, maka suami yang mengisolasi diri. Dengan penggunaan kamar mandi dan kamar tidur terpisah.

Begitu banyak cinta yang kami terima, penguatan berupa motivasi dan doa yang dipanjatkan oleh para sahabat, tetangga, bahkan orang yang tidak kami kenal sekalipun. Keluarga kami mendapatkan berbagai bahan makanan, mulai dari beras, sayur, daging, mie, telur, kue berbagai rupa dan rasa, air mineral, makanan jadi, vitamin, obat, berbagai buah, bahkan mendapatkan air rebusan daun keniren atau sambiloto yang terkenal pahit, beserta daun keringnya, untuk dibuat minuman. Aku sungguh terharu. Merasa tidak sendirian dalam perjuangan meraih kesembuhan. Hari-hariku selalu mendapatkan pencerahan dengan berbagai informasi pengalaman mereka yang merupakan penyintas Covid-19, atau anggota keluarganya pernah menderita Covid-19, bahkan mereka berupaya mendapatkan informasi dari para pakar lainnya, dalam rangka membantuku menangani penyakit Covid-19

Gejala yang kurasakan beserta keluarga, berbagai macam. Putra pertamaku demam, panas naik dan turun tidak terkirakan, hingga harus dikompres sepanjang malam. Mereka mengalami indra penciuman tidak bisa membedakan dan merasakan bau parfum atau rasa makanan. Putra keduaku tidak mengalami demam, namun sempat mengalami mimisan memasuki hari ketiga, menandakan panas di dalam tubuhnya. Putra pertamaku mengalami sesak nafas, dan kesulitan bernafas di malam ke empatnya, dan dibantu dengan alat bantu pernafasan dari tabung oksigen yang kami sediakan. Kupaksa mereka sarapan di pagi hari, meski terkadang mereka menolak. Aku berupaya mereka makan teratur dan bergizi demi kesembuhan segera.

Setiap pagi kami berjemur di halaman, berolah raga, dan mencoba tetap fokus, bergembira, melalui dengan nonton film yang lucu, hingga nonton film horor bersama. Kusediakan potongan buah naga setiap pagi, siang, dan sore, yang harus mereka habiskan agar panas tubuh terkendali. Selalu ada kegiatan yang kami lakukan bersama untuk mengatasi rasa jenuh dan menghindari tegang atau panik akibat memikirkan penyakit ini. Aku sempat mengalami kesulitan bernafas memasuki hari ketiga, dan mengalami gejala halusinasi hingga tidak bisa tidur beberapa malam. Terus menerus kupantau suhu tubuh dan tingkat saturasi anak-anak dengan alat yang kami beli untuk keperluan ini. Memasuki hari kelima, situasi sudah semakin membaik, indra penciuman dan perasa kami sudah mulai pulih. Namun aku tidak boleh lengah. Tetap kuminta kami waspada dan saling mengingatkan satu sama lain. Apalagi kali ini suami ikutan mengalami gejala batuk berkepanjangan dan pilek. Aku khawatir bila dia tertular kami juga.

Setiap malam tidak pernah tidur lelap, hanya satu jam per hari. Covid-19 membuat syaraf tidak bekerja sempurna. Disamping gagal fokus akibat gangguan syaraf, mudah merasa lelah, dan rasa was-was yang membuatku selalu terjaga, memperhatikan gerakan pernafasan anak-anakku, juga kondisi mereka sepanjang malam. Kuupayakan peralatan dan pakaian kami harus dalam kondisi bersih dan siap dipergunakan kembali.

Senin, 12 April 2021. Kami menjalani tes swab PCR kembali. Hasilnya sungguh membahagiakan, kami semua dinyatakan sudah negatif Virus Corona-19. Termasuk suami, dia juga tetap negatif. Kusampaikan berita membahagiakan ini kepada keluarga, para tetangga di perumahan kami, para sahabat, sesama alumni Psikologi Universitas Gadjah Mada, sesama Alumni KMHD UGM, rekan di kantor, pimpinan kantorku. Namun kami tetap melanjutkan isolasi mandiri selama tiga hari ke depan, kembali melakukan tes swab PCR, demi kebaikan diri kami, orang – orang terkasih di sekeliling kami, dan orang lain yang berhubungan dengan kami. Tetap waspada, dan melakukan aktivitas sesuai protokol kesehatan.

Berbagai rasa yang terlibat dalam pandemi yang kami alami…. Mulai dari sedih, resah, galau, cemas, panik. Aku berusaha tidak marah, kecewa, mencaci. Kesibukan membantuku mengatasi hadirnya pikiran yang aneh dan perasaan yang bisa membuatku semakin terpuruk. Aku merancang menu olahan makanan bagi keluarga, meski sederhana, namun bisa meningkatkan imun atau antibodi di dalam tubuh mereka, aku menyibukkan diri dengan beres-beres seisi rumah, aku membuat materi beberapa tulisan, untuk beberapa jurnal, aku berdiskusi dengan para mahasiswa terkait perkembangan proses pembelajaran, berdiskusi dengan anak-anak terkait kegiatan belajar mereka.

Kami bersembahyang bersama. Meski tidak bisa merayakan Hari Suci Galungan dan Kuningan seperti biasa, kami tetap bersembahyang. Bahkan, hari lahirku yang jatuh tanggal 5 April, cukup dilalui dengan berdoa di dalam hati. Bersyukur atas segala ujian dan tantangan, cobaan yang hadir di tengah kami sekeluarga, segalanya kami pasrahkan pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Kuasa. Lahir, hidup dan mati, penyakit, kesehatan, kebahagiaan, semua terjadi hanyalah atas kehendak Beliau. Tugas kita semua menjalani kehidupan dengan sebaik mungkin. 

Kamilah Penyintas Covid-19, pasien penderita yang sudah sembuh dari Covid-19.